Anda di halaman 1dari 17

INOVASI DAN INTERVENSI TERPADU UNTUK MENGATASI

MASALAH GIZI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANGGUL

MAKALAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Pemilihan Petugas Teladan Gizi


Puskesmas Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2015

Oleh :

ENI SEPTIANA S.Gz


NIP. 19850905 200903 2 010

PUSKESMAS PANGGUL
KABUPATEN TRENGGALEK
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah gizi merupakan masalah kompleks yang sampai saat ini menjadi prioritas

Pemerintah untuk mengatasinya. Masalah gizi yang menjadi prioritas pemerintah adalah Kurang

Energi Protein (KEP), Anemia Gizi, Kekuranga Vitamin A dan Gangguan Akibat Kekurangan

Yodium. Indikator MDGs di bidang kesehatan khususnya gizi menargetkan bahwa pada tahun

2015 prevalensi gizi kurang sampai 15,5% dan balita stunting 32%. Prevalensi gizi kurang

mengalami penurunan dari 18,4% pada tahun 2007 menjadi 17,9% pada tahun 2010. Faktor yang

menyebabkan kurang gizi telah diperkenalkan UNICEF dan telah digunakan secara

internasional, yang meliputi beberapa tahapan penyebab timbulnya kurang gizi pada anak balita,

baik penyebab langsung, tidak langsung, akar masalah dan pokok masalah. Berdasarkan

Soekirman dalam materi Aksi Pangan dan Gizi Nasional (Depkes, 2000), penyebab kurang gizi

Dibedakan menjadi penyebab langsung dan tidak langsung.

Pertama, penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin

diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga

karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau

demam dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang makannya tidak cukup baik

maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Kenyataannya baik

makanan maupun penyakit secara bersama-sama merupakan penyebab kurang gizi.

Kedua, penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan

anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan adalah

kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam

jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga untuk

menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan

berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial. Pelayanan kesehatan dan sanitasi

lingkungan adalah tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau

oleh seluruh keluarga.


Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan, pengetahuan, dan

ketrampilan keluarga. Makin tinggi pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan terdapat

kemungkinan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan anak

dan keluarga makin banyak memanfaatkan pelayanan yang ada. Ketahanan pangan keluarga juga

terkait dengan ketersediaan pangan, harga pangan, dan daya beli keluarga, serta pengetahuan

tentang gizi dan kesehatan.

Upaya pelayanan gizi di puskesmas merupakan bagian tak terpisahkan dari pelayanan

kesehatan dasar tingkat puskesmas yang perlu selalu ditingkatkan kualitasnya. Sebab kesehatan

dan gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh terhadap kualitas Sumber

Daya Manusia. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya

manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia, meningkatkan kesejahteraan

keluarga dan masyarakat serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup

sehat. Upaya ini bertujuan mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga

kesehatannya dan menyadari pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan

preventif. Masyarakat akan membutuhkan pelayanan kesehatan dan informasi tentang masalah

kesehatan dan gizi yang dihadapinya. Puskesmas mengelola pelaksanaan upaya kesehatan

termasuk pembinaan peran serta masyarakat, serta melakukan koordinasi terhadap semua upaya

dan sarana pelayanan kesehatan yang ada di wilayahnya sesuai dengan kewenangannya.

Program-program kesehatan, terutama yang terkait dengan gizi perlu selalu disosialisasikan

secara terus menerus, hal ini dikarena perubahan tingkah laku kadang-kadang hanya dapat terjadi

dalam kurun waktu yang relatif lama.

Dalam mensosialisasikan program-program tersebut perlu adanya program yang inovatif,

menarik dan memungkinkan untuk dilaksanakan. Pemberdayaan masyarakat salah satu hal yang

dapat menunjang keberhasilan program. Keterbatasan petugas kesehatan jika dibandingkan

jumlah penduduk dapat terbantu dengan dibentuknya kader-kader kesehatan dari masyarakat.

Dalam Makalah ini akan dipaparkan program atau kegiatan inovatif yang telah dilaksanakan di

Puskesmas Panggul khususnya untuk menunjang keberhasilan program gizi.


B. Gambaran Umum Puskesmas Panggul

1. Tugas, Fungsi dan Struktur Puskesmas

Puskesmas Panggul berstatus UPT Dinas Kesehatan Kab. Trenggalek dengan dasar

hukum Keputusan Bupati Trenggalek Nomor Tahun 1996 Tentang Pembentukan, Susunan

Organisasi Dan Tata Kerja Puskesmas Panggul Kabupaten Trenggalek.

Tugas Puskesmas Panggul adalah sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang

meyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh terpadu dan

berkesinambungn yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan

masyarakat. Dan Fungsinya adalah sebagai berikut.

1. Sebagai Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.

2. Sebagai Pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan

kesehatan dan sebagai Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.

2. Kondisi Geografis

Puskesmas Panggul adalah Puskesmas yang terletak di Kecamatan Panggul yang


berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan dengan luas wilayah kerja 79,67 km2. Dari
Kota Trenggalek ke Puskesmas Panggul akses jalannya sudah aspal. Jarak pusat kota ke
Puskesmas Panggul 54 km2. Sebagian besar desa di wilayah panggul 75% merupakan
pegunungan yang sulit dilewati kendaraan roda empat maupun roda dua karena masih belum
di aspal dan kebanyakan berupa jalan setapak ataupun bebatuan yang sulit dilewati terutama
pada musim hujan. Dua buah Sungai besar yang melalui wilayah kerja Puskesmas Panggul
yaitu Sungai Konang dan Sungai Gedangan yang semuanya bermuara di Samudra Indonesia.
Batas-batas wilayah Puskesmas Panggul adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Wilayah Kerja Puskesmas Bodag


Sebelah Timur : Kecamatan Dongko dan Munjungan
Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
Sebelah Barat : Kecamatan Sudimoro, Pacitan

3. Mata Pencaharian

Untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari, sebagian besar mata pencaharian


penduduk adalah bertani, berdagang, nelayan maupun sebagai pegawai negeri.

4. Data Wilayah Kerja dan Sarana Pelayanan Kesehatan


a. Wilayah Kerja Puskesmas Panggul
Jumlah kelurahan dalam wilayah kerja Puskesmas Panggul berjumlah 10 Desa :
1. Desa Gayam terdiri dari 3 posyandu
2. Desa Panggul terdiri dari 5 posyandu
3. Desa Wonocoyo terdiri dari 5 posyandu
4. Desa Nglebeng terdiri dari 7 posyandu
5. Desa Ngrencak terdiri dari 6 posyandu
6. Desa Banjar terdiri dari 7 posyandu
7. Desa Ngrambingan terdiri dari 6 posyandu
8. Desa Besuki terdiri dari 4 posyandu
9. Desa Terbis terdiri dari 5 posyandu
10. Desa Karangtengah terdiri dari 5 posyandu

Peta Wilayah Kerja Puskesmas Panggul

b. Fasilitas Kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Panggul antara lain :

No Jenis Tenaga Jumlah


1 Dokter 3 orang
2 Dokter gigi 1 orang
3 Jumlah dokter mahir jiwa 0 orang
4 Sarjana Kesehatan Masyarakat 1 orang
5 Bidan 14 orang
6 - P2B 1 orang
7 - D3 Kebidanan 13 orang
8 Bidan di desa 10 orang
9 Perawat Kesehatan 21 orang
10 - SPK 6 orang
11 - D3 Keperawatan 15 orang
12 - S1 Keperawatan 0 orang
13 Perawat Gigi 1 orang
14 Perawat mahir jiwa 1 orang
15 Sanitarian/D3 Kesling 1 orang
16 Petugas Gizi/ D3 Gizi 1 orang
17 Asisten Apoteker 1 orang
18 Analis laboratorium/D3 Laboratorium 1 orang
19 Juru Imunisasi / juru malaria 2 orang
20 Tenaga Administrasi 6 orang
21 Sopir , penjaga 5 orang

Jumlah posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Panggul pada tahun 2014

sebanyak 53 posyandu terdiri dari 34 posyandu dengan strata Purnama sebesar

dan 19 dengan strata Madya. Dimana jumlah kader masing-masing posyandu

sebanyak 5 - 10 orang kader. Sebagian posyandu di wilayah Puskesmas Panggul telah

memiliki tempat sendiri (terpisah dari rumah penduduk) dan sebagian masih dilakukan di

rumah penduduk.

5. Data Gizi Periode Tahun 2012 s/d 2014

a. Status Gizi

Grafik 1.
Grafik Balita Gizi Buruk Berdasarkan BB/U
Grafik Balita Gizi Buruk Berdasarkan BB/U
Puskesmas Panggul
40
35 34
30 31
25 26
20 19
15
10
5
0
2011 2012 2013 2014

Situasi status gizi pada periode tahun 2012 s/d 2014 dilihat pada grafik diatas dapat

dilihat dimana kasus gizi buruk dan kurang (berdasarkan BB/U) masih ditemukan diwilayah

kerja Puskesmas Panggul. Namun jumlahnya semakin menurun dari tahun ke tahun.

b. Penimbangan balita di Posyandu

Grafik. 2
Balok SKDN di Wilayah Kerja Puskesmas Panggul Periode Tahun 2011-2014
3500

3000

2500

2000 S
K
1500 D
N
1000

500

0
2011 2012 2013 2014

Tingkat partisipasi masyarakat dalam hal pemamfaatan posyandu yang berasal dari dan untuk

masyarakat dapat dilihat pada balok SKDN diatas, selain itu perkembangan posyandu pada

periode 2011 s/d 2014 secara keseluruhan dapat dilihat pada grafik. Ada peningkatan dari tahun

ke tahun dalam hal partisipasi masyarakat serta berat badan balita yang naik. Hal tersebut

menunjukkan bahwa pembinaan pada masyarakat cukup efektif dalam peningkatan program

khususnya di posyandu,

c. Tingkatan Posyandu
Grafik. 3
Tingkatan Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Panggul
Periode Tahun 2012-2014
40

35

30

25
Pratama
20 Madya
Purnama
15 Mandiri

10

0
2013 2014

Pada grafik diatas dapat dilihat tingkatan posyandu yang ada di wilayah Puskesmas Panggul

mengalami perubahan, hal ini dapat dilihat peningkatan strata posyandu. Dari tahun 2013 ada 3

posyandu dengan strata pratama pada tahun 2014 sudah meningkat menjadi madya.

d. Kejadian KEK, ASI Ekslusif, dan Kunjungan POKZI

Grafik. 4
Kejadian KEK, ASI Ekslusif, dan Kunjungan POKZI
di Wilayah Kerja Puskesmas Panggul Periode Tahun 2011-2014
1600

1400 1367
1263 1271
1200
1157

1000
KEK
800
ASI Eksklusif

600 Kunjungan POKZI

400

200 165 187 195


135
127 124 145 159
0
2011 2012 2013 2014

Pada grafik diatas dapat dilihat kejadian Kurang Energi Kronis pada ibu hamil, masih menjadi

masalah yang perlu ditangani. Jumlahnya meningkat pada tahun 2014. Sedangkan cakupan Asi

Eksklusif mengalami peningkatan positif dari tahun 2011 tren kenaikannya cukup signifikan.

Kunjungan pojok gizi bergerak secara dinamis pada periode tahun 2011 s/d 2014 menunjukkan
masyarakat mulai mengetahui tentang manfaat konsultasi gizi yang dapat menunjang

penyembuhan penyakitnya..

e. Vitamin A

Grafik. 5
Cakupan Vitamin A di Wilayah Kerja Puskesmas Panggul
Periode Tahun 2011-2014

3000

2500

2000

bayi
1500
balita
bufas
1000

500

0
2011 2012 2013 2014

Data cakupan Vitamin A bayi, balita dan ibu nifas yang merupakan salah satu upaya untuk

mengatasi penyakit akibat kekurangan vitamin A dapat dilihat pada grafik diatas.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan tentang inovasi dan

intervensi terpadu untuk mengatasi masalah gizi di wilayah kerja Puskesmas Panggul guna

peningkatan pengetahuan melalui sistem dan sarana yang ada dipuskesmas serta upaya untuk

mewujudkan UPGK dengan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk peduli pada kesehatan.

Pemberdayaan berbagai golongan masyarakat sangat diupayakan karena dengan meningkatnya

kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai permasalahan kesehatan khususnya gizi akan

menjadi tindakan preventif yang sangat efektif.

BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH DAN LANGKAH
PEMECAHAN MASALAH
A. Identifikasi Masalah Program Gizi Puskesmas Panggul

Masalah gizi yang ada di Puskesmas Panggul sangat kompleks dan bervariasi. Hal ini

dapat dilihat dari kasus-kasus gizi seperti masih ditemukannya gizi kurang, gizi buruk, kurang

energi kronis (KEK) pada ibu hamil, rendahnya cakupan ASI eksklusif serta penyakit-penyakit

yang disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak tepat, Kasus gizi buruk sejak tahun 2011 sampai

dengan 2014 mengalami penurunan positif. Upaya yang dilakukan mulai dari penyuluhan

melalui posyandu, kelas gizi maupun kelas ASI menunjukkan hasil yang positif. Hal tersebut

juga berbanding lurus dengan meningkatnya cakupan ASI eksklusi dari tahun 2011-2014.

Meskipun belum memenuhi target, peningkatan setiap tahunnya dapat menujukkan keberhasilan

program yang telah dilakukan.

Jumlah bumil KEK meningkat tajam pada tahun 2014 yaitu mencapai 28,17% melebihi

target yang ditetapkan sebagai batas bumil KEK di suatu wilayah yaitu <20%. Ibu hamil

diketahui mengalami KEK dari pengukuran LILA jika hasilnya <23 maka dikatakan bumil KEK

yang diperkirakan mempunyai resiko melahirkan dengan berat badan bayi lahir rendah (BBLR)

yaitu beratnya <2500 gram. Bayi BBLR mempunyai resiko mengalami gangguan pertumbuhan

dan perkembangan dan dapat berakibat kematian. Berdasarkan hasil RISKESDAS 2013 terjadi

peningkatan proporsi ibu hamil usia 15-19 tahun dengan KEK dari 30,9% pada tahun 2010

menjadi 38,5% pada tahun 2013.

Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur (WUS)

adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini yang mudah dilakukan dalam mengetahui

kelompok beresiko KEK. KEK pada bumil adalah kekurangan gizi pada ibu hamil yang telah

berlangsung sejak lama, atau bisa dikatakan kekurangan gizi terjadi sudah sejak masa remajanya.

Penyebab dari terjadinya KEK pada remaja yang sering terjadi adalah kemiskinan dan keinginan

untuk memiliki badan yang kurus. Berdasarkan sebab tersebut pencegahan yang dapat dilakukan

adalah dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu memenuhi

kebutuhan dasar terutama makanan yang bergizi. Memberikan pengertian pada remaja bahwa

memiliki tubuh yang kurus akan dapat menjadikan masalah kesehatan dikemudian hari.

Pada makalah ini akan dipaparkan upaya inovasi dan terpadu yang telah dilakukan di

Puskesmas Panggul berkaitan dengan peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai

masalah kesehatan khususnya bidang gizi


B. Program Inovasi sebagai Langkah Pemecahan Masalah

Dari gambar Asupan gizi sesuai Siklus Kehidupan diatas bisa dilihat bahwa masalah gizi

merupakan masalah yang memiliki keterkaitan yang dimulai dari masa remaja. Remaja yang

mengalami kekurangan gizi seperti akan menyebabkan kondisi KEK pada saat remaja tersebut

menjadi WUS dan hamil. Ibu hamil KEK jika tidak segera ditangani akan menyebabkan lahirnya

bayi BBLR atau bayi dengan resiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang

akhirnya menjadi gizi kurang yang berlanjut ke gizi buruk. Bayi atau balita gizi buruk jika tidak

ditangani dengan baik akan meningkatkan resiko kematiannya.

Untuk mengatasi masalah tersebut selain dari petugas yang perlu dilakukan adalah

pemberdayaan masyarakat. Keterbatasan jumlah petugas kesehatan jika dibandingkan dengan

jumlah penduduk menjadi factor penghambat yang menyebabkan akses informasi kesehatan

tidak didapatkan masyarakat sehingga terjadi permasalahan kesehatan. Berbagai kegiatan

dilaksanakan Puskesmas Panggul sebagai usaha dari pemberdayaan masyarakat antara lain

Pembinaan Kader rutin melalui Pertemuan kader, Kelas Gizi, Kelas ASI dan Kegiatan Remaja

Peduli Gizi.

BAB III
PROGRAM INOVASI

1. Pembinaan Kader Posyandu


Pada awal bertugas di Puskesmas Panggul Tahun 2009, pertemuan kader posyandu belum
diadakan di desa wilayah kerja. Kader posyandu hanya bertugas pada saat hari buka
posyandu yaitu mandaftar, menimbang, mengukur tinggi badan dan mencatat di KMS.
Pada bulan Nopember tahun 2010 petugas gizi melakukan koordinasi dengan bidan desa
wilayah untuk mengadakan pertemuan kader Desa dengan menghadirkan Kepala desa
dan Ketua Tim Penggerak PKK. Pada pertemuan tersebut petugas Gizi menjelaskan
hakekat dari posyandu yaitu wadah yang dibentuk dari oleh dan untuk masyarakat bukan
untuk puskesmas ataupun petugas kesehatan sehingga diharapkan timbul rasa memiliki
dan rasa tanggungjawab untuk memajukan posyandu wilayahnya masing-masing.
Dari hasil sosialisasi tersebut pada tahun 2011 terbentuk kegiatan pertemuan kader desa
rutin setiap bulan yang digunakan sebagai wadah untuk memberikan informasi kesehatan,
mengupdate kemampuan kader baik secara teori maupun praktek di posyandu,
memecahkan masalah yang dihadapi posyandu secara bersama-sama serta meningkatkan
silaturahmi diantara kader posyandu. Pada setiap pertemuan dibahas pelaporan dari hasil
penimbangan sehingga kader mengetahui lebih jeli tentang jumlah balita yang datang dan
tidak datang ke posyandu serta balita yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Kader
juga lebih peduli terhadap balita diwilayahnya dan dengan pengetahuan yang diberikan
terus menerus, kader memiliki keberanian melakukan penyuluhan saat kegiatan posyandu
Pertemuan Kader posyandu ini cukup efektif karena dari tahun 2011 sampai tahun 2014
tingkat partisipasi masyarakat (D/S) mengalami peningkatan yang bagus.

2. Pembinaan Kader Remaja


Pada tanggal 29-31 Oktober 2010 Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek
bekerjasama dengan Kwarcab. Kabupaten Trenggalek mengadakan Kursus Pembina
Pramuka Mahir Dasar (KMD) untuk Saka Bakti Husada di Desa Dilem Kecamatan Tugu.
Wakil dari Puskesmas Panggul yang dikirim adalah :
1. Iwan Setiawan. SKM sebagai petugas Promkes
2. Eni Septiana S.Gz sebagai nutrisionis
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada peserta yang
berasal dari puskesmas se-Kabupaten Trenggalek agar nantinya dapat mengaktifkan Saka
Bakti Husada di Kecamatannya masing-masing. Saka Bakti Husada dibentuk dengan
tujuan untuk mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan yang dapat
membantu melembagakan Norma Hidup Sehat bagi anggota gerakan pramuka dan
masyarakat. Anggota SBH adalah remaja usia 15-23 tahun yaitu pramuka penggalang dan
penegak. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut Petugas yang mengikuti kegiatan
KMD melakukan sosialisasi ke SMA sederajat yang berada di wilayah kecamatan
Panggul. Sosialisasi pertama kali dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2011
bertempat di SMA 1 Panggul. Tindak lanjut yang lama dari bulan Oktober Tahun 2010
sampai bulan Desember 2011 dikarenakan sulitnya berkoordinasi dengan Kwartir
Ranting Kecamatan Panggul serta mutasi dari salah satu petugas yang mewakili kegiatan
KMD. Sosialisasi dilakukan juga di MAN Panggul dan SMK Islam Panggul.
Angkatan pertama Saka Bakti Husada dilantik pada tanggal 13 Januari 2013.
Sedangkan kegiatan pembinaan baik teori maupun praktek lapangan sudah dimulai pada
bulan Mei Tahun 2012. Pada saat ini sudah terbentuk 3 angkatan dengan jumlah anggota
aktif 76 orang. SBH terdiri dari 6 Krida yaitu Krida Bina Lingkungan Sehat, Krida Bina
Keluarga Sehat, Krida Penanggulangan Penyakit, Krida Bina Obat, Krida Bina Gizi dan
Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Untuk Krida Bina Gizi Pembina membentuk
kegiatan yaitu RELIGI (Remaja Peduli Gizi).
RELIGI merupakan salah satu kegiatan dari Saka Bakti Husada yang diharapkan
dapat menjadi wadah bagi remaja untuk mengetahui informasi gizi lebih dalam. Data dari
Bagian Administrasi Puskesmas Panggul didapatkan remaja yang menikah di usia 15-19
tahun khususnya perempuan cukup banyak. Meskipun dari Undang-Undang Pernikahan
batas usia menikah 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk laki-laki namun dari segi
kesehatan kurang dianjurkan. Disamping itu usia 7-18 tahun masih usia sekolah. Tahun
2011 diperoleh data 103 orang perempuan menikah di usia 15-19 tahun 11 orang
diantaranya menikah usia 15-16 tahun. Sedangkan tahun 2014 diperoleh data jumlahnya
menurun yaitu 68 orang yang menikah di usia 15-19 tahun 7 diantaranya menikah usia
15-16 tahun. Menikah di usia tersebut cari segi kesehatan berpotensi untuk terjadinya
bumil KEK yang resikonya telah dipaparkan diatas. Sehingga remaja merupakan
kelompok yang perlu dibina sejak dini tentang ilmu kesehatan khususnya tentang gizi
agar dapat mencegah hal yang tidak diinginkan.
Tujuan Umum dari Kegiatan Remaja Peduli Gizi adalah terbentuknya kader
remaja yang mengetahui pentingnya Gizi dalam mewujudkan kesehatan manusia
seutuhnya. Sedangkan tujuan khususnya antara lain :
1. Kader remaja memperoleh pengetahuan gizi dan mengaplikasikan untuk diri sendiri
2. Kader remaja tahu, terampil dan mempunyai pengalaman di bidang gizi dan kesehatan
3. Kader remaja mampu dan mau menyebarluaskan informasi kesehatan khususnya
informasi gizi kepada teman, keluarga dan masyarakat
4. Memberi contoh sehat bagi masyarakat dilingkungannya
Pembinaan rutin dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan memberikan materi gizi yang
meliputi Gizi seimbang, Zat-zat gizi, Suplementasi gizi (vitamin A, TTD), Garam
beryodium, Survey Kadarzi, Posyandu dan materi tambahan lainnya. Sedangkan materi
praktek survey kadarzi, membantu pelaksanaan posyandu, percobaan radikal bebas dan
lain-lainya. Setelah mendapat materi baik teori maupun praktek kegiatan ke masyarakat
yang dilakukan antara lain :
1. Melakukan penyuluhan Gizi baik di masyarakat maupun remaja
2. Melakukan Survey Kadarzi
3. Membantu pelaksanaan posyandu
4. Membantu menyebarluaskan informasi gizi baik pada teman, keluarga maupun
lingkungan sekitarnya

Dengan terbentuknya kader remaja khususnya di bidang gizi diharapkan dapat menjadi awal
untuk terwujudnya generasi penerus yang sadar gizi sehingga tidak terjadi permasalahan gizi di
masa yang akan datang.

3. Kelas Gizi
Kelas Gizi disosialisasikan pada tanggal 28 Mei 2013 oleh Petugas Gizi dari Dinas
Kesehatan Kabupaten di Kecamatan Panggul. Dalam sosialisasi ini dihadiri Camat
Kecamatan Panggul, Ketua TP-PKK Kecamatan Panggul, Kaur Kesra Kecamatan
Panggul serta kader posyandu. Pada pertemuan ini dijelaskan pentingnya memberikan
penanganan khusus pada balita dengan gizi kurang dan gizi buruk. Kelas gizi merupakan
tempat untuk memberikan pengetahuan tentang pola asuh balita, makanan balita sesuai
umur, penanganan pada balita sakit serta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan
menyampaikan masalah yang dialami tiap ibu balitanya. Kegiatan Kelas Gizi di
Puskesmas Panggul dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2014 di Desa Besuki. Kelas
dilaksanakan 6 kali pertemuan dengan sasaran 20 orang ibu balita gizi kurang dan gizi
buruk dengan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Pada tahun 2014 dilaksanakan kelas Gizi di 5 Desa yaitu Desa Besuki, Desa Panggul,
Desa Banjar, Desa Wonocoyo dan Desa Nglebeng. Materi disampaikan oleh petugas gizi,
bidan desa dan perawat ponkesdes. Dari hasil evaluasi penimbangan balita dapat diamati
pelaksanaan kelas gizi masih belum maksimal karena dari keseluruhan ada balita yang
berat badannya naik, ada yang tetap bahkan ada yang turun. Hal tersebut dimungkinkan
terjadi karena beberapa faktor yaitu ibu balita belum bisa fokus saat berdiskusi karena
balitanya rewel, ibu balita belum menerapkan hasil diskusi yang sudah dibahas atau juga
kemampuan petugas dalam memberikan materi yang kurang bisa dipahami ibu balita.
Pelaksanaan kelas gizi yang telah dilaksanakan masih banyak kekurangan karena masih
pertama kali dilaksanakan. Diharapkan di tahun selanjutnya pelaksanaanya lebih baik dan
hasilnya juga lebih maksimal.

4. Kelas ASI dan Pembentukan KP-ASI


Kelas ASI disosialisasikan bersamaan dengan kelas Gizi. Pelaksanaan kelas ASI di
Puskesmas Panggul dilaksanakan tanggal 6 Mei 2014 di Desa Besuki. Kelas ASI
diarahkan untuk terbentuknya Kelompok Pendukung ASI. Sasaran dari kelas ASI adalah
ibu hamil. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kelas ibu Meskipun pada kelas ibu
sudah dibahas mengenai ASI pada kelas ASI dibahas lebih detail lagi mulai kandungan
gizi, cara memerah, cara menyimpan serta materi ASI lainnya yang diharapkan bias
menyadarkan sekaligus memotivasi dirinya untuk memberikan ASI eksklusif pada
bayinya. Selain untuk bayinya sendiri dengan selesainya kelas ASI diharapkan peserta
tersebut bisa ikut menyebarluaskan informasi pentingnya ASI eksklusif untuk bayi
kepada masyarakat sekitarnya. Hasil dari kelas ASI cukup efektif dilihat dari data
pencapaian ASI eksklusif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu dari 145 bayi
dengan cakupan 21,4% pada tahun 2013 menjadi 159 bayi dengan cakupan 41,8% pada
tahun 2014.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Upaya intervensi permasalahan gizi perlu dikembangkan dan dilaksanakan secara terarah dan
terpadu.
2. Program yang melibatkan pemberdayaan masyarakat seperti pembinaan kader posyandu, kelas
gizi dan membentuk KP-ASI perlu dikembangkan lebih maksimal lagi untuk mengatasi
permasalahan Gizi.
3. Pemberdayaan remaja sangat diperlukan disamping remaja adalah calon penerus bangsa, hal
tersebut juga merupakan upaya dini mencegah terjadinya permaslahan gizi di masa yang akan
datang.

B. Saran
1. Penulis sangat mengharapkan bantuan agar inovasi ini dapat disebarluaskan sehingga dapat
membantu penyebaran informasi gizi.
2. Perlunya diberikan pelatihan-pelatihan kepada tenaga kesehatan puskesmas khususnya petugas
gizi sebagai stimulus untuk meningkatkan kemampuan dalam hal pengembangan diri
berkaitan dengan disiplin ilmu yang dimiliki.
3. Perlunya pembinaan dilakukan oleh pimpinan puskesmas atau jajaran diatasnya sehingga dapat
memotivasi petugas kesehatan dalam hal kerja sama lintas program dan lintas sektoral serta
seluruh elemen masyarakat dalam hal mengatasi masalah gizi.
4. Perlu diadakan program-program tambahan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat
guna membantu pengentasan masalah gizi.