Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada umumnya makhluk hidup berkembang biak secara seksual,
yaitu terjadi perkawinan antara individu jantan dan individu betina. Hal ini
penting untuk mempertahankan siklus dan kelangsungan jenisnya. Tak lain
halnya pada insekta. Pada insekta juga berkembang biak secara seksual.
Perkawinan terjadi tidak secara acak, namun mengikuti pola-pola yang
khusus termasuk Drosophila sp. (Wallace, 1981 dalam Basuki, 1997).
Drosophila sp. merupakan organisme yang tergolong kosmpolit.
Sebagai contohnya yaitu Drosophila ananassae. Menurut King (1975)
dalam Basuki (1997) penyebaran dari spesies ini berada pada daerah tropik
dari enam daerah geografis dan spesies ini seringkali ditemukan pada
habitat domestik. Selain itu, penyebaran dari Drosophila ananassae
tergolong sangat luas dan dekat dengan pemukiman manusia (kosmpolit).
Suatu spesies biasanya ditentukan oleh mekanisme isolasi
reproduksi yang menjaga spesies-spesies yang berbeda sebagai kolam gen
terpisah (Dobzhansky 1937; Mayr 1942 dalam Kim, K. Y, et al, 2013).
Menurut Coyne& Orr (1989, 1997 dalam Kim, K. Y., 2013) ada beberapa
cara untuk mencegah aliran gen antara spesies yang berbeda antara lain:
(1) Ketika dua spesies bertemu, salah satu atau kedua spesies dapat
menolak untuk kawin dengan spesies lain (premating isolasi); (2) Saat
kawin tidak terjadi di alam atau dipaksa untuk terjadi oleh peneliti, maka
akan sulit terjadi fertilisasi (isolasi perkawinan dan isolasi prazigotik),
serta (3) keturunan (anakan) yang dihasilkan akan sering inviable atau
steril (postzygotic isolasi).
Pada saat sebelum perkawinan biasanya salah satu cara isolasi yang
dilakukan yaitu isolasi seksual, hal ini menunjukkan kemampuan satu
spesies untuk melakukan perkawinan secara berhasil yang dengan lainnya
berkurang. Isolasi seksual dapat terjadi dengan pemisahan geografis
(allopatrik) atau tanpa pemisahan geografis (simpatrik). Setelah dilakukan
pengamatan isolasi seksual terjadi di antara banyak spesies allopatrik.
Isolasi seksual dapat diartikan merupakan hasil dari seleksi seksual.
Sebelum perkawinan berlangsung, individu jantan dan individu betina

1
seringkali harus menentukan kualitas genetik pasangan kawin dengan
bertukar banyak sinyal, termasuk sinyal suara, kimia, dan penampilan.
Adanya seleksi seksual mengakibatkan banyak spesies memiliki ritual dan
sinyal perkawinan yang spesifik pada setiap spesies (Andersson, 1994).
Sinyal yang umum digunakan salah satunya adalah CHCs (Cuticular
Hydrocarbons) yang memiliki fungsi sebagai feromon dalam pengenalan
pasangan kawin oleh Drosophila sp. (Ferveur, 2005 dalam Kim, K. Y, et
al, 2013).
Perilaku seleksi seksual dapat terjadi pada spesies yang sama tidak
hanya pada spesies yang berbeda saja. Hal ini diperkuat dengan penyataan
Ayala (1984) yang menyatakan bahwa sekalipun dalam spesies yang sama,
terdapat lebih dari satu populasi yang mungkin disebabkan oleh perbedaan
kondisi geografis habitatnya, dan suatu populais cenderung memilih
pasangan kawin yang berasal dari populasi yang sama (homogami).
Kecenderungan kawin pada makhluk hidup dapat diukur dengan
menggunakan perhitungan indeks isolasi.
Berkaitan dengan indeks isolasi, terdapat salah satu penelitian
terdahulu mengenai kecenderungan kawin Drosophila sp. melanogaster
yang dilakukan oleh Korol et al (2000) yang hasilnya mengindikasikan
bahwa terjadi isolasi seksual diantara beberapa populasi D. melanogaster
yang diambil dari berbagai ketinggian di lereng Gunung Camel, Israel.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa:
Terjadinya isolasi perkawinan dapat berasal dari perbedaan ciri
akibat adaptasi. Ciri ini meliputi preferensi suhu untuk bertelur dan
toleransi terhadap suhu tinggi, kekeringan serta kekurangan
makanan. Meskipun pada ketinggian yang berbeda yaitu pada
ketinggian 100 sampai 400 m perbedaan ciri tersebut tetap muncul.

Berdasarkan penjelasan di atas dan ditunjang dengan penelitian


terdahulu maka, peneliti tertarik untuk membuktikan ada tidaknya isolasi
seksual antara populasi Drosophila sp. sp. yang ditangkap dari tiga kota
yang berbeda di Jawa Timur, yakni Blitar, Tulungagung dan Batu.

2
Berdasarkan kondisi geografisnya, tiga kota tersebut (Blitar, Tulungagung,
dan Batu) memiliki ketinggian yang berbeda, yaitu Blitar pada ketinggian
156 mpdl, Tulungagung pada ketinggian 85 mpdl, dan Batu pada
ketinggian 680 mpdl. Oleh karena itu, disusunlah penelitian yang berjudul:
Kecenderungan Kawin antara Drosophila sp. Tangkapan Kota Blitar,
Tulungagung dan Batu Berdasarkan Perhitungan Indeks Isolasi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan yaitu bagaimanakah kecenderungan kawin
antara Drosophila sp. tangkapan lokal Blitar, Tulungagung dan Batu
berdasarkan indeks isolasi?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,
tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kecenderungan kawin antara
Drosophila sp. tangkapan lokal Blitar, Tulungagung, dan Batu berdasarkan
indeks isolasi.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
a. Diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan di
bidang Genetika mengenai kecenderungan kawin antara
Drosophila sp. Tangkapan lokal Blitar, Tulungagung, dan Batu
berdasarkan indeks isolasi.
b. Menambah informasi tentang hubungan kekerabatan antara
Drosophila sp. Tangkapan lokal Blitar, Tulungagung, dan Batu
berdasarkan indeks isolasi.
2. Bagi Mahasiswa
a. Memberikan dan menambah pengetahuan mengenai
kecenderungan kawin antara Drosophila sp. Tangkapan lokal
Blitar, Tulungagung, dan Batu berdasarkan indeks isolasi.
1.5 Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini diasumsikan:
1. Umur yang disilangkan dianggap sama.
2. Medium yang dipakai untuk pembiakan adalah sama.
3. Adanya larva dianggap bahwa individu betina telah dikawini oleh
individu jantan.
4. Kondisi fisik Drosophila sp. dianggap sama
1.6 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah:

3
1. Penelitian ini menggunakan Drosophila sp. tangkapan dari tiga kota
yang berbeda yaitu Blitar, Tulungagung, dan Batu.
2. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengtahui indeks isolasi dan
kecenderungan kawin Drosophila sp. tangkapan lokal dari Blitar,
Tulungagung, dan Batu
3. Pengambilan data hanya mengamati ada atau tidaknya larva.
4. Peneliti menggunakan indeks isolasi sebagai cara untuk menentukan
kekerabatan antara Drosophila sp. tangkapan lokal dari Blitar,
Tulungagung, dan Batu.
1.7 Definisi Operasional
Istilah yang ada pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Indeksi isolasi merupakan rumusan yang digunakan untuk mengetahui
dan mengukur adanya kecenderungan kawin yang terjadi pada individu
yang dapat diperoleh dari perbandingan antara selisih persentase
perkawinan homogami dan heterogami dengan jumlah persentase
perkawinan homogami dan heterogami.
2. Male-Choice adalah perkawinan dimana individu jantan bebas
memilih individu betina yang akan dikawini. Digunakan 15
Drosophila sp. dalam satu botol, 5 jantan dan 10 betina dari 2 daerah
yang berbeda.
3. Perkawinan homogami adalah perkawinan yang terjadi pada populasi
yang sama dalam satu spesies.
4. Perkawinan heterogami, adalah perkawinan yang terjadi pada populasi
yang berbeda dalam satu spesies.
5. Kecenderungan kawin adalah kecenderungan Drosophila sp. sp. untuk
memilih pasangan kawin yang dapat diketahui dengan melakukan
perhitungan indeks isolasi dari munculnya larva pada hasil
persilangan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Drosophila sp.
Drosophila sp. atau di Indonesia lebih sering disebut dengan lalat
buah ini banyak sekali ditemukan. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh
faktor lingkungan yang ada di Indonesia yang sangat mendukung untuk
pertumbuhan dan perkembangan dari Drosophila sp. ini. Menurut
Strickberger (1962), Drospohila sp. memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Mandibulata
Kelas : Insekta
Subkelas : Pterygota
Ordo : Diptera
Subordo : Clycorhapha
Famili : Drosophiladae

5
Genus : Drosophila sp.
Subgenus : Sophophora
2.2 Ciri Umum Drosophila sp. sp.
Seperti yang terlihat pada gambar 2.1, Drosophila sp. memiliki tiga
bagian utama tubuh yaitu kepala, thorax (dada), dan abdomen (perut).
Pada gambar disebelah kiri, merupakan Drosophila sp. betina, hal ini
dapat diketahui dari ukuran tubuh dan tidak adanya warna hitam pada 2
segmen terakhir pada abdomen. sedangkan pada gambar sebelah kanan
merupakan Drosophila sp. jantan, hal ini dapat diketahui dari ukuran tubuh
dan terdapat warna hitam pada 2 segmen terakhir pada abdomen (Chyb &
Gompel 2013).

Gambar 2.1Dasar dari Drosophila sp.


Sumber: Chyb dan Gompel (2013)
1. Kepala
Kepala memiliki organ sensoris untuk penglihatan (mata
majemuk, oselli), penciuman yang teridiri atas antena, palpus
maksilaris, pengecap berupa probosis, pendengaran berupa antena dan
peraba yaitu bristle sensoris. Mata majemuk adalah struktur
morfologi yang paling menonjol terletak pada kapsul kepala eksternal.
Selain itu mata majemuk memiliki pigmen mata kemeraha. Sebuah
daerah yang lebih gelap di tengah mata disebut pseudopupil. Mata
mejemuk dikelilingi oleh bristle orbital anterior, tengah dan posterior
(OR). Oselli ditemukan pada bagian dorsal kepala sebagai rtriplet:

6
oseli diarahkan ke kiri dan kanan kepala, masing-masing, sementara
oseli medial diarahkan secara frontal. Dikedua sisi ocellus pusat
terdapat bristle ocellar, postvertical bristle (PV), Anterior ventral
bristles (AVT) dan posterior ventral bristles (PVT). Seperti yang
terlihat pada gambar 2.1.1, ini merupakan bagain-bagian dari mata
yang telah di jabarkan di atas.

Gambar 2.1.1 Kepala Drosophila sp.


Sumber: Chyb dan Gompel (2013

2. Thorax
Seperti yang terlihat pada gambar 2.1.2 Thoraks terdiri dari dua
bagian utama: anterior scutum dan scutellum posterior dipisahkan oleh
scutocutellar. Pada bagian skutum, terdapat berbagai bristle
diantaranya: humeral (HU), notopleural anterior dan posteior (NP),
supra-alar anterior dan posteior (SA), post-alar anterior dan posteior
(PA), presutural (PS), serta dorso-sentral anterior dan posteior (DC).
Sedangkan pada bagian skutelum terdapat bristle skutellar anterior
dan posterior (SC)

Gambar 2.1.2 Toraks Drosophila sp.


(Sumber: Chyb dan Gompel 2013)
Pada thorax merupakan tempat melekatnya sayap serta terdapat
tiga pasang kaki. Bagian-bagian dari sayap dapat dilihat pada gambar
2.1.2a, dan gambar 2.1.2b
a) Sayap

7
Pada sayap terdapat dua bagian yaitu wing cells (sel sayap) dan
wing veins (peruratan sayap). Wing cells terdapat, Costal cell (C),
Marginal cell (M), Submarginal cell (S), Basal cell 1 (B1), posterior
cell pertama (1P), Basal cell 2 (B2), Discal cell (D), Posterior cell
kedua (2P), Anal cell (A), Posterior cell (3P), Alula (Al), dan Axillary
cell (Ax).
Sedangkan pada peruratan daun terdapat delapan urat (vein): L1,
radial (L2), medial (L3), kubital (L4), distal (L5), L6, costal, dan
aksilari. Selain itu juga terdapat tiga cross-vein: humeral, anterior dan
posterior. Daerah yang berada di antara urat disebut sel. Ada sepuluh
sel: costal, marginal, submarginal, basal, diskal, anal dan posterior ke-
1 sampai ke-3.

Gambar 2.1. 2 a) Sayap Drosophila sp.


Sumber: Chyb dan Gompel (2013)
b) Kaki
Kaki tersusun atas lima bagian, dari proksimal ke distal terdiri
atas coxa, trchanter, femur, tibia dan tarsus. Setiap tarsus terdiri atas
lima tarsomer. Hanya saja pada individu jantan yang memiliki sex
comb (sisir kelamin).sedangkan pada individu betina tidak.

8
Gambar 2.1.2 b) Kaki Drosophila sp.
Sumber: Chyb dan Gompel (2013)
3. Abdomen
Abdomen pada individu jantan dan betina berbeda. Terlihat pada
baian 2 segment erakhir pada individu jantan memiliki warna coklat
gelap sedangkan pada individu betina tidak. Selain itu, pada individu
betina pada segmen terakhir terdapat bagian yang berbentuk lancip itu
menandakan adanya ovipositor. Hal ini seperti yang terlihat pada
gambar 2.1.3.

Gambar 2.1.3 Abdomen Drosophila sp.


Sumber: Chyb dan Gompel (2013)
2.3 Keragaman Drosophila sp. dan Persebarannya di Dunia
Ada banyak spekulasi tentang berbagai wilayah asal leluhur atau
nenek moyang Drosophila melanogaster, akan tetapi telah ditetapkan
bahwa Drosophila melanogaster asli berasal dari khatulistiwa Afrika
(Lachaise et al, 1988). Kemudian, setelah itu Drosophila melanogaster
menyebar ke berbagai belahan dunia dengan wilayah paling utara berada
di Tampere, Finlandia dan wilayah paling selatan berada di Tasmania.
Drosophila melanogaster bersama delapan spesies lainnya membentuk
subkelompok (Keller, A, 1995).
Dari jumlah tersebut (subkelompok Drosophila melanogaster),
Drosophila sp. Yakuba ditemukan di Pantai Gading pada tahun 1950
(Burla, H, 1954). Drosophila teissieri, Drosophila Orena dan Drosophila
erecta semua ditemukan di daratan Afrika (Tsacas, L, 1971). Sedangkan
Drosophila mauritiana endemik ke pulau Mauritius (Tsacas, L.,&David, J.
R, 1974) dan Drosophila sechellia hanya ditemukan pada beberapa di

9
kepulauan Seychelles (Tsacas, L.,&Baechli, G, 1981). Pada tahun 2000,
spesies lain pada subkelompok Drosophila melanogaster yaitu Drosophila
santomea ditemukan di pulau So Tom di Samudera Atlantik dekat garis
pantai Afrika Barat (Lachaise, D, et al, 2000). Keseluruhan dari spesies
lalat buah sejauh ini ditemukan di daerah Afrika tropis. Hanya saja ada dua
anggota yang berasal dari subgroup D. melanogaster dan D.simulans.
2.4 Persebaran Drosophila sp.
Drosophila sp. hidup tersebar diberbagai belahan dunia kecuali
Antartika. Persebaran alami Drosophila sp. berada di daerah tropis
(Lachaise et al, 1988). Namun Drosophila sp. dapat tersebar ke berbagai
wilayah karena bantuan manusia. Nama Drosophila sp. berarti menyukai
kelembapan, hal ini menunjukkan bahwa lalat ini menyukai daerah yang
lembab. Drosophila sp. tidak dapat hidup di derah yang memiliki
temperature yang dingin, karena suplai makan pada daerah tersebut sangat
sedikit.maka dari itu Drosophila sp. lebih menyukai tinggal pada daerah
tropis.
Drosophila sp. memerlukan bahan makanan dari tumbuhan agar
dapat bertahan hidup. Drosophila sp. dapat berkembangbiak dengan baik
pada sekitar tanaman yang membusuk atau buah yang telah membusuk.
Biasanya Drosophila sp. bertelur dan meletakkan telurnya pada tanaman
atau buah yang telah dihinggapinya. Selain itu, Drosophila sp. bertelur
pada buah yang belum matang, sehingga pada saat telur menetas dan larva
berkembang saat buah telah matang (Conrad, 2012).
2.5 Keadaan Geografis Blitar, Tulungagung, dan Batu
a. Blitar
Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah di Propinsi Jawa Timur
yang secara geografis Kabupaten Blitar terletak pada 111 25 112 20 BT
dan 7 57-8 951 LS berada di Barat daya Ibu Kota Propinsi Jawa Timur
Surabaya dengan jarak kurang lebih 160 Km. Adapun batas batas
wilayah adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang

Sebelah Timur : Kabupaten Malang

Sebelah Selatan : Samudra Indonesia

10
Sebelah Barat : Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri

Kabupaten Blitar memiliki luas wilayah 1.588.79 KM dengan tata


guna tanah terinci sebagai Sawah, Pekarangan, Perkebunan, Tambak,
Tegal, Hutan, Kolam Ikan dan lain-lain, Kabupaten Blitar juga di belah
aliran sungai Brantas menjadi dua bagian yaitu Blitar Utara dan Blitar
Selatan yang sekaligus membedakan potensi kedua wilayah tersebut yang
mana Blitar Utara merupakan dataran rendah lahan sawah dan beriklim
basah dan Blitar Selatan merupakan lahan kering yang cukup kritis dan
beriklim kering. Iklim Kabupaten Blitar termasuk tipe C.3 dimana rata-rata
curah hujan tahunan 1.478,8 mm dengan curah hujan tertinggi 2.618,2 mm
per tahun dan terendah 1.024,7 per tahun. Sedangkan suhu tertinggi 30
Celcius dan suhu terendah 18 celcius. Sedangkan jika dilihat dari letak
Tofografi tinggi tempat tertinggi adalah 800 meter (dpa) dan tinggi tempat
terendah adalah 40 meter (dpa).

b. Tulungagung
Secara astronomis Kota Tulungagung terletak pada posisi 111, 43
112, 07 Bujur Timur dan 7, 51 8, 08 Lintang Selatan. Batas
adminstratif wilayahnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Kediri

Sebelah Selatan : Samudera Hindia

Sebelah Timur : Kabupaten Blitar

Sebelah Barat : Kabupaten Trenggalek

Secara topografi, Tulungagung terletak pada ketinggian 85 mdpl.


Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan.
Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan bagian selatan adalah
pegunungan. Di sebelah barat laut Tulungagung, tepatnya di Kecamatan
Sendang, terdapat Gunung Wilis sebagai titik tertinggi di Kabupaten
Tulungagung yang memiliki ketinggian 2552 m. Di tengah Kota

11
Tulungagung, terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali
Brantas dan seolah membagi Kota Tulungagung menjadi dua bagian: utara
dan selatan. Kali ini sering disebut dengan Kali Parit Raya dari rangkaian
Kali Parit Agung. Secara garis besar Kabupaten Tulungagung mempunyai
iklim tropis yang terbagi ke dalam dua musim yaitu penghujan dan
kemarau. Curah hujan di kota ini rata-rata 120,26 mm.

c. Batu

Secara astronomis Kota Batu terletak pada posisi 1121710,90


1225711 Bujur Timur dan 74455,11 82635,45 Lintang Selatan.
Batas adminstratif wilayahnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kecamatan Prigen, Kabupaten Mojokerto dan


Kabupaten Pasuruan.

Sebelah Timur : Kecamatan Karang Ploso dan Kecamatan Dau


Kabupaten Malang.

Sebelah Selatan : Kecamatan Dau dan Kecamatan Wagir, Kabupaten


Malang dan Kabupaten Blitar.

Sebelah Barat : Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

Dengan kondisi topografi pegunungan dan perbukitan tersebut


menjadikan kota Batu terkenal sebagai daerah dingin. Kota Batu memiliki
suhu minimum 18-24 C dan suhu maksimum 28-32 C dengan
kelembaban udara sekitar 75 98 % dan curah hujan rata-rata 875 3000
mm per tahun. Temperatur rata-rata Kota Batu 21,5 C, dengan temperatur
tertinggi 27,2 C dan terendah 14,9 C. Rata-rata kelembaban nisbi udara
86 % dan kecepatan angin 10,73 km/jam. Curah hujan tertinggi di
Kecamatan Bumiaji sebesar 2471 mm dan hari hujan mencapai 134 hari.
Karena keadaan tersebut, Kota Batu sangat cocok untuk pengembangan
berbagai komoditi tanaman sub tropis pada tanaman holtikultura dan
ternak.

12
2.6 Macam-macam Isolasi

Isolasi reproduksi menyebakan terjadinya spesiasi. Tingkat isolasi


reproduksi antara suatu populasi dengan populasi lainnya sering terkait
dengan isolasi seksual. Hadisubroto dalam Munawaroh (1996)
menjelaskan bahwa macam-macam mekanisme isolasi dibagi menjadi 2,
yaitu:
1. Mekanisme pre-zigotik yaitu mencegah terjadinya fertilisasi dan
pembentukan zigot yang disebakan oleh:
a. Habitat
Populasi tinggal di daerah yang sama tetapi menempati habitat yang
berbeda.
b. Musiman atau sementara
Populasi hidup pada daerah yang sama namun kematangan seksual
terjadi pada waktu yang berbeda
c. Ethologi
Populasi dipisahkan oleh tingkah laku yang berbeda dan tidak
sejalan sebelum kawin.
d. Mekanis
Tidak terjadi fertilisasi karena perbedaan ukuran atau bentuk
struktur alat reproduksi yang menyebabkan kopulasi dan transfer
sperma sulit atau tidak mungkin terjadi.
2. Mekanisme poszigotik yaitu terjadi fertilisasi dan zigot, namun
dihasilkan keturunan yang lemah dan steril. Hal ini dikarenakan oleh:
a. Perkembangan hibrid yang steril, karena gonadnya berkembang
abnormal
b. Sterilisasi hibrid akibat segresi. Hibrid steril karena distribusi yang
abnormal dari keseluruhan kromosom, segmen kromosom atau
kombinasi gen pada gamet.
c. Hibrid yang rusak mengurangi kemampuan hidup ataupun fertilisasi
pada keturunan hibrid, misalnya pada F2.

2.7 Seleksi Seksual dan Kecenderungan Kawin


Seleksi seksual berkaitan erat dengan struktur gen tiap individu
yang bervariasi. Adanya variasi ini disebabkan oleh perbedaan struktur gen
karena individu/populasi beradaptasi pada lingkungannya (Nanda dan
Singh, 2011). Variasi tersebut menyebabkan adanya perbedaan dan
kemiripan struktur gen antara individu-individu. Kemiripan struktur gen

13
antar individu yang mengebabkan keduanya dikatakan memiliki hubungan
genetic yang dekat. Menurut Haerty, et al. (2002), seleksi seksual
umumnya terjadi antara dua individu yang memiliki hubungan genetic
yang dekat. Sehingga seleksi seksual ini menimbulkan suatu
kecenderungan kawin. Kecenderungan kawin dibedakan menjadi dua,
yaitu homogami dan heterogami. Homogami merupakan perkawinan yang
terjadi di antara dua individu dengan suatu kesamaan. Pada penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Castrezana dan Markow (2008)
digunakan daerah asal sebagai indikator jenis perkawinan. Pada
penelitiannya mengenai isolasi seksual digunakan populasi D. mettleri dari
pulau Santa Catalina, superstition mountain, San Jose, dan Bahia
Concepcion. Sedangkan pada penelitian ini, digunakan kota asal sebagai
indikator jenis perkawinan. Perkawinan antar lalat dari kota/populasi yang
sama disebut perkawinan homogami, sedangkan perkawinan antar lalat
dari kota/populasi yang berbeda disebut perkawinan heterogami.

2.8 Desain Penelitian Isolasi Seksual


Desain penelitian mengenai isolasi seksual selalu mengarah pada tes
pilihan atau yang sering disebut dengan choice test. Menurut Castrezana &
Markow (2008), terdapat beberapa macam choice test, diantaranya sebagai
berikut:
1. Desain no-choice
Beberapa jantan dan beberapa betina dari populasi yang berbeda-beda
ditempatkan bersama dalam satu tempat perkawinan.
2. Female-choice
Beberapa betina ditempatkan bersama beberapa jantan dari populasi
yang sama dan populasi yang berbeda.
3. Male-choice
Beberapa jantan dari suatu populasi ditempatkan bersama betina dari
dua populasi, yang sama dan berbeda. Sinyal mating mungkin
bertukar secara resiprok antar seks, menyebabkan pengenalan
pasangan. Perbedaan sinyal mating dan pengenalan sinyal merupakan
salah satu cara dalam spesiasi (Coyne dan Orr, 2004). Pemilihan pada
peristiwa kawin didefinisikan oleh Marcus dalam Basuki (1997)
sebagai semua pola tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu yang

14
menunjukkan bahwa mereka lebih menyukai kawin dengan pasangan
kawin tertentunya daripada dengan yang lain.
4. Multiple choice
Jantan dan betina daru dua populasi dalam jumlah yang seimbang
ditempatkan dalam satu tempat perkawinan.

2.9 Indeks Isolasi


Indeks isolasi merupakan cara untuk menentukan kecenderungan
kawin yang diukur melalui selisih antara persentase perkawinan
homogamy dan heterogami yang dibagi dengan total kedua jenis
perkawinan (Ehrman & Parson, 1981). Perhitungan tersebut dirumuskan
sebagai berikut:

perkawinan homogami perkawinan heterogami


indeksisolasi=
perkawinan homogami+%perkawinanheterogami

Nilai indeks isolasi berkisar dari -1 sampai +1. Apabila indeks


isolasi bernilai 0 berarti tidak terdapat isolasi seksual (pemilihan bebas).
Apabila bernilai positif berarti terdapat kecenderungan homogamy,
sedangkan apabila bernilai negative berarti terdapat kecenderungan
heterogami. Semakin kecil indeks isolasi maka semakin terbuka terhadap
strain yang lain (homogami), sebaliknya semakin besar indeks isolasi
maka semakin tertutup terhadap strain yang lain (Bock, 1978).

2.10 Kerangka Konseptual

Persebaran Drosophila sp. di daerah tropis.Indonesia merupakan


negara yang memiliki iklim tropis Drosophila sp. dapat tersebar
ke berbagai wilayah karena bantuan manusia.
Perkawinan antara beberapa populasi antar daerah menyebabkan
terjadinya seleksi seksual yang kemudian menimbulkan adanya
kecenderungan kawin
15
Menghitungindeksisolasi yang terjadimenggunakanrumus

Bernilai negatif Bernilai 0 Bernilai positif

Kecenderungan Tidakterjadiisol Kecenderungan


kawinterhadap asiseksual kawinterhadap
betina betina
heterogami homogami
Menentukan hubungan kekerabatan ditinjau dari kecenderungan

Hipotesis perkawinanmelaluihasil perhitungan indeks isolasi

H1= Ada kecenderungan kawin antara Drosophila sp. tangkapan lokal kota Blitar,
Tulungagung dan Batu berdasarkan indeks isolasi.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. RancanganPenelitian
Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan
perhitungan nilai indeks isolasi. Data yang diambil dari persilangan antara
Drosophila sp. tangkapan dari kota Blitar, Tulungagung, dan Batu dengan
metode male-choice, yaitu beberapa jantan dari suatu populasi
ditempatkan bersama betina dari dua populasi, yang sama dan berbeda.
Hal ini bertujuan memberikan pembebasan jantan untuk memilih individu

16
betina yang akan dikawini. Pada masing-masing perlakuan dilakukan 2
kali ulanagan. Rancangan penelitian yang digunakan dengan
menggunakan anava tunggal.
3.2. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1.1.1 Variabel bebas : macam daerah asal Drosophila sp. sp. yaitu Blitar
Tulungagung, dan Batu.

Gambar 1.1.1.1 Peta yang menunjukkan letak kota Blitar, Tulungagung dan Batu
(Sumber: sejarah Negara.net)

1.1.2 Variabel terikat : indeks isolasi kecenderungan kawin


1.1.3 Variabel kontrol : cahaya, usia induk, medium, dan suhu

3.3.Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Waktu dan tempat penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.3.1 Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai bulan September 2016 sampai dengan bulan
Desember 2016.
3.3.2 Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di LaboratoriumGenetika, gedung O5 lantai 3
ruang 310, FMIPA UM.
3.4. Populasi dan Sampel

17
Populasi dan sample yang digunakan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Drosophila sp. sp. tangkapan dari
Kota Blitar, Tulungagung, dan Batu.
3.4.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah Drosophila sp. tangkapan dari
daerah Kota Blitar, Tulungagung, dan Batu.
3.5.Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mikroskop stereo,
panci, pengaduk, blender, timbangan, kompor gas, wadah plastik, botol
selai, botol balsam, selang ampul, sendok, pisau, gunting, spons, kuas,
spidol permanen. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
Drosophila sp. sp. tangkapan dari Kota Blitar, Tulungagung, dan Batu,
pisang rajamala, tape singkong, gula merah, fermipan, air, kertas pupasi,
karet gelang, tisu, kertas label, dan alcohol 70 %.
3.6.Prosedur Kerja
3.6.1. Penangkapan Drosophila sp. sp.
a. Daerah Blitar, Tulungagung, dan Batu. Potongan buah pisang
dimasukkan kedalam beberapa botol selai.
b. Toples diletakkan pada tempat yang telah ditentukan atau ditempat
yang terbuka sampai terdapat Drosophila sp. tangkapan, kemudian
botol ditutup dengan spons atau dapat menggunakan plastik.
3.6.2. Pembuatan medium
a. Bahan pisang raja mala ditimbang, tape singkong dan gula merah
dengan perbandingan 7:2:1.
b. Ketiga bahan dihaluskan dengan blender, kemudian dituangkan ke
dalam panci.
c. Ditambahkan air secukupnya.
d. Medium yang telah jadi dimasak selama 45 menit sambil diaduk
(usahakan tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental), kemudian
didinginkan.
e. Medium yang telah masak dimasukkan ke dalam botol persilangan
sebanyak seperlima bagian dari tinggi botol persilangan.
f. Diberi yeast secukupnya dan kertas pupasi diletakkan kedalam botol
tersebut.

18
g. Botol ditutup dengan spon yang telah dipotong sesuai ukuran.
3.6.3. Pemurnian dan Persiapan Stok
a. Ciri-ciri Drosophila sp. yang telah ditangkap dari masing-masing
daerah diamati menggunakan mikroskop stereo dengan cara
dimasukkan dalam plastik (minimal 50 ciri morfologi).
b. Drosophila sp. tangkapan dari ketiga daerah tersebut dibiarkan
kedalam botol medium pemurnian hingga terdapat pupa.
c. Pupa yang telah menghitam dipindahkan ke dalam selangampul dan
diampul sebanyak-banyaknya.
d. Identifikasi dilakukan terhadap lalat yang telah menetas dan
disilangkan dalam satu daerah dari hasil ampul tersebut berdasarkan
persamaan ciri, dalam satu botol terdapat satu pasang serta melakukan
banyak ulangan.
e. Drosophila sp. dibiakkan banyak pasang dengan ciri yang sama
masing-masing daerah.
f. Pemurnian dilakukan sampai dengan F3, keturunan F3 dianggap
sebagai stok.
3.6.4. Identifikasi spesies Drosophila sp. (minimal dicari 50 ciri morfologi
dari masing-masing kota)
3.6.5. Persilangan
a. Drosophila sp. tangkapan diidentifikasi jantan dan betina, kemudian
Drosophila sp. tangkapan betina diwarnai pada masing-
masingdaerahdengan warna yang berbeda dengan menggunakan
spidol.
b. Drosophila sp. tangkapan disilangkan antar populasi dengan metode
male-choice yaitu dengan mengawinkan 5 individu jantan dengan 5
individu betina dari salah satu daerah dan 5 individu betina dari
daerah lainnya. Macam persilangannya adalah sebagai berikut:
1. 5BL>< 5BL>< 5TA (Heterogami dan homogami)
2. 5BL>< 5BL>< 5BT (Heterogami dan homogami)
3. 5BL>< 5TA>< 5BT (Heterogami)
4. 5TA>< 5TA>< 5BT (Heterogami dan homogami)
5. 5TA>< 5TA>< 5BL (Heterogami dan homogami)
6. 5TA>< 5BT>< 5BL (Heterogami)

19
7. 5BT>< 5BT>< 5BL (Heterogami dan homogami)
8. 5BT>< 5BT>< 5TA (Heterogami dan homogami)
9. 5BT>< 5TA>< 5BL (Heterogami)
Keterangan:
BL= Drosophila sp. tangkapan Blitar
TA = Drosophila sp. tangkapan Tulungagung
BT = Drosophila sp. tangkapan Batu
c. Dua hari setelah persilangan, individu jantan dilepas, kemudian
masing-masing individu betina dipindahkan dalam botol balsam yang
telah berisi medium pisang (masing-masing botol diisi satu individu
betina Drosophila sp. tangkapan).
d. Diama tiada tidaknya larva (jangka waktu 1 minggu) dalam botol
balsem, kemudian mencatatnya dalam tabel data pengamatan.
3.7.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini
yaitu dengan cara melakukan pengamatan ada atau tidaknya larva secara
langsung terhadap Drosophila sp. tangkapan betina yang telah dibuahi
oleh pejantan pada masing-masing persilangan. Data yang diperoleh
disajikan dalam bentuk table pengamatan seperti berikut:

Tabel 3.7.1. Hasil Pengamatan Adanya Larva pada Individu Betina Hasil
Persilangan
Tipe Ulangan
persilanga I II
n 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
5BL
1 5BL
5TA
5BL
2 5BL
5BT
5TA
3 5BL
5BT
5TA
4 5TA
5BT
5TA
5 5TA
5BL
5BT
6 5TA
5BL

20
5BT
7 5BT
5BL
5BT
8 5BT
5TA
5TA
9 5BT
5BL

Dari tabel hasil pengamatan ada tidaknya larva di atas kemudian


dimasukkan ke dalam tabel rekapan hasil pengamatan sebagai berikut:

Tabel 3.7.2 Rekapan Data Hasil Pengamatan

TipePersilanga Ulangan

n 1 2
5BL
1 5BL
5TA
5BL
5BL
2 5TA
5TA
3 5BL
5BL
5TA
4 5TA
5BL
5TA
5 5TA
5BT
5BL
6 5TA
5BT
5BT
7 5BT
5BL
5BT
8 5BT
5TA
5BL
9 5BT
5TA

Keterangan:
BL : Drosophila sp. tangkapan Blitar
TA : Drosophila sp. tangkapan Tulungagung
BA : Drosophila sp. tangkapan Batu

3.8.TeknikAnalisis Data

21
Teknik Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
rumus perkawinan homogami dan heterogami kemudian rumus indeks
isolasi untuk mengetahui kecenderungan perkawinan Drosophila sp.
tangkapan dari Kota Blitar, Tulungagung, dan Batu dengan rumus indeks
isolasi kemudian ditransformasi kemudian menggunakan analisis statistik
dengan metode analisis varian tunggal.
1. Menghitung persentase perkawinan heterogami dan homogami
% perkawinan homogami =

% perkawinan heterogami =

2. Menghitung indeks isolasi

3. Hasil perhitungan indeks isolasi selanjutnya dianalisis secara statistic dengan


menggunakan Anava tunggal RAK.
4. Analisis Varian Tunggal
Adapun langkah-langkah dalam teknik Analisis Data menggunakan Anava
tunggal RAK menurut Sulisetijono (2006) adalah sebagai berikut:

a. Menghitung JK Total = X2 -FK

X 2t FK
b. Menghitung JK Perlakuan = r

X 2r FK
c. Menghitung JK ulangan = t

d. Menghitung JK Galat= JK Total JK Perlakuan JK ulangan


e. Memasukkan data pada tabel Ringkasan Anava
f. Membandingkan nilai F Hitung dengan nilai F Tabel pada taraf 0,01
dan 0,05
g. Menarik kesimpulan
- Jika Fhit > F tabel, maka Ho ditolak dan hipotesis penelitian diterima
- Jika Fhit< F tabel, maka Hoterima dan hipotesis penelitian ditolak

22
BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Data Hasil Pengamatan Ciri Morfologi
Tabel 4.1 Ciri morfologi Drosophila sp. tangkapan dari daerah Kota Blitar,
Tulungagung dan Batu
No CiriCiri Morfologi Blitar Tulungag Batu
. ung
Kepala
1. Warna mata mejemuk
merah
2. Bentuk mata majemuk oval
3. Diameter mata majemuk
lebih besar dari diameter
pipi
4. Faset mata halus
5. Terdapat mata tunggal
(ocelli)
6. Jumlah mata tunggal
(ocelli) 3
7. Ocelli membentuk segitiga
8. Terdapat rambut halus
sekitar ocelli
9. Arista berambut
10. Memiliki rambut halus oral

23
bristale
11. Terdapat rambut halus di
sekitar probosis
12. Tipe mulut penjilat
13. Terdapat rambut
frontoorbital
14. Terdapat rambut post
vertical
Torax
15. Warna tubuh kuning
kecoklatan
16. Terdapat haltere
17. Terdapat humeral
18. Terdapat presutural
19. Terdapat rambut akrostikal
pada thorax
20. Terdapat notopleurals
21. Terdapat supraalars
22. Terdapat posterior
sternopleural
23. Stenopleura berambut
24. Terdapat rambut pada
skutullum
25. Terdapat post alars
26. Terdapat scutellars tebal
27. Terdapat scutellars anterior
28. Terdapat scutellars
posterior
29. Warna tubuh bagian
ventral kuning pucat
Sayap
30. Sayap menutupi tubuh
dengan sempurna
31. Warna sayap metalik -
32. Ujung sayap membulat
33. Terdapat rambut halus
pada sayap
34. Rangka sayap anterior
tebal
35. Rangka sayap posterior
tipis
36. Costa mencapai ujung
sayap

24
37. Costa berambut tidak tebal
38. Terdapat alula
39. Terdapat posterior
crossvein
40. Terdapat anterior crossvein
41. Terdapat anal cell
42. Terdapat Axillary cell
43. Terdapat submarginal cells
44. Terdapat marginal cells
45. Terdapat sel basal
46. Tarsus berambut
47. Segmen tarsus tampak
jelas
48. Ruas tarsus pertama lebih
panjang
49. Koksa tampak jelas
50. Koksa berambut

B. Data Hasil Pengamatan Ada Tidaknya Larva

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Kemunculan Larva pada Individu Betina Hasil
Persilangan

Tipe Ulangan
I II
persilangan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
5BL - + + + + - + + + +
1 5BL
5TA - - - + + - - + - -
5BL + + + - +
2 5BL
5BT - - - + -
5TA - + + - -
3 5BL
5BT - - - + -
5TA
4 5TA
5BT
5TA - - + + +
5 5TA
5BL - + - - -
5BT
6 5TA
5BL

25
5BT + + + + +
7 5BT
5BL - - + + -
5BT + - + + -
8 5BT
5TA - - - - -
5BL
9 5BT
5TA

Keterangan:
+ : Ada larva
: Tidak ada Larva
BL : Drosophila sp. tangkapan dari Blitar
TA : Drosophila sp. tangkapan dari Tulungagung
BT : Drosophila sp. tangkapan dari Batu

Tabel 4.4 Rekapan Data Hasil Pengamatan

Tipe Ulangan

Persilangan 1 2
5BL 4 4
1 5BL
5TA 2 1
5BL 4
2 5BL
5BT 1
5TA 2
3 5BL
5BT 1
5TA
4 5TA
5BL
5TA 3
5 5TA
5BT 1
5BL
6 5TA
5BT
5BT 5
7 5BT
5BL 2
5BT 3
8 5BT
5TA 0
5BL
9 5BT
5TA
Keterangan:
BL : Drosophila sp. tangkapan dari Blitar
TA : Drosophila sp. tangkapan dari Tulungagung
BT : Drosophila sp. tangkapan dari Batu

26
C. Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya menghitung persentase
perkawinan heterogami dan homogami pada setiap jenis persilangan. Jenis
persilangan yang dihitung antara lain :

1. 5BL>< 5BL>< 5TA (Heterogami dan homogami)


2. 5BL>< 5BL>< 5BT (Heterogami dan homogami)
3. 5BL>< 5TA>< 5BT (Heterogami)
4. 5TA>< 5TA>< 5BT (Heterogami dan homogami)
5. 5TA>< 5TA>< 5BL (Heterogami dan homogami)
6. 5TA>< 5BT>< 5BL (Heterogami)
7. 5BT>< 5BT>< 5BL (Heterogami dan homogami)
8. 5BT>< 5BT>< 5TA (Heterogami dan homogami)
9. 5BT>< 5TA>< 5BL (Heterogami)
Perhitungan presentase perkawinan homogami dan heterogami
Drosophila sp. tangkapan dari Bojonegoro, Jombang dan Batu sebagai berikut:
% perkawinan homogami =

individu yang menghasilkan larva( persilangan homogami)


100%
total individu dalam satu persilangan(homogami )
% perkawinan heterogami =

individu yang menghasilkan larva( persilangan heterogami)


100%
total individu dalam satu persilangan(heterogami)

1. 5BL>< 5BL>< 5TA

4
X 100 =80
% Perkawinan Homogami = 5

2
X 100 =40
%Perkawinan Heterogami = 5

2. 5BL>< 5BL>< 5BT


4
X 100 =80
% Perkawinan Homogami = 5

27
1
X 100 =20
%Perkawinan Heterogami = 5

3. 5BL>< 5TA>< 5BT


3
X 100 =30
% Perkawinan Heterogami = 10

4. 5TA>< 5TA>< 5BT


% Perkawinan Homogami = -
%Perkawinan Heterogami = -
5. 5TA>< 5TA>< 5BL
3
X 100 =60
% Perkawinan Homogami = 5

1
X 100 =20
%Perkawinan Heterogami = 5

6. 5TA>< 5BT>< 5BL


% Perkawinan Heterogami = -
7. 5BT>< 5BT>< 5BL
5
X 100 =100
% Perkawinan Homogami = 5

2
X 100 =40
%Perkawinan Heterogami = 5

8. 5BT>< 5BT>< 5TA


3
X 100 =60
% Perkawinan Homogami = 5

0
X 100 =0
%Perkawinan Heterogami = 5

9. 5BT>< 5TA>< 5BL

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Presentase Perkawinan Homogami dan Heterogami

TipePersilanga Ulangan

n 1 2
5BL 80% 80%
1 5BL
5TA 40% 20%
5BL 80%
2 5BL
5BT 20%
5TA
3 5BL 30%
5BT
5TA 60%
4 5TA
5BL 20%

28
5TA
5 5TA
5BT
5BL
6 5TA
5BT
5BT 100%
7 5BT
5BL 40%
5BT 60%
8 5BT
5TA 0%
5BL
9 5BT
5TA

Perhitungan Indeks Isolasi


perkawinan homogami perkawinan heterogami
Indeks isolasi = perkawinan homogami + perkawinan heterogami

Ulangan 1

1. 5BL>< 5BL>< 5TA

80 40
=0,33
80 + 40

2. 5BL>< 5BL>< 5BT


80 20
=0,6
80 +20

3. 5BL>< 5TA>< 5BT (heterogami)


0 30
=1
30 +0

4. 5TA>< 5TA>< 5BT


60 20
=0,5
60 +20

5. 5TA>< 5TA>< 5BL

6. 5TA>< 5BT>< 5BL (heterogami)

7. 5BT>< 5BT>< 5BL


100 40
= 0,43
100 + 40

29
8. 5BT>< 5BT>< 5TA

60 0
=1
60 +0

9. 5BT>< 5TA>< 5BL (heterogami)

Ulangan 2
1. 5BL>< 5BL>< 5TA

80 20
=0,6
80 +20

Setelah mendapatkan indeks isolasi data ditransformasikan dan


kemudian dihitung dengan menggunakan anava tunggal dengan menggunakan
rumus

Menghitung JK Total = X2 -FK

X 2t FK
Menghitung JK Perlakuan = r

X 2r FK
Menghitung JK ulangan = t

Menghitung JK Galat= JK Total JK Perlakuan JK ulangan

Kemudian memasukkan ke dalam tabel

Anava Tunggal RAK

d
SK JK KT Fhit F(0,05) F(0,01)
b

Perlakua
n
Ulangan

30
Galat
Total

Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh
variable bebas terhadap variabel terikat.

Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima. Hal ini menunjukkan tidak ada
pengaruh variable bebas terhadap variabel terikat.

Karena data pengamatan belum lengkap kami belum bisa


dilakukan analisis statistik, maka untuk membuat kesimpulan sementara kami
menggunakan indeks isolasi dari masing-masing daerah dengan satu ulangan
dan ulangan kedua untuk 1 perlakuan saja.
Tabel 4.6 Nilai Indeks Isolasi
Ulangan
No Macam Persilangan
1 2
1 5 BL>< 5 BL >< 5 TA 0,33 0,6
2 5 BL>< 5 BL>< 5 BT 0,6
3 5 BL >< 5 TA>< 5 BT -1
4 5 TA >< 5 TA>< 5 BL 0,5
5 5 TA >< 5 TA>< 5 BT
6 5 TA >< 5 BL>< 5 BT
7 5 BT >< 5 BT>< 5 BL 0,43
8 5 BT >< 5 BT>< 5 TA 1
9 5 BT >< 5 BL>< 5 TA
Berdasarkan hasil yang telah didapat, pada persilangan nomor 1, 2, 4, 7
pada ualngan satu dan pada persilangan nomor 1 ulangan ke dua, memperlihatkan
nilai indeks isolasi positif yang menunjukkan bahwa kecenderungan kawin yang
terjadi pada individu adalah homogami. Sedangkan pada persilangan nomor 4
menunjukkan nilai indeks isolasi yang komplit. Persilangan yang menandakan
bahwa persilangan tersebut individu hetergomi ditunjukkan oleh nomor 3 yang

31
diharapkan mampu menunjukkan kekerabatan antara daerah Blitar,
Tulungagug, dan Batu.

Pada persilangan nomor 1 yaitu persilangan 5 BL>< 5 BL >< 5


TA didapatkan nilai indeks isolasi positif (0,33) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara homogami. Kekerabatan jantan dari
perlakuan galur murni daerah Blitar memiliki kedekatan jenis dengan betina
daerah Blitar dibandingkan dengan betina galur murni daerah Tulungagung.

Pada persilangan nomor 2 yaitu persilangan 5 BL>< 5 BL>< 5


BT didapatkan nilai indeks isolasi positif (0,6) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara homogami. Kekerabatan jantan dari
perlakuan galur murni daerah Blitar memiliki kedekatan jenis dengan betina
daerah Blitar dibandingkan dengan betina galur murni daerah Batu.

Pada persilangan nomor 3 yaitu persilangan 5 BL >< 5 TA>< 5


BT didapatkan nilai indeks isolasi negatif (-1) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara heterogami. Dibandingkan dengan
persilangan nomor 1 dan nomor 2 hasil yang menunjukkan terjadinya
kecenderungan kawin homogami.

Pada persilangan nomor 4 yaitu persilangan 5 TA >< 5 TA>< 5


BL didapatkan nilai indeks isolasi positif (0,5) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara homogami. Kekerabatan jantan dari
perlakuan galur murni daerah Tulungagung memiliki kedekatan jenis
dengan betina daerah Tulungagung dibandingkan dengan betina galur murni
daerah Blitar.

Pada persilangan nomor 7 yaitu persilangan 5 BT >< 5 BT>< 5


BL didapatkan nilai indeks isolasi positif (0,43) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara homogami. Kekerabatan jantan dari
perlakuan galur murni daerah Batu memiliki kedekatan jenis dengan betina
daerah Batu dibandingkan dengan betina galur murni daerah Blitar.

32
Pada persilangan nomor 8 yaitu persilangan 5 BT >< 5 BT>< 5
TA didapatkan nilai indeks isolasi positif (1,0) yang menandakan bahwa
terjadi kecenderungan kawin secara homogami total. Kecenderungan kawin
secara homogami total ini menunjukkan bahwa jantan daerah Batu memiliki
kekerabatan yang sangat dekat dengan betina daerah Batu atau bahkan
kedua individu merupakan spesies yang sama. Sedangkan jantan dari daerah
Batu memiliki kekerabatan yang jauh dengan betina daerah Tulungagung
sehingga terjadi isolasi kawin total.

Pada persilangan nomor 1 pada ualngan ke dua yaitu persilangan 5


BL>< 5 BL >< 5 TA didapatkan nilai indeks isolasi positif (0,6) yang
menandakan bahwa terjadi kecenderungan kawin secara homogami.
Kekerabatan jantan dari perlakuan galur murni daerah Blitar memiliki
kedekatan jenis dengan betina daerah Blitar dibandingkan dengan betina
galur murni daerah Tulungagung.

BAB V
PEMBAHASAN
Indeks isolasi merupakan salah satu cara untuk menentukan
kecenderungan kawin. Indeks isolasi digunakan untuk mengukur besar seleksi
seksual dan isolasi seksual yang didapat dari proporsi dari perkawinan homogami
dan heterogami (Ehrman & Parson, 1981). Indeks isolasi adalah selisih antara
persentase perkawinan homogami dan heterogami yang dibagi dengan total kedua
jenis perkawinan. Indeks berkisar dari -1 hingga +1, dengan nilai positif
menandakan adanya kecenderungan homogami, nilai negatif menandakan adanya
kecenderungan heterogami dan nilai nol menandakan adanya pemilihan bebas
(tidak ada kecenderungan kawin) (Bock, 1978). Hasil analisis data menunjukkan
bahwa lima persilangan memiliki kecenderunga kawin homogamy dan satu
persilangan memiliki kecenderungan heterogami.

5.1. Kecenderungan Kawin secara Homogami

33
Kecenderungan kawin pada suatu individu bisa diketahui dari indeks
isolasi. Nilai indeks isolasi menunjukkan perkiraan tentang kekuatan seleksi
seksual dan isolasi seksual yang didapat dari membandingkan bagian atau
proporsi dari perkawinan homogami dan heterogami pada keadaan kawin
yang acak (Basuki,1997). Nilai indeks isolasi berkisar antar -1 sampai +1.
Bila nilai indeks isolasi positif yaitu berkisar antara 0-1 berarti terdapat
kecenderungan pemilihan individu jantan terhadap betina homogami
(Munawaroh, 1996). Pemilihan jantan pada individu betina homogamy
disebabkan adanya feromon. Peristiwa kawin yang terjadi akan melibatkan
banyak hal terhadap feromon seks yang muncul pada peristiwa pendekatan
sebelum kawin. Feromon seks ini berupa tanda kawin yang dikeluarkan oleh
individu yang mempunyai pengaruh meningkatkan tingkah laku seksual
spesies yang sama (Basuki 1997).

5.2. Tidak Ada Kecenderungan Kawin

Bila nilai indeks isolasi 0 artinya tidak ada isolasi kecenderungan


kawin. Dalam hal ini, persilangan antar jenis hewan dialam biasanya
terhalang oleh mekanisme isolasi reproduksi sebelum kawin. Salah satu
mekanisme isolasi sebelum kawin adalah isolasi seksual. Isolasi seksual ini
diantara lain berupa perbedaan tingkah laku kawin pada individu jantan,
perbedaan suara, perbedaan sinyalsinyal kimia, ataupun perbedaan warna
sehingga Drosophila sp.jantan tidak melakukan seleksi betina yang akan
dikawini (Corebima, 1992)..

5.3. Kecenderungan Kawin secara Heterogami

Nilai indeks isolasi berkisar antar -1 sampai +1. Bila nilai indeks
isolasi negatif yaitu bernilai 0 sampai -1 berarti ada kecenderungan pemilihan
jantan terhadap betina heterogami. Hal ini disebabkan Drosophila sp.tidak
memiliki perbedaan ciri, sehingga Drosophila sp.jantan tidak melakukan
seleksi betina yang akan dikawini. Tidak adanya perbedaan ciri itu
menunjukkan bahwa sejatinya Drosophila sp.yang berbeda asal (daerah
tempat diambilnya) berasal dari garis keturunan yang sama, namun karena

34
migrasi atau oleh bantuan manusia sehingga terbagi menjadi dua populasi
yang hidup di dua kota yang berbeda (Lachaise et al, 1988). Dengan
berjalannya waktu Drosophila sp.ini dapat mengalami evolusi, dapat pula
tidak. Jika tidak terjadi evolusi, maka susunan gennya tidak mengalami
diversifikasi (penganekaragaman), sehingga antara Drosophila sp.tangkapan
yang berasal dari daerah yang berbeda memiliki susunan gen yang tetap
sama walaupun berbeda kota.

5.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan Kawin

Adanya kecenderungan kawin pada Drosophila sp.disebabkan oleh


beberapa faktor. Salah satu faktor yang mmeprngaruhi adanya kecenderunga
kawin yaitu adanya kekerabatan yang dekat. Kecenderungan kawin bisa
dilihat berdasarkan nilai positif dari indeks isolasi yaitu antara 0 sampai
kurang dari 1. Semakin besar nilai indeks isolasi menunjukkan semakin
tertutupnya untuk kawin dengan strain lain (homogamy) karena individu
jantan hanya memilih pasangan kawin dari individu betina yang homogamy
saja dan tidak memilih individu betina yang heterogami (Munawaroh,1996).
Dengan demikian dapat dikatakan kekerabatannya semakin jauh. Sedangkan
berdasarkan nilai negartif dari indeks isolasi yaitu antara 0 sampai -1.
Semakin kecil nilai indeks isolasi berarti semakin maju dalam isolasi
reproduksi (isolasi seksual). Hal tersebut juga menunjukkan semakin
terbukanya untuk kawin dengan strain yang lain (heterogamy). Dengan
demikian dapat dikatakan kekerabatannya semakin dekat (Basuki, 1997).

Selain itu kecenderungan kawin pada Drosophila sp.juga disebabkan


oleh adanya fenomena Male Choice. Pada peristiwa kawinan terjadi
pemilihan dengan individu yang mana yang dikehendaki. Menurut Basuki
(1997), pemilihan tersebut merupakan pola tingkah laku yang ditunjukkan
oleh suatu individu yang menunjukkan bahwa mereka lebih menyukai kawin
dengan pasangan kawin tertentunya daripada dengan yang lain. Peristiwa
tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

35
Faktor internal yang mempengaruhi kecenderunga kawin adalah
susunan gen. Jika susunan gennya sama, maka akan lebih banyak kesamaan
ciri antar Drosophila sp.yang berasal dari kota yang sama. Ciri yang berperan
dalam menentukan keberhasilan dalam perkawinan di antaranya: sinyal kawin
dan perilaku kawin. Sinyal kawin berupa feromon adalah senyawa unik yang
dikeluarkan betina untuk menarik jantan dari jenis yang sama. Feromon
diproduksi oleh kelenjar-kelenjar eksokrin dan termasuk golongan signal
kimia. Feromon seks merupakan tanda kimia yang dikeluarkan oleh individu
yang mempunyai pengaruh meningkatkan tingkah laku seksual pada spesies
yang sama atau spesies yang berbeda namun masih memiliki hubungan erat
dari jenis seks. Individu-individu jantan hanya merespon terhadap zat kimia
yang cocok atau sesuai dengan isomer-isomer yang tepat dalam konsentrasi
relative yang dapat merangsang kelamin dari jenis mereka. Sehingga dengan
adanya perbedaan feromon pada suatu individu betina dengan betina dari
jenis lainnya menyebabkan pola perilaku jantan yang menunjukkan suatu
pristiwa Male Choice. Ketika suatu individu mampu menerima keberadaan
pasangannya, maka dia tidak akan melakukan isolasi reproduksi (Borror, dkk.
1992).

Faktor eksternal yang mempengaruhi peristiwa kecenderunga kawin


yaitu tingkat kekerabatan. Kondisi lingkungan tempat Drosophila sp.tersebut
berada mempengaruhi tingkat kekerabatannya dengan Drosophila sp.yang
lainnya. Semakin jauh jarak pengambilan Drosophila sp. sp, maka semakin
berbeda pula kondisi lingkungan tempat Drosophila sp.tersebut berada.
Perbedaan kondisi lingkungan menyebabkan fisiologi dari Drosophila
sp.tersebut juga berbeda. Perbedaan fisiologis tersebut akan mempengaruhi
terhadap feromon yang dihasilkan untuk melakukan perkawinan sehingga
akan terjadi pemilihan saat proses perkawinan (Servedio, 2015). Pemilihan
ini menunjukkan terjadinya peristiwa Male Choice.

Selain itu, kecenderungan kawin juga dipengaruhi oleh perilaku


kawin. Perilaku kawin ditunjukkan oleh adanya tahapan perkawinan yang
dikendalikan oleh gen. Pada Drosophila sp. sp. dikenal beberapa tahapan

36
perkawinan, yakni orientating (mengitari), tapping (menepuk), singing
(mengeluarkan suara dari kepakan sayap), licking (menjilat), attempted
copulation (percobaan kopulasi) dan copulation (kopulasi) (Yamamoto &
Koganezawa, 2013). Selama tidak terjadi mutasi di dalam populasi tersebut,
maka organ tubuh tetap normal sehingga tahapan perkawinan akan tetap
berjalan normal dan akan terus mempertahankan kecenderungan kawinnya.
Jika terjadi mutasi, maka akan mempengaruhi organ pada tubuhnya atau
dengan kata lain mengalami kecacatan pada organnya (misalnya sayap) dan
menyebabkannya tidak mampu melaksanakan perkawinan dengan normal.

BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan

Indeks isolasi merupakan salah satu cara untuk menentukan


kecenderungan kawin. Indeks isolasi digunakan untuk mengukur besar seleksi
seksual dan isolasi seksual yang didapat dari proporsi dari perkawinan
homogami dan heterogami. Berdasarkan perhitungan indeks isolasi yang telah
diperoleh diketahui bahwa:

a. Kecenderungan Kawin secara Homogami


1. Jantan dari Kota Blitar memiliki kecenderungan dengan betina dari
Kota Blitar.
2. Jantan dari Kota Tulungagung memiliki kecenderungan dengan
betina dari Kota Tulungagung.

37
3. Jantan dari Kota Batu memiliki kecenderungan dengan betina dari
Kota Batu.

b. Kecenderungan Kawin secara Heterogami


1. Jantan dari Kota Blitar memiliki kecenderungan kawin dengan
betina dari Kota Tulungagung dibandingkan dengan betina dari Kota
Batu.

6.2. Saran

1. Dalam proses penelitian, hendaknya melakukan peremajaan yang banyak


sebagai stok agar semua persilangan dapat dilakukan secara cepat
2. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam mengamati fenotip,
membedakan jantan dengan betina, dan memurnikan untuk mendapat
galur dengan tingkat kemurnian yang tinggi.
3. Dibutuhkan ketelitian yang cukup dalam perhitungan indeks isolasi agar
perhitungan dapat menjadi lebih akurat.
4. Diharapkan berhati-hati dalam penandaan Drosophila sp. betina untuk
menghindari bnayak resiko terutama kematian individu betina tersebut.
Sebaiknya menggunakan zat warna yang permanen ketika menandai
Drosophila sp.betina.

38