Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN KEGIATAN UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

KEGIATAN PENYULUHAN GIZI BAYI DAN BALITA


DI DESA MATTIROWALIE KECAMATAN MANIANGPAJO

I. LATAR BELAKANG

Gizi buruk pada anak sampai saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Diketahui
sampai tahun 2011 ini ada sekitar 1 juta anak dari 240 juta penduduk di Indonesia yang
mengalami gizi buruk, kebanyakan berada di daerah timur Indonesia seperti di daerah NTT
dan Maluku. Salah satu faktor penyebanya karena letak geografisnya seperti jarak yang jauh
dari fasilitas kesehatan. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan anak mengalami gizi
buruk yaitu: faktor kesediaan pangan atau faktor kemiskinan, dalam hal ini berhubungan
dengan jual beli seperti tidak tersedianya pangan yang cukup. Faktor perilaku, misalnya di
daerah tersebut pangannya tersedia tapi cara pemberian atau pengolahannya tidak benar
seperti anak baru 1 bulan sudah diberi pisang yang seharusnya mendapatkan ASI eksklusif.
Faktor ketidaktahuan orang tua mengenai pemberian gizi yang baik bagi anak, dan faktor
penyakit bawaan pada anak, seperti jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernafasan dan diare.
Faktor pendidikan, kurangnya edukasi dimasyarakat.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Laporan Survei Departemen Kesehatan-
Unicef tahun 2005, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia penderita gizi buruk sebanyak 169
kabupaten/kota tergolong prevalensi sangat tinggi dan 257 kabupaten/kota lainnya prevalensi
tinggi. Dari data Depkes juga terungkap masalah gizi di Indonesia ternyata lebih serius dari
yang kita bayangkan selama ini. Gizi buruk atau anemia gizi tidak hanya diderita anak balita,
tetapi semua kelompok umur. Perempuan adalah yang paling rentan, disamping anak-anak.
Sekitar 4 juta ibu hamil, setengahnya mengalami anemia gizi dan satu juta lainnya
kekurangan energi kronis (KEK). Dalam kondisi itu, rata-rata setiap tahun lahir 350.000 bayi
lahir dengan kekurangan berat badan (berat badan rendah).

Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya gizi buruk dan faktor tersebut saling
1
berkaitan. Secara langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu anak kurang mendapat
asupan gizi seimbang dalam waktu cukup lama dan anak menderita penyakit infeksi. Anak
yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya
gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi. Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi
buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai,
dan sanitasi / kesehatan lingkungan kurang baik, serta akses pelayanan kesehatan terbatas.
Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan dan kemiskinan keluarga. Salah satu solusi jangka panjang yang bisa diberikan
adalah masyarakat harus mendapat penyuluhan mengenai pentingnya gizi dan cara mengolah
makanan yang benar.

II. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT

Pada dasarnya, gizi buruk merupakan penyakit yang tidak terjadi secara akut atau dalam
waktu singkat, melainkan memerlukan waktu beberapa bulan. Sebagian besar kasus gizi
kurang dan gizi buruk dengan tatalaksana gizi buruk dapat dipulihkan di Puskesmas/RS. Hal
tersebut juga tergantung dari ada tidaknya penyakit penyerta misalnya penyakit bawaan
seperti jantung atau metabolisme lainnya.

Pada tingkat keluarga, keluarga yang tidak sadar gizi juga merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya kasus gizi buruk. Pengetahuan dan perilaku keluarga khususnya ibu
tentang makanan bergizi yang kurang akan memengaruhi perkembangan status gizi bayi.
Misalnya kebiasaan untuk tidak memakan makanan tertentu padahal memiliki nilai gizi yang
tinggi akan berakibat pada anak/bayi. Sanitasi serta lingkungan yang kurang baik dan tidak
bersih akan membuat bayi sakit-sakitan sehingga memengaruhi proses pertumbuhan bayi.
Serta kondisi ekonomi keluarga yang lemah dapat memengaruhi daya beli keluarga untuk
mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

Pada tingkat masyarakat, kebiasaan tertentu di masyarakat dapat menjadi salah satu
faktor yang memengaruhi pertumbuhan bayi. Misalnya pada masyarakat tertentu, imunisasi
pada bayinya baru boleh dilakukan pada bulan ke-2 sehingga pada bulan pertama bayi tidak
dibawa ke posyandu untuk melakukan penimbangan. Sehingga proses terjadinya gizi buruk
dapat juga berlangsung pada masa ini.
2
Penyebab lain yang juga sering menjadi kendala adalah ketersediaan fasilitas kesehatan
yang tidak terjangkau oleh ibu dan bayinya. Hal tersebut membuat bayi menjadi tidak dapat
dikontrol berat badannya melalui KMS serta dapat diperburuk jika bayi sakit sementara
pengobatan tidak diberikan di fasilitas kesehatan, misalnya pustu.

III. PEMILIHAN INTERVENSI

Dalam mengatasi masalah gizi buruk dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan harus
dilakukan secara komprehensif serta menyeluruh. Cara dan strategi yang dapat dilakukan
berupa deteksi dini di posyandu dengan melakukan penimbangan balita serta melalui KMS
(Kartu Menuju Sehat) sehingga bisa diketahui grafik pertumbuhannya. Upaya pemulihan
gizi dengan mengadakan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) serta
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu terutama dalam memberi asupan gizi
kepada anak. Selain hal tersebut, pemberian edukasi atau penyuluhan gizi kepada ibu bayi
juga sangat penting untuk dilakukan.

IV. PELAKSANAAN

Penyuluhan Gizi dilaksanakan di Posyandu Salewangeng pada tanggal 23 Juli 2016


yang bertepatan dengan hari posyandu di Desa Mattirowalie Kecamatan Maniangpajo pada
pukul 10.00 WITA. Penyuluhan dilakukan setelah pemberian imunisasi dan vaksinasi.
Penyuluhan menggunakan Slide power point. Penyuluhan dirangkaikan dengan diskusi dan
tanya jawab antar pemateri dengan audience. Audience terdiri dari ibu-ibu peserta posyandu
yang membawa bayinya untuk pemeriksaan rutin dan imunisasi.

V. EVALUASI

1. Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan satu minggu sebelumnya dengan
mempersiapkan peralatan dan bahan penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 20 orang. Penyuluhan berjalan sebagaimana yang
diharapkan. Peserta penyuluhan antusias mengikuti kegiatan penyuluhan dan sebagian
besar peserta aktif dalam kegiatan ini dengan memberikan pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil
3
Lebih dari 75% peserta yang hadir mampu memberikan umpan balik kepada pemateri
mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada peserta. Hal ini membuktikan
bahwa peserta memperhatikan materi yang disampaikan oleh pemateri.

PESERTA PENDAMPING

dr. Ashari Mohpul dr. H. Gusaidi, M.Kes