Anda di halaman 1dari 25

1

SISTEM PERINGATAN DINI (EARLY WARNING SYSTEM) TSUNAMI DI


KOTA PADANG

LAPORAN MAGANG
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang

Peminatan Epidemiologi

Oleh :

Fadiah Dini Putri


NIM : 1311211061

Pembimbing:
Defriman Djafri, SKM, MKM, PhD
2

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2017
LEMBARAN PENGESAHAN PENGUJI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang tiada
hentinya melimpahkan rahmat dan karunia kepada semua makhluk-Nya. Atas
rahmat dan kesehatan yang diberikan kepada kami, sehingga kami dapat
menyusun dan menyelesaikan laporan pengalaman belajar lapangan ini tepat pada
waktunya. Penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas pengalaman
belajar lapangan yang diadakan di Puskesmas Sirukam Kecamatan Payung Sekaki
Kabupaten Solok.
Terimakasih kami ucapkan kepada Civitas Akademika Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Andalas yang telah memberikan kami kesempatan dan
semangat, baik moril maupun material serta doa tulus dan memberikan
pengarahan, masukan dan bimbingan sehingga kami dapat menyelesaikan
Laporan Pengalaman Belajar (PBL). Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Rektor Universitas Andalas Bapak Prof. Dr. Tafdil Husni SE, MBA.
2. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Ibu Prof. dr.
Nur Indrawati Lipoeto, M.Sc, Ph.D.
3. Koordinator kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Ibu Isniati,
SKM, M.PH.
4. Pembimbing Akademik Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan Ibu
Putri Nilam Sari, SKM, M.Kes.
5. Pembimbing Lapangan Kegiatan Pengalaman Belajar (PBL) Bapak
Winova, SKM.
6. Staf pegawai Puskesmas Sirukam yang telah banyak memberi ilmu yang
bermanfaat selama kami di lapangan.
7. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Laporan
Pengalaman Belajar (PBL).
3

Kami menyadari bahwa Laporan Pengalaman Belajar (PBL) ini masih


banyak terdapat kekurangan. Tak ada gading yang tak retak, dengan hati terbuka
kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan Laporan
Pengalaman Belajar (PBL) ini. Kami berharap semoga Laporan Pengalaman
Belajar (PBL) ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan penulis sendiri.

Padang, Februari 2016

Tim Penulis

.
4

DAFTAR ISI

PERNYATAAN PENGESAHAN PEMBIMBING ..................................i

PERNYATAAN PENGESAHAN PENGUJI..........................................ii

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................7

DAFTAR TABEL...................................................................................................7

DAFTAR GAMBAR..............................................................................................7

DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................7

BAB 1 : PENDAHULUAN....................................................................................8

1.1 Latar Belakang...............................................................................................8

1.2 Tujuan...........................................................................................................10

1.3 Ruang Lingkup.............................................................................................11

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................12

BAB 3 : HASIL KEGIATAN...............................................................................13

3.1 Gambaran Umum Intitusi Magang..............................................................13

3.2 Struktur organisasi Institusi.........................................................................13

3.3 Struktur Organisasi Bidang/Bagian/Unit Magang.......................................13

3.4 Kegiatan Magang.........................................................................................13

3.4.1 Perencanaan..........................................................................................13

3.4.2 Pengorganisasian...................................................................................13
5

3.4.3 Pelaksanaan...........................................................................................13

3.4.4 Monitoring dan Evaluasi.......................................................................13

BAB 4 : PEMBAHASAN.....................................................................................13

4.1 Perencanaan.................................................................................................14

4.2 Pengorganisasian..........................................................................................14

4.3 Pelaksanaan..................................................................................................14

4.4 Monitoring dan Evaluasi..............................................................................14

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................14

5.1 Kesimpulan..................................................................................................14

5.2 Saran.............................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................15

LAMPIRAN..........................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
6

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Wilayah Kerja Puskesmas Sirukam Tahun 2015......................................8


Tabel 2.2 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sirukam Tahun 2015....8
Tabel 2.3 Kepadatan dan Penyebaran Penduduk.....................................................9
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk...................................................................................10
Tabel 2.5 Prasarana Pendidikan.............................................................................13
Tabel 2.6 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Payung Sekaki Tahun 2014..........13
Tabel 2.7 Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sirukam Tahun 2014..........................13
Tabel 2.8 Laporan SPM Semester II......................................................................19
Tabel 3.1 Identifikasi Masalah Program di Puskesmas Sirukam tahun 2015........21
Tabel 3.2 Penetapan Prioritas Masalah..................................................................22
Tabel 3.3 Alternatif Pemecahan Masalah...............................................................25
Tabel 3.4 Alternatif Pemecahan Masalah...............................................................27
Tabel 3.5 Plan Of ActionUpaya Peningkatan Cakupan Pelayanan Balita.............29
Tabel 3.6 Rencana Anggaran Dana Kegiatan.........................................................31
Tabel 3.7 Monitoring dan Evaluasi........................................................................34
Tabel 4.1 Hasil Intervensi Kegiatan Pemecahan Masalah.....................................48
Tabel 4.2 Hasil Pre Test dan Post Test dari Kegiatan Penyuluhan.........................50
Tabel 4.3 Faktor Pendukung dan Penghambat Pemecahan Masalah.....................51
DAFTAR TABEL
7

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses Penyusunan Penanggulangan Bencana...................................19


8

DAFTAR LAMPIRAN
9

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis.(UU NO. 24 TAHUN 2007).

Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, baik terhadap


bencana alam, maupun bencana akibat ulah manusia. Rangkaian berbagai bencana
di Indonesia seperti bom Bali, Tsunami di Aceh dan Nias, kecelakaan pesawat di
Yogyakarta atau Medan, gempa bumi di Yogyakarta maupun di Padang serta
bencana lainnya, telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling rentan
mengalami bencana di dunia. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
bencana ini adalah kondisi geografis, iklim, geologis dan faktor-faktor lain seperti
keragaman sosial budaya dan politik. (PEDOMAN PERENCANAAN
PENYIAGAAN BENCANA BAGI RUMAH SAKIT, PEDOMAN TEKNIS
PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA).

Kejadian bencana selalu menimbulkan krisis kesehatan, maka dalam


penanganan nya perlu diatur dalam suatu kebijakan. Menurut Undang-undang
nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan bahwa
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan harus menyusun langkah-langkah penanggulangan
bencana. Upaya-upaya penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud dimulai
dari langkah-langkah penanggulangan sebelum bencana, saat bencana sampai
pasca bencana.(UU NO. 24 TAHUN 2007, PERWAKO PADANG NOMOR 25
TAHUN 2011).

Penanggulangan bencana dilakukan secara berjenjang di pusat dan daerah


10

dengan memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang


kesehatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah perangkat yang
dibentuk Perangkat Daerah yang dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan
fungsi untuk melaksanakan penanggulangan bencana di Kota Padang. Susunan
organisasi BPBD Kota Padang terdiri dari : Kepala Pelaksana Badan, Sekretariat
Unsur Pelaksana, Bidang Pencegahan dan Kesiasiagaan, Bidang Kedaruratan dan
Logistik, Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, serta Kelompok Jabatan
Fungsional. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan bertugas untuk melakukan
koordinasi dan melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan bencana pada
saat pra-bencana. Bidang Kedaruratan dan Logistik mempunyai tugas untuk
melakukan koordinasi dan melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan
bencana pada saat bencana serta pemberdayaan masyarakat. Sedangkan
merupakan bidang yang melakukan upaya pemulihan kembali keadaan pasca
bencana menjadi keadaan yang kondusif bagi masyarakat terkena dampak
bencana. (PERWAKO PADANG NO. 58 TAHUN 2008)

Dalam 10 tahun terakhir telah terjadi beberapa kejadian yang cukup


memberikan dampak di Kota Padang. Salah satunya bencana gempabumi yang
menyebabkan kerusakan fisik dan korban jiwa yang cukup besar terjadi pada
tangggal 30 September 2009. Selain itu hampir tiap tahun dibeberapa wilayah
Kota Padang terancam banjir dan tanah longsor. Potensi bencana lainnya seperti
cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan abrasi serta tsunami juga memiliki potensi
tinggi mengancam masyarakat yang sebagian besar bermukim di pesisir pantai
Kota Padang. (RPB PADANG TAHUN 2014 2019)

Wilayah Barat Indonesia secara tektonik merupakan wilayah yang sangat


dinamis. Hal ini disebabkan oleh proses subduksi/interaksi 2 lempeng, yaitu
Lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Dengan adanya proses tersebut, daerah
Padang menjadi rawan terhadap peristiwa gempa bumi. Potensi sumber gempa di
daerah Padang terdapat pada 3 zona, yaitu pada zona subduksi (baik inter dan
intraplate), pada Zona Sesar Mentawai dan pada Zona Sesar Sumatera.
(PROPOSAL PERMINTAAN SIRINE)
11

Akibat kejadian gempa tanggal 30 September 2009 penggunaan lahan di


Kota Padang terjadi pergeseran yakni dari lahan pertanian ke perkantoran dan
perumahan masyarakat. Perubahan terjadi karena perpindahan penduduk dari zona
merah (tepi pantai) ke zona hijau (daerah bypass). Masyarakat kota Padang mulai
memahami kerawanan untuk bermukim di pesisir pantai yang dikategorikan
pemerintah sebagai zona merah ancaman tsunami. Perpindahan yang dilakukan ini
secara tidak langsung telah meminimalisir dampak yang akan timbul dari bahaya
gempabumi dan tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (PROPOSAL
PERMINTAAN SIRINE).

Berdasarkan data Kota Padang Dalam Angka 2012, jumlah penduduk Kota
Padang sebanyak 854.336 jiwa yang tersebar di Kota Padang dengan luas daerah
694,96 km2. Seluruh penduduk ini tersebar di 11 kecamatan yang ada di kota
Padang. Dari 11 kecamatan ini, 10 kecamatan merupakan wilayah berpotensi
tsunami dengan total jumlah penduduk terpapar sebanyak 518.756 jiwa.
Berdasarkan data tersebut, dibutuhkan suatu sistem yang mampu meminimalisir
kontak risiko antara masyarakat kota Padang dengan risiko bencana berupa
tsunami. Sistem ini dinamakan Sistem Peringatan Dini Tsunami.(PERWAKO NO.
14 TAHUN 2010).

1.2 Tujuan
1. Mengetahui gambaran umum Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Kota Padang.
2. Mengetahui gambaran umum Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi di
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Kota
Padang.
3. Mengetahui perencanaan kegiatan Sistem Peringatan Dini di Kota Padang
tahun 2017.
4. Mengetahui pengorganisasian kegiatan Sistem Peringatan Dini di Kota
Padang tahun 2016.
5. Mengetahui pelaksanaan kegiatan Sistem Peringatan Dini Kota Padang
12

tahun 2016.
6. Mengetahui monitoring dan evaluasi kegiatan Sistem Peringatan Dini di
Kota Padang tahun 2016.

1.3 Ruang Lingkup


Selama kegitan magang penulis ditempatkan di bidang Pencegahan dan
Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Kedaruratan dan Logistik, serta
Pemadam Kebakaran. Berdasarkan hasil kegiatan magang, ruang lingkup
penulisan laporan magang ini meliputi manajemen secara umum di Badan
Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang dan kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi kegiatan Sistem
Peringatan Dini pada tahun 2016 yang diamati dan dipelajari pada tanggal 20
Februari 17 Maret 2017.
13

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.2 Bencana
2.2.1 Konsep Bencana
Menurut Undang-Undang No. 24 tahun 2007, bencana merupakan suatu
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis. (UU NO. 24 TAHUN 2007).

Bencana dibagi menjadi 3 jenis : (UU NO. 24 TAHUN 2007)

1. Bencana Alam.

Bencana alam antara lain berupa gempa bumi karena alam, letusan
gunung berapi, angin topan, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan/
lahan karena faktor alam, hama penyakit tanaman, epidemi, wabah,
kejadian luar biasa, dan kejadian antariksa/benda-benda angkasa.

2. Bencana Non-Alam.

Bencana non-alam antara lain kebakaran hutan/lahan yang disebabkan


oleh manusia, kecelakan transportasi, kegagalan konstruksi/teknologi,
dampak industri, ledakan nuklir, pencemaran lingkungan dan kegiatan
keantariksaan.

3. Bencana Sosial

Bencana sosial antara lain berupa kerusuhan sosial dan konflik sosial
dalam masyarakat yang sering terjadi.
14

Dalam menghadapi bencana, dibutuhkan suatu upaya penyelenggaraan


penanggulangan bencana. Kegiatan ini dilakukan pada fase :

1. Prabencana

Penanggulangan bencana pada tahap ini dilakukan dalam situasi tidak


terjadi bencana dan pada saat terdapatnya potensi terjadi bencana.
Penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana tahap
meliputi:

a) Perencanaan penanggulangan bencana. Dilakukan melalui


penyusunan data tentang risiko bencana pada suatu wilayah dalam
waktu tertentu berdasarkan dokumen resmi yang berisi program
kegiatan penanggulangan bencana.

b) Pengurangan risiko bencana. dilakukan untuk mengurangi dampak


buruk yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi
sedang tidak terjadi bencana.

c) Pencegahan. Kegiatannya meliputi : identifikasi bahaya (sumber)


ancaman bencana, kontrol terhadap SDA yang berpotensi
menimbulkan bencana, pemantauan penggunaan teknologi yang
berpotensi sebagai sumber ancaman bencana, penataan ruang dan
pengelolaan lingkungan hidup, penguatan ketahanan sosial
masyarakat.

d) Pemaduan dalam perencanaan pembangunan. Dilakukan dengan cara


mencantumkan unsur-unsur rencana penanggulangan bencana ke
dalam rencana pembangunan pusat dan daerah.

e) Persyaratan analisis risiko bencana. Ditunjukkan dalam dokumen


yang disahkan oleh pejabat pemerintah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

f) Pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang. Dilakukan untuk


15

mengurangi risiko bencana yang mencakup pemberlakuan peraturan


tentang penataan ruang, standar keselamatan, dan penerapan sanksi
terhadap pelanggar.

g) Pendidikan pelatihan, dan persyaratan standar teknis


penanggulangan bencana.

Sedangkan pada situasi terdapat potensi terjadi bencana meliputi :

a) Kesiapsiagaan. dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan


tepat dalam menghadapi kejadian bencana. Bentuk dari upaya
kesiapsiagaan dilakukan melalui : penyusunan dan uji coba rencana
penanggulangan, kedaruratan bencana, pengorganisasian,
pemasangan, dan pengujian sistem, peringatan dini, penyediaan dan
penyiapan barang pasokan pemenuhan, kebutuhan dasar,
pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang
mekanisme tanggap darurat, penyiapan lokasi evakuasi, penyusunan
data akurat, informasi, dan pemutakhiran, prosedur tetap tanggap
darurat bencana dan penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan
peralatan untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana.

b) Peringatan dini. dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan


tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta
mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Upaya ini diwujudkan
dalam bentuk kegiatan : pengamatan gejala bencana, analisis hasil
pengamatan gejala bencana, pengambilan keputusan oleh pihak yang
berwenang, penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana
dan pengambilan tindakan oleh masyarakat.

c) Mitigasi bencana. dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi


masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana.

2. Tanggap Darurat

Pada fase ini, dilakukan berbagai upaya penanggulangan bencana yang


meliputi :
16

a) Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan dan


sumber daya.

b) Penentuan status keadaan darurat bencana.

c) Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana

d) Pemenuhan kebutuhan dasar

e) Perlindungan terhadap kelompok rentan

f) Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital

3. Pasca Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada fase pasca bencana


meliputi :

a) Rehabilitasi

b) Rekonstruksi

2.2.2 Dampak Bencana

2.2.3 Pedoman Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana


Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaan
penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan
menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari
ancaman, risiko, dan dampak bencana. (PP 21 TAHUN 2008).

Secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana dilakukan pada


setiap tahapan dalam penyelenggaran penanggulangan bencana. Dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar setiap kegiatan dalam setiap
tahapan dapat berjalan dengan terarah, maka disusun suatu rencana yang spesifik
pada setiap tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana. (PERKA BNPB
17

NO. 4 TAHUN 2008)

1. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana, dilakukan


penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management
Plan), yang merupakan rencana umum dan menyeluruh yang meliputi
seluruh tahapan / bidang kerja kebencanaan. Secara khusus untuk upaya
pencegahan dan mitigasi bencana tertentu terdapat rencana yang disebut
rencana mitigasi misalnya Rencana Mitigasi Bencana Banjir DKI
Jakarta.

2. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana


dilakukan penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi
keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi bencana
tertentu (single hazard) maka disusun satu rencana yang disebut
Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).

3. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational


Plan) yang merupakan operasionalisasi/aktivasi dari Rencana
Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang telah disusun sebelumnya.

4. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan


(Recovery Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi
yang dilakukan pada pasca bencana. Sedangkan jika bencana belum
terjadi, maka untuk mengantisipasi kejadian bencana dimasa mendatang
dilakukan penyusunan petunjuk /pedoman mekanisme penanggulangan
pasca bencana.

Perencanaan penanggulangan bencana disusun berdasarkan hasil analisis


risiko bencana dan upaya penanggulangannya yang dijabarkan dalam program
kegiatan penanggulangan bencana dan rincian anggarannya.

Perencanaan penanggulangan bencana merupakan bagian dari perencanaan


pembangunan. Setiap rencana yang dihasilkan dalam perencanaan ini merupakan
program/kegiatan yang terkait dengan pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan
yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Jangka
18

Menengah (RPJM) maupun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Rencana


penanggulangan bencanaditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

Penyusunan rencana penanggulangan bencana dikoordinasikan oleh:

1. BNPB untuk tingkat nasional

2. BPBD provinsi untuk tingkat provinsi

3. BPBD kabupaten/kota untuk tingkat kabupaten/kota.

Rencana penanggulangan bencana ditinjau secara berkala setiap 2 (dua)


tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.

Secara garis besar proses penyusunan/penulisan rencana penanggulangan


bencana adalah sebagai berikut :

Pengenalan dan pengkajian bahaya

Pengenalan kerentanan

Analisis Kemungkinan Dampak Bencana

Pilihan Tindakan Penanggulangan Bencana

Mekanisme Penanggulangan Dampak Bencana

Alokasi Tugas dan Peran Instansi

Gambar 2.1 Proses Penyusunan Penanggulangan Bencana

2.2.4 Gempa Bumi dan Tsunami


Gempabumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan
19

antar lempeng bumi , patahan aktif aktivitas gunungapi atau runtuhan batuan.
Kekuatan gempabumi akibat aktivitas gunungapi dan runtuhan batuan relatif kecil
sehingga kita akan memusatkan pembahasan pada gempabumi akibat tumbukan
antar lempeng bumi dan patahan aktif. (DEPARTEMEN ENERGI DAN
SUMBERDAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL GEOLOGI DAN
SUMBERDAYA MINERAL GEMPA BUMI DAN TSUNAMI)

Lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar ketika bertumbukkan


dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) akan menyusup ke bawah.
Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung
bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi
dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, dan
geseran.

Gambar 2.2 Proses Terjadinya Gempa Bumi

Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan


batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbukan
getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi.

Akibat utama gempabumi adalah hancurnya bangunan-bangunan karena


goncangan tanah. Jatuhnya korban jiwa biasanya terjadi karena tertimpa
reruntuhan bangunan, terkena longsor, dan kebakaran. Jika sumber gempabumi
berada di dasar lautan maka bisa membangkitkan gelombang tsunami yang tidak
saja menghantam pesisir pantai di sekitar sumber gempa tetapi juga mencapai
20

beberapa km ke daratan.

Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan


kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi
yang terjadi di dasar laut.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut


dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam.
Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi
gelombangnya di tengah laut tidak lebih dari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang
sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami.

Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang


gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu
antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat
mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai gelombang ini menurun
kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat
merusak.

Tsunami terutama disebabkan oleh gempabumi di dasar laut. Tsunami yang


dipicu akibat tanah longsor di dasar laut, letusan gunungapi dasar laut, atau akibat
jatuhnya meteor jarang terjadi.

Tidak semua gempabumi mengakibatkan terbentuknya tsunami. Syarat


terjadinya tsunami akibat gempabumi adalah:

1. Pusat gempa terjadi di dasar laut.


2. Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 KM.
21

Gambar 2.3 Proses Terjadinya Tsunami Akibat Gempa Bumi

2.3 Manajemen
2.3.1 Perencanaan
2.3.2 Pengorganisasian
2.3.3 Pelaksanaan
2.3.4 Monitoring dan Evaluasi
22

BAB 3 : HASIL KEGIATAN


1 Gambaran Umum Intitusi Magang

3.1 Struktur organisasi Institusi

3.2 Struktur Organisasi Bidang/Bagian/Unit Magang


23

3.3 Kegiatan Magang


3.3.1 Perencanaan
3.3.2 Pengorganisasian
3.3.3 Pelaksanaan
3.3.4 Monitoring dan Evaluasi

BAB 4 : PEMBAHASAN

4.1 Perencanaan
4.2 Pengorganisasian
4.3 Pelaksanaan
4.4 Monitoring dan Evaluasi
24

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
25

LAMPIRAN