Anda di halaman 1dari 2

Legenda Mahapaus

Alkisah, dahulu kala sebelum zaman Nabi Nuh, paus tidak berenang di laut dalam. Paus
terbang mengangkasa di langit dunia melewati gumpalan-gumpalan awan putih di langit.

Di zaman itu, dengan segenap keanggunannya kala mengangkasa di penjuru langit, paus
merupakan perlambang keagungan, kesucian, keajaiban, ketulusan, dan kekuatan impian
yang senantiasa menginspirasi setiap insan yang memandangnya.

Di antara semua paus di langit, terdapat seekor paus yang sangat tua dan sudah
berumur ribuan tahun. Paus itu dikenal sebagai Mahapaus. Mahapaus, karena usianya
yang sudah sedemikian tua, merupakan jelmaan hidup dari apa yang kita kenal sebagai
ilmu dan kebijaksanaan.

Banyak manusia mendaki gunung-gunung tinggi hanya untuk mendekat kepada


Mahapaus demi menggali ilmu dan kebijaksanaannya yang begitu tinggi namun juga
begitu dalam. Mahapaus adalah satu-satunya paus yang tidak hanya mengerti bahasa
manusia namun juga mampu berbicara dalam bahasa manusia. Adapun paus-paus yang
lain, mereka hanya mampu memahami dan bertelepati namun tidak mampu berbicara
secara lisan dalam bahasa manusia.

Awalnya Mahapaus tak berkeberatan meladeni manusia-manusia yang mendatanginya,


mengingat betapa berat perjuangan mereka yang berhasil mencapai puncak gunung
untuk sekedar menemuinya.

Akan tetapi, lama-kelamaan Mahapaus mulai khawatir. Dari tepi langit, ia melihat ilmu
dan kebijaksanaan yang ia ajarkan kepada manusia ternyata telah disalahgunakan. Para
manusia yang tadinya menghiba kebijaksanaan untuk sekedar menjadi lebih sejahtera
mulai bertindak sewenang-wenang terhadap manusia lain yang bekerja pada mereka.

Para manusia sejahtera ini tidak berhenti di situ. Mereka juga mulai memerangi satu
sama lain. Mungkin Mahapaus tidak akan terlalu khawatir jika peperangan tersebut
hanya melibatkan para manusia sejahtera. Sayangnya, dengan kekayaan dan kekuasaan
yang mereka miliki, para manusia sejahtera juga memaksa manusia-manusia pekerja
untuk berperang demi kepentingan pribadi mereka.

Mahapaus sangat ingin turun ke muka bumi dan menolong para korban perang yang
tertindas. Namun, apalah daya, Mahapaus bukanlah tuhan. Nabi pun bukan. Mahapaus
hanya mampu memendam rasa sakit dalam hatinya akibat penyalahgunaan ilmu dan
kebijaksaan yang ditampilkan manusia.

Hingga akhirnya, karena sudah tidak tahan dengan kerusakan yang diperbuat oleh
manusia, Mahapaus berdoa kepada Allah.

Duhai Allah yang Mahakuasa, lihatlah apa yang diperbuat anak-cucu Adam ini. Mereka
berbuat kerusakan di muka bumiMu yang suci. Mereka saling menumpahkan darah dan
mencabut ruh yang Engkau tiupkan dari sesama mereka.

Dan yang paling membuatku sedih, wahai Allah, mereka berbuat demikian dengan bekal
harta dan kuasa yang mereka dapatkan dari ilmu dan kebijaksanaan yang kuajarkan pada
mereka.
Jika Engkau berkenan, duhai Allah, binasakanlah aku bersama mereka dan gantilah
mereka dengan generasi lain yang jauh lebih takut kepadaMu dan lebih mengasihi
antarsesama mereka.

Melihat ketulusan niat Mahapaus, Allah pun menjawab doanya. Allah berfirman kepada
Mahapaus bahwa kelak Dia akan membinasakan umat manusia apabila setelah
diutusnya seorang nabi dan rasul bernama Nuh, mereka masih juga membangkang.

Adapun untuk doa Mahapaus agar dirinya dibinasakan bersama umat manusia, ternyata
Allah punya keputusan yang lebih bijaksana. Untuk mencegah terulangnya kembali
penyalahgunaan ilmu dan kebijaksanaan Mahapaus, Allah pun memerintahkan
Mahapaus bersama para paus lainnya untuk turun dan menghuni laut dalam selamanya.
Kemampuan para paus untuk bertelepati dengan manusia pun dilenyapkan saat itu juga.
Mahapaus pun tak lagi mampu berbicara dengan manusia meskipun kemampuan
telepatinya tetap ada.

Sebagai hadiah dari Allah kepada Mahapaus atas kelembutan hati dan ketulusan doanya
serta ilmu dan kebijaksanaan yang telah ia ajarkan kepada umat manusia, terlepas dari
apa yang dilakukan kebanyakan manusia dengan dua hal itu, Allah menganugerahkan
dua keberkatan bagi Mahapaus.

Pertama, Mahapaus diberkati dengan satu tugas terakhir yang harus ia tunaikan sebelum
malaikat maut mencabut nyawanya, yaitu menyelamatkan dan menyadarkan seorang
nabi yang suatu hari nanti akan tenggelam di laut setelah meninggalkan kaumnya.

Kedua, Allah menjadikan tempat Mahapaus tinggal, yaitu lautan, sebagai sumber
makanan yang paling halal dan amat banyak manfaatnya bagi manusia serta sebagai
penunjang kelangsungan segala bentuk kehidupan di muka bumi hingga hari kiamat.