Anda di halaman 1dari 15

Refrat

Bells Palsy

Dokter Pembimbing:

Dr. Mukhdiar Kasim, Sp.S

Penyusun :

Mirad Aditya

03010179

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN NEUROLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

RSUD CILEGON

2016

DAFTAR ISI
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
BAB I TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................1
1.1 Anatomi N VII.......................................................................................................2
1.2 Bells Palsy.............................................................................................................4
1.2.1 Definisi..........................................................................................................4
1.2.2 Epidemiologi.................................................................................................4
1.2.3 Etiologi..........................................................................................................4
1.2.4 Patofisiologi..................................................................................................5
1.2.5 Gejala klinis..................................................................................................6
1.2.6 Pemeriksaan Fisik.........................................................................................7
1.2.7 Diagnosis.......................................................................................................8
1.2.8 Pengobatan....................................................................................................8
1.2.9 Pembedahan..................................................................................................9
1.2.10 Diagnosis banding.......................................................................................9
1.2.11 Prognosis...................................................................................................10
1.2.12 Komplikasi................................................................................................11
1.2.13 Fisioterapi..................................................................................................11
BAB III KESIMPULAN...........................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................14

ii
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Nervus VII terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot mimik
wajah. Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang
mengantarkan rasa kecap dari dua pertiga bagian lidah dan sensasi kulit dari dinding
anterior kanalis auditorius eksterna. Serabut-serabut kecap pertama-tama melintasi nervus
lingual, yaitu cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke korda timpani dimana ia
membawa sensasi kecap melalui nervus fasialis ke nukleus traktus solitarius. Serabut-
serabut sekretomotor menginnervasi kelenjar lakrimal melalui nervus petrosus superfisial
major dan kelenjar sublingual serta kelenjar submaksilar melalui korda tympani.

Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :


1. Serabut somato motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae
(n.II), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
tengah.
2. Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung,
sinus paranasal, dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
3. Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga
bagian depan lidah.
4. Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.1

Nukleus komponen motorik nervus fasialis terletak di bagian ventrolateral


tegmentum pontis, neuron nucleus motorik ini analog dengan sel-sel kornu anterior
medulla spinalis, tetapi secara embriologi berasal dari lengkung brankhialis kedua.
Serabut radiks nucleus ini memiliki perjalanan yang rumit. di dalam batang otak, serabut
ini berjalan memutari nucleus abdusens (membentuk yang disebut genu internum nervus
fasialis sehingga membentuk penonjolan kecil di dasar ventrikel ke empat. Kemudian
serabut ini membentuk berkas yang padat, yang berjalan di ventrolateral menuju ujung

3
kaudal pons dan kemudian keluar dari batang otak, menembus ruang di subarachnoid di
cerebropontin angel dan kemudian keluar dari meatus akustikus internus bersama dengan
nervus intermedius dan nervus cranial VIII. Nervus fasialis terus berjalan melalui kanalis
fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum untuk memberikan percabangan ke ganglion
pterygopalatina, yaitu nervus petrosus superfisial major, dan di sebelah yang lebih distal
memberi persarafan ke m. stapedius yang dihubungkan oleh korda timpani. Lalu n.
fasialis keluar dari kranium melalui foramen stylomastoideus kemudian melintasi kelenjar
parotis dan terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah, m.
stilomastoideus, platisma dan m. digastrikus venter posterior.
Pada Bells palsy lokasi cedera di bagian perifer nukleus nervus VII. Cedera
tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Jika lesinya berlokasi di bagian proksimal
ganglion genikulatum, maka paralisis motorik akan disertai gangguan fungsi pengecapan
dan gangguan fungsi otonom. Lesi yang terletak antara ganglion genikulatum dan pangkal
korda timpani akan mengakibatkan hal serupa tetapi tidak mengakibatkan gangguan
lakrimasi. Jika lesinya berlokasi di foramen stilomastoideus maka yang terjadi hanya
paralisis fasial (wajah).

Gambar 2.1 Nervus Facialis

2.2 Bells Palsy

2.2.1 Definisi
4
Bells palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor
neuron akibat paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya
tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit
neurologis lainnya. Bells palsy sering terjadi setelah infeksi virus atau setelah
imunisasi, lebih sering terjadi pada wanita hamil dan penderita diabetes serta penderita
hipertensi.

2.2.2 Epidemiologi
Bells palsy adalah penyebab umum dari kelainan facial unilateral. Kejadian
rata-rata adalah 10 sampai dengan 30 kasus untuk setiap 100.000 orang dalam satu
populasi. Tak ada batasan umur bagi seseorang untuk beresiko terkena penyakit ini,
namun penyakit ini umumnya menyerang antara usia 15-45, baik pria maupun wanita
memiliki peluang yang sama, begitu juga sisi wajah kiri maupun kanan berpeluang
sama untuk terkena bells palsy. Sekitar 7-10% kasus menyerang bagian wajah secara
ipsilateral maupun kontralateral. Ada 8- 10% pasien yang positif menderita bells palsy
karena keturunan.6

2.2.3 Etiologi
Menurut perkiraan para ahli penyebab bells palsy adalah virus. Akan tetapi,
baru beberapa tahun terakhir ini dapat dibuktikan etiologi ini secara logis karena pada
umumnya kasus bells palsy sekian lama dianggap idiopatik. Telah diidentifikasi gen
Herpes Simplex Virus (HSV) dalam geniculate ganglion penderita bells palsy. Dahulu
yang kita ketahui sebagai pemicu bells palsy adalah terpapar angin atau suhu yang
ekstrem misalnya hawa dingin, AC, atau menyetir mobil dengan jendela terbuka
dianggap sebagai pemicu bells palsy. Selain itu penyebab yang lain adalah perubahan
tekanan atmosfir yang tiba-tiba seperti menyelam dan terbang, serta otitis media akut
atau inflamasi di telinga tengah. Akan tetapi, sekarang banyak yang meyakini Herpes
Simplex Virus (HSV) sebagai penyebab bells palsy.7
Tahun 1972, McCormick pertama kali mengusulkan Herpes Simplex Virus
(HSV) sebagai penyebab paralisis fasial idiopatik. Dengan analaogi bahwa Herpes
Simplex Virus (HSV) ditemukan pada keadaan masuk angin (panas dalam/cold sore),
dan beliau memberikan hipotesis bahwa Herpes Simplex Virus (HSV) bisa tetap
dorman dalam geniculate ganglion. Sejak saat itu, penelitian memperlihatkan adanya

5
Herpes Simplex Virus (HSV) dalam geniculate ganglion pasien bells palsy. Dengan
melakukan tes PCR (Polymerase-Chain Reaction) pada cairan endoneural facial nerve
(N.VII), penderita bells palsy berat yang menjalani pembedahan dan menemukan
Herpes Simplex Virus (HSV) dalam cairan endoneural. Apabila Herpes Simplex Virus
(HSV) diinokulasi pada telinga dan lidah tikus, maka akan ditemukan antigen virus
dalam facial nerve (N.VII) dan geniculate ganglion.8
Herpes Simplex Virus (HVS), Cytomegalo yang banyak ditularkan lewat
ciuman. Virus Herpes Simplex (HVS) ditularkan antara lain lewat berciuman (juga pada
anak-anak oleh orang tua), handuk, saputangan, dan sariawan, lalu membawanya
sebagai pembawa (carrier). Dalam tubuh pembawa, virus dalam keadaan tenang tanpa
mengganggu. Baru jika tubuh yang ditumpangi sedang menurun kondisinya, virus
berubah jadi ganas, dan menyerang tubuh yang ditumpanginya. Selain virus dan bakteri,
infeksi telinga tengah bisa juga menjadi penyebab penyakit bells palsy, termasuk
kondisi autoimun. Kemunculan faktor penentu virus ini menyerang adalah seperti
sedang sakit menahun dan ada trauma fisik maupun mental. Facial nerve (N.VII)
mengalami peradangan, lalu membengkak, dan terjepit di liang tulang bawah telinga
yang dilaluinya. Jepitan pada saraf yang sedang membengkak ini yang menimbulkan
gejala bells palsy yang khas itu.9

2.2.4 Patofisiologi
Salah satu teori menyebutkan terjadinya Bells palsy karena adanya proses
inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis
sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal.
Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang
mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen
mental. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi
atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. Impuls motorik yang
dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear,
nuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks
motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang
berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer.
Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bells palsy adalah
reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf

6
kranialis. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel
satelit. Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut
terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Labyrinthine segment,
merupakan bagian pertama dari kanalis fasialis merupakan bagian tersempit. Lokasi ini
adalah lokasi tersering kompresi nervus fasialis. Pada Bells palsy, jejas pada nervus
fasialis terletark perifer dari nucleus tersebut.
Adanya paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi
dengan kaca jendela yang terbuka juga diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya
Bells palsy. Karena itu nervus fasialis bisa sembab, ia terjepit di dalam foramen
stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Pada lesi LMN bisa
terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os petrosum atau kavum timpani, di
foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons yang
terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis.
Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus
lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN akan
timbul bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap
dengan 2/3 bagian depan lidah).

2.2.5 Gejala Klinik


Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun
tidur, menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Setelah merasakan adanya
kelainan di daerah mulut maka penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat
dengan menggunakan cermin. Mulut tampak moncong terlebih pada saat meringis,
kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos), waktu penderita disuruh menutup
kelopak matanya maka bola mata tampak berputar ke atas.(tanda Bell). Penderita tidak
dapat bersiul atau meniup, apabila berkumur atau minum maka air keluar melalui sisi
mulut yang lumpuh. Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan
tempat/lokasi lesi:

a. Lesi di luar foramen stilomastoideus


Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat, makanan berkumpul di antar pipi
dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang. Lipatan kulit dahi

7
menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air
mata akan keluar terus menerus.

b. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani)


Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), ditambah dengan hilangnya
ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena
berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus
intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda
timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis.

c. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius)


Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), (b), ditambah dengan adanya
hiperakusis.

d. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum)


Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c) disertai dengan nyeri di belakang
dan di dalam liang telinga. Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di membran
timpani dan konka. Ramsay Hunt adalah paralisis fasialis perifer yang berhubungan
dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. Lesi herpetik terlibat di membran
timpani, kanalis auditorius eksterna dan pina.

e. Lesi di daerah meatus akustikus interna


Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c), (d), ditambah dengan tuli sebagi
akibat dari terlibatnya nervus akustikus.

f. Lesi di tempat keluarnya nervus fasialis dari pons.


Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas, disertai gejala dan tanda
terlibatnya nervus trigeminus, nervus akustikus, dan kadang-kadang juga nervus
abdusens, nervus aksesorius, dan nervus hipoglosus. Sindrom air mata buaya
(crocodile tears syndrome) merupakan gejala sisa Bells palsy, beberapa bulan pasca
awitan, dengan manifestasi klinik: air mata bercucuran dari mata yang terkena pada
saat penderita makan. Nervus fasilais menginervasi glandula lakrimalis dan glandula

8
salivatorius submandibularis. Diperkirakan terjadi regenerasi saraf salivatorius tetapi
dalam perkembangannya terjadi salah jurusan menuju ke glandula lakrimalis.

2.2.6 Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Fisis
Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik
Gambar 2.2 : wajah penderita sindrom bells palsy
tetapi yang harus diteliti lebih lanjut adalah apakah ada penyebab lain yang
menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. Pada lesi supranuklear, dimana lokasi lesi
di atas nukleus fasialis di pons, maka lesinya bersifat UMN. Pada kelainan tersebut,
sepertiga atas nervus fasialis normal, sedangkan dua pertiga di bawahnya mengalami
paralisis. Pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal.

2. Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan
diagnosis Bells palsy.

3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bells palsy. Pemeriksaan CT-Scan
dilakukan jika dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke,
sklerosis multipel dan AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bells palsy
akan menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis, atau
pada telinga, ganglion genikulatum.

2.2.7 Diagnosis
Diagnosis Bells palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis. Pada pemeriksaan nervus kranialis akan didapatkan adanya parese
dari nervus fasialis yang menyebabkan bibir mencong, tidak dapat memejamkan mata

9
dan rasa nyeri pada telinga. Hiperakusis dan augesia juga dapat ditemukan. Harus
dibedakan antara lesi UMN dan LMN. Pada Bells palsy lesinya bersifat LMN.

2.2.8 Pengobatan
Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari per oral atau
1 mg/kgBB/hari selama 3 hari, diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian),
pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit, gunanya untuk
meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Dasar dari pengobatan ini adalah untuk
menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen yang
disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis di dalam kanal fasialis yang sempit.

2.2.9 Pembedahan
Tindakan pembedahan dekompresi saraf fasialis dapat menjadi salah satu
pilihan dalam penatalaksanaan, terutama sebagai intervensi yang lebih awal, yaitu
dalam 14 hari setelah onset paralisis total. Tidak disarankan dilakukan tindakan bedah
yang agresif pada pasien dengan paralisis inkomplit karena pasien dengan paralisis
inkomplit dapat pulih sempurna. Daerah patologik primer dari saraf fasialis adalah
segmen labirin, dengan demikian dekompresi pada paralisis total dengan kraniotomi
subtemporal pada fosa media adalah paling aman dan efektif.

2.2.10 Diagnosis Banding


Kondisi lain yang dapat menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis diantaranya
tumor, infeksi herpes zoster pada ganglion genikulatum (Ramsay Hunt syndrom),
penyakit Lyme, AIDS dan sarkoidosis, Guillain Barre syndrom, Diabetes Mellitus.

2.2.11 Komplikasi
Kira-kira 30% pasien Bells palsy yang sembuh dengan gejala sisa seperti fungsi
motorik dan sensorik yang tidak sempurna, serta kelemahan saraf parasimpatik.
Komplikasi yang paling banyak terjadi yaitu disgeusia atau ageusia, spasme nervus
fasialis yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik yang menyebabkan kelenjar
lakrimalis tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi infeksi pada kornea.
a. Crocodile tears phenomenon
Yaitu keluarnya air mata saat penderita makan makanan, dapat timbul
beberapa bulan setelah terjadi parese dan terjadinya akibat terjadi regenerasi yang

10
salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke
kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.
b. Synkinesis
Yaitu keadaan dimana otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu, selalu
timbul gerakan bersama. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata maka akan
timbul gerakan involunter elevasi sudut mulut, kontraksi platisma atau berkerutnya
dahi. Penyebabnya adalah inervasi yang salah,serabut saraf yang mengalami
regenerasi bersambung dengan serabut otot yang salah.
c. Hemifacial spasm
Timbul kedutan pada wajah dan juga spasme otot wajah, biasanya ringan.
Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah, tapi kemudian akan mnegenai sisi
yang lainnya
d. Kontraktur
Dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga lipatan nasolabialis lebih terlihat
pada sisi yang lumpuh. Kontraktur tidak tampak pada waktu otot wajah istirahat,
tetapi menjadi jelas saat otot wajah bergerak.

2.2.12 Prognosis
Pada umumnya prognosis Bells palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh
dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur
60 tahun atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi
meninggalkan gejala sisa. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang, hanya punya
perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa.
Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan
gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears dan kadang spasme hemifasial.
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita
nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23
% kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bells palsy kambuh pada 10-15
% penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII
atau tumor kelenjar parotis.
Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk
mengadakan pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain.
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa. Faktor resiko
yang memperburuk prognosis Bells palsy adalah:
Usia di atas 60 tahun
Paralisis komplit

11
Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh
Nyeri pada bagian belakang telinga
Berkurangnya air mata.

2.2.13 Fisioterapi
Fisioterapi yang sering digunakan yaitu : Infra merah, terapi Ultrasound,
Electrical Simulation, Short wave diathermy (SWD), Micro wave diathermy (MWD), massage
dan excerise.
1. Infra Merah
Infra merah dapat diterapkan untuk menghangatkan otot dan meningkatkan
fungsi, tetapi harus dipastikan bahwa mata dilindungi dengan penutup mata. Waktu
penerapan selama 10 sampai 20 menit pada jarak biasanya antara 50 dan 75 cm.
2. Terapi Ultrasound
Terapi ultrasound diterapkan pada batang saraf di depan tragus telinga dan di
daerah antara prosesus mastoideus dan mandibula. Terapi ultrasound selalu
diterapkan pada sisi lesi di depan tragus telinga & di daerah antara prosesus
mastoideus dan mandibula. Hal ini diterapkan dengan gerakan melingkar yang
lambat dengan dosis awal 1 watt per sentimeter persegi untuk 10 menit. Dosis dapat
ditingkatkan pada sesi berikutnya. Gelombang ultrasound tidak dapat melintasi atau
menembus tulang yang berarti bahwa ultrasound memiliki penetrasi nol pada
tulang. Penerapan terapi ultrasound pada bell palsy Ini hanya untuk jenis lesi saraf
tepi (Lower Motor Neuron).
3. Stimulasi Elektrik (Electrical Stimulation)
Stimulasi listrik yaitu teknik yang menggunakan arus listrik untuk
mengaktifkan saraf penggerak otot dan ekstremitas. Bentuk arus listrik yang
digunakan pada wajah adalah arus searah yang diputus-putus (Interrupted Direct
Current) atau disebut juga Arus Galvanic. Stimulasi listrik untuk menjaga sebagian
besar otot-otot wajah dan mencegah atrofi sambil menunggu untuk reinnervasi
dalam kasus axotomesis atau reconduction setelah neurapraxia jika saraf tidak rusak
sepenuhnya. Jika kontraktur sekunder terjadi, semua bentuk stimulasi listrik harus
ditinggalkan sementara untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada otot. Wajah
harus segera direnggangkan dan dipijat lembut.
4. Microwave Diathermy

12
Micro Wave Diathermy (MWD) adalah suatu jenis terapi dengan
menggunakan stressor fisik berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus
listrik bolak balik dengan frekuensi 2450 MHz dan panjang gelombang 12,25
cm. Tujuan terapi ini untuk melancarkan sirkulasi darah, relaksasi otot-otot wajah
dan mengurangi spasme otot stilomastoideus.
5. Massage
Massage yaitu manipulasi lapisan superficial otot dan jaringan ikat untuk
meningkatkan fungsi dan relaksasi otot dan kebugaran. Pada kondisi Bells palsy
massage diberikan dengan tujuan memobilisasi serabut-serabut otot di area yang
mengalami paralysis sehingga terjadi pergerakan pasif dari otot wajah dan
memberikan stimulasi gerak. selain itu juga berguna untuk mencegah terjadinya
kontraktur otot.
6. Exercise
Latihan yang diberikan umumnya merupakan latihan aktif berupa Mirror
Exercise. Pasien diminta untuk berdiri di depan cermin sambil berusaha untuk
menggerakkan otot wajah yang mengalami kelumpuhan. Gerakan yang dapat
dilakukan berupa : Tersenyum, Tertawa, Mencucukan mulut, bersiul, Mengatupkan
bibir, Menutup dan membuka mulut, Mengerutkan hidung, Mengerutkan dahi,
Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual,
Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari

BAB III
KESIMPULAN

1. Tn. RM, 24 tahun mengeluh mulut mencong ke kanan, tiba-tiba, bicara pelo (+), sulit
mengunyah menggunakan mulut bagian kiri (+), saat minum keluar air dari pipi kiri
(+), mata kiri pasien tidak bisa menutup rapat.
2. Pada PF N. VII (Facialis): tidak dapat mengangkat alis dan dahi kiri, kelopak mata
kiri tidak dapat menutup, saat tersenyum bibir tertarik ke arah kanan,
menggembungkan pipi bocor ke kiri, tidak dapat mencucukan bibirnya: parese N. VII
sinista perifer. Sensibilitas pada dahi, pipi dan dagu kiri juga terganggu: parese N.V
sensorik sinistra
3. Tatalaksana untuk pasien ini yaitu,
Non-Farmakologis :
13
a. Fisioterapi: Infra merah, terapi Ultrasound, Electrical Simulation, Short wave
diathermy (SWD), Micro wave diathermy (MWD), massage dan excerise
b. Latihan penguatan otot pipi dan wajah kiri dengan kerut dahi, tutup mata,
tersenyum, tertawa, meringis, meniup bola pingpong/lilin, berkumur,
Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari, Gunakan telunjuk dan
ibu jari untuk menarik sudut mulut secara manual
c. Gunakan kacamata untuk melindungi mata
d. Dapat gunakan plaster untuk menutup kelopak mata ketika tidur
Farmakologis :
o Prednisone 60 mg PO selama 5 hari (tapering off)
4. Prognosis: Ad vitam bonam, Ad functionam dubia ad bonam, Ad sanationam dubia ad
bonam.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Baehar, M. Frotscher. Diagnosis Topik Neurologi DUUS edisi 4. Jakarta: Buku


kedokteran EGC. 2012
2. Gerald, Tortora. Principles of Anatomy and Physiology. 12th edition. USA :
MCGrawHill. 2009
3. Sidharta Priguna, M. D., Ph. D. Neurologi Klinik Dalam Praktek Umum, cetakan
kelima, PT. Dian Rakyat, Jakarta, 2005,403.
4. Djamil Y, A Basjiruddin. Paralisis Bell. Dalam: Harsono, ed. Kapita selekta
neurologi; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.2003. p 297-300
5. Campbell WW, editor. The Facial Nerve. DeJongs The Neurologic Examination. 6th
ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 1992. p 208-211.
6. Ropper AH, Brown RH, editors. The Seventh, or Facial Nerve. Adams and Victors
Principles of Neurology. 8th ed. New York: MacGraw-Hill; 2003. p 1180-1182.
7. Saraf Otak. Dalam: Prof. DR.dr.SM. Lumbantobing, ed. Neurologi klinik,
pemeriksaan Fisik dan Mental; Jakarta: FK-UI.2004. p 55-57.
8. Bells Palsy. In : Gerald M. Fenichel, eds. Clinical Pediatric Neurology, A sign and
symptoms Approach 5th ed. United States. Elseivers saunders.2005. p 335-336
9. Weiner HL, Levitt LP. Ataksia. Wita JS, editor. Buku Saku Neurologi. Ed 5. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. p 174
10. Samuel. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Bells Palsy Kiri Dengan Modalitas
Electrical Stimulation dan Massage. Semarang: Akademi Fisioterapi Widya Husada.
2012.

15