Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN PERSALINAN

NORMAL
Kota Malang Puskesmas Dinoyo
No. Dokumen :

No.Revisi :0

SOP Tgl. Terbit : 01 November 2011

Halaman : 1- 20

Tanda Tangan Kepala Puskesmas Dinoyo


dr Bayu Tjahjawibawa
NIP. 19660116 200212 1 003

1.Pengertian Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu.
Asuhan Persalinan Normal adalah persalinan yang dimulai secara
spontan, resiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama
proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi
belakang kepala pada usia kehamilan antara 37 42 minggu lengkap.
Setelah persalinan ibu maupun bayi dalam keadaan baik
2.Tujuan Sebagai pedoman bagi petugas kesehatan di kaber dalam memberikan
pelayanan proses persalinan ibu dan bayi agar dalam kondisi sehat
dengan sesedikit mungkin melakukan intervensi namun tetap menjaga
keamanan proses persalinan.
3.Kebijakan

4..Referensi 1) Buku Pedoman Kerja Puskesmas Jilid II, Dep.Kes RI tahun


1990/1991
2) Buku Acuan Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal,Dep. Kes
RI tahun 2008
5.Alat dan bahan 1. Alat:
a. Partus set
b. Celemek
c. Kaca mata google
d. Sepatu boot
e. Lampu sorot
f. Slem suiquer
g. Tutup kepala
h. Masker
2. Bahan
a. Handuk
b. Baju dan selimut bayi
c. Baju ibu
d. Pembalut
e. Kasa steril
f. Oksitosin
g. Metergin
h. Vit K
i. Spuit 3cc
j. Spuit 1cc
k. Betadine
l. Air DTT
m. Umbilikal cord clem
6.Prosedur
I. Melihat tanda dan gejala kala II
1.Petugas mengamati tanda dan gejala persalinan kala II :
a.Ibu mempunyai keinginan untuk meneran/mengejan
b.Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum atau
vaginanya
c.Perineum menonjol
d.Vulva vagina dan spinkter anal membuka

II. Menyiapkan pertolongan persalinan


2.Petugas memastikan perlengkapan bahan dan obat-obatan esensial
siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin dan menempatkan
spuit 3 ml di dalam partus set.
3.Petugas mengenakan celemek plastik yang bersih
4.Petugas melepaskan semua perhiasan yang dipakai lalu mencuci
kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir serta
mengeringkan tangan dengan handuk kering.
5.Petugas memakai sarung tangan steril untuk pemeriksaan dalam
6.Petugas menghisap oksitosin ke dalam spuit 3 ml lalu meletakkannya
kembali dalam partus set.

III. Memastikan Pembukaan lengkap dan keadaan janin baik


7.Petugas membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dari depan
ke belakang dengan menggunakan kapas yang sudah dibasahi air
DTT lalu membuang kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang
benar.
8.Petugas melakukan pemeriksaan dalam. Bila selaput ketuban belum
pecah sedang pembukaan sudah lengkap lakukan amniotomi.
9.Petugas mendekontaminasi sarung tangan ke dalam larutan clorin
0,5% dan merendamnya selama 10 menit lalu mencuci tangan
10.Petugas memeriksa DJJ setelah konstraksi berakhir
a.Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak sesuai
b.Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan
semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya dalam partograf

IV. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses


pimpinan meneran/mengejan
11.Petugas memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik serta membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman
sesuai keinginannya
12.Petugas meminta keluarga membantu menyiapkan posisi ibu untuk
meneran/mengejan
13.Petugas melakukan pimpinan meneran/mengejan saat ibu
mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran/mengejan
a.Membimbing ibu meneran/mengejan saat ibu mempunyai
keinginan untuk meneran/mengejan.
b.Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara konstraksi
c.Memberikan asupan cairan peroral
d.Menilai DJJ setiap 5 menit
e.Lakukan rujukan bila bayi belum lahir 2 jam setelah
meneran/mengejan untuk primipara dan 1 jam meneran/mengejan
untuk multipara.
14.Petugas menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau
mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan
untuk meneran dalam 60 menit.

V. Persiapan pertolongan kelahiran bayi


15.Petugas meletakkan handuk bersih di perut ibu jika kepala bayi telah
membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
16.Petugas meletakkan kain yang bersih dilipat sepertiga bagian
dibawah bokong ibu
17.Petugas membuka partus set dan memperhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan
18.Petugas memakai sarung tangan steril

VI. Menolong kelahiran bayi


19.Petugas melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain
tadi saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5 6 cm,
letakkan tangan yang lain dikepala bayi dan lakukan tekanan yang
lembut serta tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala
keluar perlahan-lahan. Jika ada mekonium dalam cairan ketuban,
segera hisap mulut dan hidung bayi setelah kepala lahir
menggunakan penghisap lendir de lee steril. Menyeka muka, mulut,
dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
20.Petugas memeriksa lilitan tali pusat, jika tali pusat melilit leher janin
dengan longgar lepaskan lewat bagian atas kepala bayi. Jika tali pusat
melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat dan
memotongnya.
21.Petugas menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22.Petugas menempatkan kedua tangan masing-masing disisi muka bayi
(setelah kepala melakukan putaran paksi luar) lalu menariknya ke
arah bawah dan ke arah luar hingga bahu anterior muncul di bawa
arkus pubis dan kemudian menarik ke arah atas dan ke arah luar
untuk melahirkan bahu posterior.
23.Petugas menggeser tangan bawah kearah perineum ibu untuk
menyangga kepala, lengan dan siku sebelah bawah (setelah kedua
bahu lahir) lalu gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas.
24.Petugas menelusurkan tangan yang ada di atas dari punggung ke
arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung dan kaki lahir
(setelah tubuh dan lengan lahir) lalu memegang kedua mata kaki bayi
dan dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

VII. Penanganan Bayi baru lahir


25.Petugas menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi si atas
perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari
tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi ditempat
yang memungkinkan).
26.Petugas mengeringkan bayi, membungkus kepala bayi dan badan
bayi kecuali bagian tali pusat dan mengganti handuk basah dengan
handuk kering, biarkan bayi di atas perut ibu.
27.Petugas memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi
bayi dalam uterus
28.Petugas memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik agar uterus
berkontraksi dengan baik.
29.Petugas menyuntikkan oksitosin 10 unit IM di sepertiga paha atas
bagian distal lateral (dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir)
30.Petugas menjepit tali pusat dengan klem, kira-kira 3 cm dari bayi
( setelah 2 menit pasca persalinan ) lalu mendorong isi tali pusat ke
arah distal atau ibu dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm tali distal
dari klem pertama.
31.Petugas memotong dan mengikat tali pusat :
a.Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang dijepit dan lakukan
pengguntingan tali pusat diantara 2 klem
b.Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi,
kemudian lingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya
dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
c.Lepaskan klem dan masukkan ke dalam wadah yang telah disediakan
32.Petugas meletakkan bayi agar kontak kulit ibu ke kulit bayi.
Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga
menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala bayi diantara
payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
33.Petugas menyelimuti bayi dan ibu dengan kain hangat dan pasang
topi di kepala bayi

VIII. Penatalaksanaan aktif persalinan kala III


34.Petugas memindahkan klem pada tali pusat hinga berjarak 5-10 cm
dari vulva.
35.Petugas meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi
atas simpisis, untuk mendeteksi. Tangan lain memegang tali pusat.
36.( setelah uterus berkontraksi ) Petugas menegangkan tali pusat ke
arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah
belakang atas atau dorsokranial secara hati-hati. Jika plasenta tidak
lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu
hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas.
37.Petugas melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga
plasenta terlepas. Minta ibu meneran sambil penolong menarik tali
pusat dengan arah sejajar lantai, dan kemudian ke arah atas. Jika tali
pusat bertambah panjang, pindahkan klem hinga berjarak sekitar 5-10
cm dari vulva dan lahirkan plasenta. Jika plasenta tidak lepas setelah
15 menit, menegangkan tali pusat:
a.Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
b.Lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh
c.Minta keluarga menyiapkan rujukan
d.Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
e.Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalm 30 menit setelah bayi
lahir
f.Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual
38.( saat plasenta muncul di introitus vagina ) Petugas melahirkan
plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin. Kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta
pada tempat yang telah disediakan.
39.( segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir ) Petugas
melakukan massage uterus
IX. Menilai Perdarahan
40.Petugas memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel kepada
ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa
selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam
kantung plastik atau tempat khusus.
41.Petugas mengevaluasi adanya leserasi pada vagina dan perineum dan
segera menjahit leserasi yang mengalami perdarahan aktif.

X. Melakukan Prosedur Paska Persalinan


42.Petugas menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan
baik. Mengevaluasi perdarahan pervaginam.
43.Petugas membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di
dada ibu paling sedikit satu jam.
44.( setelah satu jam) Petugas melakukan penimbangan atau pengukuran
bayi, beri tetes mata anti biotik profilaksis, dan vitamin K 1 mg IM di
paha kiri anterolateral.
45.( setelah satu jam pemberian vit K ) Petugas memberikan suntikan
imunisasi hepatitis B di paha kanan anterolateral
a.Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa
disusukan.
b.Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil
menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan bayi sampai berhasil
menyusui.
46.Petugas melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah
perdarahan pervaginam
a.Dua sampai 3 kali dalam 15 menit pertama dalam pasca persalinan
b.Setiap 15 menit pada satu jam pertama pasca persalinan
c.Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan
d.Jika uterus tidak berkontraksi denga baik, melakukan asuhan yang
sesuai untuk menata laksana atoniauteri
47.Petugas mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan
masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus
48.Petugas mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
49.Petugas memeriksa nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua paska persalinan. Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali
setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan
50.Petugas memeriksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik (40-60 kali /menit) serta suhu tubuh normal (36,5-
37,50C)
51.Petugas menempatkan semua peralatan dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi selama 10 menit. Mencuci dan dan membilas
peralatan setelah didekontaminasi
52.Petugas membuang barang-barang yang terkontaminasi ke dalam
tempat sampah yang sesuai
53.Petugas membersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi
tingkat tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah.
Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering
54.Petugas memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu
membersihkan ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu
minuman dan makanan yang diinginkan
55.Petugas mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan
dengan larutan klorin 0,5% dan membilasnya dengan air bersih
56.Petugas mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin
0,5% membalikkan bagian dalam keluar dan merendamnya dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit
57.Petugas mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
58.Petugas melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).
7. Diagram Alir Menyiapkan alat dan
Cuci tangan Memberitahu ibu tentang
bahan
tindakan yang akan dilakukan

Tanda pasti persalinan kala dua:


Pembukaan serviks lengkap; atau
Kepala janin terlihat dari introitus vagina

Lanjutkan dengan
Ya penatalaksanaan
fisiologis: Bayi
Dorong Pecahkan selaput lahir
an ketuban bila belum dalam
spontan a pecah waktu
untuk Anjurkan untuk mulai 60
menela menelan
menit
Nilai DJJ, kontraksi,
n
tanda-tanda vital, (atau Ya
Tidak kandung kelahi
kemihsecara rutin ran
Anjurkan untuk bayi
minum akan
Anjurkan tidak
Anjurkan perubahan seger Lakukan:
perubahan posisi
posisi Manajemen
Lakukan stimulasi a aktif kala
putting susu terja
Rujuk tiga
Minta ibu di) Asuhan bayi
menggosokan segera baru lahir
kandung
kemihnyaanjurk
an untuk minum
Nilai DJJ,
kontraksi dan
tanda-tanda
vital(0-15 menit)
Evaluasi dalam 60 Dorongan Lanjutkan dengan
menit untuk ya penatalaksanaan
meneran? fisiologis persalinan
kala dua

tidak

ya
Bayi lahir Lakukan:
dalam waktu Manajemen
Bimbing ibu untuk aktif kala
60 menit
meneran saat tiga
kontraksi (atau
Asuhan bayi
Anjurakan untuk minum kelahiran baru lahir
(hangat manis) bayi akan
Anjurkan perubahan segera
posisi terjadi)
Lakukan stimulasi
putting susu
Tidak
Nilai DJJ setiap 5-10 Cuci tangan
menit
Rujuk
segera
8. Hal hal yang perlu Kesesuaian dalam melakukan asuhan persalinan normal
diperhatikan

9. Unit Terkait a. Unit Pendaftaran dan rekam Medis


b. Unit Rawat Jalan
c. Unit Rawat Inap
d. Unit Gawat Darurat
e. Unit Gizi