Anda di halaman 1dari 57

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 Identitias Pasien

Nama : Ny. H
Umur : 26 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku/Agama : Bugis/Islam
Status : Menikah
Alamat : Mandai

1.2 Anamnesis

Keluhan utama : Keluar darah dari jalan lahir


Anamnesis Terpimpin :

- Hal ini dialami pasien sejak 1 minggu ini dan memberat

dalam 1 hari terakhir. Darah yang keluar berwarna merah

kehitaman disertai gumpalan darah, frekuensi 1-2 kali

ganti pembalut per hari. Pasien melihat keluar gumpalan

darah seperti jaringan. Keluhan ini disertai dengan nyeri

perut seperti mulas-mulas dan nyeri pinggang. Awalnya,

pasien mengaku tidak memeriksakan dirinya ke dokter

atau bidan karena ia menganggap hal ini wajar akan

tetapi karena darah yang keluar semakin deras dan

menggumpal, pasien memutuskan untuk datang ke IGD

RS Salewangan Maros.
- Pasien mengaku dirinya tidak haid sejak bulan April 2016.

Pasien melakukan pemeriksaan tes pack urin merek

Sensitif dan mendapatkan hasil yang positif. Akan tetapi,

1
pasien belum pernah konfirmasi hasil kehamilan ini ke

dokter kandungan. Pasien tidak pernah mengonsumsi

vitamin apapun untuk kehamilannya.


- Riwayat keluar air-air dari kemaluan disangkal, riwayat

Berhubungan (-), riwayat keputihan (-), dan riwayat

minum jamu-jamu (-).


- BAK (+), BAB (+), kesan normal.

Riwayat dan Kebiasaan:


Riwayat Penggunaan Obat : Tidak ada
Riwayat Penyakit Terdahulu : Hipertensi, Diabetes

Melitus, jantung,asma, dan alergi

disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga : Kakak kandung pasien juga

mengalami abortus pada kehamilan

pertamanya. Pada kehamilan

kedua, kakak kandung pasien

melahirkan dengan normal di

bidan, anak sehat, dan cukup

bulan.
Riwayat Haid : HPHT : 03-04-2016
TTP : 10-01-2017
UK : 13 minggu
ANC : tidak pernah

dilakukan
Menarche : 15 tahun
Siklus : 25-32 hari
Lama Haid : 5-7 hari, teratur
Nyeri haid : -
Riwayat Obstetri : 1. 2016. kehamilan

sekarang

2
Riwayat Pernikahan : Pertama kali dengan suami

sekarang yang berusia 25 tahun,

sudah menikah 1 tahun.


Riwayat Kontrasepsi : Tidak pernah.
Riwayat Operasi : Tidak pernah
1.3 Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Compos mentis

Anemis : (-)
TD : 110/80 mmHg Ikterus : (-)
HR : 84 x/i, teratur Sianosis : (-)
RR : 20 x/i Dyspnea : (-)
Temperatur : 36,8 C Edema : (-)

1.4 Status Regional

Kepala : Mesosefal, konjunctiva anemis (-),

sclera ikterus (-), bibir sianosis (-)

Leher : Pembesaran kelenjar (-).

Dada :

Inspeksi : simetris kiri = kanan

Palpasi : massa tumor (-), nyeri tekan (-)

Perkusi : sonor

Auskultasi : BP vesikuler, BT (-)

Jantung :

Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Perkusi : pekak, pada ICS V-VI di linea

medioclavicularis

3
Auskultasi: BJ I/II murni, reguler, BT (-)

Abdomen : status obstetrik

Genitalia : status obstetrik

Ekstremitas: tidak ada kelainan

1.5 Status Obstetri

Pemeriksaan Luar

TFU : TTB

Massa Tumor : Tidak Ada

Nyeri Tekan : Ada

Fluksus : Lendir (+), Darah (+)

Pemeriksaan Dalam Vagina

Vulva/vagina : tidak ada kelainan

Porsio : lunak

OUE/OUI : Terbuka/Terbuka

Pelepasan : lendir (+), darah (+)

Ultrasonografi Transabdominal
Kesimpulan : Sisa konsepsi
1.6 Diagnosis
Abortus inkomplit

1.7 Penatalaksanaan

- Kuretase emergensi
- IVFD RL 20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 2g/12 jam

1.8 Laporan Kuretase

4
- Ibu dibaringkan di meja operasi dengan posisi litotomi

dengan infus terpasang dengan baik. Dilakukan

pengosongan kandung kemih dan vulva hygiene lalu

dilakukan pemasangan doek steril kecuali lapangan

operasi.
- Dilakukan pemasangan sims spekula atas dan bawah
- Dilakukan pemasangan tenakulum pada arah jam 11
- Kemudian sinus spekulum atas dilepaskan
- Dilakukan sondase didapatkan uterus antefleksi panjang 7

cm
- Dilakukan kuretase dengan sendok kuret tajam dari arah

jam 12 searah jarum jam hingga terdengar suara kerokan

kelapa dan keluar buih


- Didapatkan sisa jaringan dan stoll cell
- Tenakulum dilepas dan sims spekulo bawah dilepas
- Evaluasi perdarahan: t.a.a.
- Keadaan umum ibu post kuret: stabil
- Rencana post kuretase:
Awasi vital sign dan tanda-tanda pendarahan
Cek darah lengkap 2 jam post kuretase, jika Hb 8gr/dl,

transfusi sesuai kebutuhan.


Pemeriksaan histopatologi jaringan kuretase
Terapi
IVFD RL 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
1.9 Follow Up

Tangga 30 Juni 2016 1 Juli 2016

l
S: Keluar darah dari Keluar darah dari

kemaluan kemaluan (-)

5
O: Status Praesens Status Praesens
Sens : compos mentis Sens : compos mentis
TD : 100/60 mmHg TD : 100/60 mmHg
HR : 72 x/i HR : 80 x/i
RR : 18 x/i RR : 20 x/i
T : 36,5c T : 36,3c
Status Obstetrikus Status Obstetrikus
Abdomen: Soepel, Abdomen: Soepel,

peristaltik (+), nyeri peristaltik (+), nyeri

tekan (+) tekan (-)


TFU: tidak teraba TFU: tidak teraba
P/V: (+) P/V: (-)
BAK: (+) N BAK: (+) N
BAB: (+) N BAB: (+) N
Laboratorium USG TAS
Hb 11,2 g/dL; Ht Tidak tampak

32,3%; WBC gambaran hipoekoik di

8.800/mm3; PLT kavum uteri

234.000/mm3
A: Post kuretase a/i Post kuretase a/i

abortus inkomplit abortus inkomplit


P: - IVFD RL 20 - Tab cefadroxil 500

gtt/menit mg 2 x 1
- Inj. Ceftriaxone - Tab metronidazole 2

1gr/12 jam x1
- Inj. Ketorolac 30 - Vitamin B kompleks

mg/8 jam 3x1


Renca Besok aff infus dan Pulang berobat jalan

na: kateter urin

1.10. Pembahasan Kasus

Kasus Ny H datang ke IGD RS Maros dengan keluhan keluar


darah dari jalan lahir sejak 1 minggu ini dan memberat

6
dalam 1 hari terakhir.
Teori Pendarahan pervaginam adalah suatu kondisi di mana
keluarnya darah dari vagina. Pendarahan pervaginam
terdiri dari mayoritas pendarahan antepartum,
pendarahan postpartum, maupun pendarahan akibat
abnormalitas ginekologi tertentu sehingga harus
diketahui status gestasi pasien.
Analisis Pasien ini mengalami pendarahan pervaginam dengan
berbagai diagnosis banding penyebabnya.

Kasus Pasien mengaku dirinya tidak haid sejak bulan April 2016.
Pasien melakukan pemeriksaan tes pack urin dan
mendapatkan hasil yang positif. Akan tetapi, pasien
belum pernah konfirmasi hasil kehamilan ini ke dokter
kandungan.
Teori Kehamilan yaitu masa yang dimulai dari konsepsi, nidasi,
embrio, hingga menjadi fetus. Tanda-tanda kehamilan
meliputi amenorrhea, hiperemesis, dan perubahan
fisiologis tubuh ibu hamil. Tanda pasti adalah bila
pemeriksa mersakan gerakan janin dan adanya denyut
jantung janin. Akan tetapi, kondisi ini tetap harus
dikonfirmasi dengan pemeriksaan USG transvaginal
maupun transabdominal.
Analisis Pasien ini kemungkinan mengalami abortus walau status
gestasi pasien harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan
USG untuk menyingkirikan kemungkinan penyebab
pendarahan pervaginam lainnya seperti kehamilan
ektopik atau mola hidatidosa. Tanda pasti adalah bila
pemeriksa mersakan gerakan janin dan adanya denyut
jantung janin belum dapat menjadi patokan karena tanda
ini secara normal baru dirasakan pada usia kehamilan di

7
atas 20 minggu.

Kasus Darah yang keluar berwarna merah kehitaman disertai


gumpalan darah, frekuensi 1-2 kali ganti pembalut per
hari. Kadang, pasien melihat keluar gumpalan darah
seperti jaringan. Keluhan ini disertai dengan nyeri perut
seperti mulas-mulas dan nyeri pinggang.
Teori Jenis abortus harus dibedakan karena penatalaksanaan
untuk setiap jenisnya berbeda. Pada abortus imminens,
darah yang keluar biasanya berupa bercak-bercak tanpa
keluarnya jaringan dan nyeri perut ringan. Pada abortus
insipiens, pendarahan pervaginam sedang sampai
banyak tanpa disertai keluarnya jaringan dan nyeri perut
berat. Pada abortus inkomplit, pendarahan pervaginam
sedang sampai banyak disertai keluarnya sebagian
jaringan. Pada abortus komplit, pendarahan biasanya
sedikit atau bahkan tidak ada disertai riwayat keluar
darah yang banyak disertai jaringan, dan nyeri perut
cenderung tidak dirasakan lagi.
Analisis Pasien pada kasus ini kemungkinan mengalami jenis
abortus inkomplit.

Kasus Kakak kandung pasien juga mengalami abortus pada


kehamilan pertamanya. Pada kehamilan kedua, kakak
kandung pasien melahirkan dengan normal di bidan,
anak sehat, dan cukup bulan.
Teori Salah satu penyebab abortus adalah kelainan genetik.
Setengah dari kasus abortus trimester satu disebabkan
oleh kelainan genetik. Sekitar 15% disebabkan
monosomi, 54% trisomi, dan 3% trisomi ganda.
Kebanyakan abortus yang akan diakibatkan adalah

8
abortus rekuren.
Gangguan genetik diteliti menyebabkan gangguan vili
korionik dan gangguan implantasi plasenta.
Analisis Bila terdapat riwayat keluarga dan pasien mengalami
abortus pada trimester pertama dapat mengindikasikan
adanya faktor risiko genetik pada pasien ini. Bila psien
bersedia, dapat dilakukan kariotipe untuk menemukan
ada tidaknya penyebab genetik ini.

Kasus Pada pemeriksaan obstetrikus, TFU tidak teraba, dan


terdapat perdarahan pervaginam.
Teori Pada abortus inkomplit, tidak ada pemeriksaan obstetrik
yang spesifik. Yang dapat terlihat hanya pendarahan
pervaginam.
Analisis Hasil pemeriksaan obstetrikus pasien ini menunjukkan
diagnosis pasien ini lebih ke arah abortus inkomplit
dibanding abortus komplit karena masih dijumpai adanya
pendarahan pervaginam.

Kasus Pada pemeriksaan dalam dijumpai OUE/OUI terbuka


Teori Pada pemeriksaan VT ditemukan kanalis serviks terbuka,
jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang
sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
Analisis Dari hasil pemeriksaan ginekologis, terlihat bahwa hasil
pemeriksaan mendukung untuk diagnosis abortus
inkomplit.

Kasus Penatalaksanaan pada kasus ini adalah kuretase


emergensi
Teori Abortus inkomplit dapat ditatalaksana dengan rawat
ekspektatif, pembedahan, maupun medikamentosa.
Menurut SPM POGI, bila perdarahan ringan dan kehamilan

9
<16 minggu, dapat dilakukan pengeluaran hasil konsepsi
yang terjepit pada serviks dengan jari atau forseps cincin.
Bila perdarahan sedang-berat dan usia kehamilan <16
minggu, dilakukan evakuasi hasil konsepsi dari uterus
dengan pilihan aspirasi vakum atau kuretase tajam
(sumber lain menyebutkan batasan usia kehamilan <12-
14 minggu). Penelitian Gulmezoglu menunjukkan bahwa
metode operatif yang dipilih untuk abortus inkomplit
adalah aspirasi vakum dengan efek samping yang
rendah: kehilangan darah minimal (RR 0,28), nyeri
minimal (RR 0,74), waktu lebih singkat (-1,2 menit).
Walaupun begitu, perhitungan statistik menunjukkan
perbedaan yang tidak bermakna. Selain itu, prosedur ini
hanya memerlukan anestesi lokal.
Analisis Sarana opertif yang tersedia di RS Maros adalah kuretase
sehingga penatalaksanaan yang dilakukan adalah
kuretase tajam yang dijadwalkan secepatnya atau
emergensi.

BAB I

10
PENDAHULUAN
Setiap tahun, telah diperkirakan terjadi 22 juta kasus aborsi dan sebagian besar

kasus tersebut (98%) terjadi di negara-negara berkembang. Jumlah total kasus

aborsi tidak aman ini meningkat dari sekitar 20 juta kasus pada tahun 2003

menjadi 22 juta kasus pada tahun 2008, walaupun rentang kejadian abortus tetap

tidak berubah sejak tahun 2000. Setidaknya terjadi 47.000 kehamilan yang

berhubungan dengan kematian akibat kasus abortus yang terjadi. Selain itu,lima

juta wanita diestimasikan mengalami kecacatan akibat komplikasi dari abortus.(1)

Sekitar 208 juta wanita di dunia diestimasikan akan hamil setiap tahunnya,

59% (atau 123 juta) diantaranya merupakan kehamilan yang direncanakan

(diinginkan) dan sekitar 41% (atau 85 juta) merupakan kehamilan yang tidak

diinginkan. Karena peningkatan penggunaan kontrasepsi, angka kehamilan di

dunia dapat turun dari 160 kehamilan per 1000 wanita usia 15-44 tahun pada

tahun 1995 menjadi 134 per 1000 wanita pada tahun 2008. Angka kehamilan yang

diinginkan dan tidak diinginkan juga turun dari 91 dan 69 per 1000 wanita usia

15-44 tahun pada tahun 1995 menjadi 79 dan 55 per 1000 wanita usia 15-44 tahun

pada tahun 2008. Secara lebih signifikan, angka kejadian abortus yang disengaja

menurun dari 35 per 1000 wanita usia 15-44 tahun pada tahun 1995 menjadi 26

per 1000 wanita usia 15-44 tahun pada tahun 2008. Penurunan ini lebih besar

terjadi pada kasus abortus yang aman sementara untuk kasus abortus tidak aman

cenderung pada angka yang relatif konstan sejak tahun 2000 yaitu sekitar 14 per

1000 wanita usia 15-44 tahun. Kebanyakan kasus abortus terjadi di negara-negara

berkembang dimana angka kematian maternal tinggi dan akses untuk penanganan

abortus secara aman sulit ditemukan.(1)

11
Di United States, setidaknya 1,2 juta kasus abortus terjadi pada tahun 2008,

sedangkan pada United Kingdom, lebih dari 200.000 kasus abortus telah

dilaporkan. Sekitar satu dari tiga wanita akan memiliki kasus abortus.(2)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

12
2.1 DEFINISI

Kata abortus berasal dari bahasa latin yaitu aboriri yang

berarti keguguran. Berdasarkan New Shorter Oxford Dictionary

(2002), abortus adalah kelahiran sebelum kelahiran yang

seharusnya, dan dalam hal ini memiliki arti yang sama dengan

keguguran. Kata ini juga berarti terminasi kehamilan untuk

menghilangkan fetus.(3)

Berdasarkan National Center for Health Statistics, Centersfor

Disease Control and Prevention, dan World Health Organization

mendefinisikan abortus sebagai terminasi kehamilan pada usia

kehamilan <20 minggu atau kelahiran janin <500 gram. Pada

sumber lain mengatakan abortus adalah ancaman atau

pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar

kandungan, dengan batasan kehamilan kurang dari 20 minggu

atau berat janin kurang dari 500 gram. (3,4)

2.2 ETIOLOGI

Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan

sering diperdebatkan. Umumnya lebih dari satu penyebab.

Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut:

A. Faktor janin
1. Gangguan kromosom

13
Lebih dari 80% dari abortus spontan terjadi pada 12 minggu

pertama kehamilan, dan sebagian besar disebabkan oleh

anomali kromosom. Setelah trimester pertama, baik angka

abortus dan insiden anomali kromosom berkurang.(3

Abortus spontan dini sering memperlihatkan kelainan

perkembangan zigot, mudigah, janin, atau kadang plasenta.

Sekitar 95% kelainan kromosom disebabkan oleh kesalahan

gametogenesis ibu, dan 5% disebabkan oleh kesalahan ayah. (3)

Trisomi autosom merupakan anomali kromosom yang paling

sering ditemukan pada keguguran pada trimester pertama.

Monosomi X (45X) adalah kelainan kromosom spesifik tunggal

tersering. Kelainan ini menyebabkan sindrom Turner, yang

biasanya menyebabkan abortus dan sangat jarang menghasilkan

bayi perempuan lahir hidup.(3)

2. Trombofilia Herediter

Ini merupakan kelainan genetik faktor pembekuan yang dapat

menyebabkan trombosis patologik akibat ketidakseimbangan

antara jalur pembekuan dan antikoagulasi. Penyakit yang paling

banyak diteliti antara lain resistensi terhadap protein C aktif

(aPC) akibat mutasi faktor V Leiden, penurunan atau tidak

adanya aktifitas antitrombin III, mutasi gen protrombin, dan

mutasi digen untuk metilentetrahidrofolat reduktase yang

14
menyebabkan peningkatan kadar hemosistein serum-

hiperhemosisteinemia.(3)

Polimorfisme pada gen yang mengkode faktor koagulasi V

(G1691A) dan prothrombin (G20210A) berhubungan dengan

thrombophilia (keadaan hiperkoagulasi). Dua jenis varian (C677T

dan A1298C) dari gen yang mengkode 5,10-

methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR) yang dihasilkan

dari adanya mutasi telah berpengaruh pada perkembangan

terjadinya hiperhemosisteinemia.(5)

Sebagai dasar hipotesis bahwa polimorfisme berhubungan

dengan thrombophilia dapat mengganggu sirkulasi plasenta,

telah banyak penelitian casecontrol yang dilakukan untuk

memperlihatkan hubungan antara polimorfisme maternal dengan

thrombophilia dan kemudian dapat merugikan bagi kehamilan. (5)

B. Faktor Maternal
1. Infeksi

Berdasarkan American College of Obstetricians and

Gynecologists (2001), infeksi merupakan penyebab yang jarang

dalam abortus. Telah dilakukan penelitian mengenai penyebab

infeksi spesifik. Sebagai contoh, Brucella abortus dan

Campylobacter fetus menyebabkan abortus pada hewan ternak,

namun tidak demikian pada manusia. Tidak terdapat bukti bahwa

Listeriamonocytogenes atau Chlamydia trachomatis

15
menstimulasi terjadinya abortus pada manusia. Dalam penelitian

prospektif, infeksi akibat virus herpes simplex pada kehamilan

muda juga tidak meningkatkan insiden terjadinya abortus. Fakta

bahwa Toxoplasma gondii menyebabkan abortus sampai saat ini

juga masih belum meyakinkan. (3)

Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai

diduga sejak 1917, ketika De Forest dan kawan-kawan

melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada

perempuan yang ternyata terpapar brucellosis. Ada berbagai

teori untuk menjelaskan keterkaitan infeksi dengan kejadian

abortus diantaranya, sebagai berikut :(4)

1) Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, dan sitokin

yang berdampak langsung pada janin dan unit fetoplasenta.(4)


2) Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin dan cacat

berat sehingga janin sulit untuk bertahan hidup.(4)


3) Infeksi plasenta akan berakibat insufisiensi plasenta dan bisa

berlanjut kematian janin. (4)


4) Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genetalia

bawah (misal Mikoplasma bominis, Klamidia, Ureaplasma

urealitikum, HSV) yang bisa mengganggu proses implantasi.(4)


5) Amnionitis oleh kuman gram positif dan gram negatif juga

bisa mengakibatkan abortus.(4)


6) Infeki virus pada kehamilan awal dapat mengakibatkan

perubahan genetik dan anatomik embrio misalnya pada

16
infeksi rubela, parvovirus, CMV, HSV, koksakie virus, dan

varisella zoster.(4)

Berikut beberapa jenis organism tertentu di duga berdampak

pada kejadian abortus antara lain :

1) Bakteria: listeria monositogenes, klamidia trakomatis,

ureaplasma urealitikum, mikoplasma hominis, bakterial

vaginosis. (3,4)

2) Virus: CMV, HSV, HIV dan parvovirus. (3,4)

3) Parasit: toksoplasma gondii, plasmodium falsifarum. (3,4)

4) Spirokaeta: treponema pallidum. (3,4)

2. Hipotiroid

Defisiensi iodine berat dapat dihubungkan dengan abortus.

Hipotiroid dapat merupakan faktor kontribusi pada keguguran

dengan menggangu balans humoral yang penting pada

kelangsungan kehamilan. Defisiensi hormon tiroid merupakan hal

yang umum terjadi pada wanita yang paling sering disebabkan

oleh penyakit autoimun. Namun, efek hipotiroid pada kehamilan

belum diteliti secara mendalam lagi. (3,4)

17
3. Diabetes Melitus

Angka abortus spontan dan malformasi kongenital dapat

meningkat pada wanita dengan insulin-dependent diabetes.

Risiko ini timbul bersamaan dengan kontrol metabolik pada

kehamilan dini. Perempuan diabetes dengan kadar HbA1c tinggi

pada trimester pertama risiko abortus dan malformasi janin

meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin-dependen dengan

kontrol glukosa tidak adekuat berisiko 2-3 kali lipat untuk

mengalami abortus. Hal yang sama dengan sindrom polikistik

ovarium, beberapa wanita dengan abortus berulang telah

dilaporkan memiliki resistensi insulin. Kehilangan kehamilan

akibat diabetes tak terkontrol ini dihubungkan dengan kontrol

metabolik yang tidak optimal. (3,4)

4. Defisiensi Progesteron

Progesteron punya peran penting dalam mempengaruhi

mempengaruhi respetivitas endometrium terhadap implantasi

embrio. Kadar progesteron yang rendah diketahui dapat

mengakibatkan abortus terutamanya pada kehamilan 7 minggu

di mana trofoblast harus menghasilkan cukup steroid untuk

menunjang kehamilan. Pengangkatan korpus luteum pada usia 7

minggu akan berakibat abortus dan jika diberikan progesteron

pada pada pasien ini, maka kehamilan dapat diselamatkan.(4)

5. Defek fase luteal

18
Insufisiensi sekresi progesteron oleh korpus luteum atau

plasenta telah diduga sebagai penyebab abortus. Penelitian pada

perempuan yang mengalami abortus berulang, didapatkan 17%

kejadian defek luteal yaitu kurangnya progesteron pada fase

luteal. Namum pada saat ini, masih blum ada metode yang bisa

terpercaya untuk mendiagnosa kelainan ini.(3,4)

6. Abnormalitas Struktur Uterus

Defek anatomi uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi

obstetrik, seperti abortus berulang, prematuritas, serta

malpresentasi janin. Insiden kelainan uterus berkisar 1/200

sampai 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat

abortus, ditemukan anomali uterus pada 27% pasien. Studi oleh

Acien terhadap 170 pasien hamil dengan malformasi uterus,

mendapatkan hasil hanya 18,8% yang bisa bertahan sampai

melahirkan cukup bulan, sedangkan 36,5% mengalami

persalinan abnormal (premature, sungsang). Penyebab terbanyak

abortus karena kelainanan anatomik uterus adalah septum

uterus (40-80%) kemudian uterus bikornis atau uterus didelfis

atau unikornis (10-30%).(3,4)

Prevalensi dan implikasi reproduktif dari kejadian anomali

uterus pada populasi umum saat ini belum dapat dibuktikan

secara nyata. Namun abortus yang dihubungkan dengan usia

secara epidemiologi telah dilakukan penelitian.(6)

19
7. Faktor lingkungan

Penggunaan dari beberapa agen terapi telah dilaporkan

memiliki hubungan dalam peningkatan angka abortus.

Diperkirakan 1-10% malformasi janin adalah akibat dari paparan

obat, bahan kimia atau radiasi yang umumnya akan berakhir

dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas

anestesi dan tembakau. faktor-faktor yang terbukti berhubungan

dengan peningkatan insiden abortus adalah merokok, alkohol

dan kafein.(4)

Merokok dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadinya

abortus. Dua penelitian mencurigai bahwa peningkatan risiko

abortus berbanding lurus dengan jumlah konsumsi batang rokok

per hari. Sigaret rokok diketahui mengandung ratusan unsur

toksis, antara lain nikotin yang telah diketahui mempunyai efek

vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta. Karbon

monoksida juga menurukan pasokan oksigen ibu dan janin dan

dapat mamacu neurotoksin. Dengan adanya gangguan pada

sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan

pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.(3,4)

Baik abortus spontan maupun anomali fetal dapat disebabkan

dari konsumsi alkohol yang tinggi selama usia kehamilan 8

minggu pertama. Risiko ini memperlihatkan adanya hubungan

20
antara tingkat frekuensi dan jumlah yang dikonsumsi. Konsumsi

alkohol dalam jumlah yang sedikit selama kehamilan tidak

berhubungan dengan risiko abortus secara signifikan.(3,4)

Armstrong and associates (1992) melaporkan bahwa wanita

yang mengonsumsi sedikitnya lima gelas kopi per hari

meningkatkan risiko abortus. Hal yang sama oleh Cnattingius dkk

(2000) mengobservasi peningkatan risiko abortus secara

signifikan hanya pada wanita yang mengonsumsi sedikitnya 500

mg kafein per hari, yang setara dengan lima gelas kopi.(3)

8. Faktor Imunologi

Faktor Autoimun

Abortus paling sering pada wanita dengan lupus eritematosus

sistemik. Banyak dari wanita ini memiliki antibodi antifospolipid,

yaitu suatu famili auto-antibodi yang berikatan dengan fospolipid

bermuatan negatif, protein pengikat fospolipid, atau keduanya.

Autoantibodi ini juga ditemukan pada wanita tanpa lupus.

Peluang terjadinya pengakhiran kehamilan pada trimester 2 dan

3 pada SLE adalah 75%. Hampir 5% pada wanita hamil normal,

antikoagulan lupus (lupus anticoagulant, LAC) dan antibodi

antikardiolipin (anticardiolipine antibody, ACA) dilaporkan

berkaitan dengan tingkat kematian janin. Karena itu kematian

janin adalah salah satu kriteria diagnosis sindrom antifosfolipid.


(3,4)

21
Dalam dekade terakhir sindrom antifospolipid dikenal sebagai

sindrom Hughes, dan merupakan penyebab yang paling penting

pada abortus berulang. Antibodi antifospolipid (aPL) merupakan

bagaian dari setidaknya 20 auto-antibodi yang berlawanan

dengan phospholipids-binding proteins. Dari sejumlah antibodi

ini, hanya lupus anticoagulant (LA) dan anticardiolipin antibodies

(aCL) yang memperlihatkan arti yang penting pada bagian

reproduksi. (3,6)

Dari international consensus workshop pada tahun 1998,

klasifikasi kriteria APS, yaitu meliputi: (4)

1) Trombosis vaskular

- Satu atau lebih episode trombosis arteri, venosa atau kapiler

yang dibuktikan dengan gambaran Doppler, dan histopatologi.


(4)

- Pada histopatologi, trombosisnya tanpa di sertai gambaran

inflamasi. (4)

2) Komplikasi kehamilan

- 3 atau lebih abortus dengan sebab yang tidak jelas, tanpa

kelainan anatomik, genetik atau hormonal. (4)

22
- Satu atau lebih kematian janin di mana gambaran sonografi

normal.(4)
- Satu atau lebih persalinan prematur dengan gambaran janin

normal dan berhubungan dengan preeklamsia berat,atau

insufisiensi plasenta yang berat.(4)

3) Kriteria laboratorium

- IgG dan atau IgM dengan kadar yang sedang atau tinggi pada

2 kali atau lebih dengan pemeriksaan jarak lebih dari 1 atau

sama dengan 6 minggu.(4)

4) Antibodi fosfolipid

- Pemanjangan koagulasi fospholipid, aPTT, PT, dan CT.(4)


- Kegagalan untuk memperbaikinya dengan pertambahan

dengan plasma platlet normal.(4)


- Adanya perbaikan nilai tes dengan pertambahan fosfolipid.(4)

Antibodi antifospolipid ditemukan kurang dari 2% pada

perempuan hamil yang sehat kurang dari 20% pada perempuan

yang mengalami abortus dan lebih dari 33% pada perempuan

dengan SLE.(4)

Kebanyakan abortus terjadi pada trimester pertama setelah

adanya aktivitas dari jantung janin. Kegagalan kehamilan

berhubungan dengan APS dideskripsikan sebagai adanya

trombosis pada vaskularisasi uteroplasenta. Trombosis plasenta

dan infark juga terlihat pada kehamilan dengan fospolipid namun

23
temuan ini tidak selamanya spesifik untuk abortus akibat aPL.

Pada penelitian in vitro melaporkan bahwa aPL menyebabkan:(6)

a. Kegagalan mekanisme signal transduksi dalam mengontrol

desidualisasi dari sel endometrium.(6)


b. Meningkatkan apoptosis trofoblas.(6)
c. Menurunkan fusi trofoblas.(6)
d. Menggagalkan invasi trofoblas.(6)

The American College of Obstetricians and Gynecologists

(2005) merekomendasikan aspirin dosis rendah 81 mg per oral

per hari, ditambah unfractionated heparin 5000 unit secara

subkutis, dua kali per hari. Terapi ini dimulai setelah kehamilan

terdiagnosis dan dilanjutkan sampai persalinan.(3)

Faktor Aloimun

Kehamilan normal diperkirakan memerlukan pembentukan

faktor-faktor penghambat yang mencegah penolakan antigen

asing janin yang berasal dari ayah oleh ibu. Seorang wanita tidak

akan menghasilkan faktor-faktor penghambat serum ini jika ia

memiliki antigen leukosit manusia (HLA) serupa dengan yang

terdapat pada suaminya. Penyakit-penyakit aloimun lain diduga

berperan menyebabkan abortus berulang termasuk kelainan

natural killer cells dan peningkatan antibodi limfositotoksik.(3)

9. Inkompeten Serviks

Hal ini ditandai oleh adanya nyeri dilatasi serviks pada

trimester ke dua. Keadaan ini dapat diikuti adanya prolaps dan

24
pembesaran membran ke dalam vagina, dan tentunya

pengeluaran dari fetus.(3)

C. Faktor Ayah

Tidak banyak yang diketahui tantang faktor ayah dalam

terjadinya abortus. Yang jelas kelainan kromosom pada sperma

berkaitan dengan abortus. Rasio kelainan kromosom wanita

terhadap pria dalam suatu penelitian adalah 2:1. Meskipun

kelainan kromosom pada ayah hanya menyebabkan 2-4%

abortus, evakuasi kariotipe kedua orang tua merupakan bagian

penting dalam evaluasi.(3)

2.3 KLASIFIKASI ABORTUS

Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu menurut

terjadinya abortus dan menurut gambaran klinis. Berikut

pembagian abortus :(4)

Menurut terjadinya abortus terbagi atas :

1. Abortus spontan

Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya

tanpa disengaja dan tanpa menggunakan tindakan apa-apa.(3,4)

2. Abortus provokatus

Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja, baik

dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat. Abortus

25
provokatus ini dibagi menjadi 2 yaitu abortus provokatus

medisinalis dan abortus provokatus kriminalis.(4,7)

a) Abortus Terapeutik/Medisinalis

Adalah abortus yang terjadi adalah karena tindakan kita

sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat

membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Disebut

medisinalis bila didasarkan pada pertimbangan dokter untuk

menyelamatkan ibu. Pertimbangan dilakukan minimal oleh 3

dokter yaitu dokter spesialis Kandungan dan Kebidanan, dokter

Spesialis Penyakit Dalam, dan Spesialis Jiwa.(4)

Terdapat sejumlah penyakit medis dan bedah yang

merupakan indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Contohnya

adalah dekompensasi jantung persisten, terutama dengan

hipertensi pulmo menetap, penyakit vaskular hipertensif stadium

lanjut atau diabetes, dan keganasan. Indikasi tersering saat ini

adalah mencegah lahirnya janin dengan deformitas anatomik,

metabolik, atau mental yang signifikan.(3)

b) Abortus Provokatus Kriminalis

Pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup atas

permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan atas indikasi

medis, biasanya disebut abortus provokatus kriminalis.(4,7)

Berdasarkan gambaran klinis abortus terbagi atas :

1. Abortus Iminens

26
Abortus iminens adalah abortus tingkat permulaan dan

merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan

pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi

masih baik dalam kandungan.(4)

Diagnosis klinik dari abortus iminens ditegakkan ketika terjadi

pengeluaran darah pervaginam atau perdarahan muncul saat

serviks masih tertutup selama setengah dari awal kehamilan.

Perdarahan pervaginam yang terjadi pada usia kehamilan <20

minggu dan penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada

keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam. Ostium

uteri masih tertutup, besarnya uterus masih sesuai dengan usia

kehamilan dan tes kehamilan urin masih positif. (4)

2. Abortus Insipiens

Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam

yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri

telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum

uteri dan dalam proses pengeluaran.(4)

Ruptur hebat pada membran, yang di tandai oleh keluarnya

cairan amnion disertai dilatasi serviks, merupakan tanda bahwa

abortus hampir pasti terjadi. Umumnya kontraksi uterus segera

dimulai sehingga terjadi abortus, atau terjadi infeksi. 3 Penderita

akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat,

perdarahannya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks

27
uterus dan umur kehamilan. Besar uterus masih sesuai usia

kehamilan dengan tes urin kehamilan masih positif. Pada

pemeriksaan USG masih didapatkan pembesaran uterus yang

masih sesuai dengan usia kehamilan, gerak jantung janin masih

jelas walaupun sudah mulai tidak normal, biasanya terlihat

penipisan serviks uterus atau pembukaannya.(4)

3. Abortus Inkomplit

Abortus inkomplit adalah abortus yang ditandai dengan

terlepasnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri dan masih


4
ada yang tertinggal. Perdarahan terjadi jika plasenta, secara

keseluruhan atau sebagian terlepas dari uterus. Batasan ini juga

masih pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat

janin kurang dari 500 gram.(4)

Pada abortus inkomplit, ostium internum serviks membuka

dan menjadi tempat lewatnya darah. Janin dan plasenta mungkin

seharusnya tetap berada dalam uterus atau sebagian keluar

melaui ostium yang terbuka. Sebelum 10 minggu janin dan

plasenta sering dikeluarkan bersama-sama tetapi kemudian

mereka dilahirkan secara terpisah. Pada sebagian wanita

diperlukan dilatasi serviks tambahan sebelum kuretase dapat

dilakukan. Pada banyak kasus jaringan plasenta yang tertahan

menggantung bebas di kanalis servikalis, memungkinkan

28
ekstraksi dengan mudah dari ostium eksternum yang terpajan

dengan forseps cincin.(3,4)

Jumlah perdarahan bisa banyak atau sedikit bergantung pada

jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental

site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus. Pasien

dapat jatuh dalam keadaan anemia atau syok hemoragik

sebelum sisa jaringan konsepsi dikeluarkan. Besar uterus sudah

lebih kecil dari usia kehamilan dan kantong gestasi sudah sulit

dikenali, di kavum uteri tampak massa hiperekoik yang

bentuknya tidak beraturan.(4)

Perdarahan akibat abortus inkomplit pada kehamilan tahap

lebih lanjut kadang parah tetapi jarang mematikan. Karena itu,

pada wanita dengan kehamilan tahap lebih lanjut atau dengan

perdarahan hebat, evakuasi segera dilakukan. Jika terjadi demam

maka pasien diberi antibiotik yang sesuai sebelum kuretase.(3,4)

4. Abortus Komplit

Jenis abortus ini didefinisikan sebagai abortus dengan seluruh

hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan

kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

Ostium uteri telah menutup, uterus sudah mengecil sehingga

perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan usia

kehamilan. Pada pemeriksaan tes urin biasanya masih positif

sampai 7-10 hari setelah abortus.(4)

29
5. Missed Abortion

Adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah

meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan

hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.

Istilah ini digunakan untuk menjelaskan hasil konsepsi yang telah

mati yang tertahan selama beberapa hari, minggu, atau bahkan

bulan di dalam uterus dengan ostium serviks tertutup. Karena

keguguran spontan hampir selalu didahului oleh kematian

mudigah, maka sebagian sebagian besar disebut sebagai

"missed". Abortus ini ditandai dengan embrio atau fetus telah

meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan

hasil konsepsi seluruhnya masih tertanam dalam kandungan.(3,4)

Penderita biasanya tidak merasakan keluhan apapun kecuali

merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang

diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20 minggu

penderita justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan

tanda-tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai

menghilang.(4)

Terkadang missed abortion diawali dengan abortus iminens

yang kemudian merasa sembuh tetapi pertumbuhan janin

terhenti. Pada tes urin kehamilan biasanya negatif setelah 1

minggu dari terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada

pemeriksaan USG akan didapatkan uterus yang mengecil dan

30
bentuknya tidak beraturan serta gambaran fetus yang tidak ada

tanda-tanda kehidupan.(4)

Adapun klasifikasi abortus lainnya yaitu sebagai berikut :

1. Abortus Infeksiosus, Abortus Septik

Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada

alat genitalia. Sedangkan abortus septik ialah abortus yang

disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun

toksinnya kedalam peredaran darah atau peritoneum (septikemia

atau peritonitis).(4)

Abortus infeksiosus dan abortus septic perlu segera

mendapatkan pengelolaan yang adekuat karena dapat terjadi

infeksi yang lebih luas selain disekitar alat genitalia juga ke

rongga perintoneum, bahkan dapat ke seluruh tubuh (sepsis,

septikemia) dan dapat jatuh dalam keadaan syok septik.(4)

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat tentang

upaya tindakan abortus yang tidak menggunakan peralatan yang

asepsis dengan didapat gelaja dan tanda panas tinggi, tampak

sakit dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau,

uterus yang membesar dan lembut, serta nyeri tekan.(4)

Pengelolaan pasien ini harus mempertimbangkan

keseimbangan cairan tubuh dan perlunya pemberian antibiotika

yang adekuat sesuai hasil kultur dan sensitivitas kuman yang

diambil dari darah dan cairan fluksus/flour yang keluar

31
pervaginam. Untuk tahap pertama dapat diberikan Penisilin

4x1,2 juta unit atau Ampisilin 4x1 gram ditambah Gentamisin

2x80 mg dan Metronidazol 2x1 gram. Selanjutnya antibiotic

disesuaikan dengan hasil kultur.(4)

Tindakan kuretase dilaksanakan bila keadaan tubuh sudah

membaik minimal 6 jam setelah antibotika adekuat diberikan.

Jangan lupa pada saat tindakan uterus dilindungi dengan

uterotonika.(4)

Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam dan bila

dalam waktu 2 hari pemberian tidak memberikan respon harus

diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai.(4)

Pada masa yang lalu, abortus kriminalis dan abortus inkomplit

yang ditelantarkan terinfeksi oleh bakteri komersal vagina yang

sebenarnya tidak virulen, misalnya Clostridium perfringens. Hal

ini hampir tidak pernah ditemukan setelah abortus dilegalkan.

Namun pada tahun 2005 melaporkan 4 kematian dengan

abortus medisinalis akibat syok toksik yang disebabkan oleh

infeksi Clostridium sordellii. Fischer and dkk. (2005) menjelaskan

manifestasi klinis yang dialami pada 1 minggu setelah abortus

medisinalis. Tanda utama adalah cedera endotel berat disertai

kebocoran kapiler dan hemokonsentrasi, hipotensi, dan

leukositosis berat. Selain itu dilaporkan 2 kasus lain akibat syok

toksik akibat infeksi streptococcus grup A.(3)

32
2. Abortus habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali

atau lebih berturut-turut. Penderita abortus habitualis pada

umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali tetapi

kehamilannya berakhir dengan keguguran/ abortus secara

berturut-turut. Bishop melaporkan kejadian abortus habitualis

sekitar 0,41% dari seluruh kehamilan. Salah satu penyebab yang

sering dijumpai ialah inkompetensia serviks yaitu keadaan

dimana serviks tidak dapat menerima beban untuk tetap

bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester

pertama, dimana ostium serviks akan membuka (inkompeten)

tanpa disertai rasa mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi

pengeluaran janin.(4)

2.4 PATOFISIOLOGI ABORTUS

Abortus terjadi akibat adanya perdarahan dalam desidua

basalis, kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya.

Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian

atau seluruh bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal

pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat

perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya

kontraksi uterus dan mengawali proses abortus. Hal tersebut

menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya,

33
sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini

menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.(8)

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau

cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi

chorialis cenderung dikeluarkan, meskipun sebagian dari hasil

konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di kanalis

servikalis. Pada kehamilan kurang dari delapan minggu, hasil

konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis

belum menembus desidua secara mendalam. Perdarahan

pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi.(8)

Pada kehamilan 8-14 minggu, villi koriales menembus desidua

lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan

sempurna. Mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan

pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan

pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal

dalam cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam

kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri.

Jenis ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang

banyak.(8)

Pada kehamilan 14-22 minggu, janin biasanya sudah

dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat

kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam

uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan

34
terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan

umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol.


(8)

2.5 DIAGNOSIS

Abortus diduga pada wanita yang pada masa

reproduktif mengeluh tentang perdarahan pervaginam

setelah terlambat haid. Hal dapat diperkuat pada

pemeriksaan bimanual dan tes kehamilan. Harus

diperhatikan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks,

adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina.


Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya sedikit-

sedikit dan berlangsung lama, ekaligus dalam jumlah yang

besar dapat disertai gumpalan, dan akibat perdarahan tidak

menimbulkan gangguan apapun atau syok. Disebut

pendarahan ringan-sedang bila doek bersih selama 5 menit,

darah segar tanpa gumpalan, darah yang bercampur dengan

mukus. Pendarahan berat bila pendarahan yang banyak,

merah terang, dengan atau tanpa gumpalan, doek penuh

darah dalam waktu 5 menit, dan pasien tampak pucat.


Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi berupa

pada usia gestasi di bawah 14 minggu dimana plasenta

belum terbentuk sempurna dikeluarkan seluruh atau

sebagian hasil konsepsi, di atas 16 minggu, dengan

pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan

35
ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan

dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta, berdasarkan

proses persalinannya dahulu disebutkan persalinan

immaturus, dan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih

dari 6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk

gangguan pembekuan darah.


Diagnosis abortus dilakukan berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Abortus Iminens adalah pendarahan dari uterus pada

kehamilan kurang dari 20 minggu, hasil konsepsi masih di

dalam uterus dan tidak ada dilatasi serviks. Pasien akan

atau tidak mengeluh mules-mules, uterus membesar, terjadi

pendarahan sedikit seperti bercak-bercak darah menstruasi

tanpa riwayat keluarnya jaringan terutama pada trimester

pertama kehamilan. Pada pemeriksaan obstetrik dijumpai

tes kehamilan positif dan serviks belum membuka. Pada

inspekulo dijumpai bercak darah di sekitar dinding vagina,

porsio tertutup, tidak ditemukan jaringan.


2. Abortus Insipiens adalah erdarahan kurang dari 20 minggu

karena dilatasi serviks uteri meningkat dan hasil konsepsi

masih dalam uterus. Pasien akan mengeluhkan mules yang

sering dan kuat, keluar darah dari kemaluan tanpa riwayat

keluarnya jaringan, pendarahan biasanya terjadi pada

trimester pertama kehamilan, darah berupa darah segar

36
menglair. Pada inspekulo, ditemukan darah segar di sekitar

dinding vagina, porsio terbuka, tidak ditemukan jaringan.


3. Abortus inkomplit adalah pengeluaran hasil konsepsi pada

kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih terdapat sisa

hasil konsepsi tertinggal dalam uterus. Pada anamnesis,

pasien akan mengeluhkan pendarahan berupa darah segar

mengalir terutama pada trimester pertama dan ada riwayat

keluarnya jaringan dari jalan lahir.


4. Abortus Komplit adalah keaddan di mana semua hasil

konsepsi telah dikeluarkan. Pada penderita terjadi

perdarahan yang sedikit, ostium uteri telah menutup dan

uterus mulai mengecil. Apabila hasil konsepsi saat diperiksa

dan dapat dinyatakan bahwa semua sudah keluar dengan

lengkap. Pada penderita ini disertai anemia sebaiknya

disuntikan sulfas ferrosus atau transfusi bila anemia.

Pendarahan biasanya tinggal bercak-bercak dan anamnesis

di sini berperan penting dalam menentukan ada tidaknya

riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir Pada inspekulo,

ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, porsio

terbuka, tidak ditemukan jaringan


5. Missed Abortion ditandai dengan kematian embrio atau

fetus dalam kandungan >8 minggu sebelum minggu ke-20.

Pada anamnesis akan ditemukan uterus berkembang lebih

rendah dibanding usia kehamilannya, bisa tidak ditemukan

37
pendarahan atau hanya bercak-bercak, tidak ada riwayat

keluarnya jaringan dari jalan lahir. Pada inspekulo bisa

ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio

tertutup, tidak ditemukan jaringan


6. Abortus habitualis adalah abortus spontan sebanyak 3x/

lebih berturut-turut. Pada anamnesis akan dijumpai satu

atau lebih tanda-tanda abortus di atas, riwayat

menggunakan IUD atau percobaan aborsi sendiri, dan

adanya demam.
7. Abortus Septik ditandai penyebaran infeksi pada peredaran

darah tubuh atau peritonium. Hasil diagnosis ditemukan:

panas, lemah, takikardia, sekret yang bau dari vagina,

uterus besar dan ada nyeri tekan dan bila sampai sepsis dan

syok (lelah, panas, menggigil)


8. Blighted ovum adalah suatu keadaan di mana embrio tidak

terbentuk tetapi terdapat kantung gestasi. Kofirmasi tidak

ada embrio pada kantung gestasi (diameter minimal 25 mm)

dengan USG.

2.6 PENATALAKSANAAN

Berdasarkan World Health Organization (WHO) terdapat

beberapa cara dalam yang digunakan dalam abortus:(1)

a. Metode yang direkomendasikan saat ini dalam menangani

abortus pada trimester pertama adalah: (1)


1. Aspirasi vakum manual atau elektrik, untuk usia kehamilan

hingga 12-14 minggu.(1)

38
2. Untuk usia kehamilan hingga 9 minggu (63 hari). Metode

yang direkomendasikan untuk aborsi medis adalah

mifepristone oral 200 mg diikuti 1 atau 2 hari kemudian

misoprostol single dose.(1)


3. Untuk usia kehamilan antara 9-12 minggu (63-84 hari).

Metode yang direkomendasikan untuk aborsi medis adalah

diberikan 200 mg mifepristone oral diikuti 36-48 jam

kemudian dengan 800 g misoprostol melalui vagina. Dosis

misoprostol berikutnya 400 g, diberikan baik melalui

vagina atau sublingual, setiap 3 jam hingga empat dosis

lebih lanut, sampai pengeluaran hasil konsepsi.(1)


4. Untuk usia kehamilan lebih dari 12 minggu (84 hari).

Metode yang direkomendasikan untuk aborsi medis adalah

200 mg mifepristone secara oral diikuti 36 sampai 48 jam

kemudian dengan dosis berulang misoprostol.(1)


Dengan kehamilan antara 12 dan 24 minggu, dosis

misoprostol awal setelah pemberian mifepristone oral

dapat berupa 800 g diberikan melalui vagina atau

400 g secara oral. Dosis misoprostol berikutnya harus

400 g, diberikan baik melalui vagina atau sublingual,

setiap 3 jam hingga empat dosis lebih lanjut.(1)


Untuk kehamilan di luar 24 minggu, dosis misoprostol

harus dikurangi, karena sensitivitas yang lebih besar

terhadap uterus.(1)

39
5. Ketika mifepristone tidak memungkinkan untuk diberikan,

misoprostol tunggal diberikan dalam dosis berulang.(1)


Untuk kehamilan usia kehamilan hingga 12 minggu (84

hari).

Metode yang disarankan aborsi medis 800 g

misoprostol dapat melaui vagina atau sublingual.

Hingga tiga dosis terulangnya 800 g dapat diberikan

dengan interval minimal 3 jam, tapi tidak lebih dari 12

jam.(1)
Untuk kehamilan usia kehamilan lebih dari 12 minggu

(84 hari).

Metode yang disarankan aborsi medis adalah 400 mg

misoprostol diberikan vagina atau sublingual, diulang

setiap 3 jam sampai lima dosis.(1)


Untuk kehamilan di luar 24 minggu, dosis misoprostol

harus dikurangi, karena sensitivitas yang lebih besar

terhadap uterus.(1)
b. Dilatasi dan evakuasi (D & E) menggunakan aspirasi vakum

dan forceps dan metode medis (mifepristone dan misoprostol,

misoprostol saja) adalah keduanya metode yang dianjurkan

untuk aborsi pada kehamilan lebih dari 12 sampai 14 minggu.

Fasilitas harus menawarkan setidaknya satu, dan sebaiknya

kedua metode, jika mungkin, tergantung pada pengalaman

penyedia dan ketersediaan pelatihan.(1)

40
c. Persiapan serviks sebelum abortus secara operatif

direkomendasikan untuk semua wanita dengan kehamilan

lebih 12-14 minggu, walaupun penggunaannnya dapat

diterapkan pada seluruh usia kehamilan. Misoprostol 400 g

pervaginal 3-4 jam atau 2-3 jam sublingual sebelum tindakan.

Alternatif lain yaitu 200 mg mifepristone peroral 36 jam

sebelumnya. Atau laminaria ditempatkan intracerviks 6

sampai 24 jam sebelum tindakan.(1)


d. Anestesi lokal, seperti lidokain dapat digunakan pada semua

wanita ketika ada rasa tidak nyaman dimana membutuhkan

dilatasi serviks untuk abortus operatif.(1)

Kematian embriofetal saat ini mudah untuk diverifikasi

dengan teknologi ultrasonografi, sehingga manajemen dapat

segera dilakukan secara individual. Terdapat pilihan terapi

berupa farmakologi atau operatif. Tindakan operasi merupakan

tindakan definitif dan bersifat invasif sehingga tidak diperlukan

pada semua wanita. Penanganan secara farmakologi mungkin

dapat menghindari keharusan kuretase tetapi berkaitan dengan

perdarahan yang tidak dapat diperkirakan, dan beberapa wanita

akan menjalani operasi yang tidak dijadwalkan sebelumnya.(3)

Dari beberapa penelitian dapat dibuat kesimpulan sebagai

berikut:

41
a. Keberhasilan bergantung pada jenis atau tipe abortus yang

terjadi.(3)
b. Pada abortus inkomplit spontan, penanganan secara

menunggu menjadikan abortus menjadi komplit pada

beberapa kasus.(3)
c. Untuk missed abortion, tanpa penjelasan lebih lanjut, PGE 1

yang diberikan intravagina atau peroral efektif pada sekitar

85% kasus untuk menyebabkan abortus menjadi komplit

dalam 7 hari.(3)
d. Kuretase adalah resolusi cepat yang hampir 100% berhasil

dalam menuntaskan kegagalan kehamilan dini.(3)


A. Farmakologi

Terdapat terapi untuk abortus yang telah menjalani penelitian

dan telah digunakan antiprogesteron mifepristone dan

prostaglandin misoprostol. Agen ini menyebabkan abortus

dengan cara meningkatkan kontraktilitas uterus disamping

menginhibisi progesteron dalam menghambat kontraksi uterus

yang merupakan mekanisme kerja mifepristone atau dengan

menstimulasi miometrium secara langsung yang merupakan

mekanisme kerja dari misoprostol. Mifepristone adalah

antiprogestin berfungsi memblokir reseptor progesterone,

sehingga jika digunakan pada awal kehamilan rahim tidak akan

mampu mempertahankan embrio yang tumbuh. Mifepristone

memblok reseptor progesteron. Sebagai hasilnya, terjadi influks

leukosit dan eritrosit ke lapisan desidua yang diikuti oleh

42
pelepasan prodtaglandin dan sitokin. Ditambah dengan adanya

analog sintetik prostaglandin E1 yang menyebabkan kontraksi

yang kuat, yang diakibatkan oleh kekurangan progesteron.

Mifepristone juga memicu peningkatan prostaglandin endogen

sehingga membuka serviks dan membantu proses aborsi.

Mifepristone menyebabkan kolagen serviks berdegenerasi, yang

mungkin akibat peningkatan ekspresi matriks metalloproteinase-

2.(3)

Sedangkan Misoprostol merupakan analog prostaglandin E1

sintetik. Pada serviks, misoprostol menyebabkan peningkatan

aktivitas kolagenase dan mengubah komposisi proteoglikan

sehingga menyebabkan pelembutan dan penipisan serviks.

Proses ini pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya abortus

spontan. Karena misoprostol dapat menurunkan aktivitas

glukokortikoid wanita dengan penyakit adrenal atau gangguan

glukokortikoid didapat maka terapi tidak boleh diberikan.(3,6)

B. Tindakan Invasif

Berdasarkan American College of Obstetricians and

Gynecologists (2005), pasien dengan terapi medis dan

memenuhi syarat untuk melakukan operasi terpilih jika wanita

tersebut dengan usia kehamilan <49 hari berdasarkan

perhitungan menstruasi. Evakuasi secara operasi dibutuhkan

dalam penatalaksanaan jika terdapat perdarahan hebat.

43
Ketidakstabilan tanda vital atau terjadi infeksi

jaringan.6Kehamilan dapat diakhiri secara bedah melalui serviks

yang dibuka atau transabdominal dengan histerotomi atau

histerektomi.(3)

1. Dilatasi dan Kuretase (D&C)

Jika evakuasi secara bedah akan digunakna, kuretase

merupakan salah satu metode dengan sedikit komplikasi.

Komplikasi serius termasuk perforasi uterus, adhesi intrauterin

dan perdarahan harus dimasukkan dalam informasi ke semua

pasien.(6)

Pendekatan transservikal pada abortus dengan tindakan

bedah mensyaratkan bahwa serviks mula-mula harus dibuka

(dilatasi) dan kemudian kehamilan dievakuasi dengan mengerok

keluar secara mekanis (kuretase tajam). Aspirasi vakum,

merupakan bentuk tersering kuretase hisap, memerlukan kanula

kaku yang dihubungkan ke tabung suntik (syringe) sebagai

sumber vakumnya.(3)

Kemungkinan penyulit meningkat setelah trimester pertama.

Penyulit-penyulit ini mencakup perforasi uterus, laserasi serviks,

perdarahan, pengeluaran janin tak lengkap, plasenta tak lengkap

dan infeksi. Karena itu kuretase tajam atau hisap sebaiknya

dilakukan sebelum 14-15 minggu.(3)

44
Setelah pemeriksaan bimanual dilakukan untuk menentukan

ukuran dan orientasi uterus, dilakukan pemasangan spekulum,

dan serviks diusap dengan larutan antiseptik. Bibir serviks

dijepit dengan tenakulum bergigi. Anestesi lokal misalnya 5 ml

lidokain 1-2%, dapat disuntikkan di arah jam empat dan delapan

pangkal serviks. Jika diperlukan serviks dapat diperlebar kembali

dengan dilator Hegar, Hank, atau Pratt sampai kanula penghisap

dengan garis tengah yang sesuai dapat dimasukkan. Jari tangan

keempat dan kelima dari tangan yang memasukkan dilator harus

bertumpu pada perineum dan bokong sewaktu dilator didorong

melalui ostium internum.(3)

Gambar 13. Pemasangan dilator Hegar(3)

Cara ini memperkecil dilatasi paksa dan merupakan

pengamanan terhadap perforasi uterus. Pemasangan sonde

uterus mengukur kedalaman dan arah rongga uterus sebelum

insersi kanula. Kanula penghisap didorong ke arah fundus dan

kemudian ditarik ke arah ostium dan diputar secara berkeliling

untuk mencakup keseluruhan permukaan rongga uterus. (3)

45
Gambar 14. Pemasangan kanula penghisap(3)

Jika tidak ada lagi jaringan yang terhisap maka dilakukan

kuretase tajam secara hati-hati untuk membersihkan semua

potongan jaringan janin atau plasenta yang tersisa.(3)

Gambar 15. Penggunaan kuret tajam(3)

2. Dilatasi dan Evakuasi (D&E)

Dimulai pada 16 minggu, ukuran dan struktur janin

menentukan pemakaian teknik ini. Dilatasi serviks yang dicapai

dengan dilator logam atau higroskopik, mendahului destruksi

mekanis dan evakuasi bagian-bagian janin.Setelah janin keluar

maka plasenta dan jaringan yang tersisa dikeluarkan dengan

kuret vakum berdiameter besar.(3)

3. Dilatasi dan Ekstraksi (D&X)

46
Ini serupa dengan dilatasi dan evakuasi kecuali bahwa

evakuasi hisap isi intrakranium setelah melahirkan tubuh janin

melalui serviks yang telah membuka membantu ekstraksi dan

memperkecil kemungkinan cedera uterus atau serviks akibat

instrumen atau tulang janin. Dalam istilah lain tindakan ini

disebut partial birth abortion. Trauma akibat dilatasi mekanis

dapat dikurangi dengan menggunakan alat yag secara perlahan

membuka serviks. Alat ini yang disebut dilator higroskopik

(laminaria), menyerap air dari jaringan serviks dan

mengembang, secara perlahan membuka serviks.Salah satu

alternatif untuk dilatasi serviks adalah pemberian prostaglandin

di forniks posterior vagina untuk membantu dilatasi selamjutnya.


(3)

Gambar 16. Pemasangan Laminaria untuk diltasi serviks(3)

2.7 DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis Gejala Pemeriksaan Pemeriksaan

banding fisik penunjang

47
Abortus perdarahan - TFU sesuai - tes kehamilan

iminens dari uterus dengan umur urin masih

pada kehamilan positif


- Dilatasi serviks - USG :
kehamilan
(-) gestasional sac
sebelum 20
(+), fetal plate
minggu
(+), fetal
berupa flek-
movement (+),
flek
nyeri perut fetal heart

ringan movement (+)


keluar jaringan

(-)
Abortus perdarahan - TFU sesuai - tes kehamilan

insipien banyak dari dengan umur urin masih

uterus pada kehamilan positif


- Dilatasi serviks - USG :
kehamilan
(+) gestasional sac
sebelum 20
(+), fetal plate
minggu
nyeri perut (+), fetal

berat movement
keluar jaringan
(+/-), fetal
(-)
heart

movement

(+/-)
Abortus perdarahan - TFU kurang dari - tes kehamilan

48
inkomplit banyak / umur urin masih

sedang dari kehamilan positif


- Dilatasi serviks - USG : terdapat
uterus pada
(+) sisa hasil
kehamilan - teraba jaringan
konsepsi (+)
sebelum 20 dari cavum

minggu uteri atau


nyeri perut
masih
ringan
keluar jaringan menonjol pada

sebagian (+) osteum uteri

eksternum
Abortus perdarahan (-) - TFU kurang dari - tes kehamilan
nyeri perut (-)
komplit keluar jaringan umur urin masih

(+) kehamilan positif


- Dilatasi serviks bila terjadi 7-10

(-) hari setelah

abortus.
USG : sisa hasil

konsepsi (-)
Missed perdarahan (-) - TFU kurang dari - tes kehamilan
nyeri perut (-)
abortion biasanya tidak umur urin negatif

merasakan kehamilan setelah 1


- Dilatasi serviks
keluhan minggu dari
(-)
apapun terhentinya

kecuali pertumbuhan

merasakan kehamilan.

49
pertumbuhan - USG :

kehamilannya gestasional sac

tidak seperti (+), fetal plate

yang (+), fetal

diharapkan. movement (-),

Bila fetal heart

kehamilannya movement (-)

> 14 minggu

sampai 20

minggu

penderita

merasakan

rahimnya

semakin

mengecil,

tanda-tanda

kehamilan

sekunder pada

payudara

mulai

menghilang.
Mola Tanda - TFU lebih dari - tes kehamilan

hidatidosa kehamilan (+) umur urin masih


Terdapat

50
banyak atau kehamilan positif
- Terdapat banyak (Kadar HCG
sedikit
atau sedikit lebih dari
gelembung
gelembung 100,000
mola
Perdarahan mola mIU/mL)
- DJJ (-) - USG : adanya
banyak /
pola badai
sedikit
Nyeri perut (+) salju

ringan (Snowstorm).
Mual - muntah

(+)
Blighted Perdarahan - TFU kurang dari - tes kehamilan

ovum berupa flek- usia kehamilan urin positif


- OUE menutup - USG :
flek
Nyeri perut gestasional sac

ringan (+), namun


Tanda
kosong (tidak
kehamilan (+)
terisi janin).
KET Nyeri abdomen - Nyeri abdomen - Lab darah : Hb

(+) (+) rendah,


Tanda - Tanda-tanda
eritrosit dapat
kehamilan (+) syok (+/-) :
Perdarahan meningkat,
hipotensi,
pervaginam leukosit dapat
pucat,
(+/-) meningkat.
ekstremitas - Tes kehamilan

dingin. positif
- Tanda-tanda - USG :

51
akut abdomen gestasional sac

(+) : perut diluar cavum

tegang bagian uteri.

bawah, nyeri

tekan dan

nyeri lepas

dinding

abdomen.
- Rasa nyeri pada

pergerakan

servik.
- Uterus dapat

teraba agak

membesar dan

teraba

benjolan

disamping

uterus yang

batasnya sukar

ditentukan.
- Cavum douglas

menonjol berisi

darah dan

nyeri bila

52
diraba

2.8 PROGNOSIS
Selain pada kasus antibodi antifosfolipid dan serviks

inkompeten, angka kesembuhan setelah tiga kali abortus

berturut-turut berkisar antara 70 dan 85 %, apapun terapinya.

Bahkan, Warburton dan Fraser (1964) menunjukkan

kemungkinan abortus rekuren adalah 25-30% berapapun jumlah

abortus sebelumnya. Poland, et al. (1977) mencatat bahwa

apabila seorang wanita pernah melahirkan bayi hidup, risiko

untuk setiap abortus rekuren adalah 30%. Namun, apabila wanita

belum pernah melhairkan bayi hidup dan pernah mengalami

paling sedikit satu kali abortus spontan, risiko abortus adalah

46%. Wanita dengan abortus spontan tiga kali atau lebih berisiko

lebih besar mengalami pelahiran preterm, plasenta previa,

presentasi bokong, dan malformasi janin pada kehamilan

berikutnya (Thom dkk, 1992).27,51

53
BAB III

KESIMPULAN

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan <20 minggu

dan atau berat janin <500 gram. Berdasarkan mekanisme terjadinya abortus

dibedakan menjadi 2 yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus

spontan jika tidak ada usaha yang dilakukan dalam proses pengeluaran hasil

konsepsi. Berdasarkan derajatnya abortus spontan ini terbagi menjadi abortus

iminens, insipiens, inkomplit, komplit, dan missed abortion. Sedangkan dikatakan

abortus provokatus jika yang terjadi secara sengaja dilakukan. Abortus provokatus

ini dibagi menjadi dua yaitu abortus provokatus medisinalis dan abortus

provokatus kriminalis.

Terdapat beberapa etiologi yang dapat menyebabkan kejadian abortus yang

dibagi dalam 3 faktor yaitu faktor janin, faktor ibu, dan faktor ayah. Dari faktor

janin sendiri dapat terjadi akibat adanya anomali kromosom dan trombofilia

54
herediter yang termasuk didalamnya adalah adanya mutasi gen yang mengatur

koagulasi. Dari faktor ibu dapat terjadi jika ditemukan adanya infeksi, penyakit

endokrin (hipotiroid dan diabetes melitus), defisiensi progesteron, anomali

struktur uterus, gangguan imunologi, inkompeten serviks, atau pada penggunaan

obat-obatan.

Dapat dicurigai adanya abortus jikadari anamnesis biasa didapatkan adanya

perdarahan pervaginam yang diikuti dengan rasa kram dan nyeri pada perut

beberapa saat kemudian. Nyeri ini juga dapat dipersepsikan sebagai perasaan tidak

nyaman daerah suprapubik. Dari pemeriksaan USG dapat ditemukan gambarang

kantong gestasi yang kosong. Adapun diagnosis banding pada perdarahan

kehamilan muda selain abortus adalah kehamilan ektopik dan mola hidatidosa.

Terdapat beberapa pilihan terapi dalam penatalaksanaan kasus abortus yaitu

dapat secara konservativ, farmakologi dan operatif. Jika pada kasus abortus

imminens dimana hanya terdapat ancaman keguguran, pasien dapat diminta untuk

istirahat total selama 3 hari dan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun.

Jenis obat yang saat ini sering digunakan adalah mifepristone yang bekerja

memblok reseptor progesteron dan misoprostol yang bekerja dengan merangsang

kontraksi uterus. Adapun terapi operatif yang paling umum digunakan adalah

kuretase.

55
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. 2012. Safe Abortion: technical

dan policy guidance for health system, 2nd ed. Switzerland;

WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.


2. Templeton,A, David A. Grimes. 2011. DA. A Request for

Abortion In New England Journals of Medicine. United

Kingdom; Department of Obstetrics and Gynaecology,

Aberdeen Maternity Hospital publishing.


3. Cunningham, FG. 2005. Williams Obstetrics 23th ed. United

States of America; The mcgraw-Hill Companies publishing.p

134-145
4. Hadijanto B. 2009. Kelainan Ilmu Kebidanan Edisi 4. Jakarta;

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.p 460-474.

56
5. Rivard,CI dkk. 2002. Absence of Association of

Thrombophilia Polymorphisms with Intrauterine Growth

Restriction In New England Journals of Medicine.


6. Edmonds,K. 2007. Dewhursts textbook of Obstetrics &

Gynaecology. London; Blackwell Publishing.


7. Tanuwijaya,F. Abortion on Law and Moral Perpective in

Indonesia. Journal of Law, Policy and Globalization.2014


8. Anwar M, Baziad A, Prabowo P. 2011. Edisi 3. Jakarta;

Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


9. Norwitz, ER dkk. 2001. Implantation and the Survival Of

Early Pregnancy: Mechanism of Disease. New England

Journals of Medicine.
10. American College of

Obstetricians and Gynecologists.2015.Miscarriage.

Washington, DC; Harvard Medical School of Harvard

University publishing.

57