Anda di halaman 1dari 5

TUGAS BIOGRAFI

Nama : I Gede Susastra Gunawan


NIS : 0437
Kelas : X MIA 2
I Ketut Sudikerta

Tersebutlah seseorang yang bernama I Ketut Sudikerta yang lahir di Desa


Pecatu, 29 Agustus 1967. Lahir dari pasangan I Made Wates dan Ni Made Ramped, ia
merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sudikerta menghabiskan masa
kecilnya di Desa Pecatu. Kehidupan keras dilakoninya di bawah terik yang menyengat
bukit Pecatu. Hidup dalam kondisi miskin dengan mengandalkan hasil panen padi
setahun sekali dan upah kerja ayahnya sebagai tukang bangunan yang tak menentu. Di
tengah kemiskinan itu, Sudikerta yang saat itu baru berumur 7 tahun harus merelakan
kepergian ibunya, Ni Made Ramped untuk selama-lamanya akibat penyakit kanker.
Miskin dan tanpa kasih sayang ibu, lengkap sudah penderitaan Sudikerta, yang harus
memaksanya untuk dewasa dalam usia kanaknya.

Dalam usia yang terbilang masih anak-anak, tangan Sudikerta sudah terampil
dalam melakukan pekerjaan apa pun. Mulai dari membantu pekerjaan di ladang
hingga menjual es mambo di sekolah. Sepulang sekolah, Sudikerta kemudian bergegas
mencari kayu api untuk dijual dan juga mencari air untuk kebutuhan di rumah. Ia juga
mengembalakan sapi-sapi milik orang lain yang dipercayakan pada keluarganya untuk
diberi pakan. Hidup dalam kondisi demikian membuatnya tak sempat bercita-cita atau
bermimpi, yang ada hanya bertahan hidup dan hidup lebih baik di hari esok. Begitu
mirisnya kehidupan Sudikerta, bahkan karena kekeringan di Desa Pecatu, ia hanya bisa
mandi satu kali dalam seminggu, itu pun di kubangan air minum sapi.

Meski hidup dalam keadaan miskin, Sudikerta bersikeras harus tetap sekolah.
Maka dengan modal ijazah SD, ia beranjak ke Kuta menumpang di rumah kakaknya
untuk melanjutkan sekolah di SMP Sunari Loka Kuta. Sementara uang untuk bersekolah
dibiayainya sendiri dari hasil menjual postcard dan juga kalung dan gelang di pantai
yang dironcenya sendiri. Segala ide dan kreativitas ia tuangkan demi meraup rupiah
untuk makan dan biaya sekolah. Tidak ada target lain dalam pikirannya, bahkan ketika
ia mendapat hasil yang lumayan ketika menjual perhiasan bercorak perak, ia tetap
fokus menabung dengan tujuan melanjutkan sekolah selepas SMP nanti.

Selama tiga tahun menumpang bersama kakaknya, Sudikerta tak merasa


canggung untuk membantu berbagai pekerjaan rumahan, seperti mencuci piring dan
pakaian atau pun memasak. Perilakunya yang rajin dan cekatan itu kemudian
membuatnya dipercaya menjadi parekan di rumah Gus Kiana di Sanur, sekaligus
bekerja sebagai tenaga serambutan sembari melanjutkan pendidikan di SMA PGRI 4.
Pagi harinya ia bekerja, membuka toko, bersih-bersih rumah dan kantor, menjadi kurir
dan segala pekerjaan lainnya. Siang hari ia sekolah sampai sore. Demi mendapat
tambahan uang, ia rela membuang gengsinya dengan menjadi kernet bemo Denpasar-
Sanur. Sedikit demi sedikit uang yang ia peroleh ia tabung di Bang Dagang Bali. Hal ini
ia lakukan demi memperiapkan diri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi nantinya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA, dengan tabungan yang cukup,


Sudikerta berhasil masuk ke Universitas Warmadewa dengan mengambil jurusan
Teknik Sipil dengan tujuan menjadi kontraktor seperti para pengusaha di proyek
tempat kakaknya bekerja sebagai mandor di Kuta. Untuk menjadi arsitek ternyata
tidak hanya butuh biaya yang besar tetapi juga konsentrasi penuh dan fokus kepada
setiap mata kuliah yang diajarkan. Padahal untuk biaya kuliah saja, Sudikerta harus
bekerja keras dan mengoptimalkan waktu untuk bekerja di sana-sini. Untuk itulah,
dengan bermodalkan ijazah SMA dan kemampuan berbahasa Inggris ala dagang acung,
Sudikerta diterima sebagai karyawan serabutan di Udaya Tour, sambil sesekali
menjadi guide untuk wisatawan di depan hotel Bali Beach Sanur yang lalu diajaknya
berkeliling dengan bemo.

Lama kelamaan, bahasa Inggris Sudikerta mulai lancar, banyak wisatawan yang
puas dan senang dengan pelayanannya yang terlihat energik dan ramah. Oleh karena
itu, semakin hari jadwal kerja Sudikerta sebagai guide semakin padat dan semakin
menyita porsi jam kuliahnya. Bahkan karena jadwalnya yang padat itu, beberapa kali
eksistensi gambar yang ia ajukan kepada dosennya selalu dinilai gagal karena banyak
kekurangan. Hal ini memancing kekesalan Sudikerta hingga merobek gambar di
hadapan dosennya. Sejak peristiwa itu, untuk mengurangi permasalahan dalam
kuliahnya, Sudikerta membulatkan tekad untuk beralih jurusan ke Sastra Inggris,
sesuai dengan bidang sector wisata yang ia geluti meskipun ia telah menempuh
Jurusan Teknik sipil selama dua tahun lamanya.

Setelah mengambil jurusan Sastra Inggris, perkuliahannya kembali berjalan


lancar dan tak mengganggu jadwal kerjanya. Bahkan kali ini Sudikerta masih punya
cukup waktu untuk aktif di resimen mahasiswa, dan kemudian bertemu dengan Ida
Ayu Ketut Sri Sumiatini, mahasiswi fakultas Hukum yang tak diduga karena
pertemanan yang akrab membuat mereka saling jatuh cinta. Di luar itu, pekerjaan
Sudikerta sebagai guide rupanya telah membuka rangkaian persahabatan dengan
beberapa wisatawan mancanegara. Persahabatan itu kemudian membuka akses
baginya untuk bekerja di Jepang pada tahun 1991, sesaat setelah ia menyelesaikan
skripsi di tahap akhir perkuliahannya.

Tiga tahun lamanya Sudikerta di Jepang. Hingga pada tahun 1993, setelah
dirasa memiliki cukup uang untuk modal, Sudikerta memutuskan pulang ke Bali untuk
segera menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda sampai wisuda sarjana.
Kemudian dilanjutkan dengan agenda penting lainnya, yaitu menyunting Ida Ayu Ketut
Sri Sumiatini, sang kekasih yang telah ia tinggal selama 3 tahun merantau di Jepang.
Dengan perasaan mapan dan siap memikul tanggung untuk membina rumah tangga, ia
kemudian memberanikan diri untuk menyunting kekasihnya itu. Kendati demikian, ia
sadar bahwa sesungguhnya secara tradisi Bali, ia akan terkendala pada perbedaan
kasta. Namun tak terduga, keluarga Ida Ayu Ketut Sri merestui pernikahan mereka
karena melihat kesungguhan dalam diri Sudikerta. Kemudian Sudikerta dan Ida Ayu
Ketut Sri Sumiatini menikah pada tahun 1993.

Sebagai kepala rumah tangga dengan tanggung jawab membahagiakan istri


tercinta, Sudikerta mulai serius merintis usahanya. Langkah awal memulai karir usaha
ia lakukan dengan membuka usaha dagang nasi babi guling di Sanur. Setelah dijalani
ternyata tak banyak keuntungan yang didapat hingga kemudian ia beralih ke usaha
ekspor gentong-gentong Lombok dengan pangsa pasar ke Australia. Namun usaha itu
jugs tak berbuah kesuksesan dan terpaksa ia tutup. Beberapa kali ia beralih ke usaha
di bidang ekspedisi, packing dan shipping, namun juga tidak berjalan mulus.

Beberapa kali gagal menjalani usaha tak membuat Sudikerta menyerah. Ia


tetap bersemangat mencoba berbagai peluang yang ada. Kali ini, ia mencoba sektor
property. Sebagian dari dana miliknya memang sempat ia investasikan untuk membeli
beberapa bidang lahan yang kemudian ia coba jual kembali. Kali ini usahanya sukses
dan memberikan kentungan baginya. Demikian usaha property yang digelutinya sontak
melambungkan namanya sebagai miliyuner muda Bali.

Sukses dalam bisnis property, Sudikerta kemudian mengembangkan sektor


usaha ke berbagai arah, salah satunya adalah bisnis akomodasi dengan mendirikan
hotel-hotel yang dimulai sejak tahun 1999 yang kemudian diikuti dengan kesuksesan
kakak-kakak dan adik-adiknya dalam menggeluti bisnis yang sama. Setelah sukses
sebagai pengusaha, Sudikerta mulai merambah dunia politik. Hal ini bermula ketika ia
diajak oleh sahabatnya, Komang Budiarta untuk menjadi pengurus PASI Bali, dan juga
pengurus KOSGORO Bali yang bernaung di bawah Parta Golongan Karya. Di bawah
naungan partai, karir politiknya terus melesat. Mulai dari menjadi bendahara sampai
ketua DPD Golongan Karya Badung, kemudian lama-kelamaan menjadi ketua DPD
Golongan Karya Bali. Karir politiknya yang gemilang terus berlanjut dan menuntunnya
menjadi anggota DPRD Bali, kemudian menjadi wakil bupati Badung. Karena
pengabdiannya kepada masyarakat, ia kemudian dipercaya untuk menjadi wakil
gubernur Bali mendampingi I Made Mangku Pastika sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Kepeduliannya kepada masyarakat miskin membuat banyak jiwa menanti uluran


tangan Sudikerta. Berkaca dari sanalah, Sudikerta selalu meluangkan waktunya untuk
fokus pada pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Kerja dan mengoptimalkan
waktu untuk mensejahterahkan rakyat Bali adalah prioritas utama Sudikerta sebagai
Wakil Gubernur Bali.