Anda di halaman 1dari 25

TUGAS SISTEM MANAJEMEN DAN AUDIT LINGKUNGAN

SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN :


UDARA LUAR RUANGAN (OUTDOOR)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan memerlukan kondisi yang seimbang antara pengaruh


lingkungan, cara hidup dan komponen hakikat manusia. Salah satu
komponen yang berpengaruh terhadap kesehatan adalah kondisi kualitas
udara yang dapat mengelami pencemaran yaitu adanya perubahan baik
pengurangan dan penambahan komposisi udara dibandungkan dengan
keadaan normal, dalam waktu, tempat dan konsentrasi tertentu yang
membahayakan kehidupan dan kesehatan masyarakat.

Komposisi udara normal di planet bumi meliputi 79 % nitrogen,


20,9% oksigen serta tidak lebih dari 1% berbagai bahan lain seperti argon,
karbondioksida, karbonmonoksida,ozon, SO2 dan lain-lain. Penyimpangan
dari kondisi normal tersebut atau perubahan konsentrasi jenis komponen
pada waktu dan tempat tertetu berdampak bermakna terhadap status
kesehatan. Di negara-negara berkembang setiap tahun diperkirakan 0,5
sampai 1 juta orang meninggal dunia akibat penyakit paru dan penyakit
lain yang berhubungan dengan polusi udara perkotaan dan jutaan orang
lainnya berisiko terkena penyakit tersebut. Perkotaan di Asia setiap tahun
dilaporkan lebih dari 530.000 kematian yang terjadi akibat polusi udara.

Diseluruh dunia, polusi udara terkait Particullate Matter (PM)


menyebabkan kematian penyakit kardioiopulmonal (3%), kanker bronkus,
kanker trakea serta kanker paru-paru (5%) dan kematian anak akibat
infeksi pernafasan akut (1%). Secara keseluruhan diperkirakan 800.000
orang mengalami kematian dini dan sekitar 6,4 juta orang mengalami
kehilangan harapan hidup. Di Indonesia, data Susenas tahun 2006
melaporkan bahwa batuk (49,92%) dan pilek (48,93%) merupakan
keluhan utama penyakit gangguan saluran pernapasan.6 Data Depkes
melaporkan gambaran pola penyakit terbanyak pada instalasi rawat jalan
adalah penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas akut berjumlah
1.117.179 pasien atau 7,05%. Penyebab kejadian ISPA dan penyakit
gangguan saluran pernapasan lain adalah kualitas udara di dalam rumah
dan di luar rumah yang rendah secara biologis, fisik, dan kimia.

Pencemaran udara merupakan masalah penting yang menjadi


perhatian dunia saat ini seperti terlihat pada salah satu indikator tujuan
pembangunan milenium kepastian kelestarian lingkungan hidup. Secara
lebih spesifik, indikator yang berhubungan dengan pencemaran udara
seperti jumlah emisi karbon. Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan
oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, pada tahun 1990,
emisi CO2(113,72 metrik ton) meningkat dua kali lebih besar pada tahun
2000 (236,36 metrik ton), dan tahun 2005 (293,27 metrik ton). Emisi ini
meningkat dengan angka pertumbuhan rata-rata 6,58% per tahun.

Di DKI Jakarta, ISPA juga merupakan penyakit terbanyak yang


diderita oleh anak-anak. Profil Kesehatan DKI Jakarta 2004 menunjukkan
bahwa sekitar 46% penyakit gangguan pernapasan terkait dengan
pencemaran udara ISPA (43%), iritasi mata (1,7%) dan asma (1,4%), dan
sekitar 32% kematian yang terkait dengan pencemaran udara (penyakit
jantung dan paru-paru 28,3% dan pneumonia 3,7%). Data Susenas tahun
2006 melaporkan bahwa keluhan kesehatan terkait gangguan saluran
pernapasan di DKI Jakarta merupakan keluhan kesehatan terbanyak
(52,20%) diikuti oleh keluhan pilek (49,70%). Laju pertumbuhan
penduduk dan laju urbanisasi yang tinggi di Provinsi DKI Jakarta
memungkinkan kegiatan manusia utamanya di sektor transportasi yang
besar. Provinsi DKI Jakarta yang menerapkan kebijakan tersebut
diharapkan mampu mengelola kualitas udara. Namun, rekapitulasi data
ISPU di DKI Jakarta belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan.
Selain itu, peningkatan jumlah kendaraan bermotor semakin memperparah
kondisi udara di DKI Jakarta. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai
kendala yang berhubungan dengan implementasi kebijakan terkait
pengelolaan kualitas udara perkotaan.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Apa yang dimaksud system manajemen lingkungan?

1.2.2. Bagaimana system manajemen lingkungan : udara dalam ruangan?

1.2.3. Bagaimana sistem manajemen lingkungan : udara luar ruangan ?

1.3. Tujuan

1.3.1. Mengetahui sistem manajemen lingkungan.

1.3.2. Memahami sistem manajemen lingkungan : udara dalam ruangan.

1.3.3. Memahami sistem manajemen lingkungan : udara luar ruangan.


BAB II
ISI

2.1. SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN


Sistem Manajemen Lingkungan (SML) atau Environmental Management
System (EMS) merupakan dasar dari konsep 14000, yaitu suatu sistem untuk
mencapai pengelolaan lingkungan yang baik. Konsep EMS berkembang dari
British Standard, BS 7750, yang dikembangkan oleh British Standards Institution
pada tahun 1992.
Selanjutnya, sesuai dengan perkembangan yang ada, maka pembahasan
tentang EMS akan mengacu kepada skema EMS yang digambarkan oleh ISO seri
14000. Adapun prinsip-prinsip dan elemen-elemen dalam menyusun suatu sistem
manajemen lingkungan mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Commitment and Policy
2. Planning
3. Implementation
4. Measurement and evaluation
5. Review and Improvement

ISO 14000 menyebutkan bahwa pelaksanaan prinsip (principle) tersebut dalam


menyusun suatu EMS harus ditempuh dengan membuat dan menset
langkahlangkah melalui elemen sebagai berikut:
1. COMMITMENT AND POLICY
Top Management Commitment and Leadership
Initial Environmental Review
Environmental Policy
2. PLANNING
Identification of Environmental Aspects and Evaluation of Associated
Environmental Impacts
Legal Requirements
Internal Performance Criteria
Environmental Objectives and Targets
Environmental Management Program
3. IMPLEMENTATION
Ensure Capability
Resource-Human, Physical, and Financial
Environmental Management System Alignment and Integration
Accountability and Responsibility
Environmental Awareness and Motivation
Knowledge, Skill and Training
Support Action
Communication and Reporting
Environmental Management System Documentation
Operational Control
Emergency Preparedness and Response
4. MEASUREMENT AND EVALUATION
Measure and Monitoring (Ongoing Performance)
Corrective and Preventive Action
Environmental Management System Records and Information
Management
Audit of the EMS
5. REVIEW AND IMPROVEMENT
Review of EMS
Continual Improvement

Sistem Manajemen Lingkungan menurut ISO 14000 adalah bagian dari


keseluruihan sistem manajemen yang meliputi struktur organisasi, perencanaan
kegiatan, pertanggungjawaban, praktek, tatalaksana, proses dan sumberdaya untuk
pengembangan, penerapan, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan lingkungan.
Sistem Manajemen Lingkungan (Sistem Pengelolaan Kualitas Lingkungan)
menurut Undang-undang No 23/1997 adalah upaya terpadu untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian
lingkungan hidup.
Berdasarkan pengalaman dan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan
lingkungan selama ini, dipandang perlu untuk menyusun suatu sistem pengelolaan
lingkungan yang memberikan sarana lebih terstruktur bagi manajemen organisasi
dalam mencapai tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungannya. Sistem
manajemen lingkungan meliputi segenap aspek fungsional manajemen untuk
mengembangkan, mencapai, dan menjaga kebijakan dan tujuan organisasi dalam
isu-isu lingkungan hidup.
Sistem Manajemen Lingkungan memberikan mekanisme untuk mencapai
dan menunjukan performansi lingkungan yang baik, melalui upaya pengendalian
dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa. Sistem tersebut juga dapat
digunakan untuk mengantisipasi perkembangan tuntutan peningkatan kinerja
lingkungan dari konsumen, serta untuk memenuhi persyaratan peraturan
lingkungan hidup dari Pemerintah.
Dalam penerapannya, pengelolaan kualitas lingkungan harus mengacu pada
suatu acuan yang dapat diterima secara internasional maupun nasional. Agar dapat
diimplementasikan secara efektif, sistem ini harus mencakup beberapa elemen
utama sebagai berikut :
Kebijakan Lingkungan : pernyataan tentang maksud kegiatan manajemen
lingkungan dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk mencapainya.
Perencanaan : mencakup identifikasi aspek lingkungan dan persyaratan
peraturan lingkungan hidup yang bersesuaian, penentuan tujuan pencapaian
dan program pengelolaan lingkungan.
Implementasi : mencakup struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab,
training komunikasi, dokumentasi, kontrol dan tanggap darurat.
Perbaikan reguler dan tindakan perbaikan : mencakup pemantauan,
pengukuran, dan audit.
Kajian Manajemen : kajian tentang kesesuaian dan efektifitas sistem untuk
mencapai tujuan dan perubahan yang terjadi di luar organisasi.
Setiap organisasi, tanpa batasan bidang kegiatan, jenis kegiatan, dan status
organisasi, dapat mengimplementasikan Sistem Manajemen Lingkungan tersebut
untuk mencapai kinerja lingkungan yang lebih baik secara sistematis.
Implementasi tersebut bersifat sukarela dan berperan sebagai alat manajemen
untuk mengelola organisasi masing-masing.

2.2 MANAJEMEN UDARA LUAR RUANGAN (OUTDOOR)

Proses manajemen lingkungan khusus nya udara luar ruangan didasarkan


pada model Sistem Manajemen Lingkungan yaitu P-D-C-A, yang kemudian
menghubungkan dengan elemen-elemen yang terdapat dalam ISO 14001.

Adapun manajemen lingkungan udara luar ruangan yang sesuai dengan


elemen dalam ISO 14001 tersebut adalah sebagai berikut :

2.2.1. Kebijakan Lingkungan

Pernyataan tentang maksud kegiatan manajemen lingkungan dan prinsip-


prinsip yang digunakan untuk mencapainya.

Sebagai contoh diambil ruang lingkup kebijakan dan peraturan daerah yang
ada di DKI Jakarta. Peraturan terkait kebijakan pengelolaan kualitas udara
perkotaan mengacu pada PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara.

Selain itu juga ada peraturan pemerintah daerah diantaranya adalah Peraturan
Daerah No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara di Jakarta,
serta peraturan teknis di bawahnya seperti Peraturan Gubernur No. 92 Tahun 2007
tentang Uji Emisi dan Perawatan Kendaraan Bermotor, Peraturan Gubernur No.
31 Tahun 2008 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor,
Peraturan Gubernur No. 141 Tahun 2007 tentang Penggunaan BBG untuk
Angkutan Umum dan Kendaraan Operasional Pemerintah Daerah dan Instruksi
Gubernur No. 93 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan HBKB.

2.2.2. Perencanaan
Mencakup identifikasi aspek lingkungan dan persyaratan peraturan
lingkungan hidup yang bersesuaian, penentuan tujuan pencapaian dan program
pengelolaan lingkungan.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang tentang


pengendalian pencemaran udara, udara ambien adalah udara bebas dipermukaan
burni pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik
Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk
hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Adanya kegiatan makhluk hidup
menyebabkan komposisi udara alami berubah. Jika perubahan komposisi udara
alami melebihi konsentrasi tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat
memenuhi fungsinya, maka udara tersebut dikatakan telah tercemar.
Dalam upaya menjaga mutu udara ambien agar dapat memberikan daya
dukung bagi makhluk hidup untuk hidup secara optimal, maka dilakukan
pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan mutu
udara.
Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi
dan/atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegiatan manusia, sehingga
mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara
ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. Pencemaran udara dewasa ini semakin
memprihatinkan, seiring dengan semakin meningkatnya kegiatan transportasi,
industri, perkantoran, dan perumahan yang memberikan kontribusi cukup besar
terhadap pencemaran udara. Udara yang tercemar dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, terutama gangguan pada organ paru-paru, pembuluh darah, dan iritasi
mata dan kulit.
Pencemaran udara karena partikel debu dapat menyebabkan penyakit
pernapasan kronis seperti bronchitis, emfiesma paru, asma bronchial dan bahkan
kanker paru. Pencemar udara yang berupa gas dapat langsung masuk ke dalam
tubuh sampai paru-paru dan diserap oleh sistem peredaran darah.
Indikator Kualitas Udara

Untuk mencegah terjadinya pencemaran udara serta terjaganya mutu udara,


maka pemerintah menetapkan Baku Mutu Udara Ambien Nasional yang terlampir
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999, sebagai berikut:

Tabel 2.1 Baku Mutu Udara Ambien


1. Sulfur Dioksida (SO2)

Pencemaran udara oleh sulfur oksida (SOx) terutama disebabkan oleh dua
komponen gas oksida sulfur yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan
sulfur trioksida (SO3). SO2 mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak
mudah terbakar di udara, sedangkan SO3 adalah gas yang tidak reaktif.
Pencemaran SOx menyebabkan iritasi sistem pernafasan dan iritasi mata, serta
berbahaya terhadap kesehatan manula dan penderita penyakit sistem pernafasan
kardiovaskular kronis. Selain berpengaruh terhadap kesehatan manusia,
pencemaran SOx juga berbahaya bagi kesehatan hewan dan dapat merusak
tanaman.

SO2 adalah kontributor utama hujan asam. Setelah berada di atmosfir, SO2
mengalami konversi menjadi SO3 yang kemudian menjadi H2SO4. Pada malam
hari atau kondisi lembab atau selama hujan, SO2 di udara diabsorpsi oleh droplet
air alkalin dan membentuk sulfat di dalam droplet. Pembakaran bahan bakar fosil,
seperti minyak bumi dan batubara serta bahan-bahan lain yang mengandung sulfur
akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida; SO2 selalu terbentuk dalam
jumlah besar, sementara SO3 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari
total SOx.
2. Nitrogen Dioksida (NO2)
Nitrogen dioksida (NO2) dan nitrogen monoksida (NO) adalah kelompok
oksida nitrogen (NOx) yang paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar
udara. NO merupakan gas yang tidak berbau dan tidak berwarna, sedangkan NO2
berbau tajam dan berwarna coklat kemerahan. Oksida nitrogen seperti NO dan
NO2 berbahaya bagi manusia. NO2 bersifat racun, terutama menyerang paru-
paru, yaitu mengakibatkan kesulitan bernafas pada penderita asma, batuk-batuk
pada anak-anak dan orang tua, dan berbagai gangguan sistem pernafasan, serta
menurunkan visibilitas.
Oksida nitrogen juga merupakan kontributor utama smog dan deposisi asam.
Nitrogen oksida bereaksi dengan senyawa organik volatil membentuk ozon dan
oksidan lainnya seperti peroksiasetilnitrat (PAN) di dalam smog fotokimia, dan
dengan air hujan menghasilkan asam nitrat dan menyebabkan hujan asam.
Deposisi asam basah (hujan asam) dan kering (bila gas NOx membentuk partikel
aerosol nitrat dan terdeposisi ke permukaan bumi) dapat membahayakan tanaman,
pertanian, ekosistem perairan dan hutan. Hujan asam dapat mengalir memasuki
danau dan sungai lalu melepaskan logam berat dari tanah serta mengubah
komposisi kimia air. Hal ini pada akhirnya dapat menurunkan dan bahkan
memusnahkan kehidupan air.
3. Oksidan (O3)
Oksidan merupakan senyawa yang memiliki sifat mengoksidasi, pengaruhnya
terhadap kesehatan adalah mengganggu proses pernafasan dan dapat
menyebabkan iritasi mata. Selain menyebabkan dampak yang merugikan pada
kesehatan manusia, pencemar ozon dapat menyebabkan kerugian ekonomi akibat
ausnya bahan atau material (tekstil, karet, kayu, logam, cat, dsb), penurunan hasil
pertanian dan kerusakan ekosistem seperti berkurangnya keanekaragaman hayati.
Oksidan di udara meliputi ozon (lebih dari 90%), nitrogen dioksida, dan
peroksiasetilnitrat (PAN). Karena sebagian besar oksidan adalah ozon, maka
monitoring udara ambien dinyatakan sebagai kadar ozon.
4. Partikulat
Partikulat adalah padatan ataupun likuid di udara dalam bentuk asap, debu dan
uap yang berdiameter sangat kecil (mulai dari <1 mikron sampai dengan 500
mikron), yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama. Disamping
mengganggu estetika, partikel berukuran kecil di udara dapat terhisap ke ke dalam
sistem pernafasan dan menyebabkan penyakit gangguan pernafasan dan
kerusakan paru-paru. Partikel yang terhisap ke dalam sistem pernafasan akan
disisihkan tergantung dari diameternya. Partikel berukuran besar akan tertahan
pada saluran pernafasan atas, sedangkan partikel kecil yang dapat terhirup
(inhalable) akan masuk ke paru-paru dan bertahan di dalam tubuh dalam waktu
yang lama. Partikel inhalable adalah partikel dengan diameter di
bawah 10 m (PM10). PM10 diketahui dapat meningkatkan angka kematian yang
disebabkan oleh penyakit jantung dan pernafasan, pada konsentrasi 140 g/m3
dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi
350 g/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis. Toksisitas dari
partikel inhalable tergantung dari komposisinya
Partikel inhalable juga dapat merupakan partikulat sekunder, yaitu partikel
yang terbentuk di atmosfer dari gas-gas hasil pembakaran yang mengalami reaksi
fisik-kimia di atmosfer, misalnya partikel sulfat dan nitrat yang terbentuk dari gas
SO2 dan NOx. Umumnya partikel sekunder berukuran 2,5 mikron atau kurang.
Proporsi mayor dari PM 2,5 adalah amonium nitrat, ammonium sulfat, natrium
nitrat dan karbon organik sekunder. Partikel-partikel ini terbentuk di atmosfer
dengan reaksi yang lambat sehingga sering ditemukan sebagai pencemar udara
lintas batas yang ditransportasikan oleh pergerakan angin ke tempat yang jauh dari
sumbernya. Partikel sekunder PM2,5 dapat menyebabkan dampak yang lebih
berbahaya terhadap kesehatan bukan saja karena ukurannya yang memungkinkan
untuk terhisap dan masuk lebih dalam ke dalam sistem pernafasan tetapi juga
karena sifat kimiawinya.
Partikel sulfat dan nitrat yang inhalable serta bersifat asam akan bereaksi
langsung di dalam sistem pernafasan, menimbulkan dampak yang lebih berbahaya
daripada partikel kecil yang tidak bersifat asam. Partikel logam berat dan yang
mengandung senyawa karbon dapat mempunyai efek karsinogenik, atau menjadi
carrier pencemar toksik lain yang berupa gas atau semi-gas karena menempel
pada permukaannya. Termasuk ke dalam partikel inhalable adalah partikel Pb
yang diemisikan dari gas buang kendaraan bermotor yang menggunakan bahan
bakar mengandung Pb. Timbal adalah pencemar yang diemisikan dari kendaraan
bermotor dalam bentuk partikel halus berukuran lebih kecil dari 10 dan 2,5
mikrometer.
Partikulat juga merupakan sumber utama haze (kabut asap) yang menurunkan
visibilitas.
5. Timbal (Pb)
Sebagian besar pencemaran Pb di udara berasal dari senyawa Pb organik,
seperti Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil yang terdapat pada bensin. Hampir semua
Pb-tetraetil diubah menjadi Pb organik dalam proses pembakaran bahan bakar
bermotor dan dilepaskan ke udara. Selain dari kendaraan bermotor, pencemaran
Pb dapat berasal dari penambangan dan peleburan batuan Pb, peleburan Pb
sekunder, penyulingan dan industri senyawa dan barang-barang yang mengandung
Pb, serta incinerator.
Senyawa Pb organik bersifat neurotoksik. Gangguan kesehatan yang
ditimbulkan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein
yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan
haemoglobin. Timbal dapat menyebabkan kerusakan system syaraf dan masalah
pencernaan; sedangkan berbagai bahan kimia yang mengandung timbal dapat
menyebabkan kanker.
6. Partikel 2.5 dan 10
Berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi PM10 dan PM2.5. Particulate
yang berukuran 10 mikron atau kurang disebut sebagai PM10 dan kurang dari
2.5mikrom adalah PM 2.5. PM dipelajari secara khusus karena ukurannya yang
kecil mudah terhisap saat bernafas dan menimbulkan pengaruh terhadap
kesehatan. Chow, C Judith dari US Environmental Protection Agency
mengidentifikasi sumber-sumber particulate antara lain debu dari jalan dan tanah;
pembakaran biomassa, gas buang kendaraan bermotor, pembakaran dan debu dari
kegiatan konstruksi.
Umumnya partikel sekunder berukuran 2,5 mikron atau kurang. Proporsi
mayor dari PM 2,5 adalah amonium nitrat, ammonium sulfat, natrium nitrat dan
karbon organik sekunder. Partikel-partikel ini terbentuk di atmosfer dengan reaksi
yang lambat sehingga sering ditemukan sebagai pencemar udara lintas batas yang
ditransportasikan oleh pergerakan angin ke tempat yang jauh dari sumbernya.
Partikel sekunder PM 2,5 dapat menyebabkan dampak yang lebih berbahaya
terhadap kesehatan bukan saja karena ukurannya yang memungkinkan untuk
terhisap dan masuk lebih dalam ke dalam sistem pernafasan tetapi juga karena
sifat kimiawinya.
7. Karbon Monoksida (CO)
Gas Karbon monoksida adalah sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa dan tidak mudah larut dalam air, beracun dan berbahaya. Zat gas CO
ini akan mengganggu pengikatan oksigen pada darah karena CO lebih mudah
terikat oleh darah dibandingkan dengan oksigen dan gas-gas lainnya. Pada kasus
darah yang tercemar karbon monoksida dalam kadar 70% hingga 80% dapat
menyebabkan kematian pada orang.
Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi
sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia. Karbon monoksida yang berasal
dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran
hutan dan badai listrik alam. Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor,
terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi, jumlah
CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta Ton per tahun. Separuh
dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bakan bakar
bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran
batubara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik.
Karbon monoksida, CO, dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari
bahan bakar yang mengandung karbon dan oleh pembakaran pada tekanan dan
suhu tinggi yang terjadi pada mesin. Karbon monoksida dapat juga dihasilkan
dari reaksi oksidasi gas metana oleh radikal hidroksi dan dari
perombakan/pembusukan tanaman meskipun tidak sebensar yang dihasilkan oleh
bensin. Pada jam-jam sibuk di daerah perkotaan konsentrasi gas CO bisa
mencapai 50 -100 ppm.
Tingkat kandungan CO di atmosfir berkorelasi positip dengan padatnya lalu
lintas, tetapi korelasi negatif dengan kecepatan angin.Keberadaan atau umur gas
CO di atmosfir tidak lama hanya kira-kira 4 bulan. Hal ini terjadi karena karbon
monoksida di atmosfir dihilangkan melalui reaksi dengan radikal hidroksil, HO*.
Pencemaran udara dapat memberikan dampak negatif bagi makhluk hidup,
manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kebakaran hutan dan gunung api yang
meletus menyebabkan banyak hewan yang kehilangan tempat berlindung, banyak
hewan dan tumbuhan mati bahkan punah.
Gas-gas oksida belerang (SO2 dan SO3) bereaksi dengan uap air, dan air
hujan dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak gedung-
gedung, jembatan, patung-patung sehingga mengakibatkan tumbuhan mati atau
tidak bisa tumbuh. Gas karbon monoksida bila terhisap masuk ke dalam paru-paru
bereaksi dengan haemoglobin menyebabkan terjadinya keracunan darah dan
masih banyak lagi dampak negatif yang disebabkan oleh pencemaran udara.Asap
tebal dari hasil kebakaran hutan ini sangat merugikan, baik dalam segi ekonomi,
transportasi (udara, darat dan laut) dan kesehatan. Akibat asap tebal tersebut
menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan akan terjadi
tabrakan. Selain itu asap itu merugikan kesehatan yaitu menyebabkan sakit mata,
radang tenggorokan, radang paru-paru dan sakit kulit. Pencemaran udara lainnya
berasal dari limbah berupa asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar
kedaraan bermotor dan limbah asap dari industri.
Untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran udara dapat dilakukan
beberapa usaha antara lain: mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan
bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida dan diusahakan pula
agar pembakaran yang terjadi berlangsung secara sempurna, selain itu
pengolahan/daur ulang atau penyaringan limbah asap industri, penghijauan untuk
melangsungkan proses fotosintesis (taman bertindak sebagai paru-paru kota), dan
tidak melakukan pembakaran hutan secara sembarangan, serta melakukan
reboisasi/penanaman kembali pohonpohon pengganti yang penting adalah untuk
membuka lahan tidak dilakukan pembakaran hutan, melainkan dengan cara
mekanik.
Program Pengendalian Kualitas Udara
Dalam kaitan dengan hal tersebut diatas maka dalam rangka mengurangi
dampak pencemaran udara di DKI Jakarta, disusun beberapa program yang
dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2012 diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Program pemantauan kualitas udara ambien.
2. Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB)
3. Uji Emisi dan Perawatan Bermotor
4. Kawasan Dilarang Merokok (KDM)
5. Penerapan Kawasan Parkir Berstiker Lulus Uji Emisi
6. Pemberlakuan Pajak Progresif
Selain program yang telah diberlakukan sejak tahun 2012 sebagai upaya dalam
mengurangi pencemaran udara di provinsi DKI Jakarta, maka pemerintah DKI
Jakarta juga melakukan upaya pengurangan pencemaran udara pada tahun 2013
diantaranya adalah :

1. Pembangunan jalan laying (flyover) dan terowongan (underpass) di 12 titik.

2. Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).

3. Pemberlakuan system jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP).

4. Memberlakukan rekayasa pengalihan arus lalu lintas (contraflow) di ruas tol


dalam kota.

5. Peremajaan kendaraan roda tiga dari kendaraan yang menggunakan bahan


bakar premium menjadi kendaran berbahan bakar gas.

2.2.3. Implementasi
Mencakup struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab, training
komunikasi, dokumentasi, kontrol dan tanggap darurat.
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu aspek yang dibutuhkan
dalam proses melaksanakan system manajemen lingkungan khususnya
manajemen kualitas udara luar ruangan (outdoor). Guna melaksanakan fungsi
tersebut maka dibentuklah badan badan yang mengakomodir pihak pihak yang
berkempentingan (stakeholder) sehingga dapat melaksanakan program yang telah
disusun sesuai dengan tugas dan fungsi nya. Adapun pihak pihak yang terlibat
dalam upaya manajemen lingkungan khususnya kualitas udara di DKI Jakarta
adalah DPR DKI Jakarta Komisi Lingkungan, Pemerintah Daerah Provinsi DKI
Jakarta Bagian Peraturan Daerah (Perda), BPLHD Provinsi DKI Jakarta Bidang
Pengendalian Pencemaran Udara, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Bidang
Penyehatan Lingkungan, dan Bapedal DKI Jakarta.

Instansi Penanggung Jawab


Dalam skala nasional terdapat dua lembaga negara yang 'bertanggung
jawab' di sektor pengelolaan lingkungan khususnya yang ditugaskan dalam
pengendalian pencemaran udara yaitu Kementrian Negara Lingkungan Hidup
(MNLH) dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). Menteri
Negara Lingkungan Hidup statusnya sebagai Menteri Negara yang hanya
mempunyai wewenang ditingkat pusat. Sementara BAPEDAL adalah lembaga
yang mempunyai kewenangan yang sangat luas yaitu 'mengendalikan dampak
lingkungan'. Sesuai dengan Keputusan Presiden RI nomor 10 tahun 2000 tentang
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Bagian yang mengelola pengendalian
pencemaran lingkungan termasuk pengendalian pencemaran udara adalah Deputi
Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan tugas dan fungsi adalah :
Tugas : Membantu Kepala dalam menyelenggarakan pengendalian
pencemaran air dan udara serta pengelolaan limbah dan bahan berbahaya dan
beracun.
Fungsi:
1. Perumusan kebijakan di bidang pengendalian pencemaran air dan udara,
pengelolaan limbah dan B3 dan pemulihan kualitas lingkungan hidup;
2. Pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pengawasan, dan evaluasi terhadap
pencemaran lingkungan hidup sebagai akibat kegiatan tertentu yang berupa
pencemaran air, udara, serta pengelolaan limbah dan B3;
3. Pengkoordinasian pelaksanaan pengendalian pencemaran lingkungan hidup
serta pengelolaan limbah dan B3;
4. Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan Kepala sesuai dengan bidang tugasnya
Walaupun tugas dan fungsi Deputi Bidang ini fokus pada pengendalian
Pencemaran Lingkungan diantaranya pencemaran udara, dalam operasionalnya
tetap bekerja sama dan berkoordinasi secara internal dengan deputi-deputi yang
lain yaitu Deputi Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, Sumber Daya
Manusia, dan Mitra Lingkungan, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan
Lingkungan, Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. Juga atas BAPEDAL
bekerja sama dan berkoordinasi secara eksternal dengan instansi dan lembaga-
lembaga lain.
Oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang mengkoordinir BAPEDAL juga
telah merumuskan visi dan misinya, strategi, program utama dan pendukung, dan
kebijakan dalam bidang pencemaran udara, namun visi dan misi ini tertuang
dalam bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang telah ditetapkan dalam
propenas dan juga tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2005 tentang
RPJMN tahun 2004-2009.
Guna mencapai tujuan dari proses manajemen lingkungan khususnya
manajemen kualitas udara luar ruangan (outdoor) maka setiap program harus
dilaksanakan sesaui dengan rencana dan luaran yang sudah disusun. Adapun
pelaksanaan program pengendalian kualitas udara yang telah dilakukan oleh
pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB)
Sejak tahun 2002, DKI Jakarta menyelenggarakan Car Free Day yang digagas
oleh koalisi LSM Lingkungan (AEB, MEB, GPUB, Instran, Bike To Work,
Walhi, KPBB, Swisscontract Indonesia, Green Club International, KIH
Jakarta, STMTTrisakti, dan Yayasan Pelangi Indonesia), dan dilaksanakan di
koridor Sudirman MH Thamrin dengan penutupan jalan selama 6 jam dari
jam 06.00 12.00 WIB.
2. Uji Emisi dan Perawatan Kendaraan Bermotor
Dengan peraturan daerah nomor 2 tahun 2005 tentang pengendalian
pencemaran udara dan peraturan gubernur provinsi DKI Jakarta Nomor 92
tahun 2007 tentang Uji Emisi dan Perawatan Kendaraan Bermotor maka
dilaksanakan kegiatan uji emisi. Selain melakukan uji emisi dilapangan,
pemerintah provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan bengkel layanan uji emisi
di seluruh wilayah DKI Jakarta.
3. Penerapan Kawasan dilarang merokok
Pelaksanaan penegakan hukum kawasan dilarang merokok mulai digelar sejak
tahun 2009 ini sebagai implementasi Perda 2/ 2005 tentang pengendalian
pencemaran udara dan pergub 75/ 2005 tentang kawasan dilarang merokok
(KDM). Sejak diundangkan Pergub nomor 88 tahun 2010 tentang perubahan
atas peraturan gubernur nomor 75 tahun 2005 tentang kawasan dilarang
merokok pada tanggal 6 Mei 2010, serangkaian aktivitas sosialisasi,
koordinasi, pemantauan dan penindaklanjutan terhadap laporan pengaduan
masyarakat telah dilakukan oleh BPLHD Provinsi DKI Jakarta bersama SKPD
teknis lainnya untuk mewujudkan ibukota Jakarta yang bebas asap rokok.
4. Penerapan Kawasan Parkir Berstiker Lulus Uji Emisi
Langkah yang dilakukan dalam rangka mengedukasi dan mensosialisasikan
kepada masyarakat adalah pelaksanaan uji petik di 5 (lima) kantor walikota,
uji emisi teguran simpatik di jalan raya di 5 (lima) wilayah kota, dan uji emisi
di kawasan kawasan komersial, seperti mal, kawasan industry, dan
penerapan kawasan parker wajib berstiker di 25 kawasan.
5. Pemberlakuan pajak progresif
Pemerintah DKI Jakarta akan segera memberlakukan pajak progresif
kendaraan bermotor, pajak yang besarannya bervariasi dar 1,5 persen hingga 4
persen berlaku bagi kendaraan milik perorangan atau badan huum dan
kebijaksanaan ini berlaku efektif pada 1 Januari 2011. Tujuannya adalah
sebagai salah satu instrument guna mengendalikan jumlah kendaraan bermotor
dan mengatasi kemacetan di wilayah DKI Jakarta.

2.2.4. Pengukuran dan Evaluasi


Dalam tahap ini encakup pemantauan, pengukuran, dan audit. Hal tersebut
dilakukan sebagai cara guna mengetahui efektivitas penerapan program yang
sebelumnya sudah disusun.
Mendokumentasikan prosedur untuk mengevaluasi peraturan-peraturan, produk
kegiatan atau layanan. Prosedur meliputi langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan
mendokumentasikan persyaratan peraturan yang relevan dan mematuhi dengan
kegiatan yang seperti itu, produk atau jasa harus.
Audit sebaiknya dilakukan pada jangka waktu yang direncanakan untuk
menentukan dan menyediakan informasi kepada manajemen mengenai apakah sistem
sesuai dengan rencana yang telah dibuat serta telah dilaksanakan dan dipelihara
sebagaimana mestinya.
Proses pemantauan dan pengukuran kualitas udara di wilayah DKI Jakarta
dilakukan dengan 2 metode dan dilakukan di beberapa titik yaitu :
Lokasi Pemantauan Kualitas Udara Ambien
Pemantauan kualitas udara ambien pada tahun 2013 dilakukan di lima
wilayah DKI Jakarta dengan metode sesaat yang menggunakan peralatan manual
dengan lokasi pemantauan adalah kawasan JIEP,Teber Barat, Kuningan, Istiqlal,
KBN Cakung Cilincing, Ancol Pegadungan dan Ciracas.
Sedangkan untuk pemantauan dengan metode kontinyu yang
menggunakan peralatan otomatis untuk tahun 2013 dilakukan pada 5 lokasi
pantau yaitu DKI 1 (Bundaran Hotel Indonesia) yang mewakili peruntukan
roadside, DKI 2 (Kelapagading) yang mewakili peruntukan komersil, DKI 3
(Jagakarsa) yang mewakili peruntukan pemukiman, DKI 4 (Lubang Buaya) yang
mewakili peruntukan campuran dan DKI 5 (Jakarta Barat).

2.2.5. Review and Improvement


Merupakan kajian tentang kesesuaian dan efektifitas sistem untuk mencapai
tujuan dan perubahan yang terjadi di luar organisasi.
Organisasi secara berkala meninjau dan melakukan perbaikan sistem
manajemen lingkungannya secara berkelanjutan dengan tujuan untuk memperbaiki
kinerja lingkungannya secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Arsad Rahim. (2007). Kajian Pustaka Kebijakan Pencemaran Udara di


Indonesia. Polewali Mandar : Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar.

Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (2013). Laporan Status


Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013. Jakarta :
Pemerintah Derah DKI Jakarta.

Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (2013). Laporan


Pemantauan Kualitas Udara Tahun 2013. Oktober 24, 2015.
blh.bantulkab.go.id/.../Buku%20Kualitas%20Udara%2...

Pujotomo D dan Subekhi A Y. 2011. Analisa Sistem Manajemen Lingkungan di


PT. Janata Marina Indah Semarang Berdasarkan ISO 14001. 10 (1): 5-10.

SNI 19-14001-2005, Sistem Manajemen Lingkungan Persyaratan dan Panduan


Penggunaan. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

SNI 19-14004-2005, Sistem manajemen lingkungan Panduan UmumPrinsip,


Sistem dan Teknik Pendukung. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

Zainuddin, Andi Alfian. (2010). Kebijakan Pengelolaan Kualitas Udara Terkait


Transportasi di Provinsi DKI Jakarta. Depok : Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional.