Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang

Streptococcus adalah bakteri spheris Gram positif yang khasnya


berpasangan atau membentuk rantai selama pertumbuhannya. Beberapa
kelompok streptococcus adalah flora normal manusia. Streptococcus
menghasilkan berbagai enzim dan substansi ekstraseluler.

Streptococcus merupakan kelompok bakteri yang heterogen, dan tidak


ada sistem yang dapat mengklasifikasikannya. Dua puluh spesies, termasuk
Streptococcus pyogenes (Grup A), Streptococcus agalactie (Grup B), dan
Enterococci (Grup D) memiliki ciri-ciri dengan kombinasi gambaran: sifat
pertumbuhan koloni, pola hemolisis pada agar darah ( hemolisis, hemolisis,
atau tidak ada hemolisis), komposisi antigenik pada substansi dinding sel grup-
spesifik, dan reaksi biokimia.

II. TUJUAN

Untuk melengkapi salah satu tugas kuliah Bakteriologi teori dan sumber
ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Streptococcus Sp. 1
BAB II
PEMBAHASAN
STREPTOCOCCUS

II. 1 KLASIFIKASI

Divisio : Procaryotae
Class : Schyzomycetes
Ordo : Eubacteriales
Famili : Lactobacillaceae
Tribus : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Spesies : Streptococcus pyogenes
Streptococcus viridans
Streptococcus haemolyticus
Streptococcus faecalis
Streptococcus pneumoniae
Streptococcus agalactiae dll.

Streptococcus juga dapat dibagi atau diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Alfa streptococcus (viridans streptococcus)
Menghasilkan alfa hemolisin.atau ditanam dalam kaldu (air daging) darah tidak
mengadakan hemolisa eritrositnya mengendap dan warnanya hijau dikelilingi tepi
transparan.

2. Streptococcus hemolitikus
Kalau ditanam di media daging darah akan melisiskan eritrosit yang ada pada
dasar tabung sehingga warna seluruh media menjadi merah. Pada agar darah
membentuk daerah yang jernih tidak berwarna di sekitar koloninya , akibatnya
hemolisa sempurna dari eritrosit.

Streptococcus Sp. 2
3. Streptococcus indifferent
Pada media agar darah tidak menandakan perubahan apa-apa.disini tidak terjadi
hemolisa eritrosit,karna tidak mampu menghemolisa.

4. Streptococcus faecales
Terdapat sebagai flora normal pada usus (trakttus intestinalis) binatang dapat
mengadakan menghemolisa darah akan menjadi pathogen kalau masuk jaringan
tubuh.

Streptococcus Sp. 3
II. 2 MORFOLOGI
A. Ciri khas organisme:
Bentuk : Coccus/ bulat
Susunan : Seperti rantai. Formasi panjang banyak di temukan
pada biakan cair, atau bahan dari pus. Dalam biakan
padat formasi pendek.
Tumbuh : Aerob. Fakultatif anaerob, Obligat anaerob.
Media : Harus subur (mengandung protein), pada media agar
tidak tumbuh atau tumbuhnya kerdil.
Ukuran : 0,5 1 mikron. Komensal pada kulit manusia.

Pembagian streptococcus menurut :

I. SHERMAN: Berdasarkan temperature

No. Nama Pertumbuhan pada


10oc 45oc
1. Streptococcus pyogenes (betha) - -
2. Streptococcus viridans (alpha) - +
3. Streptococcus faecalis + -
4. Streptococcus lactis + +

II. Schot Muller & Brown : Berdasarkan reaksi terhadap darah

No. Reaksi pada agar/ bouillon darah Schot Muller Brown


1 Haemolysin Str. Haemolyticus - Streptococcus
2 Tidak ada reaksi/ anhaemolysin Str. Indiffirent - Streptococcus
3 Haemodigesti Str. Viridans - Streptococcus

III. Lancefield
Mengembangkan klasifikasi berdasarkan sifat antigenik yang ditentukan oleh
keberadaan karbohidrat C pada dinding sel bakteri. Pada saat ini pengelompokkan
didasarkan pada huruf abjad (A, B, C, D, dst)

Group Nama Tempat ditemukan Patogenitas


A Str. Pyogenes humanus Manusia Penyakit manusia
B Str. Agalactic Sapi Mastitis pada sapi
C 1. Str. Pyogenes animalis Kuda Penyakit ingusan pada kuda
2. Str. Equi Penyakit manusia
3. Str. Pyogenes Manusia
4. Str. Agalacticus
D 1. Enterococcus Faeces manusia dan Peny. Tractus dinitarius
2. Str. Faecalis hewan
3. Str. Glyceriniaceus Ada pada susu Colitis
4. Str. Liquifaciens Subacut
5. Str. Zymogens Endocarditis

II.3 SIFAT BIAKAN


Streptococcus Sp. 4
Pada umumnya Streptococcus sp. Tumbuh pada media padat yang diperkaya dengan
darah. Berdiameter 1-2 mm cembung, halus dan transparan. Streptococcus beta
haemolitikus membentuk hemolitik sempurna tampak jernih dengan lebar 2-5 mm.
Streptoccus viridans membentuk zona hemolitik tidak sempurna yaitu alfa hemolitik.
Streptococcus faecalis tidak membentuk zona penghambatan atau hemolitik.
Fermentasi terhadap gula- gula tidak membentuk gas, tidak larut dalam empedu serta
tes katalase negatif. (Jawez Ernest, 1996).
Energi terutama diperoleh dari penggunaan gula. Pertumbuhan streptococcus sp.
Cenderung subur pada perbenihan atau dalam kaldu kecuali diperkaya dengan darah.
Kebutuhan makanan bervariasi untuk setiap spesies.

II.4 SIFAT BIOKIMIA


Mikroorganisme dapat dipisahkan dan di identifikasi karena berbagai alasan yaitu:
1. Determinasi patogen yang bertanggung jawab terhadap penyakit menular.
2. Seleksi dan isolasi strain mikroorganisme fermetatif penting untuk industri penghasil
alkohol, pelarut, vitamin, asam organik, antibiotik, dan industryenzim.
3. Isolasi dan perkembangan strain mikroorganisme yang cocok untuk pabrikdan peningkatan
kualitas dan rasa dalam bahan-bahan makanan tertentuseperti yogurt, keju, produk susu.
4. Membandingkan aktifitas biokimia untuk kepentingan taksonomi. Untuk melakukan
kegiatan identifikasi tersebut, para ahli mikrobiologi dibantu oleh data tersebut, seperti
halnya manusia memiliki suatu karakteristik dan seperangkat sidik jari yang khas.
Mikroorganisme memiliki sifat tersebut untukmengidentifikasi karakteristik biokimianya.
Hal tersebut dinamakan sidik jari biokimia yang dikendalikan oleh aktivitas enzimatis
sel, dan kemampuan untuk menanggapi bioenergetik, biosintesis, dan biodegradasi.Jumlah
total semua reaksi kimia tersebut ditetapkan sebagai metabolisme sel,dan transformasi
biokimia yang terjadi diluar dan dalam sel serta dibangun olehkatalis biologi yang disebut
enzim. Hampir semua aktivitas biokimia dalam sel mikroorganisme melibatkan peran
katalis biologi enzim, terutama dalam reaksi reaksi reduksi dan oksidasi, hidrolisis,
transfer energi dll.
Salah satu jenis enzim yang berperan dalam metabolisme sel adalah eksoenzim.
Enzim ini bekerja pada substrat di luar sel. Terutama substrat yang mempunyai berat molekul
besar tidak dapat melewati membran sel, oleh karena itu molekul kompleks berupa
polisakarida, lemak, dan protein, harus dipecah menjadi bahan dengan berat molekul lebih
rendah sebelum dapat diangkut ke dalam sel. Karena melibatkan reaksi, eksoenzim sebagian
besar berperan sebagai enzim hidrolitik untuk mereduksi bahan yang memilki berat molekul
besar ke dalam
kompleks yang dibangunnya dengan memasukkan air ke dalam molekul. Molekul molekul
kecil yang terlepas kemudian diangkut kedalam sel dan diasimilasi (dicerna).
Jenis enzim lain adalah endoenzim. Enzim ini berfungsi di dalam sel, terutama bertanggung
jawab untuk sintesis protoplasma baru yang dibutuhkan dan menghasilkan energi seluler dari
bahan-bahan yang diasimilasi. Kemampuan seluntuk menyerap substrat nutrisi melalui
membran sel, menunjukkan adanya beberapa kemampuan endoenzim dalam mengubah
substrat kimia spesifik menjadi bahan bahan esensia

Streptococcus Sp. 5
II.5 Uji Biokimia Streptococcus
Uji biokimia meliputi reaksi peragian gula, tes untuk keberadaan enzim, dan tes-tes
untuk kepekaan atau resistensi terhadap zat-zat kimia tertentu. Uji biokimia paling sering
digunakan untuk mengklasifikasikan Streptococcus setelah pertumbuhan koloni dan sifat
khas hemolitik dilakukan. Uji biokimia digunakan untuk spesies yang secara khas tidak
bereaksi dengan antibodi yang umumnya digunakan untuk zat golongan spesifik, golongan
A, B, C, F, dan G. Sebagai contoh, Streptococcus viridan adalah hemolitik atau nonhemolitik
dan tidak bereaksi dengan antibodi yang umumnya digunakan untuk klasifikasi Lancefield.
Untuk menentukan spesies dari Streptococcus viridan memerlukan sederetan berbagai uji
biokimia.

Reaksi biokimia : reaksi kimia yang terjadi pada makluk hidup. Prosesnya dibedakan menjadi
2 yaitu :

1. Anabolisme (Biosisntesis)

Reaksi penyusunan molekul sederhana menjadi molekul komplek dan reaksi ini
membutuhkan energy.

Contoh : pembentukan protein dari asam amino

2. Katabolisme

Reaksi pembongkaran molekul kompleks menjadi molekul sederhana dan reaksi ini
melepaskan energy.

Penggolongan enzim yang dibutuhkan pada metabolisme bakteri:


Endoenzim :
- Bekerja dalam sel.
- Bersifat anabolic dan katabolic.
Eksoenzim :
- Enzim yang disekresikan keluar sel dan berdifusi keluar media.
- Bersifat hidrolitik ( menguraikan molekul komplek menjadi molekul sederhana
sehingga molekul ini dapat memasuki sel dan digunakan untuk kepentingan sel ).

Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia :


- Dapat dilihat dari interaksi metabolit yang dihasilkan dari reagen kimia.
- Kemampuan menggunakan senyawa tertentu sebagai sumber karbon dan energy

Catalase test

Streptococcus Sp. 6
Tujuan :
- Mendeteksi adanya deteksi enzim katalase pada bakteri.
- Membedakan bakteri anaerob obligat aerobik dan, sebagai anaerob umumnya
diketahui kekurangan enzim .
- uji katalase sangat berharga dalam membedakan strain aerotolerant dari
Clostridium, yang katalase negatif, dari Bacillus, yang katalase positif.
Prinsip :
Enzim katalase berfungsi untuk menetralisir efek bakterisidal hidrogen peroksida
.Enzim katalase jika kontak dengan hydrogen peroksida akan bereaksi melepaskan air
dan oksigen. Oksigen akan lepas membentuk gelembung cepat yang dapat diamati
( H2O2 + enzim katalase = H2O + O2 )

Cara kerja :
Setetes larutan H2O2 diletakkan diatas objek glass dan sedikit pertumbuhan bakteri
diletakkan larutan tersebut .

Gambar. 1. Slide katalase hasil tes. (Atas) Reaksi positif yang dihasilkan oleh
Staphylococcus aureus, (bawah) reaksi negatif yang dihasilkan oleh Streptococcus
pyogenes
Uji Catalase test positif timbul buih /gelembung ( genus Straphylococcus, Listeria
katalase, Corynebacterium diphtheriae, Burkholderia cepacia, Nocardia, Keluarga
Enterobacteriaceae (Citrobacter, E. Coli, Enterobacter, Klebsiella, Shigella, Yersinia,
Proteus, Salmonella, Serratia, Pseudomonas), Mycobacterium tuberculosis,
Aspergillus, dan kriptokokus. )

Uji Catalase test negative tidak timbul buih /gelembung


(Streptococcus,Lactobacillus, Clostridiumenterococci)

Oksidasi dan Tes Fermentasi Karbohidrat


Berikut ini beberapa jenis bakteri yang mampu melakukan fermentasi terhadap
karbohidrat serta hasil fermentasinya, adalah :
a) Fermentasi asam laktat : bakteri asam laktat (Streptococcus, Lactobacillus)
b) Fermentasi alkohol : Zygomonas, Saccharomycetes
c) Fermentasi asam propionate : bakteri asam propionate (Propionibacterium)
d) Fermentasi 2,3-butanadiol : Enterobacter, Serralia, Bacillus.

Streptococcus Sp. 7
e) Fermentasi asam campuran : bakteri enterik (Escherichia, Enterobacter, Salmonella,
Proteus)
f) Fermentasi asam butirat : Clostridium

Fermentasi dapat terjadi secara aerob / anaerob


Bakteri memakai karbohidrat (nutrisi ), terbentuk produk akhir gas dan asam
Metabolisme karbohidrat ( glukosa / laktosa ) ,hasilkan subtrat.
Bakteri memakai enzim pada fermentasi dan oksidasi kemungkinan gas tidak
terbentuk.
Proses Fermentasi asam ( perubahan warna ) dan gas ( terbentuk ruangan kosong
pada tabung durham )
Jika pada media terdapat indicator fenol red :perubahan warna merah (netral
/basa)kuning ( asam hasil fermentasi ).
Bila diinkubasi lebih dari 24 jam , terbentuk NH3 ( basa) menyebabkan suasana
menjadi netral ( berubah jadi merah fenol red ).

II.6 STRUKTUR ANTIGEN & SIFAT ANTIGENIK


ANTIGEN STREPTOCOCCUS

Streptococcus merupakan kelompok bakteri yang heterogen, dan tidak ada sistem
yang dapat mengklasifikasikannya. Dua puluh spesies, termasuk Streptococcus pyogenes
(Grup A), Streptococcus agalactie (Grup B), dan Enterococci (Grup D) memiliki ciri-ciri
dengan kombinasi gambaran: sifat pertumbuhan koloni, pola hemolisis pada agar darah (
hemolisis, hemolisis, atau tidak ada hemolisis), komposisi antigenik pada substansi dinding
sel grup-spesifik, dan reaksi biokimia. Tipe Streptococcus pneumoniae (pneumococcus)
diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan komposisi antigenik polisakarida kapsuler (Quellung
Tes).

Lebih dari 20 produk ekstraseluler antigen dihasilkan oleh Streptococcus grup A, diantaranya
adalah:

Streptokinase (fibrinolisin) dihasilkan oleh banyak strain Streptococcus -hemolitik


golongan A. Zat ini mengubah plasminogen pada plasma manusia menjadi plasmin, suatu
enzim proteolitik aktif yang menghancurkan fibrin dan protein-protein lain.

Streptodornase (deoksiribonuklease Streptococcus) menyebabkan depolimerisasi DNA.


Pada eksudat purulen, viskositasnya terutama karena deoksiribonukleoprotein. Campuran
streptodornase dan streptokinase digunakan pada debridemen enzimatik . Zat-zat ini
membantu mengencerkan eksudat dan mempermudah pembuangan nanah dan jaringan
nekrotik; dengan demikian obat-obat antimikroba dapat lebih mudah masuk, dan permukaan
yang terinfeksi lebih cepat sembuh.

Streptococcus Sp. 8
Hialuronidase adalah enzim yang memecah asam hialuronat. Hialuronidase bersifat
antigen dan spesifik bagi setiap bakteri atau jaringan. Hialuronidase digunakan untuk
pengobatan dalam mempermudah penyebaran dan absorbsi cairan yang disuntikkan dalam
tubuh.

Eksotoksin A C pirogenik (toksin eritrogenik) mudah larut dan mudah dirusak oleh
pendidihan selama 1 jam. Toksin ini menyebabkan ruam yang terdapat pada demam skarlet.

Difosfopiridin nukleotidase enzim yang dihubungkan dengan kemampuan organisme


untuk membunuh leukosit.

Hemolisyn: zat yang dapat menghemolisiskan darah merah.


- hemolisin : zat yang dapat menghemolisiskan darah merah.
hemolisin : zat yang bila terjadi perusakan eritrosit tidak sempurna dan hanya
mengeluarkan warna hijau (hemodigesti).
-hemolisin anhemolisa

S. pyogenes hemolitik golongan A mengeluarkan dua hemolisin (streptolisin) :

Streptolisin O adalah suatu protein (BM 60.000) yang aktif menghemolisis dalam
keadaan tereduksi (mempunyai gugus SH) tetapi cepat menjadi tidak aktif bila ada oksigen.
Streptolisin O bertanggung jawab untuk beberapa hemolisis yang terlihat ketika pertumbuhan
dipotong cukup dalam dan dimasukkan ke dalam biakan pada lempeng agar darah.
Streptolisin O bergabung dengan antistreptolisin O, suatu antibodi yang timbul pada
manusia setelah infeksi oleh setiap Streptococcus yang menghasilkan streptolisin O. Antibodi
ini menghambat hemolisis oleh streptolisin O. Fenomena ini merupakan dasar tes kuantitatif
untuk antibodi. Titer serum antistreptolisin O (ASO) yang melebihi 160 200 unit dianggap
abnormal dan menunjukan adanya infeksi Streptococcus yang baru saja terjadi atau adanya
kadar antibodi yang tetap tinggi setelah serangan infeksi pada orang yang hipersensitif.
Streptolisin S adalah zat penyebab timbulnya zone hemolitik di sekitar koloni
Streptococcus yang tumbuh pada permukaan lempeng agar darah. Streptolisin S bukan
antigen, tetapi zat ini dapat dihambat oleh penghambat nonspesifik yang sering ada dalam
serum manusia dan hewan dan tidak bergantung pada pengalaman masa lalu dengan
Streptococcus.

Beberapa Streptococcus mengeluarkan polisakarida simpai seperti yang ada pada


Pneumococcus. Sebagian besar selain golongan A, B, dan C membentuk simpai yang
tersusun atas asam hialuronat. Simpai tampak jelas pada biakan yang amat muda. Simpai ini
menghalangi fagositosis. Dinding sel Streptococcus mengandung protein (antigen M, T, R),
karbohidrat (spesifik untuk golongan), dan peptidoglikan (gambar 2-3). Pili seperti rambut
menonjol keluar menembus simpai Streptococcus golongan A. Pili tersebut sebagian terdiri
atas protein M dan ditutupi oleh asam lipoteikoat. Asam lipoteikoat sangat penting untuk
perlekatan Streptococcus pada sel epitel.

Streptococcus Sp. 9
Struktur Antigen
Streptococcus hemolitik dapat dibagi dalam beberapa golongan serologik (A U), dan
golongan-golongan tertentu dapat dibagi lagi menjadi beberapa tipe. Beberapa zat antigen
yang ditemukan:

1. Antigen dinding sel spesifik golongan


KARBOHIDRAT
Sebagai dasar penggolongan grup (dari gula amino)
Grup A : ramnosa asetil glukosamin
B : ramnosa glukosamin polisakarida
C : ramnosa-N asetilgalaktosamin
D : gliserol asam teikoat mengandung d-alanin dan glukosa
F : glukopiranosil-N-asetilgalaktosamin

Karbohidrat ini terdapat dalam dinding sel banyak Streptococcus dan merupakan
dasar penggolongan serologik (Golongan A U Lancefield). Ekstra dari antigen spesifik
golongan untuk penggolongan Streptococcus dapat dibuat dengan mengekstraksi biakan yang
dipusingkan dengan asam hidroklorida panas, asam nitrat, atau formamida; dengan lisis
enzimatik sel-sel Streptococcus (misalnya dengan pepsin atau tripsin); atau dengan
mengautoklafkan suspensi sel pada tekanan 15 lb selama 15 menit. Spesifisitas serologik dari
karbohidrat spesifik golongan ditentukan oleh gula amino.
Gula amino untuk Streptococcus golongan A adalah ramnosaNasetilglukosamin;
untuk golongan B adalah polisakarida ramnosa glukosamin; untuk golongan C adalah
ramnosaNasetilgalaktosamin; untuk golongan D adalah asam gliserol teikoat yang
mengandung Dalanin dan glukosa ; dan untuk golongan F adalah glukopiranosil an A.
Protein M nampak sebagai bentuk yang mirip rambut pada dinding sel Streptococcus. Ketika
protein M ditemukan, Streptococcus menjadi virulen, dan pada tidak adanya antibodi tipe M
spesifik, bakteri ini mampu menahan fagositosis oleh leukosit polimorfonuklir. Protein M
juga memudahkan perlekatan pada sel-sel epitel inang. Streptococcus golongan A yang tidak
memiliki protein M bukanlah suatu virulen. Imunitas terhadap infeksi oleh Streptococcus
golongan A berkaitan dengan kehadiran antibodi tipespesifik terhadap protein M. karena
terdapat lebih dari 80 jenis protein M, seseorang dapat mengalami infeksi berulang oleh S.
pyogenes golongan A dengan jenis M yang berbeda. Baik Streptococcus golongan C maupun
golongan G, memiliki gen-gen yang bersifat homolog terhadap gen untuk protein M dari
golongan A, dan protein M telah ditemukan pada Streptococcus golongan G.
Struktur dan fungsi yang khas dari protein M dipelajari secara luas. Molekul memiliki
struktur seperti batang yang melingkar-lingkar dan memisahkan bagian-bagian yang
fungsional. Struktur ini memungkinkan sejumlah besar perubahan urutan mengenai fungsi
pemeliharan, dan imunodeterminan protein M yang sekaligus dapat berubah juga. Terdapat
dua kelas struktur utama protein M, yaitu kelas I dan II.
Tampaknya protein M dan barangkali antigen lain dinding sel Streptococcus memiliki
cara kerja yang penting pada patogenesis demem reumatik. Selaput dinding sel Streptococcus

Streptococcus Sp. 10
yang dimurnikan memacu antibodi yang bereaksi dengan sarkolema jantung manusia; sifat-
sifat khas mengenai antigen yang bereaksi silang tidak jelas. Komponen dinding sel dari jenis
M yang telah diseleksi memacu antibodi yang bereaksi dengan jaringan otot jantung. Daerah
antigenik yang dilestarikan pada protein M kelas I bereaksi silang dengan otot jantung
manusia, dan protein M kelas I mungkin determinan yang virulen untuk demam reumatik.

2. PROTEIN M
* Faktor virulensi utama pada S. pyogenes grup A.
* lebih dari 80 tipe protein M.
* ada 2 kelas utama protein M (I dan II)
Antibodi terhadap M I bereaksi silang dengan jaringan otot jantung yang merupakan
determinan virulensi pada demam rematik.

Zat ini adalah faktor virulensi utama dari S. pyogenes golongan A. Protein M nampak
sebagai bentuk yang mirip rambut pada dinding sel Streptococcus. Ketika protein M
ditemukan, Streptococcus menjadi virulen, dan pada tidak adanya antibodi tipe Mspesifik,
bakteri ini mampu menahan fagositosis oleh leukosit polimorfonuklir. Protein M juga
memudahkan perlekatan pada sel-sel epitel inang. Streptococcus golongan A yang tidak
memiliki protein M bukanlah suatu virulen. Imunitas terhadap infeksi oleh Streptococcus
golongan A berkaitan dengan kehadiran antibodi tipespesifik terhadap protein M. karena
terdapat lebih dari 80 jenis protein M, seseorang dapat mengalami infeksi berulang oleh S.
pyogenes golongan A dengan jenis M yang berbeda. Baik Streptococcus golongan C maupun
golongan G, memiliki gen-gen yang bersifat homolog terhadap gen untuk protein M dari
golongan A, dan protein M telah ditemukan pada Streptococcus golongan G.
Struktur dan fungsi yang khas dari protein M dipelajari secara luas. Molekul memiliki
struktur seperti batang yang melingkar-lingkar dan memisahkan bagian-bagian yang
fungsional. Struktur ini memungkinkan sejumlah besar perubahan urutan mengenai fungsi
pemeliharan, dan imunodeterminan protein M yang sekaligus dapat berubah juga. Terdapat
dua kelas struktur utama protein M, yaitu kelas I dan II.
Tampaknya protein M dan barangkali antigen lain dinding sel Streptococcus memiliki
cara kerja yang penting pada patogenesis demem reumatik. Selaput dinding sel Streptococcus
yang dimurnikan memacu antibodi yang bereaksi dengan sarkolema jantung manusia; sifat-
sifat khas mengenai antigen yang bereaksi silang tidak jelas. Komponen dinding sel dari jenis
M yang telah diseleksi memacu antibodi yang bereaksi dengan jaringan otot jantung. Daerah
antigenik yang dilestarikan pada protein M kelas I bereaksi silang dengan otot jantung
manusia, dan protein M kelas I mungkin determinan yang virulen untuk demam reumatik.

3. Zat T
Antigen ini tidak mempunyai hubungan dengan virulensi Streptococcus. Berbeda
dengan protein M, zat T tidak tahan asam dan tidak tahan panas. Zat ini diperoleh dari
Streptococcus melalui pencernaan proteolitik, yang cepat merusak protein M. Zat T
memungkinkan pembedaan tipe-tipe tertentu Streptococcus oleh aglutinasi dengan antiserum
spesifik, sedangkan tipe lainnya mempunyai zat T yang sama. Antigen permukaan lainnya

Streptococcus Sp. 11
dinamakan protein R. . Protein R antigen R tipe 20 tahan terhadap tripsin tetapi tidak tahan
pepsin dan rusak secara perlahn lahan oleh asam dan pemanasan.

4. Nukleoprotein
Ekstraksi Streptococcus dengan basa lemah menghasilkan campuran protein dan zat-
zat lain dengan spesifisitas serologik yang rendah, dan dinamakan zat P. Zat ini mungkin
merupakan sebagian besar badan sel Streptococcus.

KLASIFIKASI STREPTOCOCCUS DARI SEGI ANTIGEN

A. Streptococcus pyogenes
Kebanyakan Streptococcus yang mengandung antigen golongan A adalah S.
pyogenes. Bakteri bersifat -hemolitik. S. pyogenes adalah bakteri patogen utama
manusia yang berkaitan dengan invasi lokal atau sistemik dan gangguan imunologik setelah
infeksi Streptococcus. S. pyogenes secara khas membentuk daerah luas (bergaris tengah 1 cm)
pada hemolisis mengelilingi koloni yang berukuran lebih besar dari 0,5 mm.

B. Streptococcus agalactiae

Bakteri ini adalah Streptococcus golongan B, merupakan anggota flora normal saluran
genital wanita dan penyebab penting dari sepsis neonatus dan meningitis. Bakteri ini secara
khas merupakan -hemolitik dan membentuk daerah hemolisis yang hanya sedikit lebih
besar dari koloni (bergaris tengah 1 2 mm).

C. Golongan C dan G
Streptococcus ini kadang-kadang muncul pada nasofaring dan mungkin menyebabkan
sinusitis, bakterimia, atau endokarditis. Bakteri ini sering terlihat menyerupai S. pyogenes
golongan A pada perbenihan agar darah dan bersifat -hemolitik.

D. Enterococcus faecalis (E faecium, E durans)


Enterococcus yang bereaksi dengan antiserum golongan D. Enterococcus adalah
bagian dari flora khusus normal. Bakteri ini bersifat lebih resisten terhadap penisilin G
dibandingkan dengan Streptococcus, dan sedikit isolat yang memiliki plasmid yang
menyandingkan - laktamase.

E. Streptococcus bovis
Bakteri ini termasuk Streptococcus golongan D yang non Enterococcus. Kuman ini
merupakan bagian dari flora usus, dapat menyebabkan endokarditis, dan kadang-kadang
mengakibatkan bakteremia pada penderita karsinoma kolon.

F. Streptococcus anginosus
Nama spesies lain untuk S. anginosus adalah S. milleri, S. intermedius, dan
S. constellatus. Bakteri ini mungkin bersifat -, - atau nonhemolitik.

Streptococcus Sp. 12
G. Streptococcus golongan N
Bakteri ini jarang ditemukan pada penyakit yang timbul pada manusia tetapi
menimbulkan koagulasi yang normal (S souring ) pada susu.

H. Streptococcus golongan E, F, G, H, dan K U


Streptococcus ini timbul secara primer pada hewan daripada di manusia, dengan
beberapa pengecualian.

I. Streptococcus pneumoniae
Pneumococcus ini bersifat -hemolitik. Pertumbuhannya dihambat oleh optokin
(etilhidrokuprein hidroklorida), dan koloninya larut dalam empedu.

J. Streptococcus viridans
Streptococcus viridans mencakup S. immitis, S. mutans, S. salivarius, S. sanguis
(golongan H) dan lain-lain. Ciri khas bakteri ini adalah -hemolitiknya (karena itu
dinamakan viridans), tetapi bakteri ini mungkin juga non-hemolitik. Pertumbuhannya tidak
dihambat oleh oktokin, dan koloninya tidak larut dalam empedu (deoksikolat). Streptococcus
viridans merupakan anggota flora normal yang paling umum pada saluran pernapasan bagian
atas dan berperan penting untuk menjaga keadaan normal selaput mukosa di situ. Bakteri ini
dapat mencapai aliran darah akibat suatu trauma dan menyebabkan endokarditis pada katup
jantung yang abnormal. Beberapa Streptococcus viridans (misalnya S. mutans) mensintesis
polisakarida besar seperti dekstran atau levan dari sukrosa dan menjadi faktor penting pada
pembentukan karies gigi.

K. Streptococcus varian secara nutrisi


Streptococcus varian secara nutrisi (Streptococcus defectivus dan Streptococcus
adjacens) telah dikenal sebagai Streptococcus defisiensi nutrisi , dan dengan nama lainnya.
Jenis ini memerlukan piridoksal atau sistein untuk pertumbuhannya pada agar darah atau
tumbuh sebagai koloni satelit yang mengelilingi koloni Staphylococcus dan bakteri lain.
Bakteri ini biasanya - hemolitik tetapi mungkin nonhemolitik; merupakan bagian dari flora
normal dan kadang-kadang menyebabkan bakteremia atau endokarditis, dapat ditemukan
pada abses kotak dan infeksi lain. Perbenihan agar darah yang disuplementasi secara rutin
dengan piridoksil memungkinkan penemuan kembali organisme ini.

L. Peptostreptococcus ( banyak spesies )

Streptococcus jenis ini hanya tumbuh pada situasi anaerob atau keadaan
mikroaerofilik dan secara bervariasi membentuk hemolisin. Bakteri ini adalah bagian dari
flora normal mulut, usus, dan saluran genital wanita. Bersama dengan spesies bakteri lain
sering kali ikut berperan dalam infeksi anaerop campuran diabdomen, pelvic, paru-paru atau
otak.

Streptococcus Sp. 13
II.7 PATOGENESIS DAN GEJALA KLINIK
Infeksi Streptococcus timbulnya dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam factor,antara lain
sifat biologic kuman,cara host memberikan respons,dan port dentre kuman.Penyakit yang
ditimbulkan oleh kuman streptococcus dapat dibagi beberapa kategori,sbb;

A.Penyakit yang terjadi karna invasi

Streptococcus bata hemolyticus grup A

Erisipelas : jika kulit atau selaput lender dapat trjadi erysipelas, suatu selulitis
superpicialis dengan batas lesi yang tegas, edematous, berwarna merah terang dan
sangat nyeri. Pada pemeriksaan dapat ditemukan leukositosis, lebih dari 15.000
leukosit. Titer ASO meningkat setelah 7-10 hari.
Sepsis puerpuralis : kuman streptococcus masuk ke dalam uterus setelah persalinan.
Septikimiana terjadi karena luka yang terkena infeksi, yaitu berupa endometritis.
Sepsis : terjadi karena luka bekas operasi atau karena trauma. Ada yang menyebut
penyakit sbagai sugrical scarlet fever.

B.Penyakit yang terjadi karena infeksi lokal


Streptococcus beta hemolitikus grup A
Radang Tenggorokan : suatu penyakit yang semua prang pernah merasakan.
Disebabkan oleh streptococcus beta hemolitikus. Penyakit dapat berlansung
berminggu-minggu. Pada orang dewasa, penyakit berlangsung lebih akut dengan
nasofaringitis dan tostilitis yang hebat.
Impetigo : pada impetigo lkalisis infeksi sangat superficial, dengan pembentukan
vesicopustulae dibawah stratumkomeum.

C.Penyakit paska infeksi streptococcus beta hemolyticus grub A

Glomerulonefritis akut : infeksi penyakit ini dapat timbul selama 3 minggu setelah
infeks kuman streptococcus, terutama dari tipe 1, 4, 12, 18,25,49, dan 57. Pada 23 dari
anak-anak yang terkena infeksi kulit oleh streptococcus 49 terkena nefritisdan
hematurya.
Jantung rheuma : demam rheuma atau reumatik fever merupakan sequalae infeksi
streptococcus yang paling serius, sebab dapat mengakibatkan keruskan pada otot dan
kaktup jantung.

Streptococcus Sp. 14
II.8 PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan : hapusan tenggorokkan, nanah, darah, serum untuk antibodi
khusus titer antistreptolisin.
Cara pemeriksaan :
Pemeriksaan langsung
Dilakukan dengan membuat preparat dari spesimen dan kemudian melakukan
pewarnaan Gram. Koloni mikroskopik terlihat berbentuk bulat dan tersusun seperti
rantai.

Perbenihan :

Spesimen pemeriksaan dibiakkan dalam media agar darah. Streptococcus group A akan
memperlihatkan hemolisis dalam lempeng agar darah. Inkubasi dalam kondisi Co 2 10
% dapat mempercepat terjadinya hemolisis. Sensitivitas terhadap basitrasin juga dapat
membedakan galur- galur streptococcus.
Uji serologis
Dilakukan tes aglutinasi untuk mengetahui titer antibodi dalam serum penderita,
terutama antibodi terhadap streptolisin O pada infeksi saluran nafas dan anti
hialuronidase pada infeksi kulit. Selain iu, juga dapat ditetapkan adanya titer antibodi
terhadap streptokinase, DNAse, dan protein M. Uji serologi dilakukan dengan
mengadsorbsikan antigen spesifik pada sel darah merah domba, kemudian
mereaksikannya dengan serum penderita. Reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
yang terjadi dalam beberapa menit dapat menunjukkan titer antibodi penderita.
Tes katalase
1 tetes H2O2+ 1 ose koloni adanya gelembung menandakan positif
(streptococcus alfa atau beta katalasenya negatif)
Tes bacitrasin (untuk beta streptococcus)
Dengan lup inokulasi atau swab rektal koloni tersangka diinokulasikan di plat agar
darah kambing 5 %.
Ambil lempeng bacitrasin secara aseptis dan letakkan ditengah media yang diinokulasi,
kemudian diinkubasi amati disekitar koloni yang tumbuh terjadi daerah hambatan maka
kuman tersebut adalah beta streptococcus.
(<10 mm= resisten)

SKEMA PEMERIKSAAN

Streptococcus Sp. 15
STREPTOCOCCUS SP.

Sample ditaruh blood boullion (BB) kemudian dieramkan selama 24 jam


dengan suhu 370 C .

BB DP Gram

- Blood Agar 24 jam


- SA 370 C inkubasi

Dp Gram

BB 24 jam , 370 C inkubasi

Hemolys Hemodigesti An hemolys

darah melebar hitam merah/ hitam

lar. hijau jernih lar. keruh

catatan:

- Dp Gram : + coccus berderet seperti rantai

Streptococcus Sp. 16
- Koloni pada BA : jernih, tumbuh pada bekas goresan
oose, diameter 0,1- 0,2 mm
- Hasil BB : : hemodigesti
: hemolys
: an hemolys

II. 9 PENCEGAHAN DAN EPIDEMIOLOGI


Pencegahan:
1. Memperbaiki kesehatan diri dan lingkungan
2. Pengobatan penderita
3. Pembersihan daerah yang penting : kamar bayi, kamar bedah, kamar perawatan
bersalin
4. Ventilasi, pengawasan debu, filtrasi, udara, UV
5. Pengobatan pada ibu hamil akan membantu anak yang dilahirkan

Epidemiologi:

Sejumlah Streptococcus adalah flora normal tubuh manusia, menyebar dengan kontak
langsung, droplet dan kulit. Sekret hidung, bisa juga dari sprei, selimut atau dari susu
sapi.

DAFTAR PUSTAKA

http://lentera-icha.blogspot.com/2011/06/uji-biokimia.html

http://kevinrudhy.blogspot.com/2013/01/streptococcus-pyogenes_13.html

www.digilib.unimus.ac.id

Streptococcus Sp. 17
http://www.bacteriainphotos.com/agar%20cultivation%20media.html

( buku pelajaran bakterologi laboratorium kesehatan depkes RI )

( buku mikrobiologi DR. Maksum Radji, M.Biomed)

Streptococcus Sp. 18