Anda di halaman 1dari 9

METODE KEFILSAFATAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan berfilsafat ialah merenung. Tetapi merenung bukanlah melamun, juga
bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung untungan. Cukup mudah untuk
melukisakan perenungan kefilsafatan, tetapi jauh lebih sulit untuk dapat memulai dan
melanjutkannya. Tata cara mempunyai arti yang lebih daripada sekedar melukisakn hasil
akhir. Tata cara membutuhkan hal hal terinci yang lebih bnayak mengenai metode metode
yang harus dipakai dan sejumlah contoh tentang penerapan metode metode tersebut.
Metode berfilsafat dalam prakteknya adalah metode para filusuf berfilsafat. Sudah
menjadi bawaan kodrat dunia filsafat setiap filusuf berfilsafat mandiri bukan hanya berbeda
satu sama lain, bahkan bertentangan secara diametral. Setiap filusuf berfilsafat menurut
pendiriannya, fokus perhatiannya, dan tentu dengan cara atau metode masing masing.
Watak filsafat yang menjadi akar ilmu, menjadikannya tidak mau ditentukan oleh
ilmu, filsafatlah yang harus menentukan ilmu. Pada titik yang sama, para filusuf juga tak mau
ditentukan oleh ilmuan, bahkan antar filusufpun tidak mau saling menentukan dan
ditentukan. Akibatnya, sepanjang sejauh filsafat masing masing filusuf menentukan
metodenya sendiri. Hampir setiap filusuf pada dasarnya memiliki metode khasnya sendiri,
meski terdapat juga sejumlah filusuf yang mirip atau berdekatan metodenya.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai metode metode filasafat yang
digunakan, menunjukan bagaimana memulai dan bekerja. Selanjutnya untuk sampai pada
kesimpulan, akan dijelaskan bagaimana cara menguji suatu pikiaran dan melakukan kritik
terhadapnya. Semua ini hanya dapat dilakukan dengan memeriksa contoh contoh
perenungan kefilsafatan, menunjuknan fakta fakta yang beragam, dan mengusahakan agar
kita mencobanya sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode
Secara etimologi metode berasal dari Bahasa Yunani Methodos. Methodos adalah
gabungan dari dua kata yaitu Meta dan Hodos. Meta berarti dibelakang, dibalik atau
sesudah, sedangkan Hodos berarti jalan atau cara. Jadi metode adalah apa yang ada
dibalik cara atau jalan.[1]
Dalam konteks keilmuan metode berarti cara atau prosedur yang ditempuh dalam
rangka mencapai kebenaran. Langkah langkah dalam metode harus dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dihadapan akal budi, runtut, logis, rasional, dan
konsisten. Metode dimaksudkan agar langkah langkah pencarian kebenaran kebenaran
ilmiah dapat dilaksanakan secara tertib dan terarah, sehingga dapat dicapai hasil optimal.

Metode dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode umum dan metode khusus.
1. Metode Umum, terdiri dari metode deduktif-induktif dan metode analisis-sintesis.
2. Metode Khusus, terdiri dari metode operasional khas tiap tiap ilmu atau kelompok ilmu.
Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai metode khasnya masing-masing. Metode
berkaitan dengan operasi atau riset dalam ilmu yang bersangkutan. Metode dalam khasanah
dunia filsafat ada dua :
1. Metode berfilsafat yaitu cara berfilsafat.
2. Metode penelitian filsafat yaitu alat atau perangkat untuk mengkaji, meneliti, atau menelaah
karya-karya filsafati. Jadi, ini merupakan instrument penelitian.
B. Tata Cara Perenungan Kefilsafatan
Filsafat sebagai ilmu memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain.
Filsafat memahami realitas secara mendalam, menemukan jawaban yang paling final dari
berbagai kemungkinan jawaban. Filsafat menyingkapkan sebuah bagan konseptual dari
pemahaman manusia atas realitas. Filsafat membeberkan sebab pertama dan sebab terakhir
dari pencarian manusia akan kebijaksanaan.
Ini mengandaikan bahwa filsafat sebagai ilmu memiliki metodologi keilmuan yang
khas. Metode atau cara kerja keilmuan menunjukkan bagaimana sebuah ilmu dioperasikan
dalam cara tertentu dan khas dalam memecahkan suatu persoalan alam.
Dengan metodologi kefilsafatan sebenarnya mau ditunjukkan bagaimana filsafat
dipraktikkan atau dioperasikan dalam cara tertentu untuk mencapai jawaban yang ultim dan
final atas realitas.
Dalam mengungkap sebab terdalam dari realitas, seorang filsuf berusaha menyusun
suatu bagan konseptual. Dalam menyusun bagan konseptual ini, seorang filsuf bisa
melakukannya dalam dua cara. Pertama, dia melakukan analisa terhadap suatu istilah untuk
menemukan atau mengungkapkan makna terdalam dari istilah tersebut. Kedua, dia
mengumpulkan hasil-hasil penyelidikan ke dalam sebuah sintesa.[2]
Dengan demikian, apa yang dilakukan seorang filsuf dalam refleksi filosofisnya adalah
melakukan analisa atau sintesa. Inilah sebetulnya metode dasar kefilsafatan, yakni
menganalisa dan/atau mensintesa.
C. Analisa
1. Ekstensi dan Intensi
Maksud pokok mengadakan analisa ialah melakukan pemeriksaan konsepsional atas
makna yang dikandung oleh istilah-istilahyang digunakan dan pernyataan-pernyataan yang
dibuat. Pemeriksaan ini mempunyai dua segi. Berusaha memperoleh makna baru yang
terkandung dalam istilah-istilah yang bersangkutan dan menguju istilah-istilah itu melalui
penggunaanya atau dengan melakukan pengamatan terhadap contoh-contohnya.[3]
Sederhananya analisa berarti perincian atau pemerian. Jadi, menganalisa sesuatu tidak
lain adalah memerinci atau memerikan sesuatu.Menganalisa suatu kata/istilah dengan maksud
untuk menyingkapkan makna dari kata itu. Makna baru bisa saja terungkap karena proses
pemerian atau perincian istilah itu.
Di sini seorang filsuf bisa menempuh 2 cara. Pertama, dia menguji istilah tersebut dari
sisi penggunaannya. Dia akan melakukan pengamatan terhadap contoh-contoh penerapan
istilah itu. Di sini si filsuf memahami suatu kata atau istilah secara ekstensif. Misalnya,
seorang filsuf memahami kata atau istilah keberanian. Dari segi ekstensi, dia
mengungkapkan makna kata ini berdasarkan bagaimana kata ini digunakan, sejauh mana kata
keberanian menggambarkan realitas tertentu, bagaimana keberanian dikomparasikan
dengan sifat atau trait lainnya dari yang ada, dan sebagainya. Untuk menjelaskan makna
suatu kata atau istilah, seorang filsuf juga bisa melakukannya dengan mendefinisikan kata
atau istilah itu secara langsung. Ini yang disebut dengan definisi ostentif. Misalnya, kata
keberanian dalam penalaran Tentara harus memiliki keberanian supaya bisa mengalahkan
musuh, bisa ditunjukkan secara langsung apakah keberanian di sini menjelaskan tentara
secara universal (semua tentara) atau terbatas pada korps tertentu yang siap berperang (makna
partikular).Kedua, seorang filsuf menyingkapkan makna kata dengan menganalisa sifat-sifat
kata atau istilah tersebut. Kembali ke contoh kata keberanian di atas. Seorang filsuf
berusaha menyingkapkan makna terdalam dari keberanian dengan menganalisis sifat-sifat
yang terkandung dalam istilah itu.[4]
Contoh:
Mari kita menganalisa kata atau konsep penderitaan (suffering). Makna kata ini bisa
ditunjukkan dengan mendefinisikan secara ostensif (pendekatan ekstensi) kata itu, yakni
gangguan atau kekacauan (disorder) atas keharmonisan batin manusia yang disebabkan
oleh daya-daya fisik, mental, dan spiritual yang dialami seseorang secara tertutup
(terisolasi) serta mengancam eksistensi manusia itu sendiri.Definisi ostentif atau pendekatan
ekstensif ini sekaligus membatasi penderitaan hanya pada masalah gangguan keharmonisan
batin manusia. Mengapa keharmonisan batin manusia ini terganggu, dijawab dengan merujuk
kepada adanya daya-daya fisik, mental, dan spiritual yang dialami seseorang secara rerisolasi.
Dan bahwa jika masalah ini tidak diatasi, akan membahayakan eksistensi si penderita itu
sendiri. Inilah keluasan (ekstensi) kata penderitaan itu.
Makna kata penderitaan bisa juga dianalisa secara intesif, misalnya dengan meneliti
struktur manusia. Bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup manusia, bahwa penderitaan
muncul atau lahir karena penyalahgunaan kebebasan manusia. Bahwa struktur manusia terdiri
dari kehendak bebas (free will), akal budi, dan tanggung jawab. Penderitaan terjadi karena
kehendak bebas tidak dikendalikan dan diatur oleh akal budi. Bahwa penderitaan terjadi
ketika seseorang menghindari atau menolak untuk bertanggung jawab atas kehidupan, baik
kehidupannya sendiri sebagai individu maupun kehidupan kelompok (sosial).[5]
2. Makna yang Terkandung Oleh Suatu Pernyataan
Analisa tidak dimaksud untuk menangkap sebuah makna final. Bahkan ketika subjek
memahami makna penderitaan, misalnya, makna tidak menjadi jelas dengan sendirinya.
Dengan analisa konsep, seorang filsuf ingin memperoleh kejelasan sebesar mungkin tentang
makna yang dikandung oleh suatu istilah atau pernyataan.
Misalnya kita anggap saja bahwa kita tahu istilah man, anilmality,dan is:.apakah
dengan demikian kita mengetahui makna man is an animal?makna apakah yang terkandung
dalam kalimat itu?apakah kalimat itu berarti bahwa ada manusia di dalam ruang dan waktu
yang juga merupakan hewan?. Setelah melakukan analisa terhadap pernyataan tadi,
tampaklah bahwa apa yang dimaksudkan bila mengatakan man is an animal ialah bila
sesuatuitu adalah manusia, maka sesuatu tersebutjuga merupakan hewan.
Maksud segala analisa ini adalah untuk memperoleh kejelasan sebesar mungkin
mengenai makan ayang dikandung oleh suatu pernyataan. Jika kita berusaha untuk
memahami, maka kita perlu kejelasan tentang makna yang harus kita pahami itu.[6]
3. Makna Tidak Identik Dengan Kebenaran
Analisa terhadap makna tidaklah menetapkan kebenaran atau kesesatan kalimat yang
bersangkutan. Jika kita mengetahui makna kalimat hari telah tengah malam, ini tidak
berarti bahwa kini telah tengah malam. Juga tidak berarti bahwa kini bukan tengah malam.
Kalimat tersebut mempunyai arti meskipun seandainya kalimat tadi tidak benar, dan
meskipun kita tidak dapat menentukan apakah benar ataukah sesat. [7]
Memahami makna suatu konsep atau istilah tidak identik dengan telah menemukan
suatu kebenaran. Makna bisa sangat rasional dan logis, tetapi belum tentu benar.
4. Filsafat Kritis(critical philosophy)
Filsafat yang mengambil jalan analisa (memahami/memerikan konsep atau kata)
disebut juga filsafat kritis (critical philosophy). Disebut kritis karena menganalisa secara
mendalam sebuah konsep/kata, membedakan fakta-fakta yang dianalisa dan (hasil) analisa.
Ingat, makna tidak identik dengan kebenaran.[8]
D. Sintesa
1. Filsafat Spekulatif Dan Penyusunan Sistem
Secara sederhana sintesa dipahami sebagai pengumpulan. Maksud sintesa yang utama
adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu
pandangan dunia.[9] Dengan metode sintesa seorang filsuf akan mengumpulkan semua
pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia. Berbagai
pengetahuan disusun sebegitu rupa sehingga menghasilkan suatu kesatuan pemikiran.
Pandangan dunia yang dihasilkan melalui metode sintesa ini menghasilkan refleksi filosofis
yang sifatnya spekulatif (lawan dari metode analisa yang disebut filsafat kritis).
2. Contoh Filsafat Spekulatif Dalam Pemikiran Seorang Rene Descartes
Descartes dalam bukunya berjudul Perenungan tentang Filsafat Pertama (1641)
mengemukakan 6 tahap perenungan atau refleksi sebagai berikut.
Perenungan pertama
Subjek meragukan segala sesuatu. Dengan meragukan segala sesuatu, kita membebaskan diri
kita dari setiap prasangka dan mempersiapkan suatu jalan yang sangat sederhana bagi kita
untuk dapat melepaskan akal dari pengaruh panca indra. Di mana batas di mana kita tidak
meragukan lagi? Keraguan untuk sementara berhenti ketika sesuatu telah ditemukan sebagai
sungguh-sungguh benar.
Perenungan kedua
Meragukan segala sesuatu bersifat metodis. Sebagai metode dalam mencapai suatu
pengetahuan yang jelas dan terpilah-pilah, subjek yang berpikir meragukan segala sesuatu,
termasuk meragukan hal yang sebenarnya sudah paling sedikit diragukan. Nah, setelah segala
sesuatu diragukan, apa yang tinggal atau bertahan sebagai sebuah kebenaran? Bagi Descartes,
paling tidak subjek yang sedang meragukan itu tidak bisa diragukan. Jadi, dengan meragukan
segala sesuatu, subjek yang meragukan itu menegaskan eksistensinya sebagai ada (eksis).
Dalam kata-kata Descartes sendiri, Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada / I think
therefore I am).
Perenungan ketiga
Pandangan tentang dualism tubuh jiwa. Bagi Descartes, tubuh adalah rex extensa. Tubuh
dapat dipahami karena bisa dibagi-bagi. Sementara akal adalah sesuatu yang tidak dapat
dibagi-bagi, Akal tidak bisa dipahami kecuali sifatnya yang tidak dapat dibagi-bagi itu. Jika
tubuh adalah rex extensa, akal (jiwa) adalah rex cogitans. Tubuh adalah aksidensi, sementara
akal dan jiwa adalah substansi murni. Bagi Descartes, dualism ini penting untuk
menyelamatkan jiwa dari kehancuran tubuh. Ketika tubuh mengalami kehancuran, jiwa tidak
terpengaruh. Jiwa dapat mengalami hidup tanpa tubuh.
Pada perenungan ketiga ini Descartes juga menjelaskan mengenai 3 idea bawaan (innate
idea). Disebut idea bawaan karena sudah ada dalam akal dan pikiran manusia sejak ia
dilahirkan. Ini dikontraskan dengan idea yang terbentuk dalam pikiran manusia karena
pengalaman. Gagasan mengenai idea bawaan ini memang khas pemikiran Descartes di abad
ke-17. Tiga idea bawaan menurut Descartes adalah (1) kebertubuhan (kejasmanian) atau res
extensa. Meskipun bisa menipu, kebertubuhan adalah idea bawaan. Bagi Descartes,
kejasmanian atau kebertubuhan adalah materi. Materi adalah substansi karena tidak mungkin
Allah yang Maha Benar menipu manusia mengenai kejasmaniannya. (2) Pikiran (res
cogitans). Ini juga termasuk idea bawaan (sejak lahir). Bagi Descartes, pikiran adalah sebuah
substansi yang berdiri sendiri. Dialah jiwa. (3) Allah termasuk idea bawaan, karena manusia
memiliki idea tentang kesempurnaan. Sama seperti kejasmanian dan jiwa, Allah pun sebuah
substansi. Allah ada karena pikiran memiliki idea mengenai Allah. Argumen semacam ini
dalam pembuktian akan adanya Allah disebut argument ontologism.
Perenungan keempat
Setelah meragukan segala sesuatu dan manusia mencapai kesadaran diri (diri yang sedang
meragukan itu eksis), manusia menangkap dan memahami realitas secara jelas dan terpilah
(clara et distinct). Di sini akal tidak hanya mengungkapkan kebenaran, tetapi juga hakikat
ada. Dengan begitu, akal juga sanggup membedakan kesalahan-kesalahan atau kesesatan-
kesesatan.
Perenungan kelima
Kepastian pembuktian geometric sangat tergantung pada pengetahuan tentang Tuhan. Materi
tidak mungkin tidak ada karena Allah yang Maha Baik tidak mungkin menipu.
Perenungan keenam
Ada suatu dunia. Manusia adalah makhluk bertubuh. Ini tidak bisa diragukan oleh makhluk
berindra. Kebertubuhan (aksiden) berubah-ubah sehingga pengetahuan mengenai mereka
dapat diragukan. Akal dan Tuhan adalah tetap (substansi yang tetap) sehingga kebenaran
mengenai mereka bersifat kekal (finitum).[10]
E. Perangkat Perangkat Metodologi(Logika , induksi, Deduksi, Analogi, Komparasi)
Di atas adalah dua petunjuk berpikir yang diikuti dalam perenungan kefilsafatan.
Ada banyak perabot khusus yang memberikan bantuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan
berpikir.
Logika (dibagi pada Logika Deduktif dan Logika Induktif)
1. Logika Deduktif
Logika Deduktif adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum
ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.penarikan ksimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola piker yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah
pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini kemudian
dapat dibedakan menjadi prenis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pegetahuan
yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.[11]
Semua binatang mempunyai mata (Premis mayor)
Sapi adalah seekor binatang (Premis minor)
Jadi Sapi mempunyai mata (Kesimpulan)
2. Logika Induktif
Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus
individual nyata menjadi kesimpulan yangb bersifat umum.
Kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan sapi,
singa, dan bintang lainya. Dari kenyataan-kenyatan ini kita dapat menarik kesimpulan yang
bersifat umum yakni semua binatang mempunyai mata. Kesimpulan yang bersifat umum ini
mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang bersifat
umum ini bersifat ekonomis.kehidupan yang beranekaragam dengan berbagai corak dan segi
dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Keuntungan yang kedua adalah
dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara induktif.
Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan
pernyataan yang bersifat lebih umum lagi.[12]
3. Analogi Dan Komparasi
Dua bentuk penyimpulan yang sangat lazim dipakai dalam perenungan kefilsafatan
adalah Analogi dan Komparasi. Penalaran secara analogi adalah berusaha mencapai
kesimpulan dengan menggantikan apa yang dicoba dibuktikan dengan sesuatu yang serupa
dengan hal tersebut, namun hal yang lebih dikenal, dan kemudian menyimpulkan kembali apa
yang mengawali penalaran tersebut.[13]
Penalaran secara komparasi adalah berusaha menyimpulkan dengan menggantikan
apa yang dicoba dibuktikan dengan sesuatu yang serupa dengan hal tersebut, namun yang
lebih dikenal.
Dimisalkan kita ingin membuktikan adanya Tuhan berdasarkan susunan dunia tempat
kita hidup. Dalam hal ini mengatakan sebagai berikut. Perhatikanlah sebuah jam. Seperti
halnya dunia, jam tersebut juga merupakan mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian yang
sangat erat hubungnya satu sama lain. Kiranya tidak seorangpun beranggapan bahwa sebuah
jam dapat membuat dirinya sendiri atau terjadi secara kebetulan. Dengan demikian secara
analogi adanya dunia juga menunjukan ada pembuatnya. Karena dunia kita sangat rumit
susunannya dan bagian-bagianya berhubungan sangat erat satu sama lain dengan baik.[14]
F. Penerapan Metode Kefilsafatan
Setelah melengkapi diri dengan beberapa pengertian dasar filsafat dan metodologi
kefilsafatan, kapan kita mulai berfilsafat. Sekarang juga kita berfilsafat. Untuk mewujudkan
hasrat ini, paling kurang ada 6 langkah yang harus diperhatikan.
1. Menyadari adanya masalah. Realitas yang kita hadapi sangat beragam, terus mengalir dan
berubah. Kaum dogmatis akan menerima dan menikmati realitas apa adanya. Seperti yang
ditegaskan di awal, seorang filsuf tidak akan puas dengan realitas dan penjelasan-
penjelasannya. Ketika dia tidak puas dengan realitas yang ada, sang filsuf sebenarnya
memosisikan realitas sebagai sebuah masalah. Masalah inilah yang memicu pikirannya untuk
mengajukan pertanyaan dan mendorong dia untuk mengungkapkan misteri yang
menyertainya.
2. Meragukan dan menguji secara rasional anggapan-anggapan. Sekali lagi, ketika kita
menghadapi realitas, telah tersedia berbagai pandangan atau anggapan mengenai realitas itu.
Misalnya, ketika melihat seseorang dengan pakaian lusuh berdiri di depan pintu pagar
rumahmu, kamu mungkin langsung berpikir bahwa orang itu pasti pengemis. Seorang yang
berpikiran kritis tidak akan langsung percaya dengan pandangan selama ini yang
mengkarakterisasi pengemis secara tampilan luar. Dengan meragukan, seorang filsuf
sebenarnya ingin menghindari sikap tergesa-gesa dan prasangka dalam memberikan
tanggapan atas realitas.
3. Memeriksa penyelesaian-penyelesaian yang terdahulu.Bisa terjadi bahwa kita tidak
menghadapi suatu realitas atau suatu masalah sebagai yang baru sama sekali. Mungkin orang
lain pernah menghadapi hal yang sama. Karena itu, penting bagi si subjek yang berpikir
untuk memeriksa bagaimana orang-orang sebelumnya menjelaskan persoalan itu. Di sinilah
pentingnya berfilsafat dalam konteks sejarahnya.
4. Menyarankan hipotesa. Setelah meragukan segala sesuatu dan menguji pandangan atau
penyelesaian terdahulu mengenai suatu masalah atau realitas, seorang filsuf mengajukan
hipotesa untuk menjelaskan realitas yang dia hadapi. Sekali lagi, hipotesa yang diajukan ini
bersifat sangat sementara dan terbuka untuk kritik bahkan digugurkan dan diganti dengan
hipotesa yang lebih cocok.
5. Menguji konsekuensi-konsekuensi. Suatu hipotesa semakin diteguhkan ketika mampu
bertahan dalam menjelaskan realitas. Kebertahanan sebuah hipotesa ditentukan oleh
pengujian terhadap hipotesa tersebut, bagaimana dia mampu mengatasi berbagai kritik dan
serangan dari hipotesa lain.
6. Menarik kesimpulan. Nah, hipotesa yang diverifikasi dan bertahan akan menjadi kesimpulan.
Kesimpulan inilah yang menjadi pandangan atau bagan konseptual si filsuf dalam
menjelaskan sebuah realitas. Sekali lagi, kesimpulan ini pun, meskipun sudah tahan uji
melalui pengujian hipotesa, tetap bersifat sementara dan terbuka kepada kritik dan
pembaruan.[15]
Ketika kesimpulan mulai diragukan, seorang filsuf kembali menghadapi realitas sebagai
masalah, lalu mempersoalkan, mengajukan hipotesa, merumuskan kesimpulan, dan
seterusnya. Linkaran ini akan terus berlangsung tanpa akhir. Begitulah kita mulai berfilsafat.