Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Daya Penggerak


Secara umum daya diartikan sebagai suatu kemampuan yang dibutuhkan
untuk melakukan sebuah kerja, yang dinyatakan dalam satuan Watt ataupun HP.
Penentuan besar daya yang dibutuhkan perlu memperhatikan beberapa hal yang
mempengaruhinya, diantaranya adalah:
1. Berat dan gaya yang bekerja pada mekanisme.
2. Kecepatan putar dan torsi yang terjadi.
Berikut adalah rumus untuk mencari harga daya, gaya, torsi, kecepatan putar
dan berat yang terjadi pada mekanisme mesin:
a) Daya berdasarkan torsi dan kecepatan sudut dirumuskan sebagai berikut:
P=T.

(2.1)
b) Untuk mencari kecepatan sudut dapat dirumuskan sebagai berikut:
2. .n
c) = Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:
60
T=F.r
Keterangan:
T = Torsi (N.m)
= Kecepatan Sudut (rad/s)

N = Kecepatan (rpm)
F = Gaya (N)
d) Berdasarkan putaran poros, maka daya dirumuskan sebagai berikut:
2 . n .T (2.4)
P=
60
Keterangan:
n = Putaran poros
(rpm) T = Torsi
(N.m)
P = Daya (watt)
4
3

2.2. Sistem Transmisi

Sistem transmisi adalah sistem yang berfungsi untuk mengkonversi torsi


dan kecepatan putar mesin menjadi torsi dan kecepatan yang berbeda-beda untuk
diteruskan ke penggerak akhir. Konversi ini mengubah kecepatan putar yang
tinggi menjadi lebih rendah dan bertenaga atau sebaliknya.
Transmisi bertujuan untuk meneruskan daya dari sumber daya ke sumber
daya lain, sehingga mesin pemakai daya tersebut bekerja menurut kebutuhan yang
diinginkan. Pada perancangan suatu alat atau mesin harus mempunyai konsep
perencanaan. Konsep perencanaan ini akan membahas dasar teori yang akan
dijadikan pedoman dalam perancangan suatu alat. Pada perancangan sistem
transmisi ini bagian elemen alat yang akan direncanakan atau diperhitungkan
adalah:
1. Motor Listrik/Generator
2. Daya Penggerak
3. Puli
4. Sabuk V
5. Sprocket
6. Rantai
7. Poros
Dalam ilmu perancangan sebuah mesin, sistem transmisi secara garis besar
dibagi menjadi beberapa macam diantaranya:
a) Transmisi sabuk dan puli.
b) Transmisi rantai.
c) Transmisi sprocket.
d) Transmisi Reducer.

2.3. Transmisi Sabuk.

Sabuk-V atau V-belt adalah salah satu transmisi penghubung yang terbuat
dari karet dan mempunyai penampang berbentuk trapesium. Dalam
penggunaannya sabuk-V dibelitkan mengelilingi alur puli yang berbentuk V pula.
Bagian sabuk yang membelit pada puli akan mengalami lengkungan sehingga
lebar bagian dalamnya akan bertambah besar.
Sabuk-V banyak digunakan karena sabuk-V sangat mudah dalam
penanganannya dan murah harganya. Selain itu sabuk-V juga memiliki
keunggulan lain yaitu akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada
4
tegangan yang relatif rendah jika dibandingkan dengan transmisi roda gigi dan
rantai, sabuk-V bekerja lebih halus dan tak bersuara. Selain memiliki keunggulan
dibandingkan dengan transmisi-transmisi yang lain, sabuk-V juga memiliki
kelemahan berupa terjadinya sebuah slip.
Sabuk - V adalah Sabuk yang terbuat dari karet dan mempunyai bentuk
penampang trapesium. Sabuk V dibelitkan pada alur puli yang berbentuk V pula.
Bagian sabuk yang membelit akan mengalami lengkungan sehingga lebar bagian
dalamnya akan bertambah besar. Berikut ini adalah kelebihan yang dimiliki oleh
Sabuk-V:
Sabuk-V dapat digunakan untuk mentransmisikan daya yang jaraknya
relatif jauh.

Memiliki faktor slip yang kecil.


Mampu digunakan untuk putaran tinggi.
Dari segi harga Sabuk-V relatif lebih murah dibanding dengan elemen
transmisi yang lain.
Pengoperasian mesin menggunakan Sabuk-V tidak membuat berisik. Sabuk-V terdiri
dari beberapa tipe yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Tipe yang tesedia
A,B,C,D dan E bisa di lihat pada Gambar 2.1. Berikut ini adalah tipe Sabuk-V
berdasarkan bentuk dan kegunaaannya:

Tipe standar yang ditandai huruf A, B, C, D, & E


Tipe sempit yang ditandai simbol 3V, 5V, & 8V
Tipe beban ringan yang ditandai dengan 3L, 4L, & 5L

Gambar 2.1 Konstruksi dan ukuran penampang Sabuk-V


(Sularso, 2000)
Dalam perhitungan sabuk yang harus dihitung antara lain: sudut kontak
sabuk (), panjang sabuk (L), luas penampang sabuk sesuai dengan tipe yang akan
digunakan (A), kecepatan linier sabuk (v), gaya sentrifugal (Tc), gaya maksimum
sabuk (Tmax), gaya sisi kencang sabuk (T1), gaya sisi kendor sabuk (T2). Gambar
2.2 merupakan tegangan yang terjadi pada sabuk dan puli, dan gambar tersebut
5
mewakili penjelasan rumus perhitungannya.

Gambar 2.2 Tegangan pada sabuk dan pulley


( Sularso, 2000)

a. Sudut kontak untuk sabuk terbuka dapat dihitung dengan rumus.


r 2r 1
sin =( )
x


=(1802 )
180
Keterangan:
r1 =Jari-jari pulley besar (mm)
r2 = Jari-jari pulley kecil (mm)
x = Jarak antar poros (mm)
= Sudut kontak sabuk dan puli

b. Menentukan panjang sabuk.


(r 1r 2)2
L= ( r 1 +r 2 ) +2 x
x

Keterangan: (2.7)

L = Panjang sabuk (mm)


x = Jarak sumbu poros (mm)
r1 = Jari-jari poros kecil (mm)
r2 = Jari-jari poros besar (mm)
c. Kecepatan linier sabuk (v) dapat ditentukan oleh
rumus.

. Dp . N (2.8)
V=
60

Keterangan:
v = Kecepatan sabuk (m/s)
Dp = Diameter puli penggerak (mm)
N = Putaran puli penggerak (rpm)

d. Gaya sentrifugal (Tc) dapat ditentukan menggunakan rumus:


6
2
Tc = m. v (2.9)

Keterangan:
Tc = Gaya sentrifugal (N)
m = Massa (kg)
2
v = Kecepatn linier sabuk (m/s )
e. Gaya maksimum sabuk (Tmax):
Untuk gaya maksimum sabuk = 1,7 karena untuk menghitung gaya
masksimum, maka menggunakan nilai tertinggi dari ke
Tmax = .A (2.10)
Keterangan:
Tmax = Gaya maksimum sabuk (N)
2
= Kekuatan tarik sabuk (N/mm )
2
A = Luas penampang sabuk (mm )
f. Gaya tarik sisi kencang pada sabuk (T1) dapat ditentukan dengan rumus:
T1 = Tmax Tc (2.11)
Keterangan:
T1 = Gaya sisi kencang sabuk (N)
Tmax = Gaya maksimum sabuk (N)
Tc = Gaya sentrifugal sabuk (N)
g. Gaya tarik sisi kendor pada sabuk (T2) dapat ditentukan dengan rumus:

T1
2,3. log = . . cosec.
T2

Keterangan:
T1 = Tarikan sisi kencang (N)
T2 = Tarikan sisi kendor (N)
= Koefisien gesek untuk puli dengan sabuk

= Sudut kontak (rad)

= Sudut alur puli ()


Sudut alur puli () dapat diketahui dengan melihat pada Tabel 2.1 yang
menunjukkan spesifikasi dan dimensi v-belt.

Tabel 2.1 Dimensi spesifikasi v-belt. (R.S. Khurmi & J.K. Gupta, 2005)
2.4. Transmisi Puli

Sebuah mesin sering menggunakan sepasang puli untuk mereduksi


kecepatan dari motor listrik, dengan berkurangnya kecepatan motor listrik maka
tenaga dari mesinpun ikut bertambah. Puli dapat digunakan untuk
mentransmisikan daya dari poros satu ke poros yang lain melalui sistem transmisi
penggerak berupa flat belt, V-belt atau circular belt. Cara kerja puli sering
digunakan untuk mengubah arah gaya yang diberikan, mengirim gerak dan
mengubah arah rotasi.

Gambar 2.3 Puli

Perbandingan kecepatan (velocity ratio) pada puli berbanding terbalik dengan


perbandingan diameter puli, dimana secara matematis ditunjukan dengan
pesamaan berikut:
N1 x D1 = N2 x D2 (2.13)
Keterangan:
N1 = Putaran puli penggerak (rpm)
N2 = Putaran puli yang di gerakkan (rpm)
D1 = Diameter puli yang menggerakkan. (mm)
D2 = Diameter puli yang di gerakkan (mm)

2.5. Transmisi Rantai

Rantai sebagian besar digunakan untuk meneruskan putaran dan daya dari
satu poros ke poros yang lain. Jarak antar poros transmisi rantai lebih besar dari
transmisi roda gigi tetapi lebih pendek dari transmisi sabuk. Rantai mengait pada
roda gigi (sprocket) dan meneruskan daya tanpa slip, jadi menjamin putaran tetap
sama. Bagian rantai dan sprocket digambarkan pada Gambar 2.4.
1
0

Gambar 2.4 Rantai dan sprocket


(R.S Khurmi & J.K. Gupta, 2005)
Keuntungan transmisi rantai dibandingkan dengan transmisi sabuk adalah:
1. Memberi beban yang lebih kecil pada poros.
2. Dapat digunakan pada jarak jauh maupun pendek.
3. Tingkat keausan pada bantalan kecil.
4. Tidak memerlukan tegangan awal.
5. Mampu meneruskan daya yang besar tanpa slip.
6. Memberikan efisiensi transmisi yang tinggi (sampai 98%).
7. Rasio kecepatan yang sempurna dapat dicapai.
8. Dapat dioperasikan pada kondisi atmosfir dan temperatur yang lebih besar.
9. Mentransmisikan daya yang lebih besar dibanding belt.

Kerugian transmisi rantai dibandingkan dengan transmisi sabuk atau transmisi


tali:
1. Biaya produksi yang relatif tinggi.
2. Sprocket dan rantai perlu perawatan dan pemasangan yang akurat dan hati-
hati, terutama pelumasan dan penyetelan mulur.
3. Terjadi suara dan getaran karena gesekan antara rantai dan sprocket.
4. Memiliki fluktuansi kecepatan terutama bila terlalu melar.

Istilah pada Transmisi Rantai


Berikut ini adalah istilah-istilah yang sering digunakan pada transmisi
rantai.
a) Pitch of the chain.
Ini adalah jarak antar pusat engsel link (hinge center) seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.5 dinotasikan dengan p.
11

Gambar 2.5 Skema pitch


(R.S Khurmi & J.K. Gupta, 2005)
b) Pitch circle diameter sprocket rantai.
Pitch circle diameter adalah diameter lingkaran ketika rantai membungkus
sprocket dari engsel satu ke pusat engsel yang lain ditarik garis lurus melalui
pusat sprocket, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5 dinotasikan dengan
D.
Velocity Ratio
Rasio kecepatan dari sebuah penggerak rantai dinyatakan dengan rumus
sebagai berikut:

N1 T2 2.14)
VR= = (
N2 T1
Keterangan:
N1 = Kecepatan rotasi dari sprocket kecil (rpm)
N2 = Kecepatan rotasi dari sprocket besar (rpm)
T1 = Jumlah gigi pada sprocket kecil
T2 = Jumlah gigi pada sprocket besar

Rata-rata kecepatan dari rantai dapat dinyatakan dengan:


p .T . N (2.15)
V=
60

Keterangan:
V = Kecepatan
p = Pitch
T = Jumlah gigi
N = Kecepatan rotasi
Panjang Rantai dan Center Distance

Penggerak rantai sistem terbuka dapat menghubungkan dua buah


sprocket pada jarak tertentu. Gambar 2.6 menunjukkan beberapa keterangan
mengenai rantai yang menghubungkan 2 buah sprocket.

Gambar 2.6 Panjang rantai (R.S Khurmi & J.K. Gupta, 2005)
Untuk memperoleh panjang rantai dapat dihitung dari hasil perkalian antara
number of chain link (K) dengan pitch rantai.

L = K . p

(2.16)
Keterangan:
L =Panjang rantai

K = Jumlah rantai

p = Pitch rantai

Jumlah sambungan rantai (number of chain link)


T 1+T 2 2 x T 2T 1 p
K=
2
+ +
p (
2
.
x )
(2.17)

Keterangan:
T1 = Jumlah gigi
pada sprocket kecil T2 =
Jumlah gigi pada sprocket
besar p = Pitch
x = Center distance

Ada beberapa karakteristik yang dapat dijelaskan dengan Tabel 2.2


mengenai rantai roller. Angka tersebut menunjukkan spesifikasi
karakteristik berupa dimensi dan kekuatan rantai tersebut sesuai IS 2403-
1991.

Tabel 2.2 Karakteristik rantai rol menurut IS 2403-1991 (R.S Khurmi & J.K.
Gupta, 2005)

Factor Of Safety
Factor of safety adalah factor yang menentukan keamanan dari
rancangan rantai. Pada transmisi rantai dapat didefinisikan rasio dari
kekuatan putus dari rantai (WB) dibagi dengan beban total rantai saat
bergerak.
FOS = (2.18)
Keterangan:
2
WB = 106 x p (newton) untuk
rantai rol. WB = 106 x p (newton)
untuk chain silent.

Daya yang di Transmisikan oleh


Rantai

Daya yang ditransmisikan oleh rantai berdasarkan kekuatan


putus rantai (WB) dapat dihitung dengan rumus:

(2.19)
Keterangan:
WB = Breaking load (N)
v = Kecepatan rata-rata
rantai (m/s) n = Factor
of safety
Ks = Service factor = K1xK2xK3
Service factor (Ks) adalah hasil kali dari beberapa faktor antara lain faktor
beban, faktor pelumasan dan faktor lama pemakaian. Nilai dari faktor tersebut
dapat diambil sebagai berikut:

a) Beban (k1) = 1 untuk beban konstan.


= 1,25 beban variable guncangan ringan.
= 1.5 untuk beban guncangan berat.
b) Pelumasan (k2) = 0,8 untuk pelumasan terus menerus.
= 1 untuk pelumasan menurun.
= 1.5 untuk pelumasan berkala.
c) Pemakaian (k3) = 1 untuk pemakaian selama 8 jam per hari.

Reducer

Reducer adalah komponen yang disebut sebagai sistem pemindah tenaga.


Reducer mampu mereduksi kecepatan input dari sebuah motor listrik, tujuan dari
komponen ini adalah berfungsi untuk memindahkan dan mengubah tenaga dari
motor yang berputar, yang digunakan untuk memutar komponen mesin
selanjutnya seperti poros yang tersambung dengan rantai dan sprocket. Reducer
juga berfungsi untuk mengatur kecepatan gerak dan torsi serta berbalik putaran.
Fungsi lain yang dimilikinya antara lain:
1. Menyediakan rasio gigi yang sesuai dengan beban mesin.
2. Menghasilkan putaran mesin tanpa selip.
3. Mengurangi kecepatan (Speed Reducer ).
Prinsip kerja komponen ini adalah putaran yang berasal dari sumber
tenaga motor listrik akan direduksi sesuai perbandingan, dimana kecepatan putar
pada poros input akan lebih lambat dari poros output. Sesuai perbandingan yang
digunakan. Reducer pada Rancang Bangun Mesin Press Serbuk Kayu yaitu 1 : 40
maka berarti putaran yang berasal dari motor listrik sebesar 1450 rpm yang telah
tereduksi oleh puli 1:2 sebesar 725 rpm kemudian melewati reducer akan menjadi
18,125rpm.
Poros
Poros adalah elemen mesin yang berbentuk batang dan umumnya
berpenampang lingkaran, berfungsi untuk memindahkan putaran. Poros dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Poros transmisi/Shaft
Poros semacam ini mendapat beban puntir murni. Daya yang
ditransmisikan kepada poros melalui kopling, roda gigi, puli sabuk, atau
sprocket rantai.
b. Spindel
Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama pada mesin
bubut, dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindel. Syarat yang
harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta
ukurannya harus teliti.
c. Line shaft
Poros ini berhubungan langsung dengan mekanisme yang digerakkan
dan berfungsi memindahkan daya dari motor penggerak ke mekanisme
tersebut.

Adapun hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sebuah poros
yaitu:
1. Kekuatan poros
Poros transmisi mengalami beban puntir atau lentur maka kekuatannya harus
direncanakan sebelumnya agar cukup kuat dan mampu menahan beban.
2. Kekakuan poros
Lenturan yang dialami poros terlalu besar maka akan menyebabkan
ketidaktelitian atau getaran dan suara. Oleh karena itu kekakuan poros juga
perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan mesin.
3. Putaran kritis
Putaran kerja poros haruslah lebih rendah dari putaran kritisnya demi
keamanan karena getarannya sangat besar akan terjadi apabila putaran poros
dinaikkan pada harga putaran kritisnya.
4. Korosi
Terjadi pada poros-poros yang sering berhenti lama. Untuk poros yang
memiliki kasus seperti ini maka perlu dilakukannya perlindungan terhadap
korosi secara berkala. Jadi pemilihan bahan poros yang terbuat dari bahan
anti korosi sangat diperlukan ketika melakukan perancangan sebuah poros
mesin produksi.
5. Bahan poros
Poros yang biasa digunakan pada mesin adalah baja dengan kadar karbon
yang bervariasi.

Dalam perhitungan poros dapat diketahui dengan melihat dari pembebanan:


a. Torsi yang terjadi pada poros.
(2.20)

Keterangan:
T= Torsi pada poros (N.m)
P= Daya (watt)
N= Putaran poros (rpm)
b. Momen yang terjadi pada
poros.

(2.21)
Keterangan:
M = Momen (Nm)
F = Gaya yang terjadi (N)
L = Jarak terhadap gaya (m)
c. Torsi ekuivalen.
(2.22)

Keterangan:
Te = Torsi ekuivalen (N.m)
M = Momen bending atau (N.m)
T = Torsi (N.m)
d. Diameter Poros.

(2.23)

Keterangan:
d = Diameter poros (mm)
= Tegangan geser maksimum
2
(N/mm )