Anda di halaman 1dari 2

BAB II

URAIAN PROSES

Phthalic anhydride diproduksi melalui reaksi oksidasi naphthalene, yaitu


dengan mereaksikan uap naphthalene dengan udara. Udara dan naphthalene perlu
dikondisikan terlebih dahulu sebelum masuk reaktor. Mula-mula udara disaring
dengan filter (F-01) supaya debu atau partikel padatan lain tidak terikut dalam
proses. Setelah itu, udara ditekan hingga 3,5 atm menggunakan kompresor (C-01)
dan dinaikkan suhunya menggunakan furnace (FR-01) hingga mencapai suhu 360C.
Sedangkan naphthalene padat dilebur menggunakan melter (ME-01), kemudian
dicampur dengan naphthalene recycle dari separator (SP-01) pada mixer (M-01).
Sebelum dimasukan ke dalam vaporizer (VP-01), naphthalene cair ditekan hingga
tekanannya mencapai 3,5 atm. Di furnace (F-01), uap naphthalene yang terbentuk
dipanaskan hingga mencapai suhu 360 oC.
Umpan berupa udara dan uap naphthalene keluar furnace (F-01) yang telah
dipanaskan kemudian dimasukkan ke dalam reaktor R-01 dengan perbandingan
massa uap naphthalene dan udara = 1:30 (DAlessandro dan Farkas, 1956). Reaktor
yang digunakan adalah reaktor fluidized bed yang dilengkapi dengan katalis berupa
vanadium pentaoksida (V2O5). Waktu tinggal umpan dalam reaktor berkisar antara 3-
10 detik dan kondisi operasi dijaga pada suhu 360 oC (Llyod, 2011).
Reaksi yang terjadi bersifat eksotermis dengan H = -1792 kJ/mol dan
kenaikan suhu pada kondisi normal yaitu 25-30 oC. Oleh karena itu, dibutuhkan
sistem pendinginan yang baik untuk mencegah terjadinya runaway reaction yang
dapat menyebabkan ledakan (Lorz dan Towae, 2007). Pendinginan dilakukan dengan
Dowtherm A yang dilewatkan pada koil vertikal di dalam reaktor. Reaksi yang terjadi
di dalam reaktor fluidized bed menghasilkan phthalic anhydride (C8H4O3),
naphthoquinone (C10H6O2), dan maleic anhydride (C4H2O3).

Gambar 1. Mekanisme Reaksi Oksidasi Katalitik Naphthalene


Hasil reaksi masih mengandung padatan katalis dan udara yang tidak bereaksi.
Padatan katalis perlu dipisahkan menggunakan cyclone berlapis (CY-01). Recovery
padatan katalis pada tiap cyclone sebesar 90-98% kemudian dikembalikan ke dalam
reaktor.
Gas yang sudah bersih dari padatan katalis didinginkan pada gas cooler (GC-
01) dan kondenser parsial (CD-01) hingga sebagian uap hasil reaksi yang berupa
phthalic anhydride, maleic anhydride dan naphthoquinone terkondensasi. Phthalic
anhydride recovery pada proses ini dapat mencapai 50% (Miserlis, 1984). Uap yang
terkondensasi dipisahkan dalam separator (SP-02). Fase uapnya dimasukkan ke
dalam switch condenser (SC-01) untuk dikondensasikan serta dipisahkan uap air dan
non-condensable gasnya. Kondensat yang terbentuk ditampung sementara dalam
akumulator (AC-01) sebelum dipurifikasi.
Purifikasi produk menggunakan menara distilasi (MD-01 dan MD-02) selama
8-12 jam sehingga terpisah senyawa-senyawa yang memiliki beda titik didih. Pada
menara distilasi pertama (MD-01), hasil atasnya berupa maleic anhydride dengan
kemurnian 99,6% yang kemudian akan dibentuk flakes pada flaker pertama (F-01).
Sedangkan hasil bawahnya akan dimurnikan lagi menggunakan menara distilasi
kedua (MD-02) sehingga komposisi hasil atasnya terdiri dari phthalic anhydride
dengan kemurnian >99,9% sedangkan hasil bawahnya adalah naphthaquinone
dengan kemurnian 95%. Kedua hasil tersebut kemudian akan diproses pada flaker
kedua (F-02) dan ketiga (F-03) sehingga diperoleh bentuk flakes.