Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN TYROIDEKTOMY

A. LAPORAN PENDAHULUAN
1. Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid merupakan organ kecil pada anterior leher bagian bawah, di
antara muskulus sternokleidomastoideus, yang terdiri dari dua buah lobus lateral
yang dihubungkan oleh sebuah istmus (Price & Wilson, 2006). Kelenjar tiroid
terletak di leher, dibawah kartilago krikoid dan berbentuk seperti huruf H (Black &
Hawks, 2009). Dan menurut Newton, Hickey, &Marrs, (2009), kelenjar tiroid
terletak di pangkal leher di kedua sisi bagian bawah laring dan bagian atas trakea.
Panjang kelenjar tiroid kurang lebih 5 cm dengan lebar 3 cm dan berat sekitar 30
gram (Brunner & Suddarth, 2002). Kelenjar tiroid yang dimiliki wanita lebih besar
dibanding laki-laki (Seeley et al, 2007). Kegiatan metabolik pada kelenjar tiroid
cukup tinggi, ditandai dengan aliran darah yang menuju kelenjar tiroid sekitar 5 kali
lebih besar dari aliran darah ke dalam hati (Skandalakis, 2004).
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yang berbeda, yaitu tiroksin
(T4), triiodotironin (T3) yang keduanya disebut dengan satu nama, hormon tiroid
dan kalsitonin. Triiodotironin (T3) memiliki efek yang cepat dalam jaringan.
Dibutuhkan waktu 3 hari untuk T3 dan 11 hari bagi T4 dalam mencapai titik puncak
efek pada jaringan. Sehingga T3 merupakan bentuk aktif dari hormone tiroid (Black
& Hawks, 2009). Pelepasan hormon tiroid T3 dan T4 distimulasi oleh tirotropin atau
TSH (Thyroid Stimulating Hormon) yang disekresi oleh kelenjar hipofisis
(Braverman dkk, 2010). Pengeluaran TSH diatur oleh TRH (Thyrotropin Releasing
Hormon) yang disekresikan oleh hipotalamus. Penurunan suhu tubuh dapat
meningkatkan sekresi TRH. Pengeluaran TSH begantung pada kadar T3 dan T4
yang biasa disebut sebagai pengendalian umpan balik atau feedback control.
Kalsitonin merupakan hormon penting lain yang disekresi kelenjar tiroid yang tidak
dikendalikan oleh TSH. Fungsi kalsitonin adalah menjaga keseimbangan kadar
kalsium plasma dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium pada tulang dan
menurunkan reabsorpsi kalsium pada ginjal, dengan demikian kadar kalsium plasma
tidak menjadi tinggi (Black & Hawks, 2009).
Yodium berperan penting dalam pembentukan hormon tiroid (Brunner &
Suddarth, 2002). Yodium yang telah terserap dalam darah dari GI track akan diambil
oleh kelenjar tiroid dan akan dipekatkan dalam sel kelenjar tiroid. Molekul yodium
yang telah diambil akan bereaksi dengan tirosin (asam amino) untuk membentuk
hormon tiroid. Kelenjar tiroid mengatur fungsi metabolism tubuh, dimana tubuh
menghasilkan energi yang berasal dari nutrisi dan oksigen yang mempengaruhi
fungsi tubuh penting, seperti tingkat kebutuhan energi dan detak jantung (ATA,
2013). Selain itu kelenjar tiroid juga berfungsi meningkatkan kadar karbohidrat,
meningkatkan ukuran dan kepadatan mitokondria, meningkatkan sintesis protein
dan meningkatkan pertumbuhan pada anak-anak. Sel-sel sasaran untuk hormon
tiroid adalah hampir semua sel di dalam tubuh. Fungsi hormon tiroid antara lain
(Black & Hawks, 2009).:
a. Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme
protein, lemak, dan karbohidrat,
b. Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran,
c. Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap katekolamin sehingga
meningkatkan frekuensi jantung,
d. Meningkatkan responsivitas emosi,
e. Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang meningkatkan
kecepatan kontraksi otot rangka,
f. Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel
tubuh dan dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan,
2. Struma Nodosa
a. Definisi
Pembesaran pada kelenjar tiroid biasa disebut sebagai struma nodosa
atau struma. Pembesaran pada tiroid yang disebabkan akibat adanya nodul,
disebut struma nodosa (Tonacchera, Pinchera & Vitty, 2009). Biasanya
dianggap membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran normal.
Pembesaran ini dapat terjadi pada kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien
yang kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) atau kelebihan produksi
hormon (hipertiroidisme) (Black and Hawks, 2009). Menurut Penelitian
Framingham, setiap orang berisiko 5-10% untuk menderita struma nodosa dan
perempuan berisiko 4 kali lipat disbanding laki-laki (Incidence and Prevalence
Data, 2012). Kebutuhan hormon tiroid meningkat pada masa pertumbuhan,
masa kehamilan dan menyusui. Pada umumnya struma nodosa banyak terjadi
pada remaja, wanita hamil dan ibu menyusui. Struma nodosa terdapat dua jenis,
toxic dan non toxic.
Struma nodusa non toxic merupakan struma nodusa tanpa disertai
tanda- tanda hipertiroidisme (Hermus& Huysmans, 2004). Pada penyakit
struma nodusa non toxic tiroid membesar dengan lambat. Struma nodosa toxic
ialah keadaan dimana kelenjar tiroid yang mengandung nodul tiroid yang
mempunyai fungsi yang otonomik, yang menghasilkan suatu keadaan
hipertiroid. Dampak struma nodosa terhadap tubuh dapat mempengaruhi
kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid
terdapat trakea dan esophagus. Struma nodosa dapat mengarah ke dalam
sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi
kesulitan bernapas dan disfagia (Rehman, dkk 2006). Hal tersebut akan
berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan
elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar
dapat asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu
(Roy, 2011):
a) Berdasarkan jumlah nodul: bila jumlah nodul hanya satu disebut struma
nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma
multinodosa.
b) Berdasarkan kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada tiga bentuk
nodul tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas. Nodul dingin apabila
penangkapan yodium tidak ada atau kurang dibandingkan dengan bagian
tiroid sekitarnya. Hal ini menunjukkan aktivitas yang rendah. Nodul
hangat apabila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti
fungsi nodul sama dengan bagian tiroid lainnya. Dan nodul panas bila
penangkapan yodium lebih banyak dari sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c) Berdasarkan konsistensinya lunak, kistik, keras dan sangat keras.

Struma nodosa memiliki beberapa stadium, yaitu (Lewinski, 2002) :


a) Derajat 0 : tidak teraba pada pemeriksaan
b) Derajat I : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika kepala ditegakkan
c) Derajat II : mudah terlihat pada posisi kepala normal
d) Derajat III : terlihat pada jarak jauh.

Berdasakan fisiologisnya struma nodosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut


(Rehman, dkk, 2006) :
a) Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang
disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal
sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang
meningkat. Struma nodosa atau struma semacam ini biasanya tidak
menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara
berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b) Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid
sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari
kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon.
Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi
atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop
atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi.
Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap
udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi,
kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu
dan penurunan kemampuan bicara
c) Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoxicosis atau Graves yang dapat didefenisikan
sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik
hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau
adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid,
sehingga tidak hanya produksi hormone yang berlebihan tetapi ukuran
kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan
menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, lebih
suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung
berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot
(eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot.

Secara klinis pemeriksaan klinis struma nodosa dapat dibedakan menjadi


(Tonacchera, dkk, 2009):
a) Struma nodosa toxic
Struma nodosa toxic dapat dibedakan atas dua yaitu struma nodosa diffusa
toxic dan struma nodosa nodusa toxic. Istilah diffusa dan nodusa lebih
mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma nodosa diffusa
toxic akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan
medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik
teraba satu atau lebih benjolan (struma nodosa multinodular toxic). Struma
nodosa diffusa toxic (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena
jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam
darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok
eksoftalmik/exophtalmic struma nodosa), bentuk tiroktosikosis yang paling
banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. Perjalanan penyakitnya
tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan.
Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah,
mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
b) Struma nodosa non toxic
Struma nodosa non toxic sama halnya dengan struma nodosa toxic yang
dibagi menjadi struma nodosa diffusa non toxic dan struma nodosa nodusa
non toxic. Struma nodosa non toxic disebabkan oleh kekurangan yodium
yang kronik. Struma nodosa ini disebut sebagai simpel struma nodosa,
struma nodosa endemik, atau struma nodosa koloid yang sering ditemukan
di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan
goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia.
b. Etiologi
Penyebab utama struma nodosa ialah karena kekurangan yodium (Black
and Hawks, 2009). Defisiensi yodium dapat menghambat pembentukan
hormon tiroid oleh kelenjar. Hal tersebut memungkinkan hipofisis
mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH kemudian
menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang
besar ke dalam folikel, dan kelenjar menjadi bertambah besar. Penyebab
lainnya karena adanya cacat genetic yang merusak metabolisme yodium,
konsumsi goitrogen yang tinggi (yang terdapat pada obat, agen lingkungan,
makanan, sayuran), kerusakan hormone kelenjar tiroid, gangguan hormonal dan
riwayat radiasi pada kepala dan leher (Rehman dkk, 2006).
Hal yang mendasari pertumbuhan nodul pada struma nodosa non toxic
adalah respon dari sel-sel folikular tiroid yang heterogen dalam satu kelenjar
tiroid pada tiap individu. Dalam satu kelenjar tiroid yang normal, sensitivitas
sel-sel dalam folikel yang sama terhadap stimulus TSH dan faktor perumbuhan
lain (IGF dan EGF) sangat bervariasi. Terdapat sel-sel autonom yang dapat
bereplikasi tanpa stimulasi TSH dan sel-sel sangat sensitif TSH yang lebih
cepat bereplikasi. Selsel akan bereplikasi menghasilkan sel dengan sifat yang
sama. Sel-sel folikel dengan daya replikasi yang tinggi ini tidak tersebar merata
dalam satu kelenjar tiroid sehingga akan tumbuh nodul-nodul.
c. Patofisiologi
Yodium merupakan bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormon tiroid. Bahan yang mengandung yodium diserap usus,
masuk kedalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar
tiroid. Dalam kelenjar, yodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang
distimulasikan oleh Tiroid Stimulating Hormon (TSH) kemudian disatukan
menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang
terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul
triiodotironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukan pengaturan umpan balik negatif
dari seksesi TSH dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedangkan T3
merupakan hormon metabolic yang tidak aktif. Akibat kekurangan yodium
maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi
lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram.
Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan
metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui
rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar
hipofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Biasanya
tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular
pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsurangsur, struma dapat
menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian besar penderita
dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan. Walaupun
sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol
kebagian depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila
pembesarannya bilateral.
d. Tanda dan Gejala
Beberapa penderita struma nodosa non toxic tidak memiliki gejala sama sekali.
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan
gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan
menelan. Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah,
berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, dan kelelahan. Beberapa diantaranya
mengeluh adanya gangguan menelan, gangguan pernapasan, rasa tidak nyaman
di area leher, dan suara yang serak. Pemeriksaan fisik struma nodosa non toxic
berfokus pada inspeksi dan palpasi leher untuk menentukan ukuran dan bentuk
nodular. Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita
yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit
terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa
komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler
kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada
permukaan pembengkakan. Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien
diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang
pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada
tengkuk penderita. Struma nodosa tidak termasuk kanker tiroid, tapi tujuan
utama dari evaluasi klinis adalah untuk meminimalkan risiko terhadap kanker
tiroid.
e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk struma nodosa antara lain (Tonacchera, dkk,
2009):
a) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan tes fungsi hormon : T4 atau T3, dan TSH.
b) Pemeriksaan Radiologi
Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran
struma yang pada umumnya secara klinis sudah bias diduga, foto
rontgen pada leher lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG). Manfaat USG dalam pemeriksaan
tiroid :
o Untuk menentukan jumlah nodul.
o Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.
o Dapat mengukur volume dari nodul tiroid.
o Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang
tidak menangkap yodium, dan tidak terlihat dengan sidik tiroid.
o Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan
dilakukan biopsi terarah.
o Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil pemeriksaan dengan radioisotope
adalah tentang ukuran, bentuk, lokasi dan yang utama adalah
fungsi bagian-bagian tiroid.
c) Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy). Biopsi ini
dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan
f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan struma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Penatalaksanaan Konservatif
Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini
diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH.
Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan
hormone tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme
yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-
tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU)
dan metimasol/karbimasol.
Terapi Yodium Radioaktif .
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada
kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak
mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi
gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam
kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh
lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau
kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau
cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya
diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat
tiroksin.

b. Penatalaksanaan Operatif
Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid
adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal
akan menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan
tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk
istmus (Sudoyo, A., dkk., 2009). Tiroidektomi merupakan prosedur bedah
yang relative aman dengan morbiditas kurang dari 5 %. Menurut Lang
(2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu:
Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah
satu lobus
Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus
Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus
dan istmus
Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan
sebagian besar lobus lainnya.
Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan
kelenjar limfatik servikal.

Setiap pembedahan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk


tiroidektomi. Komplikasi pasca operasi utama yang berhubungan dengan
cedera berulang pada saraf laring superior dan kelenjar paratiroid.
Devaskularisasi, trauma, dan eksisi sengaja dari satu atau lebih kelenjar
paratiroid dapat menyebabkan hipoparatiroidisme dan hipokalsemia, yang
dapat bersifat sementara atau permanen. Pemeriksaan yang teliti tentang
anatomi dan suplai darah ke kelenjar paratiroid yang adekuat sangat penting
untuk menghindari komplikasi ini. Namun, prosedur ini umumnya dapat
ditoleransi dengan baik dan dapat dilakukan dengan cacat minimal (Bliss et al,
2000). Komplikasi lain yang dapat timbul pasca tiroidektomi adalah
perdarahan, thyrotoxic strom, edema pada laring, pneumothoraks,
hipokalsemia, hematoma, kelumpuhan syaraf laringeus reccurens, dan
hipotiroidisme (Grace & Borley, 2007).
Tindakan tiroidektomi dapat menyebabkan keadaan hipotiroidisme, yaitu
suatu keadaan terjadinya kegagalan kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon
dalam jumlah adekuat, keadaan ini ditandai dengan adanya lesu, cepat lelah,
kulit kering dan kasar, produksi keringat berkurang, serta kulit terlihat pucat.
Tanda-tanda yang harus diobservasi pasca tiroidektomi adalah hipokalsemia
yang ditandai dengan adanya rasa kebas, kesemutan pada bibir, jari-jari tangan
dan kaki, dan kedutan otot pada area wajah (Urbano, FL, 2000). Keadaan
hipolakalsemia menunjukkan perlunya penggantian kalsium dalam tubuh.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kelumpuhan nervus laringeus
reccurens yang menyebabkan suara serak. Jika dilakukan tiroidektomi total,
pasien perlu diberikan informasi mengenai obat pengganti hormon tiroid,
seperti natrium levotiroksin (Synthroid), natrium liotironin (Cytomel) dan obat-
obatan ini harus diminum selamanya.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pengkajian secara pasien bedah saat kembali ke unit terdiri atas :
a. Respirasi
Kepatenan jalan napas, kedalaman, frekuensi, bunyi napas
b. Sirkulasi
Tanda-tanda vital: T/D, suhu, nadi, kondisi kulit : dingin, basah, sianotis
c. Neurologi :
Tingkat respons, neurosensori, fungsi bicara : kualitas dan tonasi
d. Drainase :
Mengantisipasi perdarahan : Perhatikan cairan drainase yang keluar khususnya
24 jam pertama pasca operasi. Inspeksi balutan luka.
e. Kenyamanan
Tipe nyeri dan lokasi, mual dan muntah, perubahan posisi yang dibutuhkan
f. Keselamatan : Kebutuhan akan pagar tempat tidur

2. Diagnosa
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d obstruksi trakea, pembengkakan,
perdarahan, spasme laryngeal
b. Kerusakan komunikasi verbal b/d cedera pita suara/kerusakan saraf laring,
edema jaringan, nyeri
c. Resiko tinggi terhadap cidera b/d ketidakseimbangan kimia, stimulasi SSP
berlebihan
d. Nyeri akut b/d interupsi/manipulasi bedah terhadap jaringan/otot, edema pasca
operasi

3. Intervensi
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d obstruksi trakea, pembengkakan,
perdarahan, spasme laryngeal
Tujuan : mempertahankan jalan napas paten, aspirasi dicegah
Kriteria Hasil :
- Menunjukkan jalan napas paten/bersih
- Suara napas normal
- Tidak tampak adanya penggunaan otot bantu pernapasan
- TTV dalam batas normal (RR : 12-20 kali/menit)
Intervensi:
Mandiri
a) Pantau frekuensi pernapasan, kedalaman dan kerja pernapasan
R/ pernapasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya
distress pada pernapasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema
atau perdarahan
b) Auskultasi suara napas, catat adanya suara ronki
R/ ronki merupakan indikasi adanya obstruksi/spasme laryngeal yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat
c) Kaji adanya dyspnea, stridor, berkokok dan sianosis. Perhatikan kualitas
suara
R/ indicator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi
dan intervensi segera
d) Bantu dalam perubahan posisi, latihan napas dalam dan/batuk efektif sesuai
indikasi
R/ mempertahankan kebersihan jalan napas dan ventilasi
e) Lakukan penghisapan pada mulut dan trakea sesuai dengan indikasi, catat
warna dan karakteristik sputum
R/ edema dan nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk
mengeluarkan dan membersihkan jalan napas sendiri
f) Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur
R/ jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak
kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung
Kolaborasi/Delegatif
g) Kolaborasi/delegatif dalam pemberian inhalasi uap
R/ menurunkan rasa tidak nyaman karena sakit tenggorokan dan edema
jaringan, dan meningkatkan pengenceran sekresi

b. Kerusakan komunikasi verbal b/d cedera pita suara/kerusakan saraf laring,


edema jaringan, nyeri
Tujuan : mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat
dipahami
Kriteria Hasil:
- Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien terpenuhi
Mandiri
a) Kaji fungsi bicara secara periodik, anjurkan untuk tidak berbicara terus
menerus
R/ suara serak dan sakit tenggorokan karena edema jaringan atau kerusakan
karena pembedahan pasa saraf laryngeal dan berakhir dalam beberapa hari.
Kerusakan saraf permanen dapat terjadi (jarang) yang menyebabkan
paralisis pita suara dan/atau penekanan pada trakea
b) Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya
memerlukan jawaban ya atau tidak
R/ menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara
c) Berikan metode komunikasi alternative yang sesuai
R/ memfasilitasi ekspresi yang dibutuhkan
d) Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungi pasien secara teratur
R/ menurunkan ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunikasi
e) Pertahankan lingkungan yang tenang
R/ meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan
menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat
didengarkan
c. Resiko tinggi terhadap cidera b/d ketidakseimbangan kimia, stimulasi SSP
berlebihan
Tujuan : mendemonstrasikan tak ada cedera dengan komplikasi
minimal/terkontrol
Kriteria Hasil :
- Klien terbebas dari cedera
Mandiri
a) Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardia,
disritmia, distress pernapasan, sianosis (berkembangnya edema paru)
b) Evaluasi refleks secara periodic. Observasi adanya peka rangsang, misalnya
gerakan tersentak, kebas, parestesia, tanda Chvostek dan Trousseau positif,
adanya kejang
c) Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang
Kolaborasi/Delegatif
d) Kolaborasi/delegatif dalam pemberian obat sesuai indikasi :
- Kalsium (glukonat, laktat)
R/ untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara tetapi
mungkin juga menjadi permanen
- Agen ikatan-fosfat
R/ membantu sepenuhnya dalam menurunkan kadar fosfor yang
meningkat berhubungan dengan hipokalsemia
- Sedative
R/ meningkatkan istirahat, menurunkan stimulasi dari luar
- Antikonvulsan
Mengendalukan kejang sampai terapi yang dilakukan memberikan hasil
yang memuaskan

d. Nyeri akut b/d interupsi/manipulasi bedah terhadap jaringan/otot, edema pasca


operasi
Tujuan: Melaporkan nyeri hilang/terkontrol
Kriteria Hasil:
- Klien mampu mengontrol nyeri
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
- Tanda vital dalam rentang normal (TD : TDS <120 mmHg, TDD <80
mmHg, nadi 60-100 kali/menit, respirasi 12-20 kali/menit)
Mandiri
a) Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi,
intensitas (skala 0-10) dan lamanya
R/ bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi,
menentukan efektivitas terapi
b) Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan
bantal pasir atau bantal kecil
R/ mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas garis jahitan
c) Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan
posisi
R/ mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot
d) Anjurkan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi napas dalam
R/ membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien
untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara efektif.
Kolaborasi/Delegatif
e) Kolaborasi/delegatif dalam pemberian obat analgetik sesuai indikasi
R/ menurunkan nyeri dan rasa tidak nyaman, meningkatkan istirahat

4. Implementasi
Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan
dan diselesaikan. Implementasi adalah bersinambungan dan interaktif dengan
komponen lain dari proses keperawatan. Selama implementasi, perawat mengkaji
kembali klien, memodifikasi rencana asuhan, dan menuliskan kembali hasil yang
diharapkan sesuai kebutuhan. Untuk implementasi yang efektif, perawat harus
berpengetahuan banyak tentang tipe-tipe intervensi, proses implementasi dan
metoda implementasi fisik.

5. Evaluasi
Dalam evaluasi terhadap pasien dengan tiroidektomi secara umum dapat dinilai
dari mempertahankan jalan napas paten, aspirasi dicegah, mampu menciptakan
metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami, mendemonstrasikan tak
ada cedera dengan komplikasi minimal/terkontrol dan melaporkan nyeri
hilang/terkontrol.
Daftar Pustaka

Doengoes, M.E.2000.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC.

Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta : EGC.

Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4.Jakarta : EGC


LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
TYROIDEKTOMY

Oleh :
Ni Kadek Manthary Dillona Prilla
16J10696
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BALI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

TAHUN 2017

Denpasar, Maret 2017


Mahasiswa

(_______________________)

Mengetahui

Pembimbing Ruangan Pembimbing Akademik

(_____________________________) (____________________________)