Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara berdaulat memiliki hak untuk


membuat ketentuan tentang perpajakan. Fungsi dari pajak yang
ditarik oleh pemerintah ini utamanya adalah untuk membiayai
kegiatan pemerintahan dalam rangka menyediakan barang dan
jasa publik yang diperlukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Di
samping itu, pajak juga berfungsi untuk mengatur perilaku Warga
Negara untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Indonesia juga bagian dari dunia internasional yang sudah


pasti dalam menjalankan roda pemerintahannya melakukan
hubungan internasional. Hubungan internasional dapat berupa
kerjasama di bidang keamanan pertahanan, kerjasama di bidang
sosial, ekonomi, budaya dan lainnya, namun pembahasan ini
terbatas pada kegiatan ekspor maupun impor (Transaksi
Perdagangan Internasional) yang terkait dengan pajak
internasional. Setiap kerjasama yang dilakukan oleh setiap
negara tentunya harus disepakati terlebih dahulu oleh para pihak
guna mencapai komitmen bersama yang termuat dalam suatu
perjanjian internasional, tidak terkecuali perjanjian dalam bidang
perpajakan.

Transaksi perdagangan antara dua negara atau beberapa


negara berpotensi menimbulkan aspek perpajakan, hal ini
tentunya harus diatur oleh kedua negara atau dunia internasional
secara umum guna meningkatkan perekonomian dan
perdagangan negara-negara yang melakukan kerjasama
tersebut. Ini menjadi penting agar tidak menghambat aliran dana
2

investasi akibat pengenaan pajak yang memberatkan Wajib Pajak


yang bekedudukan di kedua negara yang melakukan transaksi
tersebut. Untuk itu perlu adanya kebijakan perpajakan
internasional dalam hal mengatur hak pengenaan pajak yang
berlaku disuatu negara, dengan asumsi bahwa disetiap negara
dapat dipastikan sudah mengatur ketentuan pajak dalam wilayah
yang menjadi kedaulatannya. Namun setiap negara tidak bebas
mengatur pengenaan pajak terhadap badan atau warga negara
asing, pajak internasional merupakan salah satu bentuk hukum
internasional, dimana setiap negara harus tunduk pada
kesepakatan dunia internasional yang dikenal dengan istilah
Konvensi Wina.

Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan khusus yang ingin


dicapai, begitu juga dengan kebijakan perpajakan internasional
juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu memajukan
perdagangan antar negara, mendorong laju investasi di masing-
masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak
yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah
upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan
melakukan penghindaraan pajak berganda internasional.
3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Perpajakan International

2.1.1 Pajak International

Definisi Pajak Internasional dalam Undang-undang Pajak


Penghasilan sampai detik ini belum ada. Penulis bersama dengan
Bapak Sriadi Kepala Seksi Perjanjian Perpajakan Eropa, Kantor
Pusat Direktorat Jendral Pajak, memberanikan diri untuk
mendefinisikan tentang pengertian Pajak Internasional
berdasarkan uraian sebelumnya.

Pajak Internasional adalah kesepakatan perpajakan yang


berlaku di antara negara yang mempunyai Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan pelaksanaanya
dilakukan dengan niat baik sesuai dengan Konvensi Wina (Pacta
Sunservanda).

Dengan demikian peraturan perpajakan yang berlaku di


Negara Indonesia terhadap badan atau orang asing menjadi tidak
berlaku bilamana terdapat perjanjian bilateral (dua negara)
4

tentang Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dengan


negara asal atau penduduk asing tersebut.

Secara umum, ketentuan pajak internasional suatu negara


meliputi 2 (dua) dimensi luas yaitu:

1. Pemajakan terhadap wajib pajak dalam negeri (WPDN) atas


penghasilan dari luar negeri, dan
2. Pemajakan terhadap wajib pajak luar negri (WPLN) atas
penghasilan dari dalam negeri (domestik).
Dimensi pertama merujuk pada permajakan atas
penghasilan luar negeri atau transaksi (ke) luar batas negara
(outward, outbound transaction) karena umumnya melibatkan
eksportasi modal ke manca negara sedangkan dimensi kedua
menunjuk pada pemajakan ataspenghasilan domestik atau
transaksi (ke) dalam batas negara (inward, inbound transaction)
karena umumnya melibatkan importasi modal dari manca
negara. Dalam aplikasinya pemajakan penghasilan luar negeri
dilakukan oleh negara domisili (residence country), sedangkan
pemajakan penghasilan domestik dilakukan oleh negara sumber
(source country).

2.1.2 Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional

Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan khusus yang ingin


dicapai, begitu juga dengan kebijakan perpajakan internasional
juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu memajukan
perdagangan antar negara, mendorong laju investasi di masing-
masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak
yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah
upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan
melakukan penghindaraan pajak berganda internasional.
5

2.1.3 Prinsip-Prinsip yang Harus Dipahami dalam


Perpajakan Internasional

Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus


dipenuhi dalam kebijakan pemajakan internasional:

1. Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik):


Kemanapun kita berinvestasi, beban pajak yang dibayar
haruslah sama. Sehingga tidak ada bedanya bila kita
berinvestasi di dalam atau luar negeri. Maka jangan sampai
bila berinvestasi di luar negeri, beban pajaknya lebih besar
karena menanggung pajak dari dua negara. Hal ini akan
melandasi UU PPh Psl 24 yang mengatur kredit pajak luar
negeri.
2. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional):
Darimanapun investasi berasal, dikenakan pajak yang sama.
Sehingga baik investor dari dalam negeri atau luar negeri
akan dikenakan tarif pajak yang sama bila berinvestasi di
suatu negara. Hal ini melandasi hak pemajakan yang sama
dengan Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN) terhadap
permanent establishment (PE) atau Badan Usaha Tetap (BUT)
yang dapat berupa cabang perusahaan ataupun kegiatan jasa
yang melewati time-test dari peraturan yang berlaku.
3. National Neutrality: Setiap negara, mempunyai bagian pajak
atas penghasilan yang sama. Sehingga bila ada pajak luar
negeri yang tidak bisa dikreditkan boleh dikurangkan sebagai
biaya pengurang laba.

2.2. Pemajakan Lintas Negara


6

Pemajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim


pemajakan. Hal ini karena adanya prinsip pemajakan global
untuk wajib pajak dalam negeri (global principle) dimana
penghasilan dari dalam luar negeri dan dalam negeri dikenakan
pajak oleh negara residen (negara domisili wajib pajak). Selain
itu, terdapat pemajakan teritorial (source principle) bagi wajib
pajak luar negeri (WPLN) oleh negara sumber penghasilan
dimana penghasilan yang bersumber dari negara tersebut
dikenakan pajak oleh negara sumber. Hal ini membuat suatu
penghasilan dikenakan pajak dua kali, pertama oleh negara
residen lalu oleh negara sumber Misalnya: PT A punya cabang di
Jepang. Penghasilan cabang di jepang dikenakan pajak oleh
fiskus Jepang. Lalu di Indonesia penghasilan itu digabung dengan
penghasilan dalam negeri lalu dikalikan tarif pajak UU domestik
Indonesia.

Bentokran klaim lebih diperparah bila terjadi dual residen,


dimana terdapat dua negara sama-sama mengklaim seorang
subjek pajak sebagi wajib pajak dalam negerinya yang
menyebabkan ia terkena pemajakan global dua kali. Misalnya:
Mr. A bekerja di Indonesia lebih dari 183 hari namun setiap sabtu
dan minggu ia pulang ke rumahnya di Singapura. Mr. A dianggap
WPDN oleh Indonesia dan juga Singapura sehingga untuk wajib
melapor dan membayar pajak untuk penghasilan globalnya pada
Indonesia maupun Singapura.

Dalam kaitan pembagian hak pemajakan ini, negara-negara


yang melakukan perjanjian perpajakan dibagi menjadi dua jenis.
Pertama adalah negara sumber (source country) yang
merupakan negara di mana penghasilan yang merupakan objek
pajak timbul. Kedua adalah negara domisili (resident country)
yaitu negara tempat subjek pajak bertempat tinggal,
7

berkedudukan atau berdomisili berdasarkan ketentuan


perpajakan.

Baik negara sumber maupun negara domisili biasanya


berhak untuk mengenakan pajak berdasarkan undang-undang
domestiknya. Pengenaan pajak oleh dua yurisdiksi perpajakan
terhadap satu jenis penghasilan inilah yang biasanya
menimbulkan pengenaan pajak berganda sehingga perlu diatur
dalam suatu persetujuan antara negara sumber dan negara
domisili.

2.3. Konsep Juridical Versus Economic Double


Taxation

Dalam komentar atau Pasal 23 A dan 23 B model P3B OECD


membedakan antara pajak berganda yuridis (juridical double
taxation) dengan pajak ganda ekonomis (economic double
taxation). Pajak berganda yuridis terjadi apabila atas penghasilan
yang sama yang diterima oleh orang yang sama dikenakan pajak
oleh lebih dari satu negara, sedangkan pajak berganda ekonomis
terjadi apabila dua orang yang berbeda (secara hukum)
dikenakan pajak atas suatu penghasilan yang sama (atau
identik).

Atas perbedaan tersebut Arnold dan McIntyre (2002)


menyebutkan sebagai definisi legal atas Pajak Berganda
Internasional (sebutan lain dari PBI yuridis) dan konsep ekonomis
yang luas atas PBI. Berdasar definisi legal, pemajakan badan
usaha (atau perusahaan induk) oleh suatu Negara dan
pemajakan atas pemegang saham (atau perusahaan anak) oleh
negara lain bukanlah suatu pajak berganda karena mereka
merupakan dua subjek hukum yang berbeda. Namun demikian,
8

secara ekonomis PBI terjadi dalam kasus badan dengan


pemegang sahamnya karena mereka merupakan satu kesatuan
ekonomis. Pajak bergganda ekonomis dapat terjadi apabila
penghasilan dikenakan pajak pada persekutuan dan kepada
sekutu, atau kepada lembaga wali amanat (trust) dan pemilik
manfaat manat (beneficiaries), dan pemajakan penghasilan pada
keluarga dan anggota keluarga.

Dalam komentar atas Pasal 23A dan 23B, model konvensi


OECD menjelaskan tentang PBI yuridis dan ekonomis. Sementara
PBI yuridis terjadi apabila suatu penghasilan (atau modal) yang
sama dikenakan pajak di tangan orang (subjek) yang sama oleh
lebih dari satu Negara, PBI ekonomis timbul apabila dua orang
yang (secara yuridis) berbeda dikenakan pajak atas suatu
penghasilan (atau modal maupun objek) yang sama (oleh lebih
dari satu negara). Dalam PBI yuridis tampak bahwa pemajakan
oleh lebih dari satu negara tersebut dilakukan terhadap satu
subjek legal yang sama (legal identityof subject). Di pihak lain,
PBI ekonomis meliputi pemajakan atas objek yang sama
terhadap legal subjek yang berbeda, namun secara ekonomis
identik atau setidaknya merupakan para wajib pajak yang
terdapat hubungan (economic identity of subject).

2.4. Sumber Hukum Perpajakan Internasional

Ottmar Buhler membagi Hukum Pajak Internasional dalam


arti sempit dan hukum pajak internasional dalam arti luas.
Hukum Pajak Internasional dalam arti sempit adalah (Agus
Setiawan, 2006):

Kaedah-kaedah norma hukum perselisihan yang didasarkan


pada hukum antar bangsa (hukum internasional),
9

Sedangkan hukum pajak dalam arti luas ialah:


Kaedah-kaedah hukum antar bangsa ini ditambah peraturan
nasional yang mempunyai obyek hukum perselisihan, khususnya
tentang perpajakan.
Teicher memberikan kesimpulan bahwa dalam hukum pajak
internasional dalam arti luas termasuk sebagai berikut:
a. Hukum Pajak Internasional dan Nasional
b. Hukum yang mengatur perjanjian pajak untuk mencegah
pajak ganda dan lain-lain perjanjian internasional;
c. Bagian dari hukum antar bangsa, yaitu :
i. Peraturan hukum yang mengandung soal-soal pajak dalam
hukum internasional/antar bangsa yang diakui secara
umum;
ii. Keputusan Pengadilan Internasional Den Haag yang
memuat soal-soal perpajakan;
iii. Apa yang telah berkembang sebagai hukum pajak pada
masyarakat internasional (tertentu) seperti supranationales
steuerrecht.

Menurut Rosendorf, Hukum Pajak Internasional sebagai


keseluruhan Hukum Pajak Nasional dari semua negara yang ada
di Dunia.
Menurut PJA Adriani, Hukum Pajak Internasional ialah
keseluruhan peraturan yang mengatur tata tertib hukum dan
yang mengatur soal penyedotan daya beli itu di masing-masing
negara.
Pengertian Hukum Pajak Internasional itu merupakan suatu
pengertian yang lebih luas dari pada pengertian Pajak Ganda dan
Hukum Pajak Nasional itu termasuk di dalam Hukum Pajak
Internasional. Hukum Pajak Internasional merupakan suatu
kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur
dalam Undang-undang nasional mengenai :
10

a. Pengenaan pajak terhadap orang-orang luar negeri;


b. Peraturan-peraturan nasional untuk menghindari pajak ganda;
c. Traktat-traktat.

Menurut Negara-negara Anglo Saxon, hukum Pajak


Internasional dibagi sebagai berikut :
1. Hukum Pajak Nasional mengatur Hukum Pajak Luar Negeri
(National External Tax Law);
National External Tax Law merupakan bagian dari hukum
pajak nasional yang memuat ketentuan-ketentuan mengenai
pengenaan pajak yang mempunyai daya kerja sampai di luar
batas-batas negara karena terdapat unsur-unsur asing, baik
mengenai obyeknya (sumber ada di luar negeri) maupun
mengenai subyeknya (subyek ada di Luar Negeri).

2. Hukum Pajak Luar Negeri (Foreign Tax law);


Foreign Tax Law ialah keseluruhan perundang-undangan dan
peraturan-peraturan dari negara-negara yang ada di seluruh
dunia.

3. Hukum Pajak Internsional (Internasioanal Tax Law);


Internasional Tax Law dibedakan dalam arti sempit dan arti
luas. Hukum Pajak Internasional dalam arti sempit merupakan
keseluruhan kaedah pajak yang berdasarkan prinsip-prinsip
hukum pajak yang telah lazim diterima baik oleh Negara-negara
di Dunia, mempunyai tujuan mengatur soal perpajakan antara
negara yang saling mempunyai kepentingan.
Sedangkan Hukum Pajak Internasional dalam arti luas
adalah keseluruhan kaedah baik yang berdasarkan traktat-
traktat, konvensi-konvensi, dan prinsip hukum pajak yang
diterima baik oleh negara-negara di Dunia, maupun kaedah-
kaedah nasional yang mempunyai sebagai obyeknya pengenaan
pajak dalam mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing,
hal mana mungkin dapat menimbulkan bentrokan antara dua
negara atau lebih.
11

Sumber-sumber Hukum Pajak Intenasional


Sumber-sumber Hukum Pajak Intenasional terlalu luas jika
ingin kita kaji, sehingga dipersempit hanya terkait dengan
Negara Indonesia, sumber-sumber hukum terebut antara lain :
A. Kaedah Hukum Pajak Nasional/Inilaateral yang mengandung
unsur asing, antara lain:
a. Peraturan Perpajakan Nasional yang mengatur P3B (Pasal
32 A UU PPh) tentang Pemerintah berwenang untuk
melakukan perjanjian dengan negara lain dalam rangka
penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan
pajak.
b. Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 2 UU PPh) tentang :
Subjek Pajak Luar Negeri dan Bentunk Usaha Tetap (BUT);
c. Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 2 UU PPh) tentang:
Tidak Termasuk Subyek Pajak;
d. Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 5 ayat (2) UU PPh)
tentang: Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 3 UU PPh)
tentang: Tidak Termasuk Subyek Pajak Bentuk Peraturan
Perpajakan Nasional (Pasal 3 UU PPh) tentang: Tidak
Termasuk Subjek Pajak Usaha Tetap;
e. Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 18 UU PPh) tentang:
Hubungan Istimewa, Billamana Terdapat Ketidakwajaran
dalam Perpajakan;
f. Peraturan Perpajakan Nasional (Pasal 24 UU PPh) tentang:
Kredit Pajak Luar Negeri;
g. Peraturan Perpajakan Nasianal (Pasal 26 UU PPh) tentang:
Pemotongan Pajak atas Subjek Pajak Luar Negeri yang
memperoleh penghasilan dari Indonesia.

B. Kaedah-kaedah yang berasal dari traktat:


a. Perjanjian bilateral;
b. Perjanjanjian ini diwujudkan dengan adanya Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda (P3B).
12

a. Perjanjian multirateral
Perjanjian ini seperti Konvensi Wina.

C. Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang


pajak-pajak Internasional.
Hal ini dapat diwujudkan dengan adanya putusan
pengadilan pajak yang menyangkut tentang perpajakan
Internasional, atau Keputusan Pengadilan internasional Den Haag
yang memuat soal-soal perpajakan.
Berdasarkan Pasal 32 A Undang-undng Pajak Penghasilan,
pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan
pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran Pajak
Berganda dan pencegahan Pengelakan Pajak. Dalam
penjelasannya, perjanjian ini dimaksudkan dalam rangka
peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan
negara lain diperlukan suatu perangkat hukum yang berlaku
khusus (lex-spesialis) yang mengatur hak-hak pengenaan pajak
dari masing-masing negara guna memberikan kepastian hukum
dan menghindarkan pengenaan pajak berganda serta
pengelakan pajak. Adapun bentuk dan meterinya mengacu pada
Konvensi Internasional dan ketentuan lainnya serta ketentuan
perpajakan nasional masing-masing negara. Atas dasar tersebut
maka Negara Indonesia mengakui Konvensi Wina tahun 1961
(CD) dan 1963 (CC), dan tax treaty berbagai negara.
Menurut Rochmat Soemitro, dalam Hukum Pajak
Internasional mencakup juga perjanjian bilateral perpajakan yang
disebut dengan istilah Traktat antar negara utuk mengatur soal-
soal perpajakan dan dalam mana dapat ditunjukan adanya unsur-
unsur asing, baik mengenai subyeknya maupun mengenai
obyeknya.
Kekuasaan Negara itu tidak hanya menciptakan UU Pasal 23
ayat 2 UUD 1945, namun kekuasaan ini juga tercemin dalam
13

mana negara mempertahankan kedaulatan negara dimana tidak


ada Hukum Internasional mana atau oleh siapa yang dapat
membatasi wewenang ini.
Apabila negara kita tidak tunduk dan patuh terhadap hukum
internasional, maka negara kita akan diberikan sanksi secara
bersama oleh negara yang mengikuti konvensi tersebut, dalam
hal demikian Indonesia akan dikucilkan dalam dunia internasional
dan berdampak terhadap perekonomian negara Indonesia secara
keseluruhan, sehingga mau tidak mau Indonesia harus turut
serta menjalankan konvensi tersebut.

2.5. Prinsip Non Diskriminasi

Ketentuan non diskriminasi dimaksudkan untuk memberikan


perlindungan di bidang perpajakan bagi warga negara dari suatu
negara treaty partner yang melakukan kegiatan di negara treaty
partner lainnya. perlindungan yang dimaksud adalah warga
negara dari negara treaty partner lainnya dibandingkan warga
negara di negara itu dalam keadaan atau kondisi yang sama (the
same circumstances).

Ketentuan non diskriminasi itu berlaku atas suatu bentuk


usaha tetap dari perusahaan yang adalah penduduk dari suatu
negara treaty partner lainnya atau perusahaan penanaman
modal di negara itu yang modalnya sebagian atau seluruhnya
dimiliki atau dikuasai baik langsung maupun tidak langsung oleh
penduduk dari negara yang disebutkan pertama. Namun,
ketentuan ini tidak mewajibkan negara treaty partner lainnya
memberikan keringanan (allowances), potongan (reliefs) ataupun
pengurangan (deductions) pengenaan pajak kepada warga
14

negara atau penduduk dari negara yang disebutkan pertama di


atas.

Sebagai perusahaan yang berorientasi laba, sudah tentu


suatu perusahaan domestik maupun perusahaan multinasional
berusaha meminimalkan beban pajak dengan cara
memanfaatkan kelemahan sistem ketentuan pajak dari suatu
negara. Di banyak negara, skema penghindaran pajak dapat
dibedakan menjadi:

1. Penghindaran pajak yang diperkenankan (acceptable tax


avoidance).

2. Penghindaran pajak yang tidak diperkenankan (unacceptable


tax avoidance).

Antara suatu negara dengan negara lain bisa jadi saling


berbeda pandangannya tentang skema apa saja yang dapat
dikategorikan sebagai acceptable tax avoidance atau
unacceptable tax avoidance. Dengan demikian, bisa saja suatu
skema penghindaran pajak tertentu di suatu negara dikatakan
sebagai penghindaran pajak yang tidak diperkenankan, tetapi di
negara lain dikatakan sebagai penghindaran pajak yang
diperkenankan. Istilah lain yang sering dipergunakan untuk
menyatakan penghindaran pajak yang tidak diperkenankan
adalah aggressive tax planning dan istilah untuk penghindaran
pajak yang diperkenankan adalah defensive tax planning.

Dalam buku-buku perpajakan, istilah tax avoidance biasanya


diartikan sebagai suatu skema transaksi yang ditujukan untuk
meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan kelemahan-
kelemahan (loophole) ketentuan perpajakan suatu negara.
Dengan demikian, banyak ahli pajak menyatakan skema tersebut
15

sah-sah saja (legal) karena tidak melanggar ketentuan


perpajakan. Lebih lanjut, The Asprey Comittee of Australia,
seperti yang dikutip oleh Indrayagus Slamet menyatakan bahwa
tax avoidance umumnya menyangkut perbuatan yang masih
dalam koridor hukum tapi tidak berdasarkan bonafide dan
adequate consideration, atau berlawanan dengan maksud dari
pembuat undang-undang (the intention of parliament).

Tax planning adalah upaya Wajib Pajak untuk


meminimalkan pajak yang terutang melalui skema yang memang
telah jelas diatur dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan dan sifatnya tidak menimbulkan dispute antara Wajib
Pajak dan otoritas pajak.

Sedangkan tax evasion diartikan sebagai suatu skema


memperkecil pajak yang terutang dengan cara melanggar
ketentuan perpajakan (illegal) seperti dengan cara tidak
melaporkan sebagian penjualan atau memperbesar biaya
dengan cara fiktif.

Berkaitan dengan tax avoidance, pertanyaan yang layak kita


ajukan adalah apakah suatu skema transaksi yang tujuannya
semata-mata untuk penghindaran pajak (tidak ada tujuan
bisnisnya) dengan cara memanfaatkan kelemahan ketentuan
perpajakan yang ada dapat dibenarkan? Dalam konteks
perpajakan internasional, ada berbagai skema yang biasa
dilakukan oleh PMA untuk melakukan penghematan pajak yaitu
dengan skema seperti (i) transfer pricing, (ii) thin capitalization,
(iii) treaty shopping, dan (iv) controlled foreign corporation (CFC).

Pada umumnya dalam melakukan penghematan pajak


tersebut, Wajib Pajak dapat menjalankan dalam bentuk:
16

1. Substantive tax planning, yang terdiri atas:


a. Memindahkan subjek pajak (transfer of tax subject) ke
negara-negara yang dikategorikan sebagai tax haven atau
negara yang memberikan perlakuan pajak khusus
(keringanan pajak) atas suatu jenis penghasilan.
b. Memindahkan objek pajak (transfer of tax subject) ke
negara-negara yang dikategorikan sebagai tax haven atau
negara yang memberikan perlakuan pajak khusus
(keringanan pajak) atas suatu jenis penghasilan.
c. Memindahkan subjek pajak dan objek pajak (transfer of tax
subject and of tax object) ke negara-negara yang
dikategorikan sebagai tax haven atau negara yang
memberikan perlakuan pajak khusus (keringanan pajak)
atas suatu jenis penghasilan.
2. Formal tax planning
Melakukan penghindaran pajak dengan cara tetap
mempertahankan substansi ekonomi dari suatu transaksi
dengan cara memilih berbagai bentuk formal jenis transaksi
yang memberikan beban pajak yang paling rendah.

2.6. Konsep Anti Tax Avoidance

Dalam menghadapi skema-skema unacceptable tax


avoidance atau aggressive tax planning seperti tersebut di atas,
umumnya suatu negara menerbitkan ketentuan pencegahan
penghindaran pajak yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan sebagai berikut ini:
1. Specific Anti Avoidance Rule (SAAR), yaitu ketentuan anti
penghindaran pajak atas transaksi seperti (i) transfer pricing,
(ii) thin capitalization, (iii) treaty shopping, dan (iv) controlled
foreign corporation (CFC).
17

2. General Anti Avoidance Rule (GAAR), yaitu ketentuan anti


penghindaran pajak untuk mencegah transaksi yang semata-
mata dilakukan oleh Wajib Pajak yang semata-mata untuk
tujuan penghindaran pajak atau transaksi yang tidak
mempunyai substansi bisnis.

Di banyak negara, seperti di Israel dan Kanada, telah


membuat suatu ketentuan untuk menangkal praktik
unacceptable tax avoidance atau aggressive tax planning yang
dilakukan oleh Wajib Pajak. Hal ini disebabkan karena tax
planning yang dilakukan oleh Wajib Pajak tidak bersifat defensive
tax planning lagi tetapi sudah semakin ofensive yaitu dengan
membuat suatu transaksi semu yang pada dasarnya tidak ada
tujuan bisnisnya atau membuat suatu entitas usaha di negara-
negara yang dikategorikan sebagai tax haven country. Di
Australia, skema-skema yang dapat dikategorikan sebagai
aggressive tax planning oleh Australian Taxation Office (ATO)
adalah sebagai berikut:
1. Transaksi yang dibuat semata-mata untuk tujuan menghindari
pajak. Dengan kata lain transaksi tersebut tidak mempunyai
tujuan bisnis, kalaupun ada tujuan bisnisnya tetapi sangat
tidak signifikan.
2. Berusaha untuk mendapatkan fasiltas pajak yang sebenarnya
fasilitas pajak tersebut tidak ditujukan kepadanya.
3. Membuat transaksi yang berputar-putar yang akhirnya
transaksi tersebut akan kembali lagi kepadanya (round-robin
flow of funds).
4. Penggelelembungan nilai aset untuk mendapatkan biaya
penyusutan yang besar di masa yang akan datang.
5. Memanfaatkan suatu entitas usaha di mana penghasilan yang
diterima oleh entitas usaha tersebut dikecualikan sebagai
objek pajak.
18

6. Transaksi bisnis yang melibatkan negara-negara yang


dikategorikan sebagai tax haven countries.

2.7. Pengertian dan Tujuan Penghindaran Pajak


Berganda ( P3B )

Pengertian Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda ( P3B )


adalah perjanjian pajak antara dua negara secara bilateral.
Persetujuan penghindaran pajak ini mengatur mengenai
pembagian hak pemajakan yang diterima atau diperoleh
penduduk dari salah satu atau kedua negara pada pihak
persetujuan.

Tujuan diadakannya Persetujuan Penghindaran Pajak


Berganda ( P3B ) ini adalah untuk menghindari adanya
pemajakan berganda atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh subyek yang sama.

P3B membatasi hak pemajakan suatu negara untuk


mengenakan pajak atas suatu penghasilan tertentu. Ketika
masing-masing ketentuan domestik suatu negara sama-sama
mengenakan pajak atas penghasilan yang sama, maka
berdasarkan P3B , hak masing-masing negara untuk
mengenakan pajak atas suatu penghasilan tersebut dapat
dihilangkan atau dibatasi. Dengan kata lain, ketika suatu negara
mengadakan P3B, maka negara tersebut setuju untuk dibatasi
haknya dalam mengenakan pajak berdasarkan pembatasan yang
diatur dalam P3B.

Kedudukan P3B di Indonesia terhadap UU Pajak Penghasilan


diperlakukan sebagai lex specialis, sehingga apabila ada
19

pertentangan antara UU Domestik Indonesia dengan P3B, maka


atuaran-aturan yang ada dalam P3B akan didahulukan.

P3B tidak memberikan hak pemajakan baru kepada negara


yang mengadakan P3B. Pengenaan pajak suatu negara atas
suatu penghasilan, didasarkan atas ketentuan domestik negara
tersebut. Dengan demikian, apabila dalam P3B suatu negara
diberi hak pemajakan atas suatu penghasilan tertentu, akan
tetapi negara tersebut berdasarkan hukum domestik tidak
mengenakan pajak atas penghasilan tertentu tersebut, maka
negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atas penghasilan
tertentu tersebut , walaupun P3B memberikan hak pemajakan
kepada negara tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?


Dalam peraturan perundang-undangan perpajakan kita
yang berlaku saat ini, belum ada definisi yang jelas mengenai
tax plannning, agresive tax planning, acceptable tax avoidance
dan unacceptable tax avoidance. Dengan demikian, dalam
praktiknya sering menimbulkan penafsiran yang berbeda antara
Wajib Pajak dan aparat pajak. Wajib Pajak dan aparat pajak tentu
akan memberikan penafsiran sendiri-sendiri yang
menguntungkan mereka, sehingga menimbulkan ketidakpastian
hukum.
Dari sudut pandang Wajib Pajak, tentu akan berpendapat
bahwa sepanjang skema penghindaran pajak yang mereka
lakukan tidak dilarang dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan tentu sah-sah saja (legal). Hal ini dimaksudkan untuk
memberi kepastian hukum bagi Wajib Pajak. Akan tetapi, di sisi
lain, pemerintah tentu juga berkepentingan bahwa jangan
sampai suatu ketentuan perpajakan disalahgunakan oleh Wajib
20

Pajak untuk semata-mata tujuan penghindaran pajak yang akan


merugikan penerimaan negara. Oleh karena itu, untuk kepastian
hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi pemerintah,
ketentuan tentang tax planning, tax avoidance, dan anti tax
avoidance yang berupa Specific Anti Avoidance Rule (SAAR)
maupun General Anti Avoidance Rule (GAAR) harus diatur secara
jelas dan rinci dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, baik untuk ketentuan formalnya yaitu terkait dengan
sanksi, maupun dalam ketentuan materialnya.
21

BAB III
KASUS
3.1 Simulasi Kasus Pajak Internasional
Wajib pajak A yang berkedudukan di Negara P yang
mengenakan pajak penghasilan dengan tarif 25% mendapat
penghasilan dari Negara Q sebesar 100.000.000 yang telah
dikenakan pajak sebesar 30%, sedangkan penghasilan domestic
adalah 200.000.000, berapakah pajak terutangnya ?

Penghasilan domestik (Negara P) 200.000.000


Penghasilan Luar Negeri (Negara Q) 100.000.000
Penghasilan global 300.000.000
Pajak terutang (300.000.000 x 25%) 75.000.000
Eksemsi pajak
100.000.000 75.000.000 (25.000.000)
Pajak Penghasilan kurang bayar 50.000.000

Jika, misalnya, dari operasi di Negara Q tersebut diperoleh


kerugian sebesar 50, maka penghitungan pajaknya adalah sbb. :
Penghasilan domestik (Negara P) 200.000.000
Rugi Penghasilan Luar Negeri (Negara Q) (50.000.000)
Penghasilan global 150.000.000
Pajak Penghasilan kurang bayar:
37.500.000
25% x 150.000,000

Dengan demikian, apabila kegiatan diluar negeri mendapat


kerugian sebagai konsekuansi dari sistem pemajakan global,
kerugian tersebut sepertinya dapat mengurangi penghasilan
kena pajak domestic. Namun secara berkesinambungan
pengurangan tersebt harus dipulihkan/diganti kembali
22

(recaptured) pada periode berikutnya apabila memperoleh laba.


Kalau misalnya, dalam contoh tersebut, pada tahun berikutnya
dari operasi di Negara Q didapat laba 150.000,000, di samping
laba domestic 250.000.000, maka penghitungan pajak
terutangnya, sbb :
Penghasilan domestik (Negara P) 250.000.000
Penghasilan Luar Negeri (Negara Q) (150.000.000)
Penghasilan global 400.000.000
Pajak terutang (400.000.000 x 25%) 100.000.000
Eksemsi pajak
Penghasilan luar negeri
150.000.000
Perhitungan rugi laba tahun lalu
(50.000.000)
Basis penghitungan eksemsi 100.000.000
Eksemsi pajak 100.000.000 x 25% (25.000.000)
Pajak Penghasilan kurang bayar 75.000.000
23

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Pajak Internasional adalah kesepakatan perpajakan yang
berlaku di antara negara yang mempunyai Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan pelaksanaanya
dilakukan dengan niat baik sesuai dengan Konvensi Wina (Pacta
Sunservanda).

Tujuan kebijakan perpajakan internasional yaitu


memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi
di masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk
meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan
investasi tersebut. Salah upaya untuk meminimalkan beban
tersebut adalah dengan melakukan penghindaraan pajak
berganda internasional.

Pemajakan berganda terjadi karena benturan antar klaim


pemajakan. Hal ini karena adanya prinsip pemajakan global
untuk wajib pajak dalam negeri (global principle) dimana
penghasilan dari dalam luar negeri dan dalam negeri dikenakan
pajak oleh negara residen (negara domisili wajib pajak). Selain
itu, terdapat pemajakan teritorial (source principle) bagi wajib
pajak luar negeri (WPLN) oleh negara sumber penghasilan
dimana penghasilan yang bersumber dari negara tersebut
dikenakan pajak oleh negara sumber. Hal ini membuat suatu
penghasilan dikenakan pajak dua kali, pertama oleh negara
residen lalu oleh negara sumber
24

DAFTAR PUSTAKA

https://materikuliahperpajakan.wordpress.com/2016/01/17/konse
p-dasar-pajak-internasional/
http://sophiaririnkali.blogspot.co.id/2013/05/konsep-dasar-pajak-
internasional.html