Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan diuraikan alasan pemilihan judul dalam latar belakang yang akan
dilengkapi dengan rumusan masalah, tujuan penulisan dan manfaat penulisan.
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan negara kepuluan dengan sumber daya alam yang sangat melimpah,
salah satunya adalah rempah rempah. Sehingga banyak negara yang ingin datang ke
Indonesia karena tertarik dengan kekayaan alamnya. Indonesia dijajah karena sumber daya
alam yang melimpah tersebut dan juga karena lemahnya sumber daya manusia masyarakat
Indonesia saat itu.
Belanda merupakan salah satu negara yang cukup lama menjajah Indonesia yaitu selama
kurang lebih 350 tahun. Sekian lama menjajah Indonesia tidak hanya dapat mengambil
sumber daya alam dan meperbudak sumber daya manusia di Indonesia, namun penyebaran
agama dan budaya Belanda pun banyak masuk ke Indonesia. Salah satu Budaya Belanda
yang dibawa ke Indonesia dan masih dapat kita lihat buktinya hingga saat ini adalah
arsitektur.
Sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan
Belanda di Indonesia adalah Arsitektur Kolonial. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi
kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di Indonesia. Seiring berkembangnya
peran dan kuasa, kamp kamp Eropa semakin dominan semakin dominan dan permanen
hingga akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat
modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan
bangunan modern seperti administrasi pemerintah colonial, rumah sakit atau fasilitas militer.
Bangunan bangunan ini dikenal dengan bangunan kolonial.
Awal masuknya bangsa Belanda ke Indonesia adalah melalui pelabuhan sehingga banyak
Arsitektur Kolonial yang berkembang di sekitar pesisir pantai. Di Bali salah satu daerah
yang banyak mendapat pengaruh Arsitektur Kolonial adalah Kabupaten Singaraja. Mulai dari
pelabuhan, bangunan pendidikan hingga bangunan rumah tinggal di Kabupaten Singaraja
dahulu banyak dipengaruhi oleh Arsitektur Kolonial. Namun seiring berkembangnya jaman
ke Arsitektur Modern dan pengaruh budaya Arsitektur Bali, hingga saat ini hanya terdapat

1
beberapa saja bangunan colonial yang masih tersisa. Salah satunya adalah bangunan Puri
Kanginan. Berdasarkan hal tersebut diangkatlah judul yaitu Pengaruh Arsitektur Kolonial
pada Puri Kanginan dan Berkahnya Saat Ini

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas , maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh Arsitektur Kolonial pada fasad bangunan Puri Kanginan?


2. Apa bahan khusus yang digunakan pada fasad dari pengaruh Arsitektur Kolonial
pada bangunan Puri Kanginan?

1.3 Tujuan penulisan

Adapun tujuan dilakukannya penulisan pada Puri Kanginan yaitu :

1. Untuk mengetahui pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan


2. Untuk mengetahui bahan khusus yang digunakan pada fasad dari pengaruh
Arsitektur Kolonial pada bangunan Puri Kanginan

1.4 Manfaat penulisan

Adapun manfaat yang didapat dengan dilakukannya penulisan ini yaitu :

1. Lebih memahami Arsitektur Kolonial.


2. Dapat mengetahui bahan khusus yang digunakan pada fasad dari pengaruh
Arsitektur Kolonial di Indonesia.

BAB II
LANDASAN TEORI

2
Pada bab ini akan diuraikan alasan pengertian Arsitektur Kolonial, aliran yang
mempengaruhi Arsitektur Kolonial, perkembangan arsitektur di Indonesia, struktur,fungsi dan
estetika yang akan digunakan sebagai landasan teori pada pembahasan di bab selanjutnya.

2.1 Pengertian Arsitektur Kolonial

Arsitektur Kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang


berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke
dalam komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara.
Seiring berkembangnya peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan
permanen hingga akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru.
Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19)
memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit
atau fasilitas militer. Bangunan bangunan inilah yang disebut dikenal dengan bangunan
kolonial
2.1.1 Awal kolonial
Kolonialisme di Indonesia dan bangsa Belanda dimulai ketika ekspedisi Cornelis
de Houtman berlabuh di pantai utara Jawa guna mencari rempah-rempah. Pada
perkembangan selanjutnya terjadi hubungan dagang antara bangsa Indonesia
dengan orang-orang Belanda. Hubungan perdagangan tersebut lambat laun
berubah drastis menjadi hubungan antara penjajah dan terjajah, terutama setelah
didirikannya VOC. Penjajahan Belanda berlangsung sampai tahun 1942,
meskipun sempat diselingi oleh Inggris selama lima tahun yaitu antara 1811-1816.
Selama kurang lebih 350 tahun bangsa Belanda telah memberi pengaruh yang
cukup besar terhadap kebudayaan Indonesia.
2.1.2 Perkembangan kolonial
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia
adalah Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada
mulanya kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun
rumah dan pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak
dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan
dengan penutup atap ijuk. Namun karena sering terjadi konflik mulailah dibangun
benteng. Hampir di setiap kota besar di Indonesia. Dalam benteng tersebut,

3
mulailah bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata.
Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun
banyak rumah, gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata
kota dan arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka. Dari era ini
pulalah mulai berkembang Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Setelah
memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun rumah dan bangunan di
daerah tropis lembab, maka mereka mulai memodifikasi bangunan mereka dengan
bentuk-bentuk yang lebih tepat dan dapat meningkatkan kenyamanan di dalam
bangunan
2.1.3 Peroidesasi Arsitektur Kolonial
Abad 16 sampai tahun 1800 an Waktu itu Indonesia masih disebut sebagai
Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang
Belanda, VOC. Arsitektur Kolonial Belanda selama periode ini cenderung
kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda. Bangunan
perkotaan orang Belanda pada periode ini masih bergaya Belanda dimana
bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam dan dinding depan
bertingkat bergaya Belanda di ujung teras. Bangunan ini tidak mempunyai suatu
orientasi bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi dengan iklim dan lingkungan
setempat. Kediaman Reine de Klerk (sebelumnya Gubernur Jenderal Belanda) di
Batavia.
Tahun 1800-an sampai tahun 1902 Pemerintah Belanda mengambil alih Hindia
Belanda dari VOC. Setelah pemerintahan tahun 1811-1815 wilayah Hindia
Belanda sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Pada saat itu, di Hindia Belanda
terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang dipelopori oleh GubernurJenderal HW
yang dikenal engan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa: Gaya
arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis) yang diterjemahkan
secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial
yang disesuaikan dengan ingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada
masa itu. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya
arsitektur Neo Klasik dikenal Indische Architectuur karakter arsitektur seperti : 1.
Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang

4
(ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang mejuju ke ruang
tidur dan kamar-kamar lainnya. 2. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan
terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang. 3. Menggunakan
atap perisai.
Tahun 1902 sampai tahun 1920-an Secara umum, ciri dan karakter Arsitektur
Kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an : 1. Menggunakan Gevel (gable)
pada tampak depan bangunan 2. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear
gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan entablure). 3. Penggunaan
Tower pada bangunan 4. Tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja
kemudian diambil alih oelh bangunan umum dan menjadi mode pada Arsitektur
Kolonial Belanda pada abad ke 20. 5. Bentuknya bermacam-macam, ada yang
bulat, segiempat ramping, dan ada yang dikombinasikan dengan gevel depan. 6.
Penggunaaan Dormer pada bangunan 7. Penyesuaian bangunan terhadap iklim
tropis basah -> Ventilasi yang lebar dan tinggi. Membuat Galeri atau serambi
sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.
Tahun 1920 sampai tahun 1940-an Gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik di
tingkat nasional maupun internasional. Hal ini mempengaruhi Arsitektur Kolonial
Belanda di Indonesia. Pada awal abad 20, arsitek-arsitek yang baru datang dari
negeri Belanda memunculkan pendekatan untuk rancangan arsitektur di Hindia
Belanda. Aliran baru ini, semula masih memegang unsur-unsur mendasar bentuk
klasik, memasukkan unsur-unsur yang terutama dirancang untuk mengantisipasi
matahari hujan lebat tropik. Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga
memasukkan unsur-unsur arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi
konsep yang eklektis. Konsep ini nampak pada karya Maclaine Pont seperti
kampus Technische Hogeschool (ITB), Gereja Poh sarang di Kediri.

2.2 Aliran yang mempengaruhi Arsitektur Kolonial


2.2.1 Gaya Neo Klasik (the Empire Style / the Dutch Colonial Villa) (tahun 1800)
Ciri Ciri dan Karakteristik :
1. Denah simetris penuh dengan satu lanmtai atas dan ditutup dengan atap perisai.
2. Temboknya tebal

5
3. Langit langitnya tinggi
4. Lantainya dari marmer
5. Beranda depan dan belakang sangat luas dan terbuka
6. Diujung beranda terdapat barisan pilar atau kolom bergaya Yunani (doric, ionic,
korinthia)
7. Pilar menjulang ke atas sebagai pendukung atap
8. Terdapat gevel dan mahkota diatas beranda depan dan belakang
9. Terdapat central room yang berhubungan langsung dengan beranda depan dan
belakang, kiri kananya terdapat kamar tidur
10. Daerah servis dibagian belakang dihubungkan dengan rumah induk oleh
galeri. Beranda belakang sebagai ruang makan.
11. Terletak ditanah luas dengan kebun di depan, samping dan belakang.

2.2.2 Bentuk Vernacular Belanda dan Penyesuaian Terhadap Iklim Tropis


(sesudah tahun 1900)
Ciri dan karakteristik
1. Penggunaan gevel(gable) pada tampak depan bangunan
2. Penggunaan tower pada bangunan
3. Penggunaan dormer pada bangunan
Beberapa penyesuaian dengan iklim tropis bsaah di Indonesia:
1. Denah tipis bentuk bangunan rampingBanyak bukaan untuk aliran udara
memudahkan cross ventilasi yang diperlukan iklim tropis basah
2. Galeri sepanjang bangunan untuk menghindari tampias hujandan sinar matahari
langsung
3. Layout bangunan menghadap Utara Selatan dengan orientasi tepat terhadap
sinar matahari tropis Timur Barat

2.2.3 Gaya Neogothic ( sesudah tahun 1900)


Ciri-ciri dan karakteristik
1. Denah tidak berbentuk salib tetapi berbentuk kotak
2. Tidak ada penyangga( flying buttress)karena atapnya tidak begitu tinggi tidak
runga yang dinamakan double aisle atau nave seperti layaknya gereja gothic

6
3. Disebelah depan dari denahnya disisi kanan dan kiri terdapat tangga yang
dipakai untuk naik ke lantai 2 yang tidak penuh
4. Terdapat dua tower( menara ) pada tampak mukanya, dimana tangga tersebut
ditempatkan dengan konstruksi rangka khas gothic
5. Jendela kacanya berbentuk busur lancip 6. Plafond pada langit-langit berbentuk
lekukan khas gothic yang terbuat dari besi.

2.2.4 Nieuwe Bouwen / International Style ( sesudah tahun 1900-an)


Ciri-ciri dan karakteristik ;
1. Atap datar
2. Gevel horizontal
3. Volume bangunan berbentuk kubus
4. Berwarna putih

Nieuwe Bouwen / International Style di Hindia Belanda mempunyai 2 aliran


utama ;
A. Nieuwe Zakelijkheid
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Mencoba mencari keseimbangan terhadap garis dan massa Bentuk-bentuk
asimetris void saling tindih ( interplay dari garis hoeizontal dan vertical)
B. Kantor Borsumij ( GC. Citroen) B. Ekspresionistik ;
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Wujud curvilinie Contoh : villa Isola ( CP.Wolf ), Hotel Savoy Homann( AF
aalbers

2.2.5 Art Deco Ciri ciri dan karakteristik :


1. Gaya yang ditampilkan berkesan mewahdan menimbulkan rasa romantisme
2. Pemakaian bahan bahan dasar yang langka serta material yang mahal
3. Bentuk massif
4. Atap datar
5. Perletakan asimetris dari bentuk

2.3 Perkembangan Arsitektur di indonesia


2.3.1 Budaya Setempat
Arsitektur di Indonesia dipengaruhi oleh iklim lingkuangan sekitar yang
merupakan daerah dengan iklim tropis sehingga bangunan harus tahan terhadap
iklim , selain itu wilayah Indonesia juga merupakan daerah yang terdiri memiliki
hutan produktif sehingga juga dihuni binatang buas.sehingga bangunan juga harus
mampu melindungi penghuni dari serangan hewan buas, untuk membangun yang
sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat sekitar menggunakan bahan-bahan

7
di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal yang memiliki potensi berbeda pada
setiap daerah dan pada setiap pulau di Indonesia, sebagaian besar masih
menggunakan kayu dari hasil hutan sebagai bahan bangunan, sebagian juga telah
menggunakan batu alam sebagai bahan dasar bangunan dan di bagian atas
menggunakan kayu, alang-alang , daun kelapa dan sebaginya, terbukti bangunan
yang digunakan menggunakan bahan-bahan di lingkungan sekitar mampu
bertahan hingga puluhan tahun. Sehingga Indonesia kaya akan keanekaragaman
arsitekturnya mulai dari wilayah sabang di bagian barat, hingga wilayah merauke
di bagian timur yang memiliki cirri-ciri yang berbeda dalam penerapan bahan
hingga bentuk bangunan, khusus di bali arsitektur sebelum datangnya penjajahan
sudah dipengaruhi oleh kedatangan majapahit dari wilayah jawa yang
mempengaruhi budaya masyarakat dataran, dan beberapa daerah di
pegununungan atau masyarakat bali mula masih menerapkan arsitektur leluhur
mereka. Wilayah dataran meliputi Sembilan kabupaten yang ada di bali meliputi
buleleng, badung, gianyar, jembrana, karangasem , kelungkung, tabanan, bangle.
Yang secara umum meliki tipologi bangunan yang sama dengan penerapan konsep
ruang terbuka di tengah atau disebut .
2.3.2 Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan
struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun
di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis,
bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang
dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi
Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat
Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang
direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh
budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan
elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.

Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia


sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di

8
Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang
masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

2.3.3 Arsitektur vernakular di Indonesia.


Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber.
Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui
Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang
kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan
bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan
batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar.
Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan
bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan
bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.
Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150
tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa
Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah
vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga
mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara.
Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan
(kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan
penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.

2.3.4 Pengaruh Islam dalam Arsitektur


Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian
utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-
sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar
ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih
melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat
dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.

9
Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya
periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan
kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad
keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa
ini kemudian diganti dengan zaman "biadab" dan juga bukanlah awal dari "Abad
Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama
Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan
ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad
keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan
Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam
tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan
lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui
sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi gagalnya Islam sebagai
sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat
Prijotomo, 1988).

Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang

Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan
seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur.
Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru
kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan
yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk
arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai
persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam

10
kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan
Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun
masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di
awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan
local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama
yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama
atau Saka Guru mempunyai makna simbolis
2.4 Pengaruh Kolonial terhadap Arsitektur di Indonesia
Arsitektur Kolonial merupakan langgam arsitektur yang datang dari daerah barat atau
eropa yang merupakan perkembangan dari arsitektur clasik di jama yunani dan romawi
sehingga memiliki perbedaan yang menciolok dengan arsitektur di belahan bumi timur
yang dapat dilihat dari penerapan skala manusia . selain itu iklim di wilayah eropa
berbeda jauh dengan iklim tropis di Indonesia. Jika di Indonesia menghindari atau
meminimalisir masuknya panas matahari ke dalam bangunan sedangkan di eropa
memasukkan sebanyak-banyaknya matahari ke dalam bangunan sehingga memiliki
bentuk dan penerapan bahan yang berbeda.
Perkembangan industry di eropa jauh lebih maju dari Indonesia sehingga bahan
bangunana sudah memerapkan teknologi modern yang di bawa ke Indonesia oleh para
penjajah. Pada perkembangannya beberapa bahan yang dianggap kualitasnya kurang pada
bangunana di Indonesia diganti dengan bahan dengan teknologi terbaharukan yang di
bawa kaum kolonial dari belanda sehingga memiliki corak yang berbeda, selain itu
masyarakat eropa yang telah mengenal arsitektur clasik sejak lahir tidak dapat lepas dari
bentuk-bentuk clasik yang sudah berkembang di Negara mereka , sehingga itu juga
diterapkan pada arsitektru di Indonesia yang mencolok pada penggunaan kolom dan
pemasangan jendela atau bukaan yang memiliki pola monoton dan simetris.
a. Struktur bangunan
Struktur atap
Bangunan yang di bawa bangsa kolonial merupakan pengembangan dari budaya
di eropa yang berkar dari bangunan classic. Yang berkemmbang sesaui dengan
kondisi lingkungan di eropa yang tanggap terhapad salju yang jatuh ke atap
sehingga atap bangunan memiliki sudut yang besar .sedangkan tritisan lebih
pendek agar matahari lebih maksimal masuk ke dalam dinding dan
menghangatkan bangunan .hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan kondisi

11
di Indonesia yang meminimalisir panas matahari mengenai dinding
bangunan.struktur penahan penutup atap sudah menggunakan baut sebagai system
penyambung struktur sehingga menghasilkan struktur yang lebih kuat dan
bentang yang lebih besar. Penutup atap diperkenalkan bahan tanah liat
Super Structure
Pada struktur yang memegang dinding sudah menggunakan bahan bahan besi dan
baja sebagai pendukung struktur tradisional di Indonesia. Perekat dinding sudah
berkembang menggunakan bahan semen . dan pewarnaan dinding sudah
menggunakan bahan kimia sehingga menghasilkan warna putih. Abu. Merah dan
sebagainya.
Pondasi /struktur bawah
Pondasi bangunan yang awalnya menggunakan tanah liat sebagai perekat(struktur
batu kali) kini dipengaruhi dengan bahan yang menghasilkan beton sperekat yang
menjadikan struktur bangunan lebih kokoh dan stabil terhadap cuaca . pertemuan
dengan elemen dinding juga terdapat keramik yang sudah berkembang seperti
keramik yang kita jumpai sekarang.
b. Fungsi bangunan
Fungsi bangunan berkembang dengan bertmbahnya aktifitas yang dilakukan kaum
kolonial fungsi baru seperti kantor, pabrik dan sebagainya memberikan warna baru
terhadap arsitektur di Indonesia. Fungsi seperti pabrik dan kantor membutuhkan
ruang bebas di dalamnya yang lebih luas sehingga memunculkan tipologi bangunan
baru di Indonesia. Fungsi ruang yang lebih besar berpengaruh pada struktur bangunan
karena dibutuhkan bentang yang lebih lebar.
c. Estetika
Pada bangunan kolonial menonjolkan permainan skala seperti bangunan di masa
romawi dengan menampilkan kolom kolom yang bercirikan arsitektur eropa. Denah
bangunan pada bangunan eropa memiliki bentuk yang simetris sehingga pada
tampilan bangunan memiliki sisi yang sama.penempatan jendela dengan pola
monoton juga menjadi cirri khas arsitektur reopa. pada kondisi reopa yang dingin
masyarakat skitar memnfatkan ruang antara plafond an dinding sebagai ruang pribadi
karena memiliki suhu yang tinggi sehinnga terdapat jendela di bagian atap bangunan .
perapian yang terdapat di dalam rumah juga berkahir di bagian atap yang memberikan
tambahan bentuk pada atap bangunan.

12
13
BAB III
TINJAUAN LOKASI OBJEK PURI KANGINAN

Nama Objek : Puri Kanginan


Lokasi : Singaraja, Bali

Peninggalan masa lalu seperti bangunan maupun benda lain yang disebut sebagai pusaka
leluhur atau dengan istilah warisan budaya adalah sesuatu yang mempunyai makna sangat
penting bila dipandang dari dibidang kebudayaan, sejarah dan lainnya. Dari benda-benda
tersebut kita dapat cerminan terhadap nilai-nilai kepribadian nenek moyang terdahulu yang
melandasi pertumbuhan dan perkembangan jati diri kita dari waktu ke waktu sampai ke generasi
masa kini.
Sangatlah bersyukur dan merasa berbahagia bilamana kita masih bisa melihat bukti-bukti
peninggalan sejarah seperti Puri Kanginan yang berada di kota Singaraja Buleleng, Bali.
Kedudukan Puri Kanginan yang berfungsi sebagai tempat kediaman keluarga bangsawan dan
juga sebagai pusat pemerintahan pada jamannya, berlokasi pada posisi yang strategis. Wajah
Puri menghadap ke arah Barat dengan halaman depan langsung mengakses perempatan jalan
utama atau yang disebut Catus Pata. Pekarangan Puri berada di atas tanah yang agak tinggi
dibanding sekitarnya. Mulai dari halaman yang paling tinggi terletak di hulu Timur disebut
Uttama Mandala, kemudian sedikit menurun ke halaman tengah atau Madya Mandala dan

14
menurun lagi ke halaman luar atau Kanista Mandala sampai ke pintu luar atau pemedal menuju
jalan raya atau marga agung. Masing-masing mandala dikelilingi tembok pembatas, sedangkan
ke setiap Mandala dihubungkan dengan Kori.

Puri ini diperkirakan sudah ada pada akhir abad ke 18. Tetapi nama puri Kanginan mulai
sekitar tahun 1830an. "Kanginan" dari kata Kangin berarti Timur. Puri Kanginan artinya istana di
sebelah Timur persimpangan empat "Catus Pata" dan juga disebelah Timur pasar. Dulu
lokasinya di banjaran "Dangin Peken" (Timur Pasar). Sekarang Puri Kanginan berada di Banjar
"Delod Peken" (Utara Pasar). Bukan Purinya yang pindah tetapi karena pasar Buleleng
dipindahkan ke tempatnya sekarang pada disekitar tahun 1898.

15
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan membahas rumusan rumusan masalah pada bab sebelumnya yaitu
mengenai pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan, serta berkah dan masalah pada
pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan.
4.1 Pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan
Pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan mulai terliihat pada bagian depan
bangunan yaitu pada area pintu masuk. Pintu masuk atau kori sebuah Puri biasanya di Bali
sangat mengandung Arsitektur Bali yang sangat kental. Namun berbeda pada Kori Puri
Kanginan ini mulai dari bentuk yang unik, warna yang dominan putih, hingga ornamentnya
sangat menampilkan pengaruh Arsitektur Kolonial. Pemugaran berskala besar pernah
dilakukan antara lain pada tahun 1840an. Kemudian dilakukan menjelang upacara pelebon
besarpada tahun 1902 (fotonya terlihat di sebelah kiri). Juga beberapa bangunan pernah
direnovasi pada tahun 1950.
Karena beberapa bangunan tidak difungsikan lagi dan juga karena telah dimakan usia
lagipula terkena bencana alam seperti gempa bumi pada tahun 1963 dan 1976 banyak
bangunan yang rusak bahkan musnah.

Gambar 4.1.1 Kori Puri Kanginan,


Pada bagian dalam puri terdapat pula beberapa
Singaraja
bangunan, sebagian masih kental dengan
Arsitektur Bali, namun beberapa bangunan yang memperlihatkan pengaruh Arsitektur
Kolonial. Pengaruh Arsitektur Kolonial sangat terlihat pada penggunaan kolom kolom
yang cukup besar pada bagian depan bangunan. Saka yang biasa digunakan pada bangunan
Bali disini digantikan dan disandingkan dengan penggunaan kolom doric berwarna putih
yang merupakan salah satu ciri khas Arsitektur Kolonial. Selain itu penggunaan komponen

16
pintu dan jendela kupu kupu juga merupakan salah satu ciri pengaruh Arsitektur Kolonial.
Pada bagian muka bangunan dengan pagar yg khas gaya arsitektur colonial.
Pada perkembangannya di masa kolonial terlihat bahwa prinsip-prinsip estetika
tradisional mulai bergeser, setiap perwujudannya sebagian besar mengacu pada prinsip-
prinsip estetika klasik Barat yang mengutamakan bentuk visual bangunan. Elemen-elemen
estetika arsitektur kolonial yang ada di Indonesia, seperti molding, gevel Curviliner
Gabele, Pediment, kolom jenis Tuscan, dan overstack berintegrasi dalam arsitetur puri.
Pada prinsipnya kehadiran elemen-elemen arsitektur kolonial dalam arsitektur tradisional
Puri Kanginan adalah salah satu proses akulturasi budaya yang cenderung terjadi dalam
perjalanan dinamika budaya. Akulturasi yang dimaksud dalam hal ini adalah pertemuan dua
budaya dalam wujud arsitektur (arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur kolonial
Belanda), kemudian terjadi peminjaman unsur-unsur arsitektur kolonial dalam arsitektur
tradisional Bali.

Gambar 4.1.2 Beberapa bagian


kolom doric pada bangunan Puri
Kanginan, Singaraja

17
Gambar 4.1.3
Bagian sendi dan
bataran pada
bangunan Puri
Kanginan,
Singaraja
Penggunaan sendi dengan bentuk serupa dengan kolom dan dominasi warna putih.
Elemen bawah sendi menggunakan batu kali ekspose yang di finishing dengan cat namun
tetap menampilkan tampilan dari batu kali pada aslinya.

Gambar 4.1.4 Bagian pintu kupu kupu 2 arah pada


bangunan
Penggunaan pintu di beberapa balePuri Kanginan,
dengan Singaraja
bukaan kupu kupu yang merupakan ciri
ciri dari komponen arsitektur colonial. Bale yang masi menggunakan pintu ini merupakan
bale yang dibangun sejak awal yang kini menjadi tempat penyimpanan pakaian raja raja
Puri Kanginan.

18
Gambar 4.1.5 Bagian penutup fentilasi pada
bangunan Puri Kanginan, Singaraja
Penggunaan pelapis berupa lubang lubang kecil pada bagian fentilasi bangunan juga
merupakan cir ciri arsitektur colonial yang difungsikan agar serangga tidak dapat masuk
ke dalam ruangan.

Gambar
Penggunaan jendela 4.1.6 Bagian
di beberapa jendela
bale dengan kupukupu
bukaan kupu bukaan
kupu yang 2
merupakan ciri
arah pada bangunan Puri Kanginan, Singaraja
ciri dari komponen arsitektur colonial. Bale yang masi menggunakan jendela ini merupakan
bale yang dibangun sejak awal yang kini menjadi tempat penyimpanan pakaian raja raja
Puri Kanginan.

19
Gambar 4.1.7 Bagian pintu masuk dengan bentuk
pedimen pada bangunan Puri Kanginan, Singaraja

Penggunaan bentuk pediment yang merupaka elemen arsitektur colonial pada bagian atas
pintu masuk yang sifatnya lebih kecil disbanding kori utama.
4.2 Bahan khusus yang digunakan dari pengaruh Arsitektur Kolonial pada Puri Kanginan
Beberapa bahan khusus yang digunakan dalam bangunan pada Puri Kanginan Singaraja
yang banyak mengalami pengaruh Arsitektur Kolonial kini hanya beberapa yang bangunan
yang masih terlihat. Bangunan bangunan yang masih menggunakan bahan bahan khusu
tersebut merupakan bangunan yang dibuat sejak awal pembangunan Puri Kanginan. Bahan
ersebut salah satunya merupakan penggunaan tanah pol polan, batu bata dan batu kali yang
tereksposeq yang menjadi bagian penyusun dinding utama pada bangunan. Selain itu
penggunaan bahan bahan dari besi yang sudah digunakan pada bangunan puri kanginan
saat awal pembangunannya pada saat bangunan bangunan lainnya masih menggunakan
bahan tradisional berupa kayu.

20
Gambar 4.2.1
Bagian bahan
penyusun
dinding pada
bangunan Puri
Kanginan,
Singaraja

Gambar 4.2.1 Bagian bahan elemen


bukaan pada bangunan Puri Kanginan,
Singaraja

21
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan :

Arsitektur Eropa yang di bawa bangsa kolonial banyak mempenngaruhi arsitektur di


Indonesia yang terlihat dari tampilan arsitektur di daerah yang terkena jajahan Belanda. Hal
tersebut dikarenakan waktu yang cukup lama Indonesia dijajah oleh Belanda sehingga dapat
terjadi akulturasi budaya salah satunya di bidang arsitektur.

Arsitektur kolonial pada Puri Kanginan memberikan wajah yang berbeda pada tampilan
bangunan, pengaruh kolonial terlihat pada penggunaan warna dominan putih dan kolom-
kolom klasik, penggunaan elemen penyusun ruang dan penggunaan bahan pada komponen
penyusun dinding..

Beberapa berkah yang didapatkan dari pengaruh Arsitektur Kolonial di Puri Kanginan,
Singaraja ini adalah sebagai saksi sejarah bahwa Indonesia khususnya di daerah Singaraja,
Bali sempat dijajah oleh bangsa Belanda. Selain itu bukti pengaruh Arsitektur Kolonial ini
dapat dijadikan sarana objek pembelajaran arsitektur. Dan berkah yang terakhir yaitu dapat
dijadikan destinasi wisata bagi wisatawan.

5.2 Saran :

Dengan keistimewaan bangunan Puri Kanginan yang sangat terlihat pengaruh


Arsitektur kolonialnya sebaiknya hal tersebut dapat lebih di ekspose, sehingga lebih banyak
lagi orang baik masyarakat ataupun wisatawan yang dapat mengetahui Puri Kanginan.
Karena hingga saat ini, belum banyak informasi informasi mengenai Puri Kanginan di
media.

22
DAFTAR PUSTAKA

http://www.buleleng.com/purikanginan.htm
Guide book Puri Kanginan Singaraja (tidak dipublikasikan)
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia.
Yogyakarta: Andi Offset
Sumalyo, Yulianto. 1995. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

23