Anda di halaman 1dari 8

Masalah Philip Moris

Setiap hari rokok nenyebabkan kematian atas sekitar 1000 orang Amerika. Rata-rata lima
setengah menit masa hidup berkurang untuk setiap batang rokok yang dihisap. Meskipun
merokok dikalangan pria dewasa telah mengalami penurunan, namun jumlah perempuan dewasa
dan anak-anak yang merokok semakin bertambah. Saat ini kanker paru-paru menyebabkan
kematian lebih besar dari kanker payudara. Kerugian ekonomi tidak langsung akibat penurunan
produktivitas dan penurunan pendapatan diperkirakan mencapai sebesar $37 miliar setahun, dan
kerugian ekonomi total diperkirakan mencapain $65 miliar setahun
Namun demikian, industry tembakau terus memperoleh kenaikan pendapatan sebesar 2
sampai 3 persen per tahun, dan keuntungan yang didapat juga terus naik. Philip Morris, produsen
rokok terbesar di dunia, melaporkan nilai keuntungan sebesar $5,4 miliar dari pendapatan
sebesar $74,4 miliar. Saat perusahaan ini dikembangkan, para manajernya menyadari bahwa
mereka harus menghadapi sejumlah masalah etika.
Philip Morris, dengan tenaga kerja lebih dari 144.000 orang, merupakan perusahaan
rokok terbesar, perusahaan makanan terbesar, dan perusahaan bir terbesar kedua di Amerika.
Lalu setelah penerapan strategi diversifikasi dari industry tembakau (sebuah strategi yang
selanjutnya banyak digunakan dalam industri ini), Philip Morris membeli perusahaan Miller
Brewing tahun 1970. Pada tahun 1985, perusahaan membeli General Food senilai $5,7 miliar,
tahun 1988 membayar $13 miliar untuk membeli Kraft yang selanjutnya menjadi perusahaan
makanan terbesar di Amerika; tahun 1990 membeli Suchard, sebuah perusahaan kopi dan gula-
gula Swiss sebesar $3,8 miliar; tahun 1993 membeli bisnis-bisnis sereal siap saji RJR Nabisco
sebesar $448 juta; dan tahun 1994 membeli Cirkel AB, sebuah perusahaan kopi dan rempah-
rempah Swiss. Para aktivis menuduh perusahaan ini melakukan pencucian uang yang
diperoleh dari bisnis rokok dengan menggunakannya untuk membeli bisnis-bisnis kecil dan
murah tujuannya melindungi dana mereka dari kemungkinan terjadinya penurunan dalam bisnis
tembakau.
Bisnis makanan dan bir sesungguhnya merupakan penghambat keuntungan bisnis rokok.
Perusahaan makanan Philip Morris meskipun tidak merugi, sesungguhnya tidak memberikan
kenaikan substansial atas pangsa pasar mereka. Sebagaian masalah dalam industri makanan
dapat dilihat dalam kaitannya dengan fakta bahwa divisi produk makanan bukan bisnis tunggal,
namun merupakan kumpulan dari berbagai perusahaan yang berbeda, masing-masing dengan
pemasok, peraturan pemerintah, proses pemanufakturan, jalur distribusi, dan pesaing yang
berbeda. Sebagai tambahan, industri makanan dibatasi oleh serangkaian pertimbangan social.
Saat orang-orang bertambah usia dan lebih sadar akan kesehatan, mereka menjadi lebih
memikirkan masalah kadar lemak dan kolesterol yang tinggi dari produk-produk makanan
kaleng yang dalam hal ini member risiko kesehatan lebih besar pada konsumen tertentu.
Perusahaan makanan Philip Morris juga berusaha meyakinkan konsumen untuk tidak
mengkhawatirkan teknologi baru yang digunakan perusahaan misalnya iradiasi yang dipakai
untuk mengawetkan makanan, dan rekayasa genetika, yang merupakan proses dasar dalam
pengembangan bahan makanan baru yang dipakai perusahaan.
Program tindakan afirmatif memiliki dan mengoperasikan delapan perusahaan bir di
Amerika. Industri bir saat itu sangat kompetitif. Tiga perusahaan bir terbesar yang menguasai 79
persen pasar industri bir tahun 1998 adalah; Anheuser-Busch dengan 46,6 persen, Miller
Brewing 21 persen, dan Adolph Coors 11 persen. Total volume penjualan bir mengalami
penurunan dari 202,1 juta barrel menjadi 200,3 juta barrel.
Tahun 1998, tembakau merupakan industri dengan nilai $53 miliar di Amerika, dan rokok
mewakili 94 persen dari jumlah total. Tahun 1998, warga Amerika mengkonsumsi 470 miliar
rokok merek Malboro dari Philip Moris yang merupakan merek dengan penjualan paling tinggi
di dunia, Philip Moris menguasai 49,9 persen pasar rokok Amerika. Namun semenjak tahun
1981, tingkat konsumsi rokok mengalami penurunan 2 persen per tahunnya. Namun menurut
Philip Moris persaingan bukanlah faktor utama yang mengancam bisnis tembakau. Semenjak
tahun 1950-an, industri tembakau telah banyak mendapatkan kritik dan berbagai hasil penelitian
mengaitkan merokok dengan penyakit kanker paru-paru, penyakit jantung, dan cacat lahir. Tahun
1966, 1969, dan 1985, Kongres mendapatkan peraturan yang mewajibkan pemasangan
peringatan bahaya merokok di setiap bungkus rokok.
Pertimbangan baru muncul tahun 1986 saat U.S. Surgeon General dan National Academy
of Science melaporkan bahwa orang-orang bukan perokok juga berkemungkinan terkena
penyakit kanker paru-paru akibat asap rokok yang dihisap orang lain. Tahu 1991, U.S.
Environmental Protection Agency mengeluarkan laporan tentang risiko yang diterima oleh
orang-orang bukan perokok. Sebagai reaksi terhadap hasil temuan baru tersebut, beberapa
pemerintah lokal menetapkan peraturan dilarang merokok di tempat-tempat umum.
Tahun 1994, pemerintah mengalihkan perhatian pada sifat adiktif rokok. Sebelumnya
pihak U.S. Surgeon General telah mengeluarkan laporan hasil penelitian tahun 1988 yang
menyatakan bahwa zat nikotin menyebabkan kecanduan. Para eksekutif dari semua perusahaan
tembakau dipanggil untuk memberikan kesaksian. William Campbell pimpinan unit tembakau
Philip Moris di bawah sumpah menolak bahwa nikotin adalah zat adiktif dan mengataan bahwa
perusahaan tidak memanipulasi kadar nikotin dalam rokok. Pada tanggal 1 April 1994, anggota
Kongres Henry A. Waxman mengumumkan bahwa komisi yang diketuainya menemukan bukti
bahwa Philip Moris menyembunyikan laporan penelitian tahun 1983 oleh Dr. Victor DeNoble
yang memberikan bukti definitif tentang tikus percobaan yang kecanduan tembakau. Temuan ini
diperkuat lagi ketika FDA memublikasikan pernyataan dari dua peneliti dan seorang manajer
Philip Moris yang bertentangan dengan kesaksian Campbell. Akibatnya, Philip Moris banyak
mendapatkan masalah mulai dari tuntunan ganti rugi dari berbagai pihak yang mengkonsumsi
rokok karena tidak sedikit para perokok mangalami kanker paru-paru, sehingga ditarik
kesimpulan dari enam juri bahwa perusahaan-perusahaan rokok memasarkan produk yang cacat
sehingga mengakibatkan penyakit kanker paru-paru, jantung, dan penyakit lainnya. Namun
Philip Moris dan sejumlah perusahaan rokok lainnya menyatakan bahwa para perokok secara
sukarela menerima risiko-risiko merokok dan secara pribadi bertanggung jawab atas masalah
kesehatan yang mereka alami.
Philip Morris pertama menanggapi semakin besarnya keprihatinan masalah kesehatan
dengam mebuat iklan bahwa penelitian-penelitian yang mempelajari hubungan antara penyakit
kanker paru-paru dengan merokok masih belum jelas. Secara khusus, perusahaan mengklaim
bahwa tidak semua perokok terkena penyakit kanker paru-paru, maka tidak ada hubungan sebab
akibat yang ditujukan antara merokok dengan kanker paru-paru. Perusahaan juga menyatakan
bahwa merokok tidak menyebabkan kecanduan dan para perokok bebas berhenti merokok kapan
saja mereka inginkan. Merokok, kata perusahaan adaalah suatu pilihan pribadi dan semua orang
bebas melaksanakan hak pribadi mereka untuk merokok. Sekalipun merokok adalah berbahaya,
menurut perusahaan label peringatan sesuai dengan yang disyaratkan pemerintah federal
memberi informasi pada perokok tentang risiko-risiko yang berkaitan dengan merokok.
Pandangan- pandangan ini diajukan pada beberapa halaman majalah yang dikirimkan pada
perokok semenjak akhir tahun 1980-an. Namun pada tahun 1999, pertama perusahaan mengaku
hubungan antara merokok dengan kanker. Tetapi, mereka tetap bersikeras bahwa merokok tidak
menyebabkan kecanduan, namun merupakan masalah pilihan dan tanggung jawab pribadi.
Pada bulan November 1998, Philip Morris dan perusahaan rokok lainnya menyetujui
perjanjian dengan 46 negara bagian yang pemerintahannya mengancam akan menuntut untuk
membayar ganti rugi atas biaya pengobatan penyakit yang disebabkan dari merokok.
Perusahaan-perusahaan tersebut bersedia membayar $206 miliar selama 25 tahun pada negara-
negra tersebut, dan tidak membuat iklan yang ditujukan kepada konsumen muda, tidak
menggunaka tokoh karun dalam iklan, tidak membuat iklan untuk luar ruangan, dan memberikan
program-program bantuan untuk berhenti merokok. Dalam perjanjian terpisah dengan empat
negara bagian yang tidak ikut serta dalam perjanjian pada November 1998, perusahaan-
perusahaan setuju meberikan tambahan sebesar $40 miliar sehingga jumlah yang mereka
bayarkan hampir $250 miliar. Masing-masing perusahaan berttanggung jawab membayar dalam
jumlah tertentu sesuai pangsa pasar yang mereka miliki setiap tahunnya yang dibebankan paling
berat pada Philip Morris. Meskipun perjanjian ini melarang dilakukannya tuntutan hukum oleh
pemerintah negara bagian, namun tidak memberikan perlindungan terhadap tuntutan yang
diajukan pihak lain pada perusahaan. Dalam upaya mengantisispasi perjanjian tersebut, mereka
menaikkan harga juak rokok sebesar 50 persen semenjak Januari 1998. Pada tanggal 23
November, saat perjanjian ditandatangani dua perusahaan menaikkan harga rokok sebesar 45 sen
per bungkussatu kenaikan terbesar dalam sejarah.
Dalam sambutan yang disampaikan pada Januari 1998, Presiden Clinton mengumumkan
bahwa ia akan memerintahkan Departemen keadilan untuk mempersiapkan tuntutan hukum
terhadap perusahaan rokok untuk membayar ganti rugi biaya perawaan kesehatan yang
dikeluarkan Medicare, berdasarkan Medical Care Recovery Act pada tahun 1962, yang
melimpahkan hak pada pemerintah untuk memberikan kembali uang para pembayar pajak yang
dikeluarkan untuk biaya kesehatan yang disebabkan oleh kelalaian pihak lain. Walaupun
perusahaan rokok telah bersumpah untuk melawan tuntutan hukum, namun diperkirakan bahwa
industry ini kemungkinan akan mebuat perjanjian dengan nilai sebesar $150-$200 miliar untuk
memperoleh perlindungan dari pemerintah federal.
Meskipun pertimbangan masalah kesehatan memengaruhi nilai penjualan di Amerika
Serikat, namun pemerinta negara lain, khususny negara-negara Dunia Ketiga, tidak banya
melakukan kampanye antimerokok dan enggan melepaskan pendapatan pajak yang diperoleh
dari rokok. Akibatnya, perusahaan rokok, khususnya Philip Morris, mulai melakukan investasi
besar besaran ke pasar luar negeri, khususnya pada negara Dunia Ketiga, dan belum lama pasar
eropa timur. Meskipu konsumsi rokok di Amerika turun, tapi ekspor tembakau naik. Pada tahun
1998, Philip Morris mengapalkan 717 miliar rokok ke luar Amerika, uang merupakan salah satu
kenaikan besar dibandingkan pengapalan Amerika sebesar 228 miliar. Philip Morris telah
memodernisasi pabrik-pabriknya di Jerman, Belanda, dan 9 negara lainnya. Perusahaan juga
menguaai 15 persen pasar di 25 negara, termasuk Perancis, Jerman,Italia, dan Meksiko, dan salah
satu perusahaan Amerika yang memasarkan rokok di Jepang, Taiwan dan China. Turki
merupakan Importir rokok keempat terbesar (seteah Jepang, Belgia-Luxemburg, dan Hongkong)
dan negara ini dianggab sebagai kunci karena berbatasan dengan bekas Uni Soviet sekaligus batu
loncatan menuju Asia. Orang- orang turki adalah perokok berat dan konsumsi rokok Turki naik
dengan pesat. Dalam Joint Venture dengan Sabanci Holdings, Philip Morris membangun sebuah
pabrik rokok di Turki yang berproduksi mulai 1993. Ini adalah parbrik terbesar Philip Morris di
luar Amerika.
Bisnis bir Philip Moris juga mengalami tekanan. Sejumlah kelompok kepentingan
dibentuk masalah mengemudi sambil mabuk, termasuk SADD(student Against Driving Drunk)
dan MADD (Mother Against Driving Drunk), dan merupakan lobi sangat efektif dalam
menaikkan batasan usia untuk mengonsumsi bir, menaikkan hukuman terhadsp hukuman tehadap
tindakan mengemudi sambil mabuk, dan membatasi ketersediaan alcohol pada kaum minoritas
Kelompok lain, SMART (Smart Marketing Alcohol on Radio and Television) juga berusaha
melobi pembentukan peraturan yang membatasi ikaln bir dengan berdasarkan bahwa alcohol
berkaitan dengan masalah kesehatan dan bahwa iklan radio dan televise banyak ditujukan pada
kelompok minoritas. Saat ini, kongres tengah mempertimbangkan pembatasan atas iklan
menuman beralkohol.
Industri bir semakin banyak mendapt kecaman sejalan dengan semakin tingginya
perhatian terhadap masalah kesehatandan konsumsi. Kesadaran akan pengaruh alcohol jangka
panjang pada organ jantung dan hati, semkin banyak mendapat perhatian. Alcoholic Beverage
Labeling Act pada tahun 1998 mewajibkan semua minuman beralkohol untuk memberikan
perhatian yang berhubungan konsumsi alcohol dengan masalah kesehatan, risiko cacat lahir, dan
penurunan kemampuan mengemudi mobil. Tambahannya, minuman beralkohol dengan kadar
kalori tinggi mendorong semakin beasarnya kecenderungan terhadap konsumsi minuman non-
alkohol atau berkadar alcohol rendah. Minuman bir ringan mewakili sekitar sepertiga pasar bir
tital. Sharps, produk bir nonalkohol dari Miller adalah salah satu pelopor bir nonalkohol yang
selanjutnya juga diikuti Anheuser Busch dan ODouls.
Produk bir dengan penjualan terbesar kelima(Magnum dan Miller) berusaha menentang
kecendrungan ini, tapi akhirnya menghadapi masalah social lainnya. Minuman jenis malt yang
diproduksi Miller banyak meperoleh kecaman dari organisasi masyarakat yang menyatakan
bahwa minuman ini dengan kadar alcohol yang tinggi, ditargetkan pada masyarakat kulit hitam
dan Hispanic, serta mendorong tindak kekerasan dalam kota. Minuman tesebut terjual laris di
pemuda kalangan minoritas. Promosi produk ini menunjukkan budaya gang dan secara diam-
diam menghubungkan bir dengan perasaan menjadi kuat dan berkuasa. U.S Surgeon General
menuntut bahwa dalam menargetkan kaum muda kulit hitam para pembuat minuman ini
mengakibatkan terbentuknya suatu kelompok dengan sirosis yang lebih tinggi dibandingkan
kelompok lain. New York Times dalam bagian editoral menulis bahwa perusahaan seharusnya
berhenti menargetkan pada populasi yang telah rusak karena masalah-masalah alcohol dan obat-
obatan terlarang. Para pendeta kulit hitam juga mengecam produk bir di mimbar mereka.
Saat melihat masalah-masalah yang dihadapi berbagai bisnis yang dikelola perusahaan,
pihak manajemen Philip Morris menyadari bahwa pengembangan suatu strategi yang baik
memerlukan tangan-tangan yang terampil. Perusahaan harus membentuk strategi tingkat
perusahaan dan bisnis untuk abad mendatang yang memungkinkan mereka menghadapi berbagai
ancaman di seluruh dunia.
1. Identifikasi semua masalah moral yang muncul dari kegiatan Philip Morris dalam
industry tembakau, bir, dan makanan. Diskusikan masalah-masalah tersebut dalam
kaitannya dengan pandangan utilitarian, hak, keadilan dan perhatian.
Jawaban :
Masalah utilitarian :
Philip morris diduga akan memodifikasi dan meningkatkan tingkat nikotin yang jelas-
jelas menyalahgunakan pengetahuan tentang sifat adiktif nikotin hanya untuk
mendapatkan keuntungan lebih.
Philip morris sedang mencoba untuk menjauhi industri tembakau untuk mengejar
pangsa pasar di industri lain seperti makanan dan minuman. Ini adalah kontingensi
untuk mengamankan perusahaan dari kejatuhan yang akan datang dari meningkatnya
jumlah tuntutan hukum menyerang mereka, akibat dari kegiatan mereka di industri
tembakau dan alkohol
Masalah hak :
Gugatan diajukan karena gagal untuk memperingatkan konsumen dari resiko
kesehatan. Philip morris berpendapat bahwa bahkan jika produk mereka mempunyai
resiko kesehatan, itu adalah hak individu untuk rela memikul resiko. Mereka
mengklaim bahwa perokok dapat berhenti kapan saja mereka ingin dan bahwa
individu harus dibiarkan bebas untuk menggunakan hak pribadi mereka untuk
merokok kapan, di mana, dan sebanyak yang mereka pilih.
Sehubungan dengan bisnis makanan mereka, philip morris memiliki hak untuk
terlibat dan berkembang didaerah ini karena telah sah membeli perusahaan makanan.
Lawan berpendapat bahwa mereka 'mencuci' dan 'mencemari' uang rokok untuk
mencapai status mereka dalam industry makanan.
Masalah keadilan :
Dalam keadilan untuk kerusakan yang disebabkan oleh produk mereka, philip morris
menghadapi tuntutan untuk membayar ganti rugi sebagai kompensasi kesehatan untuk
individu yang menderita sakit akibat konsumsi tembakau dan alkohol.
Masalah kepedulian :
Philip morris tampaknya tidak benar-benar peduli pada konsumen mereka. Wajar
untuk mengasumsikan bahwa untuk perusahaan yang besar lebih peduli tentang
keuntungan dan ekspansi ketimbang memprioritaskan dalam menunjukkan perawatan
asli dan kepedulian terhadap kesehatan individu dan kesejahteraan.

2. Industri bir dan tembakau dikarakteristikkan sebagai industry dosa. Berikan komentar
dalam kaitannya dengan apa yang bisa diberikan oleh teori kebaikan atas aktivitas
perusahaan dalam industr-industri tersebut.
Jawab :
Industri bir dan tembakau dikarakteristikkan sebagai industri dosa karena para industri ini
memasarkan produknya menggunakan iklan yang sering kali memberikan sugesti yang
mempunyai kekuasaan apabila menggunakan produk mereka. Meskipun mereka sudah
menjalankan industri berdasarkan teori tetapi produk yang mereka pasarkan tidak sesuai
dengan iklan. Karena bir dan tembakau dapat membuat orang yang menggunakannya berkali
kali. Sehingga industri mereka tetap berjalan.

3. Menurut anda, apakah tepat bila lembaga pemerintah mengambil tindakan dalam kasus ini ?
Jawab :
Menurut kelompok kami dalam kasus rokok Pilip Moris pemerintah tidak tepat bila
mengambil tindakan . Itu karena perusahaan rokok Pilip Moris pasti dari awal sudah
mengantongi izin dari pemrintah, jika mereka tidak mendapatkan izin tidak mungkin rokok
tersebut beredar, dalam setiap kemasan rokok juga pasti sudah tertera bahaya jika
mengkonsumsi rokok dapat meyebabkan berbagai penyakit sampai menyebabkan kematian,
jadi para konsumen sudah tau akibat yang ditimbulkandari konsumsi rokok itu sendiri.
Alasan lain adalah perusahaan rokok milik Pilip Moris sudah mau membayar biaya ganti rugi
atas biaya pengobatan sebesar $250 miliar.