Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

REPRODUKSI TERNAK

FOLIKULOGENESIS

(Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata


Kuliah Reproduksi Ternak)

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

KELAS A

YUDHA PASHA FAUZAN 200110150050

LARASATI DEWI 200110150051

ASEP SAEPUL ANWAR 200110150052

DANDY ABDUL KARIM A 200110150053

YUNI YULIYANI SAPITRI 200110150166

DENI MULYADI ASEP S 200110150167

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2016
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Toeihere (1979), hampir semua ternak mamalia


memiliki ukuran ovum yang lebih kecil daripada telur unggas.
Perbedaan ukuran ini disebabkan keberlangsungan pertukaran
zat makanan pada ovum ternak mamalia ketika fase embrional
yang berlangsung secara efisien di dalam uterus sementara telur
unggas mengandung banyak zat-zat makanan yang diperlukan
untuk perkembangan embrional sampai waktu penetasan. Meski
ukurannya lebih kecil dari sel telur unggas, ovum mamalia masih
merupakan sel yang terbesar di dalam tubuh mamalia di
samping sel-sel syaraf dan neuron motorik.
Sel telur dikenal untuk pertamakalinya oleh de Graaf pada
tahun 1672 dan kemudian diuraikan dan diidentifikasi oleh
Cruickshank dan von Baer, masing-masing pada tahun 1797 dan
1827. Pengadaan ova terjadi di dalam ovarium dan meliputi
pembentukan ova atau ovogenesis atau oogenesis,
pembentukan folikel atau foliculogenesis dan pelepasan sel telur
atau ovulasi. (Toelihere, 1979)
Ovum memiliki peranan besar dalam mekanisme
reproduksi ternak yang mana fertilisasi dapat terjadi ketika
spermatozoa melebur dengan ovum. Betapa perlunya
pemahaman akan ovum ternak dan proses-proses yang terjadi
seperti folikulogenesis dan oogenesis. Maka dari itu kami
membuat makalah mengenai Folikulogenesis yang dapat
menjadi dasar pengetahuan bagi materi-materi selanjutnya baik
pada Mata Kuliah Reproduksi Ternak maupun mata kuliah lain
yang berhubungan dengan materi ini.

1.2 Rumusan Masalah

1
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan permasalahan yaitu
1 Bagaimana definisi folikulogenesis dan proses terjadinya folikulogenesis.
2 Bagaimana definisi oogenesis dan proses terjadinya oogenesis.
3 Apa penjeleasan dari ovum ternak dan tahap perkembangannya.
4 Bagaimana mekanisme dari proses ovulasi.

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini
yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi folikulogenesis dan proses terjadinya
folikulogenesis.
2. Untuk mengetahui definisi oogenesis dan proses terjadinya oogenesis.
3. Untuk memahami terntang ovum ternak dan tahap perkembangannya.
4. Untuk mengetahui mekanisme dari proses ovulasi.

2
II
PEMBAHASAN
2.1 Folikulogenesis dan Prosesnya

Folikulogenesis merupakan proses perkembangan folikel di dalam


ovari, yang melibatkan beberapa proses yaitu rekrutmen, seleksi,
pertumbuhan, pematangan, dan ovulasi. Proses perkembangan follikel
muda menjadi follikel masak, yang meliputi perubahan-perubahan pada
besarnya, jumlah lapisan-lapisan sel granulosa, pertumbuhan lapisan sel
theca dan posisi oosit dikelilingi sel kumulus.

Gambar 1. Proses Folikulogenesis

Perkembangan follikel dipengaruhi oleh ransangan hormon


gonadotropin (Follikel Stimulating Hormon/FSH) Follikel dalam berbagai
tingkat perkembangannya terdapat di dalam ovarium sebelm hewan
mencapai pubertas, kecuali tingkat follikel de Graaf akan terbentuk bila
ada ransangan hormon gonadotropin (FSH) yang diproduksi oleh hypofisa
pada saat mencapai pubertas.

3
Proses perkembangan dan maturasi folikel dikontrol oleh pars
distalis pada kelenjar hipofisa,yaitu dengan mensekresikan FSH, LH dan
prolaktin pada beberapa spesies. Ada tiga tahap perkembangan folikel :

1. Tahap Preovulasi

Perkembangan follikel terbagi 4 tahap :

a. Follikel primer:
Terjadi pada waktu dalam kandungan atau prenatal
Dibentuk dari sel epithel benih yang membelah diri
Sel yang akan menjadi ovum berada di bagian tengah dan dikelilingi sel
granulosa

Oosit membesar, sel folikel jadi kubus atau silindris, lalu


bermitosis membentuk sel-sel granulosa, yang terdiri dari beberapa lapis
menandakan perubahan folikel primordial menjadi folikel primer. Ada
pigmen lipokrom dalam ooplasma, banyak butir lemak, banyak ribosom
bebas (Heffner dan Schust 2008), dan pada sayatan semitipis ovari
Opossum dapat diamati mitokondria mengelompok di bawah
plasmalemma dengan struktur memanjang. Oosit membentuk mikrovili,
sedangkan sel granulosa (sel folikel) yang menyelubunginya membentuk
filopodia (tonjolan-tonjolan halus yang panjang ke arah oosit) yang
berfungsi sebagai penyalur nutrisi dari jaringan induk (ovarium) ke oosit.

Sel-sel granulosa membentuk zona pelusida. Genom oosit


diaktifasi dan gen ditranskripsi, permulaan sinyal parakrin dibentuk yang
mana ini penting untuk komunikasi antara folikel dan oosit. Oosit dan
folikel tumbuh secara cepat, meningkat diameternya hingga hampir
mencapai 0,1mm. Pada tahap folikel primer terbentuk reseptor FSH, tetapi
tidak tergantung pada gonadotropin sampai tahap antral. Oosit primer ini
hanya menempuh meiosis I sampai tahap leptoten profase (Heffner dan
Schust 2008).

4
Kapsul polimer glikoprotein yang disebut zona pellusida terbentuk
disekitar oosit memisahkannya dari sel granulosa di sekelilingnya. Zona
pellucida yang masih mengikuti oosit sesudah ovulasi, mengandung enzim
yang mengkatalis penetrasi sperma. Folikel primer ini memiliki ukuran
dengan diameter 100m (Ownby 2007).

b. Follikel Sekunder
Terjadi setelah lahir dan selama proses pendewasaan
Sel granulosa tampak lebih membesar dan banyak, letak agak jauh dari
permukaan ovarium.
Ovum sudah terbungkus oleh membran viteliin serta terdapat membran
yang lebih tebal di zona pellusida

Pada tahap ini aktifitas mitosis folikel tinggi dan menyebabkan


bertambahnya lapisan sel granulosa yang disebut membran granulosa.
Membran granulosa ini mulai mensekresikan cairan folikel. Sel teka yang
menyerupai stroma dibentuk dengan sinyal yang dilepaskan oleh oosit.
Sel-sel ini mengelilingi sebagian besar lapisan luar folikel, membran basal,
membentuk teka internal dan teka eksternal. Jaringan pembuluh kapiler
yang komplek terbentuk antara kedua lapisan sel teka ini dan mulai
mensirkulasikan darah menuju dan dari folikel.

Sel-sel pada teka internal besar, bulat dan seperti epitel, sedangkan
sel pada teka eksternal lebih kecil dan dinamakan fibroblast. Dengan
berkumpulnya cairan folikel dari membran granulosa maka terbentuk
kantung kecil yang berisi cairan diantara sel-sel granulosa. Kantung-
kantung kecil tersebut menyatu sehingga membentuk kantung yang lebih
besar, yang kemudian akan berkembang menjadi antrum. Pada tahap ini
folikel disebut juga dengan folikel sekunder vesikuler. Biasanya pada
wanita hanya satu folikel sekunder yang terus berkembang (Ownby
2007).

Folikel sekunder akhir disebut juga folikel preantral. Proses


perubahan sel primodial sampai preantral dikenal dengan inisiasi

5
rekrutmen yang berlangsung selama 120 hari pada manusia (Gambar 5).
Secara histologi folikel preantral ditandai dengan oosit yang berkembang
sempurna dikelilingi oleh zona pelusida, kira-kira terdiri dari sembilan
lapis sel granulosa, membran basal, teka internal, kapiler, dan teka
eksternal. Folikel pada tahap ini memiliki ukuran diameter 200m. Oosit
mencapai besar maksimal dan letaknya eksentrik dalam folikel. Meiosis I
sampai pada tahap diploten profase. Pada preparat sayatan semi tipis ovari
Opossum terlihat adanya butir-butir lipid dalam sitoplasma oosit (Cesario
dan Matheus 2008). Sel granulosa terdiri dari 6-12 lapis sel (Heffner dan
Schust 2008).

c. Follikel Tersier:
Terjadi pada saat hewan sudah dewasa dan akan dilanjutkan pada waktu
hewan mengalami siklus birahi
ditandai dengan pertumbuhan sel-sel granulosa yang cepat semakin
membesarnya sehingga bagian dalam terbentuk ruang yang disebut
antrum follikuli
Antrum follikuli dilapisi oleh banyak sel granulosa, berisi cairan yang
kaya protein dan hormon estrogen liquor follikuli
Menjelang estrus follikel tersier mengalami perkembangan membentuk
dua lapisan stroma korteks yang mengelilingi follikel. Lapisan ini
disebut dengan sel theca interna dan theca eksterna

Folikel tersier juga dikenal sebagai folikel antral, ditandai dengan


pembentukan rongga berisi cairan yang berdampingan dengan oosit dan
disebut antrum. Struktur dasar dari folikel matang sudah terbentuk. Sel
granulosa dan sel teka melanjutkan proses mitosis dengan peningkatan
volume antrum. Folikel tersier dapat mencapai ukuran yang besar yang
dihambat dengan tersedianya FSH. Dengan perintah yang berasal dari
gradien morfogenik yang dilepaskan oosit, sel granulosa pada folikel
tersier mulai berdiferensiasi menjadi empat sub bagian:

a. Korona radiata yang mengelilingi zona pelusida


b. Membrana melapisi bagian dalam membran basal

6
c. Periantral berdampingan dengan antrum
d. Cumulus oophorous yang menghubungkan membran, corona radiata
dan sel granulosa.

Masing-masing bagian ini memperlihatkan respon yang berbeda


terhadap FSH (Ownby 2007).

Sel teka mengekspresikan reseptor Luteinizing Hormone (LH). LH


menghambat produksi androgen oleh sel teka. Beberapa androstendion
diaromatisasi oleh sel granulosa untuk memproduksi estrogen, khususnya
estradiol sehingga kadar estrogen mulai meningkat.

Pada tahap ini juga terjadi proses kematian folikel yang dikenal
dengan atresia, dan ditandai dengan apoptosis radikal dari semua bagian
sel dan oosit. Faktor utama yang dapat menyebabkan atresia adalah
hormon. Dalam mekanisme terjadinya atresia, kadar Inhibin (FSH
suppressing substance) tinggi sehingga kadar hormon FSH menjadi
rendah. Sebagai feedback dari rendahnya kadar FSH, maka hormon LH
dan estradiol meningkat kadarnya.

d. Follikel De Graaf
Ditandai dengan perkembangan sempurna dari antrum, ovum
terbungkus massa sel kumulus oophorus
Jumlah follikel de Graaf yang terbentuk dalam satu siklus birahi
tergantung dari faktur keturunan dan lingkungan

Folikel yang tidak dominan berdiameter antara 200m sampai


dengan 2mm, folikel ini dapat mengalami atresia. Folikel yang dominan
berdiameter 5mm sampai dengan 10mm dan akan terus berlanjut ke tahap
berikutnya. Perkembangan oosit pada tahap ini berlangsung sampai
dengan metafase pada meiosis II, dan setelah itu berhenti (Heffner dan
Schust 2008).

Oosit yang diselaputi beberapa lapis sel granulosa berada dalam


suatu tonjolan ke dalam antrum, disebut cumulus oophorus. Kalau terjadi

7
ovulasi tonjolan inilah yang lepas ke luar ovarium, dan sel granulosa
sekeliling oosit disebut corona radiata. Oosit kini disebut ovum, meski
meiosis II belum diselesaikan. Polosit I (polar bodi) yang terbentuk akhir
meiosis I berada di luar oosit, sebelah dalam zona pelusida. Meiosis II
diselesaikan kalau ovum dibuahi (Heffner dan Schust 2008).

Sel folikel melepas hormon estrogen, di mana estradiol merupakan


unsur yang dominan sebelum ovulasi berlangsung. Tahap ini mempunyai
seluruh komponen folikel sekunder vesikuler namun berukuran jauh lebih
besar dan terdiri dari satu antrum yang besar. Folikel ini sangat besar dan
biasanya merupakan perluasan dari bagian terdalam korteks dan menonjol
di permukaan ovari. Folikel de graaf berdiameter 10mm sampai dengan
20mm. Pada beberapa spesies, sesaat sebelum ovulasi oosit primer pada
folikel yang matang menyelesaikan meiosis I sehingga menghasilkan oosit
sekunder dan polar bodi (Ownby 2007). Pengamatan pada sayatan
semitipis ovari Opossum memperlihatkan bahwa ooplasma penuh dengan
badan vesikuler yang berkilau dan mitokondria memanjang berkelompok
di daerah korteks (Cesario dan Matheus 2008).

Hormon yang mempengaruhi Follikulogenesis

FSH Berperan pada saat pertumbuhan follikel primordial sampai


follikel tersier
LH Berperan pada saat pertumbuhan follikel tersier ke follikel
degraaf dan ovulasi
Kedua hormon ini (FSH dan LH) mempunyai reseptor spesifik pada
permukaan sel granulosa dan sel theca dan berfungsi untuk :
Menstimulasi produksi estrogen dari dinding follikel (sel theca
interna dan eksterna)
Meningkatkan produksi inhibin khuus oleh FSH

2. Tahap Ovulasi

Pada hari ketiga belas siklus menstruasi, folikel akan membentuk


sebuah bukaan yang disebut stigma dan melepaskan oosit bersama sel

8
kumulus dalam proses yang disebut ovulasi. Oosit sekarang memiliki
kemampuan untuk melakukan fertilisasi dan akan bergerak turun menuju
tuba falopi dan pada akhirnya diimplantasikan di uterus. Oosit yang sudah
berkembang sempurna (gamet) memasuki siklus menstruasi (Ownby
2007).

3. Tahap Post-Ovulasi
Setelah ovulasi, peluruhan dari folikel yang tersisa biasanya menghasilkan
struktur yang disebut corpus hemorrhagicum, folikel yang pecah segera terisi
darah. Perdarahan ringan dari folikel ke dalam rongga abdomen dapat
menimbulkan iritasi peritoneum dan nyeri abdomen bawah singkat
(mittelschmerz). Sel-sel granulosa dan teka yang melapisi folikel mulai
berproliferasi, dan bekuan darah dengan cepat diganti oleh sel luteal (Ganong
2003).
Pada sebagian besar spesies, LH dari kelenjar pituitari mengarahkan
luteinisasi dan menstimulasi sel granulosa untuk menghasilkan progesteron. Sel
granulosa berproliferasi membesar dan berubah menjadi sel granulosa lutein. Pada
beberapa spesies termasuk manusia, kumpulan lipid berpigmen kuning (lutein)
dan lipid-lipid lainnya menandai perubahan menjadi sel granulosa lutein. Sel-sel
pada teka internal juga bertransformasi menjadi lipid pembentuk sel yang disebut
sel teka lutein. Jika terjadi fertilisasi, corpus luteum dipertahankan dan
mensekresikan progesteron (Ownby 2007).
Sel luteal yang kaya lemak dan berwarna kekuningan, membentuk korpus
luteum. Hal ini mencetuskan fase luteal siklus menstruasi, saat sel-sel luteum
mensekresikan estrogen dan progesteron. Pertumbuhan korpus luteum bergantung
pada kemampuannya membentuk vaskularisasi untuk memperoleh darah. Bila
terjadi kehamilan, korpus luteum menetap dan biasanya tidak terjadi lagi periode
menstruasi sampai setelah melahirkan (Ganong 2003).
Bila tidak terjadi kehamilan, korpus luteum mulai mengalami degenerasi
sekitar 4 hari sebelum menstruasi berikutnya (hari ke-24 siklus menstruasi) dan
akhirnya digantikan dengan jaringan ikat membentuk korpus albikans (Ganong
2003).

9
2.2 Oogenesis dan Prosesnya

Gametogenesis pada hewan betina disebut


oogenesis. Oogenesis merupakan proses pembentukan sel
kelamin (gamet) betina atau oosit. Proses ini bersamaan
dengan proses pembentukan folikel yang dikenal dengan
folikulogenesis.

Oogenesis merupakan proses pembentukann ovum


di dalam ovarium. Tidak seperti spermatogenesis yang
dapat menghasilkan jutaan sperma dalam waktu yang
bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan satu
ovum matang sekali waktu. Oogenesis dimulai dengan
pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogenia
(jamak; oogonium). Hal tersebut terjadi dalam organ
reproduksi betina yaitu di ovarium.

Gambar 2. Proses Oogenesis

Sejak masa embrio hingga dewasa, oogonia (sel


induk telur) di dalam ovarium mengalami perkembangan.
Oogonium pada masa embrio ini memperbanyak diri

10
secara mitosis membentuk oosit primer (Purnomo, dkk.
2010). Pada ovarium yang ada di dalam tubuh embrio atau
fetus terdapat sekitar 600.000 buah sel induk telur atau
disebut oogonium. Pada saat umur fetus (embrio) lima
bulan, oogonium memperbanyak diri secara mitosis,
membentuk kurang lebih 7 juta oosit primer. Pada saat
embrio (fetus) umur 6 bulan, oosit primer dalam tahap
meiosis (profase I). Setelah itu, terjadi pengurangan jumlah
oosit primer sampai lahir. Pada saat lahir dua ovarium
mengandung 2 juta oosit primer. Selanjutnya, oosit primer
yang sedang tahap membelah tersebut istirahat sampai
masa pubertas. Pada waktu anak berumur 7 tahun
jumlahnya susut lagi menjadi sekitar 300.000 - 400.000
oosit primer (Rachmawati, Faidah, dkk. 2010). Pada masa
pubertas terjadilah oogenesis. Tiap bulan sejak puberitas,
hormone seks menyebabkan 20 sampai 25 folikel menjadi
besar dan ditransformasi menjadi folikel primer. Sebagian
besar mengalami degenerasi, hanya satu yang menjadi
matang dan menjadi folikel sekunder. Folikel ini tambah
cepat dalam beberapa hari, dindingnya menebal dan
cairan berkumpul dikelilingi oleh oosit yang dikandungnya
(Toelihere, M. R. 1985).

1) Tahap pembentukan sel telur ( proses oogenesis)

Berikut adalah tahapan pembentukan ovum atau proses


berlangsungnya oogenesis.

a) Sel-Sel Kelamin Primordial

Sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di


dalam ektoderm embrional dari saccus vitellinus, dan
mengadakan migrasi ke epitelium germinativum kira-kira

11
pada minggu ke 6 kehidupan intrauteri (dalam kandungan).
Masing-masing sel kelamin primordial (oogonium)
dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan
memberi nutrien oogonium dan secara bersama-sama
membentuk folikel primordial (Toelihere, M. R. 1985).

b) Folikel Primordial

Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma


cortex ovarium dan folikel ini dihasilkan sebanyak 600.000
buah. Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang
selama kehidupan intrauteri dan selama masa kanak-
kanak, tetapi tidak satupun mencapai pemasakan. Pada
waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses
pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana
didalamnya terdapat sel kelamin yang disebut oosit primer
(Toelihere, M. R. 1985).

c) Oosit Primer

Inti (nukleus) oosit primer mengandung 23 pasang


kromosom (2n). Satu pasang kromosom merupakan
kromosom yang menentukan jenis kelamin, dan disebut
kromosom XX atau XY. Kromosom-kromosom yang lain
disebut autosom. Satu kromosom terdiri dari dua kromatin.
Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA (Toelihere,
M. R. 1985).

d) Pembelahan Meiosis Pertama

Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de


Graaf mengalami pemasakan dan selesai sebelum terjadi
ovulasi. Inti oosit atau ovum membelah sehingga
kromosom terpisah dan terbentuk dua set yang masing-

12
masing mengandung 23 kromosom. Satu set tetap lebih
besar dibanding yang lain karena mengandung seluruh
sitoplasma, sel ini disebut oosit sekunder yang bersifat
haploid. Sel yang lebih kecil disebut badan polar pertama.
Kadang-kadang badan polar primer ini dapat membelah diri
dan secara normal akan mengalami degenerasi.
Pembelahan meiosis pertama ini menyebabkan adanya
kromosom haploid pada oosit sekunder dan badan polar
primer, juga terjadi pertukaran kromatid dan bahan
genetiknya (Johnson, George B. 2003).

e) Oosit Sekunder

Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju


tuba fallopi. Bila terjadi fertilisasi, maka akan terjadi proses
pembelahan meiosis kedua, begitu pula dengan badan
polar pertama akan membelah menjadi dua badan polar.
ke dua yang akhirnya mengalami degenerasi (Rachmawati,
Faidah, dkk. 2010). Bila tidak terjadi fertilisasi atau kepala
spermatozoa tidak mampu menembus zona pellucida oosit,
maka akan terjadi menstruasi dan siklus oogenesis akan
terulang kembali. Selama pembelahan miosis II, oosit
sekunder bersifat haploid dengan 23 kromosom yang
selanjutnya disebut ootid (Johnson, George B. 2003). Ketika
inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu
saat itu juga ootid kemudian mencapai akhirnya yaitu
ovum yang matang. Dan selanjutnya akan mengalami
perkembangan embrional. Peristiwa pengeluaran sel telur
dikenal dengan istilah ovulasi. Pada setiap ovulasi hanya
satu telur yang matang dan dapat hidup 24 jam. Jika ovum
yang matang tersebut tidak dibuahi, maka sel telur

13
tersebut akan mati dan luruh bersama dengan dinding
rahim pada awal siklus menstruasi.

14
2.3 Ovum Ternak
Menurut Toelihere (1979), sel telur atau ovum yang
jamaknya disebut ova merupakan suatu sel khas yang sanggup
dibuahi dan selanjutnya dapat menjalani perkembangan
embrional. Sebelum ovulasi, sel telur terletak pada satu sisi
ovarium, terbungkus di dalam suatu massa padat sel-sel folikuler
yang disebut cumulus oophorus. Sel telur yang baru diovulasikan
umumnya dikelilingi oleh sejumlah lapisan sel granulosa (corona
radiata) dan suatu matriks cairan folikuler. Cumulus oophorus
dan corona radiata pada ova sapi dan domba hanya bertahan
beberapa jam sesudah ovulasi. Penonjolan-penonjolan
protoplasma dari sel-sel tersebut memasuki zona pellucida dalam
arah miring atau tak menentu dan saling berkaitan dengan
penjuluran-penjuluran kecil (microvilli) yang terdapat pada oocyt
itu sendiri. Akan tetapi, penjuluran-penjuluran ini menyusut
kembali setelah ovulasi.
Sel telur mempunyai dua membran yang jelas, membrana
vitellin dan zona pellucida. Membrana vitellin adalah suatu
diferensiasi cortical oocyt dan dapat dianggap mempunyai
struktur dan sifat-sifat yang sama dengan membran plasma sel-
sel somatik, yang berguna untuk difusi dan pengangkutan aktif.
Zona pellucida adalah suatu selaput yang homogen dan semi-
permeabel terbuat dari suatu protein yang dapat dilebur oleh
enzim-enzim proteolitik, seperti trypsin dan chymotripsin
(Toelihere, 1979)
Menurut Toelihere (1979). Vitellus merupakan semua isi
yang terbungkus oleh zona pellucida pada waktu ovulasi.
Sesudah fertilisasi, vitellus mengempis dan terbentuklah suatu
ruangan perivitellin antara zona pellucida dan membrana vitellin
yang mana di dalamnya terdapat badan-badan kutub. Apabila
ovum tidak jadi dibuahi, vitellus membagi-bagi diri ke dalam

15
beberapa unit yang berbeda besarnya, masing-masing
mengandung satu atau dua inti yang gugur.
Bentuk ovum sapi memiliki ciri-ciri yang sama dengan
kebanyakan ovum mamalia, mempunyai volume sitoplasma yang
sedikit, berisi nukleus dan bahan kuning telur yang terbungkus
oleh selaput vitelin (membran vitelin) atau vitelus. Selaput vitelin
dibungkus dengan sempurna oleh zona pelusida yang
transparan. Di antara vitelin dan zona pelusida terdapat ruangan
sempit yang berisi cairan disebut ruangan perivitelin (Perivitelin
space). Segera setelah ovulasi ovum biasanya diselubungi oleh
lapisan sel kumulus yang berbentuk mahkota yang disebut
sebagai korona radiata. Pada beberapa spesies (kelinci, kucing,
anjing, bajing) kumulus relatif tebal, tetapi pada sapi, domba,
kuda dan manusia kumulus relatif tipis (Nurcholidah dan
Soeparna, 2014).
Vitellus menunjukkan morfologi yang berbeda-beda
menurut jenis hewan, terutama karena jumlah kuning telur dan
butiran-butiran lemak yang berbeda-beda. Pada ova kambing
dan kelinci butiran-butiran telur tersebar baik dan merata
sehingga berbagai perubahan di dalam inti sel yang terjadi
selama meiosis dan selama pembuahan dapat dilihat dengan
jelas. Sebaliknya sel-sel telur pada kuda dan sapi penuh terisi
dengan butiran-butiran lemak sehingga nucleus dikaburi oleh
massa vitelus yang gelap (Toelihere, 1979)
Menurut Toelihere (1979), ovum memiliki inti sel yang
berukuran cukup besar, dan terletak pada suatu posisi eksentrik,
serta mengandung satu atau dua nuclei chromatik. Selama
pertumbuhan oocyt, jumlah asam deoxyribonucleic (DNA) di
dalam nucleus berkurang dan suatu pita asam ribonucleic (RNA)
perinuclear terbentuk di dalam cytoplasma.

2.4 Ovulasi

16
Ovulasi adalah proses terlepasnya sel ovum dari ovarium
sebagai akibat pecahnya folikel yang telah masak. Waktu yang
dibutuhkan oleh seluruh proses ovulasi tergantung pada lokasi
sel telur dalam folikel. Waktu ovulasi akan singkat apabila sel
telur berada di dasar folikel dan akan lama apabila sel telur
berada dekat pada stigma yang menonjol dipermukaan ovarium.

Gambar 3. Proses Ovulasi

Mekanisme terjadinya ovulasi :

a. Hormonal :

Setelah folikel-folikel tumbuh karena pengaruh hormon FSH


dari pituitari anterior,maka sel-sek folikel mampu menghasilkan
estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini dalam dosis kecil
akan menyebabkan terlepasnya hormon LH. Hormon LH
memegang peranan penting dalam menggertak terjadinya
ovulasi. Pecahnya folikel terjadi adanya tekanan dari dalam
folikel yang bertambah besar dan persobekan pada daerah
stigma yang pucat karena daerah ini kurang memperoleh darah.

17
b. Neural :

Rangsangan pada luar servik, baik pada saat kopulasi atau


kawin buatan akan diteruskan oleh saraf ke susunan saraf pusat
yang akan diterima oleh hipotalamus. Nantinya akan
disekresikan LH realising hormon dan kadar LH dalam darah akan
meningkat sehingga mengakibatkan ovulasi.

Dari sisa-sisa folikel yang telah mengalami ovulasi akan


terbentuk bermacam-macam tenunan yaitu:

1. Corpus Haemoragikum

Setelah ovulasi akan diikuti pemberian darah yang


lebih pada sisa-sisa folikel.Terjadi hipertropi dan hiperplasi
pada tenunan sehingga tebentuk benda yang bulat
menonjol dipermukaan ovarium,kenyal,dan berwarna
merah

2. Corpus Luteum

Sebagai akibat dari proses luteinasi dari korpus


haemoragikum oleh pengaruh hormon LTH, terjadilah
pertumbuhan lebih lanjut dari sel-sel tersebut. Tenenuan
baru akan berubah warna menjadi kuning dan
menghasilkan progesteron yang lama-lama akan tinggi
pada puncak siklus birahi.

3. Corpus Albikansia

Berhentinya aktivitas korpus luteum dalam


menghasilkan progesteron akan menyebabkan degenerasi
dari sel-selnya karena sudah tidak memperoleh suplai
darah maka bentuknya menjadi sangat kecil dan berwarna
pucat. Ovulasi pada sapi terjadi sekitar 10-12 jam setelah

18
estrus berakhir. Adanya gangguan pada saat ovulasi dapat
menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi dan atau
gangguan perkembangan embrio. Gangguan ovulasi dapat
terjadi karena defisiensi atau ketidakseimbangan endokrin
dan faktor mekanik.

19
III

KESIMPULAN

Dari paparan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan


:

Folikulogenesis merupakan proses pembentukan folikel yang


terjadi di dalam ovarium.
Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum yang
terjadi di dalam folikel.
Ovum merupakan sel gamet betina yang sudah matang dan
siap untuk dibuahi dan kemudian siap melalui proses
pembentukan embrio.
Ovulasi merupakan proses terlepasnya sel ovum dari ovarium
sebagai akibat pecahnya folikel yang telah masak.

20
DAFTAR PUSTAKA

Ganong, William F, 2003. Fisiologi Saraf & Sel Otot. Dalam H. M. Djauhari
Widjajakusumah: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. EGC : Jakarta
Hafez dan Hafez. 2000. Sistem Reproduksi Sapi Betina. Fakultas Kedokteran
Hewan Institut Pertanian Bogor : Bogor
Heffner, L dan Schust, D, 2006. At a Glance Sistem Reproduksi, Edisi 2, Alih
Bahasa Vidhia Umami. Erlangga : Jakarta
Jhonson, George B. 2003. The Living World. McGraw Hill : Boston,
Massachusetts, USA
Nurcholidah dan Soeparna. 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. IPB Press : Bogor
Ownby C. 2007. Male Reproductive System. https://instruction.cvhs.okstate.edu/
(diakses pada 30 Oktober 2016 10.40 WIB)
Rachmawati, Faidah, et.al. 2009, Biologi untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA,
Pusat Perbukuan Depertemen Pendidikan Nasional : Jakarta
Toelihere, Mozes. 1979. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa : Bandung

21
DAFTAR ISI

I PENDAHULUAN....................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................1


1.2 Rumusan Masalah..............................................1
1.3 Tujuan Penulisan................................................2

II PEMBAHASAN......................................................3

2.1 Folikulogenesis dan Prosesnya............................3


2.2 Oogenesis dan Prosesnya...................................10
2.3 Ovum Ternak......................................................14
2.4 Ovulasi..............................................................15

III KESIMPULAN........................................................18

DAFTAR PUSTAKA......................................................19

Anda mungkin juga menyukai