Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas,


mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan
keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan
mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila


diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau
mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis
di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa
bisnis. Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi.
Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta
perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan
satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya
oleh pihak manajer / manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu
organisasi.

B. Rumusan masalah

1. Apa pengertian akuntansi?


2. Apa contoh bidang-bidang spesialisasi Akuntansi?
3. Apa jabatan bidang spesialisasi akuntansi?
4. Apa pihak yang berkepentingan dalam bidang akuntansi?
5. Apa yang dimaksud dengan profesi akuntan?
6. Apa saja bidang-bidang akuntan di Indonesia?
7. Bagaimana kode etik akuntan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akuntansi

Luasnya bidang kegiatan akuntansi mengakibatkan pengertian akuntansi


bergantung dari sudut pandang penekanannya.

Pengertian Akuntansi
- Dipandang dari sudut fungsi atau kegunaannya, akuntansi merupakan aktivitas
jasa yang menyediakan informasi penting untuk penilaian jalannya perusahaan,
sehingga memungkinkan pimpinan perusahaan atau pihak-pihak diluar
perusahaan membuat pertimbangan-pertimbangan dan mengambil keputusan
yang tepat.
- Dipandang dari sudut kegiatannya, akuntansi merupakan suatu proses yang
meliputi identifikasi (penentuan), pengukuran, dan penyampaian informasi
ekonomis.
Rangkaian proses itulah yang merupakan kegiatan akuntansi dalam
menjalankan fungsinya, menyediakan informasi keuangan bagi pihak-pihak yang
memerlukan. Dalam pelaksanaannya, semua transaksi keuangan yang terjadi
dalam periode tertentu diproses dalam tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:

1.Pengidentifikasian (identifying) dan Pengukuran (measuring)


2.Pencatatan (recording)
3.Penggolongan (classification)
4.Pengikhtisaran (summarizing)
5.Penyusunan Laporan Keuangan (reporting)

B. Bidang Bidang Spesialisasi Akuntansi


Bidang kegiatan akuntansi, antara lain adalah sebagai berikut:

1.Akuntansi Keuangan (Financial Accounting)


Akuntansi Keuangan yaitu akuntansi yang sasaran (objek) kegiatannya adalah
transaksi keuangan yang menyangkut perubahan harta, hutang dan modal suatu
perusahaan. Akuntansi Keuangan bertujuan menyajikan laporan keuangan untuk
kepentingan pihak intern perusahaan (manajemen) dan pihak-pihak ekstern,
misalnya bank, investor, pemerintah dan masyarakat umum.

2.Akuntansi Biaya (Cost Accounting)


Akuntasi Biaya yaitu akuntasnsi yang sasaran kegiatannya adalah transaksi
keuangan yang berhubungan dengan biaya-biaya, misalnya biaya-biaya yang
berhubungan dengan proses pembuatan produk. Akuntansi Biaya bertujuan
menyediakan informasi biaya yang diperlukan untuk kepentingan intern (pimpinan
perusahaan), yaitu untuk menilai pelaksanaan operasi perusahaan dan menentukan
rencana kegiatan masa mendatang.

3.Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting)


Akuntansi perpajakan adalah akuntansi yang kegiatannya berhubungan
dengan penentuan objek pajak yang menjadi beban perusahaan, serta
perhitungannya untuk kepentingan penyusanan laporan pajak. Kegiatan Akuntansi
Perpajakan berfungsi membantu manajemen dalam menentukan pilihan-pilihan
transaksi yang akan terjadi, sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan
perpajakan. Oleh karena itu, akuntansi yang bekerja dalam bidang ini harus
mengetahui benar tentang undang-undang perpajakan yang berlaku.

4.Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)


Akuntansi Anggaran adalah akuntansi yang kegiatannya berhubungan dengan
pengumpulan dan pengolahan data operasi keuangan yang sudah terjadi, serta
taksiran kemungkinan yang akan terjadi, untuk kepentingan penetapan rencana
operasi keuangan operasi keuangan perusahaan(anggaran) dalam suatu periode
tertentu.

5.Akuntansi Pemeriksaan (Auditing)


Akuntansi Pemeriksaan adalah akuntansi yang kegiatannya berhubungan
dengan pemeriksaan terhadap catatan-catatan hasil kegiatan Akuntansi Keuangan,
yaitu untuk menguji kelayakan laporan keuangan yang dihasilkannya. Akuntansi
pemeriksaan besifat independen (tidak memihak) sehingga hasil pemeriksaan
akuntan dapat dijamin kebenarannya (obyektif).

6.Akuntansi Pemerintahan (Govermental Accounting)


Akuntansi Pemerintahan adalah bidang-bidang akuntansi yang kegiatannya
berhubungan dengan masalah pemeriksaan keuangan negara, atau sering juga
disebut dengan istilah administrasi keuangan Negara.

C. Jabatan Dalam Bidang Akuntansi

Profesi akuntansi secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua golongan,
yaitu:

1. Akuntan Publik (Public Accountant), yaitu akuntan swasta yang menyediakan


jasa pemeriksaan kepada pihak lain. Pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan
publik merupakan pemeriksaan yang datang dari luar badan yang diperiksa
(pemeriksaan ekstern).
2. Akuntan Intern, adalah akuntan yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta
(Akuntan Swasta). Mereka menjadi bagian dan mendapat gaji dari perusahaan
tempat mereka bekerja. Tugas akuntan intern antara lain merencanakan system
akuntansi, mengatur pembukuan, membuat ikhtisar-ikhtisar keuangan, atau
bertindak sebagai pemeriksaan intern (internal auditor).
Jenjang jabatan dalam bidang akuntansi yang ada pada suatu perusahaan, dapat
dibagi menjadi:
1. Manajer Akuntansi, adalah kepala bagian atau departemen akuntansi yang
bertugas antara lain: merancang sistem pembukuan, mengatur atau
mengorganisir pembukuan, mengawasi pelaksanaan pembukuan, mengawasi
pelaksanaan pembukuan, menyediakan laporan keuangan.
2. Asisten Manajer Akuntansi, bertugas membantu Manajer Akuntansi dalam
melaksanakan tugasnya.
3. Penata Buku (Bookkeper), sebagai pelaksana pembukuan yang harus memiliki
kemampuan:

- Menyiapkan bukti transaksi (dokumen akuntansi)


- Menganalisis transaksi dalam artian mampu menentukan kebenaran, keabsahan
dan pengelompokkan dokumen transaksi.
- Membuat jurnal (mencatat transaksi dalam bentuk jurnal)
- Mencatat transaksi kedalam Buku Besar Pembantu
- Mencatat data jurnal kedalam Buku Besar Umum
- Membuat Neraca Saldo
- Membuat Bukti dan Jurnal Penyesuaian
- Menyusun Kertas Kerja (Neraca lajur)
- Menyusun Laporan Keuangan

4. Pembantu Penata Buku (Accounting Clerk), sebagai pembantu Penata Buku


dalam melaksanakan tugasnya.

D. Pihak Pihak Yang Berkepentingan


Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi akuntansi serta
manfaatnya bagi pihak yang bersangkutan, antara lain sebagai berikut:
1. Pimpinan Perusahaan Laporan Keuangan bagi pimpinan perusahaan berfungsi
sebagai:
a. Bukti pertanggungjawaban kepada para pemilik perusahaan atau
kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengelola perusahaan.
b. Alat penilaian atas pelaksanaan kegiatan perusahaan, baik secara
keseluruhan, bagian-bagian, maupun secara individu yang diserahi
wewenang dan tanggu jawab.
c. Alat untuk mengukur tingkat biaya dari kegiatan-kegiatan perusahaan.
d. Dasar atau bahan pertimbangan-pertimbangan dalam menetapkan rencana
kegiatan perusahaan dimasa datang.

2. Pemilik Perusahaan
Dalam Perusahaan-perusahaan yang pimpinannya diserahkan kepadd orang
lain, seperti dalam Perseroan terbatas(PT), bagi pemilik perusahaan laporan
keuangan berfungsi sebagai:
a. Alat untuk menilai hasil yang telah dicapai oleh pimpinan perusahaan.
b. Dasar penentuan taksiran keuntungan yang akan diterima dimasa
mendatang, serta harga saham yang dimilikinya.

3. Kreditur dan Calon Kreditur


Kreditur adalah orang atau badan (misalnya bank) yang memberikan
pinjaman kepada perusahaan dalam bentuk uang atau barang. Kreditur maupun
calon kreditur perlu mengetahui keadaan (posisi) keuangan perusahaan yang terkait
(yang menjadi debiturnya), khususnya perusahaanyang mengajukan permohonan
kredit (pinjaman). Dari hasil analisis laporan keuangan dapat diketahui tingkat
kemampuan perusahaan untuk mengembalikan pinjamannya, sehingga dapat
diputuskan apakah pinjaman diberikan atau tidak. Selain itu dapat pula diketahui
nilai harta perusahaan yang menjadi jaminan, sehingga dapat ditentukan jumlah
pinjaman yang diberikan.
4. Pemerintahan
Pemerintah dimana suatu perusahaan berada (berdomisili) sangat
berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, yaitu
dalam hubungannya dengan:
a. Penetuan besarnya pajak yang menjadi tanggungan perusahaan.
b. b. Pengumpulan data statistic pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan
Biro Pusat Statistik yang selanjutnya akan dijadikan dasar perencanaan
Pemerintah.

5. Karyawan
Karyawan suatu perusahaan berkepentingan terhadap laporan keuangan
perusahaan tempat mereka bekerja, yaitu untuk:
a. Mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memberikan upah dan
jaminan social lainnya.
b. Mengetahui perkembangan serta prospek (masa depan) perusahaan,
sehingga karyawan dapat menentukan pilihan langkah yang harus dilakukan
sehubungan dengan kelangsungan kerjanya.
c. Mengetahui tingkat kelayakan bonus yang diterimanya, disbanding dengan
keuntungan perusahaan dalam periode yang bersangkutan.

E. Pengertian profesi akuntan


Menurut International Federation of Accountants (dalam Regar,2003) yang
dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang
mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan
publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau
dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik.
Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang dilakukan
oleh akuntan sebagai akuntan publik yang lazimnya terdiri dari pekerjaan audit,
akuntansi, pajak dan konsultan manajemen.
Profesi Akuntan biasanya dianggap sebagai salah satu bidang profesi seperti
organisasi lainnya, misalnya Ikatan Dokter Indonesia(IDI). Supaya
dikatakan profesi ia harus memiliki beberapa syarat sehingga masyarakat sebagai
objek dan sebagai pihak yang memerlukan profesi, mempercayai hasil kerjanya.
Adapun ciri profesi menurut Harahap (1991) adalah sebagai berikut:

a. Memiliki bidang ilmu yang ditekuninya yaitu yang merupakan


pedoman dalam melaksanakan keprofesiannya.
b. Memiliki kode etik sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku
anggotanya dalam profesi itu.
c. Berhimpun dalam suatu organisasi resmi yang diakui oleh
masyarakat atau pemerintah.
d. Keahliannya dibutuhkan oleh masyarakat.
e. Bekerja bukan dengan motif komersil tetapi didasarkan kepada
fungsinya sebagai kepercayaan masyarakat.

Persyaratan ini semua harus dimiliki oleh profesi Akuntan sehingga berhak
disebut sebagai salah satu profesi.

Kode Etik Profesi Akuntansi (sebelumnya disebut Aturan Etika


Kompartemen Akuntan Publik) adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh
anggota Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI (sebelumnya Ikatan Akuntan
Indonesia Kompartemen Akuntan Publik atau IAI-KAP) dan staf profesional
(baik yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja pada satu
Kantor Akuntan Publik (KAP). Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi
tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat
kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Untuk mencapai
tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi:

a. Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem


informasi.
b. Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat
diidentifikasikan oleh pemakai jasa Akuntan sebagai profesional di
bidang akuntansi.
c. Kualitas Jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh
dari akuntan diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
d. Kepercayaan. Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa
terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasa oleh
akuntan.

F. Jenis-jenis Akuntan Di Indonesia

a. Akuntan Publik
Akuntan Publik adalah seorang praktisi dan gelar profesional yang diberikan
kepada akuntan di Indonesia yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan
RI untuk memberikan jasa audit umum dan review atas laporan keuangan, audit
kinerja dan audit khusus serta jasa dalam bidang non-atestasi lainnya seperti jasa
konsultasi, jasa kompilasi, dan jasa-jasa lainnya yang berhubungan dengan
akuntansi dan keuangan.Ketentuan mengenai praktek Akuntan di Indonesia diatur
dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1954 yang mensyaratkan bahwa gelar
akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya
dari perguruan tinggi dan telah terdaftar pada Departemen keuanganR.I.
Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia,
seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi
Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan
Bersertifikat Akuntan Publik (BAP). Sertifikat akan dikeluarkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia. Sertifikat Akuntan Publik tersebut merupakan salah satu
persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai Akuntan Publik dari

Departemen Keuangan.

Profesi ini dilaksanakan dengan standar yang telah baku yang merujuk
kepada praktek akuntansi di Amerika Serikat sebagai ncgara maju tempat profesi ini
berkembang. Rujukan utama adalah US GAAP (United States Generally Accepted
Accounting Principles) dalam melaksanakan praktek akuntansi. Sedangkan untuk
praktek auditing digunakan US GAAS (United States Generally Accepted Auditing
Standard), Berdasarkan prinsip-prinsip ini para Akuntan Publik melaksanakan tugas
mereka, antara lain mengaudit Laporan Keuangan para pelanggan.
Kerangka standar dari USGAAP telah ditetapkan oleh SEC (Securities and
Exchange Commission) sebuah badan pemerintah quasijudisial independen di
Amerika Serikat yang didirikan tahun 1934. Selain SEC, tcrdapat pula AICPA
(American Institute of Certified Public Accountants) yang bcrdiri sejak tahun 1945.
Sejak tahun 1973, pengembangan standar diambil alih oleh FASB (Financial
Accominting Standard Board) yang anggota-angotanya terdiri dari wakil-wakil
profesi akuntansi dan pengusaha.

b. Akuntan Pemerintah
Akuntan Pemerintah, adalah akuntan yang bekerja pada badan-badan
pemerintah seperti di departemen, BPKP dan BPK, Direktorat Jenderal Pajak dan
lain-lain.

c. Akuntan Pendidik
Akuntan Pendidik, adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi
yatu mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi dan melakukan enelitian
di bidang akuntansi.

d. Akuntan Manajemen/Perusahaan
Akuntan Manajemen, adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau
organisasi. Tugas yang dikerjakan adalah penyusunan sistem akuntansi, penyusunan
laporan akuntansi kepada pihak intern maupun ekstern perusahaan, penyusunan
anggaran, menangani masalah perpajakan dan melakukan pemeriksaan intern.

G. Pengertian Kode Etik


Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai berikut :
(Mulyadi, 2001: 53)
a. Tanggung Jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota
harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua
kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.
Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua
pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab
untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi
akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab
profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan
untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

b. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan
komitmen atas profesionalisme.
Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada
publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana
publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah,
pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya
bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara
berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung
jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan
sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara
keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan
dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan
negara.
Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa
akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi
sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi
tersebut. Dan semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan
publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara
terus menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang
tinggi.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

c. Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan
profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan
merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang
diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan
kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas
dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur,
tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

d. Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang
diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak
memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari
benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.
Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan
obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktek publik
memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang
lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit
internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri,
pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang orang yang
ingin masuk kedalam profesi. Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus
melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.

e. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk
memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesional dan teknik yang paling mutakhir.
Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung
jawab profesi kepada publik.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota
seharusnya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau pengalaman yang
tidak mereka miliki. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan
pemeliharaan suatu tingkat pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam
hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota
wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih
kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi
masing masing atau menilai apakah pendidikan, pedoman dan pertimbangan yang
diperlukan memadai untuk bertanggung jawab yang harus dipenuhinya.

f. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh
selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban
profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang
berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai
sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana
informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu
diungkapkan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang
klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya.
Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien
atau pemberi jasa berakhir.

g. Perilaku profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang
baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus
dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima
jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

h. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar
teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan
berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari
penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan
obyektivitas.Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota
adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional
Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan
yang relevan.
H. Contoh Kasus Akuntan
Kredit Macet BRI JAMBI Rp 52 Miliar, Akuntan Publik Diduga Terlibat

Seorang akuntan publik yang membuat laporan keuangan perusahaan Raden


Motor untuk mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 52 miliar dari BRI Cabang
Jambi pada 2009, diduga terlibat kasus korupsi dalam kredit macet.
Hal ini terungkap setelah pihak Kejati Jambi mengungkap kasus dugaan
korupsi tersebut pada kredit macet untuk pengembangan usaha di bidang otomotif
tersebut.
Fitri Susanti, kuasa hukum tersangka Effendi Syam, pegawai BRI yang
terlibat kasus itu, Selasa (18/5/2010) mengatakan, setelah kliennya diperiksa dan
dikonfrontir keterangannya dengan para saksi, terungkap ada dugaan kuat
keterlibatan dari Biasa Sitepu sebagai akuntan publik dalam kasus ini.
Hasil pemeriksaan dan konfrontir keterangan tersangka dengan saksi Biasa
Sitepu terungkap ada kesalahan dalam laporan keuangan perusahaan Raden Motor
dalam mengajukan pinjaman ke BRI.
Ada empat kegiatan data laporan keuangan yang tidak dibuat dalam laporan
tersebut oleh akuntan publik, sehingga terjadilah kesalahan dalam proses kredit dan
ditemukan dugaan korupsinya.Ada empat kegiatan laporan keuangan milik Raden
Motor yang tidak masuk dalam laporan keuangan yang diajukan ke BRI, sehingga
menjadi temuan dan kejanggalan pihak kejaksaan dalam mengungkap kasus kredit
macet tersebut, tegas Fitri.
Keterangan dan fakta tersebut terungkap setelah tersangka Effendi Syam
diperiksa dan dikonfrontir keterangannya dengan saksi Biasa Sitepu sebagai
akuntan publik dalam kasus tersebut di Kejati Jambi. Semestinya data laporan
keuangan Raden Motor yang diajukan ke BRI saat itu harus lengkap, namun dalam
laporan keuangan yang diberikan tersangka Zein Muhamad sebagai pimpinan
Raden Motor ada data yang diduga tidak dibuat semestinya dan tidak lengkap oleh
akuntan publik.

Tersangka Effendi Syam melalui kuasa hukumnya berharap pihak penyidik


Kejati Jambi dapat menjalankan pemeriksaan dan mengungkap kasus dengan adil
dan menetapkan siapa saja yang juga terlibat dalam kasus kredit macet senilai Rp
52 miliar, sehingga terungkap kasus korupsinya.
Sementara itu pihak penyidik Kejaksaan yang memeriksa kasus ini belum
mau memberikan komentar banyak atas temuan keterangan hasil konfrontir
tersangka Effendi Syam dengan saksi Biasa Sitepu sebagai akuntan publik tersebut.
Kasus kredit macet yang menjadi perkara tindak pidana korupsi itu terungkap
setelah kejaksaan mendapatkan laporan adanya penyalahgunaan kredit yang
diajukan tersangka Zein Muhamad sebagai pimpinan Raden Motor.
Dalam kasus ini pihak Kejati Jambi baru menetapkan dua orang tersangka,
pertama Zein Muhamad sebagai pimpinan Raden Motor yang mengajukan pinjaman
dan tersangka Effedi Syam dari BRI yang saat itu menjabat sebagai pejabat penilai
pengajuan kredit.
Analisa :
Ada delapan prinsip etika profesi akutansi, yaitu tanggung jawab profesi,
kepentingan publik, integritas, obyektivitas, kompetensi dan kehati-hatian
profesional, kerahasiaan, perilaku profesional dan standar teknis. Apabila dugaan
keterlibatan akuntan publik terhadap kasus korupsi dalam mendapatkan pinjaman
modal senilai Rp 52 miliar dari bank BRI cabang Jambi tahun 2009 oleh perusahaan
raden motor sehingga menyebabkan kredit macet untuk pengembangan usaha
di bidang otomotif tersebut.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa pelanggaran etika
profesi akutansi yang dilanggar oleh akuntan publik, yaitu:

1. Tanggung Jawab Profesi


Akuntan publik tersebut tidak melakukan tanggung jawab secara profesional
dikarenakan akuntan publik tersebut tidak menjalankan tugas profesinya dengan
baik dalam hal pembuatan laporan keungan perusahaan Raden Motor untuk
mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 52 miliar dari BRI Cabang Jambi pada
tahun 2009, sehingga menyebabkan kepercayaan masyarakat (raden motor)
terhadap akuntan publik hilang.
2. Kepentingan Publik
Akuntan Publik tersebut tidak menghormati kepercayaan publik (raden motor)
dikarenakan melakukan kesalahan dalam laporan keuangan Perusahaan Raden
Motor untuk mengajukan pinjaman ke Bank BRI dengan tidak membuat laporan
mengenai empat kegiatan.

3. Objektivitas
Akuntan Publik tidak menjalankan prinsip Objektivitas dengan cara melakukan
tindak ketidakjujuran secara intelektual dengan melakukan kecurangan dalam
pembuatan laporan keuangan perusahaan Raden Motor.

4. Perilaku Profesional
Akuntan Publik berperilaku tidak baik dengan melakukan pembuatan laporan
keuangan palsu sehingga menyebabkan reputasi profesinya buruk dan dapat
mendiskreditkan profesinya.

5. Integritas
Akuntan Publik tidak dapat mempertahankan integritasnya sehingga terjadi
benturan kepentingan (conflict of interest). Kepentingan yang dimaksud adalah
kepentingan publik dan kepentingan pribadi dari akuntan publik itu.

6. Standar Teknis
Akuntan Publik tidak menjalankan etika/tugasnya sesuai pada etika profesi yang
telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-Komparatemen Akutan Publik (IAI-
KAP) diantaranya etika tersebut antara lain :
a. Independensi, integritas, dan obyektivitas
b. Standar umum dan prinsip akuntansi
c. Tanggung jawab kepada klien
d. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
e. Tanggung jawab dan praktik lain

Kesimpulan Kasus :
Pelanggaran dalam etika profesi mudah saja terjadi, hal ini dikarenakan
profesionalitas, transparansi dan akuntabilitas tidak terlaksana dengan baik. Perlu
adanya seminar dan pelatihan yang rutin terhadap suatu profesi. Ini dikarenakan
peluang-peluang untuk timbulnya suatu pelanggaran semakin besar di era waktu
sekarang ini. Selain itu juga keimanan yang mendasari dalam profesi perlu
dijunjung tinggi, Sekali lagi perlu kita ketahui kecurangan terjadi karena lemahnya
mental dan moral dalam individu-individu yang terlibat. Kita dan siapapun memang
tidak akan mengetahui tetapi Tuhan Mahatau.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut pembahasan di atas tentang Akuntansi, dapat disimpulkan bahwa
pengertian Akuntansi di bagi menjadi 2 yaitu Pengertian Akuntansi menurut
kegunaannya dan Pengertian Akuntansi menurut kegiatannya. Dan bidang bidang
spesialisasi ada 6 yaitu; Akuntansi keuangan,Akuntansi manajemen,Akuntansi
anggaran,Akuntansi biaya,Akuntansi Pemeriksaan,dan Akuntansi pemerintah.
Selain itu ada jabatan dalam bidang akuntansi , ada pun pihak pihak yang
berkepentingan.
Persamaan dari kode etik adalah sama-sama suatu sistem norma, nilai dan
aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik
dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan
perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa
yang harus dihindari. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-
baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi
perbuatan yang tidak profesional. Dan perbedaan dari setiap kode etik suatu profesi
setiap etika profesi mempunyai kode etik masing-masing dan tersendiri yang dibuat
oleh badan yang mengatur etika profesi tersebut. Pelanggaran kode etik tidak diadili
oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum,
tapi pelanggaran kode etik akan diperiksa oleh majelis kode etik dari setiap profesi
tersebut.

B. Saran
Harus ada lembaga yang berbeda-beda dalam menaungi berbagai profesi
yang ada, dimana lembaga tersebut merupakan sekumpulan orang yang memiliki
profesi yang sama dengan tujuan dapat menciptakan tatanan etik dalam pekerjaan.
Dan semua lembaga-lembaga profesi tersebut harus memiliki tujuan yang satu yaitu
mengutamakan profesionalitias dalam bekerja yang dilihat dari kepatuhan
menjadikan kode etik profesi sebagai pedoman.
DAFTAR PUSTAKA

Kasmir,2002, pengantar akuntansi keuangan lainnya, 6th Ed, PT Raja Grafindo


Persada, Jakarta
Suyanto, thomas.1989, pengantar akuntansi, PT Gramedia, Jakarta