Anda di halaman 1dari 1

CONTOH PROYEK IT GAGAL DI INDONESIA

Nama : Muliadi S. Sagala


NIM : 133303030247
Jurusan : Teknik Informatik - Sem.VI (Pagi A)

Pelayanan Kependudukan Dengan Menggunakan Teknologi Informasi Cirebon

Pemda Cirebon , dalam hal ini sebagai eksekutif kabupaten Cirebonmembuat


suatu gebrakan pelayanan kependudukan dengan menggunakan teknologi
informasi. Dimana program Information Teknology (IT) Departemen Dalam Negeri
(Depdagri) di anggarkan dalam APBD Kab.Cirebon sebesar Rp. 1.3 Milyar pada
Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana (Disdukapil) . Dengan
teknologi ini diharapkan peningkatan pelayanan kepada masyarakat Cirebon akan
meningkat.
Tetapi dalam pelaksanaannya, proyek IT ini dinilai gagal total Pasalnya,
program yang dianjurkan Menteri dalam Negeri tahun 2006 lalu ini seharusnya
sudah sudah online. Namun hingga kini, proyek yang dikerjakan CV. Zapa Trill
Utama Semarang ini, belum optimal sama sekali. Pengurusan pembuatan KTP (kartu
tanda penduduk) dan KK (kartu keluarga) masih mengunakan sistem manual, orang
orang pegawai kecamatan masih sering wara wiri untuk mengantarakan data data
pemohon KTP.
Menurut penulis kegagalan proyek IT pada Pemda Cirebon ini dikarenakan :
Manajemen proyek yang buruk: Ketidakjelasan tanggung jawab karena banyaknya kepemilikan
proyek; tidak adanya atau lemahnya pengawasan; pengadaan yang tidak efektif.
Dominasi politik dan kepentingan pribadi: Fokus dari pemain utama terhadap kebutuhan dan
tujuan personal, sering berkenaan dengan permainan politik, dengan gejala seperti perkelahian
di dalam, resistensi karena takut kehilangan kekuasaan, kehilangan sumber pendapatan ilegal
serta korupsi.Rancangan yang tidak realistis/buruk: Terutama disebabkan kurangnya masukan
dari stakeholder lokal, mengarah pada rancangan yang terlalu teknis, terlalu ambisius, atau
ketidakcocokan dengan lingkungan (budaya, nilai) dan kebutuhan lokal; terutama terjadi dimana
donor, perusahaan dan konsultan asing terlibat. Masalah rancangan lainnya: kurangnya piloting,
kurangnya struktur organisasi yang cocok.
Kurangnya kompetensi yang diperlukan: Kurangnya pengetahuan dan keahlian IT para
pengembang, pekerja dan pengguna/operator; kurangnya pengetahuan lokal pada pengembang.