Anda di halaman 1dari 18

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Vaginosis bakterial didefinisikan sebagai suatu keadaan abnormal pada
ekosistem vagina yang dikarakterisasi oleh pergantian konsentrasi Lactobacillus
yang tinggi sebagai flora normal vagina oleh konsentrasi bakteri anaerob yang
tinggi, terutama Bacteroides Spp., Mobilincus Spp., G. vaginalis, dan
Mycoplasma hominis. Jadi vaginosis bakterial bukan suatu infeksi yang
disebabkan oleh satu organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan
pertumbuhan berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.1,2
Awalnya infeksi pada vagina hanya disebut dengan istilah vaginitis, di
dalamnya termasuk vaginitis akibat Trichomonas vaginalis dan akibat bakteri
anaerob lain berupa Streptococcus dan Bacteroides sehingga disebut vaginitis non
spesifik. Setelah Gardner menemukan adanya spesies baru yang akhirnya disebut
G. vaginalis, istilah vaginitis non spesifik pun mulai ditinggalkan. Berbagai
penelitian dilakukan dan hasilnya disimpulkan bahwa Gardnerella melakukan
simbiosis dengan berbagai bakteri anaerob, sehingga menyebabkan manifestasi
klinis vaginitis, diantaranya termasuk dari golongan Mobilincus, Bacteriodes,
Fusobacterium, Veilonella, dan golongan Eubacterium, misalnya Mycoplasma
hominis, Ureaplasma urealyticum dan Streptococcus viridians.2-4
G. vaginalis merupakan bakteri anaerob batang gram variable yang
mengalami hiperpopulasi sehingga menggantikan flora normal vagina dari yang
tadinya bersifat asam menjadi bersifat basa. Perubahan ini terjadi akibat
berkurangnya jumlah Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida.
Lactobacillus sendiri merupakan bakteri anaerob batang besar yang membantu
menjaga keasaman vagina dan menghambat mikroorganisme anaerob lain untuk
tumbuh di vagina.4,5

2.2. Epidemiologi

2
3

Vaginosis bakterial merupakan penyebab flour albus yang umum ditemukan


pada wanita usia subur. Menentukan prevalensi vaginosis bakterial sulit oleh
karena 1/3-3/4 perempuan yang terinfeksi adalah asimtomatik, serta paling sering
pada kelompok wanita yang aktif melakukan seksual. Angka prevalensi dan
penyebab vaginitis tidak diketahui pasti, sebagian besar karena kondisi-kondisi ini
sering didiagnosis sendiri dan diobati sendiri oleh penderita. Sebelum tahun 1955,
penyakit ini dikenal dengan nama nonspecific vaginitis, Haemophilus vaginitis,
Gardnerella vaginitis, Corynebacterium vaginitis , nonspecific vaginosis atau
anaerobic vaginosis. 2-4,6
Di Indonesia, prevalensi vaginosis mencapai 10%. Vaginosis bakterial
ditemukan pada 15-19% pasien-pasien rawat inap bagian kandungan, 10-30% ibu
hamil dan 24-40% pada klinik kelamin. Di Amerika Serikat, vaginosis bakterial
merupakan penyebab vaginitis yang terbanyak, mencapai sekitar 40 sampai 50%
dari kasus pada perempuan usia reproduksi. 3,6
Pada umumnya vaginosis bakterial ditemukan pada wanita usia reproduktif
dengan aktifitas seksual yang tinggi dan promiskuitas. Akan tetapi G. vaginalis
dapat diisolasi dari 15 % anak wanita prapubertas yang masih perawan, sehingga
organisme ini tidak mutlak ditularkan lewat kontak seksual.Penggunaan alat
kontrasepsi dalam rahim, usia menopause, vaginal douching, sosial ekonomi
rendah, dan wanita hamil juga merupakan faktor resiko terjadinya vaginosis
bakterial. Hampir 90% laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G.
vaginalis, mengandung G. vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra,
tetapi tidak menyebabkan uretritis. 2-4

2.3. Etiologi
4

Meskipun penyebab dari vaginosis bakterialis belum diketahui dengan


pasti namun telah diketahui berhubungan dengan kondisi keseimbangan bakteri
normal dalam vagina yang berubah. Ekosistem vagina normal adalah sangat
kompleks. Lactobacillus merupakan spesies bakteri yang dominan (flora normal)
pada vagina wanita usia subur, tetapi ada juga bakteri lainnya yaitu bakteri aerob
dan anaerob. Pada saat vaginosis bakterial muncul, terdapat pertumbuhan
berlebihan dari beberapa spesies bakteri yang ditemukan yang dalam keadaan
normal ada dalam konsentrasi rendah. 1,2,4,6
Pada suatu analisis dari data flora vagina memperlihatkan bahwa ada 3
kategori dari bakteri vagina yang berhubungan dengan vaginosis bakterial, yaitu:
2.3.1 Gardnerella vaginalis
G. vaginalis sangat erat hubungannya dengan vaginosis bakterial. Organis-
me ini mulamula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah menjadi genus
Gardnerella atas dasar penyelidikan mengenai fenetopik dan asam dioksi-
ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram
negatif atau variabel gram. Tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan
urease semuanya negatif. Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produksi
akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat. Untuk pertumbuhannya
dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin dan pirimidin. 2,4,7

Gambar 1. Gardnerella vaginalis yang mengelilingi sel epitel vagina

2.3.2 Bakteri anaerob: Mobilincus Spp dan Bakteriodes Spp


5

Bakteriodes Spp diisolasi sebanyak 76% dan Peptostreptococcus sebanyak


36% pada wanita dengan vaginosis bakterial. Pada wanita normal kedua tipe
anerob ini lebih jarang ditemukan. Penemuan spesies ini dihubungkan dengan
penurunan laktat dan peningkatan suksinat dan asetat. Setelah terapi dengan
metronidazole, Bakterioides dan Peptostreptococcus tidak ditemukan lagi dan
laktat kembali menjadi asam organik yang predominan dalam cairan vagina. 2-4
Mobilincus Spp hampir tidak pernah ditemukan pada wanita normal, tetapi
85% wanita dengan vaginosis bakterial mengandung organisme ini. Mobilincus
Spp, merupakan batang anaerob lengkung yang juga ditemukan pada vagina
bersama-sama dengan organisme lain yang dihubungkan dengan vaginosis
bakterial.2,3

Gambar 2. Bacteroides biacutis

Gambar 3. Mobilincus Spp

2.3.3 Mycoplasma hominis


6

Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa Mycoplasma hominis juga harus


dipertimbangkan sebagai agen etiologik untuk vaginosis bakterial bersamasama
dengan G. vaginalis dan bakteri anaerob lainnya. Prevalensi tiap mikroorganisme
ini meningkat pada wanita dengan vaginosis bakterial. 2-4
Pertumbuhan Mycoplasma hominis distimulasi oleh putrescine, satu dari
amin yang konsentrasinya meningkat pada vaginosis bakterial. Konsentrasi
normal bakteri dalam vagina biasanya 105 organisme/ml cairan vagina dan
meningkat menjadi 108-9 organisme/ml pada vaginosis bakterial. Terjadi
peningkatan konsentrasi G. vaginalis dan bakteri anaerob termasuk Bacteroides,
Leptostreptococcus, dan Mobilincus Spp sebesar 100-1000 kali lipat. 2-4

Gambar 4. Mycoplasma hominis

2.4. Patogenesis
Vaginosis bakterial disebabkan oleh faktorfaktor yang mengubah
lingkungan asam normal di vagina menjadi keadaan basa yang mendorong
pertumbuhan berlebihan bakteri-bakteri penghasil basa. Hal yang dapat mengubah
pH melalui efek alkalinisasi antara lain mukus serviks, semen, darah haid,
mencuci vagina (douching), pemakaian antibiotik dan perubahan hormon saat
hamil dan menopause.2,3,8

Lactobacillus adalah bakteri predominan di vagina dan membantu


mempertahankan sekresi vagina yang bersifat asam. Faktorfaktor di atas
7

memungkinkan meningkatnya pertumbuhan G. vaginalis, Mycoplasma hominis,


dan bakteri anaerob. Metabolisme bakteri anaerob menyebabkan lingkungan
menjadi basa yang menghambat pertumbuhan bakteri lain. 2,3,8
Mencuci vagina sering dikaitkan dengan keluhan disuria, keputihan, dan
gatal pada vagina. Pada wanita yang beberapa kali melakukan pencucian vagina,
dilaporkan terjadi perubahan pH vagina dan berkurangnya konsentrasi mikroflora
normal sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan bakteri patogen yang
oportunistik.2,3,8
Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal pada wanita usia
produktif. Kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang bercampur
dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekesi kelenjar bartolini. Sekret
vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri,
sebagai pelicin, dan pertahanan diri dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal,
sekret vagina tersebut tampak jernih, putih keruh atau bewarna kekuningan ketika
mengering di pakaian, memiliki pH kurang dari 5, terdiri dari sel-sel epitel yang
matur, sejumlah normal leukosit, tanpa jamur, Tricomonas, dan tanpa clue cell. 9
Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai
pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam
vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret
vagina sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa
amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan
menyebabkan bau tidak sedap keluar dari vagina. 8,9
G. vaginalis melekat pada selsel epitel vagina invitro, kemudian
menambahkan deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh
pada dinding vagina. Organisme ini tidak invasif dan respon inflamasi lokal yang
terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina
dan dengan pemeriksaan histopatologis. Timbulnya vaginosis bakterial dan
hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah menderita infeksi
trichomonas.8,9
Rekurensi pada vaginosis bakterial akibat beberapa kemungkinan, yaitu:9
8

1. Infeksi berulang dari pasangan dengan mikroorganisme penyebab vaginosis


bakterial. Lakilaki yang mitra seksualnya wanita terinfeksi G. vaginalis
mengandung G. vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra, tetapi tidak
menyebabkan uretritis pada laki-laki (asimptomatik) sehingga wanita yang
telah mengalami pengobatan vaginosis bakterial cenderung untuk kambuh lagi
akibat kontak seksual yang tidak menggunakan pelindung.
2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme vaginosis bakterial yang hanya
dihambat pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.
3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai
flora normal yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina.
4. Menetapnya mikroorganisme lain yang belum teridentifikasi faktor hostnya
pada penderita, membuatnya rentan terhadap kekambuhan.

2.5. Gejala Klinis


Wanita dengan vaginosis bakterial dapat tanpa gejala. Gejala yang paling
sering pada vaginosis bakterial adalah adanya cairan vagina yang abnormal
(terutama setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang
khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Bau tersebut disebabkan oleh adanya
amin yang menguap bila cairan vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa
(pH 7,2) menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin
yang menguap menimbulkan bau yang khas.9,10

Gambar 5. Gambaran klinis vaginosis bakterial.


9

Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala yang khas, namun pada


sebagian besar wanita dapat asimptomatik. Iritasi daerah vagina atau sekitar
vagina (berupa gatal dan rasa terbakar), bila ditemukan relatif lebih ringan
daripada yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau Candidiasis albicans.
Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, sementara yang lain
mengeluhkan kemerahan dan edema pada vulva. Jarang ditemukan keluhan lain,
misalnya nyeri abdomen, dispareunia, atau nyeri waktu berkemih dan bila ada,
biasanya diakibatkan oleh penyakit lain. 9

Pada pemeriksaan sangat khas didapatkan sekret vagina yang tipis dan
sering berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen, dan
jarang berbusa. Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai
lapisan tipis atau kelainan yang difus dengan pH vagina berkisar 4,5-5,5.
Sebaliknya sekret vagina normal, lebih tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel
vagina yang memberikan gambaran bergerombol. Vaginosis bakterial dapat timbul
bersama infeksi traktus genital bawah seperti trikomoniasis dan servisitis sehingga
menimbulkan gejala genital yang tidak spesifik.8-10

Gambar 6. Bagan manajemen sindrom keputihan


10

2.6. Pemeriksaan Penunjang


Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain:
1. Pemeriksaan preparat basah
Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada
sekret vagina di atas kaca objek, kemudian ditutupi dengan coverslip dan
dilakukan pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali)
untuk melihat clue cell, yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi
dengan bakteri (terutama G. vaginalis). Pemeriksaan preparat basah mempunyai
sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk mendeteksi vaginosis bakterial. Clue
cell adalah penanda vaginosis bakterial. 2-4,11

Gambar 7. Clue Cell pada vaginosis bakterial

2. Whiff test
Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau amin terdeteksi dengan
penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina. Bau muncul sebagai
akibat pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob. Whiff
test positif menunjukkan vaginosis bakterial. 2-4
11

Gambar 8. Tes Whiff

3. Tes lakmus untuk pH


Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral vagina. Warna kertas
dibandingkan dengan warna standar; pH vagina normal (3,8-4,2). Pada 80-90%
vaginosis bakterial ditemukan pH > 4,5. 11
4. Pemarnaan gram sekret vagina
Pewarnaan gram sekret vagina dari vaginosis bakterial tidak ditemukan
Lactobacillus, sebaliknya ditemukan pertumbuhan berlebihan dari G. vaginalis
dan atau Mobilincus Spp dan bakteri anaerob lainnya. 11
5. Kultur vagina
Kultur G. vaginalis kurang bermanfaat untuk diagnosis vaginosis bakterial.
G. vaginalis dapat ditemukan pada hampir seluruh penderita vaginosis bakterial,
tapi juga dapat ditemukan lebih dari 58% pada perempuan tanpa vaginosis
bakterial.11
6. Uji H2O2
Pemberian setetes H2O2 (hidrogen peroksida) pada sekret vagina di atas
gelas objek akan segera membentuk gelembung busa (foaming bubbles) karena
adanya sel darah putih yang karakteristik untuk trikomoniasis atau pada vaginitis
deskuamatif, sedangkan pada vaginosis bakterial atau kandidiasis vulvovaginal
tidak bereaksi. 11
12

2.7. Diagnosis
Diagnosis vaginosis bakterial ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis menggambarkan riwayat sekresi
vagina terus-menerus dengan bau yang tidak sedap. Kadang penderita mengeluh
iritasi pada vagina disertai disuria/dispareunia, atau nyeri abdomen. Pada
pemeriksaan fisis relatif tidak banyak ditemukan apa-apa, kecuali hanya sedikit
inflamasi dapat juga ditemukan sekret vagina yang berwarna putih atau abu-abu
yang melekat pada dinding vagina. 11,12
Gardner dan Dukes (1980) menyatakan bahwa setiap wanita dengan
aktivitas ovum normal yang mengeluarkan cairan vagina berwarna abu-abu,
homogen, berbau dengan pH 5-5,5 dan tidak ditemukan T. vaginalis,
kemungkinan besar menderita vaginosis bakterial. Diagnosis dibuat atas dasar
ditemukannya clue cell, pH vagina lebih besar dari 4,5, tes amin positif dan
adanya G. vaginalis sebagai flora vagina utama menggantikan Lactobacillus. 11,12
Dengan hanya mendapat satu gejala, tidak dapat menegakkan suatu
diagnosis. Oleh sebab itu didapatkan kriteria klinis untuk vaginosis bakterial yang
sering disebut sebagai kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa terdapat
tiga dari empat gejala, yaitu: 11,12
1. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding
vagina dan abnormal
2. Ph vagina > 4,5
3. Tes amin yang positif, yang mana sekret vagina yang berbau amis sebelum
atau setelah penambahan KOH 10% (Whiff test).
4. Adanya clue cell pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel)
Ditemukan tiga dari empat kriteria diagnosis ini sudah cukup menegakkan
diagnosis vaginosis bakterial. Duh tubuh yang ditemukan biasanya lengket,
menempel ke vagina, homogen, tipis, dan yang khas ialah warnanya yang keabu-
abuan. Kadang-kadang dapat dilihat gelembung kecil di dalamnya.

A. Anamnesis
13

Wanita dengan vaginosis bakterial akan mengeluh adanya duh tubuh dari
vagina yang ringan atau sedang dan adanya bau vagina yang khas yaitu bau amis
atau bau ikan (fishy odor). Bau lebih menusuk setelah sanggama dan
mengakibatkan darah menstruasi berbau abnormal. Iritasi daerah vagina atau
sekitarnya (berupa gatal dan rasa terbakar) relatif lebih ringan dari trikomoniasis.
Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, sementara yang lain
mengeluhkan kemerahan dan edema pada vulva. Jarang ditemukan keluhan lain,
misalnya nyeri abdomen, dispareunia, atau nyeri waktu kencing. Kalaupun ada,
biasanya akibat penyakit lain. Di samping itu, penderita vaginosis bakterial
bersifat asimptomatik. 4,6,12

B. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pada pemeriksaan sangat khas didapatkan duh tubuh vagina bertambah,
warna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau, dan jarang
berbusa. Duh tubuh melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis
atau kilauan yang difus dengan pH vagina berkisar 4,5-5,5. Tidak ditemukan pula
gejala peradangan umum. Terdapat eritema pada vagina atau vulva atau petekiae
pada dinding vagina. Pada pemeriksaan kolposkopi tidak terlihat dilatasi
pembuluh darah dan tidak ditemukan penambahan densitas pembuluh darah pada
dinding vagina. Gambaran serviks pun akan terlihat normal. 11,12

2.8. Diagnosis Banding


Beberapa diagnosis banding vaginosis bakterial antara lain:
1. Kandidiasis
Kandidiasis atau kandidosis vulvovaginalis adalah suatu infeksi yang
disebabkan oleh jenis mikroorganisme yaitu jamur Candida, terutama Candida
albicans. Penyebab terbanyak (80-90%) adalah Candida albicans, sedangkan
penyebab terbanyak kedua dan ketiga adalah Candida glabrata
(Torulopsisglabrata) dan Candida tropicalis. 13,14
14

Keluhan yang paling sering pada kandidosis vulvovaginalis adalah rasa


gatal pada daerah vulva dan adanya duh tubuh. Sifat duh tubuh bervariasi dari
yang cair seperti air sampai tebal dan homogen dengan noda seperti keju. Kadang-
kadang sekret tampak seperti susu yang disertai gumpalan-gumpalan putih
sehingga tampak seperti susu basi/pecah dan tidak berbau. Keluhan klasik yang
lainnya adalah rasa kering pada liang vagina, rasa terbakar pada vulva,
dispareunia dan disuria. Jadi sebenarnya tidak ada keluhan yang benar-benar
spesifik untuk kandidosis vulvovaginalis. 13,14
Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pembengkakan pada labia
dan vulva, juga dapat ditemukan lesi papulopustular di sekitarnya. Servik tampak
normal sedangkan mukosa vagina tampak kemerahan. Bila ditemukan keluhan
dan tanda-tanda vaginitis serta pH vagina <4,5 dapat diduga adanya infeksi
kandida, sedangkan bila pH vagina >5 kemungkinan adalah vaginitis karena
vaginosis bakterial, trikhomonas vaginitis atau ada infeksi campuran. 13,14

Gambar 9. Vulvovaginal candidiasis gambaran klinis pada vagina


15

Diagnosis klinis kandidosis vulvovaginalis dibuat berdasarkan keluhan


penderita, pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium berupa sediaan basah
maupun gram dan pemeriksaan biakan jamur, selain itu juga pemeriksaan pH
cairan vagina. Pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10%
berguna untuk mendeteksi hifa dan spora.13,14

Gambar 10 Biakan jamur pada corn meal agar

2. Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang ditandai dengan
sejumlah besar sekret vagina yang bau yang disertai oleh rasa gatal di daerah
genital dan nyeri saat berkemih pada wanita. Penyebabnya adalah Trichomonas
vaginalis, organisme oval berflagella yang berukuran setara dengan sebuah
leukosit. Bakteri ini akan hidup optimal pada lingkungan lembab dengan suhu 35-
37oC dan pH 4,9-7,5. Kadar pH menjadi faktor penting dalam pertumbuhan
T.vaginalis; vagina yang sudah terinfeksi akan memiliki pH basa yaitu 5,5-6.
Dengan demikian, keadaankeadaan yang meningkatkan pH vagina misalnya
haid, kehamilan, pemakaian kotrasepsi oral, dan tindakan sering mencuci vagina
merupakan predisposisi timbulnya trikomoniasis. 15-17
16

T. vaginalis sering menyebabkan penyakit menular seksual pada vagina


wanita dan juga saluran kencing pria dan wanita. Gejala-gejalanya lebih sering
ditemukan pada wanita. Sekitar 20% wanita pernah mengalami trikomoniasis
vagina saat masa reproduktifnya. Pada pria, organisme ini menginfeksi uretra,
prostat dan kandung kemih, tetapi kasusnya jarang menimbulkan gejala. 16
Pada wanita, penyakit ini biasanya dimulai dengan keluarnya cairan dari
vagina yang berwarna kuning kehijauan, berbusa, dan berbau amis. Vulva bisa
teriritasi dan luka. Saat melakukan hubungan intim bisa terasa nyeri. Pada kasus
yang berat, vulva dan kulit di sekitarnya bisa meradang dan labia membengkak.
Frekuensi berkemih menjadi lebih sering dan timbul rasa nyeri saat berkemih
menyerupai gejala-gejala infeksi kandung kemih. 16,17
Diagnosa trikomoniasis pada wanita biasanya dapat dibuat dengan cepat
dengan memeriksa contoh cairan vagina secara mikroskopik untuk
mengidentifikasi organisme penyebabnya. Jika hasilnya belum jelas, maka dapat
dilakukan biakan (kultur) organisme. Pemeriksaan apusan vagina trikomoniasis
sering sangat menyerupai penampakan pemeriksaan apusan bakterial vaginosis,
tetapi Mobilincus dan clue cell tidak pernah ditemukan pada trikomoniasis. 16,17

2.9. Tatalaksana
Karena penyakit vaginosis bakterial merupakan vaginitis yang cukup
banyak ditemukan dengan gambaran klinis ringan tanpa komplikasi. Sekitar 1 dari
4 wanita akan sembuh dengan sendirinya karena organisme Lactobacillus vagina
kembali meningkat ke level normal dan bakteri lain mengalami penurunan
jumlah. Namun pada beberapa wanita, bila vaginosis bakterial tidak diberi
pengobatan, akan menimbulkan keadaan yang lebih parah. Oleh karena itu perlu
mendapatkan pengobatan dimana jenis obat yang digunakan hendaknya tidak
membahayakan dan sedikit efek sampingnya. Ahli medis biasanya menggunakan
antibiotik seperti metronidazol dan klindamisin untuk mengobati vaginosis
bakterial. 18,19

A. Terapi sistemik18,19
17

1.
Metronidazol 400-500 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Dilaporkan efektif dengan
kesembuhan 84-96%. Metronidazol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi
gelap. Metronidazol 200-250 mg, 3x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil.
Metronidazol 2 gram dosis tunggal kurang efektif daripada terapi 7 hari untuk
pengobatan vaginosis bakterial oleh karena angka rekurensi lebih tinggi.
2. Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan
metronidazol untuk pengobatan vaginosis bakterial dengan angka kesembuhan
94%. Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat
menembus ASI.
3. Amoklav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama
7 hari. Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap
metronidazol.
4.
Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari
5.
Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari
6.
Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari
7.
Cefaleksin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

B. Terapi Topikal18,19
1.
Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.
2.
Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.
3.
Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
4.
Triple sulfonamide cream.(3,6) (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan
Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan
angka penyembuhannya hanya 15-45 %.

C. Pengobatan vaginosis bakterial pada masa kehamilan18,19


Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat
muncul masalah. Metronidazol tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan
karena mempunyai efek samping terhadap fetus. Dosis yang lebih rendah
dianjurkan selama kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol 200-
18

250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil). Penisilin aman digunakan
selama kehamilan, tetapi ampisilin dan amoksisilin jelas tidak sama efektifnya
dengan metronidazol pada wanita tidak hamil dimana kedua antibiotik tersebut
memberi angka kesembuhan yang rendah.
Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena
klindamisin tidak mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan
III dapat digunakan metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel
metronidazol vaginal atau klindamisin krim. Selain itu, amoklav cukup efektif
untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazol.

2.10. Pencegahan
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menjaga kondisi tubuh adalah: 16
1. Bersihkan vagina dengan pembersih yang tidak mengganggu kestabilan pH.
Gunakan produk pembersih yang terbuat dari bahan dasar susu karena mampu
menjaga seimbangan pH sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora normal
dan menekan pertumbuhan bakteri lainnya. Sabun antiseptik biasa umumnya
bersifat keras dan dapat flora normal di vagina.
2. Hindari pemakaian bedak pada vagina. Bedak memiliki partikel-partikel halus
yang mudah terselip dan akhirnya mengundang petumbuhan jamur dan bakteri.
3. Selalu keringkan vagina sebelum berpakaian.
4. Gunakan celana dalam yang kering. Seandainya basah atau lembab, usahakan
cepat mengganti dengan yang bersih dan belum dipakai.
5. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat, seperti katun.
Celana dari bahan satin atau bahan sintetik lain membuat suasana disekitar
organ intim panas dan lembab.
6. Pakaian luar juga perlu diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena
pori-porinya sangat rapat. Pilihlah seperti rok atau celana bahan non-jeans agar
sirkulasi udara di sekitar organ intim bergerak leluasa.
7. Ketika haid, sering-seringlah berganti pembalut
8. Gunakan panty liner disaat perlu saja dan jangan terlalu lama.

2.11. Prognosis
19

Prognosis vaginosis bakterial dapat timbul kembali pada 20-30% wanita


walaupun tidak menunjukkan gejala. Pengobatan ulang dengan antibiotik yang
sama dapat dipakai. Prognosis vaginosis bakterial sangat baik, karena infeksinya
dapat disembuhkan. Dilaporkan terjadi perbaikan spontan pada lebih dari 1/3
kasus. Dengan pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka
kesembuhan yang tinggi (84-96%).16

2.11. Komplikasi
Pada kebanyakan kasus, vaginosis bakterial tidak menimbulkan komplikasi
setelah pengobatan. Namun pada keadaan tertentu, dapat terjadi komplikasi yang
berat. Vaginosis bakterial sering dikaitkan dengan penyakit radang panggul
(Pelvic Inflamatory Disease/PID), dimana angka kejadian vaginosis bakterial
tinggi pada penderita PID. 1,16
Pada penderita vaginosis bakterial yang sedang hamil, dapat menimbulkan
komplikasi antara lain: kelahiran prematur, ketuban pecah dini, bayi berat lahir
rendah, dan endometritis post partum. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan
agar semua wanita hamil yang sebelumnya melahirkan bayi prematur agar
memeriksakan diri untuk screening vaginosis bakterial, walaupun tidak
menunjukkan gejala sama sekali. Vaginosis bakterial disertai peningkatan resiko
infeksi traktus urinarius. 1,16