Anda di halaman 1dari 9

BAB II LAPORAN KASUS

No. ID dan Nama Peserta : / dr. I Wayan Gustafa


No. ID dan Nama Wahana: / RSUD Karangasem
Topik: Penyakit Graves
Tanggal (kasus) : 29 April 2015
Nama Pasien : NNK No. RM :191471
Tanggal presentasi : 24 Juni 2015 Pendamping: dr. Ni Nengah Artini
Tempat presentasi: Ruang Komite Medik RSUD Karangasem
Obyek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi: Perempuan, 39 tahun, ibu rumah tangga, suku Bali mengeluh dada berdebar.
Keluhan berdebar sudah dialami sejak sebulan terakhir, disertai sering berkeringat. Keluhan
berdebar dan sering berkeringat ini membuat pasien sulit tidur. Pasien mengatakan cepat merasa
lelah, badan pasien dikatakan semakin kurus sejak 1 tahun terakhir dan kedua mata yang terasa
semakin menonjol. Pasien juga mengeluhkan terdapat benjolan di leher sejak 2 tahun
sebelumnya, membesar secara perlahan. Makan minum dikatakan normal. Keluhan diare yang
berlangsung lama disangkal. Buang air kecil dikatakan normal.
Tujuan: Mampu mendignosis penyakit Graves, melakukan rujukan yang tepat serta memahami
tatalaksana perawatan yang tepat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
bahasan: pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
membahas: diskusi

Data Pasien: Nama: NNK No.Registrasi:191471


Instalasi Poliklinik Penyakit Dalam
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Gambaran klinis
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik penyakit dalam RSUD Karangasem pada tanggal 29 April

2
BAB II LAPORAN KASUS

2015 dalam keadaan sadar, mengeluh dada sering berdebar disertai berkeringat sejak
sebulan terakhir. Keluhan berdebar dan sering berkeringat ini membuat pasien sulit tidur.
Pasien mengatakan cepat merasa lelah, badan pasien dikatakan semakin kurus sejak 1
tahun terakhir. Kedua mata dikatakan terasa semakin menonjol. Pasien juga
mengeluhkan terdapat benjolan di leher sejak 2 tahun sebelumnya, membesar secara
perlahan. Makan minum dikatakan normal. Keluhan diare yang berlangsung lama
disangkal. Buang air kecil dikatakan normal.

Riwayat Penyakit Dahulu dan Pengobatan


Pasien mengatakan menyadari terdapat benjolan dileher sejak 2 tahun lalu, akan tetapi
tidak memeriksakan keadaan tersebut ke dokter karena tidak terdapat gejala lain dan
hanya diduga penyakit gondok. Selama ini pasien tidak pernah mengobati benjolan yang
terdapat di lehernya. Pasien jarang memeriksakan diri ke dokter ataupun puskesmas
karena tempat tinggal jauh dari pusat kesehatan. Pada saat berobat ke puskesmas
sebelumnya, tekanan darah dikatakan tinggi, dan pasien diberikan obat penurun tekanan
darah. Setelah obat habis, pasien tidak kontrol kembali dan tidak menjalani pengobatan
lebih lanjut.

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit pembesaran kelenjar leher.
Riwayat tekanan darah tinggi dan sakit jantung di keluarga tidak diketahui secara pasti.
Riwayat sakit kanker di keluarga disangkal.

Riwayat Pribadi dan Sosial


Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah mengurus pekerjaan
rumah tangga. Pasien mengatakan setiap hari memasak makanan menggunakan garam
beriodium. Pasien tidak pernah merokok ataupun mengkonsumsi alkohol.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Khusus :
Kondisi umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS : E4V5M6
Gizi : Kurang
Tekanan darah : 200/110 mmHg

3
BAB II LAPORAN KASUS

Nadi : 138 kali/menit reguler


Respirasi : 16 kali/menit reguler
Suhu aksila : 36,5oC
Berat badan : 46 kg
Tinggi Badan : 158 cm
BMI : 18,47 kg/m2

Pemeriksaan Umum
Mata : anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor, exopthalmus +/+
THT :
Telinga : daun telinga N/N, sekret tidak ada, pendengaran normal
Hidung : sekret tidak ada
Tenggorokan : tonsil T1/T1 hiperemis (-), faring hiperemis (-)
Lidah : ulkus (-), papil lidah atrofi (-)
Bibir : basah, stomatitis (-)
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid difus, kenyal, bergerak saat menelan
Thorax :
Cor : Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba, kuat angkat (-), thrill (-)
Perkusi : batas atas jantung ICS 2 sinistra
batas bawah jantung setinggi ICS 5 sinistra
batas kanan jantung parasternal line dekstra
batas kiri jantung midclavicula sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal regular murmur (-)
Pulmo : Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)
Palpasi : vokal fremitus N/N, pergerakan simetris
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus meningkat
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba , nyeri tekan (-), turgor normal
Perkusi : timpani

4
BAB II LAPORAN KASUS

Ekstremitas : edema (-)


2. Pemeriksaan Penunjang 29 April 2015
Parameter Hasil Satuan Referensi Keterangan
FT4 63,01 pmol/l 10,6-19,4 tinggi
TSH <0,05 Uui/ml 0,25-5 rendah

Elektrokardiografi

Kesan :

Sinus takikardia (HR 138 kali/menit)


Hipertropi ventrikel kiri

3. Diagnosis Kerja
Penyakit Graves
Hipertiroid
Nodul tiroid difus
Oftalmopati

4. Terapi
- Propylthiouracil 3 x 100 mg
- Propranolol 3 x 10 mg

6. Monitoring

Keluhan , vital sign, EKG, darah lengkap, tes fungsi hati, TSH & FT4 sebulan kemudian

7. KIE
- Diet rendah garam dan kontrol rutin ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan
penyakit
Daftar Pustaka:
1. Brent, Gregory A. 2008. Clinical practice Graves disease. The New England Journal of
Medicine 358 (24): 2594-2605
2. Kenneth L, Becker. 2001. Principles and practice of endocrinology and metabolism (3rd
ed). Philadelphia: Lippincot, Williams & Wilkins. p 636
3. Meconi, F; Marcocci, C; Marino, M. 2014. Diagnosis and Classification of Gravess
disease. Autoimmunity reviews 13 (4-5) : 398-401
4. Sai-Ching Jim Yeung. 2014. Gravess Disease. www.medscape.com

5
BAB II LAPORAN KASUS

Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis penyakit Graves
2. Penatalaksanaan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:

1. Subyektif:
Pasien mengeluh dada sering berdebar disertai berkeringat sejak sebulan
terakhir. Keluhan berdebar dan sering berkeringat ini membuat pasien sulit tidur.
Pasien mengatakan cepat merasa lelah, badan pasien dikatakan semakin kurus
sejak 1 tahun terakhir. Kedua mata dikatakan terasa semakin menonjol. Pasien
juga mengeluhkan terdapat benjolan di leher sejak 2 tahun sebelumnya,
membesar secara perlahan. Selama ini pasien tidak pernah mengobati benjolan
yang terdapat di lehernya. Makan minum dikatakan normal. Keluhan diare
yang berlangsung lama disangkal. Buang air kecil dikatakan normal. Riwayat
hipertensi tidak diketahui. Tidak ada yang mengalami keluhan serupa di keluarga
pasien. Riwayat tekanan darah tinggi dan sakit jantung di keluarga tidak
diketahui secara pasti. Riwayat sakit kanker di keluarga disangkal. Pasien adalah
seorang ibu rumah tangga, tidak pernah merokok dan mengkonsumsi alkohol.

2. Obyektif:
Status Present
Kesadaran : Compos mentis (GCS E4V5M6)
Tekanan darah : 200/110 mmHg
Nadi : 138 x/menit
Respirasi : 16 x/menit
Suhu aksila : 36,50C
BMI : 18,47 kg/m2
Status General
Mata : anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ Isokor, exophthalmus +/+

6
BAB II LAPORAN KASUS

THT : kesan tenang


Leher : Pembesaran kelenjar tiroid difus, kenyal, bergerak saat menelan
Thoraks :
Cor : S1S2 tunggal regular murmur (-)
Pulmo : Inspeksi : simetris +/+, retraksi (-)
Palpasi : vokal fremitus N/N, pergerakan simetris
Perkusi : sonor/sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus meningkat
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-),
turgor normal
Perkusi : timpani
Ekstremitas : edema (-)
3. Assesment:
Penyakit Graves
Hipertiroid
Nodul tiroid difus
Oftalmopati
Diagnosis ditegakkan dengan mempertimbangkan faktor temuan pada
anamnesis, pemeriksaan fisik penderita, dan pemeriksaan penunjang.
TEORI KASUS

1. Insiden penyakit Graves pada wanita jauh 1. Pasien merupakan seorang


lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki wanita berusia 39 tahun.
dengan rasio 8 : 1, dapat terjadi pada bebagai
usia, terutama wanita usia 30-60 tahun.

2. Gambaran klinik klasik dari penyakit Graves 2. Pasien datang dengan keluhan
antara lain adalah hipertiroidisme, goiter difus utama berdebar dan cepat
dan exopthalmus. berkeringat, cepat lelah, dan
Gejala hipertiroidisme berupa manifestasi
penurunan berat badan. Mata
hipermetabolisme dan aktivitas simpatis yang
dikatakan terasa lebih menonjol
berlebihan seperti cepat lelah, gemetar, tidak
dan terdapat benjolan di leher
tahan panas, keringat semakin banyak bila

7
BAB II LAPORAN KASUS

panas, kulit lembab, berat badan menurun sejak 2 tahun.


walaupun nafsu makan meningkat, palpitasi,
takikardi, diare, dan kelemahan serta atrofi otot.

3. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda 3. Pada pemeriksaan fisik


peningkatan aktifitas adrenergik akibat didapatkan tekanan darah 200/110
tirotoksikosis berupa peningkatan metabolisme mmHg, nadi 138 kali/menit, BMI
basal yang menyebabkan penurunan berat badan, 18,47 kg/m2 , exopthalmus
takikardia, takipnea, peningkatan keringat, bilateral, pembesaran kelenjar
peningkatan bising usus, acropathy, tremor, tiroid difus, dan peningkatan
gelisah, dan insomnia. Temuan fisik lain yang bising usus.
penting adalah pembesaran kelenjar tiroid secara
difus, dan oftalmopati ataupun dermopati

4. Hipertiroidisme secara laboratorium 4. Pasien diperiksa fungsi tiroid


dibuktikan dengan peningkatan kadar FT4 dengan hasil FT4 : 63,01 pmol/l
disertai penurunan TSH TSH : <0,05 Uui/ml

5. Penanganan penyakit Graves terutama 5. Pasien telah diberikan terapi


ditujukan untuk mengontrol keadaan dengan propylthiouracil (PTU) 3
hipertiroidisme. Tiga jenis pengobatan terhadap x 100 mg dan propranolol 3 x 10
hipertiroidisme akibat penyakit Graves yaitu: mg
obat anti tiroid, pembedahan, dan terapi
yodium radioaktif. Salah satu obat antitiroid
yang dapat diberikan adalah propylthiouracil
yang bekerja dengan cara mencegah/mengurangi
biosintesis hormon tiroid T3 dan T4, dengan
cara menghambat oksidasi dan organifikasi
iodium, menghambat coupling iodotirosin,
mengubah struktur molekul tiroglobulin dan
menghambat sintesis tiroglobulin serta
menghambat konversi T4 menjadi T3 di jaringan
perifer. Untuk mencegah terjadinya kekambuhan
maka pemberian obat-obat antitiroid biasanya

8
BAB II LAPORAN KASUS

diawali dengan dosis tinggi. Regimen umum


terdiri dari pemberian PTU dengan dosis awal
100-150 mg setiap 6 jam. Setelah 4-8 minggu,
dosis dikurangi menjadi 50-200 mg, 1 atau 2 kali
sehari.
Obat beta bloker baik kardioselektif ataupun
nonkardioselektif penting sebagai tambahan
terapi hipertiroid. Beta bloker berfungsi untuk
mengurangi gejala dan tanda hiperadrenergik
dari tirotoksikosis seperti berdebar, gemetar,
gelisah, dan intolerasi terhadap panas sebelum
penurunan hormon tiroid. Salah satu obat beta
bloker yang dapat diberikan adalah propranolol.

6. Evaluasi pengobatan perlu dilakukan 6. Pasien direncanakan monitoring


secara teratur mengingat penyakit Graves TSH, FT4 sebulan kemudian
adalah penyakit autoimun yang tidak bisa untuk mengevaluasi efek
dipastikan kapan akan terjadi remisi. Evaluasi pengobatan dan penyesuaian dosis
pengobatan paling tidak dilakukan sekali/bulan obat anti tiroid.
untuk menilai perkembangan klinis dan biokimia
Pasien direncanakan evaluasi
guna menentukan dosis obat selanjutnya.
Meskipun jarang terjadi, harus diwaspadai laboratorium darah lengkap dan
kemungkinan timbulnya efek samping, yaitu fungsi hati untuk menilai

agranulositosis, gangguan fungsi hati, lupus like kemungkinan efek samping

syndrome, yang dapat terjadi dalam beberapa pengobatan yaitu agranulocytosis


bulan pertama pengobatan dan hepatocellular toxicity.

KIE:
- Diet rendah garam dan kontrol rutin ke rumah sakit untuk mengetahui
perkembangan penyakit

Rujukan:
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit

9
BAB II LAPORAN KASUS

dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Amlapura, 24 Juni 2015

Peserta Pendamping

dr. I Wayan Gustafa dr. Ni Nengah Artini

10