Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH KIMIA INTI

REAKSI INTI (TRANSFORMASI INTI)

DISUSUN OLEH: KELOMPOK VIII

RINI ALFIAH AS (RSA1C114011)

RIRIN EKA YULIANA (RSA1C114012)

DOSEN PEMBIMBING:
Prof. Dr. rer. nat. ASRIAL, M. Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN


ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kami rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta
salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga,
sahabat, tabiin, dan segenap umatnya hingga akhir zaman.

Makalah yang kami susun ini berjudul Reaksi Inti (Transformasi Inti). Makalah ini
kami susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah Kimia Inti Semester 4.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi Rahmat-Nya dalam pembuatan makalah
ini.
2. Dosen pengampu mata kuliah Kimia Inti, Bapak Prof. Dr. rer.nat. Asrial, M.Si
3. Kedua orang tua yang telah memberi motivasi serta doa-doanya.
4. Serta teman-teman yang telah memberi bantuan berupa moril maupun materil.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempuna. Maka dari
itu, kritik dan saran anda sangat kami nantikan. Terima kasih atas segala partisipasi semua
pihak yang mendukung tersusunnya makalah ini. Atas segala kekurangan dan kesalahannya
kami mohon maaf.

Wassalamualaikum Wr.wb

Jambi, 19 April 2016

Penyusun

1 | Reaksi Inti
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1. Latar Belakang...........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah......................................................................................2
1.3. Tujuan Penulisan......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3
2.1. Pengertian dan Klasifikasi Reaksi Inti...................................................3
2.2. Pengertian Energi Reaksi Inti, Perbedaan Reaksi Kimia dan Reaksi Inti. 5
2.3. Pengertian Cross Section dan Fungsi Eksitasi Reaksi Inti........................8
2.5. Mekanisme Reaksi Inti..........................................................................18
BAB III PENUTUP................................................................................................21
3.1 Kesimpulan..................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................22

2 | Reaksi Inti
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan akan energi bertambah semakin cepat dari tahun ke
tahun, sementara sumber yang dapat langsung untuk digunakan untuk
kebutuhan tertentu semakin terbatas.Meskipun energi yang bersumber
pada radiasi matahari (energi surya) sangat berlimpahtetapi sejauh ini
belum dapat pemanfaatannya masih belum dapat optimal. Secara
ekonomisperalatan yang diperlukan untuk mengkonversi energi surya
masih relatif mahaldibandingkan sumber-sumber energi yang bersumber
pada minyak dan gas bumi serta batubara. Reaktor fusi nuklir merupakan
salah satu sumber energi alternatif masa depan yangmenggunakan bahan
bakar yang tersedia melimpah, sangat efisien, bersih dari polusi, tidakakan
menimbulkan bahaya kebocoran radiasi dan tidak menyebabkan sampah
radioaktif yangmerisaukan seperti pada reaktor fisi nuklir.
Sejauh ini reaktor fusi nuklir masih belum dioperasikan secara
komersial. Prototipreaktor-reaktor fusi saat ini masih dalam tahap
eksperimentasi pada beberapa laboratorium diUSA dan di beberapa negara
maju lainnya. Suatu konsorsium dari USA, rusia, Eropa danJepang telah
mengajukan pembangunan suatu reaktor fusi yang disebut
InternationalThermonuclear Experimental Reactor (ITER) di Cadarache
(Perancis) untuk mengujikelayakan dan keberlanjutan penggunaan reaksi
fusi untuk menghasilkan energi listrik. Reaktor-reaktor nuklir yang saat ini
dioperasikan untuk menghasilkan energi (listrik)merupakan reaktor fisi
nuklir. Dalam reaktor fisi nuklir energi diperoleh dari pemecahan satuatom
menjadi dua atom. Dalam reaktor-reaktor fisi nuklir konvensional, neutron
lambat yangmenumbuk inti atom bahan bakar (umumnya Uranium)
menghasilkan inti atom baru yangsangat tidak stabil dan hampir seketika
pecah menjadi dua bagian (inti) dan sejumlah neutrondan energi yang
besar. Pecahan hasil reaksi fisi tersebut merupakan sampah radioaktif
denganwaktu paruh yang sangat panjang sehingga menimbulkan masalah

1 | Reaksi Inti
baru pada lingkungan. Dalam reaksi fusi nuklir dua inti atom ringan
bergabung menjadi satu inti baru. Dalamsuatu reaktor fusi, inti-inti atom
isotop hidrogen (protium, deuterium, dan tritium) bergabungmenjadi inti
atom helium dan netron serta sejumlah besar energi. Reaksi fusi ini
sejenisdengan reaksi yang terjadi di dalam inti matahari dan bersifat jauh
lebih bersih, lebih aman. lebih efisien dan menggunakan bahan bakar yang
jauh lebih berlimpah dibandingkan denganreaksi fisi nuklir.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan reaksi inti, klasifikasi reaksi
inti ?
b. Apa yang dimaksud energi reaksi inti dan perbedaan
reaksi inti dengan reaksi kimia biasa ?
c. Apa pengertian Cross Section dan fungsi dari eksitasi
reaksi inti ?
d. Bagaimana mekanisme reaksi inti ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan
diatas, maka tujuan penulisan yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui apa itu reaksi inti, klasifikasi reaksi


inti
b. Untuk mengetahui apa itu energi reaksi inti perbedaan
reaksi inti dengan reaksi kimia biasa
c. Untuk mengetahui apa itu cross section dan fungsi dari
eksitasi reaksi inti
d. Untuk mengetahui mekanisme reaksi inti

2 | Reaksi Inti
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Reaksi Inti dan Klasifikasi Reaksi Inti


A. Pengertian Reaksi Inti

Reaksi inti merupakan peristiwa perubahan suatu inti atom sehingga


berubah menjadi inti atom lain dengan disertai munculnya energi yang sangat
besar.Agar terjadi reaksi inti diperlukan partikel lain untuk menggoyahkan
kesetimbangan inti atom sehingga kesetimbangan inti terganggu. Akibatnya inti
akan terpecah menjadi dua inti yang baru. Partikel yang digunakan untuk
mengganggu kesetimbangan inti yaitu partikel proton atau neutron. Di mana
partikel proton atau neutron yang berenergi ditembakkan pada inti target sehingga
setelah reaksi terjadi akan terbentuk inti atom yang baru disertai terbentuknya
partikel yang baru. Inti target dapat merupakan inti atom yang stabil, sehingga
setelah terjadi reaksi menyebabkan inti atom menjadi inti yang tidak stabil yang
kemudian disebut isotop radioaktif. Jadi reaksi inti dapat juga bertujuan untuk
mendapatkan isotop radioaktif yang berasal dari inti stabil.

Reaksi inti sangat berbeda dengan reaksi kimia, karena pada


dasarnya reaksi inti ini terjadi karena tumbukan (penembakan) inti sasaran (target)
dengan suatu proyektil (peluru). Secara skematik reaksi inti dapat digambarkan :

atau

Keterangan :

X : nuklida sasaran

Y : radionuklida hasil reaksi inti

3 | Reaksi Inti
a : partikel penembak

b : partikel hasil reaksi inti

X adalah inti awal, Y inti akhir, sedang a dan b masing-masing adalah partikel
datang dan yang dipancarkan.

Apabila suatu partikel ditembakkan pada inti X, maka ada beberapa


kemungkinan yang terjadi, yakni hamburan elastik, hamburan inelastik dan reaksi
inti. Para ahli banyak menggunakan reaksi inti ini untuk tujuan analisis kualitatif
dan kuantitatif dalam suatu penelitian, misalnya AAN (Aktivasi Neutron).

Hukum-hukum yang berlaku pada reaksi inti adalah:

1. Hukum kekekalam momentum, yaitu: jumlah momentum sebelum dan


setelah tumbukan adalah sama.
2. Humum kekekalan energi, yaitu: jumlah energi sebelum dan setelah
tumbukan adalah sama.
3. Hukum kekekalan nomor atom, yaitu: jumlah nomor atom sebelum dan
setelah tumbukan adalah sama. maka R + S = T + U
4. Hukum kekekalan nomor massa, yaitu: jumlah momentum sebelum dan
setelah tumbukan adalah sama. maka M + N = O + P

14 4 17
Contoh reaksi inti antara lain adalah 7 N+ 2He 8 O + 11H yaitu inti
atom Nitrogen ditembak dengan partikel (2He4) menjadi inti atom Oksigen
dengan disertai timbulnya proton (1H1), inti atom oksigen yang terbentuk bersifat
radioaktif.

Dalam reaksi inti berlaku beberapa hukum kekekalan, antara lain:

1. Hukum kekekalam muatan

Z = tetap

2. Hukum kekekalan massa dan energi

MA.C2 + ma.C2 + Ka = MB.C2 + Mb.C2 + Kb + Kb


MA.C2 + ma.C2 = MB.C2 + Mb.C2 + Q
Dimana Q = energi reaksi

4 | Reaksi Inti
= KB + Kb Ka
(Energi kinetik)
Bila Q > 0 reaksi ekso energi
Q < 0 reaksi endo energi

3. Hukum kekekalan nomor massa

A = tetap

4. Hukum kekekalan momentum sudut inti

I = tetap

5. Hukum kekekalan paritas

= tetap

6. Hukum kekekalan momentum linier

P = tetap

Partikel yang digunakan untuk menembaki inti-inti radioaktif agar terjadi


reaksi nuklir adalah partikel , partikel , sinar , netron, proton dan deuteron.
Pada peristiwa reaksi nuklir, inti yang ditembaki akan berubah menjadi inti yang
lain disertai pelepasan partikel lain dan energi. Besarnya energi yang terbentuk
pada peristiwa reaksi sama dengan selisih massa mula-mula dengan massa akhir.

B. Klasifikasi Reaksi Inti

Reaksi inti dapat digolongkan dengan beberapa cara, tergantung pada keadaan
yaitu sebagai berikut:

1. Klasifikasi reaksi inti menurut partikel penembak

Menurut klasifikasi ini dapat digolongkan dalam beberapa golongan, yakni:

a. Reaksi partikel bermuatan

Termasuk reaksi ini adalah reaksi p, d, , C12, O16.

b. Reaksi netron

5 | Reaksi Inti
Partikel yang ditembakkan adalah netron

c. Reaksi foto nuklir

Partikel yang ditembakkan adalah foton (sinar gamma)

d. Reaksi elektron

Partikel yang ditembakkan adalah elektron

2. Klasifikasi reaksi inti menurut energi partikel penembak

a. Untuk reaksi netron, energi netron penembak dapat digolongkan dalam empat
golongan, yaitu:

Netron termik dengan energi datang ~ 1/40 eV


Netron epitermik dengan energi datang ~ 1 eV
Netron datang dengan energi datang ~ 1 keV
Netron cepat dengan energi datang 0,1 10 MeV

b. Untuk reaksi partikel bermuatan, partikel penembak digolongkan sebagai


berikut:

Partikel berenergi rendah : 0,1 10 MeV


Partikel berenergi tinggi : 10 100 MeV

Dikenal ada tiga macam reaksi inti, yaitu reaksi penembakan dengan
partikel (peluruhan), reaksi tranmutasi inti, dan reaksi penghasil energy (reaksi
fisi, dan reaksi fusi).

1. Reaksi Peluruhan

Reaksi Peluruhan berjalan dengan spontan dan exoergik (melepas energi).


Pada reaksi peluruhan terjadi perubahan inti tidak stabil menjadi inti stabil.

Contoh : Ra Rn +

2. Reaksi Transmutasi Inti

6 | Reaksi Inti
Pada reaksi transmutasi inti, suatu inti menyerap suatu partikel dan
berubah menjadi inti lain dengan memancarkan suatu radiasi. Suatu cara untuk
menyerdahanakan penamaan reaksi inti hanyalah dengan menyebutkan (a,b) pada
inti sasaran. Jadi, untuk reaksi 35Cl (n,p) 35S, disebut reaksi (n,p) pada 35Cl.

Berdasarkan sifat-sifat dari a dan b maka reaksi-reaksi inti dibedakan ke


dalam beberapa jenis seperti diuraikan berikut ini.

a. Hamburan Elastis

pada penembakan inti, dimana hasilnya a = b dan X = Y, disebut peristiwa


hamburan elastis. Partikel penembak menumbuk inti sasaran, ia kehilangan
sebagian energi kinetiknya, yang dialihkan paad inti sasaran. Tidak terjadi
perubahan energi potensial total, dan energi kinetiknya kekal.

Hamburan elastik digunakan dalam perlambatan neutron cepat oleh moderator di


dalam reaktor nuklir.

b. Hamburan Inelastik

Suatu proses penghamburan dianggap inelastik jika sebagian energi


kinetik partikel misil digunakan untuk menaikkan energi potensial inti
asasaran,antara lain berupa eksitasi ketingkat energi yang lebih tinggi. Dalam
kasus ini energi kinetik sistem tidak kekal.

Contoh :

107Ag (n,n)107mAg 107Ag

44,3 detik

c. Reaksi Photonuklir

Reaksi-reaksi inti yang diinduksi oleh sinar-X atau photon g berenergi


tinggi (>1 MeV) dipandang sebagai reaksi-reaksi photonuklir. Dalam reaksi ini a
= g dan b lebih sering adalah n atau p dan bila menggunakan photon dengan
energi sangat tinggi maka b kemungkinan besar adalah d, t atau a atau bahkan
campuran partikel-partikel.

7 | Reaksi Inti
d. Tangkapan Radioaktif

Bila partikel misil diserap oleh inti sasaran, inti sasaran tereksitasi yang
kemudian memancarkan radiasi satu atau lebih photon gamma (g). Reaksi yang
paling umum adalah (n, g), dimana hasilnya adalah isotop dari inti sasaran yang
massanya satu satuan massa lebih besar.

Contoh : 23Na (n, g) 24Na, 31P (n, g) 32P, 179Au (n, g) 180Au

Selain reaksi (n, g) ada pula reaksi (p, g), tetapi disini inti hasilnya bukan isotop
dari inti sasaran.

Contoh : 19F (p, g) 20Ne, 27Al (p, g) 28Si

Selain reaksi (n, ) ada pula reaksi (p, ), tetapi disini inti hasilnya bukan isotop
dari inti sasaran.

Contoh : 19F (p, ) 20Ne, 27Al (p, ) 28Si

Reaksi inti jenis lain meliputi reaksi (n,p), (p,n), (n, ), (,n), d,p), (d,n), (,t).

3. Reaksi Penghasil Energi

a. Reaksi Fisi (pembelahan)

Reaksi fisi adalah reaksi yang terjadi pada inti berat yang ditumbuk oleh
sebuah partikel (umumnya neutron) kemudian membelah menjadi dua inti baru
yang lebih ringan. Neutron lebih mudah diserap oleh inti karena neutron tidak
bermuatan, sehingga neutron tersebut tidak mengalami gaya Coulomb yang
bersifat menolak ketika neutron mendekati permukaan inti. Karena inti berat tidak
stabil dibandingkan produknya , proses ini melepaskan banyak energi.

8 | Reaksi Inti
Reaksi fisi inti yang dikaji pertama kali ialah pembombardiran uranium-
235 dengan neutron lambat, yang kecepatannya sebanding dengan kecepatan
molekul udara pada suhu kamar. Pada kondisi ini, uranium-235 mengalami fisi.

235 1 90 143 1
U
92 + 0 n 38 Sr + 54 Xe + 3 0 n

Beberapa contoh reaksi pembelahan inti :

235 1 97 137 1
92 U +0 n 40 Zr + 52 Tl +2 0 n

235 1 103 131 1


92 U +0 n 42 Mo + 50 Sn +2 0 n

235 1 139 94 1
92 U +0 n 56 + 36 Kr +3 0 n

235 1 94 114 1
92 U +0 n 36 Kr + 58 Ce +2 0 n

235 1 118 118 1


92 U +0 n 47 Ag + 47 Ag +4 0 n

Pada setiap pembelahan inti selalu dihasilkan energy sekitar 200MeV.


Neutron yang dihasilkan dari reaksi pembelahan pertama dapat digunakan untuk
menembak inti pada reaksi-reaksi pmbelahan selanjutnya, sehingga dapat terjadi

9 | Reaksi Inti
reaksi pembelahan inti secara berantai. Energy yag dihasilkan pada pembelahan
235 gram 235Uekivalen dengan energy yang dihasilkan pada pembakaran 500 ton
batubara.

Reaksi fisi memiliki teori mengenai pembelahan inti yang digunakan oleh
Lise Meitner Otto Frisch dan Bohr Wheeler pada tahun 1939. Teori tersebut
dikembangkan berdasarkan model tetes cairan dengan memperhatikan.

a. Gaya-gaya yang bekerja dan berpengaruh terhadap bentuk inti dalam


keadaan tereksitasi
b. Energi yang mendorong pembelahan inti dan energi pengikat yang
menghalangi pembelahan inti

Penjelasan mengenai kedua hal tersebut dikemukakan sebagai berikut:

a) Distorsi bentuk inti dalam keadaan tereksitasi

Bentuk inti ditentukan oleh gaya yang berlawanan yaitu: gaya


tegangan permukaan yang cenderung mempertahankan bentuk sferik bola
(agar luas permukaan minimum) dan gaya coulomb yang cenderung mengarah
ke bentuk terdistorsi karena gaya tolak menolak antar proton. Bila suatu inti
tereksitasi karena menangkap neutron atau karena sebab lain, ia berisolasi dan
menghasilkan bentuk-bentuk terdiatorsi secara periodik. Jika energi eksitasi
tidak cukup memadai maka proses deeksitasi melalui pemancaran partikel
alfa, dengan proses ini inti kembali terbentuk sferik. Sedangkan bila energy
eksitasi cukup memadai, derajat distorsi meningkat dari bentuk ellipsoid
menjdai bentuk yang menyempit ditengah sampai pada keadaan deformasi
kritis, inti pecah menjadi dua fragmen yang masing-masing membentuk sferik
bola kembali disertai dengan pelepasan beberapa neutron. Teori Bohr
Wheeler mengungkapkan energi potensial inti sebagai suatu fungsi deformasi
pada setiap tahap proses pembelahan dinyatakan sebagai r, parameter jarak
pisah pusat massa kedua fragmen belahan.

b) Energetika pembelahan inti

10 | R e a k s i I n t i
A A1 A2
Pembelahan inti Z M menjadi fragment Z1 M 1 dan Z2 M 2,

secara energetika, kebolehjadiannya diperhitungkan dari dua jenis energy yang


saling berlawanan yaitu energy yang mendorong pembelahan, Ef, dan energy
yang menghalangi pembelahan Eb.

Pada reaksi fisi, inti atom menangkap netron dan menghasilkan keadaan
inti yang sangat labil dan dalam waktu yang singkat inti tersebut akan membelah
menjadi belahan inti utama disertai munculnya dua atau tiga netron-netron baru.

Ukuran dari kedua pecahan hasil reaksi tidak tetap, dengan kemungkinan
terbesar pecahan yang satu memiliki nomor massa sekitar 90 dan yang lain sekitar
140. Energi yang dibebaskan dalam fisi, sebagian besar akan berubah menjadi
energi kinetik dari kedua pecahan itu yaitu sekitar 80 persen, sedangkan yang 20
persen muncul dalam bentuk peluruhan (beta dan gamma) serta energi kinetik
sejumlah netron yang terpancar pada proses fisi. Sebagai contoh pada peluruhan

Uranium yang sering terjadi adalah:

Salah satu contoh peluruhan Uranium yang ditampilkan dalam bentuk


gambar.

Reaksi Fisi berantai dapat terjadi dengan menggunakan neutron dari suatu
proses fisi untuk menginisiasi proses fisi selanjutnya. Pada tahun 1942 Fermi
membuat reaktor fisi inti yang pertama yang dapat dikontrol. Untuk bom nuklir,
memerlukan lebih dari satu neutron dari peristiwa fisi pertama yang menyebabkan
peristiwa kedua (1 g U dapatmelepaskan energi sama dengan sekitar20000 ton

11 | R e a k s i I n t i
TNT). Untuk pembangkit daya nuklir, memerlukan satu neutron yang
menyebabkan peristiwa kedua.

Reaksi fisi berantai ada 2 yaitu reaksi berantai tak terkendali (contoh:bom
atom) dan reaksi berantai terkendali (contoh:reaktor atom)

1) Reaksi berantai tak terkendali dapat menghasilkan energi yang sangat


besar. Untuk satu pembelahan inti rata-rata energi yang dibebaskan 208
MeV. Reaksi berantai tak terkendali terjadi ketika neutron yang dihasilkan
(rata-rata 2,5 neutron) dari setiap pembelahan inti menumbuk inti lain dan
proses ini berlanggsung terus-menerus, energi yang terlepas akan terjadi
sangat cepat sehingga terjadi ledakan (seperti dalam bom atomik).

2) Reaksi Berantai Terkendali, Reaksi berantai terkendali dilakukan dengan


cara membatasi jumlah neutron yang membelah inti dalam lingkungan inti
atau mengkondisikan tiap pembelahan inti menyumbang hanya satu
neutron yang akan menyebabkan pembelahan satu inti lainnya.

12 | R e a k s i I n t i
Fisi nuklir adalah proses pembelahan inti menjadi bagian-bagian yang
hampir setara, dan melepaskan energi dan neutron dalam prosesnya. Jika neutron
ini ditangkap oleh inti lainnya yang tidak stabil inti tersebut akan membelah juga,
memicu reaksi berantai. Jika jumlah rata-rata neutron yang diepaskan per inti
atom yang melakukan fisi ke inti atom lain disimbolkan dengan k, maka nilai k
yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa reaksi fisi melepaskan lebih banyak
neutron dari pada jumlah yang diserap, sehingga dapat dikatakan bahwa reaksi ini
dapat berdiri sendiri. Massa minimum dari suatu material fisi yang mampu
melakukan reaksi fisi berantai yang dapat berdiri sendiri dinamakan massa kritis.

Ketika neutron ditangkap oleh inti atom yang cocok, fisi akan terjadi
dengan segera, atau inti atom akan berada dalam kondisi yang tidak stabil dalam
waktu yang singkat.Neutron yang digunakan dalam reaksi fisi dapat dihambat,
misalnya dengan penyerap neutron, dan neutron tersebut masih menjadikan massa
material nuklir berstatus kritis, maka reaksi fisi dapat dikendalikan. Hal inilah
yang membuat reaktor nuklir dibangun. Neutron yang bergerak cepat tidak boleh
menabrak inti atom, mereka harus diperlambat, umumnya dengan menabrakkan
neutron dengan inti dari pengendali neutron sebelum akhirnya mereka bisa dengan
mudah ditangkap. Saat ini, metode seperti ini umum digunakan untuk
menghasilkan listrik.

13 | R e a k s i I n t i
Energi total setiap kali fisi untuk satu neutron menembak satu kali adalah sekitar
200 MeV.

Dari reaksi fisi telah ditemukan lebih dari 200 isotop dari 35 cara sebagai
hasil pembelahan uranium-235. Ditinjau dari sudut kestabilan inti, hasil
pembelahan mengandung banyak proton. Dari reaksi pembelahan inti dapat dilihat
bahwa setiap pembelahan inti oleh satu neutron menghasilkan dua sampai empat
neutron. Setelah satu atom uranium-235 mengalami pembelahan, neutron hasil
pembelahan dapat digunakan untuk pembelahan atom uranium-235 yang lain dan
seterusnya sehingga dapat menghasilkan reaksi rantai. Bahan pembelahan ini
harus cukup besar sehingga neutron yang dihasilkan dapat tertahan dalam
cuplikan itu. Jika cuplikan terlampau kecil, neutron akan keluar sehingga tidak
terjadi reaksi rantai.

Suatu penerapan fisi inti adalah pembangkitan listrik menggunakan kalor


yang dihasilkan dari reaksi rantai terbatas yang dilakukan dalam suatu reaktor
nuklir. Reaktor nuklir adalah suatu tempat dimana reaksi pembelahan (fision)
nuklida terjadi secara terkendaliberlangsung. Reaktor nuklir ini dapat
dimanfaatkan energi nuklir sehingga disebut reaktor termal.

Energi yang dihasilkan sangat besar, dalam tersebut diahasilkan neutron


baru yang akan menumbuk inti atom sisa sehingga terjadi reaksi inti berantai yang
dapat menghasilkan energi yang sangat besar, misal reaksi fisi pada bom nuklir.

14 | R e a k s i I n t i
n + U-235 -> Ba-144 + Kr-90 + 2n + 179.6 MeV

n + U-235 -> Ba-141 + Kr-92 + 3n + 173.3 MeV

n + U-235 -> Zr-94 + Te-139 + 3n + 172.9 MeV

n + U-235 -> Zr-94 + La-139 + 3n + 199.3 MeV

b. Reaksi Fusi (penggabungan)

Reaksi fusi(reaksitermonuklir) adalah sebuah proses saat dua inti atom


bergabung, membentuk inti atom yang lebih besar dan melepaskan energi. .
Energi yang dihasilkan dari reaksi fusi lebih besar daripada energy yang dihasikan
reaksi fisi dari unsur berat dengan massa yang sama.

Proses ini membutuhkan energi yang besar untuk menggabungkan inti


nuklir, bahkan elemen yang paling ringan, hidrogen. Tetapi fusi inti atom yang
ringan, yang membentuk inti atom yang lebih berat dan neutron bebas, akan
menghasilkan energi yang lebih besar lagi dari energi yang dibutuhkan untuk
menggabungkan mereka.Energi yang dilepas di banyak reaksi nuklir lebih besar
dari reaksi kimia, karena energi pengikat yang mengelem kedua inti atom jauh
lebih besar dari energi yang menahan elektron ke inti atom.

Perhatikan reaksi fusi dengan bahan dasar antara deuterium dan litium berikut.

Reaksi-reaksi fusi biasanya terjadi pada suhu sekitar 100 juta derajat
celsius. Pada suhu ini terdapat plasma dari inti dan elektron. Reaksi fusi yang
terjadi pada suhu tinggi ini disebut reaksi termonuklir.

Fusi nuklir adalah sumber energi yang menyebabkan bintang bersinar, dan
Bom Hidrogen meledak.

15 | R e a k s i I n t i
Reaksi fusi adalah reaksi yang belum bisa dibuat karena diperlukan wadah
yang tahan terhadap suhu mencapai ~107oK. Pada suhu tersebut atom-atom akan
terionisasi membentuk keadaan yang dinamakan plasma. Sebenarnya reaksi fusi
merupakan sumber energi karena pada reaksi tersebut dihasilkan energi yang
besar sekali. Seperti reaksi yang terjadi pada matahari dan bintang-bintang.

2. Reaksi fusi nuklir pada bom hidrogen

Bahan baku bom hidrogen adalah inti deuterium dan tritium yang akan
bergabung membentuk inti helium sambil membebaskan energi yang sangat besar.
Untuk menggabungkan inti-inti tersebut diperlukan suhu yang sangat tinggi yang
diperoleh dari ledakan atom biasa yang dihasilkan dari reaksi fisi sebagai pemicu
berlanggsungnya reaksi fusi bom hidrogen yang akan menghasilkan ledakan bom
yang lebih dahsyat. Persamaan reaksi fusi untuk bom hidrogen dapat ditulis:

2
1 H 13H 24He 01n 17,6 MeV

16 | R e a k s i I n t i
Energi yang dihasilkan terbentuk melalui dua jenis reaksi, yaitu melalui daur
proton-proton dan daur carbon yang masing-masing menghasilkan energi sekitar
25 MeV dan 28 MeV.

a. Daur proton-proton

Gambar . Reaksi daur proton

b. Daur Carbon

17 | R e a k s i I n t i
Gambar . Reaksi daur carbon

Dasar bagi penelitian pemakaian fusi inti untuk produksi energi adalah
perilaku yang diperlihatkan jika dua inti ringan bergabung atau berfusi
membentuk inti yang lebih besar dan lebih stabil, banyak energi yang akan dilepas
selama prosesnya. Fusi inti yang terus-menerus terjadi di matahari yang terutama
tersusun atas hidrogen dan helium.

Produk yang dihasilkan dari reaksi fusi tidak bersifat radioaktif sehingga
lebih aman penggunaannya. Saat ini mulai dilakukan pengembangan pembuatan

18 | R e a k s i I n t i
unsur-unsur yang lebih berat dari Uranium sebagai bahan bakar reaktor atom.
Pada umumnya digunakan Uranium 235.

Senjata nuklir adalah senjata yang menggunakan prinsip reaksi fisi nuklir
dan fusi nuklir. Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fusi nuklir adalah
Lithium dan Hidrogen (terutama Lithium-6, Deuterium, Tritium). Reaksi fusi
deuterium-tritium (D-T) dipertimbangkan sebagai proses yang paling menjanjikan
dalam memproduksi tenaga fusi. ( http://nuclear physics/radioaktifitas/UNNES)

2.2 Energi Reaksi Inti, Perbedaan Reaksi Inti dan Reaksi Kimia

A. Energi Reaksi Inti

Energi reaksi inti yang timbul diperoleh dari penyusutan massa inti, yaitu
perbedaan jumlah massa inti atom sebelum reaksi dengan jumlah massa inti atom
sesudah reaksi. Suatu reaksi inti membutuhkan penggunaan kesetaraan massa dan
energi yang dirumuskan oleh Albert Einstein

E = mc2

Bila massa nuklida yang tepat diketahui, kita dapat menghitung energi
reaksi inti dengan menggunakan rumus diatas. Lambang m menyatakan
perubahan massa bersih (dalam satuan kg), sedangkan c adalah kecepatan
cahaya(dalam meter/detik). Energi E dinyatakan dalam Joule. Apabila semua
massa inti atom dinyatakan dalam sma (satuan massa atom), maka energi total
yang dimiliki massa sebesar 1 sma setara dengan energi sebesar 931 MeV (1 sma
= 1,66 10-27 kg, c = 3 108 m/s dan 1 eV = 1.6 10-19 Joule)

Dalam reaksi inti, energi seringkali dilepaskan atau diserap. Suatu reaksi
melepas energi berarti energi kinetik partikel-partikel setelah reaski lebih besar
dari energi kinetik partikel-partikel sebelum reaski. Penambahan energi ini datang
dari pengubahan energi diam menjadi energi kinetik. Jumlah energi yang dilepas
diukur oleh nilai Q reaksi inti, yang didefinisikan sebagi selisih antara energi
kinetik akhir dan awal.

19 | R e a k s i I n t i
Dalam sistem laboratorium, energi kinetik total timbul dari partikel datang
saja :

1
mAV2
2
Klab = (energi kinetik dalam sistem lempengan)

Dalam sistem pusat massa, kedua partikel bergerak dan memberikan


kontribusi pada energi kinetik total.

Kcm = mA (v-V)2 + mB V2

= mAv2 - (mA mB) V2

= K - (mA - mB) V2

mB
K
mA mB
= lab (energi kinetik dalam sistem pusat massa)

Energi kinetik total partikel relatif terhadap pusat massanya ialah energi
kinetik total dalam sistem laboratorium dikurangi energi kinetik (mA + mB)V2
dari pusat massa yang bergerak. Jadi dapat dianggap bahwa Kcm sebagai energi
kinetik gerak relatif partikel itu. Jika partikel bertumbukan, energi kinetik
maksimum yang dapat berubah menjadi energi eksitasi dari inti majemuk yang
terjadi dengan tetap mempertahankan kekekalan momentum ialah Kcm yanng
lebih kecil dari Klab.

Harga Q suatu reaksi nuklir :

Q = [(mA + mB) - (mC + mD)] c2

= [(mA + mB mC mD)]c2

Jika Q merupakan kuantitas positif, energi dilepaskan oleh reaksi itu. Jika Q
kuantitas negatif energi kinetik dalam sistem pusat massa cukup besar harus
diberikan oleh partikel-partikel yang bereaksi sehingga

Kcm + Q 0

20 | R e a k s i I n t i
B.Perbedaan Reaksi Inti dan Reaksi Kimia

Reaksi inti berbeda dengan reaksi kimia. Dikarenakan reaksi tersebut


terjadi pada tingkatan inti atom (nukleus) bukannya atom secara keseluruhan.
Seperti yang pernah dibahas pada tulisan saya sebelumnya, bahwa energi Kimia
dan Energi Atom, sama sama berasal dari atom, namun perbedaanya energi
kimia yang dihasilkan dari tiap tiap pembakaran sebuah batu bara dan minyak
bumi misalnya, akan menghasilkan penyusunan kembali (rearrangement) atom
yang disebabkan oleh redistrisbusi elektron. Sedangkan di sisi lain, energi atom
dihasilkan dari redistribusi partikel dengan inti atom (atomic nuclei). Karena
itulah untuk menghindari kerancuan sering digunakan istilah Energi Nuklir
daripada istilah energi atom.

Dalam kondisi laboratorium yang sesuai, inti atom bisa dibuat dari inti
atom yang lain terutama untuk unsur unsur yang memiliki nomer atom yang
paling kecil yakni inti hidrogen ( identik dengan proton), inti deuterium
(deuterons) dan inti helium ( partikel alfa). Reaksi Inti atom bisa bisa terjadi jika
inti atom berinteraksi dengan neutron, elektron dan sinar gamma.

Namun pada temperatur biasa, laju reaksi nuklir (yakni jumlah nukleus
yang bereaksi pada waktu tertentu dalam volume tertentu) adalah sangat kecil
dibandingkan laju reaksi kimia yang menghasilkan atom atau molekul. Mengapa
hal tersebut terjadi? Ada dua alasan yang membuat mengapa hal tersebut terjadi :

Alasan pertama adalah ukuran nukleus yang kecil ( hanya berode cm )


dibandingkan dengan ukuran atom atau molekul secara keseluruhan yang berode

atau . Hal ini menyebabkan tumbukan nuklir yang terjadi memiliki laju yang
lebih sedikit dibandingkan dengan tumbukan pada tingkat atomik atau molekuler.
Namun, meskipun begitu, pada keadaan instimewa dimana nukleus dengan massa
dan energi yang kecil bisa berlaku seolah olah memiliki diameter yang
mendekati ukuran diameter atom sehingga laju reaksi nuklir yang terjadi akan

21 | R e a k s i I n t i
meningkat secara drastis diatas nilai biasa. Kondisi istimewa ini akan dibahas
pada tulisan saya yang lain.

Alasan kedua yang bertanggung jawab menyebabkan laju yang relatif


rendah dari interaksi inti dengan inti yang lainnya adalah adanya gaya coulomb
yang bersifat saling tolak menolak diantara inti yang disebabkan muatan positif
pada inti. Energi tolakan tersebut adalah sebanding dengan (z1 z2 )/ R . dimana
Z1 dan Z2 adalah muatan, yakni nomer atom dari dua inti yang berinteraksi dan R
adalah jarak diantara 2 pusat inti.

Karena inti satu harus mendekati inti lainnya dengan jarak cm sebelum
bisa berinteraksi, maka energi penolakan yang timbul sesuai persamaan
coulomb tersebut akan sangat besar, khususnya pada inti atom dengan nomer
atom yang tinggi. Dalam kasus inti dengan nomer atom kecil ( seperti H, He ),
energi coulomb yang terjadi pada orde jutaan electron Volt, bayangkan energi
Coulomb yang timbul pada inti atom dengan nomer atom yang besar (seperti
uranim -235 misalnya).

Disisi lain pada reaksi kimia, Energi yang dibutuhkan untuk


memungkinkan interaksi medan elektronik adalah jarang mencapai lebih dari
beberapa elektron Volt. Pada temperatur biasa probabilitas untuk sepasang
atom/molekul yang bertubrukan akan memiliki sejumlah Energi kinetik dalam
nilai jutaan eV adalah sangat kecil sekali. Oleh sebab itu, tidak hanya jumlah
tumbukan diantara nukleus lebih kecil dibandingkan tumbukan diantara
atom/molekul di dalam kondisi yang sama, tapi probabilitas terjadinya interaksi
dari tumbukan tersebut juga dinilai kecil. Sehingga tidaklah heran bahwa laju
reaksi yang terjadi diantara inti atom adalah jauh lebih kecil daripada reaksi kimia
di tingkat atom/molekul

Berikut tabel perbandingan antara reaksi kimia dengan reaksi inti:

Reaksi kimia Reaksi inti

22 | R e a k s i I n t i
Atom diubah susunannya melalui Unsur (atau isotop dari unsur yang sama).
pemutusan dan pembentukan ikatan kimia Dikonversi dari unsur yang satu ke lainnya.

Hanya elektron dalam orbital aton atau Proton, neutron, electron, dan partikel dasar lain
molekul yang terlibat dalam pemutusan dan terlibat dalam reaksi.
pembentukan ikatan

Reaksi diiringi dengan penyerapan atau Reaksi diiringi dengan penyerapan atau
pelepasan energy yang relative kecil pelepasan energy yang sangat besar.

Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu, tekanan Laju reaksi biasannya tidak dipengaruhi oleh
konsentrasi dan katalis suhu, tekanan dan katalis.

Isotop yang Isotop yang berbedamemberikankarakteristik


berbedamemberikankarakteristik yang sama yang beda

2.3 Pengertian Cross Section dan Fungsi Eksitasi Inti

A.Pengertian Cross Section

Cross-section : tampang lintang : suatu ukuran probabilitas terjadinya


reaksi nuklir. Probabilitas tersebut digambarkan sebagai suatu area dimana target
berada. Dinyatakan dalam Barn ( 1 Barn = 10-28 m2)

Cross section jika ditulis dalam bahasa Indonesia disebut sebagai


penampang lintang, cross section pada konteks ini merupakan probabilitas
terjadinya tumbukan antar satu partikel dengan inti atau partikel lainnya. Cross
section merupakan parameter kuantum yang berkaitan dengan terjadinya reaksi
inti-inti radioaktif. Ada beberapa jenis parameter cross section antara lain
absorption cross section , capture cross section , fission cross section , scattering
cross section , transfer cross section , dan lain sebagainya.

Absorption cross section yakni tampang lintang yang berperan dalam


penyerapan partikel oleh suatu inti atom. Dalam hal ini, biasanya partikel yang
dimaksud adalah neutron. Apabila terjadi proses suatu inti atom radioaktif

23 | R e a k s i I n t i
menyerap neutron, maka inti atom tersebut akan mengalami reaksi
pembakaran (burnup).

Sedangkan capture cross section berperan dalam penangkapan partikel


(dalam hal ini adalah neutron) untuk membentuk inti atom baru (transmutasi)
yang memiliki masa atom lebih besar 1 satuan atom (masa neutron besarnya 1
satuan atom). Material / isotop yang bersifat fertil mengalami capture cross
section yang besar.

Contoh proses absorpsi dan capture neutron adalah pada inti U-238 akan
mengalami reaksi burnup (pembakaran) dengan menyerap neutron sekaligus
mengalami transmutasi menjadi U-239 jika menangkap neutron. Besarnya
kuantitas burnup dan transmutasi bergantung pada absorption cross
section dan capture cross section dari U-238.

Adapun fission cross section merupakan penampang lintang / probabilitas


terjadinya reaksi fisi apabila suatu material / inti / isotop ditumbuk oleh neutron.
Material/isotop yang memiliki fission cross section yang besar dapat dikatakan
sebagai material/isotop fisil. Contohnya adalah apabila inti U-235 ditumbuk oleh
neutron, maka akan terjadi reaksi fisi (pembelahan) yang akan menghasilkan dua
atau lebih isotop lain yang lebih kecil dan sekitar 200 MeV energi.

Scattering cross section merupakan probabilitas suatu partikel (neutron)


apabila menumbuk inti/isotop akan mengalami hamburan (dipantulkan
kembali). Scattering cross section juga terbagi lagi menjadi dua jenis, yakni
proses hamburan dari luar ke dalam inti atom, serta sebaliknya

B. Fungsi Eksitasi Inti

Eksitasi dalam fisika adalah penambahan sejumlah diskrit energi (disebut


energi eksitasi) untuk sistem-seperti inti atom, atom, atau molekul-sehingga
menghasilkan perubahan yang, biasanya dari kondisi energi terendah (keadaan
dasar) ke salah satu energi yang lebih tinggi (keadaan tereksitasi).

24 | R e a k s i I n t i
Dalam sistem nuklir, atom, dan molekul, keadaan-keadaan tereksitasi tidak
terus didistribusikan tetapi memiliki nilai energi diskrit tertentu saja. Dengan
demikian, energi eksternal (energi eksitasi) dapat diserap dalam jumlah diskrit.

Dengan demikian, dalam atom hidrogen (terdiri dari elektron yang


mengorbit terikat dengan inti satu proton), energi eksitasi 10,2 elektron volt
diperlukan untuk mendorong elektron dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi
pertama. Sebuah energi eksitasi yang berbeda (12,1 elektron volt) akan
dibutuhkan untuk menaikkan elektron dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi
kedua.

Demikian pula, proton dan neutron dalam inti atom merupakan sistem yang
dapat dinaikkan secara diskrit menjadi tingkat energi yang lebih tinggi dengan
menyediakan energi eksitasi yang tepat. Energi eksitasi nuklir kira-kira 1.000.000
kali lebih besar dari energi eksitasi atom. Untuk inti timbal-206, sebagai contoh,
energi eksitasi dari keadaan tereksitasi pertama adalah 0,80 juta elektron volt dan
kedua keadaan eksitasi kedua 1,18 juta elektron volt.

25 | R e a k s i I n t i
Energi eksitasi disimpan dalam atom yang tereksitasi dan inti yang
memancarkan cahaya biasanya terlihat dari atom dan sebagai radiasi gamma dari
inti karena mereka kembali ke keadaan dasar. Energi ini juga bisa hilang oleh
tumbukan.

Proses eksitasi adalah salah satu sarana utama dimana materi menyerap
pulsa energi elektromagnetik (foton), seperti cahaya, dan dengan dipanaskan atau
terionisasi oleh dampak partikel bermuatan, seperti elektron dan partikel alpha.

Dalam atom, energi eksitasi diserap oleh elektron yang mengorbit yang
diangkat ke tingkat energi yang berbeda yang lebih tinggi.Dalam inti atom, energi
diserap oleh proton dan neutron yang ditransfer ke keadaan tereksitasi. Dalam
molekul, energi yang diserap tidak hanya oleh elektron, yang sangat antusias
untuk tingkat energi yang lebih tinggi, tetapi juga oleh seluruh molekul, yang
sangat tereksitasi untuk keadaan diskrit dari getaran dan rotasi.

Fungsi eksitasi adalah aluran antara penampang lintang reaksi inti dan
energi partikel penembak; fungsi eksitasi reaksi dengan partikel bermuatan dapat
ditentukan dengan menggunakan pencepat partikel yang dapat menghasilkan
partikel penembak dengan energi kinetik bervariasi ; fungsi eksitasi reaksi inti
dengan neutron dapat ditentukan dengan menggunakan reaktor sebagai sumber
partikel penembak ; karena tidak monoenergi, neutron dari reaktor diseleksi
kecepatannya dengan dua cakram bergigi yang berputar dan diletakkan pada jarak
tertentu ; pada gigi cakram tersebut diletakkan penyerap neutron ; karakteristik
yang diamati pada fungsi eksitasi merupakan salah satu data penting untuk
menjelaskan mekanisme reaksi inti.

2.4 Mekanisme Reaksi Inti

Sebagian besar data inti yang terkumpul sekarang berasal dari analisis
berbagai percobaan reaksi inti. Dalam percobaan ini berbagai inti ditembaki
dengan berbagai macam proyektil (radiasi) partikel maupun inti dan kemudian
hasilnya diamati. Sebagai proyektil, juga telah digunakan berbagai isotop dengan
nomor atom sebesar Z = 18.

26 | R e a k s i I n t i
Biasanya, reaksi inti ini memberi hasil suatu inti sisa akhir (yang biasanya
tak teramati) ditambah partikel lain yang teramati secara eksperimental. (kadang-
kadang kedua hasil akhir ini diamati bersama).

Reaksi-reaksi inti dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

PROYEKTIL + INTI SASARAN INTI SISA + PARTIKEL


TERAMATI

Atau dalam bentuk singkat

SASARAN (PROYEKTIL, PARTIKEL TERAMATI) INTI SISA

Dalam setiap persamaan reaksi inti, muatan total (Z total) dan jumlah nukleon
total (A total) harus sama pada kedua ruas persamaan.

Sebagai contoh, reaksi inti yang pertama kali (diamati oleh Rutherford pada tahun
1919) adalah ;

14
7 N 24H e 178O p
atau bisa ditulis secara singkat N714 (He, p) O817

Reaksi-reaksi inti diklasifikasikan menurut proyektil, partikel teramati dan


inti sisa. Jika proyektil dan partikel teramati adalah sama. Maka kita peroleh
reaksi hamburan (scattering reaction). Jika inti sisa tetap berada dalam keadaan
energi rendahnya atau keadaan dasar, maka hamburannya adalah elastis. Tetapi
bila inti sisanya berpindah ke suatu keadaan tereksitasi, maka hamburannya tak
elastik.

Proses pada saat proyektil yang ditembakkan memperoleh tambahan


nukleon dari, atau memberi nukleon ke inti sasaran berturut-turut disebut sebagai
reaksi pengambilan (pick up) dan pelucutan (stripping).

Reaksi pengambilan dan pelucutan ini seringkali terjadi pada tingkat


energi yang cukup tinggi, sehingga kita dapat menganggap bahwa reaksinya
langsung (direct). Dalam reaksi pelucutan langsung ini dianggap bahwa nukleon

27 | R e a k s i I n t i
mengambil bagian dalam memasuki atau meninggalkan suatu orbit model-kulit
tertentu dari inti sasaran tanpa mengganggu nukleon lainnya.

Jenis reaksi lain yang agak berlawanan yaitu proyektil datang dan inti
sasaran bersama-sama membentuk sebuah inti baru, yang disebut inti gabungan
(compuond nucleus), yang hidup selama selang waktu singkat dalam keadaan
suatu eksitasi dan kemudian meluruh.

Dalam reaksi inti sebagian zarah proyektil akan dihamburkan dan sebagian
lainnya akan diserap oleh inti atom target. Tahap-tahap reaksi inti sbb :

1. Tahap zarah bebas

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pada setiap reaksi inti selalu terjadi
hamburan dan serapan, pada tahap ini sebagian zarah proyektil dihamburkan
secara elastis dan sebagian diserap inti atom target untuk memasuki tahap inti
majemuk seperti pada gambar di bawah ini

Gambar 3.1Mekanisme Reaksin Inti

Pada tahap penyerapan terdiri dari tumbukan dua benda. Hal ini berarti
bahwa jika zarah proyektil adalah nukleon tunggal, maka zarah tersebut akan
berinteraksi dengan sebuah nukleon di dalam inti dan mampu menaikkan energi
nukleon ketingkat energi lebih tinggi seperti pada gambar berikut:

28 | R e a k s i I n t i
Gambar 3.2 Interaksi Zarah

2. Tahap Inti Majemuk

Pada tahap ini sebagian zarah yang diserap dari tahap pertama
dihamburkan kembali dalam hamburan elastis majemuk , sebagian lainnya
membentuk inti majemuk atau menuju ke tahap akhir melalui reaksi langsung.

3. Tahap Akhir

Inti majemuk akan mengalami peluruhan dan memancarkan zarah untuk


membentuk inti baru yang stabil. Jika inti majemuk tidak terbentuk maka pada
tahap ini akan terjadi reaksi langsung antara lain reaksi fisi dan fusi.

29 | R e a k s i I n t i
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Reaksi inti merupakan peristiwa perubahan suatu inti atom


sehingga berubah menjadi inti atom lain dengan disertai
munculnya energi yang sangat besar. Reaksi inti sangat berbeda
dengan reaksi kimia, karena pada dasarnya reaksi inti ini terjadi
karena tumbukan (penembakan) inti sasaran (target) dengan
suatu proyektil (peluru).

Klasifikasi reaksi inti, Dikenal ada tiga macam reaksi inti,


yaitu reaksi penembakan denganpartikel (peluruhan),reaks
itranmutasi inti,dan reaksi penghasil energy (reaksifisi,
danreaksifusi).

Energi reaksi inti yang timbul diperoleh dari penyusutan


massa inti, yaitu perbedaan jumlah massa inti atom sebelum
reaksi dengan jumlah massa inti atom sesudah reaksi.Suatu
reaksi inti membutuhkan penggunaan kesetaraan massa dan
energi yang dirumuskan oleh Albert Einstein

E = mc2

30 | R e a k s i I n t i
Reaksi inti berbeda dengan reaksi kimia pada umumnya.
Reaksi inti menyangkut perubahan pada susunan inti atomnya
sedangkan reaksi kimia hanya melibatkan perubahan elektron
pada kulit atom untuk pembentukan atau pemutusan ikatan
kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Bunjali, Bunbun. 2002. Kimia Inti. Bandung : ITB.

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

MT, Duyeh Setiawan. 2009. RADIOKIMIA. Bandung: Widya


Padjadaran.

Petrucci, ralph. 1999. Kimia dasar. Jakarta : Erlangga

Purba, Micheal. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta :


Penerbit Erlangga.

Riyanto, nurdin dan yustisia nurdin. 2009. Super genius olimpiade


kimia. Yogyakarta : Pustaka Widyatama

Wardhana, Wisnu Arya. 2007. Teknologi Nuklir Proteksi dan


Aplikasinya. Yogyakarta : Penerbit Andi.

http://fisikazone.com/reaksi-inti/reaksi-fisi-dari-uranium/

31 | R e a k s i I n t i
http://fisikanuklir.unnes.ac.id/index.php?
tj=menu/output_menu&id_radio_materi=13

32 | R e a k s i I n t i