Anda di halaman 1dari 14

PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

FILUM ARTHROPODA

1. Argulus indicus
Klasifikasi Argulus indicus menurut Trimariani (2013) adalah sebagai
berikut :
Filum : Arthropoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Maxillopoda
Sub kelas : Branchiura
Ordo : Arguloida
Famili : Argulidae
Genus : Argulus
Spesies : Argulus indicus

Gambar 1. Argulus sp.


(Sumber : smat.kridanusantara.com)

Argulus sp. memiliki bentuk oval seperti cakram berdiameter 5-12 mm,
permukaannya relative datar dan memiliki empat pasang kaki. Argulus dijuluki
sebagai kutu ikan (fish louse). Bagian mulut dan kakinya mempunyai kemampuan
untuk merusak sirip dan kulit. Kaki Argulus berfungsi untuk berjalan pada tubuh
ikan, berenang di kolam atau berpindah tempat dari satu inang ke inang lainnya
(Afrianto et al 2015).
Argulus sp. menyerang pada bagian sirip, kulit, insang dan seluruh bagian
luar tubuh inang. Ikan yang terserang Argulus sp. akan terlihat kurus, sering
menggosokkan badan dan timbul bercak merah yang nantinya dapat menimbulkan
infeksi sekunder (Lingga dan Susanto 2003). Selain menginfeksi ikan, Argulus sp.
juga dapat berperan sebagai vektor bagi virus atau bakteri yang sering
menyebabkan penyakit pada ikan (Afrianto dan Liviawati, 1992).
Argulus sp. memiliki siklus hidup langsung, artinya menggunakan satu
inang untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya. Inang utama dari Arguus adalah
ikan, baik yang berasal dari air tawar maupun air laut (Afrianto et al 2015).

2. Cyclops
Klasifikasi Cyclops sp. menurut Trimariani (2013) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Maxillopoda
Ordo : Cyclopoida
Famili : Cyclopoidae
Genus : Cyclops
Spesies : Cyclops sp.

Gambar 2. Cyclops sp.

Cyclops sp. adalah salah satu parasit dari filum Arthropoda yang hidupnya di air.
Cyclops ada yang bersifat sebagai parasit dan adapula yang bersifat sebagai zooplankton
dan dapat pula digunakan sebagai pakan ikan. Cyclops sp. adalah inang perantara dari
cacing Bothriocephalus, Marsipometra dan Senga. Ciri morfologi dari Cyclops sp. adalah
mempunyai cephalothorax, bermata satu, dan beranterna sebanyak dua pasang. Kelamin
pada Cyclops sp. terpisah yaitu ada yang jantan dan betina. Pada Cyclops betina terdapat
kantung telur, larva Cyclops yang baru menetas disebut nauplius yang memiliki kaki tiga
pasang. Stadium selanjutnya adalah copepodit yang mempunyai tiga pasang kaki renang
3. Lernea
Klasifikasi Lernea sp. menurut Trimariani (2013) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Maxillopoda
Ordo : Cyclopoida
Famili : Lerneaidae
Genus : Lernea
Spesies : Lernea sp.

Gambar 3. Lernea sp.


(Sumber : aigiolokola.files.wordpress.com)

Lerneae sp. memiliki ciri morfologi tubuh yang bulat memanjang seperti
cacing dan memiliki dua kantung telur pada ujung lainnya. Pada bagian kepalanya
terdapat organ yang berbentuk seperti jangkar, sehingga parasit ini disebut sebagai
cacing jangkar (anchor worm) yang berfungsi untuk menempel pada tubuh ikan.
Lernea sp. dapat menyebabkan penyakit yang disebut dengan Lerneasis. Penyakit
ini biasanya menyerang pada saat pembenihan dan pendederan ikan.
Lernea sp. banyak menyerang ikan mas dan ikan koi dengan cara
menancapkan kepalanya yang berbentuk jangkar kedalam kulit ikan untuk
menyerap darah dan cairan tubuh ikan tersebut (Afrianto et al 2015). Gejala ikan
yang terserang Lerneasis tidak terlihat hingga terjadinya infeksi sekunder. Ikan
yang terserang Lernea sp. biasanya sering meloncat ke permukaan air atau
menggesekkan tubuhnya ke dinding atau dasar kolam.
4. Cybister (Dewasa dan larva)
Klasifikasi dari Cybister sp. adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Coleoptera
Famili : Dytiscidae
Genus : Cybister
Spesies : Cybister sp.

Gambar 4. Cybister sp.

Cybister sp. mempunyai ciri morfologi yaitu ukuran tubuhnya sekitar 30-35
mm, kaki belakang berkuku dan mempunyai tibia pendek, mempunyai dua pasang
sayap dan tiga pasang kaki. Tubuh larva bersegmen dan kakinya berambut serta
bersiphon yang berfungsi untuk bernapas dalam air. Cybister sp. jantan pada kaki
depannya mempunyai klasper pada tarsus ketiga yang digunakan untuk
memegang betina saat berkopulasi. Pada stadia larva dan dewasa Cybister sp.
berperan sebagai predator. Warna tubuh dewasa berwarna coklat kehitaman. Larva
hidup dalam air, pupa pada tepi kolam dan dewasa dapat terbang dan dapat hidup
di air. Parasit ini dikenal dengan nama daerah yaitu ucrit dan water tiger.

5. Chironomus sp.
Klasifikasi Chironomus sp. adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Sub filum : Hexapoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Chironomidae
Genus : Chironomus
Spesies : Chironomus sp.

Gambar 5. Chironomus sp.

Chironomus dewasa memiliki sayap sedangkan pada fase larva berperan


sebagai vektor bagi parasit cacing ikan trematoda. Parasit ini memiliki siklus
hidup holometabola. Larva berwarna merah dan bersegmen-segmen serta
bentuknya seperti cacing. Chironomus dikenal sebagai cacing darah. Cacing ini
terdiri atas kepala dan tubuh (abdomen bersegmen sebanyak 12 buah). Pada
bagian posterior tubuh terdapat protuberan (pseudopod) da nada gills serta duri
pada siphon. Didekat thorax terdapat proleg dan dikepala terdapat mata, antenna
dan mulut.
Larva adalah fase hidup yang paling lama, diperkirakan mencapai satu bulan
untuk daerah tropis dan dapat mencapai satu tahun untuk daerah bermusim empat.
Larva chironomida ini memiliki tipe dan cara makan yang bervariasi, ada yang
bersifat detritivor yakni memakan organisme yang sudah mati, grazer yaitu
memakan algae dan fitoplankton, dan ada pula yang bersifat predator atau
memangsa avertebrata lain yang lebih kecil (Farhani 2012).
Chironomus, adalah salah satu pakan alami yang penting bagi berbagai jenis
ikan dan udang. Kandungan protein larva Chironomus mencapai 56,60% serta
lemak 2,80%. Selain itu juga mengandung pigmen karoten berupa astaxanthin
(Priyambodo dan Wahyuningsih, 2003). Darwisito (1997) dalam Tridayanti
(2000) mengatakan bahwa kandungan protein cacing tersebut mencapai 60% yang
mudah dicerna oleh ikan. Larva Chironomus banyak terdapat diperairan yang
mengandung bahan organik tinggi.
6. Simulium sp.
Klasifikasi Simulium sp. adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Nematocera
Famili : Simulidae
Genus : Simulium
Spesies : Simulium sp.

Gambar 6. Simulium sp.


(Sumber : cal.vet.upenn.edu)

Larva Simulium sp. memiliki bentuk tubuh yang memanjang dan hidupnya
melekat pada batu atau tanaman air dengan bagian posterior abdomennya yang
berduri. Kelapanya mempunyai titik mata dan rambut-rambut mulut yang
digunakan untuk menggerakkan air sehingga dapat memperoleh makanan dari air.
Tubuh Simulium sp. terdiri atas kepala dan abdomen serta mempunyai proleg di
segmen pertama abdomen. Parasit ini dikenal dengan nama black flies atau
buffalo gnats. Simulium sp. biasanya berkembang biak pada air yang mengalir dan
mencari makan pada siang hari.

7. Culex sp.
Klasifikasi Culex sp. adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Nematocera
Famili : Culicidae
Genus : Culex
Spesies : Culex sp.
Gambar 7. Culex sp.
(Sumber : zoology.ubc.ca)

Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit
yang penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese enchepalitis, St Louis
encephalitis. Parasit ini memiliki ciri morfologi yaitu pada hewan dewas memiliki
sayap dan terdiri atas hewan jantan dan betina. Nyamuk dewasa dapat berukuran 4
10 mm. Dalam morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum:
kepala, dada, dan perut. Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia
yaitu jenis Culex quinquefasciatus. Siklus hidup Culex sp memiliki tipe
holometabola, berikut adalah uraiannya :

1. Telur
Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies
nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan
telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit
sehingga mampu untuk mengapung.
2. Larva
Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari.
Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperatur, tempat
perindukan dan ada tidaknya hewan predator. Pada kondisi optimum waktu yang
dibutuhkan mulai dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari.
3. Pupa
Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada
stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga
dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua
hari. Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan
selama fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi
nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air.
4. Dewasa
Setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin dan nyamuk
betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu 24-36 jam. Darah
merupakan sumber protein yang esensial untuk mematangkan telur.
Perkembangan telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari.

Nyamuk Culex sp suka berkembang biak di sembarang tempat misalnya di


air bersih dan air yang kotor yaitu genangan air, got terbuka dan empang ikan.
Nyamuk Culex sp suka menggigit manusia dan hewan terutama pada malam hari.
8. Acarus sp.
Klasifikasi dari Acarus sp. menurut Trimariani (2013) adalah sebagai
berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnoidea
Ordo : Acarina
Famili : Acaridae
Genus : Acarus
Spesies : Acarus sp.

Gambar 8. Acarus sp.


(Sumber : delusion.ucdavis.edu)
Acarus sp. mempunyai kapitulum dengan alat mulut yang disebut dengan
chelicera. Siklus hidup parasit ini memiliki tipe metabola. Pada saat fase larva
Acarus sp. memiliki kaki sebanyak 3 pasang sedangkan pada saat fase dewasa
memiliki kaki sebanyak 4 pasang. Di daerah kapitulum terdapat sepasang antenna.
Acarus sp. merupakan jenis ektoparasit yang menyerang pada bagian kulit, sisik
dan insang ikan. Pada beberapa saat parasit ini dapat ditemukan dalam bentuk
kista pada oesophagus ikan.

9. Cymothoa stromatei
Klasifikasi Cymothoa stromatei maenurut Trimariani (2013) adalah sebagai
berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Isopoda
Famili : Cymothoidae
Genus : Cymothoa
Spesies : Cymothoa stromatei

Gambar 9. Cymothoa stromatei


(Sumber : scielo.br)

Cymothoa stromatei memiliki ciri morfologi yaitu tubuhnya terdiri atas tiga
bagian yaitu kepala (cephalon) yang tidak bersegmen, terdapat dua pasang
antenna dan sebuah mulut, mempunyai maxiliped, berperaeon yang terdiri atas
tujuh segmen yang membawa sepasang kaki (pereopod) pada tiap segmennya.
Kaki Cymothoa digunakan untuk berjalan atau untuk mencengkram atau
menempelkan diri pada inang. Bagian ketiga dari tubuhnya adalah pleon yang
terdiri dari enam segmen dans etiap segmen dari segmen 1 sampai denan 5
mempunyai kaki renang yang beramus (pleopod). Segmen ke enam dari tubuhnya
(pleotelson) bentuknya horizontal yang berbentuk sirip di iringi oleh uropod yang
beramus. Parasit ini dikenal dengan sebutan kutu lidah.

10. Ichthyoxenos jellinghausii


Klasifikasi Ichthyoxenos jellinghausii menurut Trimariani (2013) adalah
sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Isopoda
Famili : Cymothoidae
Genus : Ichthyoxenos
Spesies : Ichthyoxenos jellinghausii

Gambar 10. Ichthyoxenos sp. (Cymothoidae)


(Sumber : invertebase.org)

Ichthyoxenos jellinghayusii mempunyaiciri morfologi yaitu badannya


berbentuk lonjong dan simetris, kepalanya kecil dan melipat dalam segmen
peraeon, tetapi pada bagian belakangnya tidak berlobus tiga. Segmen pertama
pada peraeon lebih panjang dari yang lain. Selain itu parasit ini mempunyai
sepasang antenna, antenna pertama pendek sekali dan melebar sedangkan antenna
kedua panjang. Bagian pleotelson dan uropod tidak berambut. Ichthyoxenos
jellinghausii dikenal dengan nama sonkeat yang berhabitat di air tawar. Hewan
jantan dan hewan betinanya terpisah.

11. Ergasilus sp.


Klasifikasi Ergasilus sp. menurut Trimariani (2013) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Copepoda
Famili : Lernaeidae
Genus : Ergasilus
Spesies : Ergasilus sp.

Gambar 11. Ergasilus sp.


(Sumber : elacuarista.com)

Ergasilus sp. mempunyai ciri morfologi berupa tubuh yang berbentuk


lonjong, pada daerah anterior kaki berbentuk capit yang digunakan untuk
meletakan diri pada inang, Ergasilus betina mempunyai kantung telur di bagian
posterior, berkembang biak dengan bertelur, tubuh yang bersegmen-segmen dan
memiliki kaki 3-4 pasang. Tubuhnya terdiri dari bagian kepala, thorax dan
abdomen. Kulit luar yang merupakan kerangka terdiri dari zat kitin yang keras.
Parasit dari kelompok ini ada yang berperan sebagai vektor, predator dan inang
perantara bagi beberapa penyakit pada ikan dan hewan ternak lainnya. Bentuk
tubuh Ergasilus hamper mirip dengan Cyclops, bedanya pada sepasang antenna
yang berbentuk seperti penjepit pada Ergasilus.
Ergasilus ini mirip dengan Lernea, keduanya memiliki salah satu ujung
yang bercagak membentuk pengait yang akan digunakan untuk menusuk kulit
pada bagian insang ikan. Ergasilus betina akan menyerang dan menempel pada
ikan sebagai parasite, sedangkan Ergasilus jantan akan berenang bebas sebagai
plankton.

12. Nepa rubra


Klasifikasi Nepa rubra menurut Trimariani (2013) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Nepadidae
Genus : Nepa
Spesies : Nepa rubra

Gambar 12. Nepa rubra


(Sumber : 2.bp.blogspot.com)

Nepa rubra merupakan salah satu insekta predator yang termasuk kedalam
family Nepadidae. Nepa rubra lebih dikenal dengan nama water scorpion karena
mirip dengan kalajengking. Nepa rubra memiliki kaki depan yang berbentuk
seperti capit dan ekornya yang panjang berdungsi sebagai alat pernafasan. Tubuh
Nepa rubra berbentuk oval pipih dan berwarna kecoklatan. Tubuh Nepa rubra
terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, thorax dan abdomen. Selain itu, hewan
ini mempunyai dua mata faset hitam yang besar dan mulut proboscis yang bertipe
penusuk, penghisap dan dapat dilipat ke bagian ventral bila beristirahat dan tegak
bila sedang menghisap.
Nepa rubra lebih sering ditemukan di daerah perairan yang dangkal dan
alirannya tenang. Makanan Nepa rubra adalah berbagai serangga air seperti larva
nyamuk, kumbang air, nimfa capung, ikan kecil dan krustasea kecil.

13. Lethoceros americanus


Klasifikasi Lethoceros americanus menurut Trimariani (2013) adalah
sebagai berikut :
Fiium : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Belastomatidae
Genus : Lethoceros
Spesies : Lethoceros americanus

Gambar 13. Lethoceros sp.


(Sumber : bugguide.net)

Lethoceros americanus memiliki warna tubuh coklat, bersayap dan berperan


sebagai predator. Mulutnya bertipe penusuk dan penghisap yang letaknya
melengkung kearah ventral dalam keadaan istirahat dan tegak ketika sedang
menghisap. Siklus hidup hewan ini bertipe hemimetabola atau tidak sempurna,
dengan stadiumnya yaitu telur-nympha-dewasa jantan dan betina. Telur Nepa
rubra dierami oleh hewan jantan pada punggungnya. Hewan ini lebih dikenal
dengan nama giant water bug atau kepik raksasa.
DAFTAR PUSTAKA

Trimariani, Agnes. 2013. Buku Petunjuk Praktikum Parasitilogi. Fakultas


Perikanan dan Ilmu elautan Universitas Padjadjaran.
Farhani, Siti Anindita. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus
sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium.
Skripsi Institut Pertanian Bogor. Hal 17-20
Priyambodo dan T. Wahyuningsih. 2003. Budidaya Pakan Alami. Penebar
Swadaya. Jakarta. Hal :51-62
Tridayanti, S. 2000. Daur Hidup dan Pertumbuhan Chironomus sp. (Chironomus:
Diptera) pada kondisi laoratorium. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Afrianto, Eddy. Liviawaty, Evi. Jamaris, Zafran dan Hendi. 2015. Penyakit Ikan.
Jakarta. Hal: 131-134