Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH INFLASI DAN NILAI TUKAR TERHADAP EKSPOR INDONESIA

KOMODITI TEKSTIL DAN ELEKTRONIKA KE KOREA SELATAN


(Studi Sebelum dan Setelah ASEAN Korea Free Trade Agreement Tahun 2011)

RAy Fani Arning Putri


Suhadak
Sri Sulasmiyati
Fakultas Ilmu Administrasi
Universitas Brawijaya
Malang
E-Mail : faniaapf@gmail.com

ABSTRACT

This research aims to determine the effects of inflation and exchange rate simultaneously and partially on the
Indonesia export textile and electronics commodities to South Korea before and after ASEAN Korea Free
Trade Agreement (AKFTA) 2011. This type of research is explanatory research with quantitative approach.
The population in this study is all the time series data of the inflation, exchange rates, and Indonesia export
textile and electronics commodities to South Korea. Time series data as much as 36 periods January 2009-
December 2011 and January 2012-December 2014 as the research sample. The data analysis used in this
research is multiple linear regression analysis. The results showed that the inflation and exchange rates
simultaneously and partially have a significant effect on the Indonesia export electronics commodity to South
Korea before AKFTA 2011 but the rest have no significant effect.

Keywords : Inflation, Exchange Rate, Export, Textile, Electronics, AKFTA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi dan nilai tukar secara simultan dan parsial terhadap
ekspor Indonesia komoditi tekstil dan elektronika ke Korea Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan ASEAN
Korea Free Trade Agreement (AKFTA) tahun 2011. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
penjelasan dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan data time series
dari inflasi, nilai tukar, dan ekspor Indonesia komoditi tekstil dan elektronika ke Korea Selatan. Sebanyak 36
data periode Januari 2009-Desember 2011 dan Januari 2012-Desember 2014 dijadikan sampel penelitian.
Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa inflasi
dan nilai tukar berpengaruh signifikan secara parsial dan simultan terhadap ekspor Indonesia komoditi
elektronika ke Korea Selatan sebelum AKFTA tahun 2011 namun sisanya tidak berpengaruh secara signifikan.

Kata Kunci : Inflasi, Nilai Tukar, Ekspor, Tekstil, Elektronika, AKFTA

Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 127


administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
PENDAHULUAN Free Trade Area, 2012). Setiawan (2012) dalam
Globalisasi merupakan gerbang pembuka penelitiannya menjelaskan bahwa AKFTA
hubungan kerjasama antara satu negara dengan bertujuan untuk dapat memacu percepatan aliran
negara yang lain. Proses integrasi antar negara yang barang, jasa, dan investasi di antara negara anggota
terjadi pada skala global mewujudkan adanya sehingga terbentuk suatu kawasan perdagangan
globalisasi pasar dan globalisasi produksi. bebas.
Globalisasi pasar mengacu pada penggabungan Kawasan perdagangan bebas yang tercipta
pasar nasional yang terpisah menjadi satu pasar karena adanya AKFTA, membuka peluang lebar
global yang besar (Hill, 2008:8). Globalisasi pasar bagi Indonesia untuk meningkatkan transaksi
dan globalisasi produksi inilah yang menciptakan internasionalnya yaitu dengan melakukan ekspor.
adanya perdagangan internasional antar negara. Barang yang diekspor oleh suatu negara meliputi
Perdagangan internasional merupakan bentuk berbagai macam komoditi, diantaranya adalah:
kerja sama ekonomi antar dua negara atau lebih tekstil; elektronika; alas kaki; karet dan olahan karet;
yang memberikan manfaat secara langsung. Bentuk kelapa sawit; hasil hutan; olahan aluminium; dan
kerja sama antar negara ini dapat berupa kegiatan lain sebagainya. Industri tekstil dan elektronik
ekspor ataupun impor. Negara-negara yang memiliki peran yang cukup besar dalam ekspor.
melakukan kerja sama ekonomi, secara langsung Hasil industri tekstil dan elektronik menduduji
akan meningkatkan penggunaan barang dan jasa. peringkat pertama dan kedua dalam sepuluh besar
Peningkatan penggunaan barang dan jasa akan hasil industri utama Indonesia yang diekspor ke
membentuk hubungan saling ketergantungan antar Korea Selatan, disamping olahan karet, minyak
negara (Rahardja dan Manurung, 2008:80). Uraian kelapa sawit, hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang,
tersebut menggambarkan argumen dasar cokelat, dan kopi (Kementrian Perindustrian
terbentuknya free trade atau perdagangan bebas Republik Indonesia, 2015).
antar negara. Pemberlakuan AKFTA tersebut tidaklah cukup
Perdagangan bebas dapat mendatangkan untuk mengukur nilai ekspor Indonesia ke Korea
keuntungan bagi negara pelakunya. Meski dapat Selatan. Angka-angka yang menunjukkan
mendatangkan keuntungan, perdagangan bebas ini kontribusi positif terhadap ekspor tersebut
masih menjumpai adanya restriction atau batasan memerlukan tinjauan lebih lanjut terkait dengan
dalam pelaksanaannya. Batasan perdagangan ini indikator makroekonomi yang mempengaruhinya.
diperjelas dengan adanya pemberlakuan kebijakan Menurut Mahendra dan Kesumajaya (2015) dalam
perdagangan luar negeri. Kebijakan perdagangan penelitiannya menjelaskan bahwa faktor yang
(trade policy) merupakan kebijakan yang dibuat mempengaruhi ekspor Indonesia adalah investasi,
pemerintah untuk mempengaruhi arah transaksi inflasi, inflasi, kurs, dan suku bunga kredit. Rahman
perdagangan dan pembayaran internasional. dan Serletis (2009) dalam pada penelitiannya
Kebijakan perdagangan ini akan mempengaruhi berpendapat bahwa ketidakpastian nilai tukar
jumlah barang diekspor atau diimpor dari suatu berpengaruh signifikan secara statistik dan ekonomi
negara (Mankiw, 2012:270). Seiring berjalannya terhadap ekspor.
waktu, kebijakan perdagangan luar negeri terus
berkembang hingga melahirkan adanya kerjasama KAJIAN PUSTAKA
antar negara yang dikenal dengan sebutan Free Inflasi
Trade Agreement (FTA). FTA merupakan Inflasi adalah kenaikan harga yang terjadi pada
perjanjian kerjasama perdagangan antar dua negara suatu perekonomian negara. Hal ini sesuai dengan
atau lebih yang terbentuk untuk mengurangi dan pendapat Dornbusch et al., (2008:39) yang
menghilangkan hambatan perdagangan, tariff, dan menyatakan bahwa Inflation is the rate of change
non-tarif (BPPK Kemenlu RI, 2010:1). in prices, and the price level is the cumulation of
FTA terus menerus mengalami peningkatan past inflations. Tingkat inflasi yang terjadi pada
terbukti dengan semakin banyaknya negara yang suatu negara diukur berdasarkan indikator tertentu.
berminat besar untuk melakukan FTA baik secara Indikator yang paling banyak digunakan adalah
bilateral maupun regional. Salah satu kerjasama Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer
yang terbentuk secara regional adalah ASEAN- Price Index (CPI). CPI merupakan indeks harga
Korea Free Trade Agreement. Perjanjian ini dari barang-barang yang selalu digunakan para
melibatkan negara dalam kawasan ASEAN dengan konsumen (Sukirno, 2012:19). Tingkat inflasi
Korea Selatan. AKFTA ini sebagai bentuk tindak ditentukan dengan cara membandingkan CPI yang
lanjut atas ASEAN-Korea Summit yang diadakan terjadi pada tahun tertentu dengan tahun
pada tahun 2003 di Bali, Indonesia (ASEAN-Korea sebelumnya.
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 128
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
Nilai Tukar tersebut tidak bersaing di pasar global. Ball
Nilai tukar adalah harga dari mata uang asing (2005:281) menyatakan bahwa ketika tingkat inflasi
yang harus dibayarkan dengan sejumlah nilai mata tinggi akan mengakibatkan harga barang dan jasa
uang tertentu. Sejumlah nilai mata uang tertentu ini yang dihasilkan atau ditawarkan oleh suatu negara
diperlukan agar mata uang tersebut dapat digunakan akan meningkat sehingga barang dan jasa tersebut
dalam kegiatan ekonomi. Anindita dan Reed menjadi kurang kompetitif dan ekspor akan turun.
(2008:103) menjelaskan bahwa nilai tukar mata Selain memiliki pengaruh negatif, inflasi juga
uang suatu negara harus ditentukan dalam sistem dapat berpengaruh positif terhadap ekspor.
perekonomian. Nilai tukar terbagi menjadi dua, Pengaruh positif dari inflasi yaitu ekspor suatu
yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. negara dapat meningkat karena modal dari hutang
Tiap negara memiliki sistem penentuan nilai atau pinjaman untuk menghasilkan barang dan jasa
tukar yang berbeda sesuai dengan kebijakan bank meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Ball
sentral dan kondisi perekonomiannya. There are (2005:280-281), yaitu ketika inflasi tinggi maka
several types of exchange rates system, fixed akan mendorong dilakukannya pinjaman, pinjaman
exchange rate system, flexible floating exchange tersebut akan dibayarkan kembali dengan uang yang
rate system, and undermanaged floating lebih rendah nilainya.
(Dornbusch et al., 2008:283). Indonesia
menggunakan sistem nilai tukar mengambang Nilai Tukar dan Ekspor
terkendali (undermanaged floating). Sistem nilai Nilai tukar dapat berpengaruh positif dan negatif
tukar mengambang terkendali membutuhkan terhadap ekspor. Pengaruh positif terjadi ketika
intervensi langsung dari pemerintah dalam penguatan nilai tukar dapat mempengaruhi ekspor
pelaksananya, sehingga nilai tukar tidak ditentukan sehingga ekspor dapat bertambah. Nilai tukar dapat
secara bebas sepenuhnya berdasarkan permintaan mempengaruhi harga suatu barang yang diekspor,
dan penawaran yang terjadi di pasar. sehingga ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar
menguat, maka harga barang ekspor akan naik.
Ekspor Mankiw (2012:67) menjelaskan bahwa ketika harga
Ekspor merupakan barang dan jasa yang suatu barang naik maka jumlah barang yang diminta
diproduksi di dalam negeri dan dijual secara bebas akan turun dan ketika harga turun, maka jumlah
di luar negeri (Mankiw, 2012:230). Negara yang barang yang diminta akan naik. Pengaruh negatif
telah menerapkan sistem perekonomian terbuka dari nilai tukar terjadi ketika nilai tukar mengalami
akan berinteraksi secara bebas dengan pelemahan, maka ekspor naik atau bertambah.
perekonomian lain di seluruh dunia. Salah satu Sukirno (2012:408) menjelaskan bahwa ketika nilai
kegiatan interaksi perekonomian secara rupiah turun atau terjadi devaluasi mata uang, maka
internasional adalah dengan melakukan ekspor ekspor akan bertambah, karena di pasaran luar
barang dan jasa. negeri, ekspor negara menjadi lebih murah.
Ekspor pada suatu negara dapat dipengaruhi oleh
beragam faktor, baik itu merupakan faktor dari ASEAN Korea Free Trade Agreement
dalam negeri maupun luar negeri. Sukirno Free Trade Agreement (FTA) adalah perjanjian
(2012:205) dan Mankiw (2012:377) menjelaskan kerjasama perdagangan antara dua negara atau lebih
bahwa ekspor dapat dipengaruhi oleh beberapa yang bertujuan untuk mengurangi atau
faktor, yaitu: kemampuan suatu negara dalam menghapuskan tarif dagang (BPPK Kemenlu RI,
memproduksi barang diekspor, dalam hal ini adalah 2009:53). FTA ini muncul karena adanya
mutu dan harga barang diekspor, cita rasa penduduk kesepakatan tertentu yang telah diterima secara
luar negeri, nilai tukar, pendapatan masyarakat, internasional antara negara-negara yang
biaya transportasi barang, dan kebijakan pemerintah menandatangani perjanjian. FTA dapat berupa
terkait dengan perdagangan internasional. perjanjian perdagangan dalam bentuk barang (trade
in goods) dan jasa (trade in services).
Inflasi dan Ekspor ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA)
Inflasi dapat memberikan pengaruh yang negatif adalah perjanjian perdagangan yang berisi
ataupun positif terhadap ekspor. Pengaruh negatif pengurangan dan penghapusan tarif dan hambatan
dari inflasi yaitu ketika terjadi inflasi, maka harga lainnya untuk mewujudkan adanya ASEAN-Korea
komoditi akan meningkat. Peningkatan harga Free Trade Area (ASEAN-Korea Free Trade Area,
komoditi disebabkan produksi untuk menghasilkan 2012). AKFTA ini menjadi dasar pertimbangan
komoditi menghabiskan banyak biaya. Harga Menteri Keuangan Indonesia untuk menyusun
komoditi yang mahal akan membuat komoditi penetapan tarif bea masuk impor dan besaran tarif
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 129
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
yang ditetapkan merupakan penerapan asas timbal antara variabel-variabel melalui pengujian
balik untuk barang ekspor Indonesia ke Korea hipotesis.
Selatan.
Lokasi Penelitian
Hipotesis Penelitian ini dilaksanakan pada Badan Pusat
Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) dengan
Ekspor Indonesia Komoditi pertimbangan yaitu BPS dan BI menyediakan data
H1
Tekstil ke Korea Selatan bulanan yang lengkap dan akurat atas data ekspor
Sebelum dan Setelah Indonesia komoditi tekstil dan elektronika ke Korea
Inflasi H2 Pemberlakuan AKFTA
(X1) Tahun 2011 Selatan, inflasi, dan nilai tukar.
(Y1 dan Y2)
Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas
(independent variable) dan empat variabel terikat
Ekspor Indonesia Komoditi (dependent variable). Variabel bebas dalam
Nilai H4 Elektronika ke Korea
Tukar Selatan Sebelum dan penelitian ini adalah inflasi (X1) dan nilai tukar (X2).
(X2) Setelah Pemberlakuan Variabel terikat pada penelitian ini adalah ekspor
H3
AKFTA Tahun 2011 Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
(Y3 dan Y4)
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA tahun
2011 yang dilambangkan dengan Y1 dan Y2 dan
Keterangan : ekspor Indonesia komoditi elektronika ke Korea
= pengaruh secara parsial
= pengaruh secara simultan Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA
tahun 2011 yang dilambangkan dengan Y3 dan Y4.
Gambar 1. Model Hipotesis
Sumber : Diolah Peneliti, 2016 Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan
H1 : Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh data time series bulanan pada tahun 2009-2014 dari
signifikan secara simultan terhadap ekspor variabel inflasi, nilai tukar, dan ekspor Indonesia
Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan komoditi tekstil dan elektronika ke Korea Selatan.
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tahun 2011 (Y1 dan Y2); seluruh populasi penelitian dengan jumlah sampel
H2 : Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh 72 (12 bulan x 3 tahun x 2). Sampel ini didapat dari
signifikan secara parsial terhadap ekspor data sekunder bulanan sebelum pemberlakukan
Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan AKFTA (Januari 2009-Desember 2011) dan setelah
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA pemberlakuan AKFTA (Januari 2012-Desember
tahun 2011 (Y1 dan Y2); 2014) yang meliputi inflasi, nilai tukar, dan ekspor
H3 : Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh Indonesia komoditi tekstil dan elektronika ke Korea
signifikan secara simultan terhadap ekspor Selatan.
Indonesia komoditi elektronika ke Korea
Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan Teknik Pengumpulan Data
AKFTA tahun 2011 (Y3 dan Y4); Metode pengumpulan data pada penelitian ini
H4 : Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh menggunakan metode dokumentasi. Data pada
signifikan secara parsial terhadap ekspor penelitian ini adalah data time series bulanan. Data
Indonesia komoditi elektronika ke Korea diperoleh dari sumber sekunder yang berupa
Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan pengumpulan data dari dokumen. Dokumen
AKFTA tahun 2011 (Y3 dan Y4). bersumber dari data yang dikeluarkan dan
dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik dan Bank
METODE PENELITIAN Indonesia.
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan Teknik Analisis Data
(explanatory research) dengan pendekatan 1. Pengujian Asumsi Klasik
kuantitatif. Singarimbun (2006:5) menjelaskan Pengujian asumsi klasik perlu dilakukan untuk
bahwa Explanatory research merupakan memenuhi asumsi analisis regresi linier berganda.
penelitian yang menjelaskan hubungan kausal Pengujian asumsi klasik pada penelitian ini adalah

Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 130


administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji tidak terdapat autokorelasi pada keempat model
multikolinearitas, dan uji autokorelasi. regresi.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Ghozali (2011:7) menjelaskan regresi berganda Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
(multiple regression) adalah metode statistik untuk Hasil penghitungan koefisien regresi untuk
menguji pengaruh lebih dari satu variabel bebas keempat garis regresi pada penelitian ini akan
terhadap satu atau lebih variabel terikat. disajikan pada tabel berikut ini.
3. Pengujian Hipotesis
a. Koefisien Determinasi (R2) Tabel 1. Hasil Regresi Ekspor Tekstil Sebelum
Koefisien determinasi (R2) adalah pengukuran AKFTA Tahun 2011
Coefficientsa
kemampuan model dalam menerangkan variasi
Unstandardized Standardized
variabel dependen. Coefficients Coefficients
b. Uji Simultan (Uji F) Std.
Model B Error Beta t Sig.
Uji simultan dengan uji F digunakan untuk 1 (Constant) .155 .083 1.861 .072
menguji adanya pengaruh variabel bebas secara Lag Inflasi .003 .009 .066 .388 .701
bersama-sama terhadap variabel terikat. Lag Nilai
-.643 .389 -.280 -1.654 .108
Tukar
c. Uji Parsial (Uji t)
a. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea
Uji t berfungsi untuk menguji adanya pengaruh Selatan Sebelum AKFTA
secara parsial atau individual antara variabel bebas Sumber : Diolah Peneliti, 2016
terhadap variabel terikat.
Berdasarkan tabel 1, didapatkan model regresi linier
PEMBAHASAN berganda sebagai berikut,
Hasil Pengujian Asumsi Klasik Y1 = 0.155 + 0.003 X1 - 0.643 X2
1. Uji Normalitas
Hasil uji normalitas untuk empat garis regresi Tabel 2. Hasil Regresi Ekspor Tekstil Setelah
pada penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa data AKFTA Tahun 2011
Coefficientsa
(titik) menyebar di sekitar garis diagonal dan Unstandardized Standardized
mengikuti arah garis diagonal. Berdasarkan grafik Coefficients Coefficients
normal plot tersebut, dapat disimpulkan bahwa Std.
Model B Error Beta t Sig.
keempat model regresi memenuhi asumsi 1 (Constant) .880 .250 3.520 .001
normalitas. Lag Inflasi .005 .011 .093 .428 .672
2. Uji Heterokedastisitas Lag Nilai
.111 .332 .072 .333 .741
Tukar
Hasil uji heterokedastisitas untuk empat garis a. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea
regresi pada penelitian ini menunjukkan bahwa Selatan Setelah AKFTA
tidak terdapat pola yang jelas, serta titik-titik Sumber : Diolah Peneliti, 2016
menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu
y. Berdasarkan grafik scatterplot tersebut, dapat Berdasarkan tabel 2, didapatkan model regresi linier
disimpulkan bahwa keempat model regresi tidak berganda sebagai berikut,
terjadi heterokedastisitas atau terjadi Y2 = 0.880 + 0.005 X1 + 0.111 X2
homoskedastisitas.
Tabel 3. Hasil Regresi Ekspor Elektronika
3. Uji Multikolinearitas
Sebelum AKFTA Tahun 2011
Hasil uji multikolinearitas keempat garis regresi Coefficientsa
pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai VIF Unstandardized Standardized
untuk masing-masing variabel inflasi dan nilai tukar Coefficients Coefficients
Std.
kurang dari 10. Berdasarkan nilai VIF pada tabel, Model B Error Beta t Sig.
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat 1 (Constant) 2.936 .254 11.573 .000
multikolinearitas antar variabel bebas pada keempat Inflasi .016 .007 .178 2.172 .037
model regresi Nilai Tukar - -
.265 -.925 .000
2.985 11.271
4. Uji Autokorelasi a. Dependent Variable: Ekspor Elektronika Indonesia ke Korea
Hasil uji autokorelasi untuk keempat garis Selatan Sebelum AKFTA
regresi pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Sumber : Diolah Peneliti, 2016
DW lebih besar dari batas atas (du) dan kurang dari
4-(du), yaitu 1.587 < DW < 2.413. Berdasarkan Berdasarkan tabel 3, didapatkan model regresi linier
asumsi (du<DW<4-du) dapat disimpulkan bahwa berganda sebagai berikut,
Y3 = 2.936 + 0.016 X1 - 2.985 X2
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 131
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
Tabel 4. Hasil Regresi Ekspor Elektronika Setelah Tabel 6. Koefisien Determinasi Ekspor Tekstil
AKFTA Tahun 2011 Setelah AKFTA Tahun 2011
Coefficientsa Model Summaryb
Unstandardized Standardized Model R R Square Adjusted R Square
Coefficients Coefficients
1 .148a .022 -.039
Std.
Model B Error Beta t Sig. a. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi
1 (Constant) .699 .212 3.299 .002 b. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea Selatan
Lag Inflasi -.001 .012 -.013-.062 .951 Setelah AKFTA
Lag Nilai
.100 .353 .061 .285 .778 Sumber : Diolah Peneliti, 2016
Tukar
a. Dependent Variable: Lag Ekspor Elektronika Indonesia ke
Korea Selatan Setelah AKFTA Berdasarkan tabel 6, diperoleh nilai (R2) sebesar
Sumber : Diolah Peneliti, 2016 0.022. Nilai tersebut berarti 2.2% variabel ekspor
Berdasarkan tabel 4, didapatkan model regresi linier Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan setelah
berganda sebagai berikut, pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y2)
Y4 = 0.699 - 0.001 X1 + 0.100 X2 dipengaruhi oleh variabel inflasi dan nilai tukar,
sedangkan sisanya 97.8% variabel Y2 dipengaruhi
Hasil Pengujian Hipotesis oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam
1. Koefisien Determinasi (R2) penelitian ini.
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk
mengukur besarnya kontribusi atau pengaruh Tabel 7. Koefisien Determinasi Ekspor
variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel Elektronika Sebelum AKFTA Tahun 2011
Model Summaryb
bebas pada penelitian ini yaitu inflasi (X1) dan nilai
Model R R Square Adjusted R Square
tukar (X2) sedangkan variabel terikatnya yaitu
a
1 .892 .795 .783
ekspor Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar, Inflasi
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA tahun
b. Dependent Variable: Ekspor Elektronika Indonesia ke Korea Selatan
2011 (Y1 dan Y2) dan ekspor Indonesia komoditi Sebelum AKFTA
elektronika ke Korea Selatan sebelum dan setelah
Sumber : Diolah Peneliti, 2016
pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y3 dan Y4).
Besarnya kontribusi variabel bebas terhadap
Berdasarkan tabel 7, diperoleh nilai (R2) sebesar
variabel terikat diukur dengan melihat nilai R2. Nilai
koefisien determinasi untuk keempat garis regresi 0.795. Nilai tersebut berarti 79.5% variabel ekspor
pada penelitian ini akan disajikan pada tabel berikut Indonesia komoditi elektronika ke Korea Selatan
ini. sebelum pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y3)
dipengaruhi oleh variabel inflasi dan nilai tukar,
Tabel 5. Koefisien Determinasi Ekspor Tekstil sedangkan sisanya 20.5% variabel Y3 dipengaruhi
Sebelum AKFTA Tahun 2011 oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam
Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square


penelitian ini.
a
1 .287 .083 .025
Tabel 8. Koefisien Determinasi Ekspor
a. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi
Elektronika Setelah AKFTA Tahun 2011
b. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea Selatan Model Summaryb
Sebelum AKFTA
Model R R Square Adjusted R Square
Sumber : Diolah Peneliti, 2016 1 .055a
.003 -.059

a. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi


Berdasarkan tabel 5, diperoleh nilai (R2) sebesar
b. Dependent Variable: Lag Ekspor Elektronika Indonesia ke Korea Selatan
0.083. Nilai tersebut berarti 8.3% variabel ekspor Setelah AKFTA
Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan Sumber : Diolah Peneliti, 2016
sebelum pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y1)
dipengaruhi oleh variabel inflasi dan nilai tukar, Berdasarkan tabel 8, diperoleh nilai R Square (R2)
sedangkan sisanya 91.7% variabel Y1 dipengaruhi sebesar 0.003. Nilai tersebut berarti 0.3% variabel
oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam ekspor Indonesia komoditi elektronika ke Korea
penelitian ini. Selatan setelah pemberlakuan AKFTA tahun 2011
(Y4) dipengaruhi oleh variabel inflasi dan nilai tukar,
sedangkan sisanya 99.7% variabel Y4 dipengaruhi

Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 132


administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam Berdasarkan tabel 11, diketahui bahwa nilai sig.F
penelitian ini. (0.000) < = 0.05. Hal ini berarti H0 ditolak dan H3
diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa
2. Uji Simultan (Uji F) variabel Y3 dapat dipengaruhi signifikan secara
Hasil uji F untuk keempat garis regresi pada simultan oleh variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan
penelitian ini akan disajikan pada tabel berikut ini. nilai tukar (X2).
Tabel 9. Hasil Uji F Regresi Ekspor Tekstil
Tabel 12. Hasil Uji F Regresi Ekspor Elektronika
Sebelum AKFTA Tahun 2011
Setelah AKFTA Tahun 2011
ANOVAa

Sum of ANOVAa
Model Squares df Mean Square F Sig.
Sum of Mean
1 Regression .000 2 .000 1.441 .252b Model Squares df Square F Sig.
Residual .000 32 .000 1 Regression .000 2 .000 .048 .953b
Residual .001 32 .000
Total .000 34
Total .001 34
a. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea Selatan
Sebelum AKFTA a. Dependent Variable: Lag Ekspor Indonesia Komoditi Elektronika ke
b. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi Korea Selatan Setelah AKFTA
b. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi
Sumber : Diolah Peneliti, 2016
Sumber : Diolah Peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 9, diketahui bahwa nilai sig.F
Berdasarkan tabel 12, diketahui bahwa nilai sig.F
(0.252) > = 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan
(0.953) > = 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan
H1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa
variabel Y1 tidak dipengaruhi signifikan secara H3 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa
simultan oleh variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan variabel Y4 tidak dipengaruhi signifikan secara
nilai tukar (X2). simultan oleh variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan
nilai tukar (X2).
Tabel 10. Hasil Uji F Regresi Ekspor Tekstil
Setelah AKFTA Tahun 2011 3. Uji Parsial (Uji t)
ANOVAa a. Regresi Ekspor Indonesia Komoditi Tekstil ke
Sum of Korea Selatan Sebelum Pemberlakuan
Model Squares Df Mean Square F Sig. AKFTA Tahun 2011
1 Regression .000 2 .000 .357 .703b
Residual
Merujuk pada tabel 1, diketahui nilai sig.t antara
.001 32 .000
variabel inflasi (X1) dengan ekspor Indonesia
Total .000 34
komoditi tekstil ke Korea Selatan sebelum
a. Dependent Variable: Lag Ekspor Tekstil Indonesia ke Korea Selatan
Setelah AKFTA pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y1) adalah
b. Predictors: (Constant), Lag Nilai Tukar, Lag Inflasi
sebesar (0.701) > = 0.05 dan nilai sig.t antara
Sumber : Diolah Peneliti, 2016 variabel nilai tukar (X2) dan (Y1) adalah (0.108) >
Berdasarkan tabel 10, diketahui bahwa nilai sig.F = 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan H2 ditolak,
(0.703) > = 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat
H1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa (Y1) tidak dipengaruhi signifikan secara parsial oleh
variabel Y2 tidak dipengaruhi signifikan secara variabel bebas X1 dan X2.
simultan oleh variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan b. Regresi Ekspor Indonesia Komoditi Tekstil ke
nilai tukar (X2). Korea Selatan Setelah Pemberlakuan
AKFTA Tahun 2011
Tabel 11. Hasil Uji F Regresi Ekspor Elektronika Merujuk pada tabel 2, diketahui nilai sig.t antara
Sebelum AKFTA Tahun 2011 variabel inflasi (X1) dengan ekspor Indonesia
ANOVAa komoditi tekstil ke Korea Selatan setelah
Sum of pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y2) adalah
Model
1 Regression
Squares df Mean Square F Sig.
sebesar (0.672) > = 0.05 dan nilai sig.t antara
.005 2 .002 64.048 .000b
Residual .001 33 .000
variabel nilai tukar (X2) dan (Y2) adalah (0.741) >
Total
= 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan H2 ditolak,
.006 35
a. Dependent Variable: Ekspor Elektronika Indonesia ke Korea Selatan
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat
Sebelum AKFTA (Y2) tidak dipengaruhi signifikan secara parsial oleh
b. Predictors: (Constant), Nilai Tukar, Inflasi
variabel bebas X1 dan X2.
Sumber : Diolah Peneliti, 2016

Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 133


administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
c. Regresi Ekspor Indonesia Komoditi positif dan tidak signifikan terhadap ekspor
Elektronika ke Korea Selatan Sebelum Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
Pemberlakuan AKFTA Tahun 2011 sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA tahun
Merujuk pada tabel 3, diketahui nilai sig.t antara 2011 (Y1 dan Y2). Pengaruh tidak signifikan ini
variabel inflasi (X1) dengan ekspor Indonesia disebabkan terdapat faktor lain yang mempengaruhi
komoditi elektronika ke Korea Selatan sebelum ekspor Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan.
pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y3) adalah Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh
sebesar (0.037) < = 0.05 dan nilai sig.t antara Sukirno (2012) dan Mankiw (2012) bahwa ekspor
variabel nilai tukar (X2) dan (Y3) adalah (0.000) < dapat dipengaruhi oleh faktor selain keadaan
= 0.05. Hal ini berarti H0 ditolak dan H4 diterima, makroekonomi suatu negara, diantaranya karena
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat perubahan cita rasa penduduk luar negeri.
(Y3) dapat dipengaruhi signifikan secara parsial Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui
oleh variabel bebas X1 dan X2. bahwa nilai tukar (X2) secara parsial memiliki
d. Regresi Ekspor Indonesia Komoditi pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap
Elektronika ke Korea Selatan Setelah ekspor Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
Pemberlakuan AKFTA Tahun 2011 sebelum pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y1).
Merujuk pada tabel 4, diketahui nilai sig.t antara Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sukirno
variabel inflasi (X1) dengan ekspor Indonesia (2012) yang menjelaskan bahwa ketika nilai rupiah
komoditi elektronika ke Korea Selatan setelah turun maka ekspor akan bertambah, karena di
pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y4) adalah pasaran luar negeri harga barang ekspor negara
sebesar (0.951) > = 0.05 dan nilai sig.t antara menjadi lebih murah.
variabel nilai tukar (X2) dan (Y4) adalah (0.778) > Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa
= 0.05. Hal ini berarti H0 diterima dan H4 ditolak, nilai tukar (X2) secara parsial memiliki pengaruh
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat positif dan tidak signifikan terhadap ekspor
(Y4) tidak dipengaruhi signifikan secara parsial oleh Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan setelah
variabel bebas X1 dan X2. pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y2). Penguatan
rupiah menyebabkan harga barang ekspor turun,
Interpretasi Hasil Penelitian maka permintaan ekspor akan meningkat. Hasil
1. Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh penelitian ini sesuai dengan teori Mankiw (2012)
signifikan secara simultan terhadap ekspor yang menjelaskan bahwa ketika harga suatu barang
Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan naik maka jumlah barang yang diminta akan turun
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA dan ketika harga turun, maka jumlah barang yang
tahun 2011 (Y1 dan Y2) diminta akan naik. Selain itu pemberlakuan skema
Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui pembebasan tarif pada tahun 2012-2014 sudah
bahwa variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan nilai mulai diterapkan sehingga pemberlakuan AKFTA
tukar (X2) secara simultan tidak berpengaruh tahun 2011 berdampak besar pada ekspor Indonesia.
signifikan terhadap ekspor Indonesia komoditi 3. Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh
tekstil ke Korea Selatan sebelum dan setelah signifikan secara simultan terhadap ekspor
pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y1 dan Y2). Indonesia komoditi elektronika ke Korea
Pengaruh tidak signifikan ini disebabkan terdapat Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan
faktor-faktor lain yang mempengaruhi ekspor AKFTA tahun 2011 (Y3 dan Y4)
komoditi tekstil ke Korea Selatan sebelum dan Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui
setelah permberlakuan AKFTA tahun 2011. Faktor- bahwa variabel bebas, yaitu inflasi (X1) dan nilai
faktor lain yang mempengaruhi ekspor komoditi tukar (X2) secara simultan berpengaruh signifikan
tekstil tersebut menurut Yoganandan et al (2013) terhadap ekspor Indonesia komoditi elektronika ke
adalah: GDP, FDI, FTA, ketenagakerjaan, biaya dan Korea Selatan sebelum pemberlakuan AKFTA
mutu bahan baku, teknologi, serta tarif dan tahun 2011 (Y3) dan secara simultan tidak
hambatan tarif. berpengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia
2. Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh komoditi elektronika ke Korea Selatan setelah
signifikan secara parsial terhadap ekspor pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y4). Pengaruh
Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan tidak signifikan untuk garis regresi Y4 dapat
sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA disebabkan pada tahun pengamatan (2012-2014)
tahun 2011 (Y1 dan Y2) produk elektronika dunia sedang mengarah pada
Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui konsep Internet of Thing (IOT), yaitu semua barang
bahwa inflasi (X1) secara parsial memiliki pengaruh terhubung dengan internet (Kementrian
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 134
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
Perdagangan Republik Indonesia, 2015), sehingga bahwa ketika harga suatu barang naik maka jumlah
Korea Selatan sebagai pengembang sektor industri barang yang diminta akan turun dan ketika harga
Information and Communication Technology (ICT) turun, maka jumlah barang yang diminta akan naik.
mendominasi impor komoditi elektronika. Selain itu pada tahun pengamatan, skema
4. Inflasi (X1) dan nilai tukar (X2) berpengaruh pembebasan tarif untuk barang ekspor khususnya
signifikan secara parsial terhadap ekspor elektronika ke Korea Selatan telah diberlakukan
Indonesia komoditi elektronika ke Korea sehingga nilai tukar tidak berpengaruh signifikan
Selatan sebelum dan setelah pemberlakuan pada tahun pengamatan ini.
AKFTA tahun 2011 (Y3 dan Y4)
Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui KESIMPULAN DAN SARAN
bahwa inflasi (X1) secara parsial memiliki pengaruh Kesimpulan
positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia 1. Inflasi dan nilai tukar tidak berpengaruh
komoditi elektronika ke Korea Selatan sebelum signifikan secara simultan terhadap ekspor
pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y3). Keadaan Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
ini disebabkan pada tahun pengamatan inflasi di sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA
Indonesia cenderung tinggi, inflasi yang tinggi tahun 2011;
membuat modal dari hutang atau pinjaman untuk 2. Inflasi dan nilai tukar tidak berpengaruh
menghasilkan barang dan jasa meningkat. Hasil signifikan secara parsial terhadap ekspor
penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan Indonesia komoditi tekstil ke Korea Selatan
oleh Ball (2005:280-281), yaitu ketika inflasi tinggi sebelum dan setelah pemberlakuan AKFTA
maka akan mendorong dilakukannya pinjaman, tahun 2011.;
pinjaman tersebut akan dibayarkan kembali dengan 3. Inflasi dan nilai tukar berpengaruh signifikan
uang yang lebih rendah nilainya. secara simultan terhadap ekspor Indonesia
Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditi elektronika ke Korea Selatan sebelum
inflasi (X1) memiliki pengaruh negatif dan tidak pemberlakuan AKFTA tahun 2011 dan tidak
signifikan terhadap ekspor Indonesia komoditi berpengaruh signifikan secara simultan terhadap
elektronika ke Korea Selatan setelah pemberlakuan ekspor Indonesia komoditi elektronika ke Korea
AKFTA tahun 2011 (Y4). Pengaruh negatif pada Selatan setelah pemberlakuan AKFTA tahun
penelitian ini sesuai dengan teori Ball (2005:281) 2011;
yang menyatakan bahwa ketika tingkat inflasi tinggi 4. Inflasi dan nilai tukar berpengaruh signifikan
akan mengakibatkan harga barang dan jasa yang secara parsial terhadap ekspor Indonesia
dihasilkan atau ditawarkan oleh suatu negara akan komoditi elektronika ke Korea Selatan sebelum
meningkat sehingga barang dan jasa tersebut pemberlakuan AKFTA tahun 2011. Selanjutnya
menjadi kurang kompetitif dan ekspor akan turun. hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi dan
Selain itu skema pembebasan tarif pada tahun 2012- nilai tukar tidak berpengaruh signifikan secara
2014 sudah mulai diterapkan sehingga parsial terhadap ekspor Indonesia komoditi
pemberlakuan AKFTA tersebut berdampak cukup elektronika ke Korea Selatan setelah
besar pada ekspor Indonesia komoditi elektronika pemberlakuan AKFTA tahun 2011.
ke Korea Selatan.
Berdasarkan penghitungan statistik, diketahui Saran
bahwa nilai tukar (X2) secara parsial memiliki 1. Hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan bagi
pengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor pemerintah untuk mengevaluasi perjanjian
Indonesia komoditi elektronika ke Korea Selatan bilateral terkait pembebasan tarif pada sektor
sebelum pemberlakuan AKFTA tahun 2011 (Y3). perdagangan sehingga diharapkan pembebasan
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sukirno tarif ini dapat berperan sebagai stimulus ekspor.
(2012) yang menjelaskan bahwa ketika nilai rupiah Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat
turun maka ekspor akan bertambah, karena di menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia
pasaran luar negeri harga barang ekspor negara dalam menyusun kebijakan moneter terkait
menjadi lebih murah. inflasi dan nilai tukar.
Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa 2. Hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan bagi
nilai tukar (X2) memiliki pengaruh positif dan tidak peneliti selanjutnya dalam meneliti pengaruh
signifikan terhadap ekspor Indonesia komoditi indikator makroekonomi terhadap ekspor suatu
elektronika ke Korea Selatan setelah pemberlakuan negara. Koefisien determinasi yang sangat kecil
AKFTA tahun 2011 (Y4). Hasil penelitian ini sesuai pada penelitian ini dapat berarti variabel bebas
dengan teori Mankiw (2012) yang menjelaskan pada penelitian ini tidak memberikan pengaruh
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 135
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
yang besar pada variabel terikat, maka indikator http://www.kemenperin.go.id/statistik/kelom
makroekonomi lain seperti GDP dan FDI dapat pok.php?n=114&ekspor=1.
digunakan. Selain itu, penelitian selanjutnya Mahendra, I Gede Yoga dan I Wayan Wita
dapat menggunakan metode penelitian lain Kesumajaya. 2015. Analisis Pengaruh
seperti metode kausalitas Granger dan analisis Investasi, Inflasi, Kurs Dollar Amerika
jalur (path analysis). Serikat, dan Suku Bunga Kredit terhadap
3. Hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan bagi Ekspor Indonesia Tahun 1992-2012. E-Jurnal
eksportir dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana,
Faktor makroekonomi suatu negara tetap harus 4(5) : 525-545.
diperhatikan dan dipertimbangkan walaupun
skema pembebasan tarif barang ekspor dan Mankiw, N. Gregory. 2012. Principles of
impor pada perdagangan bebas yang terjadi Macroeconomics, Sixth Edition. Canada :
antara dua negara telah diberlakukan. Cengage Learning.
Rahardja, Prathama dan Mandala Manurung. 2008.
DAFTAR PUSTAKA Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi dan
Anindita, Ratya dan Michael R. Reed. 2008. Bisnis Makroekonomi). Jakarta : Lembaga Penerbit
dan Perdagangan Internasional. Yogyakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Andi.
Rahman, Sajjadur and Apostolos Serletis. 2009.
ASEAN-Korea Free Trade Area. 2012. The Effects of Exchange Rate Uncertainty on
Background of AKFTA, diakses pada Exports. Journal of Macroeconomics,
tanggal 9 Oktober 2015 dari 31(2009) : 500-507.
http://akfta.asean.org/index.php?page=backg
round-of-akfta. Setiawan, Sigit. 2012. Dampak Perjanjian
Perdagangan Barang ASEAN-Korea FTA
BPPK Kemenlu RI. 2009. Assessments dan (AKFTA) terhadap Indonesia dan Korea
Kompilasi Free Trade Agreement (FTA). Selatan. Kajian Ekonomi dan Keuangan,
Jakarta : BPPK Kemenlu RI. 16(1) : 1-20.
. 2010. Penjajakan Free Trade Agreement Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 2006.
(FTA). Jakarta : BPPK Kemenlu RI. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ES.
Ball, Donald A, et al. 2005. Bisnis Internasional; Sukirno, Sadono. 2012. Makroekonomi Teori
Tantangan Persaingan Global. Pengantar; Edisi Ketiga. Jakarta : Rajawali
Dialihbahasakan oleh Syahrizal Noor. Jakarta : Pers.
Salemba Empat.
Yoganandan G, et al. 2013. Factors Affecting The
Dornbusch, Rudiger, Stanley Fischer, dan Richard Export Performance on Textile Industry In
Startz. 2008. Tenth Edition; Macroeconomics. Developing Countries A Review of
New York : McGraw-Hill Companies. Literature. International Journal of
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Commerce, Business and Management, 2(4) :
Multivariate dengan Program IBM SPSS19. 173-176.
Semarang : Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Hill, Charles W.L. 2008. Global Business Today,
Fifth Edition. New York : McGraw
Hill/Irwin.
Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. 2015.
Klasifikasi Produk/ Produk Elektronik,
diakses pada tanggal 11 Oktober 2015 dari
http://inatrims.kemendag.go.id/en/product/de
tail/02-elektronic_631/?market=ko.
Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. 2015.
Pemantauan Ekspor 31 Kelompok Hasil
Industri Negara: Korea Selatan, diakses pada
tanggal 10 Oktober 2015 dari
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 35 No. 1 Juni 2016| 136
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id