Anda di halaman 1dari 2

JELASKAN PERBEDAAN EN-SOI DAN POUR-SOI Dalam karya monumentalnya tentang Ltre et le nat (Being and Nothingness) Satre

memdikotomikan status ontologis manusia menjadi dua atau dua cara manusia berada di dunia
A. PENDAHULUAN
yaitu, etre-en-soi (being-in-itself) yang berarti: ada-dalam-dirinya. dan Etre-Pour-Soi (being-for-
Jika kita mendalami en-soi dan pour-soi maka kita akan bertemu dengan kajian
itself) yang berarti: ada-bagi-dirinya.
keilmuan dari filsafat dan humaniora. En-soi dan pour-soi dapat kita temukan pada dalam karya a.) Etre-en-soi (being-in-itself) identik dengan dirinya
disebut sebagai Ada yang tidak sadar (non-conscious-being) sehingga ia tidak mampu
utama Sartre, yakni Ltre et le nat (Being and Nothingness), atau dalam bahasa Indonesia
memberi makna pada eksistensinya. tidak aktif dan tidak negatif. Etre-en-soi itu tidak memiliki
yakni Ada dan Tiada istilah tersebut merupakan buah pemikiran seorang filusuf bernama Jean
masa depan dan tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Etre-en-soi merupakan suatu
Paul Sartre, beliau adalah penganut filsafat eksistensialisme. Beliau juga dipengaruhi oleh corak
tipe eksistensi benda-benda yang tidak berkesadaran dan padat, artinya kesadaran yangmenjadi
filsafat rasionalisme dan idealisme dari deskartes, Kant, Hegel sampai fenomologi husserl serta
bentuk dari kehadiran diri terhadap diri sendiri Maka, etre-en-soi tidak pernah ada dan tidak
Martin Heidegger. Apa yang dimaksud dengan En-soi dan pour soi, maksud dan tujuanya akan
pernah dapatmenempatkan dirinya sebagai ada bagi yang lain karena dia kontingen, tanpa dasar
dibahas pada bab selanjutnya.
PEMBAHASAN yang menopang. cara mudah memahaminya adalah Etre-en-soi adalah benda-benda, objek yang
memiliki kesatuan dengan dirinya sendiri. Seperti contoh batu besar yang tetap berada pada
1. Tentang Jean Paul Sartre
tempatnya, tidak bertambah besar/kecil, tidak berpindah dan tidak berubah selamanya.
Jean Paul Sartre adalah tokoh b.) Etre-Pour-Soi (being-for-itself) ada-bagi-dirinya.
Lawan dari etre-en-soi menurut Sartre adalah Etre-Pour-Soi (being-for-itself) yang
Eksistensialisme yang hidup pada abad ke-
berarti ada bagi dirinya. Ada-bagi dirinya berkaitan dengan kesadaran bahwa manusia memiliki
20an. Dia lahir di Paris, Perancis pada tanggal
kesadaran akan dirinya bahwa dia ada. Kesadaran bahwa dirinya ada hendak mengatakan suatu
21 Juni 1905, dan meninggal pada tanggal 15
cara berada manusia. Dengan kata lain, manusia hubungan dengan dirinya sendiri. Sehingga
April 1980. Pada bidang pendidikan ia
kesadaran manusia muncul seiring dengan hadirnya sesuatu (objek) yang ada di depannya.
termasuk orang yang cukup intelektual. Pada
Namun, sesuatu yang disadari itu bukanlah dirinya. Ketidak identikan manusia dengan apa yang
waktu di Jerman dia bertemu dan belajar pada
disadarinya menunjukkan bahwa kesadaran itu negativitas, yaitu suatu kesadaran yang
Husserl, yang mana ini merupakan nilai
menunjukkan bahwa Etre-Pour-Soi itu memiliki ciri it is not what it is.Artinya,
sejarah tersendiri bagi perkembangan pemikiran Sartre di kemudian hari.
Sartre sejak kecil hidup dalam lingkungan religius. Tetapi, justru kebalikannya ia anti ketidakidentikkan manusia dengan dirinya memiliki aspek kesadaran yang menidak. Cara
dengan agama dan Tuhan. Dia mengembangkan filsafatnya dengan corak ateis. Corak filsafat mudah untuk memahami Etre-Pour-Soi adalah Ada yang berkesadaran. Bagi Sartre, manusia
Sartre dipengaruhi oleh Rasionalisme dan Idealisme, yakni dari Descartes, Kant, Hegel sampai adalah makhluk yang membawa ketiadaan. Aktivitas Etre-Pour-Soi adalah menidakan apa
fenomenologi Husserl serta Martin Heidegger. Filsuf-filsuf tersebut sangat penting nilainya bagi yang ada. Sartre menyimpulkan bahwa ketiadaan muncul dengan menidakan dunia..
Sartre, namun dalam tulisannya, ia kerap melontarkan kritik-kritik terhadap mereka. Husserl, 3. Pengamalan En-soi dan Pour-Soi Dalam Kehidupan Manusia
Heidegger dan Hegel mempunyai peran penting dalam karya utama Sartre, yakni Ltre et le Manusia sebagai en-soi adalah manusia yang tidak berkesadaran. Statusnya sama
nat (Being and Nothingness), atau dalam bahasa Indonesia yakni Ada dan Tiada yang seperti kambing, sayuran, dan batu. Dia dilihat hanyalah seonggok benda saja. "Dia gelap bagi
berusaha memahami eksistensi manusia. diri sendiri, karena padat dan penuh dengan diri sendiri". Apa yang ada adalah identik dengan
dirinya sendiri, It is what it is. Keadan ini bersifat masif, tertutup rapat, tanpa lobang, tanpa
2. Perbedaan En-soi dan Pour-Soi
celah, self-contained, dan tidak ada hubungan dengan apa pun juga . Menurut Sarte En-soi itu karena pilihannya, manusia tetap memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk mengubah
ada karena ada secara kebetulan, dan bukan ciptaan tuhan. Karena, andaikata diciptakan Tuhan situasi tersebut melalui perbuatan dan usaha yang dipilih dan ditentukan oleh diri manusia
maka, en-soi itu ada didalam pikiran Tuhan atau diluarnya. Bila didalam, maka belum tercipta, sendiri. Situasi yang dibebankan kepada manusia, misalnya : berupa lingkungan yang buruk dan
bila diluar maka ia bukan ciptaan karena berdiri sendiri. keras, cacat tubuh, atau pun peperangan, justru menjadi prasyarat bagi kebebasan. Kebebasan
Sedangkan dalam Etre-Pour-Soi manusia sudah mempunyai kesadaran tentang sesuatu
tidak mungkin terwujud tanpa situasi-situasi yang sudah tersedia atau situasi-situasi yang tidak
diluar dirinya . Sadar akan adanya Subjek dan Objek, sadar bahwa ada jarak antara diri dan
dipilihnya sendiri.
kesadaran. Dan sadar akan sesuatu, akan adanya jarak, bagi Sartre adalah meniadakan Memang filsafat Sartre penuh oleh dilema. Sebenarnya kekacauan filsafat Sartre
(neantiser) sesuatu. Sadar akan diri sendiri adalah meniadakan diri sendiri. Ketika menjadi pour- disebabkan oleh pandangannya yang ateis. Apa yang tidak dapat diselesaikannya itu
soi, pengada itu menjadi retak, karena ia mempunyai kesadaran. sesungguhnya dapat diselesaikan dalam teisme. Pada akhir uraiannya tentang Sartre, Drijarkara
Memang kesadaran menghubungkan subjek dengan yang bukan subyek (objek) tetapi
menulis sebagai berikut (Drijakara:89):
juga memecah, meretakkan yang utuh menjadi banyak, yang padat menjadi tidak padat, yang Bagaimanapun juga, tampaklah dalam uraian diatas, bahwa pikiran Sartre bentrokan
sendiri menjadi tidak sendiri lagi. Itu semua ditiadakan (le Neant). Dia sekarang tidak identik dengan realitas. Kita akui bahwa buah pikiram Sartre memuat pandangan-pandangan yang
dengan dirinya sendiri. A bukanlah A karena sadar tentang dirinya. Contohnya : ketika A sedang bagus. Akan tetapi dasar-dasarnya tidak tahan uji.
berbuat, dia sadar bahwa dia sedang mengadakan perubahan, peralihan, berproses untuk
KESIMPULAN En-soi dan pour-soi terdapat dalam karya utama Jean Paul Sartre, yakni
'menjadi', dia sadar bahwa dia sedang melakukan peralihan itu. Peniadaan itu terjadi terus Ltre et le nat (Being and Nothingness) Ada dan Tiada. Jean Paul Sartre adalah tokoh
menerus, tidak pernah berhenti sebab manusia tidak pernah berhenti berbuat sesuatu. Dia selalu Eksistensialisme yang hidup pada abad ke-20an. etre-en-soi (being-in-itself) yang
berarti: ada-dalam-dirinya dapat dicontohkan sebagai benda mati yang tetap dan tidak berubah,
bukan dia, karena selalu meluncur ke dia. Dia selalu membelum. Jadi, proses itu tidak pernah
sedangkan Etre-Pour-Soi (being-for-itself) yang berarti: ada-bagi-dirinya dapat dikatakan
selesai ,selalu meniadakan dirinya dan berusaha untuk menjadi dia yang lain. Justru karena sebagai kesadaran manusia mengenai adanya dirinya sendiri.
kebebasannya bereksistensi itu dipandang sebagai sebuah kutukan, hukuman, dan keterpaksaan.
Etre-Pour-Soi selalu ingin menjadi etre-en-soi-pour-soi, sekaligus keduanya, dan itu Edwards, Paul (ed). The Encyclopedia of Philosophy (Vol 5-8). MacMillan Publishing Co : New
York, 1972.
tidak akan pernah terjadi (kalaupun ada berarti itu milik Tuhan, sesuatu yang ditolak Sartre,
Hamersma, Herry. 1983. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern.Jakarta: Gramedia
karena tidak mungkin en-soi dan pour-soi bersatu). Itulah kesia-siaan, dan itulah eksistensi
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Kanisius: Yogyakarta,1980.
manusia. Manusia selalu meniada dan tidak bisa tidak harus terus meniada. Tidak ada aspek
Najwa, Nina., 2015. Eksistensi Kesadaran Manusia, Jean Paul Sartre. Kompasiana
membangun,tidak ada ketetapan. Proses itu adalah suatu kesia-siaan karena tidak mungkin bisa http://www.kompasiana.com/eksistensi-kesadaran-manusia-jean-paul-sarte.html di
menyatu antara en-soi dan pur-soi, dan proses itu berhenti ketika kematian tiba. unduh pada 23 pebruari 2017
Tujuan dari pengamalan tersebut dalam sisi positifnya adalah kesadaran dan kebebasan Sartre, Jean-Paul., 1992 Being and Nothingness (the Principle text of modern existentialism).
terletak pada eksistensi manusia, keberadaan manusia yang sejati, yang merupakan produk dari Philosophical Library, Washington:.
perbuatan-perbuatan bebas manusia. Sartre mengungkapkan bahwa menjadi diri kita sendiri _______________, 2002, Eksistensialisme dan Humanisme, Pustaka Pelajar.
hanya mungkin jika kita memilih sendiri dan menentukan sendiri bentuk eksistensi kita.
Walaupun kesadaran atau kebebasan tersebut sepertinya dibebankan pada manusia yang bukan