Anda di halaman 1dari 14

BAB 3.

METODE PENELITIAN

3.1 Sampel Penelitian


Sampel dalam penelitian ini adalah 25 anak-anak berusia 4-9 tahun berasal dari luar
Unit Pedodontic Preventive Dentistry, Oral Health Sciences Center, Postgraduate Institute Of
Medical Education and Research (PGIMER), Chandigargh, India yang memiliki gigi molar
(pertama atau kedua sulung rahang bawah) dengan dukungan tulang dan panjang akar yang
cukup, tanpa kelainan radiografis, tidak ada resorpsi patologis dan tanpa riwayat penyakit
sistemik.

3.2 Metode Penelitian


Prosedur perawatan saluran akar yang digunakan adalah pulpektomi one visit, dan
dilakukan oleh operator yang sama. Sebelumnya pasien dianestesi local dan dipasang rubber
dam. Prosedur dalam penelitian ini meliputi preparasi kavitas untuk menghilangan semua
jaringan karies, cavity entrance ,ekstirpasi pulpa menggunakan files dan diirigasi dengan
sodium hipoklorit 2,5% bergantian dengan larutan metronidazol 0,5%. Kemudian dilakukan
foto roentgen periapikal untuk mengetahui panjang kerja dari gigi tersebut. Setelah
menentukan panjang kerja, saluran akar siap dipreparasi dengan H-files (ukuran 30-35)
dengan gerakan naik turun. Pada saat melakukan pengisian saluran akar, perlu lebih
diperhatikan tekanan disepanjang dinding luar saluran akar yang merupakan dinding-dinding
yang mengarah ke area interadikuler yang biasanya tipis dikarenakan resorpsi fisiologis dan
lebih beresiko terjadi perforasi. Saluran akar diirigasi dengan sodium hyploklorit sedangkan
larutan metronidazole (0,5%) digunakan sebagai larutan irigasi yang terakhir. Saluran akar
diisi dengan pasta kombinasi yang dibuat dari pasta calcium hydroxide, bubuk zinc oxide,
dan larutan sodium fluoride 10% sebagai cairannya. Standarisasi kuantitas dari setiap
komposisi campuran, yaitu 70 mg zinc oxide, ditimbang dan diletakkan dalam kapsul lalu
disterilkan. Panjang standard pasta calcium hydroxide (Reogan Rapid) 7,5 cm diletakkan
dalam mixing pad bersama dengan bubuk dari zinc oxide dalam kapsul yang telah ditimbang.
Kedua bahan tersebut dicampur bersama dan ditetesi larutan sodium fluoride 10% sampai
mencapai konsistensi yang diinginkan. Jarum lentulo digunakan dengan gerakan memutar
searah jarum jam ketika memasukkan bahan kedalam saluran akar sesuai dengan panjang
kerja yang telah ditetapkan. Gerakan memutar berlawanan arah jarum jam dilakukan sambil
menarik keluar jarum lentulo dari saluran akar. Kavitas ditutup dengan pasta ZnOE yang
cepat setting diikuti dengan tumpatan permanen, pada beberapa kasus diberi mahkota
stainlees steel.
Gigi dievaluasi secara klinis setelah 3 bulan dan juga secara radiografis setiap 6 bulan
atau sampai gigi tersebut tanggal fisiologis. Pada setiap kunjungan gigi diperiksa secara klinis
untuk mengetahui rasa nyeri dan mobilitasnya, secara radiografis gigi juga diperiksa untuk
mengetahui ada tidaknya resorpsi bahan saluran akar yang terdorong keluar bersamaan
dengan resopsi fisiologis saluran akarnya, kemudian gigi tersebut dibandingkan dengan
radiografi yang dibuat sebelum perawatan.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Sebanyak 25 gigi molar sulung rahang bawah pada anak usia 4-9 tahun (7 molar
pertama dan 18 molar kedua) dilakukan perawatan pulpektomi one visit dan diisi dengan
campuran bahan yang mengandung calcium hydrokside, zinc oxide dan sodium fluoride
(tabel 1)
. Gigi tersebut diamati secara teratur setiap 3 bulan selama 24 bulan. Untuk pemeriksaan
radiografis saluran akar mesial dipakai sebagai saluran akar tunggal karena pada radiografi
intraoral tampak dua saluran yang superimpos.
Pada awalnya dari total 50 saluran akar (25 mesial dan 25 distal) dari 25 gigi sulung,
sejumlah 33 saluran (19 mesial dan 25 distal) cukup terisi, 14 saluran (5 mesial dan 9 distal)
kurang tersisi (tabel 2). Setelah diamati selama periode 6 bulan, 2 dari 25 gigi sulung yang
dirawat tidak berhasil dan akhirnya gigi tersebut diekstraksi, satu gigi pada setelah 3 bulan
dan lainnya setelah 6 bulan. Setelah diamati selama 2 tahun, hanya 14 anak (14 molar
mandibula) yang dapat diamati, 12 akar molar sulung secara fisiologis teresorpsi dan terlepas
(tabel 3). Pada 14 gigi termasuk 28 saluran, gambaran radiografi awal menunjukkan 18
saluran terisi sempurna, 7 kurang terisi, dan overfilling sebanyak 3 saluran. Setelah lebih dari
2 tahun, resorpsi dari bahan pengisi sesuai dengan resorpsi fisiologis pada ke 28 saluran akar
tersebut, sebagai contoh bahan saluran akar didalam saluran akar diresorpsi bersamaan
dengan resorpsi akar gigi (gambar 1 dan 2). Terdapat -3 subyek yang tampak adanya bahan-
bahan yang terdorong keluar secara berlebihan dan terjadi keterlambatan resorpsi dari bahan-
bahan yang terdorong keluar tetapi setelah diamati selama 2 tahun, bahan-bahan yang
terdorong tersebut tidak teresorpsi sempurna (gambar 3 dan 4). Satu dari beberapa gigi yang
overfilling tersebut dapat tanggal secara fisiologis apabila sisa-sisa bahan pengisi dapat
dikeluarkan dengan paksa.
Table 3: distribution of sample according to follow up

Follow up Number Exfoliated Failed Total Cases Attrition Total


(in Months) of Teeth Cases
Followed Exfoliated Failed Followed
up up
Immediately 25 - - - 1 - -
3 25 - 1 - 2 - 25
6 22 1 1 1 2 - 25
9 20 1 - 2 2 01 24
12 13 3 - 5 2 05 20
15 07 4 - 9 2 07 18
18 04 2 - 11 2 08 17
21 02 1 - 12 2 09 16
24 02 - - 12 2 09 16
4.2 Pembahasan
Petalaksanaan perawatan pulpa yang terinfeksi pada gigi sulung tidak hanya melibatkan
sistem pembersihan saluran akar tetapi juga obturasi dengan menggunakan bahan yang
biocompatible dan akan diresorpsi sejalan dengan resorbsi fisiologis akar gigi sulung tanpa
membahayakan gigi permanen pengganti dan erupsinya. Sampai sekarang, sejumlah peneliti
telah menguji bahan-bahan yang berbeda tapi tidak satupun dari bahan-bahan tersebut dapat
memenuhi syarat sebagai bahan pengisi saluran akar yang ideal untuk gigi sulung, khususnya
yang dapat teresorpsi bersamaan dengan resorpsi fisiologis akar gigi sulung. Pasta ZnOE
adalah bahan yang paling sering dipakai sebagai bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung.
Penelitian klinis pada hewan dan manusia menunjukkan keberhasilan penggunaan pasta
ZnOE sebagai bahan pengisi saluran akar berkisar antara 65-95%. Untuk meningkatkan
angka keberhasilan tersebut, ZnOE dikombinasikan dengan bahan yang berbeda seperti
formokresol, formaldehyde, paraformaldehide, dan cresol yang sudah diuji coba, tetapi
penambahan bahan-bahan ini belum bisa meningkatkan kualitas bahan tersebut maupun
membuat bahan-bahan tersebut lebih dapat teresorpsi dibandingkan ZnOE tunggal.
Selebihnya, penggunaan phenolic tidak disarankan karena kealamiannya yang meragukan.
Phenolic telah terbukti sitotoksik, mutagenic dan berpotensi karsinogenik.
Calcium Hydroxide adalah obat yang digunakan secara luas dalam kedokteran gigi,
pada gigi permanen digunakan untuk pup capping dan apeksifikasi tetapi penggunaannya
untuk pulpotomi pada gigi sulung dibatasi dikarenakan adanya resiko resorpsi internal.
Penggunaan calcium hydroxide sebagai bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung hanya
dilaporkan oleh sedikit peneliti. Suatu penelitian yang diprakarsai oleh Mani dkk,
menyatakan bahwa resorpsi calcium hydroxide lebih cepat daripada resorpsi fisiologis akar
dan bahan tersebut tampak sudah kosong dari saluran sebelum resorpsi fisiologis akar gigi
sulung.
Pasta iodoform dan kombinasinya dengan komposisi tertentu telah digunakan oleh
sejumlah peneliti dengan nilai keberhasilan rata-rata 70-90%. Hasil klinis yang baik pada
penggunakan pasta Walkhoffs telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Hasil klinis dan
gambaran radiografi yang baik dilaporkan pada penggunaan Vitapex, sebuah pasta komersial
yang mengandung calcium hydroksida dan iodoform yang tersedia dalam syringe dengan
cara pakai yang mudah. Bahan-bahan yang telah disebutkan diatas mempunyai kekurangan
berupa waktu resorpsi yang lebih cepat daripada resorpsi fisiologis akar-akar gigi sulung.
Fusk,dkk dalam penelitian retrospektif menggunakan endoflas sebagai bahan pengisi, yang
merupakan campuran dari calcium hydrokside, zinc oxide, iodoform dan eugenol. Bahan-
bahan ini tidak dapat diresorbsi secara intraradicular. Para peneliti yang melakukan observasi,
mendapatkan nilai keberhasilan yang lebih rendah dengan rata-rata 58% ketika terdapat
overfilling tetapi didapatkan rata-rata 83 % kasus berhasil dengan kasus yang sama dan
disertai underfilling saluran akar. Tekanan yang berlebihan pada bahan pengisi saluran akar
gigi sulung tidak dapat dihindarkan pada beberapa kasus karena dinding dentin saluran akar
yang menuju daerah intraradikular sangat tipis. Bagaimanapun juga, penggunaan bahan yang
mengandung iodoform dalam kedokteran gigi, masih dipertanyakan manfaatnya karena
laporan adanya alergi iodine, perubahan warna pada gigi dan bahkan encefalopathy sampai
koma. Sampai saat ini masih ada keraguan mengenai keamanan iodoform sebagai bahan
pengisi saluran akar dan tampaknya iodoform masih belum dipercaya untuk digunakan pada
gigi sulung.
Untuk menanggulangi kekurangan dari calcium hydroxide (rata-rata resorpsinya lebih
cepat dalam saluran akar) dan ZnOE (rata-rata resorpsi yang lebih lambat), Chawla,dkk
menggunakan campuran calcium hydroksida dan zinc oxide sebagai bahan pengisi saluran
akar, tetapi bahan pengisi ini juga diresorbsi lebih awal dibandingkan resorpsi fisiologis akar.
Pada penelitian ini, digunakan campuran calcium hydrokside, bubuk zinc oxide dan sodium
fluoride 10 %, menggabungkan kelebihan calcium hydroksida dan zinc oxide. Calcium
hidrokside ditambahkan sebagai bahan pengisi saluran akar yang radiopak tanpa perlu
penambahan bahan radiopak yang lain. Penambahan fluoride telah diamati, kecepatan
resorpsi bahan ini sejalan dengan kecepatan resorpsi gigi sulung yang telah dipulpektomi.
Bahan pengisi saluran akar yang biasanya digunakan pada gigi sulung adalah dalam
bentuk pasta seperti Zinc Oxide Eugenol, Calcium Hydrokside dan Pasta Iodoform. Menurut
Walton & Torabinejad pada tahun 1995 material padat lebih unggul daripada semipadat
(pasta). Kon guta perca dan perak adalah material padat yang sampai saat ini bisa diterima
sebgai bahan pengisi saluran akar. Gutaperca adalah bahan pengisi saluran akar yang paling
umum digunakan dan bahan ini telah lulus dari pengujian dan penelitian yang lama.
Keunggulan dari bahan padat tersebut adalah panjang pengisian dapat dikontrol dan
menghasilkan kerapatan yang baik. Namun gutaperca tidak bisa diterima sebagai bahan
pengisi saluran akar pada gigi sulung karena gutaperca adalah material padat yang sulit
teresorbsi. Syarat utama keberhasilan perawatan saluran akar pada gigi sulung adalah bahwa
bahan pengisi saluran akar harus bisa teresorbsi bersamaan dengan resorbsi fisiologis akar
gigi sulung.
Sampai sekarang ini belum ada bahan pengisi saluran akar yang mempunyai sifat yang
ideal. Tetapi paling tidak memenuhi beberapa kriteria yaitu mudah dimasukkan kedalam
saluran akar, harus dapat menutup saluran lateral atau apikal, tidak boleh menyusut sesudah
dimasukkan kedalam saluran akar gigi. Tidak dapat ditembus oleh air atau kelembaban,
bakteriostatik, radiopague, tidak mewarnai struktur gigi, tidak mengiritasi jaringan apikal,
steril atau dapat dengan mudah disterilkan, tidak larut dalam cairan jaringan, bukan
penghantar panas, pada waktu dimasukkan harus dalam keadaan pekat atau semi solid dan
sesudahnya menjadi keras (Tarigan, 1994; Walton & Torabinejad, 1996). Pengisian saluran
akar dilakukan untuk mencegah
masuknya mikro-organisme ke dalam saluran akar melalui koronal, mencegah multiplikasi
mikro-organisme yang tertinggal, mencegah masuknyacairan jaringan ke dalam pulpa melalui
foramen apikal karena dapat sebagai media bakteri, dan menciptakan lingkungan biologis
yang sesuai untuk proses penyembuhan jaringan. Hasil pengisian saluran akar yang kurang
baik tidak hanya disebabkan teknik preparasi dan teknik pengisian yang kurang baik, tetapi
juga disebabkan oleh kualitas bahan pengisi saluran akar (Grosman, et al. 1995). Pasta
saluran akar merupakan bahan pengisi yang digunakan untuk mengisi ruangan antara bahan
pengisi (semi solid atau solid) dengan dinding saluran akar serta bagian-bagian yang sulit
terisi atau tidak teratur. Kalsium hidroksida [Ca(OH)2] merupakan bahan yang sering
digunakan dalam perawatan resorbsi dan perforasi akar (Cohen & Burns, 1988). Kelebihan
pasta kalsium hidroksida yang berhubungan dengan kerapatan penutupan apeks adalah
mudahnya cara penggunaan dan baik adaptasinya. Menurut Goldberg, penggunaan pasta
dengan bahan dasar kalsium hidroksida dapat beradaptasi dengan baik pada dentin maupun
permukaan guttap point. Kemudian Sleder10 menyatakan bahwa kalsium hidroksida dapat
merangsang penutupan biologis pada daerah apikal sehingga menghasilkan penutupan apeks
yang lebih rapat dan meningkatkan keberhasilan perawatan. Kelebihan lain dari kalsium
hidroksida adalah dapat merangsang pembentukan jaringan keras. Menurut penelitian
Holland et al, penggunaan bahan kalsium hidroksida dalam proses pengisian saluran akar
dapat mengurangi kebocoran foramen apikal. Karena pHnya yang tinggi dapat meningkatkan
aktifitas alkali fosfatase yang meningkatkan mineralisasi selain itu juga karena dapat
membuhuh mikroba yang merusak jaringan apikal sehingga mempermudah pembentukan
cementum reparatif. Lingkungan alkali akan menghambat aktivitas osteoklas sehingga proses
reabsorbsi akan dihambat dan proses perbaikan jaringan akan terus berjalan. Walaupun semen
saluran akar ini memperlihatkan penutupan yang adekuat untuk jangka pendek, timbul
pertanyaan tentang stabilitas jangka panjang dan toksisitas jaringannya. Sampai diperoleh
data klinis dan eksperimental yang lebih baik, semen saluran akar ini tidak dianjurkan
(Walton & Torabinejad, 1996). Calcium Hydrokside murni lebih dianjurkan bagi pengisian
saluran akar sampai 2 mm dari ujung kar radiografik, karena telah dibuktikan
keberhasilannya oleh Frank et al pada tahun 1966. Perparat Calcium hydrokside yang
diperoleh dipasaran misalnya Dycal tidak dianjurkan sebagai bahan pengisi saluran akar
karena mengerasnya lebih cepat. (Kennedy, 1992). Calcium Hydrokside pasta disarankan
digunakan sebagai bahan pengisi saluran akar sementara, perbaikan jaringan tulang, sebagai
pengontrol eksudat, sebagai barrier apical dan untuk mencegah resorpsi akar eksternal. Bahan
pengisi lain yang paling umum digunakan adalah zinc oxide eugenol, keunggulan dari
penggunaan semen saluran akar berbasis OSE ini adalah sejarah keberhasilannya yang jelas
dan kebaikannya lebih banyak daripada kekurangannya (pewarnaan, tidak lekat dan
kelarutan). (Walton & Torabinejad, 1996). Eugenol adalah essens (essence) kimiawi cengkeh
dan mempunyai hubungan dengan fenol. Agak lebih mengiritasi daripada minyak cengkeh
dan keduanya adalah suatu antiseptic dan anodine (anodyne). Trowbridgw menunjukkan
bahwa eugenol menghalangi impuls saraf interdental. Telah dilaporkan beberapa kasus
terhadap eugenol (Grossman, et al 1995). Bahan pengisi saluran akar Plastik tersedia dalam
bubuk cairan (AH26) yang memiliki sifat antimikroba, adhesi, waktu kerja yang lama,
mudah mengaduknya, dan kerapatan yang sangat baik. Namun juga memiliki beberapa
kekurangan antara lain mewarnai gigi, relative tidak larut dalam pelarut, agak sedikit toksik
jika belum mengeras dan agak larut pada cairan mulut. Grossman telah membuat criteria
ideal untuk semen saluran akar. Tidak ada satu semen saluran akar pun saat ini yang dapat
memenuhi seluruh criteria tersebut, walaupun ada beberapa yang mempunyai kelebihan
dibandingkan yang lain. Oleh karena itu menurut penulis bahan saluran akar yang lebih
dianjurkan dipakai adalah bahan yang berbasis Zinc Oxide eugenol (OSE) karena menurut
Walton & Torabinejad keberhasilannya telah terbukti selama bertahun-tahun dalam sejarah
dan kebaikannya lebih banyak daripada kekurangannya (pewarnaa, tidak melekat dan
kelarutan dan zinc oxide eugenol juga diklaim memiliki aktivitas terapi biologis.
Penelitian ini bertujuan untuk menggabungkan beberapa bahan untuk mendapatkan
campuran bahan pengisi saluran akar yang mendekati ideal. Campuran dari pasta calcium
hydrokside, bubuk zinc oxide dan larutan sodium fluoride digunakan sebagai bahan pengisi
saluran akar. Sebanyak 25 gigi molar sulung rahang bawah pada anak-anak usia 4-9 tahun
dipreparasi secara manual, dan setiap subyek penelitian dievaluasi secara klinis setiap 3 bulan
dan radiografis setiap 6 bulan untuk melihat resorbsi bahan pengisi saluran akar dibandingkan
dengan resorbsi fisiologis akar gigi sulung. Setelah perawatan selama 6 bulan, 2 dari 25 gigi
gagal, satu gigi terksfoliasi dan sisanya sebanyak 22 gigi tanpa ada keluhan dan gejala klinis.
Setelah 2 tahun pengamatan, 14 gigi dapat dievaluasi dan 12 gigi dapat terlepas secara
fisiologis. Resorbsi dari bahan saluran akar ini bisa bersamaan dengan resorbsi fisiologis akar
gigi sulung. Penentuan berhasil atau tidaknya suatu perawatan diambil dari pemeriksaan
klinis dan radiografis dan histologis (mikroskopis). Hanya temuan klinis dan radiografis yang
dapat dievaluasi dengan mudah oleh dokter gigi, pemeriksaan histologis pada umumnya
digunakan sebagai alat penelitian (Walton & Torabinejad,1996; Mardewi, 2003). Pada
penelitian ini lebih menekankan tanda keberhasilan secara radiografis dan mengabaikan tanda
mikroskopis. Secara klinis hanya memperhatikan adanya keluhan nyeri dari pasien dan
mobilitas gigi. Sedangkan menurut (Walton & Torabinejad pada tahun 1996 dan Mardewi
pada tahun 2003, selain rasa nyeri dan adanya mobilitas juga harus dilihat apakah ada
pembengkakan dan fistula pada mukosa disekitar gigi dan juga dilakukan tes perkusi dan
tekanan serta palpasi disekitar mukosa. Menurut penulis bahan pengisi saluran akar yang
terdiri dari campuran zinc oxide, calcium hydrokside dan sodium fluoride bisa dipakai
sebagai bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung akan tetapi perlu penelitian lebih lanjut
dan bila perlu diteliti juga secara mikroskopis .
BAB 5. KESIMPULAN

Bahan pengisi saluran akar yang paling sering digunakan pada gigi sulung adalah zinc
oxide eugenol (ZnOEu), Calcium Hydrokside (Ca(OH)2). Campuran dari bubuk zinc oxide,
pasta calcium hydrokside dan larutan calcium fluoride dapat digunakan sebagai bahan pengisi
saluran akar pada gigi sulung. Syarat keberhasilan perawatan saluran akar pada gigi sulung
adalah bahwa bahan pengisi saluran akar harus teresorbsi bersamaan dengan resorbsi
fisiologis akar gigi sulung. Secara Radiografis campuran bahan tersebut dapat teresorbsi
bersamaan dengan resorbsi fisiologis akar gigi sulung dan untuk bisa dipakai sebagai bahan
pengisi saluran akar untuk gigi sulung menurut penulis masih perlu penelitian lebih lanjut
baik secara klinis dan mikroskopis.
DAFTAR PUSTAKA

Bence, R. alih bahasa Sundoro. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Jakarta : Universitas
Indonesia

Cohen, S & Burns, R.C. 1994. Pathway Of The Pulp. 6 th ed. St Louis : Mosby.

Kennedy, D.B., 1992. Konservasi Gigi Anak.Edisi ketiga. Jakarta : EGC.

Grossman et al., 1992. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Jakarta : EGC.

Guttman, J.L. 1992. Problem Solving In Endodontics, Prevention, Identification and Management.
2rd ed. St. Louis : Mosby Year Book.

Harty. FJ. alih bahasa Lilian Yuono. 1992. Endodontik Klinis. Jakarta : Hipokrates.
Ingle, J.L. & Backland, R.C. 1985. Endodontics. 3rd ed. Philadelphia : Lea & Febriger.

Mardewi, S. K.S.A. 2003. Endodontologi, Kumpulan naskah. Cetakan I. Jakarta : Hafizh.

Patrick Soedjono, Latief Mooduto & Laksmiari Setyowati, 2009 Penutupan Apeks Pada
Pengisian Saluran Akar dengan Bahan Kalsium Oksida lebih baik Dibanding Kalsium
Hydroksida Jurnal PDGI vol. 58 no. 2. Jakarta

Walton, R. & Torabinejad, M., 1996. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi. Edisi kedua. Jakarta :
EGC

Weine, F.S. 1996. Endodonthics Therapy. 5 th ed. St Louis : Mosby Year Book. Inc