Anda di halaman 1dari 23

1.

Sistem Pertidaksamaan Linier Dua Variabel

Ketidaksaman adalah kalimat tertutup yang dihubungkan oleh tanda ketidaksaman.


Pertidaksamaan linear dua variabel adalah suatu pertidaksamaan yang di dalamnya memuat dua
variabel yang masing-masing berderajat satu. Sistem pertidaksamaan linear dua variabel
terbentuk dari dua atau lebih pertidaksamaan linear dua variabel.

Pertidaksamaan linier dua variabel memiliki penyelesaian yang berada di dalam himpunan
penyelesaian. Himpunan penyelesaian ini berupa titik-titik yang terletak di bidang kartesian yang
apabila diambil dan dimasukkan ke dalam pertidaksamaan akan memenuhi persyaratan yang
diinginkan.
Ada tiga langkah untuk menentukan himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan linier dua
peubah :
Langkah-1 :
ax by c
Pada bidang kartesian kita menggambar garis yang merupakan persamaan
Langkah-2 :
P x1 , y1 ax by c
Pada bidang kartesian, kita ambil sebuah titik yang berada di luar garis

P x1 , y1

dan disubsitusikan ke dalam pertidaksamaan untuk menguji apakah titik terletak

ax1 by1 c P x1 , y1

pada daerah himpunan penyelesaian atau tidak. Jika maka adalah

ax by c ax1 by1 c P x1 , y1

penyelesaian pertidaksamaan . Jika maka adalah

ax by c
penyelesaian pertidaksamaan
Langkah-3 :
Memberikan arsiran pada bidang kartesian dimana daerah yang diarsir melambangkan daerah
himpunan penyelesaian pertidaksamaan linier dua peubah.

Contoh 1 :
Adi ke toko buku untuk membeli pensil yang harganya Rp.4000,- per buahdan buku tulis yang
harganya Rp.5000,-, per buah, berapa uang minimal yang harus dibawa Adi supaya cukup untuk
mebayar barang yang dibeli.Gambarkan daerah penyelesaian pada bidang kartesius.
Jawab :
Alternatif jawaban:
(1) Pertidaksamaan yang dapat di buat adalah
4000x + 5000 y 10.000
Pertidaksamaan dapat disederhanakan menjadi :
4x + 5y 10
(2) Membuat grafik penyeleaian pada bidang kartesius.
Langkah 1 : Kita menggambar garis 4x+ 5y =10. Di bidang kartesian, garis 4x+ 5y =10
memotong sumbu X di (2.5,0) dan memotong sumbu Y di (0,2).
X 0 2.
5
Y 2 0
P 1,1

Langkah 2 : Kita ambil sebuah titik, misalkan kita ambil titik yang berada di luar
garis 4x + 5y = 10.
P 1,1
4.1+5.1 = 9 10.
P 1,1 P 1,1

Titik memenuhi pertidaksamaan 4x+5y 10, sehingga terletak di daerah


himpunan penyelesaian.
Langkah 3 : Memberikan arsiran pada bidang kartesian yang menunjukkan daerah himpunan

4 x 5 y 20
penyelesaian pertidaksamaan linier dua peubah . Daerah himpunan
penyelesaian ditunjukkan oleh gambar dibawah :
Y

(0,2)

P(1,1)
(2.5,0)
X

Sistem Pertidaksamaan Linier Dua Variabel.

Sistem pertidaksamaan linier dua variabel adalah suatu permasalahan matematis dimana
terdapat lebih dari satu pertidaksamaan linier dua variabel dengan daerah himpunan
penyelesaian merupakan gabungan dari masing-masing pertidaksamaan linier dua variabel.

Bentuk umum dari pertidaksamaan adalah sebagai berikut:

U(x) < v(x) u(x) < v(x)

U(x) > v(x) u(x) > v(x)

notasi ketidaksamaan

Misalnya a dan b bilangan real

a, a dikatakan kurang dari b, ditulis a < b jika dan hanya jika a b negatif

sebagai contoh, 7<12 kerena 7 12 = -5 dan -5 negatif


b, a dikatakan lebih dari b, ditulis a >b jika dan hanya jika a-b positif.

Sebagai conth, 5>2 karena 5-2= 3 dan 3 positif

C, a dikatakan kurang dari atau sama dengan b, ditulis a< b jika dan hanya jika

A < b atau a = b.

Dengan kata lain, a < b adalah ingkaran a > b

Sebagai contoh, 4 < 7 adalah benar karena 4 > 7 adalah salah

D, a adalah dikatakan lebih dari atau sama dengan b, ditulis a > b jika dan hanya

Jika a > b atau a = b

Dengan kata lain, a >b adalah ingkaran dari a < b

Sebagai contoh, 7 > 3 adalah benar karena 7 < 3 adalah salah

Definisi pertidaksamaan

Pada uraian diatas, diberikan notasi dari ketidaksamaan a < b, a>b,

A < b dan a > b. pertidaksamaan didefinisikan sebagai kalimat terbuka yang dihubungkan oleh
notasi ( lambang ) ketidaksamaan < , > , < atau >

2.3.1.3 selang atau interval

Ada 8 macam kemungkinan selang atau interval yang sering dijumpai dalam menyelesaikan
suatu pertidaksamaan, yaitu:

Selang 1-4 dinamakan selang hingga, sedangkan selang 5-8 dinamakan selang tak hingga.

2.3.1.4 sifat-sifat pertidaksamaan


1. Tanda pertidaksamaan tidak akan berubah jika kita menambahkan atau mengurangkan suatu
pertidaksamaan dngan bilangan atau suatu ekspresi matemtaika tertentu

Contoh soal:

Tentukan penyelesaiaan dari pertidaksamaan berikut!

X2<5

Jawab:

X2<5

X2+2<5+2

X<7

2. Tanda pertidaksamaan tidak akan berubah jika kita mengalikan atau membaginya dengan
bilangan positif

Contoh soal:

Tentukan penyelesaiaan dari pertidaksamaan berikut!

2x > 14

Jawab :
2x > 14

1 x 2x > 1 x 14

2 2

X>7

3. Tanda pertidaksamaan akan berbalik jika dikali atau dibagi dengan sebuah bilangan negatif

Contoh soal:

Tentukan penyelesaiaan dari pertidaksamaan berikut!

-4x > -20

Jawab :

-4x > -20

-4x < -20x

(-4) (-4)

X<5

contoh

Tentukan himpunan penyelesaiaan dari pertidaksamaan berikut pada garis bilangan!


4x + 2 < 10

Jawab:

4x + 2 < 10

4x + 2 2 < 10 2

4x < 8

X<2

Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {x| x < 2, x E R}

-2 -1 0 1 2

2.3.3 Pertidaksamaan Berbentuk Pecahan

Untuk menyelesaikan pertidaksamaan berbentuk pecahan, ada beberapa langkah yang harus kita
ikuti antara lain:

a.mengubah ruas kanan pertidaksamaan menjadi nol

b. menyederhanakan ruas kiri dengan memfaktorkan pembilang dan penyebut

c. menentukan nilai fakrtor pembuat nol pembilang dan penyebut

d. letakan nilai faktor pembuat nol pada garis bilangan

e. menentukan tanda + untuk nilai pertidaksamaan yang > 0 dan tanda untuk nilai
pertidaksamaan yang < 0

f. himpunan penyelesaiaanya adalah pada interval yang memenuhi nilai yang sesuai dengan
tanda pertidaksamaan pecahan yang telah disederhanakan setelah diuji

contoh soal:

tentukan himpunan penyelesaiaan dari pertidaksamaan berikut!

2x-1 > 1, x = 3

x-3
jawab :

2x-1 > 1

x-3

2x-1 -1 > 0

x-3

2x-1 x3

x-3 x3

x+2

x3

nilai faktor pembuat nol pembilang adalah x= -2

nilai faktor pembut nol penyebut dlh x = 3

lakukan pengujian nilai x pada garis bilangan, sehinga

+++ +++

-3 -2 -1 0 1 2 3 4

Jadi himpunan penyelesaiannya adalah {x| x < -2 atau x > 3, x E R}

Contoh :

1. Suatu tempat parkir mobil, hanya dapat menampung 2 jenis mobil yaitu sedan
dan bus sebanyak 20 mobil. Sebuah mobil sedan memerlukan tempat parkir
seluas 12m 2 dan mobil bus 24m 2, sedangkan luas parkir adalah 1320m 2.
Buatlah model matematika dari persoalan diatas dan Buatlah fungsi sasaran
jika harga karcis parkir mobil sedan Rp. 3.000,- dan bus Rp.4.500,-.
Jawab :

Misalkan :

Banyak sedan = x

Banyak bus =y
Jenis Banyak Luas/mobil Harga karcis
Sedan x 12 Rp. 3.000,-
bus y 24 Rp. 4.500,-
Max 80 1320 Fungsi obyektif

Sistem pertidaksamaan : syarat x >; y > 0


x + y < 80

12 x + 24 y < 1320 (boleh disederhanakan)

x + 24 x < 110

Jenis sasaran : F (x, y) = Z = 3000 + 4500 y

(tidak boleh disederhanakan)

A. Pengertian Matriks

a. Definisi Matriks

`Menurut Nasoetion (1980:24), suatu matriks merupakan himpunan unsur-unsur


yang disusun berdasarkan penggolongan terhadap dua sifat yang sering disebut
dengan istilah baris dan kolam. Susunan bilangan - bilangan yang diatur pada baris
dan kolom dan letaknya diantara dua buah kurung (http://www.Belajar-
Matematika.com ). Sederetan bilangan yang berbentuk segi empat yang diapit oleh
sepasang kurung siku (http://www.p4tkmatematika.org/downloads/smk/Matriks).
Berdasarkan pemaparan tersebut maka dapat disimpulkan, Matriks merupakan
susunan bilangan-bilangan yang berbentuk siku-empat terdiri dari baris dan kolom
dengan diapit oleh sepasang kurung siku. Sebagai contoh :

[ ]
2 2 5
a.
1 3 1
5 12 9 dan [ ]
3 3
b. 1 2

Baris suatu matriks adalah susunan bilangan-bilangan yang mendatar dalam


matriks. Kolom suatu matriks adalah susunan bilangan-bilangan yang tegak dalam
matriks.
Bentuk umum :
[ ]
a11 a1 n

Secara umum matriks Amxn = am 1 a mn

Perhatikan bahwa elemen matriks A tersebut berindeks rangkap misalnya a 11,


yang artinya matriks A pada baris ke-1 dan kolom ke-1. Untuk lebih jelasnya bentuk
umum seperti :

a 11 a 1 j . a 1 n
a 21 a 2 j . a 2 n
[ aij ]
Amxn = mxn ai 1 aij . ain
am1 amj . amn

m= baris i = 1,2m
n= kolom j= 1,2n
Matriks dinotasikan dengan huruf capital misalnya A, B, C dan lain-lain.
Banyanya baris dan banyaknya kolom menentukan ukuran dari matriks tersebut yang
disebut ordo matriks. Perhatikan bahwa elemen dari matriks A di atas, misal a 21
menyatakan elemen pada matriks A tersebut terletak pada baris ke 2 dan kolom ke 1.
Sedangkan matriks A berordo mxn dan ditulis Amxn.
Jadi, Matriks adalah kumpulan bilangan-bilangan yang disusun secara khusus dalam
bentuk baris dan kolom sehingga membentuk persegi panjang dan bujur sangkar dimana
panjang dan lebarnya ditunjukkan oleh kolom dan baris yang ditulis diantara dua tanda
kurung, yaitu ( ) dan [ ].

b. Simbol Matriks

Pada umumnya simbol matriks berbentuk | |, [ ], ( ). Secara umum sebuah matriks dapat
ditulis :
a11 a12 a1 j a1n
a a 22 a2 j a 2 n
21


ai1 ai 2 aij ain


a m1 am2 a mj a mn

Amxn =

Matriks juga dapat dinyatakan sebagai: Amxn = [aij]mxn

Dimana: aij = elemen atau unsur matriks

i = 1,2,3,...m, indeks baris

j = 1,2,3,...n, indeks kolom

c. Bentuk-Bentuk Matriks

1. Ordo 2 x 1 mengandung pengertian 2 baris dan 1 kolom.

a
b

Misalnya:

2. Ordo 2 x 2 mengandung pengertian 2 baris dan 2 kolom.

a b
c d

Misalnya:

3. Ordo 3 x 3 mengandung pengertian 3 baris dan 3 kolom.

a b c
d e f

g h i

Misalnya:

B. Bentuk Khas Matriks


Matriks Nol
Yaitu matriks yang semua elemen penyusunnya adalah nol dan dinotasikan sebagai O.
0 0 0
Contoh: O2x3 = 0 0 0

Matriks Diagonal
Yaitu matriks persegi yang semua elemen diatas dan dibawah diagonal utamanya adalah
nol.

Contoh: F2x2 = [ ]
1 0
0 3

Matriks Skalar
Yaitu matriks diagonal yang semua elemen pada diagonalnya sama dan elemen-elemen
selain diagonal utama adalah 0.

[ ]
Contoh: F2x2 = 0 3
3 0

Matriks Simetri
Yaitu matriks persegi yang setiap elemennya selain elemen diagonal adalah simetri
terhadap diagonal utama, atau matriks dimana susunan elemen-elemen antara matriks
dengan transposenya sama. C=CT; maka C adalah matriks simetris
1 2 3
2 2 5
Contoh: C3x3 = 3 5 3

Matriks Simetri Miring


Yaitu Matriks simetri yang elemen-elemennya selain elemen diagonal saling berlawanan.
1 2 3
2 2 5
Contoh: W3x3 = 3 5 3

Matriks Identitas (satuan)


Yaitu matriks diagonal yang semua elemen pada diagonal utamanya adalah satu dan
elemen yang lain adalah nol dan dinotasikan sebagai I.

[ ]
1 0 0
0 1 0
Contoh: I3x3 = 0 0 1

Matriks Segitiga Atas


Yaitu dikatakan segitiga atas jika aij = 0 untuk i>j dengan kata lain matriks persegi yang
elemen-elemen di bawah diagonal utamanya adalah nol.

[ ]
2 3 3
0 1 1
Contoh: K3x3 = 0 0 8

Matriks Segitiga Bawah


Yaitu dikatakan segitiga bawah jika aij = 0 untuk i<j dengan kata lain matriks persegi
yang elemen-elemen di atas diagonal utamanya adalah nol.

[ ]
Contoh: V3x3 = 2 0 0
2 1 0
3 1 8

Matriks Transpose

Yaitu matriks yang diperoleh dari memindahkan elemen-elemen baris menjadi elemen
pada kolom atau sebaliknya. Transpose suatu matriks dilambangkan dengan T, misal
transpose matriks B dilambangkan dengan BT

1 0
1 2 3
2 3
Contoh: B2x3 = 0 3 4 , maka BT =
3 4

Perhatikan bahwa ordo dari BT adalah 3x2. Sehingga pada matriks transpose baris
menjadi kolom dan sebaliknya, kolom menjadi baris.

Determinan Matriks

1. Determinan matriks ordo 2 x 2

a b
c d

Misalkan A = adalah matriks yang berordo 2 x 2 dengan elemen a dan d
terletak pada diagonal utama, sedangkan b dan c terletak pada diagonal utama kedua.

Determinan matriks A dinotasikan det A atau adalah suatu bilangan yang diperoleh
dengan mengurangi hasil kali elemen-elemen pada diagonal utama pertama dengan hasil kali
pada diagonal utama kedua.

Dengan demikian dapat diperoleh rumus det A sebagai berikut:

det A = = ad bc

a b
c d

Contoh:

Tentukanlah determinan metriks matriks berikut:

5 2 4 1
4 3 3 2

A= b.

Penyelesaian:

5 2
4 3

a. det A = = (5) (3) - (2) (4) = 7

4 1
3 2

b. det B = = (-4) (2) (-1) (3) = -5

2. determinan matriks ordo 3 x 3


a11 a12 a13
a a 22 a 23
21
a 31 a32 a33

jika A = adalah matriks persegi berordo 3 x 3, determinan A

a11 a12 a13


a a 23
21 a 22
a 31 a32 a33

dinyatakan dengan det A = .

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk menentukan matriks berordo 3 x 3, yaitu aturan
sarrus dan metode minor-kofaktor.

aturan sarrus

Untuk menentukan determinan dengan aturan sarrus, perhatikan alur berikut. Misalnya
kita akan menghitung determinan matriks A3x3, gambaran perhitungannya adalah sebagai
berikut:

a11 a12 a13 a11 a12


det A a 21 a 22 a 23 a 21 a 22
a 31 a32 a33 a 31 a 32

a11a 22 a33 a12 a 23 a31 a 13 a 21a32 a13 a 22 a31 a11a 23 a32 a12 a 21a33

metode minor-kofaktor

Misalkan matriks A dituliskan dengan [aij]. Minor elemen aij yang dinotasikan dengan Mij
adalah determinan setelah elemen-elemen baris ke-i dan kolom ke-j dihilangkan.
Misalnya dari matriks A3x3 kita hilangkan baris ke-2 kolom ke-1 sehingga: A =

a11 a12 a13


a a 22 a 23
21
a 31 a32 a33

a12 a13
a a33
32
Akan diperoleh M21 = . M21 adalah minor dari elemen matriks A baris ke-2
kolom ke-1 atau M21 = a21.

Kofaktor elemen aij dinotasikan dengan Kij adalah hasil kali (-1)i+j dengan minor elemen
tersebut. Dengan demikian kofaktor suatu matriks dirumuskan dengan:

Kij= (-1)i+j Mij

Dari matriks A diatas, kita peroleh misalnya kofaktor a 21 dan a13 berturut-turut adalah :

K21=(-1)2+1M21= -M21

K13=(-1)1+3M13= -M13

k11 k12 k13


k k 22 k 23
21
k 31 k 32 k 33

Kofaktor dari matriks A3x3 adalah (kof) A =

Nilai dari suatu determinan merupakan hasil penjumlahan dari perkalian suatu elemen-
elemen suatu baris (atau kolom) dengan kofaktornya. Untuk menghitung determinan, kita
dapat memeilih terlebih dahulu sebuah baris (atau kolom) kemudian kita gunakan aturan
diatas. Perhatikan cara menentukan determinan berikut:
a11 a12 a13
a a 22 a 23
21
a 31 a32 a33

Misalkan diketahui matriks A =

Determinan matriks A dapat dihitung dengan cara berikut:

Kita pilih baris pertama sehingga:

a11k11 a12 k12 a13 k13

det A =

a11 (1)11 M 11 a12 (1)1 2 M 12 a13 (1)1 3 M 13

a 22 a 23 a a 23 a a 22
a11 a12 21 a13 21
a32 a33 a31 a33 a31 a 32

a11 (a 22 a33 a 23a 32 ) a12 (a 21a33 a 23 a 31 ) a13 ( a 21a32 a 22 a31 )

a11a 22 a33 a11a 23 a 32 a12 a 21a33 a12 a 23 a31 a13 a 21a32 a13 a 22 a31

a11a 22 a33 a12 a 23 a31 a13 a 21a32 a11a 23 a 32 a12 a 21a 33 a13 a 22 a31

Tampak bahwa det A matriks ordo 3 x 3 yang diselesaikan dengan cara minor kofaktor
hasilnya sama dengan det A dengan menggunakan cara sarrus.

Contoh:
1 2 3
2 1 4

3 1 2

Tentukan determinan dari matriks A = dengan aturan sarrus dan minor


kofaktor!

Penyelesaian:

Cara 1 (aturan sarrus):

1 2 3
2 1 4

3 1 2

det A =

= (1 x 1 x 2) + (2 x 4 x 3) + (3 x 2 x 1) (3 x 1 x 3) (1 x 4 x1) (2 x 2 x 2)

= 2 + 24 + 6 9 4 8

= 11

Cara 2 (minor-kofaktor):

1 4 2 4 2 1
1 2 2 3
3 2 3 1
det A = 1

= 1 (2 4) 2 (4 12) + 3 (2 3)

= 1 (-2) 2(-8) + 3(-1)

= -2 + 16 3 = 11

3. Sifat-Sifat Determinan Matriks

Berikut beberapa sifat determinan matriks:

1. jika semua elemen dari salah satu baris/kolom sama dengan nol maka determinan matriks
itu nol.
2 3 1
0 0 0 B 0
0 0
2 3 A 0 5 4 1

Misal: A = , B=

2. jika semua elemen dari salah satu baris/kolom sama dengan baris/kolom elemen-elemen
lain maka determinan matriks itu nol.

4 3 2
5 7 8 B 0

4 3 2

Misal: B = (karena elemen-elemen baris ke-1 dan ke-3 sama).

3. Jika elemen-elemen salah satu kolom/baris merupakan kelipatan dari elemen-elemen


baris/kolom lain maka determinan matriks itu sama dengan nol.

1 2 3
5 7 0 A 0

2 4 6

Misal: A = (karena elemen-elemen baris ke-3 merupakan kelipatan


elemen-elemen baris ke-1)

AB A x B

4.

AT A

5. , untuk AT adalah transpose dari matriks A.

1
A 1
A

6. , untuk A-1 adalah invers dari matriks A

kA kn A

7. untuk A ordo n x n dan k suatu konstanta.


C. Adjoin Matriks

Adalah transpose dari kofaktor-kofaktor matriks tersebut, dilambangkan dengan adj A=


(ij)T

Contoh :

[ ]
1 2 1
0 2 1
H= kita telah mengetahui sebelumnya 11= 4, 12= 2,
2 0 2

13= -4,

21= (-1) 2+1 | |


2 1 =
0 2 -4, 22= (-1) 2+2 | |
1 1 =
2 2 0

23= (-1) 2+3 | |


1 2 =4 ,
2 0 31= (-1)3+1 | |
2 1
2 1 =0

32= (-1) 3+2 | |


1 1 =
0 1 -1, 33= (-1)3+3 | |
1 2
0 2 =2

[ ] [ ]
11 21 31 4 4 0
12 22 32 2 0 1
maka adj H = 13 23 33 = 4 4 2

D. Penerapan Matriks Dalam Sistem Persamaan Linear


Pada bab sebelumnya telah dibahas tentang penyelesaian system persamaan linear dengan
menggunakan metode grafik, metode eliminasi, dan metode substitusi. Pada bab ini, kita akan
menyelesaikan system persamaan linear tersebut dengan menggunakan matriks. Misalkan, sistem
persamaan linear berikut.
ax + by = e
cx + dy = f
Sistem persamaan linear tersebut dapat kita tuliskan dalam persamaan
matriks berikut.
a b x e

c d y f

Persamaan matriks ini dapat kita selesaikan dengan menggunakan sifat berikut.
1. Jika XA=B, maka X=A-1B, dengan |A| 0
2. Jika XA=B, maka X=BA-1, dengan |A| 0
Contoh:
Tentukanlah penyelesaian sistem persamaan linear berikut!
3x - 4y = 5
5x + 6y = 1

Penyelesaian:
Terlebih dahulu, ubah sistem persamaan linear tersebut menjadi persamaan matriks berikut.
3 4 x 5

5 6 y 1
A X B

Kemudian, tentukan determinan matriks A, yaitu :


3 4
A 18 20 38
5 6

Penyelesaian sistem persamaan linear tersebut dapat kita tentukan dengan cara berikut.
1 6 4
A 1
38 5 3
17
x 1 6 4 5 19

y 38 5 3 1 11
19
A A 1 B
17 11
jadi, x dan y
19 19

Selain dengan cara di atas, sistem persamaan linear dapat juga diselesaikan dengan menggunakan
aturan Cramer berikut.
A1 A2 Aj
x1 , x2 , , x j
A A A

Jika AX=B maka


Aj adalah matriks yang didapat dengan mengganti elemen-elemen pada kolom-j dari matriks A
dengan elemen-elemen matriks B.
Contoh:
Tentukanlah penyelesaian sistem persamaan linear berikut!
3x - 4y = 5
5x + 6y = 1
Penyelesaian:
Terlebih dahulu tentukan A,A1, dan A2
3 4
A 38
5 6
5 4
A1 34
1 6
3 5
A2 22
5 1
A1 34 17 A2 22 11
jadi x dan y
A 38 19 A 38 19

Dengan demikian, penyelesaian sistem persamaan linear tersebut adalah

17 11
x dan y
19 19

Daftar pustaka:

Chiang, Alpha C., Dasar-Dasar Matematika Ekonomi, Jilid 1, Edisi Ketiga,


Penerbit Erlangga, Jakarta

Dumairy, (2003/2004), Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi, Cetakan


ke 12, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.

H.Johanes dan Budiono Sri Handoko, (1994), Pengantar Matematika untuk


Ekonomi, LP3ES, Jakarta.

Johanes, Kastolan, Sulasim. 2006. Kompetensi matematika. Jakarta: Yudhistira.

JR, Frank Ayres. 1985. Teori dan soal-soal matriks (versi S1/matriks). Jakarta:
Erlangga.
Tim penyusun soal. 2008. Detik-detik ujian nasional. Klaten: Intan Pariwara.

Kementrian pendidikan. 2013 Matematika kelas x. indonesia