Anda di halaman 1dari 45

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

FAKULTAS KEDOKTERAN

Referat
Pemeriksaan Fisik Telinga, Hidung, dan Tenggorokkan

Pembimbing :

Dr. Tantri Kurniawati Sp THT-KL, M.kes

Disusun Oleh :

Claudia Fetricia

112016075

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG


TENGGOROKAN

KEPALA DAN LEHER

RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG

Periode 13 Februari 2017 s/d 18 Maret 2017

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesempatan dan kesehatan kepada saya sehingga dapat menyusun referat ini
dengan baik serta tepat waktunya. Didalam referat ini, saya akan membahas mengenai
pemeriksaan fisik telinga, hidung, dan tenggorokan.

Referat ini telah dibuat dengan pencarian melalui buku-buku rujukan dan juga
penulusuran situs medikal serta telah mendapatkan beberapa bantuan dari pelbagai pihak
untuk membantu dalam menyelesaikan tantangan dan hambatan selama proses mengerjakan
referat ini. Oleh kerana itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada referat ini. Oleh karena itu
saya mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang dapat membangun nilai
kerja saya ini. Kritikan yang berunsur konstruktif dari pembaca sangat saya harapkan untuk
penyempurnaan referat ini selanjutnya. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan penulis memohon maaf sebesar-
besarnya.

Akhir kata semoga referat ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Karawang, Maret 2017

Penulis

2
BAB I

Pendahuluan

Penyakit telinga, hidung, dan tenggorok (THT) sangat banyak terjadi di


masyarakat saat saat ini. Untuk dapat mengetahui tentang penyakit telinga, hidung,
dan tenggorok (THT) ini seorang dokter harus lebih dahulu mengetahui anatomi dan
fisiologi dari masing-masing organ tersebut. Selain itu, sebagai dokter juga harus
mengetahui bagaimana cara pemeriksaan fisik yang baik pada organ tersebut. Selain
telinga, hidung, dan tenggorok tentunya ada organ-organ lain yang tidak kalah penting
fungsinya. Salah satunya adalah kelenjar limfa atau yang biasa disebut kelenjar getah
bening. Sistem aliran limfa ini penting untuk dipelajari dan diketahui oleh seorang
dokter, karena hampir semua bentuk radang atau keganasan kepala dan leher akan
terlihat dan bermanifestasi ke kelenjar limfa leher. Setelah mempelajari makalah ini
diharapkan dokter muda dapat mengetahui anatomi, fisiologi dan cara pemeriksaan
penyakit THT, sehingga diharapkan dapat membantu penegakkan diagnosis penyakit-
penyakit pada organ-organ telinga, hidung, dan tenggorok (THT).

3
BAB II

Anatomi dan Fisiologi Telinga, Hidung, dan Tenggorokkan

I. Anatomi
Anatomi Telinga

Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara yang ada di
sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui / mengidentifikasi apa yang terjadi di sekitar kita
tanpa harus melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Orang yang tidak bisa mendengar
disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian

dalam. 1

Gambar 1. Telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam

a. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas auricula dan meatus akustikus eksternus, sampai membran
timpani. Auricula mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi mengumpulkan getaran udara,
auricula terdiri atas lempeng tulang rawan elastis tipis yang ditutupi kulit. Auricula juga
mempunyai otot intrinsic dan ekstrinsik, yang keduanya dipersarafi oleh N.facialis.2
Bagian selanjutnya adalah meatus akustikus eksternus atau dikenal juga dengan liang
telinga luar. Meatus akustikus eksternus merupakan sebuah tabung berkelok yang
menghubungkan auricula dengan membran timpani. Pada orang dewasa panjangnya lebih

4
kurang 1 inchi atau kurang lebih 2,5 cm, dan dapat diluruskan untuk memasukkan otoskop
dengan cara menarik auricula ke atas dan belakang. Pada anak kecil auricula ditarik lurus ke
belakang, atau ke bawah dan belakang. Bagian meatus yang paling sempit adalah kira-kira 5
mm dari membran timpani.1, 2
Rangka sepertiga bagian luar meatus adalah kartilago elastis, dan dua pertiga bagian
dalam adalah tulang yang dibentuk oleh lempeng timpani. Meatus dilapisi oleh kulit, dan
sepertiga luarnya mempunyai rambut, kelenjar sebasea, dan glandula seruminosa. Glandula
seruminosa ini adalah modifikasi kelenjar keringat yang menghasilkan sekret lilin berwarna
coklat kekuningan. Rambut dan lilin ini merupakan barier yang lengket, untuk mencegah
masuknya benda asing.1, 2
Saraf sensorik yang melapisi kulit pelapis meatus berasal dari n.auriculotemporalis
dan ramus auricularis n. vagus. Sedangkan aliran limfe menuju nodi parotidei superficiales,
mastoidei, dan cervicales superficiales.2

b. Telinga Tengah
Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis temporalis yang
dilapisi oleh membrana mukosa. Ruang ini berisi tulang-tulang pendengaran yang berfungsi
meneruskan getaran membran timpani (gendang telinga) ke perilympha telinga dalam.
Kavum timpani berbentuk celah sempit yang miring, dengan sumbu panjang terletak lebih
kurang sejajar dengan bidang membran timpani. Di depan, ruang ini berhubungan dengan
nasopharing melalui tuba eustachius dan di belakang dengan antrum mastoid.2
Telinga tengah mempunyai atap, lantai, dinding anterior, dinding posterior, dinding
lateral, dan dinding medial. Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang, yang disebut tegmen
timpani, yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis. Lempeng ini memisahkan
kavum timpani dan meningens dan lobus temporalis otak di dalam fossa kranii media. Lantai
dibentuk di bawah oleh lempeng tipis tulang, yang mungkin tidak lengkap dan mungkin
sebagian diganti oleh jaringan fibrosa. Lempeng ini memisahkan kavum timpani dari bulbus
superior V. jugularis interna. Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng tipis
tulang yang memisahkan kavum timpani dari a. carotis interna. Pada bagian atas dinding
anterior terdapat muara dari dua buah saluran. Saluran yang lebih besar dan terletak lebih ba-
wah menuju tuba auditiva, dan yang terletak lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam
saluran untuk m. tensor tympani. Septum tulang tipis, yang memisahkan saluran-saluran ini
diperpanjang ke belakang pada dinding medial, yang akan membentuk tonjolan mirip selat.
Di bagian atas dinding posterior terdapat sebuah lubang besar yang tidak beraturan, yaitu

5
auditus antrum. Di bawah ini terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit, kecil,
disebut pyramis. Dari puncak pyramis ini keluar tendo m. stapedius. Sebagian besar dinding
lateral dibentuk oleh membran timpani.1, 2
Membran timpani adalah membrana fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara.
Membran ini terletak miring, menghadap ke bawah, depan, dan lateral. Permukaannya konkaf
ke lateral. Pada dasar cekungannya terdapat lekukan kecil, yaitu umbo, yang terbentuk oleh
ujung manubrium mallei. Bila membran terkena cahaya otoskop, bagian cekung ini
menghasilkan "refleks cahaya", yang memancar ke anterior dan inferior dari umbo.2
Membran timpani berbentuk bulat dengan diameter lebih-kurang 1 cm. Bagian atas
disebut pars flaksida. Bagian bawah disebut pars tensa. Pars flaksida hanya berlapis dua,
bagian luar adalah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus
bersilia. Pars tensa memiliki satu lapis lagi di bagian tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari
kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di
bagian dalam. Membran tympan sangat peka terhadap nyeri dan permukaan luarnya
dipersarafi oleh n.auriculotemporalis dan ramus auricularis n. vagus.2,3
Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dalam. Bagian terbesar dari
dinding memperlihatkan penonjolan bulat, disebut promontorium, yang disebabkan oleh
lengkung pertama cochlea yang ada di bawahnya. Di atas dan belakang promontorium
terdapat fenestra vestibuli, yang berbentuk lonjong dan ditutupi oleh basis stapedis. Pada sisi
medial fenestra terdapat perilympha scala vestibuli telinga dalam. Di bawah ujung posterior
promontorium terdapat fenestra cochleae, yang berbentuk bulat dan ditutupi oleh membran
timpani sekunder. Pada sisi medial dari fenestra ini terdapat perilympha ujung buntu scala
timpani.2,3
Di bagian dalam rongga ini terdapat 3 jenis tulang pendengaran yaitu tulang maleus,
inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang.
Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosessus longus maleus
melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes.
Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea.3
Ada 2 otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor
timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula ke arah
posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga timpani
dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus. Tendo otot stapedius
berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior dan berjalan anterior

6
untuk berinsersi ke dalam leher stapes. Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam
getaran-getaran berfrekuensi tinggi.2
Tuba eustachius terbentang dart dinding anterior kavum timpani ke bawah, depan, dan
medial sampai ke nasopharynx. Sepertiga bagian posteriornya adalah tulang dan dua pertiga
bagian anteriornya adalah cartilago. Tuba berhubungan dengan nasopharynx dengan berjalan
melalui pinggir atas m. constrictor pharynges superior. Tuba berfungsi menyeimbangkan
tekanan udara di dalam cavum timpani dengan nasopharing.2

c. Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler
yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut
helikotrema, menghubungkan perilimfe skala timpani dengan skala vestibuli.3
Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di
sebelah bawah, dan skala media (duktus koklearis) di antaranya. Skala vestibuli dan skala
timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli
disebut sebagai membran vestibuli (Reissneijs membrane) sedangkan dasar skala media
adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti.3
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran
tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel
rambut luar, dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.3

Gambar 2. Telinga Dalam

Anatomi Hidung

7
a. Anatomi hidung luar
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar
menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar dibedakan atas
tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya terdapat
kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; dan yang paling bawah adalah lobulus hidung
yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari
atas ke bawah :
1) pangkal hidung (bridge),
2) batang hidung (dorsum nasi),
3) puncak hidung (hip),
4) ala nasi,
5) kolumela,
6) lubang hidung (nares anterior).
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari:
1) tulang hidung (os nasal)
2) prosesus frontalis os maksila
3) prosesus nasalis os frontal;
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu
1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (ala mayor)
3) tepi anterior kartilago septum. 4

b. Anatomi hidung dalam


Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring.
Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan
konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,
berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas
konka media disebut meatus superior.2

Gambar 3. Anatomi Hidung Dalam

8
Septum nasi
Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian
posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh
kartilago septum (kuadrilateral) , premaksila dan kolumela membranosa; bagian
posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila , Krista palatine serta krista
sfenoid. 2

Kavum nasi
Kavum nasi terdiri dari:
1. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus
horizontal os palatum.
2. Atap hidung
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os sphenoid.
Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh
filament-filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial
konka superior.

3. Dinding Lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os
maksila, os lakrimalis, konka superior dan konka media yang merupakan
bagian dari os etmoid, konka inferior, lamina perpendikularis os platinum dan
lamina pterigoideus medial.

9
4. Konka
Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka. Celah antara
konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior, celah antara
konka media dan inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka
media disebut meatus superior. Kadang-kadang didapatkan konka keempat
(konka suprema) yang teratas. Konka suprema, konka superior, dan konka
media berasal dari massa lateralis os etmoid, sedangkan konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan
palatum.5

Meatus superior
Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara
septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Kelompok sel-sel etmoid
posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau beberapa ostium yang
besarnya bervariasi. Di atas belakang konka superior dan di depan korpus os sfenoid
terdapat resesus sfeno-etmoidal, tempat bermuaranya sinus sfenoid.5

Meatus media
Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih
luas dibandingkan dengan meatus superior. Di sini terdapat muara sinus maksila,
sinus frontal dan bagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian anterior konka media
yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulan
sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk
bulan sabit yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang
dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk
tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di atas
infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah
satu sel etmoid. Ostium sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid anterior
biasanya bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya
bermuara di bagian anterior atas, dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus
frontal. Adakalanya sel-sel etmoid dan kadang-kadang duktus nasofrontal mempunyai
ostium tersendiri di depan infundibulum.2

10
Meatus Inferior
Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus, mempunyai
muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di
belakang batas posterior nostril.

Nares Posterior
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan
nasofaring, berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. Tiap nares
posterior bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum, bagian dalam
oleh os vomer, bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh
lamina pterigoideus.2

Sinus Paranasal
Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus
maksila, etmoid, frontalis dan sphenoid. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal terbesar
di antara lainnya, yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya menghadap ke
fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus zygomatikus os maksilla.2

Kompleks ostiomeatal (KOM)


Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa
celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM
terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi
penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus
semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan ressus frontal.
Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang
keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum
masuk ke rongga hidung. Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah
sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal. Dari resesus frontal
drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara
prosesus unsinatus dan konka media.6
Gambar 4. Kompleks Ostio Meatal

11
Perdarahan hidung
Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah
rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah
ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama
n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang cabang a.fasialis.7
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina,
a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach
(Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma,
sehingga sering menjadi sumber epistaksis (perdarahan hidung) terutama pada anak.2,7
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya .Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga
merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intracranial.2,7
Persarafan hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-1).
Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui
ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris
juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini
menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari
n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus.
Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka
media.

12
Nervus olfaktorius : saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di
daerah sepertiga atas hidung.7

Anatomi Tenggorokkan

Pada anatomi, tenggorokan bagian dari leher depan sampai kolumna vertebra. Terdiri
dari faring dan laring. Bagian yang terpenting dari tenggorokan adalah epiglottis, ini menutup
jika ada makanan dan minuman yang lewat dan akan menuju ke esophagus. Tenggorakan jika
dipendarahi oleh bermacam-macam pembuluh darah, otot faring, trakea dan esophagus.
Tulang hyoid dan klavikula merupakan salah satu tulang tenggorokan untuk mamalia.

a. Rongga mulut
Rongga mulut dan faring dibagi menjadi beberapa bagian. Rongga mulut terletak di
depan batas bebas palatum mole, arkus faringeus anterior dan dasar lidah. Bibir dan pipi
terutama disusun oleh sebagian besar otot orbikularis oris yang dipersarafi oleh saraf fasilais..
Ruangan di antara mukosa pipi bagian dalam dan gigi adalah vestibulum oris. Muara duktus
kelenjar parotis menghadap gigi molar kedua atas.
Gigi ditunjang oleh krista alveolar mandibula dibagian bawah dan krista alveolar
maksila di bagian atas. Gigi pada bayi terdiri dari dua gigi seri, satu gigi taring dan dua gigi
geraham. Gigi dewasa terdiri dari dua gigi seri dan satu gigi taring, dua gigi premolar dan tiga
gigi molar. Permukaan oklusal dari gigi seri berbentuk menyerupai pahat dan gigi taring
tajam, sedangkan gigi premolar dan molar mempunyai permukaan oklusal yang datar. Daerah
diantara gigi molar paling belakang atas dan bawah dikenal dengan trigonum retromolar.
Palatum dibentuk oleh tulang dari palatum durum dibagian depan dan sebagian besar
dari otot palatum mole dibagian belakang. Palatum mole dapat dian gkat untuk faring bagian
nasal dari rongga mulut dan orofaring. Ketidakmampuan palatum mole menutup akan
mengakibatkan bicara yang abnormal (rinolalia aperta) dan kesulitan menelan. Dasar mulut
diantara lidah dan gigi terdapat kelenjar sublingual dan bagian dari kelenjar submandibula.
Muara duktus mandibularis terletak di depan ditepi frenulum lidah. Kegagalan kelenjar liur
untuk mengeluarkan liur menyebabkan mulut menjadi kering, atau xerostomia. Hal ini
merupakan keluhan yang menyulitkan pada beberapa pasien.2,3
Lidah merupakan organ muskular yang aktif. Dua pertiga bagian depan dapat
digerakkan, sedangkan pangkalnya terfiksasi. Otot dari lidah dipersarafi oleh saraf

13
hipoglosus. Dua pertiga lidah bagian depan dipersarafi oleh saraf lingualis dan saraf
glosofaringeus pada sepertiga lidah bagian belakang.3
Korda timpani mempersarafi cita rasa lidah dua pertiga bagian depan , sedangkan
saraf glosofaringeus mempersarafi cita rasa lidah sepertiga bagian belakang. Cita rasa dibagi
dalam daerah-daerah tertentu. Misalnya, rasa pahit dapat dirasakan pada lidah bagian
belakang. Permukaan lidah bagian atas dibagi menjadi dua pertiga depan dan sepertiga
bagian belakang oleh garis dari papila sirkumvalata yang berbentuk huruf V merupakan
tempat asal duktus tiroglosus. Fungsi lidah untuk berbicara dan menggerakkan bolus
makanan pada waktu pengunyahan dan penelanan.2

b. Faring
Faring bagian dari leher dan tenggorokan bagian belakang dari mulut, cavum nasi,
kranial atau superior sampai esofagus, laring dan trakea. Faring adalah suatu kantong
fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian
bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi
vertebra servikalis ke-6. ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke
depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring
dibawah berhubungan melaui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esofagus.
Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa kurang lebih 14 cm; bagian ini
merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam
keluar) selaput lendir, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia
bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring (hipofaring).2
Pada mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang oksiput inferior,
kemudian bagian depan tulang atas dan sumbu badan, dan vertebra servikalis lain. Nasofaring
membuka ke arah depan ke hidung melalui koana posterior. Superior, adenoid terletak pada
mukosa atap nasofaring. Disamping, muara tuba eustakhius kartilaginosa terdapat didepan
lekukan yang disebut fosa Rosenmuller. Kedua struktur ini berada diatas batas bebas otot
konstriktor faringis superior. Otot tensor veli palatini, merupakan otot yang menegangkan
palatum dan membuka tuba eustakhius, masuk ke faring melalui ruangan ini. Otot ini
membentuk tendon yang melekat sekitar hamulus tulang untuk memasuki palatum mole. Otot
tensor veli palatini dipersarafi oleh saraf mandibularis melalui ganglion otic.
Orofaring ke arah depan berhubungan dengan rongga mulut. Tonsila faringeal
dalam kapsulnya terletak pada mukosa pada dinding lateral rongga mulut. Didepan tonsila,
arkus faring anterior disusun oleh otot palatoglosus, dan dibelakang dari arkus faring

14
posterior disusun oleh otot palatofaringeus otot-otot ini membantu menutupnya orofaring
bagian posterior. Semuanya dipersarafi oleh pleksus faringeus.
Unsur-unsur faring meliputi mukosa, palut lendir (mucous blanket) dan otot:
Mukosa
Bentuk mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Pada nasofaring
karena fungsinya untuk saluran respirasi, maka mukosanya bersilia, sedang
epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Di bagian bawahnya, yaitu
orofaring dan laringofaring, karena fungsinya untuk saluran cerna, epitelnya
gepeng berlapis dan tidak bersilia.
Di sepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang
terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam sistem
retikuloendotelial. Oleh karena itu faring dapat disebut juga daerah pertahanan
tubuh terdepan

Palut Lendir (Mucous Blanket)


Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernapasan yang diisap melalui hidung.
Di bagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak diatas silia dan
bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lendir ini berfungsi
untuk menangkap partikel kotoran yang terbawa oleh udara yang diisap. Palut
lendir ini mengandung enzim Lyzozyme yang penting untuk proteksi.

Otot
Faring merupakan daerah dimana udara melaluinya dari hidung ke laring
juga dilalui oleh makanan dari rongga mulut ke esofagus. Oleh karena itu,
kegagalan dari otot-otot faringeal, terutama yang menyusun ketiga otot
konstriktor faringis, akan menyebabkan kesulitan dalam menelan dan biasanya
juga terjadi aspirasi air liur dan makanan ke dalam cabang trakeobronkial.
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan memanjang
(longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari m.konstriktor faring superior,
media dan inferior. Otot-otot ini terletak disebelah luar. Disebelah depan, otot-
otot ini bertemu satu sama lain dan dibelakang bertemu pada jaringan ikat yang

15
disebut rafe faring (raphe pharyngis). Kerja otot konstriktor untuk
mengecilkan lumen faring. Otot-otot ini dipersarafi oleh n.vagus (n.X)
Otot-otot yang longitudial adalah m.stilofaring dan m.palatofaring. letak
otot-otot ini sebelah dalam. M.stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan
menarik laring, sedangkan m.palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan
menaikkan bagian bawah faring dan laring. Jadi kedua otot ini bekerja sebagai
elevator. Kerja kedua otot itu penting pada waktu menelan. M.stilofaring
dipersarafi oleh n.IX sedangkan m.palatofaring dipersarafi dan m.azigos uvula.
M.levator veli palatini membentuk sebagian besar palatum mole dan
kerjanya untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba
eustacius.otot ini dipersarafi oleh n.X.
M. tensor veli palatini membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk
mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba eustachius.
Otot ini dipersarafi oleh n.X
M. palatoglosus membentuk arkus anterior faring dan kerjanya
menyempitkan ismus faring. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M. palatofaring membentuk arkus posterior faring. Otot ini dipersarafi oleh
n.X.
M. azigos uvula merupakan otot yang kecil, kerjanya memperpendek dan
menaikkan uvula ke belakang atas. Otot ini dipersarafi oleh n.X.

Pendarahan
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak
beraturan. Yang utama berasal dari cabang a.karotis eksterna (cabang faring
asendens dan cabang fausial) serta dari cabang a.maksila interna yakni cabang
palatina superior.

Persarafan
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring
yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang faring dari n.vagus, cabang dari
n.glosofaring dan serabut simpatis. Cabang faring dari n.vagus berisi serabut

16
motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otot-
otot faring kecuali m.stilofaring yang dipersarafi lansung oleh cabang
n.glosofaring (n.IX).

Kelenjar getah bening


Aliran limfa dari dinding faring dapat melaui 3 saluran yakni superior, media
dan inferior. Saluran limfa superior mengalir ke kelenjar getah bening
retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media
mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-digastrik dan kelenjar servikal dalam
atas, sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal
dalam bawah.

Berdasarkan letak, faring dibagi atas:


1 Nasofaring
Berhubungan erat dengan beberapa struktur penting misalnya adenoid,
jaringan limfoid pada dinding lareral faring dengan resessus faring yang disebut
fosa rosenmuller, kantong rathke, yang merupakan invaginasi struktur embrional
hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring diatas penonjolan
kartilago tuba eustachius, konka foramen jugulare, yang dilalui oleh nervus
glosofaring, nervus vagus dan nervus asesorius spinal saraf kranial dan vena
jugularis interna bagian petrosus os.tempolaris dan foramen laserum dan muara
tuba eustachius

2 Orofaring
Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas
bawahnya adalah tepi atas epiglotis kedepan adalah rongga mulut sedangkan
kebelakang adalah vertebra servikal. Struktur yang terdapat dirongga orofaring
adalah dinding posterior faring, tonsil palatina fosa tonsil serta arkus faring
anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen sekum
a Dinding posterior faring
Secara klinik dinding posterior faring penting karena ikut terlibat pada
radang akut atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot

17
bagian tersebut. Gangguan otot posterior faring bersama-sama dengan otot
palatum mole berhubungan dengan gangguan n.vagus.
b Fosa tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh arkus faring anterior dan posterior. Batas
lateralnya adalah m.konstriktor faring superior. Pada batas atas yang disebut
kutub atas (upper pole) terdapat suatu ruang kecil yang dinamakan fossa
supratonsil. Fosa ini berisi jaringan ikat jarang dan biasanya merupakan
tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses. Fosa tonsil diliputi oleh fasia
yang merupakan bagian dari fasia bukofaring dan disebu kapsul yang sebenar-
benarnya bukan merupakan kapsul yang sebena-benarnya
c Tonsil
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus didalamnya.
Terdapat macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan
tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin
waldeyer. Tonsil palatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak di dalam
fosa tonsil. Pada kutub atas tonsil seringkali ditemukan celah intratonsil yang
merupakan sisa kantong faring yang kedua. Kutub bawah tonsil biasanya
melekat pada dasar lidah.
Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah
yang disebut kriptus. Epitel yang melapisi tonsil ialah epitel skuamosa yang
juga meliputi kriptus. Di dalam kriptus biasanya biasanya ditemukan leukosit,
limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan.
Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut
kapsul tonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada otot faring, sehingga mudah
dilakukan diseksi pada tonsilektomi.Tonsil mendapat darah dari a.palatina
minor, a.palatina ascendens, cabang tonsil a.maksila eksterna, a.faring
ascendens dan a.lingualis dorsal.
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh
ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini
terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papila
sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran duktus
tiroglosus dan secara klinik merupakan tempat penting bila ada massa tiroid
lingual (lingual thyroid) atau kista duktus tiroglosus.

18
Infeksi dapat terjadi di antara kapsul tonsila dan ruangan sekitar jaringan
dan dapat meluas keatas pada dasar palatum mole sebagai abses peritonsilar.

3 Laringofaring (hipofaring)
Batas laringofaring disebelah superior adalah tepi atas yaitu dibawah valekula
epiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau bolus
makanan pada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis (muara glotis bagian
medial dan lateral terdapat ruangan) dan ke esofagus, nervus laring superior
berjalan dibawah dasar sinus piriformis pada tiap sisi laringofaring. Sinus
piriformis terletak di antara lipatan ariepiglotika dan kartilago tiroid. Batas
anteriornya adalah laring, batas inferior adalah esofagus serta batas posterior
adalah vertebra servikal. Lebih ke bawah lagi terdapat otot-otot dari lamina
krikoid dan di bawahnya terdapat muara esofagus.
Bila laringofaring diperiksa dengan kaca tenggorok pada pemeriksaan laring
tidak langsung atau dengan laringoskop pada pemeriksaan laring langsung, maka
struktur pertama yang tampak di bawah dasar lidah ialah valekula. Bagian ini
merupakan dua buah cekungan yang dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika
medial dan ligamentum glosoepiglotika lateral pada tiap sisi. Valekula disebut
juga kantong pil ( pill pockets), sebab pada beberapa orang, kadang-kadang bila
menelan pil akan tersangkut disitu.
Dibawah valekula terdapta epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk omega
dan perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-kadang bentuk
infantil (bentuk omega) ini tetap sampai dewasa. Dalam perkembangannya,
epiglotis ini dapat menjadi demikian lebar dan tipisnya sehingga pada
pemeriksaan laringoskopi tidak langsung tampak menutupi pita suara. Epiglotis
berfungsi juga untuk melindungi (proteksi) glotis ketika menelan minuman atau
bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke
esofagus.
Nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinus piriformis pada tiap sisi
laringofaring. Hal ini penting untuk diketahui pada pemberian anestesia lokal di
faring dan laring pada tindakan laringoskopi langsung

Laring

19
Laring merupakan bagian yang
terbawah dari saluran napas bagian atas.
Bentuknya menyerupai limas segitiga
terpancung, dengan bagian atas lebih
besar daripada bagian bawah.
Batas atas laring adalah aditus
laring, sedangkan batas bawahnya ialah
batas kaudal kartilago krikoid.
Gambar 5. Bagian daripada
Bangunan kerangka laring
laring
tersusun dari satu tulang, yaitu tulang
hioid, dan beberapa buah tulang rawan.
Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah,
mandibula dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otot-otot ini
akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini
bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakkan lidah.2
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago krikoid, kar-
tilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago tiroid.Kartilago krikoid dihubungkan dengan
kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid berupa
lingkaran.Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan
belakang laring, dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid, disebut artikulasi
krikoaritenoid. Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan kanan) melekat pada kartilago
aritenoid di daerah apeks, sedangkan sepasang kartilago kuneiformis terdapat didalam lipatan
ariepiglotik, dan kartilago tritisea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral.Pada laring
terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi krikoaritenoid.2
Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (ante-
rior, lateral dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior,
ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum hiotiroid medial,
ligamentum hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang
menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika.
Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot
intrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan
otot-otot intrinsik menyebabkan gerak bagian-bagian laring sendiri.2
Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid (suprahioid), dan ada
yang terletak di bawah tulang hioid (infrahioid). Otot-otot ekstrinsik yang suprahioid ialah

20
m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid dan m.milohioid. Otot yang infrahioid ialah
m.sternohioid, m.omohioid dan m.tirohjoid.Otot-otot ekstrinsik laring yang suprahioid
berfungsi menarik laring ke bawah, sedangkan yang infrahioid menarik laring ke atas.
Otot-otot intrinsik laring ialah m.krikoaritenoid lateral, m.tiroepiglotika, m.vokalis,
m.tiroaritenoid, m.ariepiglotika dan m.krikotiroid. Otot-otot ini terletak di bagian lateral
laring. Otot-otot intrinsik laring yang terletak di bagian posterior, ialah m.aritenoid
transversum, m.aritenoid oblik dan m.krikoaritenoid posterior.2

a. Rongga Laring
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya ialah
bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan
belakang epiglotis, tuberkulum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah
lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran
kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan
batas belakangnya ialah m.aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid.3
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum
ventrikulare, maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita
suara palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glotis, sedangkan antara
kedua plika ventrikularis, disebut rima vestibuli.
Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu
vestibulum laring, glotik dan subglotik. Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat
di atas plika ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik. Antara plika vokalis dan plika
ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni.3
Rima glotis terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago.
Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak
di bagian posterior. Daerah subglotik adalah rongga laring yang terletak di bawah pita suara
(plika vokalis).

b. Persarafan laring
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringis superior dan
n.laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik. Nervus
laringis superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa
laring di bawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak di atas m.konstriktor faring medial, di

21
sebelah medial a.karotis interna dan eksterna, kemudian menuju ke kornu mayor tulang hioid,
dan setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal superior, membagi diri dalam 2
cabang, yaitu ramus eksternus dan ramus internus.3
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.konstriktor faring inferior dan
menuju ke m.krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m.tirohioid terletak di
sebelah medial a.tiroid superior, menembus membran hiotitiroid, dan bersama-sama dengan
a.laringis superior menuju ke mukosa laring.
Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu
memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan cabang
dari n. vagus. Nervus rekuren kanan akan menyilang a.subklavia kanan di bawahnya,
sedangkan n.rekuren kiri akan menyilang arkus aorta. Nervus laringis inferior berjalan di
antara cabang-cabang a.tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid
akan sampai pada permukaan medial m.krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi
krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus
anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus
posterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian superior dan mengadakan
anastomosis dengan n.laringis superior ramus internus.3

c. Pendarahan laring
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan a.laringis
inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri laringis
superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid bersama-sama
dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus membran ini untuk
berjalan ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk
mempendarahi mukosa dan otot-otot laring.3
Arteri laringis inferior merupakan cabang. dari a.tiroid inferior dan bersama-sama
dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah
pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior. Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang,
mempendarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior.
Pada daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga memberikan cabang
yang berjalan mendatari sepanjang membran itu sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang
arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui membran krikotiroid untuk mengadakan
anastomosis dengan a.laringis superior.

22
Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a.laringis
superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior.

Trakea
Trakea merupakan pipa yang terdiri dari tulang rawan dan otot yang dilapisi oleh
epitel torak berlapis semu bersilia, mulai dari kartilago krikoid sampai percabangan ke
bronkus utama kanan dan kiri, pada setinggi iga ke dua pada orang dewasa dan setinggi iga
ke tiga pada anak-anak.
Trakea terletak di tengah-tengah leher dan makin ke distal bergeser ke sebelah kanan,
dan masuk ke rongga mediastinum di belakang manubrium sterni. Trakea sangat elastis, dan
panjang serta letaknya berubah-ubah, tergantung pada posisi kepala dan leher. Lumen trakea
ditunjang oleh kira-kira 18 cincin tulang rawan yang bagian posteriornya tidak bertemu. Di
bagian posterior terdapat jaringan yang merupakan batas dengan esofagus, yang disebut
dinding bersama antara trakea dan esofagus (tracheoesophageal party wall).3
Panjang trakea kira-kira 12 sentimeter pada pria dan 10 sentimeter pada wanita. Dia-
meter anteriorposterior rata-rata 13 milimeter, sedangkan diameter transversal rata-rata 18
milimeter. Cincin trakea yang paling bawah meluas ke inferior dan posterior di antara bron-
kus utama kanan dan kiri, membentuk sekat yang lancip di sebelah dalam, yang disebut
karina.3
Mukosa di daerah subglotik merupakan jaringan ikat jarang, yang disebut konus
elastikus. Keistimewaan jaringan ini ialah, bila terangsang mudah terjadi edema dan akan
terbentuk jaringan granulasi bila rangsangan berlangsung lama. Pada pemeriksaan
endoskopik tampak trakea merupakan tabling yang datar pada bagian posterior, sedangkan di
bagian anterior tampak cincin tulang rawan. Mukosa di atas cincin trakea berwarna putih, dan
di antara cincin itu berwarna merah muda. Pada bagian servikal dan torakal trakea berbentuk
oval, karena tertekan oleh kelenjar tiroid dan arkus aorta.3
Esofagus
Esofagus bagian servikal terletak kurang lebih pada garis tengah leher di belakang
trakea dan didepan korpus vertebra. Saraf laringeus rekurens terdapat alur diantara esofagus
dan trakea. Arteri karotis komunis dan isi selubung karotis terletak di lateral esofagus. Pada
lapisan otot faring terdapat daerah trigonum yang lemah di atas otot krikofaringeus yang
berkembang dari krikoid dan mengelilingi esofagus bagian atas. Divertikulum yang disebut

23
Divertikulum Zenker dapat keluar melalui daerah yang lemah ini dan berlawanan dengan
penelanan.3

II. Fisiologi
Fisiologi Pendengaran

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Reseptor-reseptor khusus

untuk suara terletak di telinga dalam yang berisi cairan. Dengan demikian, gelombang suara

hantaran udara harus disalurkan ke arah dan dipindahkan ke telinga dalam, dan dalam

prosesnya melakukan kompensasi terhadap berkurangnya energi suara yang terjadi secara

alamiah sewaktu gelombang suara berpindah dari udara ke air. Fungsi ini dilakukan oleh

telinga luar dan telinga tengah.8

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam

bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut

menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang

pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan

perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah

diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga

perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang

mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membrana basalis

dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan

terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi

penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses

depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan

menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius

sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.3

Fisiologi Hidung

24
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah :
Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik
lokal;
Fungsi Penghidu. Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan pengecap dengan
adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior, dan sepertiga
bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan
palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.
Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang;
Fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap
trauma dan pelindung panas;
Refleks nasal. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan nafas
terhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung, dan
pankreas 3

Fisiologi Tenggorokan
Fungsi faring
Terutama untuk pernapasan, menelan, resonansi suara dan artikulasi. Tiga dari fungsi-
fungsi ini adalah jelas. Fungsi penelanan akan dijelaskan terperinci.
Menelan
Proses menelan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama gerakan makanan dari mulut
ke faring secara volunter. Tahap kedua, transport makanan melalui faring dan tahap
ketiga, jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara involunter. Langkah yang
sebenarnya adalah: pengunyahan makanan dilakukan pada sepertiga tengah lidah.
Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke orofaring. Otot supra hiod
berkontraksi, elevasi tulang hioid dan laring intrinsik berkontraksi dalam gerakan
seperti sfingter untuk mencegah aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian
belakang akan mendorong makanan kebawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh
kontraksi otot konstriktor faringis media dan superior. Bolus dibawa melalui introitus
esofagus ketika otot konstriktor faringis inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus

25
berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui
esofagus dan masuk ke lambung.1,3
Proses berbicara
Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum
dan faring. Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding
belakang faring. Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan melibatkan mula-
mula m.salpingofaring dan m.palatofaring, kemudian m.levator veli palatine bersama-
sama m.konstriktor faring superior. Pada gerakan penutupan nasofaring m.levator veli
palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir mengenai dinding posterior
faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan (fold of) Passavant pada dinding
belakang faring yang terjadi akibat 2 macam mekanisme, yaitu pengangkatan faring
sebagai hasil gerakan m.palatofaring (bersama m,salpingofaring) oleh kontraksi aktif
m.konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu
bersamaan. Ada yang berpendapat bahwa tonjolan Passavant ini menetap pada
periode fonasi, tetapi ada pula pendapat yang mengatakan tonjolan ini timbul dan
hilang secara cepat bersamaan dengan gerakan palatum.3

Fungsi Laring
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta
fonasi.Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk
ke dalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis secara bersamaan.
Terjadinya penutupan aditus laring ialah karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi
otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak ke depan akibat
kontraksi m.tiroaritenoid dan m.aritenoid. Selanjutnya m.ariepiglotika berfungsi sebagai
sfingter.3
Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago aritenoid kiri
dan kanan mendekat karena aduksi otot-otot intrinsik. Selain itu dengan refleks batuk, benda
asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan
bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan.3
Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glotis. Bila
m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago
aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka.

26
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeobronkial akan
dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah
tubuh. Dengan demikian laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah.
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu
gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan
turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring.
Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekpresikan emosi, seperti berteriak,
mengeluh, menangis dan lain-lain. Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan
membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh
peregangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam aduksi, maka m.krikotiroid akan
merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat
yang bersamaan m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke
belakang. Plika vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya
kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika
vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan
tinggi rendahnya nada.3

BAB III

Pemeriksaan Fisik Telinga, Hidung, dan Tenggorokkan

27
I. Telinga

Pemeriksaan telinga dengan tujuan untuk memeriksa mae & MT dengan


meneranginya memakai cahaya lampu . Alat yang di gunakan untuk memeriksa
telinga : Lampu kepala, Otoskop, Spekulum telinga dengan berbagai ukuran,
Aplikator kapas, Alat penghisap, Cerumen hook dan cerumen spoon, Forsep telinga,
Balon politzier,Semprit telinga.

Pelaksanaan

Pemakaian lampu kepala :

- Pasang lampu kepala, sehingga tabung lampu berada diantara kedua mata

- Letakkan telapak tangan kanan pada jarak 30 cm didepan mata kanan

- Mata kiri di tutup

- Proyeksi tabung harus tampak terletak medial dari proyeksi cahaya dan saling
bersinggungan

- Diameter proyeksi 1 cm

Cara duduk

- Penderita duduk di depan pemeriksa

- Lutut kiri pemeriksa berdempetan dengan lutut kiri penderita

- Kepala dipegang dengan ujung jari

- Waktu memeriksa telinga yang kontralateral, hanya posisi kepala penderita yang
di rubah

- Kaki, lutut penderita dan pemeriksa tetap pada keadaan semula

Cara memegang telinga Kanan :

28
- Aurikulum dipegang dengan jari I dan II, sedang jari III,IV, V pada planum
mastoid.

- Aurikulum ditarik ke arah postero superior untuk meluruskan MAE.

Cara memegang telinga Kiri :

- Aurikulum dipegang dengan jari I dan II, sedang jari III,IV, V di depan aurikulum

- Aurikulum ditarik ke arah postero superior

Cara memegang otoskop

- Pilih spekulum telinga yang sesuai dengan besar lumen MAE

- Nyalakan lampu otoskop

- Masukkan spekulum telinga pada MAE

Cara memilin kapas :

- Ambil sedikit kapas, letakkan ujung aplikator berada didalam tepi kapas.

- Pilin perlahan lahan searah jarum jam

- Untuk melepasnya, ambil sedikit kapas, putar berlawanan arah dengan jarum jam

Tes pendengaran

Tes pendengaran yang dapat dilakukan secara sederhana :

Inspeksi
a. Melihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retro-
aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan, sikatriks bekas operasi, massa, dan
sekret yang keluar dari liang telinga.

b. Menarik daun telinga ke atas dan kebelakang (superior dorso lateral) sehingga liang
telinga menjadi lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang
telinga dan membran timpani.

29
c. Pada kasus-kasus dimana kartilago daun telinga agak kaku atau kemiringan liang
telinga terlalu ekstrim dapat digunakan bantuan spekulum telinga yang disesuaikan
dengan besarnya diameter liang telinga.
d. Mengamati liang telinga apakah terdapat stenosis atau atresia meatal, obstruksi yang
disebabkan oleh sekret, jaringan ikat, benda asing, serumen obturan, polip, jaringan
granulasi, edema atau furunkel.
e. Memakai otoskop untuk melihat bagian-bagian membran timpani dengan lebih jelas.

f. Pemegangan otoskop dengan tangan kanan untuk pemeriksaan telinga kanan pasien
dan dengan tangan kiri bila memeriksa telinga kiri.
g. Memperhatikan permukaan membran timpani, posisi membran, warna, ada tidaknya
perforasi, reflkes cahaya, struktur telinga tengah yang terlihat pada permukaan
membran seperti manubrium mallei, prosessus brevis, plika maleolaris anterior dan
posterior.
Otitis Media Akut
o Stadium Oklusi Tuba Eustachius, retraksi membran timpani, kadang
terlihat normal atau berwarna keruh pucat.
o Stadium Presupurasi, membran timpani hiperemis dan edem.
o Stadium Supurasi, mukosa telinga edem, eksudat purulent di kavum
timpani, membran timpani menonjol (bulging).
o Stadium Perforasi, ruptur membran timpani, sekret keluar dari liang
telinga luar.
o Stadium Resolusi, membran timpani utuh, sekret mengering.
h. Pergerakan membran timpani dapat diamati dengan meminta pasien melakukan
Manuver Valsava, yaitu dengan meminta pasien mengambil napas dalam kemudian
meniupkan melalui hidung dan mulut tertutup oleh tangan. Diharapkan dengan
menutup hidung dan mulut, udara tidak dapat keluar melalui hidung dan mulut
sehingga terjadi peninggian tekanan udara di dalam nasofaring. Akibat penekanan
udara, ostium tuba yang terdapat dalam rongga nasofaring akan terbuka dan udara
akan masuk ke dalam kavum timpani melalui tuba auditiva.

Palpasi

30
Palpasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat nyeri tekan (tragus sign), atau
nyeri tarik (heliks sign), atau terdapat tanda-tanda pembesaran kelenjar pre dan post aurikuler.
Otitis Eksterna: tragus sign (+), heliks sign (+)

Tes bisik

Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah :

a. Ruangan Test. Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jarak sebesar 6
meter. Ruangan sunyi dan tidak ada echo ( diding dibuat tidak rata atau dilapisi soft
board/ korden)

b. Pemeriksa. menggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal. Kata-kata yang


dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari.
Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama

c. Penderita. Mata di tutup agar tidak bisa membaca gerak bibir. Telinga yang akan di test
dihadapkan kepada pemeriksa dan telinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan
kapas yang di basahi gliserin. mengulang denga keras kata yang telah di bisikkan

Teknik pemeriksaan :

Penderita dan pemeriksa sama sama berdiri, Penderita tetap berdir di tempat hanya
pemeriksa yang pindah tempat, mulai jarak 1 meter dibisikkan 5-10 kata, bila semua
kata dapat didengar, pemeriksa mundur ke jarak 2 meter dibisikkan kata yang lain sampai
jark dimana penderita mendengar 80%. Untuk memastikan apakas hasiltes benar maka
tes dapat diulang.

HASIL TES

KUANTITATIF KUALITATIF
Fungsi pendengaran Suara bisik Tuli sensorineural :
tak dengarhuruf desis
frekuensi tinggi
Normal 6m
Tuli ringan 4-6 m Tuli konduksi :
Tak dengar huruf lunak
frekuensi rendah
Tuli sedang 1m4m Misal SUSU

31
Tuli berat < 10 cm Tuli konduksi mendengar
S-S
Tuli total Bila berteriak di depan Tuli sensorineural
telinga penderita tatap tidak mendengar U-U
mendengar

Tes garpu tala

4 jenis tes garpu tala yang yang sering di lakukan:

1. Tes batas atas dan batas bawah

2. Tes rinne

3. Tes weber

4. Tes schwabach

5. Tes batas atas dan batas bawah

Tes tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda beda dan saling melengkapi

1. Tes batas atas dan batas bawah

Tujuan : Menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar penderitas melewati
hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal.

Cara :

Semua garpultala di bunyikan satu demi satu disentuh secara lunak dan
diperdengarkanpada penderita dengan meletakkan garpu tala didekat MAE pada jarak 1-2
cm dalam posisi tegak kedua kakinya berada pada garis penghubung meatus acusticus
externus kanan dan kiri. Penderita diinstruksikan untuk mengangkat tangan bila
mendengarkan bunyi.

Interpretasi

Normal : medengar pada semua frekuensi.

Tuli konduksi : batas bawah naik

32
Tuli sensori neural : batas atas turun

2. Tes rinne

Tujuan : Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita

Cara :

Bunyikan garpu tala frekuensi 512 letakkan tangkainya pada planum mastoid, sampai tak
terdengar pindahkan ke depan MAE, bila mendengar disebut rinne positif

Interpretasi

- Normal : rinne positif

- Tuli konduksi : rinne negatif

- Tuli sensori neural : rinne positif

3. Tes Weber

Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita

Cara :

Garputala 512 dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus digaris median, penderita
diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar lebih keras. Bila mendengar
pada satu telinga disebut lateralisasi.

Interpertasi

- Normal : tidak ada lateralisasi

- Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit

- Tuli sensori neural : mendengar lebih keras di telinga yang sehat

4. Tes schwabach

Tujuan : Membanding hantaran lewat tulang antara penderita dan pemeriksa

Cara:

33
Bunyikan garputala 512 Hz, tangkainya diletakkan pada mastoid pemeriksa, bila
pemeriksa sudah tidak mendengar pindahkan kemastoid penderita

Interpretasi

Normal : schwabach normal

Tuli konduksi : schwabach memanjang

Tuli sensori neural: schwabach memendek

Ringkasan interpretasi

Tuli konduktif TES Tuli sensorineural

Tak dengar huruf Tes bisik Dengar huruf


lunak lunak
Dengar huruf Tak dengar huruf
berdesis berdesis
Normal Batas atas Menurun

Naik Batas bawah Normal

Negatif Rinne Positif


False positif/
negatif
Laterilasi kesisi Weber Lateralisasi kesisi
sakit sehat
Memanjang Schwabach Memendek

II. Hidung

Cara pemeriksaan hidung . Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk
memeriksa keadaan hidung dan yaitu :

Pemeriksaan dari luar : inspeksi, palpasi, & perkusi.

34
Rinoskopia anterior.

Rinoskopia posterior.

Ada 3 keadaan yang penting kita perhatikan saat melakukan inspeksi hidung & sinus
paranasalis, yaitu :

- Kerangka dorsum nasi (batang hidung).

- Adanya luka, warna, udem & ulkus nasolabial.

- Bibir atas.

Ada 4 bentuk kerangka dorsum nasi (batang hidung) yang dapat kita temukan pada
inspeksi hidung & sinus paranasalis, yaitu :

- Lorgnet pada abses septum nasi.

- Saddle nose pada lues.

- Miring pada fraktur.

- Lebar pada polip nasi.

- Kulit pada ujung hidung yang terlihat mengkilap, menandakan adanya udem di
tempat tersebut.

- Adanya maserasi pada bibir atas dapat kita temukan saat melakukan inspeksi
hidung & sinus paranalis. Maserasi disebabkan oleh sekresi yang berasal dari
sinusitis dan adenoiditis.

Ada 4 struktur yang penting kita perhatikan saat melakukan palpasi hidung & sinus
paranasalis, yaitu :

Dorsum nasi (batang hidung).

Ala nasi.

Regio frontalis sinus frontalis.

Fossa kanina.

35
Krepitasi dan deformitas dorsum nasi (batang hidung) dapat kita temukan pada
palpasi hidung. Deformitas dorsum nasi merupakan tanda terjadinya fraktur os
nasalis.

Ala nasi penderita terasa sangat sakit pada saat kita melakukan palpasi. Tanda ini
dapat kita temukan pada furunkel vestibulum nasi.

Rinoskopia Anterior

Ada 5 alat yang biasa kita gunakan pada rinoskopia anterior, yaitu :

- Cermin rinoskopi posterior.

- Pipa penghisap.

- Aplikator.

- Pinset (angulair) dan bayonet (lucae).

- Spekulum hidung Hartmann.

- Spekulum hidung Hartmann bentuknya unik. Cara kita memakainya juga unik
meliputi cara memegang, memasukkan dan mengeluarkan.

Cara kita memegang spekulum hidung Hartmann sebaiknya menggunakan tangan kiri dalam
posisi horisontal. Tangkainya di pegang di bagian lateral, sedangkan mulutnya di medial.

Untuk memasukkan spekulum mulut spekulum dalam keadaan tertutup, masukkan ke


dalam kavum nasi.dan mulut speculum di buka pelan-pelan.

Untuk mengeluarkan masih dalam kavum nasi, menutup mulut spekulum kira-kira 90%.

5 tahap pemeriksaan hidung pada rinoskopia anterior yang akan kita lakukan, yaitu:

- Pemeriksaan vestibulum nasi.

- Pemeriksaan kavum nasi bagian bawah.

- Fenomena palatum mole.

- Pemeriksaan kavum nasi bagian atas.

36
- Pemeriksaan septum nasi.

Pemeriksaan Vestibulum Nasi pada Rinoskopia Anterior

3 hal penting kita perhatikan pada pemeriksaan pendahuluan sebelum menggunakan


spekulum :

Posisi septum nasi.

Pinggir lubang hidung. Ada-tidaknya krusta dan adanya warna merah.

Bibir atas. Adanya maserasi terutama pada anak-anak.

Cara kita memeriksa posisi septum nasi adalah dengan mendorong ujung hidung pasien
menggunakan ibu jari.

Spekulum hidung digunakan untuk pemeriksaan vestibulum nasi dengan tujuan


melihat keadaan sisi medial, lateral, superior dan inferior vestibulum nasi.

Sisi medial vestibulum nasi mendorong spekulum ke arah medial.

sisi lateral vestibulum nasi mendorong spekulum ke arah lateral.

Sisi superior vestibulum nasi terlihat lebih baik mendorong spekulum ke arah
superior.

sisi inferior vestibulum nasi lebih jelas mendorong spekulum ke arah inferior

Saat melakukan pemeriksaan vestibulum nasi menggunakan spekulum hidung, kita


perhatikan ada tidaknya sekret, krusta, bisul-bisul, atau raghaden.

Pemeriksaan Kavum Nasi Bagian Bawah pada Rinoskopia Anterior

Cara kita memeriksa kavum nasi (lubang hidung) bagian bawah mengarahkan
cahaya lampu kepala ke dalam kavum nasi yang searah dengan konka nasi media.

Ada empat hal yang perlu kita perhatikan pada pemeriksaan kavum nasi (lubang hidung)
bagian bawah, yaitu :

Warna mukosa dan konka nasi inferior.

Besar lumen lubang hidung.

37
Lantai lubang hidung.

Deviasi septi yang berbentuk krista dan spina.

Fenomena Palatum Mole Pada Rinoskopia Anterior

Cara memeriksa fenomena palatum mole yaitu dengan mengarahkan cahaya lampu
kepala ke dalam dinding belakang nasofaring secara tegak lurus. Normalnya yaitu terlihat
cahaya lampu yang terang benderang. Pada saat pasien diminta mengucapkan iiigerakan
palatum mole perubahan dinding belakang nasofaring menjadi lebih gelap cahaya lampu
kepala tidak tegak lurus masuk ke dalam dinding belakang nasofaring. pasien mengucapkan
iiipalatum mole bergerak ke bawah benda gelap menghilang dan dinding belakang
nasofaring terang kembali.

Fenomena palatum mole positif palatum mole bergerak saat pasien mengucapkan iii
tampak benda gelap yang bergerak ke atas dan dinding belakang nasofaring menjadi lebih
gelap. Fenomena palatum mole negatif dapat kita temukan pada 4 kelainan, yaitu :

Paralisis palatum mole pada post difteri.

Spasme palatum mole pada abses peritonsil.

hipertrofi adenoid

Tumor nasofaring : karsinoma nasofaring, abses retrofaring, dan adenoid.

Pemeriksaan Kavum Nasi Bagian Atas pada Rinoskopia Anterior

memeriksa kavum nasi bagian atas dengan mengarahkan cahaya lampu kepala ke dalam
kavum nasi bagian atas pasien.

4 hal penting pada pemeriksaan kavum nasi bagian atas, yaitu :

Kaput konka nasi media.

Meatus nasi medius : pus dan polip.

Septum nasi bagian atas : mukosa dan deviasi septi.

Fissura olfaktorius.

38
Deviasi septi pada septum nasi bagian atas bisa kita temukan sampai menekan konka
nasi media pasien. Pemeriksaan Septum Nasi pada Rinoskopia Anterior, Kita dapat
menemukan septum nasi berbentuk krista, spina dan huruf S.

Rinoskopia Posterior

Prinsip rinoskopi posterior adalah menyinari koane dan dinding nasofaring dengan cahaya
yang dipantulkan oleh cermin yang kita tempatkan dalam nasofaring.

Syarat-syarat melakukan rinoskopia posterior :

Penempatan cermin.

ada ruangan yang cukup luas dalam nasofaring menempatkan cermin.

Lidah pasien tetap berada dalam mulutnya.

menekan lidah dengan spatula (spatel).

Penempatan cahaya.

ada jarak yang cukup lebar antara uvula dan faring pasien cahaya lampu
dapat masuk dan menerangi nasofaring.

Cara bernapas melalui hidung.

4 alat dan bahan yang digunakan pada rinoskopia posterior :

Cermin kecil.

Spatula.

Lampu spritus.

Solusio tetrakain (- efedrin 1%).

Teknik-teknik yang kita gunakan pada rinoskopia posterior:

Cermin kecil pegang tangan kanan.

terlebih dahulu memanaskan dengan lampu spritus

39
pasien buka mulutnya lebar-lebar. Lidah didalam mulut, jangan digerakkan dan
dikeraskan.

Bernapas melalui hidung.

Spatula pegang tangan kiri. Ujung spatula tempatkan pada punggung lidah depan
uvula. Punggung lidah tekan ke bawah di paramedian kanan lidah terbuka ruangan
untuk menempatkan cermin kecil dalam nasofaring.

Masukkan cermin kedalam faring, tempatkan antara faring dan palatum mole kanan
pasien.

Sinari Cermin.

Khusus pasien yang sensitif, sebelum kita masukkan spatula, kita berikan lebih dahulu
tetrakain 1% 3-4 kali dan tunggu 5 menit.

4 tahap pemeriksaan saat melakukan rinoskopia posterior :

Tahap 1 : pemeriksaan tuba kanan.

Tahap 2 : pemeriksaan tuba kiri.

Tahap 3 : pemeriksaan atap nasofaring.

Tahap 4 : pemeriksaan kauda konka nasi inferior.

Tahap 1 : pemeriksaan tuba kanan.

- cermin berada di paramedian memperlihatkan keadaan kauda konka nasi media


kanan.

- Putar Tangkai cermin ke medial tampak margo posterior septum nasi. Putar ke
kanan,berturut-turut tampak konka nasi terutama kauda konka nasi inferior
(terbesar), kauda konka nasi superior, meatus nasi medius, ostium dan dinding
tuba.

Tahap 2 : Pemeriksaan Tuba Kiri

- Putar tangkai cermin ke medial tampak margo posterior septum nasi. Putar
cermin terus ke kiritampak kauda konka nasi media kanan dan tuba kanan.

40
Tahap 3 : Pemeriksaan Atap Nasofaring

- putar tangkai cermin ke medialTampak margo posterior septum nasi.

- memasukkan tangkai cermin sedikit lebih dalam atau cermin agak lebih kita
rendahkanmemeriksa atap nasofaring

Tahap 4 : Pemeriksaan Kauda Konka Nasi Inferior

- memeriksa kauda konka nasi inferior cermin sedikit ditinggikan atau tangkai
cermin sedikit direndahkan.

- Kauda konka nasi inferior biasanya tidak kelihatan kecuali hipertrofi tampak
seperti murbei (berdungkul-dungkul).

Dua kelainan yang penting kita perhatikan pada rinoskopia posterior :

- Peradangan. Misalnya pus meatus nasi medius & meatus nasi superior,
adenoiditis, dan ulkus pada dinding nasofaring (tanda TBC).

- Tumor. Misalnya poliposis dan karsinoma.

Tiga sumber masalah pada rinoskopia posterior, yaitu :

- Pihak pemeriksa : tekanan, posisi, dan fiksasi spatula.

- Pihak pasien : cara bernapas dan refleks muntah.

- Alat-alat : bahan spatula dan suhu & posisi cermin.

Leher, Mulut, Faring dan Laring

LEHER
Inspeksi

- Posisi kepala dan leher


- Simetris dari muscular servikalis
- Posisi trakea tampak digaris tengah
- Vena-vena servikalis tampak membesar
- Kulit leher anterior dan lateal untuk menetukan lesi-lesi, warna atau jaringan parut
- Pergerakan tulang belakang servikalis

41
Fleksi anterior dan lateral
Ekstensi
Rotasi

Palpasi

- Pemeriksaan kelenjar Limfa bagian leher


Pemeriksaan kelenjar limfa bagian leher dilakukan dengan cara palpasi dimana
posisi pemeriksa berada dibelakang penderita dan dilakukan secara sistematis/
berurutan mulai dari submental berlanjut kearah angulus mandibula, sepanjang
muskulus sternokleidomastoid, klavikula dan diteruskan sepanjang saraf assesorius.
Bila terdapat pembesaran kelenjar limfa, tentukan ukuran, bentuk, konsistensi, nyeri
tekan, perlekatan dengan jaringan sekitarnya dan lokasinya. Kelenjar leher pada
umumnya baru teraba apabila ada pembesaran lebih dari 1 cm.

- Trakhea

42
Dengan ujung-ujung jari, temukan tulang hyoid yang keras tetapi agak
dibelakang, inferior tehadap dasar mulut. Beregerak kebawah kekartilago tiroid yang
lebih besar . Sekurangnya dua cincin trakea harus dapat diraba dibawah kartilago
tiroid yang lebih besar. Sekurangnya dua cincin trakea harus dapat diraba dibawah
kartilago. Apakah semua struktur terletak digaris tengah atau simetris ?

- Tonsil dan Faring


Penderita diinstruksikan untuk membuka mulut, perhatikan struktur di kavum
oris mulai dari gigi geligi, palatum, lidah, bukkal. Lihat ada tidaknya kelainan berupa
pembengkakan, hiperemis, massa, atau kainan kongenital. Lakukan penekanan pada
lidah secara lembut dengan spatel lidah. Perhatikan strukturarkus anterior dan
superior, tonsil, dinding dorsal faring. Deskripsikan kelainan-kelainan yang tampak.

Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palasi pada daerah mukosa bukkal, dasar
lidah daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelaian dalam rongga mulut.
a. Memeriksa besar tonsil
Besar tonsil ditentukan sebagai berikut :
T0 : tonsil telah diangkat
T1 : bila bsarnya jarak arkus anterior dan uvula
T2 : bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula
T3 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula
T4 : bila besarnya mencapai uvula atau lebih

b. Memeriksa mobilitas tonsil


Digunakan 2 spatula

o Spatula 1 : posisi sama dengan diatas


o Spatula 2 : posisi ujungnya vertical menekan jaringan peritonsil, sedikit
lateral dari arkus anterior
o Pada tumor tonsil : fiksasi
o Pada tonsillitis kronik : mobil dan sakit
c. Memeriksa patologi faring :
o Faringitis akut : semua merah
o Faringitis kronik : hanya granulae merah

Laring

43
Inspeksi :
Diperhatikan warna dan keutuhan kulit, serta benjolan yang ada pada daerah leher
sekitar laring. Suatu benjolan yang mengikuti gerakan laring adalah struma dan kista
duktus tireoglossus.
Palpasi berguna untuk :

- Mengenal bagian- bagian dari kerangka laring ( kartilago hyoid, kartilago tiroid,
kartilago krikoid) dan gelang-gelang trakea.
- Apakah ada udem, struma , kista, metastase. Susunan abnormal dijumpai pada fraktur
dan dislokasi.
- Laring yang normal, mudah sekali digerakkan kekanan dan kekiri oleh tangan
pemeriksa.

Laringoskopi Indirek

Sambil membuka mulut, instruksikan penderita untuk menjulurkan lidah sejauh


mungkin ke depan. Setelah dibalut dengan kasa steril lidah kemudian difiksasi diantara
ibu jari dan jari tengah. Pasien diinstruksikan untuk bernafas secara normal.

Kemudian masukkan cermin laring yang sesuai yang sebelumnya telah dilidah
apikan ke dalam orofaring. Arahkan cermin laring ke daerah hipofaring sedemikian
rupa sehingga tampak struktur di daerah hipofaring yaitu : epiglottis, valekula, fossa
piriformis, plika eriepiglotika, aritaenoid, plika ventrikularis dan plika vocalis. Penilaian
mobilitas plika vocalis dengan menyuruh panderita mengucapkan huruf I berulang kali.

Daftar Pustaka

44
1. Adam G L, Boies L R, Higler P A (Alih bahasa : Wijaya C). Boeis buku ajar
penyakit THT edisi 6. Jakarta : EGC:; 2013. h. 30-8, 173-88, 264-71.
2. Snell Richard.Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6. Jakarta:
EGC;2006.
3. Soepardi EA; Nurbaiti I, Bashiruddin J,Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan
telinga hidung ten ggorokan kepala & leher; Edisi keenam. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI;2007
4. Ballenger JJ. The technical anatomy and physiology of the nose and accessory
sinuses. In Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head, & Neck. Fourteenth edition
Ed. Ballenger JJ. Lea & Febiger. Philadelphia, London, 1991: p.3-8
5. East C. Examination of the Nose. In : Mackay IS, Bull TR(Eds). Scott-Brownss
Otolaryngology Sixth ed London: Butterworth, 1997: p.4/1/1-8
6. Effendi H, editor. Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta: EGC ; 1997 ; p.135-
142.
7. Lund VJ. Anatomy of the nose and paranasal sinuses. In : Gleeson (Ed). Scott-
Brownss Otolaryngology. 6th ed. London : Butterworth, 1997: p.1/5/1-30.
8. Sherwood L.Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2006.
9. Chang P, Pedler K.Ear examination : a practical guide. Australian Family
Physician;2005.p. 10, 34, 857-62.

45