Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Tipe Kepribadian (Ekstrovert & Introvert) Terhadap

Strategi Koping Stres pada Perawat Di Rumah Sakit

TUGAS AKHIR

Untuk Memenuhi Persyaratan


Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Keperawatan

Oleh
Keyfin Aliffah Rizal Kasdianto
125070218113044

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang

bersifat progresif dan irreversible sehingga kemampuan tubuh untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,

serta dapat mengakibatkan terjadi uremia (retensi urea dan sampah

nitrogen lain dalam darah) tidak berkerja secara maksimal (Smeltzer &

Bare, 2002:1448). Gagal ginjal kronik terjadi jika fungsi kedua ginjal

terganggu yang mengakibatkan keduanya tidak mampu menjalani

fungsi regulatorik dan ekskretorik dalam mempertahankan

keseimbangan (Brunner & Suddart, 2001).

Gagal ginjal kronik salah satu penyakit yang termasuk dalam silent

killer, yaitu penyakit mematikan yang gejalanya tidak ditunjukkan

sebelumnya. Pada penelitian yang dilakukan The Global Burden of

Disease pad 2010 diidentifikasi gagal ginjal kronik merupakan satu dari

tiga penyebab kematian yang tiap tahunn mengalami peningkatan besar

dari tahun 1990 hingga 2010. Pada negara berkembang, seperti Central

(Kolombia, Kosta Rika, El Salvador, Guatemala, Honduras, Meksiko ,

Nikaragua, Panama, dan Venezuela) dan Andes (Bolivia, Ekuador, dan

Peru) Amerika Latin, gagal ginjal kronis adalah penyebab paling umum

kelima kematian (Alberto Ortiz et al, 2014). Berdasarkan prevalensi


penyakit gagal ginjal kronik yang dilakukan dengan wawancara, dokter

mengdiagnosis bahwa penyakit ini meningkat seiring dengan

bertambahnya umur, dan meningkat tajam pada kelompok umur 35-44

tahun (0,3%), diikuti umur 45-54 tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun

(0,5%), tertinggi pada kelompok umur 75 tahun (0,6%). Prevalensi pada

laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari perempuan (0,2%), prevalensi lebih tinggi

pada masyarakat perdesaan (0,3%), tidak bersekolah (0,4%), pekerjaan

wiraswasta, petani/nelayan/buruh (0,3%), dan kuintil indek kepemilikan

terbawah dan menengah bawah masing-masing 0,3 persen (RISKESDAS,

2013).

Penyakit ginjal adalah jenis penyakit yang tidak hanya mengancam

kesehatan fisik tetapi juga mengancam aspek lain dari kesehatan. Pada

situasi saat ini jika pasien tidak berhasil menerima ginjal mereka akan

menyingkirkan kematian dini dengan menggunakan metode pengobatan

modern seperti hemodialisis, namun mereka akan terkena berbagai

masalah fisik, psikologis, ekonomi dan sosial yang umumnya

mempengaruhi kualitas mereka hidup (Raymond, 2004). Sejak 10 tahun

yang lalu kualitas hidup pasien yang diobati dengan hemodialisis menarik

perhatian terlalu banyak peneliti. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa

30-80% dari pasien mengeluh tentang gangguan tidur seperti tetap terjaga

di malam hari, sindrom kaki gelisah, tidur larut malam, gelisah dan

mengantuk setiap hari (Nonoyama, et al., 2010).


Masalah psikologis yang dialami oleh pasien dengan gagal ginjal

kronis biasanya terlihat sejak pertama kali didiagnosis mengalami gagal

ginjal. Ketika didiagnosis oleh dokter beberapa pasien akan merasa

frustrasi, putus asa, marah dan tidak rasa percaya diri, bahkan pasien

menjadi marah kepada dokter dan terkadang pasien melakukan aksi

mogok makan ketika pasien diberitahu bahwa ia telah didiagnosis gagal

ginjal dan harus menjalani hemodialisis. Dari penelitian yang dilakukan

dengan wawancara didapatkan bahwa setelah mengalami rasa sakit yang

mereka merasa rendah diri bahwa mereka akan jarang bertemu dengan

orang lain. Seorang pasien mengatakan bahwa ia sekarang jarang pergi

keluar rumah dan tidak lagi aktif di lingkungan seperti dulu, misalnya,

ketika diundang untuk menghadiri sebuah acara di desa ia hanya diam

dan mendengarkan, karena ia benar-benar merasa malas untuk

menghadiri acara. Hal ini karena ia merasa rendah diri di depan teman-

temannya dan merasa ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, meskipun saat

ini ia mampu menerima kondisi penyakit dengan dukungan dari keluarga

besar jadi dia mencoba untuk tidak menyerah.

Strategi koping adalah reaksi terhadap masalah atau tekanan yang

bertujuan untuk memecahkan, mengurangi, dan menggantikan kondisi

yang dialami individu. (Hapsari, 2002). Sehingga, ketika individu berada

dalam keadaan menghadapi masalah atau stres maka muncul koping

yang berfungsi untuk memecahkan, mengurangi dan menggantikan

kondisi pikiran yang penuh tekanan. Strategi koping adalah perilaku yang
diterapkan oleh individu dalam mengatasi dampak buruk dari stressor

(Fleming, Baum, & Singer, 1984; Lazarus & Folkman, 1984). Menurut

Lazarus dan Folkman (1984), terdapat dua kategori strategi koping yaitu:

problem-focused coping dan emotion-focused coping. Problem-focused

coping biasanya memandang masalah dan mengatasi masalah dengan

pemikiran terbuka. Startegi koping ini ditunjukkan ketika individu menilai

masalah secara optimis dan terkendali (Carver, cheier, & Weintraub,

1999). emotion-focused coping digunakan ketika individu merasakan

dalam kondisi seperti tidak dapat dihindari dan tidak terkendali. Individu

biasanya menunjukkan perilaku menghindari dan meminimalkan masalah

dengan tujuan untuk mengurangi tekanan emosional pada stressor

(Carver et al., 1999).

Dalam upaya mengatasi stres kerja dengan efektif, strategi koping

sangat dibutuhkan tanpa melihat besar atau kecil masalah tersebut.

Koping yang efektif dapat didefinisikan sebagai proses mental dalam

menangani stressor yang dipandang sebagai tantangan terhadap sifat

pada diri seseorang. Terdapat bermacam-macam strategi koping, namun

tidak semuanya efektif. Pengelakan adalah salah satu yang dikategorikan

sebagai strategi koping yang tidak efektif. Namun, jika dilihat dari sudut

pandang lain, strategi koping yang efektif diambil agar memperoleh

resolusi damai. Strategi koping yang sering digunakan terkadang tidak

berhasil seiring dengan meningkatnya jumlah dan intensitas stressor yang

dihadapi oleh masing-masing individu.


Berdasarkan penelitian dan pengamatan dari berbagai pihak, maka

ditemukan bahwa setiap individu memilki strategi koping berbeda-beda

yang dipengaruhi oleh tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Menurut

Jung tipe kepribadian dibagi menjadi 2 yaitu ekstovert, dimana orang

dengan tipe kepribadian ini perhatiannya lebih diarahkan ke luar dirinya,

kepada orang-orang lain dan kepada masyarakat (bersikap terbuka

terhadap orang lain). Sedangkan, introvert yaitu tipe kepribadian yang

perhatiannya lebih mengarah pada dirinya (lebih bersikap tertutup pada

orang lain).

Menurut penelitian Caver dan Smith (2010) menjelaskan bahwa

salah satu tipe kepribadian memiliki keterkaitan dengan tingkat stres yang

berbeda. Sehingga dengan kata lain tingkat stres dan koping yang dimiliki

oleh tiap individu juga menjadi berbeda pula, tergantung pada tipe

kepribadian masing-masing individu. Menurut hasil penelitian yang

dilakukan Mc Crae & Jhon (1992) Tipe kepribadian ekstrovert memiliki

sifat lebih positif, senang menghargai, tegas, memiliki sosialisasi yang

baik, dan selalu bersemangat. Sedangkan, tipe kepribadian Introvert

sering kali menggunakan koping negatif, cenderung menyangkal dari

permasalahan yang dihadapi, lebih tempramen, cenderung takut, merasa

sedih, dan tertekan.

Pengembangan tekanan psikologis memiliki dua faktor penting yaitu

Kepribadian dan strategi koping seperti apa yang diambil. Dalam

penelitaian Berkel (2009) mengatakan bahwa individu dengan kepribadian


introvert cenderung lebih sering bermasalah dengan fokus, selalu

menghindari bahaya tinggi yang sering dikaitkan dengan koping

avoidance / penyangkalan. Jenis koping tersebut mempunyai resiko lebih

besar untuk mengalami tekanan psikologis, karena individu akan

cenderung menggunakan koping maladaptif. Sedangkan individu dengan

kepribadian ekstrovert lebih cenderung imajinatif, kreatif, ingin tahu,

fleksibel,. Karena karakter ini menunjukkan sikap optimis yang akan selalu

berpikir positif. Sedangkan sikap pesimis akan memunculkan reaksi

koping negatif / maladaptif.

1.2 Rumusan masalah

Apakah ada pengaruh tipe kepribadian (ekstrovert & introvert)

terhadap strategi koping stres terhadap beban kerja perawat di rumah

sakit.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan tipe kepribadian (ekstrovert & introvert)

terhadap strategi koping stres terhadap beban kerja perawat di

rumah sakit.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada

perawat.
2. Mengidentifikasi strategi koping stres terhadap beban kerja

perawat.
3. Menganalisa hubungan tipe kepribadian (ekstrovert & introvert)

terhadap beban kerja perawat di rumah sakit.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin di peroleh dengan dilakukanya penelitian ini

adalah:

1.4.1 Manfaat Praktis

Dapat digunakan sebagai saran untuk memberikan data dan

informasi terkait dengan strategi koping stres di tinjau dari tipe

kepribadian setiap perawat.

1.4.2 Manfaat Teoritis


1. Untuk menambah wawasan peneliti khususnya hubungan

tipe kepribadian (ekstrovert & introvert) terhadap strategi

koping stres terhadap beban kerja perawat di rumah sakit.


2. Sebagai bahan untuk penelitian-penelitian selanjutnya

terkait hubungan tipe kepribadian (ekstrovert & introvert)

terhadap strategi koping stres terhadap beban kerja

perawat.