Anda di halaman 1dari 19

KASUS PT.

LONGLASTING TEXTILE

PT. Longlasting Textile (PMA) merupakan perusahaan manufaktur garment/tekstile. Awal


didirikan pada tahun 2004, perusahaan yang terletak di jalan Narogong KM 133
Cileungsi.

Laporan Keuangan :
Balance Sheet
Untuk Periode yang berakhir 31 Desember 2012

Aktiva
Ativa Lancar
Kas dan Setara Kas 4,807,479,922
Piutang Usaha-Pihak ketiga 14,575,299,187
Piutang Lain-lain pihak ketiga 12,139,877,364
Persediaan 11,429,569,179
Uang Muka Pajak 3,035,817,653
Beban dibayar dimuka 10,094,364,507
Total Aktiva Lancar 56,082,407,812
Aktiva Tidak Lancar
Investasi 10,000,000,000
Aktiva Tetap (net) 10,416,412,800

Jumlah Aktiva 76,498,820,612

Kewajiban dan ekuitas


Kewajiban Lancar
Hutang Bank 21,556,525,372
Hutang Pajak 721,265,345
Hutang Lain-lain 607,260,900
Uang Muka Penjualan 2,371,114,366
Jumlah Kewajiban Lancar 25,256,165,983
Kewajiban Tidak lancar
Hutang Hubungan Istimewa 30,826,197,489
Ekuitas
Modal Disetor 1,000,000,000
Saldo Laba Ditahan 19,416,457,140
Jumlah Ekuitas 20,416,457,140

Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 76,498,820,612

Profit and Loss


For the year ended december 2012
Pendapatan Usaha 163,500,000,000
Beban Pokok Usaha 120,886,312,910
Laba Kotor 42,613,687,090

Beban Usaha
Beban Penjualan 5,159,744,080
Beban Administrasi dan Umum 12,724,909,660
Jumlah Beban Usaha 17,884,653,740
Laba Usaha 24,729,033,350
Pendapatan Luar Usaha
Pendapatan (beban) Luar Usaha (2,898,291,350)
Laba Sebelum Pajak 21,830,742,853
Pajak Kini (5,457,685,713)

Laba Tahun Berjalan 16,373,057,140

Bahaslah aspek PPh badan untuk setiap permasalahan kasus


Hitung Total Kredit PPh untuk PT LL Textile tahun 2012

1. Permasalahan
Dalam pos Kas dan setara kas, terdapat Deposito (bunga 6% pa) yang dananya dari
pinjaman Bank Mandiri, bunga 15% pa, Rata rata Deposito setahun Rp 4 milliar dan rata
rata pinjaman setahun (termasuk pinjaman yang didepositokan) adalah Rp 10 milliar.
Bunga pinjaman setahun Rp 1,8 milliar.
Dasar Hukum
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan
Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan
menyebutkan bahwa :
Pasal 4 ayat 2
Penghasilan bunga deposito dan tabungan lainnya dapat dikenai pajak bersifat
final
Pasal 6 ayat 1
Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk
usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk: a. biaya yang
secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara
lain: bunga, sewa, dan royalti;
b. Atas penghasilan berupa bunga deposito, tabungan serta diskonto SBI yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak dipotong PPh Final (PP No. 131 Tahun 2000
tanggal 15 Desember 2000). Hal ini berimplikasi bahwa atas penghasilan
tersebut tidak digabungkan dalam perhitungan PPh terhutang akhir tahun.

c. Selanjutnya diatur bahwa atas biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan,


menagih, dan memelihara penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final
maka atas biaya tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan Wajib Pajak
untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak (PP No. 138 Tahun 2000 tanggal 21
Desember 2000). Dapat terjadi bahwa dana yang ditempatkan dalam bentuk
deposito berjangka atau tabungan lainnya, langsung atau tidak langsung berasal
dari pinjaman atau dana yang berasal dari pihak ketiga yang dibebani biaya
bunga.

Apabila hal tersebut terjadi, WP dapat memperkecil Penghasilan Kena Pajak


secara tidak wajar karena bunga yang terhutang atau terbayar atas pinjaman
tersebut dikurangkan sebagai biaya. Sedangkan bunga yang diterima atau
diperoleh yang berasal dari penempatan dana dalam deposito berjangka atau
tabungan lainnya tidak ditambahkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak
karena telah dikenakan PPh yang bersifat final yaitu 20%.

d. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-46/PJ.4/1995 tentang Perlakuan


Biaya Bunga Yang Dibayar atau Terutang Dalam Hal Wajib Pajak Menerima Atau
Memperoleh Penghasilan Berupa Bunga Deposito Atau Tabungan Lainnya (Seri
PPh Umum No. 20)

Pembahasan:

Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang
ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya, maka biaya bunga atas
pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau
terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi. rata-rata yang ditempatkan sebagai
deposito berjangka atau tabungan lainnya ( selisih rata-rata pinjaman dengan rata-
rata deposito).

Jadi bunga pinjaman yang dapat dibebankan sebagai biaya fiskal adalah

= 20% X (10.000.000.000 4.000.000.000)


= Rp. 1.200.000.000

2. Permasalahan
Dalam Piutang Lain-lain terdapat pinjaman kepada Direksi dan Karyawan tanpa bunga
sejumlah Rp 8 milliar. Dana pinjaman ini berasal dari uang pinjaman dari Bank BNI 46
per 1 Desember 2012. Beban bunga pinjaman Rp 100 juta. Selain itu ada juga Piutang
Lainnya kepada PT. GII sejumlah Rp 12 milliar dengan tanpa bunga. Dana yang
dipinjamkan ini berasal dari Bank BII dengan bunga 14,5%.

Dasar Hukum
a. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan,
menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam
negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi
biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
b. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 16/PJ.43/1999 Tentang
Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Penjualan Barang Atau Pemberian Kredit Dengan
Fasilitas Khusus Yang Diberikan Oleh Perusahaan Kepada Karyawannya diatur
bahwa Dalam hal terjadi pemberian pinjaman (kredit) oleh perusahaan kepada
karyawannya dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari tingkat suku bunga
yang berlaku di pasar, perlakuan Pajak Penghasilannya adalah bagi
perusahaan yang memberikan pinjaman maka selisih tingkat suku bunga yang
dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain (Harga Pokok atau tingkat suku bunga
pinjaman yang dibayarkan untuk dana tersebut) dengan bunga yang
dibebankan kepada karyawan, merupakan koreksi fiskal bagi perusahaan yang
memberikan pinjaman karena tidak boleh dibiayakan.

Pembahasan:
Biaya bunga pinjaman bank yang tidak dipergunakan dalam rangka mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan (piutang tanpa bunga) tidak dapat dibebankan
dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak.
Jadi biaya bunga pinjaman bank sebesar:
- Rp 100.000.000 atas pinjaman dari Bank BNI 46 untuk Piutang kepada Direksi dan
karyawan tidak dapat dibebankan.
- Rp 1.740.000.000 (=14,5% X Rp 12 milliar) atas pinjaman dari Bank BII untuk
Piutang kepada PT. GII tidak dapat dibebankan.

3. Permasalahan
Aktiva Tetap perusahaan terdiri dari 2 rumah dinas, 1 kantor, 6 kendaraan sedan
perusahaan yang dibawa pulang Direksi dan Komisaris, 6 Truck, 1 pabrik, dan 5 mesin.
Masing-masing fixed asset sudah dimasukkan dalam kelompok yang sesuai dengan
PMK-96/PMK.03/2009 untuk tujuan penyusutan fiskal.

Dasar Hukum
a. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam
negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi
biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
b. Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa penggantian atau imbalan sehubungan dengan
pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali
penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau
imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
c. Pasal 3 ayat (1) Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP - 220/PJ./2002
tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Biaya Pemakaian Telepon Selular Dan
Kendaraan Perusahaan menyebutkan bahwa Atas biaya perolehan atau pembelian
atau perbaikan besar kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan
dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,
dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan
aktiva tetap kelompok II sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 520/KMK.03/2000 Lampiran II butir I huruf b sebagaimana telah
diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.03/2002.
d. Pasal 16 ayat (1) huruf a Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991
tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing) menyebutkan bahwa selama masa
sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal
yang disewa-guna-usaha, sampai saat lessee menggunakan hak opsi untuk
membeli.

Pembahasan
Atas penyusutan Aktiva Tetap berupa 2 rumah dinas tidak dapat dibebankan dalam
menghitung Penghasilan Kena Pajak, karena pemberian rumah dinas merupakan
pemberian dalam bentuk natura bukan di daerah terpencil.
Atas penyusutan Aktiva Tetap berupa 1 kantor dan 1 Pabrik, dapat dibebankan
seluruhnya karena merupakan biaya dalam rangka untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan.
Atas penyusutan Aktiva Tetap berupa 6 kendaraan sedan hanya dapat dibebakan
sebesar 50% dari jumlah biaya penyusutan yang terjadi.
Atas penyusutan Aktiva Tetap berupa 6 Truck dan 5 Mesin yang cara perolehannya
dengan cara sewa dengan hak opsi, tidak dapat dibebankan seluruhnya dalam
penghitungan Penghasilan Kena Pajak perusahaan.

4. Permasalahan
Persediaan Bahan Baku, barang dalam proses, dan barang jadi dicatat dengan net
realizable value, yaitu Rp 11.429.569.179,- sedangkan harga perolehannya adalah Rp
12.400.000.000,-

Dasar hukum
Pasal 10 ayat (6) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
menyebutkan bahwa Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga
pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan
cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama.

Pembahasan
Persediaan Bahan Baku, barang dalam proses dan barang jadi untuk penghitungan
harga pokok harus dinilai berdasarkan harga perolehan sebesar Rp 12.400.000.000.
Jadi terhadap beban pokok usaha harus dikoreksi fiskal positif sebesar Rp 970.430.821.

5. Permasalahan
Hutang pemegang saham diperoleh dari awal 2011 yang belum dibayar-bayar, yaitu Rp
30,8 milliar. Hutang tersebut dikenakan bunga oleh MNA Ltd sebesar 20%. Bunga pasar
yang diperolah dari pasar keuangan Singapore pada saat kontrak pinjaman dilakukan,
SIBOR, adalah 14%.

Dasar Hukum

Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
menyebutkan bahwa Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali
besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal
untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang
mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan
kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa
dengan menggunakan metode perbandingan harga antara pihak yang independen,
metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus, atau metode lainnya.

Pembahasan

Biaya bunga yang dapat dibebankan oleh perusahaan hanya sebesar 14% dan
bukan 20%. Biaya bunga yang dapat dibebankan tahun pajak 2012.

= 14% X Rp 30.800.000.000
= Rp 4.312.000.000

Terhadap Hutang Pemegang Saham PT. LL terhadap MNA Ltd sebesar Rp 30,8
milliar, Direktur Jenderal Pajak dapat menentukan dan mereklasifikasi utang tersebut
sebagai setoran modal oleh MNA Ltd, karena seringkali demi mengecilkan beban
Pajak Penghasilan perusahaan, mereka mencatat setoran modal tambahan yang
dilakukan oleh Pemegang Saham sebagai Hutang ke Pemegang Saham dengan
harapan perusahaan dapat membebankan biaya bunga yang timbul dari utang
tersebut untuk mengecilkan Penghasilan Kena Pajak perusahaan.

6. Permasalahan
Penjualan sejumlah Rp 163,5 miliar terdiri dari:
Penjualan Export ke MNA Ltd Rp 100 milliar
Penjualan Dalam Negeri Independent party Rp 50 milliar
Penjualan kepada PT. GII Related party Rp 13,5 milliar
Diketahui bahwa harga penjualan exportnya sudah sesuai harga pasar wajar yaitu
dengan gross margin 30% sebagaimana umumnya, sedangkan ke PT. GII dijual
denga gross margin 20%. SPT PPN selama 2012 menunjukkan adanya DPP Rp 170
milliar dengan rincian yaitu export Rp 100 milliar, pemakaian sendiri barang
dagangan Rp 2 milliar, penyerahan dalam negeri lainnya Rp 65 milliar, dan
penyerahan kepada Pemda Jakarta Barat Rp 3 milliar, SSP PPN dan PPh sudah
diterima dari Pemda tersebut.

Dasar Hukum
Berdasarkan Poin a. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-20/PJ.41/2001
tentang Peningkatan Pengawasan PPh disebutkan bahwa Para Kepala KPP Domisili
diminta untuk melakukan analisa data equalisasi PPh dan PPN masa Januari -
Desember 2000 dari daftar keluaran/laporan aplikasi Sistem Informasi Perpajakan
(menu SPT Tahunan-Equalisasi Data SPT) serta data intern lainnya.

Pembahasan
Peredaran Usaha cfm. SPT PPN
- Export Rp 100 milliar
- Penyerahan Dalam Negeri Rp 65 milliar
- Penyerahan kepada Pemungut Rp 3 milliar
- TOTAL PENYERAHAN Rp 168 milliar
Peredaran Usaha cfm. Laporan Keuangan (Hasil Equalisasi)
- Export Rp 100 milliar
- Penyerahan Dalam Negeri Rp 63,5 milliar
- TOTAL PENYERAHAN Rp 163,5 milliar
- Koreksi positif atas Peredaran Usaha Rp 4,5 milliar
- TOTAL PEREDARAN USAHA SEHARUSNYA Rp 168 milliar

7. Permasalahan

Pada Harga Pokok Penjualan terdapat:

- Pemakaian Material 92.173.944.988


- Beban Royalty (MNA Ltd-Singapore) 2.500.000.000
- Upah Tenaga Kerja 8.562.500.000
- Biaya Pengiriman (antar pulau via PT AKM Shipping) 3.527.004.528
- Sewa Alat berat (PT Trakindo) 2.885.747.450
- Beban Penurunan Nilai Persediaan 2.458.000.000
- Subkontraktor (PT Anu Anu) 1.100.000.000
- Penyusutan (Pabrik/Mesin/Peralatan/Truk) 2.230.000.000
- Sumbangan Produk (untuk 2 desa sekelilingnya) 600.000.000
- Pemakaian Bahan Bakar (bayar SSP pasal 22) 1.697.173.972
- Biaya Konsumsi 697.173.972
- Biaya Akomodasi Lapangan dan lainnya 2.454.768.000
120.886.312.910

Bahan bakar (solar) dibeli dari Pertamina langsung, pengiriman produk


menggunakan PT. AKM yang khusus untuk PT. LL Textile saja, dan Subcontractor
merupakan jasa maklon. Dalam biaya akomodasi dan lainnya terdapat beban Pajak
Masukan cacat atas material Rp 100 juta, beban perpajakan berupa SKPKB PPh
2010 dengan pokok Rp 500 juta dan bunga Rp 100 juta, beban beasiswa untuk anak
Direksi Rp 100 juta dan anak kampung sebelah Rp 150 juta, beban pajak reklame
Rp 60 juta, beban PPh 21 tanggungan perusahaan untuk para Direksi Rp 150 juta,
beban sewa apartment komisaris asal Singapore Rp 50 juta, beban perawatan sedan
Rp 60 juta, pajak kendaraan bermotor truck Rp 12 juta dan sedan Rp 30 juta. Mesin
dan truck adalah asset dengan cara perolehan sewa dengan hak opsi. Cicilan
setahun seluruhnya Rp 2 milliar sedangkan penyusutan mesin dan truck seluruhnya
Rp 500 juta.

Dasar Hukum

a. Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana


telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi
Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan
penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan, termasuk antara lain pajak kecuali Pajak Penghasilan.
b. Pasal 10 ayat (6) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa Persediaan dan pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan
secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh
pertama.
c. Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan, untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan antara lain :
- Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
pemegang saham, sekutu, atau anggota;
- Pajak Penghasilan;
- Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib
Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
- Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan.
d. Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa penggantian atau imbalan sehubungan
dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan
kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai
serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah
tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
e. Pasal 3 ayat (2) Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-220/PJ./2002
tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Biaya Pemakaian Telepon Selular
Dan Kendaraan Perusahaan, menyebutkan bahwa Atas biaya pemeliharaan atau
perbaikan rutin kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki
dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima
puluh persen) dari jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin dalam tahun
pajak yang bersangkutan.
f. Pasal 16 ayat (1) huruf a Keputusan Menteri Keuangan Nomor
1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing) menyebutkan
bahwa selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan
penyusutan atas barang modal yang disewa-guna-usaha, sampai saat lessee
menggunakan hak opsi untuk membeli.
g. Pasal 10 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang
Penghitungan Penghasilan Kena Pajak Dan Pelunasan Pajak Penghasilan
Dalam Tahun Berjalan, disebutkan bahwa Pajak Masukan yang tidak dapat
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sepanjang dapat dibuktikan
Pajak Masukan tersebut:
- benar-benar telah dibayar; dan
- berkenaan dengan pengeluaran yang berhubungan dengan kegiatan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
h. Pasal 13 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang
Penghitungan Penghasilan Kena Pajak Dan Pelunasan Pajak Penghasilan
Dalam Tahun Berjalan, disebutkan bahwa Pengeluaran dan biaya yang tidak
boleh dikurangkan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi
Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, termasuk: Pajak Penghasilan
yang ditanggung oleh pemberi penghasilan.
i. Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.03/2009 tentang
Penyediaan Makanan dan Minuman bagi Seluruh Pegawai serta Penggantian
atau Imbalan dalam Bentuk Natura dan Kenikmatan di Daerah Tertentu dan yang
Berkaitan dengan Pelaksanaan Pekerjaan yang dapat Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto Pemberi Kerja, menyebutkan bahwa Pemberian natura dan
kenikmatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan
bukan merupakan penghasilan bagi Pegawai yang menerimanya adalah :
a. Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi seluruh
Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam
rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di
daerah tersebut.
c. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat
pekerjaan tersebut mengharuskannya.
j. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/PJ.421/1996 tentang
Perlakuan PPh Atas Biaya Bea Siswa Dalam Rangka Gerakan Nasional Orang
Tua Asuh (GN OTA), antara lain disebutkan:
- Pemberian bantuan berupa biaya bea siswa yang dikeluarkan Wajib Pajak
dalam rangka GN-OTA merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat
(1) huruf g Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994.
- Untuk dapat membebankan biaya bea siswa dalam rangka GN-OTA sebagai
pengurangan penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak,
Wajib Pajak harus dapat menunjukkan bukti setoran/transfer uang, yang
ditujukan ke Bank BRI atas Nama Lembaga GN-OTA dengan nomor
rekening 31-50-1784.5 sebagai bukti pembayaran.

Pembahasan

Pemakaian Material, Beban Royalty, Upah Tenaga Kerja, Biaya Pengiriman,


Sewa Alat Berat, Subcontractor, Pemakaian Bahan Bakar dan Biaya Konsumsi
seluruhnya dapat dibebankan sebagai Harga Pokok Penjualan karena telah
sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Beban Penurunan Nilai Persediaan tidak dapat dibebankan dalam menghitung
Penghasilan Kena Pajak, karena Persediaan harus dinilai sebesar nilai
perolehan.
Sumbangan produk sebesar Rp 600 juta tidak dapat dibebankan dan harus
dikoreksi fiskal positif seluruhnya sesuai pasal 9 ayat (1) huruf g Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
Di dalam biaya akomodasi, beban Pajak Masukan cacat atas material Rp 100
juta dapat dibebankan sesuai Pasal 10 ayat (1) PP 94 Tahun 2010. Sedangkan
beban perpajakan berupa SKPKB PPh 2010 sebesar Rp 600 juta tidak dapat
untuk dibebankan dan harus dikoreksi fiskal positif.
Beban beasiswa untuk anak Direksi sebesar Rp 100 juta juga harus dikoreksi
fiskal positif seluruhnya sesuai Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Pajak
Penghasilan. Sedangkan Beasiswa untuk anak kampung sebelah sebesar Rp
150 juta juga harus dikoreksi fiskal positif seluruhnya karena tidak sesuai dengan
SE - 33/PJ.421/1996.
Beban Pajak Reklame sebesar Rp 60 juta dapat dibebankan seluruhnya.
Beban PPh 21 tanggungan perusahaan untuk para Direksi sebesar Rp 150 juta,
beban sewa apartment komisaris sebesar Rp 50 juta tidak dapat dibebankan dan
harus dikoreksi fiskal positif seluruhnya.
Atas Beban perawatan sedan sebesar Rp 60 juta dan pajak kendaraan bermotor
sedan sebesar Rp 30 juta masing-masing hanya dapat dibebankan sebesar 50%
dari beban yang timbul.
Beban pajak kendaraan bermotor truck sebesar Rp 12 juta dapat dibebankan.
Biaya penyusutan atas Aktiva Tetap berupa Mesin dan Truck dengan cara
perolehan sewa dengan hak opsi sebesar Rp 500 juta tidak dapat dibebankan
sesuai dengan KMK-1169/KMK.01/1991.
Sehingga Perincian Harga Pokok Penjualan akan menjadi:
- Pemakaian Material 92.173.944.988
- Beban Royalty (MNA Ltd-Singapore) 2.500.000.000
- Upah Tenaga Kerja 8.562.500.000
- Biaya Pengiriman (antar pulau via PT AKM Shipping) 3.527.004.528
- Sewa Alat berat (PT Trakindo) 2.885.747.450
- Beban Penurunan Nilai Persediaan 0
- Subkontraktor (PT Anu Anu) 1.100.000.000
- Penyusutan (Pabrik/Mesin/Peralatan/Truk) 1.730.000.000
- Sumbangan Produk (untuk 2 desa sekelilingnya) 0
- Pemakaian Bahan Bakar (bayar SSP pasal 22) 1.697.173.972
- Biaya Konsumsi 697.173.972
- Biaya Akomodasi Lapangan dan lainnya 1.359.768.000
116.233.312.910

8. Permasalahan
Beban Promosi dan Pemasaran terdiri dari:
- Beban Pemasaran dan Promosi 3.798.769.672
- Beban Entertainment (Ada daftar nominatif 20%) 1.245.000.000
- Beban Komisi Penjualan 115.974.408
5.159.744.080

Beban promosi dan pemasaran tidak ada daftar nomintaif, hanya berisi beban-beban
promosi tanpa rincian jelas, namun di dalamnya juga tercatat adanya beban cicilan
mobil Porch Cayenne milik pribadi Pak Direktur Utama, Bang Selamet. Mengenai
komisi penjualan, ada komisi penjualan yang diberikan kepada 4 orang atas jasanya
mencari pembeli di dalam negeri sejumlah Rp 50 juta dan ada tanda bukti. Sisanya
tidak mau tanda tangan pada bukti pengeluarannya.

Dasar Hukum

a. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah


diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan
bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan.
b. Pasal 6 ayat (1) dan ayat (5) Peraturan Menteri Keuangan Nomor
02/PMK.03/2010 tentang Biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto, menyebutkan bahwa Wajib Pajak wajib membuat daftar
nominatif atas pengeluaran Biaya Promosi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 yang dikeluarkan kepada pihak lain. Dalam hal ketentuan tidak dipenuhi, Biaya
Promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
c. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-27/PJ.22/1986 antara lain
disebutkan Wajib Pajak yang mengurangkan biaya-biaya Entertainment dari
penghasilan brutonya, agar melampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan
daftar nominatif.

Pembahasan

Beban Pemasaran dan Promosi untuk seluruhnya tidak dapat dibebankan karena
tanpa rincian yang jelas dan tidak dibuatkan daftar nominatifnya oleh
perusahaan.
Beban Entertainment hanya diakui sebesar Rp 249.000.000,- yaitu sebesar
beban yang ada daftar nominatifnya.
Atas beban komisi penjualan hanya diakui sebesar Rp 50 juta yaitu hanya
sebesar beban yang ada tanda buktinya, sehingga dapat dipertanggungjawabkan
sebagai beban dalam rangka mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan.
Setelah koreksi fiskal positif yang dilakukan, maka Beban Promosi dan
Pemasaran terdiri dari:
- Beban Pemasaran dan Promosi 0
- Beban Entertainment (Ada daftar nominatif) 249.000.000
- Beban Komisi Penjualan 50.000.000
299.000.000

9. Permasalahan
Beban Administrasi dan Umum terdiri dari:
Beban Gaji dan Tunjangan 8.400.000.000
Beban Penyusutan (Ruko 10% / Sedan 20%) 1.230.000.000
Beban Keamanan dan Kebersihan 67.500.000
Beban Kerugian Piutang Tak Tertagih 456.528.660
Beban Konsumsi Kantor 254.000.000
Beban Perawatan Aktiva tetap (Ruko 10% / Sedan 60%
/ sisanya aktiva lainya 750.000.000
Beban Listrik/Air/Telepon (beban Ruko 20%) 100.500.000
Beban Management dan Technical Fee (PT. ABG) 550.000.000
Beban Notaris (beban Sewa Ruko) 50.000.000
Beban ATK dan Umum 196.409.000
Beban Perjalanan Dinas 342.875.000
Beban Kepegawaian 305.647.000
Beban Lainnya 21.450.000
12.724.909.660

Terdapat informasi bahwa berdasarkan hasil equalisasi SPT PPh 21 masa Desember
2012 diketahui bahwa DPP gaji, upah, komisi dan objek PPh 21 lainnya adalah
sejumlah Rp 14.950.000.000. Beban kerugian piutang tak tertagih rinciannya adalah
untuk karyawan dan direksi Rp 150 juta dan sisanya piutang kepada PT. GII.
PT. LL Textile sudah membuat persetujuan dengan PT. GII dengan akta notaris
tentang penghapusan piutang dan sudah dibebankan dalam pembukuan komersial.
Piutang karyawan dan direksi tidak ada proses atau tindakan hukum apapun.
Beban perjalanan dinas sebesar 60% adalah dalam bentuk Lumpsum ke pegawai
yang berangkat yang tidak perlu beban pembuktian lagi. Beban kepegawaian berisi
beban seragam pabrik Rp 200 juta, beban berupa tunjangan uang melahirkan Rp 60
juta untuk 3 orang, dan sisanya uang penebusan langsung pengobatan ke rumah
sakit. Beban lainnya adalah biaya bingung yang bingung mau diposkan dimana,
berisi biaya undeductible expenses.

Dasar Hukum
a. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan
bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan.
b. Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa :
-Untuk dapat dibebankan sebagai biaya, pengeluaran-pengeluaran tersebut
harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan
usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang merupakan objek pajak.
-Pengeluaran-pengeluaran sehubungan dengan pekerjaan yang boleh
dikurangkan dari penghasilan bruto harus dilakukan dalam bentuk uang.
Pengeluaran yang dilakukan dalam bentuk natura atau kenikmatan, misalnya
fasilitas menempati rumah dengan cuma-cuma, tidak boleh dibebankan sebagai
biaya, dan bagi pihak yang menerima atau menikmati bukan merupakan
penghasilan.
c. Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa Piutang yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang Wajib Pajak telah
mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba-rugi komersial dan telah
melakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir.
d. Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa Penyusutan atas pengeluaran untuk
pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud,
kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha,
dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat
yang telah ditentukan bagi harta tersebut.
e. Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010
tentang Piutang Yang Nyata-Nyata Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan
Dari Penghasilan Bruto, menyebutkan bahwa Piutang yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk piutang yang
berasal dari transaksi bisnis dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan
istimewa dengan Wajib Pajak.
f. Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Pajak Penghasilan menyebutkan bahwa penggantian atau imbalan sehubungan
dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan
kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai
serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah
tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
g. Pasal 3 ayat (2) Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-220/PJ./2002
tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Biaya Pemakaian Telepon Selular
Dan Kendaraan Perusahaan, menyebutkan bahwa Atas biaya pemeliharaan atau
perbaikan rutin kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki
dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima
puluh persen) dari jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin dalam tahun
pajak yang bersangkutan.
h. Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83/PMK.03/2009 tentang
Penyediaan Makanan dan Minuman bagi Seluruh Pegawai serta Penggantian
atau Imbalan dalam Bentuk Natura dan Kenikmatan di Daerah Tertentu dan yang
Berkaitan dengan Pelaksanaan Pekerjaan yang dapat Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto Pemberi Kerja, menyebutkan bahwa Pemberian natura dan
kenikmatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan
bukan merupakan penghasilan bagi Pegawai yang menerimanya adalah :
a. Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi seluruh
Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam
rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di
daerah tersebut.
c. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat
pekerjaan tersebut mengharuskannya.

Pembahasan

Secara umum untuk dapat dibebankan sebagai biaya, pengeluaran-pengeluaran


dalam Laporan Rugi Laba harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak
langsung dengan kegiatan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.
Dengan demikian, pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh
dibebankan sebagai biaya.
Beban Gaji dan Tunjangan diperbolehkan untuk dibebankan.
Atas Beban Penyusutan yang didalamnya terdapat beban penyusutan ruko
(10%) dan sedan (20%) dari jumlah keseluruhan beban penyusutan, atas
penyusutan ruko sebesar Rp123.000.000 (=10% X Rp1.230.000.000) harus
dikoreksi fiskal positif seluruhnya karena ruko bukan merupakan asset tetap yang
dimiliki oleh perusahaan. (lihat permasalahan no.3)
Atas beban penyusutan kendaraan sedan sebesar Rp246.000.000 (=20% X
Rp1.230.000.000) harus dikoreksi fiskal positif sebesar 50% dari beban
penyusutannya yaitu sebesar Rp123.000.000
Beban Keamanan dan Kebersihan dapat seluruhnya dibebankan.
Beban Kerugian Piutang Tak Tertagih harus dilakukan koreksi fiskal positif untuk
seluruhnya, karena timbul dari transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan
istimewa.
Biaya Konsumsi Kantor dapat dibebankan karena merupakan pemberian
makanan/minuman bagi seluruh pegawai.
Beban perawatan aktiva tetap ruko sebesar Rp75.000.000 (=10% X
Rp750.000.000,-) harus dikoreksi fiskal positif seluruhnya, karena aktiva tersebut
bukan milik perusahaan.
Beban Perawatan sedan sebesar Rp450.000.000 harus dikoreksi fiskal positif
sebesar 50% dari biaya, yaitu sebesar Rp 225.000.000
Beban perawatan aktiva lainnya sebesar Rp 225.000.000 diperbolehkan untuk
dibebankan.
Beban Air/Listrik/Telepon, Beban Management dan Technical Fee (PT. ABG),
Biaya Notaris, Beban ATK dan Umum, dan Beban Perjalanan Dinas dapat
dibebankan seluruhnya.
Beban kepegawaian yang berupa uang penebusan langsung pengobatan ke
rumah sakit (bentuk natura) sebesar Rp45.647.000 tidak dapat dibebankan dan
harus dikoreksi fiskal positif.
Beban lainnya sebesar Rp21.450.000 seluruhnya harus dikoreksi fiskal positif
karena tidak terdefinisi sehingga tidak diketahui apakah merupakan biaya dalam
rangka mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau bukan.
Setelah beberapa koreksi fiskal positif tersebut Beban Administrasi dan Umum
terdiri dari:
Beban Gaji dan Tunjangan 8.400.000.000
Beban Penyusutan (Ruko 10% / Sedan 20%) 984.000.000
Beban Keamanan dan Kebersihan 67.500.000
Beban Kerugian Piutang Tak Tertagih 0
Beban Konsumsi Kantor 254.000.000
Beban Perawatan Aktiva tetap (Ruko 10% / Sedan 60%
/ sisanya aktiva lainya 225.000.000
Beban Listrik/Air/Telepon (beban Ruko 20%) 100.500.000
Beban Management dan Technical Fee (PT. ABG) 550.000.000
Beban Notaris (beban Sewa Ruko) 50.000.000
Beban ATK dan Umum 196.409.000
Beban Perjalanan Dinas 342.875.000
Beban Kepegawaian 260.000.000
Beban Lainnya 0
11.430.284.000

10. Permasalahan
Data penghasilan luar usaha terdiri dari:

- Pendapatan sewa Ruko 1.000.000.000


- Pendapatan jasa giro 110.000.000
- Pendapatan cabang di negara X (PPh 20%) 7.037.300.000
- Kerugian penjualan fixed assets (200.000.000)
- Kerugian Selisih Kurs atas Pinjaman Dollar (1.310.000.000)
- Beban Bunga pinjaman Bank (3.250.000.000)
- Beban Bunga pinjaman Pemegang Saham (6.160.000.000)
- Beban administrasi dan provisi Bank (125.590.497)
(2.898.290.497)

Terdapat informasi dari management bahwa atas pengalihan asset berupa


kendaraan sedan terjadi kerugian sebesar Rp 200 juta. Nilai buku Fiskal sedan Rp
400 juta dijual kepada Komisarisnya seharga Rp 200 juta. Nilai pasar sedan tersebut
adalah Rp 700 juta.
Beban bunga pinjaman Bank sudah termasuk di dalamnya untuk dana yang
didepositokan yaitu 3%, pinjaman kepada karyawan dan direksi tanpa bunga 10%,
dan pinjaman yang dipinjamkan lagi ke PT. GII sebesar 53%, dan sisanya untuk
usaha.

Dasar Hukum

a. Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah


diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan menyebutkan bahwa Harga perolehan atau harga penjualan dalam
hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya
dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima.
b. Pasal 2 huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1994, untuk menghitung
besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk
Usaha tetap (BUT), biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final yang diatur tersendiri
berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.
c. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan, menyebutkan bahwa Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan
bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan.

Pembahasan

Untuk kasus penjualan asset berupa kendaraan sedan kepada Komisaris (pihak
yang memiliki hubungan istimewa) seharusnya dicatat sebesar nilai pasar Rp700
juta, sehingga dengan nilai buku sisa kendaraan sedan sebesar Rp400 juta
seharusnya perusahaan mendapatkan keuntungan penjualan fixed assets
sebesar Rp300 juta.
Sehingga atas saldo Kerugian penjualan fixed assets sebesar (Rp200 juta) harus
dilakukan koreksi fiskal positif sebesar Rp 500 juta.
Atas Beban Bunga pinjaman Bank, yang diperbolehkan untuk dibebankan
hanyalah sebesar bagian pinjaman yang digunakan untuk usaha sebesar 34%
(=100% - 3% - 10% - 53%), karena: -sebesar 3% atas beban bunga tersebut
merupakan bagian pinjaman yang didepositokan yang menghasilkan bunga yang
sudah dikenakan PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat Final sehingga tidak dapat
dibebankan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak.
-sebesar 10% dan 53% atas beban bunga tersebut merupakan bagian pinjaman
yang dipinjamkan kepada karyawan dan direksi serta kepada PT. GII yang
memiliki hubungan istimewa dan tanpa dikenakan bunga. Karena atas bagian
tersebut tidak menghasilkan penghasilan (Objek Pajak) sehingga atas beban
bunga pinjaman Banknya tidak dapat dibebankan.
Jadi Beban bunga Pinjaman Bank yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah:
= 34% X Rp 3.250.000.000
= Rp 1.105.000.000
Atau dengan kata lain atas saldo Beban bunga Pinjaman Bank harus dilakukan
koreksi fiskal positif sebesar Rp2.145.000.000
Atas Beban Bunga pinjaman Pemegang Saham hanya dapat dibebankan
sebesar Rp 4.312.000.000 (lihat pembahasan no.5). Jadi atas saldo ini harus
dilakukan koreksi fiskal positif sebesar Rp 1.848.000.000
Sehingga Data penghasilan luar usaha yang seharusnya terdiri dari:
- Pendapatan sewa Ruko 1.000.000.000
- Pendapatan jasa giro 110.000.000
- Pendapatan cabang di negara X (PPh 20%) 7.037.300.000
- Kerugian penjualan fixed assets 300.000.000
- Kerugian Selisih Kurs atas Pinjaman Dollar (1.310.000.000)
- Beban Bunga pinjaman Bank (1.105.000.000)
- Beban Bunga pinjaman Pemegang Saham (4.312.000.000)
- Beban administrasi dan provisi Bank (125.590.497)
(1.594.709.503)
11.
11.Permasalahan:
PT. LL Textile memiliki investasi pada afiliasi di BVI dengan penyertaan 30%,
senilai Rp 10 milliar. Perusahaan SPV di BVI itu sahamnya selain dari PT. LL
Textile juga dari PT. GII 40% dan WP DN lainnya 30%. SPV tidak masuk bursa
efek di negara BVI. Tahun 2011 lalu laba bersih SPV adalah Rp 40 milliar dan
sampai sekarang belum pernah dibagikan dividennya ke para pemegang saham di
Indonesia.

Dasar Hukum
a. Pasal 1 huruf a dan huruf b Peraturan Menteri Keuangan Nomor
256/PMK.03/2008 tentang Penetapan Saat Diperolehnya Dividen Oleh Wajib
Pajak Dalam Negeri Atas Penyertaan Modal Pada Badan Usaha Di Luar Negeri
Selain Badan Usaha Yang Menjual Sahamnya Di Bursa Efek, menyebutkan
bahwa Saat diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas
penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
menjual sahamnya di bursa efek adalah:
- pada bulan keempat setelah berakhirnya batas waktu kewajiban
penyampaian surat pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan badan
usaha di luar negeri tersebut untuk tahun pajak yang bersangkutan; atau
- pada bulan ketujuh setelah tahun pajak berakhir apabila badan usaha di
luar negeri tersebut tidak memiliki kwajiban untuk menyampaikan surat
pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan atau tidak ada ketentuan batas
waktu penyampaian surat pemberitahuan tahunan Pajak Penghasilan.
b. Pasal 2 huruf b Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.03/2008 tentang
Penetapan Saat Diperolehnya Dividen Oleh Wajib Pajak Dalam Negeri Atas
Penyertaan Modal Pada Badan Usaha Di Luar Negeri Selain Badan Usaha
Yang Menjual Sahamnya Di Bursa Efek , menyebutkan bahwa Wajib Pajak
dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah Wajib Pajak dalam
negeri yang secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya
memiliki penyertaan modal paling rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah
saham yang disetor pada badan usaha di luar negeri.
c. Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.03/2008
tentang Penetapan Saat Diperolehnya Dividen Oleh Wajib Pajak Dalam Negeri
Atas Penyertaan Modal Pada Badan Usaha Di Luar Negeri Selain Badan Usaha
Yang Menjual Sahamnya Di Bursa Efek , menyebutkan bahwa Besarnya
dividen yang wajib dihitung oleh Wajib Pajak dalam negeri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 adalah sebesar jumlah dividen yang menjadi haknya
terhadap laba setelah pajak yang sebanding dengan penyertaannya pada
badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di
bursa efek.
d. Pasal 6 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 59/PJ/2010 tentang Tata
Cara Pelaporan Penerimaan Dividen, Penghitungan Besarnya Pajak Yang
Harus Dibayar, Dan Pengkreditan Pajak Sehubungan Dengan Penetapan Saat
Diperolehnya Dividen Oleh Wajib Pajak Dalam Negeri Atas Penyertaan Modal
Pada Badan Usaha Di Luar Negeri Selain Badan Usaha Yang Menjual
Sahamnya Di Bursa Efek, menyebutkan bahwa Dalam hal belum ada pajak
secara nyata dibayar di luar negeri atas dividen yang ditetapkan saat
perolehannya, maka pajak atas dividen tersebut tidak boleh diperhitungkan
sebagai kredit pajak luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008 dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak saat ditetapkan
perolehan dividen.

Pembahasan

Berdasarkan uraian di atas, Pada tahun pajak 2012 PT. LL Textile yang secara
bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan