Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PEND AHULUAN

Nusantara adalah nama pertama yang didapatkan oleh negara kita. Meskipun
nama tersebut masih sering diperdebatkan oleh sebagian orang. Indonesia adalah
Negara yang berdiri sebagai Negara republik kesatuan dengan kebinekaannya.
Indonesia mengalami perjalanan sejarah sangat panjang, baik perjalanan
kepercayaan, agama maupun tradisi.
Indonesia merupakan negeri yang sangat kaya, bahkan karena saking kayanya
oleh sebagian ilmuwan disebut sebagai negeri Saba, yaitu negeri peninggalan Ratu
Bilqis, seorang ratu dimasa kenabian nabi Sulaiman AS. Hal ini dikarenakan,
Indonesia memiliki kesamaan dengan negeri tersebut. Selain itu, negeri ini juga
disebut sebagai negeri atlantis, yaitu negeri yang pernah hilang dari permukaan bumi.
Karena memiliki kesuburan dan kemajuan kebudayaan yang sama dengan negeri
tersebut. Tapi entahlah benar atau tidakanya.
Lepas dari sebutan- sebutan tersebut, Indonesia mengalami proses yang
panjang dalam penulisan sejarahnya ( historiografi ). Sumber yang didapatkannya pun
melalui berbagai jenis sumber, baik yang berbentuk lisan maupun yang berbentuk
tulisan ( dokumen ). Sebagian ilmuwan, menyebut masa yang berdasarkan sumber
ini menjadi dua, yaitu masa tradisional atau tradisional ( historiografi kecil ) dan masa
modern atau tradisi besar ( historiografi besar ).
BAB II
PEMBAHASAN

Historiografi adalah bentuk rekonstruksi sejarah yang dilakukan oleh orang


yang masih hidup sesudah zaman atau peristiwa itu terjadi. Sebab itulah historiografi
akan bersifat subyektif sesuai dengan kepentingan dan keadaan sosial sang
perekonstruksinya. Pada masa kerajaan historiografi dilakukan seorang pujangga
yang umumnya berasal dari keraton. Namun seiring berjalannya waktu hai litu mulai
berganti. Historiogafi masa modern mulai dilakukan bukan hanya oleh para pujangga
keraton, namun oleh ilmuwan yang memiliki kemampuan dalam metodeya dan
keingginan yang tinggi untuk mengungkap sejarah.
Data sejarah pada umumnya berasal dari dua sumber, yaitu sumber verbal
( lisan ) maupun tulisan. Berkaitan dengan hal tersebut, berkembanglah dua tradisi
besar. Tradisi itu adalah tradisi lisan dan tradisi tulisan. Tradisi ( budaya ) lisan
mungkin telah adala sejak adanya manusia dimuka bumi. Sementara tradisi tulisan
mulai diperkirakan telah ada sejak zaman peradaban kuno. Kedua tradisi ini pun
berkembang pula di Indonesia. Kedua tradisi ini berperan penting dalam proses
historiografi di indonsia.

1. Tradisi Lisan ( Tradisi Kecil )


Sebelum bangsa Indonesia mengenal budaya tulisan, bangsa Indonesia
menyampaikan sejarah ( peristiwa penting ) dengan lisan. budaya lisan adalah budaya
penyampaian sejarah melalui lisan yang disampaikan dari generasi ke generasi
berikutnya. Sementara itu tradisi lisan memiliki batasan- batasan, menurut Jan
Vanisia, tradisi lisan sebagai Oral Testimony Transmitted Verbally, From One
Generation To Thenext One Or Next1. tradisi lisan berbeda dengan sejarah lisan ,
dimana sejarah lisan dalam mengungkapkan sejarah menggunakan metode dan
tekhnik, artinya dalam sejarah lisan sumber sejarah bukan didapatkan melainkan
harus dicari datanya. Tradisi lisan mirip dengan budaya bangsa arab yang biasa
disebut dengan istilah Ayyamul Arab dan Al Anshab. Namun keduanya memiliki
perbedaan. budaya lisan yang berlangsung di Indonesia dikarenakan masyarakat
Indonesia benar- benar belum mengenal tulisan. Kalaupun ada mungkin hanya
sebagian kecil, dan mungkin oleh kalangan istana saja, seperti para pujangga dan
keturunan raja. Sedangkan dua budaya arab tersebut dikarenakan budaya atau tradisi
lisan lebih memiliki derajat yang tinggi para pelakunya. Sehingga budaya lisan lebih
banyak berkembang dan dibanggakan.
Pada masa budaya lisan sedang Berjaya. Sejarah disampaikan melalui syair , kidung
dan pribahasa. Yang semuanya disampaikan melalui lisan. Alasan mengapa sejarah
disampaikan dengan cara melalui syair dan lainnya, karena dengan cara itulah sejarah
atau semua peristiwa mudah untuk diingat sehingga sangatlah wajar jika pada masa
itu muncul banyak sekali kidung- kidung dan syair- syair.

2. Tradisi Tulisan

Tradisi tulisan atau tradisi besar yaitu penyampaian sejarah melalui tulisan.
Tradisi tulis menulis di Indonesia diperkirakan mulai muncul sejak abad ke- 5. Hal
tersebut dibuktikan dengan ditemukannya prasasti dan yupa dari kerajaan
Tarumanegara dan Kutai2. Tradisi tulis menulis pada zaman kerajaan dilakukan oleh
para pujangga kerajaan yang dipercaya oleh sang raja. Historiografi pada zaman
1 Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. ( Tiara Wacana Yogya: 2003 ) hal. 25-
26

2 Sabana,Setiawan.setiawan,Have. Legenda kertas. ( Dunia Pustaka Jaya:


2005 ) hal 20-21
kerajaan umumnya bersifat istanasentris, sehingga menceritakan kehidupan yang
berada dilingkungan kerajaan, dan tak jarang membanggakan raja- rajanya, seperti
kitab Arjuna Wiwaha.
Huruf- huruf yang pertama kali dikenal adalah huruf palawa dan sansakerta. hal ini
mungkin terjadi karena Indonesia telah bersentuhan lama dengan kebudayaan india.
Namun setelah islam datang tradisi tulisan ini menggunakan huruf arab pegon.
berkaitan dengan ini, akhirnya timbul pertanyaan mengapa bukan huruf- huruf china
yang pertama kali digunakan atau dikenal, padahal nusantara telah menjalani
hubungan yang lama dengan daratan china, yakni sekitar abad kedua.
Tradisi tulisan dari masa kemasa mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Mulai dari bahan yang sederhana hingga dengan bahan yang sangat rumit. Mulai dari
bahan yang mudah dan murah didapat sampai bahan yang sulit dan mahal didapat.
Pada awal perkembangannya, kegiatan tulis menulis dilakukan oleh kalangan
elit. Bahan yang digunakannya pun berasal dari bahan yang berada disekitarnya.
Penggunaan kertas masih belum menggunakan kertas, karena diperkirakan kertas
masuk ke Indonesia pada abad ke- 133.
Penggunaan kertas dikalangan pribumi dilakukan oleh pejabat kerajaan4. Hal ini
disebabkan mahalnya harga kertas saat itu. Namun setelah Indonesia mampu
membuat kertas sendiri maka kemudian menyebar kemasyarakat luar.. Kerajaan
menggunakan kertas dalam kegiatan sehari- harinya diantaranya adalah kesultanan
Banten.

3 Ibid. hal 22

4 Ibid hal 23