Anda di halaman 1dari 1

Pada tahun 1518 penyusunan sanghyang siksa kandang

kareksian mencatat tiga jenis tradisi lisan di tanah sunda yaitu


pantun yang dibawakan oleh prepantun (Juru Pantun), carita
(caritera) yang dibawakan oleh memen (dalang), kawih yang
dibawakan oleh paraguna (ahli karawitan). Dicatat beberapa
cerita pantun dan carita, Iyaitu langgalarang, banyakcatra,
siliwangi dan haturwangi sebagai contoh cerita pantun serta
Damarjati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakarma,
Ramayana Adiparwa, Korawasarma, Bimasorga, Rangga Lawe,
Boma, Sumana, kala Purbaka, Jarini dan Tantri sebagai contoh
carita.

Pantun sebagai tradisi lisan masih dikenal dan hidup dalam


masyarakaat sunda hingga sekarang, walaupun makin lama
makin mengalami penurunan baik kuantitas pertunjukan
kuantitas pendengar, maupun kuantitas jurupantunnya, seperti
halnya kawih , pantunpun merangkum seni sastra dan seni suara
atau seni pertunjukan. Kedua macam seni tersebut menempati
posisi seimbang didalam pantun, unsur sastera dalam pantun
ialah lakon pantun yang bisa dikisahkan oleh juru pantn pada
waktu mengadakan pertunjukan