Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN PELAYANAN HEMODIALISA

RUMAH SAKIT ISLAM SURAKARTA

RUMAH SAKIT ISLAM SURAKARTA

JL. JEND. A.YANI PABELAN KARTASURA SUKOHARJO 57162

TELP. (0271) 710571 (HUNTING), 710572 FAX. (0271) 710572

Email : info@rsiyarsis.com

Webside : www. rsiyarsis.com


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit ginjal kronis adalah hilangnya sejumlah nefron fungsional yang
bersifat ireversibel, gejala-gejala klinis yang serius sering tidak muncul sampai
jumlah nefron fungsional berkurang sedikitnya 70% di bawah normal dan jika jumlah
nefron yang rusak melebihi 90%, pasien akan mengalami penyakit ginjal terminal
(Guyton dan Hall, 1997). Kasus gagal ginjal di Indonesia setiap tahunnya masih
terbilang tinggi, pasalnya masih banyak masyarakat Indonesia tidak menjaga pola
makannya dan kesehatan tubuhnya. Meski belum dilakukan survei secara nasional,
tetapi berdasarkan perbandingan data dengan negara lain kasus gagal ginjal di
Indonesia tinggi. Penyakit gagal ginjal layaknya fenomena gunung es. Jumlah yang
tidak terdeteksi lebih besar dibanding pasien yang telah divonis gagal ginjal. Hanya
sekitar 0,1% kasus yang terdeteksi, sementara kasus yang tidak terdeteksi
diperkirakan mencapai angka 11-16% (PERNEFRI, 2003).
Untuk mengetahui secara tepat posisi kita saat ini, mari kita melihat kembali
apa yang sudah terjadi sebelumnya. Pengertian paling awal mengenai hemodialisis
didasarkan pada penemuan Graham, seorang ahli kimia bangsa Scotlandia pada abad
ke 19 tentang hukum yang mengatur perpindahan / pergerakan suatu zat terlarut
dalam suatu larutan.
Peristiwa difusi zat terlarut dari suatu larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan
berkonsentrasi lebih rendah merupakan dasar dari subtitusi fungsi ginjal pada masa
sekarang.
Graham juga mempelajari apa yang terjadi bila suatu membran yang sangat
tipis ditempatkan di antara 2 larutan yang berbeda konsentrasinya, ternyata membran
tersebut memungkinkan partikel-partikel yang sangat kecil dari larutan yang
berkonsentrasi tinggi untu melewatinya. Sedangkan partikel-partikel yang lebih besar
ukuranya tidak dapat melewatinya. Membran semipermeable ini merupakan bagian
yang terpenting dari dializer.
Aftificial kidney (ginjal buatan) pertama kali digunakan untuk mengerjakan
HD pada hewan percobaan, dibuat pertama kali oleh Abel dkk dari Universitas
Baltimore AS. Pada tahun 1913, mereka membuat tabung dari bahan kolodion, yang
kemudian diujicobakan untuk mendialisis binatang percobaan tersebut.
Instalasi Hemodialisa merupakan salah satu unit pelayanan yang ada di RSIS
YARSIS Surakarta. Instalasi Hemodialisa menjadi fasilitas pelayanan hemodialisis
bagi penderita penyakit ginjal yang membutuhkan terapi pengganti yaitu hemodialisa
ataupun peritoneal dialisa. Pelayanan hemodialisis diRSIS YARSIS Surakarta selama
2013 secara bertahap mempunyai fasilitas mesin sebanyak 13 mesin hemodialisa
dengan ketenagaan 1 dokter penanggung jawab ruangan, 1 dokter nephrologi dan 8
orang perawat. Pelayanan hemodialisis rutin dilaksanakan dalam 2 shif yaitu pagi dan
sore.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. TUJUAN UMUM
Tujuan umum Pelayanan hemodialisa rumah sakit adalah mewujudkan pelayanan
hemodialisa secara profesional untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan
gagal ginjal.
2. TUJUAN KHUSUS
Tujuan khusus yang dapat dicapai adalah mencakup :
a. Meningkatkan cakupan pelayanan hemodialisa
b. Meningkatkan kualitas pelayanan hemodialisa
c. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan hemodialisa
d. Memberikan pelayanan keperawatan pasien hemodialisa yang profesional,
islami dan berkelanjutan.

C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup pelayanan hemodialisa rumah sakit meliputi :
1. Pelayanan hemodialisa rawat jalan
2. Pelayanan hemodialisa rawat inap
3. Penelitian dan pengembangan hemodialisa

D. DEFINISI OPERASINAL
1. Pelayanan dialisis adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk
menyelenggarakan pelayanan dialisis, baik didalam maupun diluar rumah sakit.
2. Dialisis adalah tindakan medis pemberian pelayanan terapi pengganti fungsi ginjal
sebagai bagian dari pengobatan pasien gagal ginjal dalam upaya mempertahankan
kualitas hidup yang optimal yang terdiri dari dialisis peritonial dan hemodialisa.
3. Hemodialisa adalah salah satu terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat
khusus dengan tujuan mengeluarkan toksin uremik dan mengatur cairan elektrolit
tubuh.
4. Penyakit ginjal kronik adalah suatu penyimpangan progresif , fungsi ginjal yang
tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan metabolik dan cairan serta elektrolit mengalami kegagalan, yang
mengakibatkan uremia.
5. Tenaga hemodialisa adalah perawat yang memiliki sertifikat pelatihan hemodialisa
dipusat pendidikan yang diakreditasi dan disahkan oleh organisasi profesi.
6. Organisasi profesi adalah perhimpunan nephrologi indonesia, yang selanjutnya
disebut PERNEFRI.

E. LANDASAN HUKUM
Sebagai acuan dan dasar pertimbangan penyelenggaraan pelayanan
hemodialisa rumah sakit diperlukan peraturan perundang-undangan. Beberapa
ketentuan perundang-undangan yang digunakan sebagai berikut :
1. Peraturan mentri kesehatan republik Indonesia nomor
812/menkes/per/VII/2010
2. Surat Edaran menteri kesehatan republik indonesia nomor
HK/menkes/31/I2014
3. Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia nomor
518/menkes/per/VII/ 2008

BAB II

STANDAR KETENAGAKERJAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA


Tenaga dalam pelayanan hemodialisa rumah sakit adalah profesi hemodialisa
yang terdiri dari dokter nephrologi, dokter penanggung jawab ruangan dan perawat
yang telah memiliki sertifikat pelatihan hemodialisa.
1. Dokter
Di dalam suatu unit dialysis mutlak diperlukan seorang dokter yang
bertugas selama dialysis berlangsung. Dokter tersebut harus mengerti
teknik-teknik dialisis dan dapat mengatasi setiap keadaan / komplikasi
yang terjadi. Selain itu, diperlukan seorang Nephrolog sebagai konsultan /
penanggung jawab.
2. Perawat
Dibutuhkan perawat yang sudah terididik di dalam menjalankan
peralatan-peralatan dialisis, mengerti prinsip-prinsip perawatan pasien
penyakit ginjal dan cara-cara mengatasi keadaan darurat pasien.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Kapasitas mesin hemodialisa di RSIS Yarsis Surakarta berjumlah 14 mesin
hemodialisa, dengan 13 mesin di ruang hemodialisa dan 1 mesin berada di ruang ICU.
Dengan 8 perawat hemodialisa, 1 dokter penanggungjawab harian ( dokter umum )
dan 1 dokter nephrology yang telah memiliki tugas tanggungjawab masing-masing.

C. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


Pembinaan tenaga kerja dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti dengan
memberikan pelatihan bersertifikat (sertifikasi), pendidikan lanjutan, kursus,
mengikuti symposium/ seminar yang bertujuan untuk memberi, memperoleh,
meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap
dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tetertentu, sesuai dengan
jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan.
1. Pendidikan dan Pelatihan Berjenjang dan Berlanjut
Tujuan pendidikan dan pelatihan berjenjang dan berlanjut bagi tenaga
hemodialisa adalah :
a. Peningkatan kinerja.
b. Peningkatan pengetahuan dan wawasan ilmiah terkini
c. Peningkatan keterampilan.
d. Perubahan sikap dan perilaku yang posistif terhadap pekerjaan.
Peningkatan jenjang pendidikan bagi petugas atau tenaga pelayanan
hemodialisa rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan,
perkembangan keilmuan yang terkait dengan peningkatan pelayanan
hemodialisa .Jenis pendidikan dan pelatihan berjenjang dan berlanjut
(diklat jangjut) meliputi bentuk diklat formal dan diklat non-formal.
1. Pendidikan dan Pelatihan Formal.
Pendidikan dan pelatihan formal adalah pendidikan yang
berkesinambungan, dalam menunjang keprofesian, serta kedudukan dan
jabatan, baik fungsional maupun struktural.
2. Pendidikan dan pelatihan non formal
a. Orientasi Tugas
Tujuan : Mempersiapkan calon pegawai dalam mengenal lingkungan
tempat bekerja, sistem yang ada di unit pelayanan hemodialisa, serta
tugas-tugas yang akan diembannya. Dengan demikian diharapkan
pegawai baru akan menghayati hal-hal yang akan dihadapi termasuk
kaitan tugas dengan tujuan unit pelayanan hemodialisa. Bobot
pendalaman untuk masing-masing kegiatan disesuaikan dengan
rencana tenaga tersebut akan ditempatkan baik sebagai tenaga terampil
atau tenaga fungsional/ paramedis.
b. Simposium, Seminar dan sejenisnya.
Tujuan : Meningkatkan kapasitas dan wawasan keilmuan pegawai
agar menjadi tenaga yang lebih professional sehingga mampu
meningkatkan kinerja pelayanan hemodialisa di tempat ia bekerja.
Selain itu, sebagai keikutsertaan dalam kegiatan tersebut juga akan
mempengaruhi jenjang karier yang sesuai dengan keprofesiannya.
Kegiatan dapat dilakukan di dalam lingkungan institusi, atau
mengirimkan tenaga jika kegiatan dilakukan di luar institusi.
c. Evaluasi
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan sistem
pengawasan melekat, melalui berbagai perangkat atau instrumen
evaluasi, atau formulir penilaian secara berkala.
Tujuan evaluasi tersebut antara lain sebagai salah satu bagian
dalam promosi pegawai yang bersangkutan, jasa pelayanan,
penghargaan, peningkatan pendidikan, rotasi tugas, mutasi pegawai,
atau sebagai pemberian sanksi.
BAB III

STANDAR FASILITAS

A. STANDAR FASILITAS
Dalam melaksanakan pelayanan hemodialisis dibutuhkan beberapa prasarana
dan sarana antara lain:
1. Fasilitas ruangan
a) Ruang Hemodialisis
Ruang hemodialisa dengan segala perlengkapannya antara lain tempat
tidur pasien, mesin hemodialisis, trolley, timbangan berat badan, meja
makan pasien (overbad table), meja pasien (nakhas), meja perawat, kursi,
kulkas obat, lampu tindakan, tiang infus, lemari obat, kursi, tempat sampah,
tempat linen kotor dan lain sebagainya.
Demi kenyamanan pasien dan untuk mengusir kebosanan selama
berlangsungnya terapi hemodialisis, umumnya ruang hemodialisis
dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan (AC) dan perangkat televisi.
b) Ruang konsultasi dokter
c) Ruang gudang penyimpanan cosumable goods
d) Ruang perawat
e) Ruang kamar mandi (pasien dan perawat)
f) Ruang reuse dialyser
Dimana dialyzer yang sudah dipakai dibersihkan atau diproses untuk
dapat dipakai kembali pada pasien yang sama pada terapi hemodialisis
berikutnya.
g) Ruang water treatment
Di mana sistem pemurni air yang dipakai adalah Reverse Osmosis
(RO) dengan perangkat seperti tangki air, pompa air, multimedia-filter,
activated carbon, softener, tabung reverse osmosis, ultraviolet filter,
bacteria filter dan lain sebagainya. Air yang dihasilkan adalah air murni
yang bebas logam berat maupun bakteri yang sangat penting untuk dipakai
dalam proses hemodialisis di mana pada umumnya rata-rata diperkirakan
dibutuhkan sekitar 30 liter per jam.

2. Bahan Habis Pakai (Consumable Goods) yang terdiri dari antara lain:
a. Dialyzer (ginjal buatan) dan blood-lines (selang darah).
b. Pada pasien GGT, hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan
darahmelalui selang darah kedalam dialyzer atau ginjal buatan yang terdiri
dari dua kompartemen. Kompartemen pertama adalah kompartemen darah
yang di dalamnya mengalir darah dibatasi oleh selaput semipermeable
buatan dengan kompartemen kedua berisi cairan untuk hemodialisis atau
dialisat. Melalui membrane inilah proses pembersihan darah pasien
berlangsung.
c. Cairan dialisat merupakan cairan dengan komposisi khusus yang dipakai
dalam proses hemodialisis, yang terdiri dari cairan acetate dan
bicarbonate. Saat ini yang lebih banyak dipakai adalah bicarbonate
dialysis, hemodialisis dengan menggunakan cairan bicarbonate karena
efek samping pasca hemodialisis yang lebih minimal.
d. Bahan medis lain yang dibutuhkan seperti set infus, cairan infus, spuit,
kapas alkohol, kassa steril, cairan antiseptik (seperti bethadine solution),
powder antibiotic, plester micropore, band-aid (pelekat), verban gulung,
sarung tangan dan lain sebagainya.
3. Peralatan medis yang dapat dipakai ulang antara lain: klem, gunting, piala ginjal
(nierbeken), thermometer, alas perlak, senter, tourniquet, steteskop, mangkok,
gelas ukur, tensimeter, ECG monitor, tabung oksigen, kertas observasi, status
pasien, apron, masker, bantalan pasir berbagai ukuran dan lain sebagainya.
4. Untuk bahan linen dibutuhkan antara lain: selimut, sprei, sarung bantal, waslap,
handuk kecil, serbet tangan, dan sebagainya lainnya.
5. Untuk perawatan mesin diperlukan cairan desinfectant seperti Sodium
hypochloride 2.5%, Havox/Bayclin 5,25%, Citrosteril 3%, Puristeril 3%, Actril
0,7%, Citic Acid 50% (Fresenius Medical Care, 2001)

B. DENAH RUANGAN

Keterangan:

1. Ruang Hemodialisa terdiri dari:


a. 12 mesin Hemodialisa Fresenius.
b. 2 kamar mandi pasien.
c. 9 tempat tidur dan 3 kursi hemodialisa.
d. Pada masing-masing mesin sudah terdapat humidifire untuk oksigenasi.
2. Meja Perawat terdapat:
a. Komputer lengkap untuk administrasi.
b. Berkas-berkas yang dibutuhkan selama proses hemodialisa.
3. Gudang 1 merupakan tempat penyimpanan bahan-bahan habis pakai untuk dialisis.
4. Gudang 2 terdapat:
a. 1 kamar mandi untuk perawat.
b. Tempat penyimpanan obat-obatan.
c. Tempat sholat.
d. Penyimpanan linen.
5. Ruang isolasi terdapat 1 mesin dan 1 tempat tidur untuk pasien HbsAg (+).
6. Instalasi air merupakan tempat pengelolaan air RO yang dibutuhkan untuk dialisis.
7. Ruang Reuse 1 merupakan tempat untuk melakukan reuse tabung dialisis bagi pasien
dengan HCV (+).
8. Ruang Reuse 2 merupakan tempat untuk melakukan reuse tabung dialisis bagi pasien
dengan HCV (-).
9. Ruang Sanitasi terdapat:
a. Troli linen kotor.
b. Ember sampah.
10. Ruang tunggu terdapat beberapa kursi tunggu pasien hemodialisa.
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. PELAYANAN HEMODIALISA RAWAT JALAN

Pelayanan hemodialisa rawat jalan adalah serangkaian proses asuhan keperawatan


hemodialisa yang berkesinambungan.

1. Tujuan
Memberikan pelayanan kepada klien/pasien rawat jalan dengan membantu
meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gagal ginjal. Dengan adekuasi
hemodialisa tercapai :
a. BB tercapai
b. Pasien menjadi lebih baik
c. Hemoglobin 10gr%
d. Hasil laboratorium ureum, creatinin post hemodialisa turun.
e. Mengurangi resiko komplikasi pre dialisis, saat dialisis dan post dialisis.
f. Mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
2. Sasaran
a. Pasien dan keluarga
b. Kelompok pasien dengan masalah yang sama
c. Individu pasien yang datang atau dirujuk
3. Mekanisme kegiatan
Pelayanan hemodialisa rawat jalan BPJS dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Persyaratan :
1) Fotocopy kartu BPJS 2 lembar
2) Fotocopy KTP, 2 lembar
3) Fotocopy rujukan dari puskesmas/ dokter yang ditunjuk BPJS yang berlaku
selama 1 bulan, 2 lembar. Dengan menunjukkan rujukan asli.
4) Surat keterangan dokter untuk hemodialisa yang dibuat oleh perawat di
ruang hemodilaisa.
5) Surat bukti pelayanan hemodialisa yang dibuat oleh perawat di ruang
hemodialisa.
6) Kartu kontrol/ pengantar hemodialisa dari dokter nefrolog
b. Proses
Setelah terpenuhinya persyaratan tersebut diatas pasien atau keluarga
mendaftar ke loket BPJS kemudian memperoleh kartu SEP. Kemudian berkas-
berkas tersebut dibawa oleh pasien atau keluarga ke ruang hemodialisa untuk
menjalani proses hemodialisa.
Pelayanan hemodialisa rawat jalan pasien swasta atau biaya sendiri
tanpa persyaratan bisa langsung menjalani proses hemodilaisa sesuai jadwal.
Dengan biaya dan obat-obatan yang dipergunakan sesuai ketentuan rumah
sakit.
B. PELAYANAN HEMODIALISA RAWAT INAP
1. Tujuan
Memberikan pelayanan hemodialisa kepada pasien rawat inap agar
memperoleh penanganan hemodialisa dengan upaya mempercepat proses
penyembuhan, mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan.
2. Sasaran
Pasien rawat inap RSIS Yarsis Surakarta
3. Mekanisme kegiatan
Pelayanan hemodialisa rawat inap memberikan pelayanan pada pasien rawat
inap yang membutuhkan terapi hemodialisa. Dengan ketentuan bahwa pasien tersebut
pasien rawat inap di bangsal, ruang IMC, ruang stroke maupun ruang ICU RSIS
Yarsis Surakarta.
C. PELAYANAN HEMODIALISA ON CALL
1. Tujuan
Memberikan pelayanan hemodialisa kepada pasien baik rawat inap maupun
rawat jalan diluar jam kerja agar memperoleh penanganan hemodialisa.
2. Sasaran
Pasien rawat jalan dan pasien rawat inap yang belum terjadwal tetap.
3. Mekanisme kegiatan
Proses hemodialisa dilakukan diluar jam kerja. Unit hemodialisa RSIS Yarsis
Surakarta mempunyai jam kerja sebagai berikut :
Setiap hari senin-sabtu
Shif pagi pukul 07.00-14.00
Shif siang pukul 13.00-20.00

Diluar ketentuan hari dan waktu tersebut merupakan pelayanan hemodialisa


on call yaitu pada hari ahad/ minggu atau pelayanan hemodilaisa diatas jam 18.00
sampai dengan sebelum jam 07.00, baik emergensi maupun tidak maka dapat dilayani
dengan hemodilaisa oncall dan yang membedakan terdapat penambahan biaya on call
sesuai ketentuan rumah sakit sebagai berikut :

Pasien hemodialisa BPJS, dapat dilayani dengan pelayanan hemodilaisa


BPJS, akan tetapi ada penambahan biaya.
Pasien hemodialisa swasta atau asuransi non BPJS dengan biaya hemodialisa
on call sesuai ketetapan tarif rumah sakit.
BAB V
LOGISTIK

A. Prosedur Penyediaan Alat Kesehatan dan Obat di ruang hemodialisa


1. Pengertian
Penyediaan Alat Kesehatan dan Obat di ruang hemodialisa adalah permintaan obat
dan alat kesehatan ke instalasi farmasi.
2. Prosedur :
a. Permintaan obat atau alat kesehatan ditulis pada resep rangkap 1 oleh dokter
penanggungjawab.
b. Resep obat dilengkapi nama dokter, tanggal, nama pasien, ruangan dan nomor
register.
c. Resep diberikan ke kasir untuk proses administrasi selanjutnya.

B. Perencanaan Peralatan atau Peremajaan


1. Pengertian
Suatu kegiatan untuk merencanakan pengadaan peralatan baru, sesuai kebutuhan saat
itu atau sebagai pengganti alat yang rusak atau harus diganti karena keausannya.
2. Tujuan
Tujuan dari perencanaan pengadaan dan peremajaan peralatan adalah agar peralatan
dapat digunakan setiap saat tanpa adanya hambatan dan menunjang proses pelayanan
di ruang hemodialisa.
3. Prosedur Kegiatan
a. Dilakukan pengecekan rutin, sehingga diketahui peralatan yang tidak dapat
digunakan atau tidak dapat diperbaiki, dan direncanakan dalam anggaran rutin
atau diganti yang baru.
b. Pengajuan pembelian peralatan baru diketahui Kepala Instalasi kepada tim
pengadaan barang rumah sakit disertai perkiraan harga.
c. Bila sudah terealisasi kepala instalasi menerima alat dan menandatangani buku
penerimaan barang serta menuliskan pada buku inventaris
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. INFEKSI NOSOKOMIAL
Pelayanan kesehatan diberikan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari
fasilitas yang mempunyai peralatan yang sangat sederhana sampai yang memiliki
teknologi modern. Meskipun telah ada perkembangan dalam pelayanan di rumah sakit
dan fasilitas kesehatan lainnya, infeksi terus pula berkembang terutama pada pasien
yang dirawat di rumah sakit.
Survei prevalensi yagn dilakukan oleh WHO terhadap 55 rumah sakit di 14
negara mewakili 14 daerah WHO (Eropa, Mediterania Timur, Asia Selatan Timur,
dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata 8,7% pasien di rumah sakit menderita
infeksi nosokomial.
Tingkat infeksi nosokomial di Asia dilaporkan lebih dari 40% (Alvardo, 2000).
Sebagian besar infeksi nosokomial dapat dicegah dengan melakukan strategi-
strategi sebagai berikut:
Menaati praktek-praktek pencegahan infeksi yang direkomendasikan
khususnya cuci tangan dan pemakaian sarung tangan.
Memperhatikan proses dekontaminasi dan pembersihan alat alat kotor yang
diikuti dengan sterilisasi dan disinfeksi.
Meningkatkan keamanan pada area-area yang beresiko tinggi terjadi infeksi
nosokomial.

B. KOMPLIKASI HEMODIALISA
Komplikasi yang terjadi selama waktu hemodialisa secara menurun
berdasarkan frekuensi kejadian:
a. Hipotensi
b. Kram otot
c. Mual-muntah
d. Sakit kepala
e. Nyeri dada dan nyeri pungung
f. Gatal-gatal
g. Demam dan menggigil
h. Emboli udara
i. Hiperkalemia
j. Disequilibrium syndrome
k. Dialiser bocor (bloodleak)

C. WATER TREATMENT
Sistem water treatment merupakan satu seri tindakan yang dilakukan untuk
menghilangkan kontaminan tertentu. Inadekuat air murni untuk hemodialisa dapat
menyebabkan luka dan kematian. Lebih dari 90% dialisat yang digunakan di mesin
adalah air.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Standar precaution
Standar precaution pertama kali disusun pada tahun 1985 oleh CDC dengan tujuan
untuk melindungi petugas kesehatan dari infeksi HIV dan infeksi melalui darah seperti
hepatitis virus.
Standar precaution adalah petunjuk untuk mencegah penularan infeksi melalui
darah dan cairan tubuh tanpa memandang diagnosa medisnya atau dengan kata lain
diterapkan pada semua pasien yang berobat atau dirawat di rumah sakit.
Komponen utama standar precaution :
1. Cuci tangan
Pedoman cuci tangan telah memberikan anjuran tentang kapan dan
bagaimana melakukan cuci tangan .
Cuci tangan dengan sabun biasa dan air sama efektifnya dengan cuci
tangan memakai sbun antimicrobial (Pereira, Lee dan Wade 1990)
2. Alat perlindunagan diri
a. Sarung tangan
Cuci tangan dan penggunaan sarung tangan merupakan komponen kunci
(penerapan standar precaution/ standar kewaspadaan) dalam meminimalkan
penularan penyakit serta mempertahankan lingkungan bebas infeksi (Garner
dan Favero, 1986).
Ada tiga alasan petugas kesehatan menggunakan sarung tangan, yaitu:
Mengurangi resiko petugas terkena infeksi bakterial dari pasien.
Mencegah penularan flora kulit petugas kepada pasien.
Mengurangi kontaminasi tangan petugas kesehatan dengan
mikroorganisme yang dapat berpindah dari satu pasien ke lainnya
(kontaminasi langsung).
b. Masker, perlindungan mata dan wajah.
1) Memakai masker selama melakukan tindakan atau perawatan pasien
yang memungkinkan terkena percikan darah/ cairan tubuh pasien.
2) Melepaskan masker setelah dipakai dan segera cuci tangan.

c. Gaun/ apron
1) Memakai gaun selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang
memungkinkan terkena percikan darah/ cairan tubuh pasien.
2) Segera melepas gaun dan cuci tangan untuk mencegah berpindahnya
mikroorganisme ke pasien dan lingkungannya.
B. LUKA TUSUK
Untuk mencegah luka tusuk benda tajam:
Berhati-hati saat menangani jarum, scalpel, instrumen yang tajam, atau alat
kesehatan lainnya yang memiliki permukaan yang tajam.
Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau memanipulasinya
dengan kedua tangan.
Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum.
Buanglah benda tajam atau benda bekas pakai ke wadah yang tahan tusuk dan air,
dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan.
Gunakan mouthpieces, resusitasi bag, atau peralatan ventilasi lain sebagai
alternatif untuk mulut ke mulut.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, maka saat ini
masyarakat semakin memperhatikan mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Pengendalian mutu di instalasi rawat jalan harus dilakukan demi kepentingan dan kepuasan
dari pasien sehingga nantinya dapat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan di Instalasi
Farmasi pada khususnya dan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit islam Surakarta pada
umumnya. Indikator Mutu Pelayanan Instalasi Rawat Jalan khususnya ruang hemodialisa di
Rumah sakit Islam Surakarta mengacu pada Pedoman Indikator Mutu Rumah sakit Islam
Surakarta yaitu:
1. Waktu Tunggu Di Rawat Jalan
Ruang lingkup : Waktu Tunggu Di Rawat Jalan
Dimensi mutu : Efisiensi dan efektivitas
Tujuan : Tersedianya pelayanan rawat jalan pada hari kerja
Definisi operasional : Waktu tunggu adalah waktu yang diperlukan mulai pasien
mendaftar sampai dilayani oleh dokter.
Kriteria inklusi : -
Kriteria eksklusi : -
Numerator : Jumlah pasien rawat jalan yang menunggu lebih dari 15 menit
Denominator : Jumlah seluruh pasien rawat jalan dalam bulan tersebut.
Standar : 1%

2. Insiden Komunikasi Yang Kurang Efektif


Ruang lingkup : Komunikasi lisan atau melalui telepon yang kurang efektif
antar pemberi pelayanan tentang pelaporan kembali hasil
pemeriksaan dan kondisi pasien.
Dimensi mutu : Keselamatan pasien
Tujuan : Tercapainya Keselamatan Pasien melalui komunikasi lisan
yang efektif
Definisi operasional : Komunikasi yang kurang efektif adalah komunikasi lisan yang
tidak menggunakan prosedur: Write back, Read back dan
Repeat Back (reconfirm)
Kriteria inklusi : - Kesalahan Prosedur komunikasi lisan atau via telepon:
Write back, Read back dan Repeat Back (reconfirm)
Kriteria eksklusi : Komunikasi lisan
Numerator : Jumlah ketidaktepatan komunikasi lisan atau via telepon
Denominator : -
Standar : 0
3. Insiden Ketidakpatuhan Cuci Tangan
Ruang lingkup : Ketidakpatuhan cuci tangan oleh petugas kesehatan.
Dimensi mutu : Keselamatan Pasien
Tujuan : Tercapainya Keselamatan Pasien melalui kegiatan mencuci
tangan.
Definisi operasional : Ketidakpatuhan mencuci tangan meliputi ketidakpatuhan waktu
atau 5 momen cuci tangan dan ketidakpatuhan 6 langkah cuci
tangan
Kriteria inklusi : - Tidak melakukan cuci tangan pada 5 momen cuci tangan
- Tidak melakukan cuci tangan sesuai 6 langkah cuci tangan
Kriteria eksklusi : -
Numerator : Insiden kejadian ketidakpatuhan cuci tangan oleh petugas
kesehatan
Denominator : -
Standar : 0