Anda di halaman 1dari 6

Nama : Yulianti

NPM : 1509200160035
Kelas : A

MATEMATIKA DAN KARAKTER

A. Pendahuluan
Membangun karakter bagi generasi dewasa ini memang sangat mendesak. Hal
tersebut melihat fenomena-fenomena yang terjadi dan tantangan masa depan yang dihadapi
semakin kompleks. Karakter-karakter umum seperti jujur, disiplin, taat aturan, atau
bertanggungjawab sudah semakin hilang. Sebagai bukti adalah maraknya upaya-upaya
mencontek ataupun plagiat lingkungan pendidikan menunjukkan kurangnya kesadaran
untuk berlaku jujur. Belum lagi peningkatan kasus-kasus korupsi yang sering diberitakan oleh
media massa memberikan pertanda semakin pudarnya sikap jujur. Fenomena lain seperti
budaya antri, tertib berlalu lintas, dilarang merokok, maupun membuang sampah pada
tempatnya masih sulit dilakukan secara sadar dan bertanggungjawab.
Kita masih sering melanggar aturan-aturan tersebut. Kedisiplinan dan tanggungjawab kita
kadangkala hanya muncul ketika diawasi dan diancam dengan hukuman saja bukan melekat
sebagai bagian karakter kita.
Pendidikan matematika sebagai bagian dari pendidikan memiliki tanggung jawab
yang sama dengan mata pelajaran lain untuk mengembangkan karakter siswa sebagai calon
generasi masadepan. Cara yang utama adalah melalui pembelajaran di kelas yang secara
konsisten menanamkan kebiasaan-kebiasaan dan perilaku yang berkarakter. Matematika
merupakan suatu ilmu yang membutuhkan pemikiran logis, rasional, kritis, jujur, efektif dan
efisien. Proses pembelajaran matematika tidak akan pernah terlepas dari pengembangan nilai-
nilai karakter siswa. Nilai karakter yang ada pada pembelajaran matematika adalah jujur,
disiplin, kreatif, komunikatif, tanggung jawab, rasa ingin tahu, mandiri dan kerja keras.
Apabila siswa mampu menerapkan nilai-nilai karakter tersebut maka matematika akan
menjadi suatu pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.

B. Matematika dan Pembelajaran Matematika


Matematika diambil dari salah satu kata dalam bahasa latin "mathemata" yang
memiliki arti "sesuatu yang dipelajari". Sedangkan matematika di dalam bahasa Belanda
dikenal dengan sebutan "wiskunde" yang memiliki arti "ilmu pasti". Jadi secara umum dapat
diartikan bahwa matematika merupakan sebuah ilmu pasti yang berkenaan dengan penalaran.
Matematika merupakan salah satu ilmu yang mendasari kehidupan manusia. Dari awal
ditemukannya, matematika terus berkembang secara dinamis seiring dengan perubahan
zaman. Perkembangannya tidak pernah berhenti karena matematika akan terus dibutuhkan
dalam berbagai sisi kehidupan manusia.
Ruseffendi E. T (1988:23) Matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak
didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil yang telah
dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut
ilmu deduktif. Rudi dan Cepi (2009: 1) mengatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu
kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan,
dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk pembelajaran.
Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang
melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar
yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar program belajar matematika
tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara
efektif dan efisien.

C. Karakter
Karakter dapat dipandang sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas dari setiap
individu untuk hidup, bergaul, dan bekerjasama di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa,
dannegara (Samani & Hariyanto, 2011). Karakter yang baik ditunjukkan dengan akhlak, budi
pekerti,dan perilaku yang terpuji dan menjadi teladan di tengah keluarga, masyarakat,
maupun bangsa. Samani & Hariyanto (2011) mengartikan karakter sebagai nilai dasar yang
membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh
lingkungan yang membedakan dengan orang lain serta diwujudkan dalam sikap dan perilaku
dalam kehidupansehari-hari. Simpulan ini menekankan bahwa karakter adalah suatu nilai-
nilai yang mendasar yang terdapat pada diri individu.

Tim Pengembang, Depdiknas (2010) menuliskan bahwa karakter merupakan perilaku


manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan,
dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat. Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut insan berkarakter
mulia. Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya,
yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis,
kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-
hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, dan
nilai-nilai lainnya. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul,
dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.

Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung
nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan
tantangan. Pengertian ini secara lengkap menggabungkan karakter sebagai nilai-nilai,
kemampuan, kapasitas moral, keyakinan, dan tindakan. Berdasarkan pembahasan sebelumnya
dapat dikatakan bahwa karakter merupakan suatu kumpulan karakteristik individu yang khas
dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak dalam hidup, bergaul, bekerjasama, maupun
memecahkan masalah di lingkungannya. Karakteristik tersebut dapat berkaitan dengan aspek
psikologis (seperti bawaan, emosi, kepribadian, budi pekerti,
sifat, tabiat, temperamen, atau watak), aspek moral (berupa nilai-nilai yang disadari dan
diyakini), dan aspek kognitif (gaya berpikir, penalaran, ataupun berbahasan).
Dengan demikian, karakter sebenarnya tidak hanya berupa nilai-nilai, tetapi juga
kemampuan, keyakinan, moralitas, pengendalian emosi dan pengarahannya, serta perwujudan
perilaku yang sebenarnya. Untuk menanamkan karakter tersebut dilakukan melalui
pendidikan. Pendidikan yang mengarahkan dan menanamkan karakter tersebut dinamakan
pendidikan karakter.

Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara


sistematis untuk menanamkan nilai-nilai perilaku peserta didik yang berhubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa,diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma
norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat (Kemendiknas, 2010).

Samani & Hariyanto (2011) merumuskan pengertian bahwa pendidikan karakter


merupakan proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia yang seut
uhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karkt
er dapat dimaknai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan
watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir, mengambil
keputusan baik-buruk, memelihara dan menjaga yang baik, serta mewujudkan kebaikan itu
dalam kehidupan sehari-hari.

D. Peran Matematika dalam Pembentukan Karakter


Bagaimanakan Peran Matematika dalam Pembentukan Karakter?
Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide,
proses, dan penalaran. Dengan bernalar anak bisa bisa membedakan ini baik atau buruk,
bermanfaat atau tidak. Bahkan dengan bernalar anak bisa mengambil tindakan dari
permasalahan yang ada. Dengan demikian tahap demi tahap perkembangan karakter anak
mulai terbentuk. Matematika merupakan bidang studi yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Matematika adalah dasar untuk memudahkan belajar bidang studi lain. Dengan kata
lain, orang yang mahir dengan matematika akan mudah mempelajari pelajaran lain.
Matematika mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, Setiap orang
memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, berhitung, menghitung isi dan berat, mengumpulkan,
mengolah, menyajikan dan menafsirkan data, menggunakan kalkulator dan komputer dan
sebagainya. Selain itu, matematika dapat membantu memahami bidang studi lain seperti
fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya.
Bagi para orang tua matematika dapat digunakan dalam berdagang dan berbelanja,
dapat berkomunikasi melalui tulisan/gambar seperti membaca grafik dan persentase, dapat
membuat catatan-catatan dengan angka, dan lain-lain. Kalau diperhatikan pada berbagai
media massa, seringkali informasi disajikan dalam bentuk persen, tabel, bahkan dalam bentuk
diagram. Dengan demikian, agar orang dapat memperoleh informasi yang benar dari apa
yang dibacanya itu, mereka harus memiliki pengetahuan mengenai persen, cara membaca
tabel, dan juga diagram. Sejalan dengan kemajuan jaman, tentunya pengetahuan semakin
berkembang. Supaya suatu negara bisa lebih maju, maka negara tersebut perlu memiliki
manusia-manusia yang pandai teknologi. Untuk keperluan ini tentunya mereka perlu belajar
matematika sekolah terlebih dahulu karena matematika memegang peranan yang sangat
penting bagi perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa bantuan matematika tidak mungkin
terjadi perkembangan teknologi seperti sekarang ini, taat asas, disiplin, keseimbangan, kreatif
dan inovatif. Matematika yang selama ini hanya dimaknai sebagai mata pelajaran biasa
disekolah, sebenarnya bisa jadi sarana membangun karakter siswa, selain itu dalam
pembelajaran metematika mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yakni konsistensi.

E. Interaktivitas : Antara Matematika dan Pembentukan Karakter


Kecerdasan interpersonal adalah salah satu kecerdasan dalam teori kecerdasan ganda
dan kecerdasan interpersonal ini mencakup kemampuan seseorang dalam memahami dan
berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cara untuk mengembangkan kecerdasan
interpersonal adalah dengan bersosialisai dengan orang lain. Dengan bersosialisasi, orang
dapat belajar mengenai banyak hal seperti kemampuan berkomunikasi, membaca karakter
orang, menyelesaikan permasalahan dan lain sebagainya. Hal yang dipelajari dalam
bersosialisai tidak terbatas dalam ranah afektif saja namun juga dalam ranah psikomotorik
bahkan ranah kognitif. Hal inilah yang menjadi perhatian kaum konstruktivis dan
Pembelajaran Matematika Realistik dimana orang akan lebih mudah belajar jika berhadapan
langsung dengan permasalahan nyata saat berinteraksi dengan orang lain.

F. Interaksi Sosial dalam Pengembangan Matematika: Pembentukan Matematikawan


yang Berkarakter
Agar interaksi social dapat berjalan dengan baik maka diperlukan beberapa nilai
karakter yang dimiliki oleh murid seperti toleransi, demokratis, tanggung jawab dan
bersahabat. Jika nilai karakter tersebut kurang kuat maka dalam menghadapi benturan atau
permasalahan yang terjadi dalam nteraksi social akan kesulitan dalam menyelesaikannya.
Namun dengan semakin sering kita menjalin inetraksi social maka nilai karakter tersebut
akan dengan sendirinya terbentuk dalam diri kita, tentu saja ini berlaku jika tempat kita
berinteraksi bersifat positif. Jadi dengan interaksi social kita dapat membantuk pribadi yang
berkarakter, ditambah lagi jika dikaitkan dengan konteks matematika yang mengandalkan
kemampuan berpikir secara luas maka akhirnya akan terbentuk manusia yang berkarakter
baik dengan pola pikir yang luas. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan kita dimana
pendidikan tidak hanya membangun pribadi yang unggul dalam intelketual saja namun juga
dalam segi moral.

G. Interaktivitas antara pendidikan matematika dengan pembangunan karakter


Pendidikan matematika realistik menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses
pembelajaran, hal itu dikarenakan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi
dan itu adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar. Dalam proses pembelajaran selalu
diterapkan sebuah aturan (norma) dimana aturan tersebut bertujuan untuk menekan
pemahaman siswa tentang materi. Dan dalam setiap proses pembelajaran yang baik
diperlukan suatu metode, strategi pembelajaran yang tepat agar terjadi interaksi yang baik
antara siswa dengan siswa dan guru dengan siswa.
Apabila terjadi interaksi yang baik hal itu akan membuat siswa memiliki pemahaman
sehingga siswa mempunyai pola pikir dan pola pikir tersebut merupakan salah satu proses
pembentukan karakter bagi siswa tersebut. Intinya proses pembelajaran matematika itu yang
dapat membentuk karakter siswa. Contohnya norma sosial dan sosiomatematik. Norma sosial
adalah pola umum interaksi social yang tidak terkait dengan materi. Sedangkan norma
sosiomatematik adalah berkaitan dengan pemecahan masalah , terutama masalah matematika.