Anda di halaman 1dari 24

MODUL KEPERAWATAN DASAR

1. PENGERTIAN CARING
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu

kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan

waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain

dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak

keperawatan (Potter & Perry, 2005). Selain itu, caring

mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan dan perbuatan

seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam philosofi dan

etis perspektif.
Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena

caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana

perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada

klien (Sartika & Nanda, 2011). Dalam keperawatan, caring

merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik

keperawatan.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli

keperawatan: Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of

Human Caring, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan

dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan

untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia,

dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk

sembuh.
Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring

merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik

keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-

mata perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan

memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai tindakan

yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi

sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et

al., 1999).
Griffin (1983) membagi konsep caring ke dalam dua domain

utama. Salah satu konsep caring ini berkenaan dengan sikap dan emosi

perawat, sementara konsep caring yang lain terfokus pada aktivitas

yang dilakukan perawat saat melaksanakan fungsi keperawatannya.

Griffin menggambarkan caring dalam keperawatan sebagai sebuah

proses interpersonal esensial yang mengharuskan perawat melakukan

aktivitas peran yang spesifik dalam sebuah cara dengan

menyampaikan ekspresi emosi-emosi tertentu kepada resepien.

Aktivitas tersebut menurut Griffin meliputi membantu, menolong, dan

melayani orang yang mempunyai kebutuhan khusus. Proses ini

dipengaruhi oleh hubungan antara perawat dengan pasien.


Hall (1969) mengemukakan perpaduan tiga aspek dalam

teorinya. Sebagai seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure

harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan

keperawatan yang optimal untuk klien. Care merupakan komponen

penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar

dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan

kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Sedangkan

cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam

memberikan asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka

ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia, 1995).

2. TEORI KEPERAWATAN TETANG ARING

Konsep Caring menurut Beberapa Ahli Keperawatan

Teori Caring Menurut Watson

Caring merupakan sentral praktik keperawatan, tetapi hal ini

lebih penting dalam kekacauan lingkungan pelayanan kesehatan

saat ini. Kebutuhan, tekanan, batas waktu dalam waktu pelayanan

kesehatan saat ini. Kebutuhan, tekanan, batas waktu dalam

lingkungan pelayanan kesehatan berada dalam ruang kecil praktik

14
caring yang membuat perawat dan profesi kesehatan klien

(Watson, 2006 dalam Potter dan Perry, 2006). Watson menjelaskan

bahwa konsep dia didefinisikan untuk membawa arti baru untuk

paradigma keperawatan adalah berasal dari pengalaman empiris

klinis dilantik dikombinasikan dengan latar belakang filsafat saya,

intelektual dan experiental : dengan demikian pekerjaan awal saya

muncul dari nila sendiri-sendiri, keyakinan, dan persepsi tentang

kepribadian, kehidupan, kesehatan, dan persepsi tentang

kepribadian, kehidupan, kesehatan, dan penyembuhan ( Watson,

1997 dalam Tomey & Alligood, 2006).

Dalam pandangan keperawatan Jean Watson, manusia

diyakini sebagai person as a whole, as a fully functional integrated

self. Jean Watson mendefinisikan sehat sebagai kondisi yang utuh

dan selaras antara badan, pikiran, dan jiwa, ini berkaitan dengan

tingkat kesesuaian antara diri yang dipersepsikan dan diri yang

diwujudkan. Dari beberapa konsep sehat sakit di atas dapat

dikemukakan beberapa hal prinsip, antara lain:

1. Sehat menggambarkan suatu keutuhan kondisi seseorang yang

sifatnya multidimensional, yang dapat berfluktuasi tergantung dari

interrelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi.

2. Kondisi sehat dapat dicapai, karena adanya kemampuan

seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan baik internal

maupun eksternal.
3. Sehat tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang terhenti

pada titik tertentu, tetapi berubah-ubah tergantung pada

kapasitasnya untuk berfungsi pada lingkungan yang dinamis. 15


Fokus keperawatan ditujukan pada promosi kesehatan dan

penyembuhan penyakit dan dibangun dari sepuluh faktor karatif,

yang meliputi :

a. Pembentukan sistem humanistic dan altruistic

Nilai-niai humanistic dan altruistic dipelajari sejak awal kehidupan

tetapi dapat dipengaruhi dengan sangat oleh para pendidik

perawat. Faktor ini dapat didefinisikan sebagai kepuasan melalui

pemberian dan perpanjangan dari kesadaran diri.

b. Penanaman (melalui pendidikan) Faith-Hope

Merupakan hal yang sangat penting dalam caratif dan curatif.

Perawat perlu selalu memiliki berpikir positif sehingga dapat

menularkan kepada klien yang akan membantu meningkatkan

kesembuhan dan kesejahteraan klien.

c. Pengembangan sensisitifitas atau kepekaan diri kepada orang lain

Karena pikiran dan emosi seseorang adalah jendela jiwa.

d. Pengembangan hubungan yang bersifat membantu dan saling

percaya

Sebuah hubungan saling percaya digambarkan sebagai hubungan

yang memfasilitasi untuk penerimaan perasaan positif dan negatif

yang termasuk dalam hal ini, kejujuran, empati, kehangatan dan

komunikasi efektif

e. Meningkatkan dan saling menerima pengungkapan ekspresi

perasaan baik ekpresi perasaan positif maupun negatif

f. Menggunakan metode ilmiah dan menyelesaikan masalah dan

pengambilan keputusan
g. Meningkatkan dan memfasilitasi proses belajar mengajar yang

bersifat interpersonal
h. Menciptakan lingkungan yang mendukung, melindungi dan

meningkatkan atau memperbaiki keadaan mental, sosial, kultural

dan lingkungan spiritual

i. Membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan antusias

(kebutuhan-kebutuhan survival, fungsional, integratif dan grup)

j. Mengembangkan kekuatan faktor excistensial phenomenologic

Dalam praktik keperawatan caring ditujukan untuk perawatan

kesehatan yang holistik dalam meningkatkan kontrol, pengetahuan

dan promosi kesehatan (Tomey & Alligood, 2006).

Asumsi dasar teori watson terletak pada 7 asumsi dasar yang

menjadi kerangka kerja dalam pengembangan teori, yaitu:

a. Caring dapat dilakukan dan dipraktikan secara interpersonal.

b. Caring meliputi faktor-faktor karatif yang dihasilkan dari kepuasan

terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

c. Caring yang efektif akan menigkatkan status kesehatan dan

perkembangan individu dan keluarga.

d. Respon caring adalah menerima seseorang tidak hanya sebagai

seseorang berdasarkan saat ini tetapi seperti apa dia mungkin akan

menjadi dimasa depannya.

e. Caring environment, menyediakan perkembangan potensi dan

memberikan keluasan memilih kegiatan yang terbaik bagi diri

seseorang dalam waktu yang telah ditentukan.


f. Caring bersifat healthogenic daripada sekedar curing. Praktek

caring mengitegrasikan pengetahuan biopisikal dan perilaku

manusia untuk

meningkatkan kesehatan. Dan untuk membantu pasien yang

sakit, dimana caring melengkapi curing.

g. Caring merupakan inti dari keperawatan (Tomey & Alligood,

2006).

Nilai-nilai yang mendasari konsep caring menurut Jean Watson

(1979, dalam Tomey & Alligood, 2006) meliputi:

1. Konsep tentang manusia

Manusia merupakan suatu fungsi yang utuh dari diri yang

terintegrasi (ingin dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan,

dipahami dan dibantu) Manusia pada dasarnya ingin merasa dimiliki

oleh lingkungan sekitarnya merasa dimiliki dan merasa menjadi

bagian dari kelompok atau masyarakat, dan merasa dicintai dan

merasa mencintai.

2. Konsep tentang kesehatan

Kesehatan merupakan kuutuhan dan keharmonisan pikiran fungsi

fisik dan fungsi sosial. Menekankan pada fungsi pemeliharaan dan

adaptasi untuk meningkatkan fungsi dalam pemenuhan kebutuhan

sehari-hari. Kesehatan merupakan keadaan terbebas dari keadaan

penyakit, dan Jean Watson menekankan pada usaha-usaha yang

dilakukan untuk mencapai hal tersebut.

3. Konsep tentang lingkungan


Berdasarkan teori Jean Watson, caring dan nursing merupakan

konstanta dalam setiap keadaan di masyarakat. Perilaku caring

tidak diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi

hal tersebut diwariskan dengan pengaruh budaya sebagai strategi

untuk melakukan mekanisme koping terhadap lingkungan tertentu.

4. Konsep tentang keperawatan

Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan

penyakit dan caring ditujukan untuk klien baik dalam keadaan sakit

maupun sehat.

Dimensi Caring Menurut K.M.Swanson

Menurut Swanson (1991 dalam Monica, 2008) ada lima asumsi yang

mendasari konsep caring. 5 konsep tersebut adalah :

a. Maintaining belief

Maintaining belief adalah mempertahankan iman dalam kapasitas

orang lain, untuk mendapatkan melalui suatu peristiwa atau transisi

dan menghadapi masa depan dengan bermakna. Tujuannya adalah

untuk memungkinkan yang lain sehingga dalam batas-batas

kehidupannya, ia mampu menemukan makna dan mempertahankan

sikap yang penuh harapan.

b. Knowing

Knowing adalah berjuang untuk memahami peristiwa seperti yang

memiliki makna dalam kehidupan yang lain. Mengetahui melibatkan

untuk menghindari asumsi tentang makna dari suatu peristiwa

dengan yang merawat, yang berpusat pada kebutuhan lain,


melakukan kajian mendalam, mencari petunjuk verbal dan

nonverbal, dan mengikutsertakan dari keduanya.

c. Being with

Being with adalah secara emosional hadir untuk yang lain dengan

menyampaikan ketersediaan berkelanjutan, perasaan berbagi, dan

pemantauan yang peduli memberikan tidak membebani orang

dirawat.19
d. Doing for

Doing for adalah melakukan untuk yang lain apa yang dia akan

lakukan untuk diri sendiri jika hal itu mungkin. Melakukan untuk

yang lain berarti memberikan perawatan yang nyaman, protektif,

dan antisipatif, serta menjalankan tugasnya terampil dan kompeten

sambil menjaga martabat orang tersebut.

e. Enabling

Enabling adalah memfasilitasi bagian yang lain melalui transisi

kehidupan dan peristiwa asing dengan memberi informasi,

menjelaskan, mendukung, dengan fokus pada masalah yang

relevan, berfikir melalui masalah, dan menghasilkan alternatif,

sehingga meningkatkan penyembuhan pribadi klien, pertumbuhan,

dan perawatan diri.

3. APLIKASI CARING DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DALAM PRAKTIK

KEPERAWATAN

Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI)

yang didesain oleh Watson dan Lea (1997 dalam Muchlisin & Ichsan,

2008) merupakan instrumen yang dikembangkan untuk meneliti

perilaku perawat (perilaku caring). Daftar dimensi caring tersebut

antara lain:

CDI 1. Membantu klien dalam ADL.

CDI 2. Membuat catatan keperawatan mengenai klien.

CDI 3. Merasa bersalah /menyesal kepada klien

CDI 4. Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu

CDI 5. Menjelaskan prosedur klinik


CDI 6. Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien23
CDI 7. Duduk dengan klien

CDI 8. Mengidentifikasi gaya hidup klien

CDI 9. Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior

CDI 10. Bersama klien selama prosedur klinik

CDI 11. Bersikap manis dengan klien

CDI 12. Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien

CDI 13. Mendengarkan klien

CDI 14. Konsultasi dengan dokter mengenai klien

CDI 15. Menganjurkan klien mengenai aspek self care

CDI 16. Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien

CDI 17. Memberikan informasi mengenai klien

CDI 18. Mengukur tanda vital klien

CDI 19. Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi

CDI 20. Bersikap kompeten dalam prosedur klinik

CDI 21. Melibatkan klien dalam perawatan

CDI 22. Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik

CDI 23. Memberikan privacy kepada klien

CDI 24. Bersikap gembira dengan klien

CDI 25. Mengobservasi efek medikasi kepada klien

Hasil penelitian Amanda et al (1998 dalam Muchlisin & Ichsan, 2008)

menjelaskan bahwa semua item pada CDI mempunyai korelasi positif

dengan item lainnya kecuali CDI no. 3 dan 16.24


Perilaku Caring dalam Praktik Keperawatan

Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan

untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada,

perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi.

Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan karena caring

merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja

untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien. Dalam

keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam

praktik keperawatan (Sartika, 2010).

Tindakan caring bertujuan untuk memberikan asuhan fisik dan

memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan

klien. Kemudian caring juga menekankan harga diri individu, artinya

dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu

menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien

sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang tepat.

Tiga aspek penting yang mendasari keharusan perawat untuk care

terhadap orang lain. Aspek ini adalah aspek kontrak, aspek etika, dan

aspek spiritual dalam caring terhadap orang lain yang sakit.

1. Aspek kontrak

Telah diketahui bahwa, sebagai profesional, kita berada di bawah

kewajiban kontrak untuk care. Radsma (1994) mengatakan, perawat

memiliki tugas profesional untuk memberikan care. Untuk itu, kita

sebagai perawat yang profesional diharuskan untuk bersikap care sebagai

kontrak kerja kita. 25


2. Aspek etika

Pertanyaan etika adalah pertanyaan tentang apa yang benar atau

salah, bagaimana membuat keputusan yang tepat, bagaimana bertindak

dalam situasi tertentu. Jenis pertanyaan ini akan memengaruhi cara

perawat memberikan asuhan. Seorang perawat harus care karena hal itu

merupakan suatu tindakan yang benar dan sesuatu yang penting. Dengan

care perawat dapat memberikan kebahagiaan bagi orang lain.

3. Aspek spiritual

Di semua agama besar di dunia, ide untuk saling caring satu sama

lain adalah ide utama. Oleh karena itu, berarti bahwa perawat yang

religious adalah orang yang care, bukan karena dia seorang perawat

tetapi lebih karena dia adalah anggota suatu agama atau kepercayaan,

perawat harus care terhadap klien.

Caring dalam praktik keperawatan dapat dilakukan dengan

mengembangkan hubungan saling percaya antara perawat dan klien.

Pengembangan hubungan saling percaya menerapkan bentuk komunikasi

untuk menjalin hubungan dalam keperawatan. Perawat bertindak dengan

cara yang terbuka dan jujur. Empati berarti perawat memahami apa yang

dirasakan klien. Ramah berarti penerimaan positif terhadap orang lain

yang sering diekspresikan melalui bahasa tubuh, ucapan tekanan suara,

sikap terbuka, ekspresi wajah, dan lain-lain (Kozier & Erb, 1985 dalam

Nurachmah, 2001).

Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan

biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. Pemenuhan


kebutuhan yang paling mendasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat

yang selanjutnya. 26
Perawat juga harus memberikan informasi kepada klien. Perawat

bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kesehatan klien.

Caring mempuyai manfaat yang begitu besar dalam keperawatan dan

seharusnya tercermin dalam setiap interaksi perawat dengan klien, bukan

dianggap sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan dengan alasan beban

kerja yang tinggi, atau pengaturan manajemen asuhan keperawatan

ruangan yang kurang baik. Pelaksanaan caring akan meningkatkan mutu

asuhan keperawatan, memperbaiki image perawat di masyarakat dan

membuat profesi keperawatan memiliki tempat khusus di mata para

pengguna jasa pelayanan kesehatan.

4. PERBEDAAN CARING DAN CURING

Perbedaan Caring dan Curing

Perawat memerlukan kemampuan khusus saat melayani orang atau

pasien yang sedang menderita sakit. Kemampuan khusus tersebut

mencakup keterampilan intelektual, teknikal, dan interpersonal yang

tercermin dalam perilaku caring (Johnson, 1989). Caring merupakan

fenomena universal yang berhubungan dengan bagaimana seseorang

berpikir, berperasaan, dan bersikap terhadap orang lain. Dalam teori

caring, human care merupakan hal yang mendasar. Human care terdiri

dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau

mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain, mencari

arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang

lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri (Pasquali

dan Arnold, 1989 dan Watson, 1979). Di samping itu, Watson dalam
Theory of Human Care mempertegas bahwa caring sebagai jenis

hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima

asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia,

dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.

Dari sini kita tahu, caring bukan semata-mata perilaku. Sikap caring

dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan keahlian,

kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu

berada di samping klien, dan bersikap sebagai media pemberi asuhan

(Carruth et al., 1999). Caring dalam asuhan keperawatan merupakan

bagian dari bentuk kinerja perawat dalam merawat pasien. Perilaku caring

perawat menjadi jaminan apakah perawat bermutu atau tidak. Caring

sebagai inti profesi keperawatan dan fokus sentral 11


dalam praktik keperawatan, bersifat universal dan terdiri dari

perilaku-perilaku khusus yang ditentukan oleh dan terjadi dalam konteks

budaya. Di dalamnya memiliki makna yang bersifat aktifitas, sikap

(emosional) dan kehati-hatian (Barnum, 1994).

Beberapa tokoh keperawatan seperti Watson (1979), Leininger

(1984), Benner (1989) menempatkan caring sebagai dasar dalam praktek

keperawatan. Diperkirakan bahwa sekitar pelayanan kesehatan

merupakan caring sedangkan -nya merupakan curing. Sebagai seorang

perawat, kemampuan care dan cure harus dipadukan secara seimbang

sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien.

Curing sendiri memiliki pengertian yaitu upaya kesehatan dari kegiatan

dokter dalam prakteknya untuk mengobati pasien. Selain itu juga dapat

dipahami bahwa curing merupakan ilmu yang empirik, mengobati

berdasarkan bukti/data dan mengobati dengan patofisiologi yang bisa

dipertanggungjawabkan.

Hall (1969) mengemukakan perpaduan kedua aspek tersebut.

Menurutnya, care merupakan komponen penting yang berasal dari naluri

seorang ibu. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan

terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total kepada

klien, maka kedua aspek ini harus dipadukan (Julia, 1995). Namun, tetap

ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Dalam UU no. 23 tahun

1992 menyebutkan bahwa penyembuh penyakit dilaksanakan oleh tenaga

dokter dan perawat melalui kegiatan pengobatan dan/ atau keperawatan

berdasarkan ilmu keperawatan. Dari situ terlihat bahwa antara caring dan

curing terdapat perbedaan. Caring merupakan 12


tugas primer perawat dan curing adalah tugas sekundernya. Begitu

pula curing, curing merupakan tugas primer dokter dan caring sebagai

tugas sekundernya. Curing merupakan komponen dalam caring. Karena di

dalam caring termasuk salah satunya adanya kolaborasi dengan tim

kesehatan lain untuk membantu penyembuhan klien. Jadi, tetap

mempunyai hubungan yang saling melengkapi.

Perbedaan antara caring dan curing dapat lebih jelas jika dilihat dari

diagnosis, intervensi, dan tujuannya. Di dalam caring terdapat diagnosis

keperawatan yang merupakan suatu kegiatan mengidentifikasi masalah

dan penyebab berdasarkan kebutuhan dan respon klien. Sedangkan di

dalam curing terdapat diagnosis medis yaitu suatu bentuk kinerja yang

mengungkapkan penyakit yang diderita klien. Dengan kata lain dapat

disebut diagnosa penyakit. Dalam caring lebih dititik-beratkan pada

kebutuhan dan respon klien untuk ditanggapi dengan pemberian

perawatan. Berbeda dengan curing lebih memperhatikan penyakit yang

diderita serta penanggulangannya.

Selain itu, dapat juga dilihat dari intervensinya. Intervensi

keperawatan (caring) yaitu membantu klien memenuhi masalah klien baik

fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dengan tindakan keperawatan yang

meliputi intervensi keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan

konseling. Sedangkan intervensi kedokteran (curing) lebih ke melakukan

tindakan pengobatan dengan obat (drug) dan tindakan operatif. Dari sini

dapat dipahami bahwa caring memperhatikan klien dari aspek fisik,

psikologi, sosial, serta spiritualnya sedangkan curing menekankan pada

aspek kesehatan dan fisik kliennya. 13


Satu hal lagi yang dapat dipahami dari perbedaan caring dan curing

yaitu dari aspek tujuan. Tujuan dari perilaku caring, yaitu:

1. Membantu pelaksanaan rencana pengobatan atau terapi.

2. Membantu pasien/ klien beradaptasi dengan masalah kesehatan,

mandiri memenuhi kebutuhan dasarnya, mencegah penyakit,

meningkatkan kesehatan, dan meningkatkan fungsi dari tubuh pasien.

Sedangkan tujuan dari kegiatan curing adalah menentukan dan

menyingkirkan penyebab penyakit atau mengubah problem penyakit dan

penanganannya.

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa

caring lebih kompleks daripada curing. Karena caring memberikan

pelayanan yang menyangkut seluruh kebutuhan pasien baik fisik,

psikologi, sosial maupun spiritual. Curing hanya bagian dari caring.

Sebagai seorang perawat, kita harus mampu membedakannya dan

melakukan caring dengan sebaik-baiknya. Kesejahteraan klien didapat

dari totalitas kita dalam melakukan caring. Caring tidak akan pernah lepas

dari profesi keperawatan. Karena caring merupakan esensi keperawatan

itu sendiri.