Anda di halaman 1dari 20

Universitas Kristen Krida Wacana

Laporan Kunjungan Rumah Pasien Benign Prostate Hyperplasia


di Puskesmas Rengasdengklok, Kabupaten Karawang

Oleh:
Che Wan Nur Hajar binti Saimi
11 2013 - 167

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, November 2015
Puskesmas : Rengasdengklok

Data Riwayat Keluarga


I. Identitas Pasien
Nama lengkap : Tn. D
Usia : 84 tahun
Jenis kelamin : Laki- laki
Alamat : Aman Sari, Rengasdengklok
Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : SMP

II. Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan kesehatan sekarang : cukup baik
b. Kebersihan perorangan : cukup baik
c. Penyakit yang sering diderita : Tidak ada
d. Penyakit keturunan : Tidak ada
e. Penyakit kronis/menular : Tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Pola makan : cukup baik
h. Pola istirahat : cukup baik
i. Jumlah anggota keluarga : 4 orang

III. Psikologis Keluarga


a. Kebiasaan buruk : tidak menjaga kebersihan
b. Pengambilan keputusan : kepala rumah tangga
c. Ketergantungan obat : tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: puskesmas
e. Pola rekreasi : kurang

IV. Keadaan Rumah/Lingkungan


a. Jenis bangunan : permanen
b. Lantai rumah : keramik
c. Luas rumah : 6 meter x 10 meter
d. Penerangan : kurang
e. Kebersihan : kurang
f. Ventilasi : kurang
g. Dapur : ada
h. Jamban keluarga : ada
i. Sumber air minum : air pam
j. Sumber pencemaran air : tidak ada
k. Pemanfaatan pekarangan : tidak ada
l. Sistem pembuangan air limbah : tidak ada
m. Tempat pembuangan sampah : tidak ada
n. Sanitasi lingkungan : kurang baik

V. Spiritual Keluarga
a. Ketaatan beribadah : cukup baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : cukup baik

VI. Keadaan Sosial Keluarga


a. Tingkat pendidikan : SMP
b. Hubungan antar keluarga : baik
c. Hubungaan dengan orang lain : cukup baik
d. Kegiatan organisasi sosial : cukup baik
e. Keadaan ekonomi : rendah

VII. Kultural Keluarga


a. Adat yang berpengaruh : adat Sunda
b. Lain-lain :-

VIII. Daftar Anggota Keluarga


No Nama Hubungan Umur Pekerjaan Agama KeadaanKesehatan
dengan
keluarga
1 Tn. D Suami 84 Sudah tidak Islam Baik
tahun bekerja
2 Ny. M Isteri 78 IRT Islam Baik
tahun
3 Tn. D Anak 59 Wiraswasta Islam Baik
tahun
4 Ny. S Anak 30 IRT Islam Baik
tahun

IX. Keluhan Utama : Susah buang air kecil


X. Keluhan Tambahan : Nyeri saat BAK, mengedan saat BAK
XI. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh susah buang air kecil (BAK) sejak 3 bulan. Pasien mengeluh air
kencing yang sulit untuk dikeluarkan saat BAK disertai nyeri tiap kali BAK. Pasien
juga harus mengedan tiap kali ingin mengeluarkan air kencing. Pasien juga
mengeluhkan tidak bisa menahan BAK, terasa anyang- ayangan dan sering bolak- balik
ke WC buat BAK tiap malam hari namun air kencing sangat sulit untuk dikeluarkan.
Pasien juga mengeluhkan kandung kemihnya terasa penuh dan berbenjol di perut
bagian bawah. Kencing tidak disertai dengan darah, namun air kencing hanya keluar
menetes saja. Riwayat nyeri pinggang juga disangkal pasien. Sejak 1 tahun yang lalu
pasien sudah mulai ada keluhan sulit dan nyeri saat BAK, namun tidak disertai dengan
darah.

XII. Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Tanda vital:
- Frekuensi nadi : 82 kali/menit
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Frekuensi napas : 20 kali/menit
- Suhu : 36,40C
d. Data antropometi
Berat badan : 42 kg
Tinggi badan : 161 cm
Lingkar kepala : Tidak dilakukan
Lingkar dada : Tidak dilakukan
Lingkar lengan atas : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Sistematis
a. Kepala
Bentuk dan ukuran : normocephali, tidak ada deformitas
Rambut dan kulit kepala: rambut berwarna putih, distribusi merata, kulit
kepala tidak ada kelainan.
Wajah : normal
Mata : conjunctiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Telinga : bentuk normal, liang telinga lapang, sekret -/-
Hidung : bentuk normal, sekret -/-, pernapasan cuping hidung(-)
Bibir : merah, tidak kering, sianosis (-)
Gigi-geligi : tidak ada karies gigi
Mulut : bentuk normal, tidak ada stomatitis, sianosis (-)
Lidah : bentuk normal, lidah tidak kotor
Tonsil : tonsil T1-T1 tenang,tidak hiperemis
Faring : tidak hiperemis
b. Leher : tidak ada kelainan bentuk, tiroid dan kelenjar getah bening tidak
teraba membesar.
c. Toraks
Dinding toraks : simetris, pergerakan dinding toraks simetris
Paru:
Inspeksi : gerak dinding dada simetris
Palpasi : vocal fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : suara napas vesikuler, ronkhi - /-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : terlihat pulsasi iktus kordis
Palpasi : teraba pulsasi iktus kordis di sela iga IV garis midclavicularis
sinistra
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : bunyi jantung I-II reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop
d. Abdomen
Inspeksi : tampak datar, tidak tampak pelebaran vena
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba membesar
e. Anus dan rectum : tidak dilakukan
f. Genitalia : tidak dilakukan
g. Anggota gerak : akral hangat + + oedema - -
+ + - -
h. Tulang belakang : tidak ada kelainan
i. Kulit : tidak ada kelainan
j. Rambut : berwarna putih, distribusi merata
k. Kelenjar getah bening : tidak teraba membesar
l. Pemeriksaan neurologis: Meningeal sign (-)

XIII. Diagnosa Penyakit : Benign Prostate Hyperplasia

XIV. Diagnosa Keluarga : Keluarga dalam keadaan sehat

XV. Anjuran Penatalaksaan Penyakit:


a. Promotif
Penyuluhan tentang penyakit tuberculosis
Memberikan motivasi untuk perilaku hidup bersih dan sehat, misalnya memakai
masker, tidak membuang dahak sembarangan, memperbaiki sirkulasi udara rumah
atau ventilasi tidak merokok.

b. Preventif
Pemberian suplementasi gizi
Jaga pola hidup dan kesehatan

c. Kuratif
Farmakologis:
Pengobatan dengan Paket OAT Kategori 1 dari puskemas.
2 bulan pertama dengan INH, Rifampisin dan Pirazinamid dilanjutkan dengan 4 bulan
berikutnya INH dan Rifampisin.
Lama pengobatan: Selama 6 bulan
Non-farmakologis:
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyaki ini bisa disembuhkan tetapi pengobatan
akan berlangsung lama antara 6 bulan, untuk itu pasien harus rajin mengambil obat di
puskesmas dan tidak boleh putus berobat.

d. Rehabilitatif
Dilakukan pengawasan makan obat supaya teratur dan rutin

XVI. Prognosis
a. Penyakit : dubia ad bonam
b. Keluarga : dubia ad bonam
c. Masyarakat : dubia ad bonam

XVII. Resume
Pasien Tn. D berusia 84 tahun dengan keluhan utama susah buang air kecil
( BAK). Pasien mengeluh nyeri setiap kali BAK, dan terasa anyang- ayangan sehingga
pasien sering bolak- balik ke WC untuk BAK. Dari keadaan rumah/lingkungan, sanitasi
lingkungan masih kurang baik.
Dari data tersebut diagnosa pasien adalah Benign Prostate Hyperplasia.
Tatalaksana yang dilakukan ialah .

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Hiperplasia Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia)

Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran kelenjar prostat yang bersifat
jinak yang hanya timbul pada laki-laki yang biasanya pada usia pertengahan atau lanjut.
BPH adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat mengalami hyperplasia
yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah . 4

Gambar 4. Normal Prostat dan Prostat yang membesar

B. Etiologi

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia
prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua) .
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat jinak
adalah : (1) Teori Dihidrotestosteron, (2) Adanya ketidakseimbangan antara estrogen-
testosteron, (3) Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, (4) Berkurangnya
kematian sel (apoptosis), dan (5) Teori Stem sel.5

1. Teori dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting
pada pertumbuhan sel- sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di dalam
sel prostat oleh enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT
yang telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk
kompleks DHT-RA pada inti dan sel selanjutnya terjadi sintesis protein growth
factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.
Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh
berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas
enzim 5-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH.
Hal ini menyebabkan pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga
replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal. 5
2. Ketidakseimbangan antara estrogen testosterone
Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone menurun, sedangkan kadar
estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosterone
relatif meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan
dalam terjadinya proliferasi sel- sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan
sensitifitas sel- sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen,
meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian
sel- sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah,
meskipun rangsangan terbentuknya sel- sel baru akibat rangsangan
testosterone menurun, tetapi sel sel prostat yang telah ada mempunyai umur
yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. 5
3. Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel
prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel- sel stroma melalui suatu
mediator (growth factor) tertentu. Setelah sel- sel stroma mendapatkan
stimulasi dari DHT dan estradiol, sel- sel stroma mensintesis suatu growth
factor yang selanjutnya mempengaruhi sel- sel stroma itu sendiri secara
intrakin dan autokrin, serta mempengaruhi sel- sel epitel secara parakrin.
Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel- sel epitel maupun
stroma. 5
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme
fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis
terjadi kondensasi danfragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel mengalami
apoptosis akan difagositosis oleh sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi
oleh enzim lisosom.Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju
proliferasi sel dengankematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat
sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan
yang mati dalam keadaan seimbang.Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang
mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan
menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahanmassa prostat.
Sampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti faktor-faktor
yangmenghambat proses apoptosis. Diduga hormon androgen berperan dalam
menghambat. proses kematian sel karena telah dilakukan kastrasi, terjadi
peningkatan aktifitas kematiansel kelenjar prostat. Estrogen diduga mampu
memperpanjang usia sel-sel prostat,sedangkan faktor pertumbuhan berperan
dalam proses apoptosis.
5. Teori sel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-
sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang
mempunyaikemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini
sangat tergantung padakeberadaan hormon androgen, sehingga jika hormon ini
kadarnya menurun seperti yangterjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya
apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel padaBPH dipostulasikan sebagai
ketidaktepatnya aktifitas sel stem sehingga terjadi produksiyang berlebihan sel
stroma maupun sel epitel

C. Faktor Predisposisi Hiperplasia Prostat Jinak


Pada usia 40an, seorang pria mempunyai kemungkinan terkena BPH sebesar 25%.
Menginjak usia 60-70 tahun, kemungkinannya menjadi 50%. Dan pada usia diatas 70
tahun, akan menjadi 90%.4
D. Gambaran klinis

5
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS)

Obstruksi Iritasi

Hesitansi Frekuensi

Pancaran miksi lemah Nokturi

Intermitensi Urgensi

Miksi tidak puas Disuria

Menetes setelah miksi

Tabel 1. Gejala Obstruksi dan Iritasi Benigna Prostat Hiperplasia

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk


mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan
(fatigue) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam
bentuk retensi urin akut.

Timbulnya dekompensasi buli-buli ini didahului oleh faktor pencetus


antara lain :

1) Volume buli-buli tiba-tiba penuh (cuaca dingin, konsumsi obat-


obatan yang mengandung diuretikum, minum tertalu banyak)

2) Massa prostat tiba-tiba membesar (setelah melakukan aktivitas


seksual/ infeksi prostat)

3) Setelah mengkonsumsi obat-obat yang dapat menurunkan


kontraksi otot detrusor (golongan antikolinergik atau adrenergic
)

Sistem skoring I-PSS terdiri atas 7 pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan
miksi (LUTS) dan 1 pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Skor
ringan (0-7), sedang (8-19), berat ( 20)

b. Gejala pada saluran kemih bagian atas5

Merupakan penyulit dari hiperplasi prostat, berupa gejala obstruksi


antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (hidronefrosis),
demam (infeksi/ urosepsis)

E. Patofisiologi Hiperplasia Prostat Jinak


Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional, sedangkan
pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. Pertumbuhan kelenjar ini
sangat bergantung pada hormon testosteron, yang di dalam sel- sel kelenjar prostat
hormon akan dirubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan
bantuan enzim 5 reduktase. Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu
m-RNA di dalam sel- sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor
yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat. 5
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan
menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan
intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli- buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan
anatomik buli- buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula,
sakula, dan divertikel buli- buli. Perubahan struktur pada buli- buli tersebut, oleh
pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower
urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatimus. 5
Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli- buli tidak
terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urine dari buli- buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-
ureter. Keadaan ini
jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan
akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. 5

Hiperplasia Prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesika meningkat

Buli-buli: Ginjal dan ureter:
Hipertrofi otot detrusor Refluks VU
Trabekulasi Hidroureter
Selula Hidronefrosis
Divertikel buli-buli Gagal ginjal

Bagan1. Pengaruh Hiperplasia prostat Pada Saluran Kemih

Hidronefrosis

Hidroureter

Hipertofi otot detrusor

Benigna prostat hiperplasi

Gambar 5. Penyulit hyperplasia prostat pada saluran kemih


F. Pemeriksaan fisik5:
a. Buli-buli yang terisi penuh dan teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat
retensi urine. Kadang-kadang didapatkan urine yang selalu menetes yang merupakan
pertanda dari inkontinensia paradoksa.
b. Pada colok dubur yang harus diperhatikan
1. tonus sfingter ani/reflex bulbo-kavernosus untuk menyingkirkan buli-
bulineurogenik
2. mukosa rectum
3. keadaan prostat antara lain :
Kemungkinan adanya nodul, krepitasi, konsistensi prostat, simetris antar lobus dan
batas prostat. Pada colok dubur pembesaran prostat benigna menunjukan konsistensi
prostat kenyal, seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak
didapatkan nodul. Volume yang normal pada dewasa adalah 20-30 g. Pengukuran
lebih tepat dapat menggunakan transrektal ultrasonografi (TRUS). Raba apakah
terdapat fluktuansi (abses prostat)/ nyeri tekan (prostatitis). Konsistensi prostat
keras/teraba nodul dan mungkin diantara lobus prostat tidak simetris.

Gambar 6. Pemeriksaan Rektal Digital (DRE)

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Sedimen urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada
saluran kemih. Mengevaluasi adanya eritrosit, leukosit, bakteri, protein atau
glukosa.
b. Kultur urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan
sensifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan

c. Faal ginjal
Mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian
atas. Elektrolit, BUN, dan kreatinin berguna untuk insufisiensi ginjal kronis
pada pasien yang memiliki postvoid residu (PVR) yang tinggi.
d. Gula darah
Mencari kemungkinan adanya penyekit diabetes mellitus yang dapat
menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik)
e. Penanda tumor PSA (prostat spesifik antigen)
Jika curiga adanya keganasan prostat
2. Pemeriksaan Patologi Anatomi
BPH dicirikan oleh berbagai kombinasi dari hiperplasia epitel dan stroma di
prostat. Beberapa kasus menunjukkan proliferasi halus-otot hampir murni,
meskipun kebanyakan menunjukkan pola fibroadenomyomatous hyperplasia
3. Pencitraan pada Benigna Prostat Hiperplasia:
a. Foto polos5
Berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya
batu/kalkulosa prostat dan kadangkala menunjukan bayangan buli-buli yang
penuh terisi urine, yang merupakan tanda suatu retensi urine
b. Pemeriksaan ultrasonografi transrektal (TRUS)5
Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe dimasukkan ke
dalam rektum mengarahkan gelombang suara di prostat. Gema pola
gelombang suara merupakan gambar dari kelenjar prostat pada layar tampilan.
Untuk menentukan apakah suatu daerah yang abnormal tampak memang
tumor, digunakan probe dan gambar USG untuk memandu jarum biopsi untuk
tumor yang dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong jaringan prostat
untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama dilakukan untuk
pasien yang dicurigai memiliki keganasan prostat.
c. Transrektal ultrasonografi (TRUS) sekarang juga digunakan untuk pengukur
volume prostat, caranya antara lain :
Metode step planimetry. Yang menghitung volume rata-rata area
horizontal diukur dari dasar sampai puncak
Metode diameter. Yang menggabungkan pengukuran tinggi (H/height) ,lebar
(W/width) dan panjang (L/length) dengan rumus : (H x W x L).
d. Sistoskopi 1
Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil melalui pembukaan urethra di
dalam penis. Prosedur ini dilakukan setelah solusi numbs bagian dalam penis
sehingga sensasi semua hilang. Tabung, disebut sebuah cystoscope , berisi lensa
dan sistem cahaya yang membantu dokter melihat bagian dalam uretra dan kandung
kemih. Tes ini memungkinkan dokter untuk menentukan ukuran kelenjar dan
mengidentifikasi lokasi dan derajat obstruksi.
Gambar 8. Gambaran Sistoskopi Benigna Prostat Hiperplasia

e. Ultrasonografi trans abdominal 1

Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan pembesaran


bagian dalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding zona perifer. Zona
transisi hipoekoik cenderung menekan zona central dan perifer. Batas yang
memisahkan hyperplasia dengan zona perifer adalah surgical capsule.

f. USG transabdominal mampu pula mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun


kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.

Gambar 9. Gambaran Sonografi Prostat Normal


Gambar 10. Gambaran Sonografi Benigna Prostat Hiperplasia

g. Sistografi buli1

Gambar 11.Gambaran Elevasi Dasar Buli yang Mengindikasikan


Benigna Prostat Hiperplasia

4. Pemeriksaan lain5 :
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara
mengukur:
Residual urin :Jumlah sisa urin setelah miksi, dengan cara melakukan
kateterisasi/USG setelah miksi
Pancaran urin/flow rate : Dengan menghitung jumlah urine dibagi
dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan alat
uroflometri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin. Aliran
yang berkurang sering pada BPH. Pada aliran urin yang lemah, aliran
urinnya kurang dari 15mL/s dan terdapat peningkatan residu urin.
Post-void residual mengukur jumlah air seni yang tertinggal di dalam
kandung kemih setelah buang air kecil. PRV kurang dari 50 mL umum
menunjukkan pengosongan kandung kemih yang memadai dan
pengukuran 100 sampai 200 ml atau lebih sering menunjukkan
sumbatan. Pasien diminta untuk buang air kecil segera sebelum tes dan
sisa urin ditentukan oleh USG atau kateterisasi.
Gambar 12. Gambaran Pancaran Urin Normal dan pada BPH

Keterangan :

Gambaran aliran urin atas : dewasa muda yang asimtomatik, aliran urin lebih dari
15mL/s, urin residu 9 mL pada ultrasonografi.
Gambaran aliran urin bawah : dewasa tua dengan benigna hyperplasia prostat, terlihat
waktu berkemih memanjang dengan aliran urin kurang dari 10mL/s, pasien ini urin
residunya 100 mL.

H. Penanganan
a. Promotif
1. Penyuluhan TBC
2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara
penularan, cara pencegahan, faktor resiko
3. Mensosialisasikan BCG di masyarakat.
b. Preventif
1. Vaksinasi BCG
2. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.
3. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat
diketahuinsecara dini.
c. Kuratif

PEMBAHASAN

Menurut Teori Blum bahwa kesehatan manusia dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu
lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku dan keturunan. Dimana unsur-unsur tersebut
saling berinteraksi dan saling terkait satu sama lain. Juga mengacu pada kemampuan
mengetahui, mengamati, menyadari, dan menanggapi keadaan sehatnya sendiri.
Dari hasil kunjungan rumah didapatkan bahwa pasien mempunyai penyakit Tuberculosis
Paru. Pasien berpola hidup kurang sehat sehingga memacu perburukan penyakit. Pasien
mengaku kesulitan berobat karena masalah ekonomi.
Dilihat dari hasil kunjungan rumah pasien, didapatkan bahwa tempat tinggal pasien, termasuk
dalam kategori kurang/ tidak sehat sebab kebersihan sangat kurang, ventilasi dalam rumah
sangat kurang, pencahayaan di dalam sangat kurang, pembuangan sampah kurang, sumber air
bersih sangat kurang. (dapat dilihat di lampiran).
Maka terbukti bahwa kesehatan manusia dipengaruhi oleh beberapa unsur-unsur yang
disebutkan di Teori Blum. Oleh karena itu sebagai dokter keluarga yang bekerja di
Puskesmas, sebaiknya dapat memberikan komunikasi, informasi dan edukasi perorangan
untuk memperbaiki pola hidup pasien.
KESIMPULAN& SARAN

1. Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada , Oktober 2015 didapatkan bahwa
pasien adalah penderita Tuberculosis Paru. Pasien kurang memiliki pengetahuan tentang
penyakitnya sehingga melakukan pola hidup yang salah. Rumah pasien tergolong rumah
yang tidak sehat dilihat dari ventilasi udaranya yang kurang, pembuangan sampah, serta
penerangan dalam rumah yang sangat kurang, dan lingkungan rumah dengan polusi udara
hasil pembakaran batu bata. Untuk mencegah jatuhnya seseorang ke dalam tingkat
kecacatan lebih lanjut maupun perburukan kualitas hidup / produktivitas, perlu
kedisiplinan terutama dalam hal kepatuhan minum obat. Edukasi dari dokter kepada
pasien sangatlah penting terutama mengenai komplikasi dan pola /gaya hidup yang sehat.

2. Saran
Bagi pasien disarankan:
Menjelaskan kepada pasien bahwa penyaki ini bisa disembuhkan tetapi pengobatan akan
berlangsung lama antara 6 bulan, untuk itu pasien harus rajin mengambil obat di puskesmas
dan tidak boleh putus berobat dan baik bila pasien menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat misalnya tidak merokok, memperbaiki ventilasi udara rumah atau memakai masker.

LAMPIRAN