Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menjenguk orang sakit merupakan tumpuan pendukung kita untuk hidup sosial.
Selain itu limpahan rahmat Allah Swt., yang sangat luas untuk kita. Namun sayangnya
banyak sekali orang yang tidak menghiraukan hal ini. Bahkan mereka mau menjenguk
jika yang sakit tersebut mengetahui kedatangannya.
Sebagain besar orang sudah mengetahui begitu utamanya menjenguk orang
sakit namun mereka tidak paham dengan adab-adab menjenguk orang sakit
sehingganya banyak orang sakit saat dijenguk merasa kurang nyaman dengan
kedatangannya.
Untuk itu penulis membuat makalah ini selain memenuhi tugas dan nilai
matakuliah juga berharap agar dapat dimengerti oleh pembaca dan audiens saat
makalah ini kami persentasikan.
B. Rumusan Masalah
Menilik uraian yang tertera diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya
rumusan masalah yang dapat diambil yaitu Apa keutamaan, adab dan Manfaat yang
dapat diambil saat menjenguk orang sakit?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui Apa keutamaan,
adab dan Manfaat yang dapat diambil saat menjenguk orang sakit

BAB II
PEMBAHASAN
MENJENGUK ORANG SAKIT
A. Keutamaan Ketika Menjenguk Orang Sakit
Atsar-atsar yang menyebutkan keutamaanya sangatlah banyak, kami akan
sebutkan di antaranya hadist yang diriwayatkan dari Tsauban r.a, Rasulullassh saw. Ia
berkata, Rasulullah saw. Bersabda :

Barangsiapa yang menjenguk orang sakit maka ia senantiasa berada di taman


kurma surga hingga ia kembali (HR. Muslim no. 2568, Ahmad no. 21886, dan at-
Tirmidzi no. 967)
Dan dari jabir bin Abdillah r.a bahwa ia berkata, Aku mendengar Nabi saw.
bersabda,Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit niscaya ia berada dalam
naungan rahmat hingga apabila ia tetap duduk di dalamnya (HR. Bukhari dalam al-
adabul Mufrad (no. 522))
Dan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya Allah swt., berfirman dihari kiamat, Wahai anak Adam, Aku sakit dan
kalian tidak menjengukku.Anak Adam berkata, Ya Rabb, bagaimana kami
menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam? Allah berfirman,
Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sakit dan engkau tidak
menjenguknya? Tidakkah engkau tahu kalau saja engkau akan mendapati-Ku berada
di sisinya?(HR. Muslim no. 2569, Ahmad no. 8989).
Selanjurnya Rasulullah Saw juga pernah bersabda :
Dan Ali r.a, Ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, Barang
siapa yang mendatangi saudaranya yang muslim untuk menjenguknya, maka ia
berjalan dikebun surga hingga ia duduk, niscaya rahmat Allah akan meliputinya. Dan
apabila ia menjenguk di waktu pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya
hingga sore. Dan apabila ia menjenguk diwaktu sore maka tujuh puluh malaikat akan
mendoakannya hingga pagi. (HR. Ahmad no.756, Abu Daud no.3098, Ibnu Majjah no.
1442)
Dalam mengunjungi orang sakit terkadang beberapa manfaat lain selain apa
yang telah disebutkan, diantaranya membersihkan hati orang yang sedang sakit,
memeriksa kebutuhan-kebutuhannya, mengambil nasihat (pelajaran) dari musibah
yang menimpanya. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi. Beri kekuatan padanya
untuk selalu sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa, arahkan ia jangan
sampai berkiprah tentang mati tapi lebih kepada pertaubatan diri dan beri motivasi
agar ia tetap optimis dalam menghadapi sakitnya, dengan lontaran doa dan berusaha
untuk sembuh.

B. Adab-Adab Menjenguk Orang Sakit


a) Kunjungan Wanita kepada Laki-laki yang Sakit
Mengunjungi laki-laki yang sakit dibolehkan bagi wanita diperbolehkan meski
ia bukan mahramnya, dengan syarat aman dan tidak terjadi fitnah adanya hijab dan
tidak memanfaatkan waktu berdua-duaan. Jika syarat-syarat tersebut dapat dijaga
maka diperbolehkan bagi wanita menjenguk laki-laki yang sakit begitupun
sebaliknya.

b) Menjenguk Orang Musyrik yang Sakit


Menjenguk orang kafir diperbolehkan kepada muslim seperti yang tertera pada
riwayat Nabi Saw., dari Anas r.a berkata : Ada seorang pemuda Yahudi yang biasa
melayani Nabi saw., kemuadian ia sakit, maka datanglah Nabi saw., untuk
menjenguknya lantas beliau duduk didekat kepalanya seraya bersabda :Islamlah. Ia
melihat ayahnya yang berada disitu juga, kemudian ayahnya berkata :
Patuhilah/ikutilah Abdul Qasim. Maka iapun masuk Islam. Kemudian Nabi saw.,
keluar sambil mengucapkan :Alhamdulillahil ladzi anqadzu minannaar (Segala
Puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka). (HR. Bukhari)

c) Waktu Menjenguk Orang Sakit


Tidak ada nash-nash yang menjelaskan waktu tertentu untuk menjenguk orang
yang tertentu untuk menjenguk orang yang sakit dan menziarahinya. Maka selama
perkaranya seperti ini, dibolehkan menziarahi orang sakit kapanpun, baik malam atau
siang selama tidak ada hal yang memberatkan mereka. Karena diantara hikmah dari
menjenguk adalah meringankan penderitaan orang yang sakit tersebut dan
menyenangkan hatinya, bukan memberatkannya.

d) Meringankan Orang Sakit Dan Posisi Duduk Ketika Menjenguk


Orang yang menjenguk jangan terlalu lama duduk dan diam disisi orang yang
sakit, karena ia tersibukkan oleh rasa lapar dan sakitnya. Dan penjenguk orang sakit
yang diam dalam waktu lama akan memberatkan orang sakit tersebut, bahkan
terkadang menambah sakitnya. Oleh karena itu di antara perkara yang baik ketika
menjenguk orang sakit adalah meringankannya.

e) Menangis Ketika Sakit


Abdulllah bin Umar r.a meriwayatkan, ia berkata,Saad bin Ubadah
menderita suatu penyakit, kemudian Nabi Saw menjenguknya bersama bersama
Abdurrahman bin Auf, Saad bin Ubadah beliau mendapatinya sedang dikerumuni
keluarganya. Beliau bertanya, Apakah ia telah wafat? Merekapun menjawab,Tidak
wahai Rasulullah. Maka Nabi saw., pun menangis, merekapun ikut menangis. Nabi
saw., Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak akan mengazab karena tetesan
air mata dan tidak pula dengan kesedihan hati, akan tetapi Allah akan mengazab
karena ini, beliau mengisyaratkan kepada lisannya atau Allah akan merahmati. Dan
sesungguhnya mayyit akan diazab karena tangisan (ratapan) keluarganya atas
kematiannya. (HR. AL-Bukhari(no. 5667) Muslim (no. 2571))
Hadit ini menunjukkan bolehnya menangis disisi orang sakit, terlebih lagi
disisi mayit, akan tetapi tangisan itu tidak disertai jeritan histeris, karena Nabi
Saw.,telah melarang ratapan.

f) Meletakkan Tangan diatas Tubuh Orang yang Sakit


Orang yang menjenguk disunnahkannya diatas jasad orang yang sakit dan
mendoakannya sebagai bentuk meneladani Nabi kita. Terkadang meletakkan tangan
ini memiliki pengaruh dalam meringankan rasa sakit atau (bahkan)
menghilangkannya secara keseluruhan, akan tetapi hal tersebut tidak diharuskan
karena tidak ada nash-nash khusus dalam masalah ini.

C. Doa yang diucapkan disisi Orang yang Sakit


Saat menjenguk orang sakit ucapkanlah sesuatu perkataan yang baik-baik, karena
malaikat mengaminkan setiap apa yang kita ucapkan. Seperti yang dijelaskan dalam
hadits Ummu Salamah r.a, ia berkata,Rasulullah saw. bersabda, Apabila Abu
Salamah telah meninggal.Nabi Saw bersabda Ucapkanlah :
Ya Allah, berikanlah ampunan untukku dan untuknya, dan berilah aku balasan
dari musibahku dengan balasan yang baik.
Ummu Salamah berkata, Aku berkata,Maka Allah memberiku balasan
dengan suami yang lebih baik bagiku darinya, yaitu Muhammad Saw.
Orang yang menjenguk disunnahkan mendoakan orang yang sakit dengan
rahmat, ampunan, dibersihkan dari dosa-dosa, serta mendoakan keselamatan dan
kesehatan. Nabi telah mengajarkan beberapa doa hendaklah orang yang menjenguk
berdoa dengan doa tersebu, karena doa-doa tersebut bersumber dari al-mashum
(orang yang terpelihara dari dosa dan kesalahan) yang telah diberi jawamiul kalim
(kalimat yang ringkas lagi penuh hikmah), yang tidak berucap dari hawa nafsu,
melainkan hanyalah berupa wahyu yang diturunkan kepadanya.
Diantara doa-doa beliau adalah :
a. Mengucapkan :
...
(Sakitmu ini) tidak apa-apa, mudah-mudahan dapat mensucikan
insyaAllah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a , bahwa Nabi saw masuk ke rumah seorang
Arab Badui untuk menjenguknya. Ibnu Abbas berkata, Apabila Nabi Saw.,
mendatangi rumah orang yang sakit untuk menjenguknya, beliau berkata, La basa
thahuur insya Allah, (sakitmu ini tidak apa-apa, mudah-mudahan dapat
mensucikanmu dari dosa, insya Allah. Maka Nabi Saw., berkata kepadanya, La basa
thahuur insyaAllah. (Sakitmu ini tidak apa-apa, mudah-mudahan mensucikanmu dari
dosa, insyaAllah). Arab Badui itu berkata, Engkau mengatakan dapat mensucikan ?
Sekali-kali tidak, bahkan dia adalah demam yang ditakuti atau yang bergejolak atas
orang yang tua renta, dan membuatnya diusung kekubur.Maka Nabi Saw.,
berkata,Alangkah baiknya jika demikian.
Ucapan beliau,(Sakitmu ini) tidak apa-apa, maknanya bahwa sakitnya itu
akan menggugurkan dosa dan kesalahan, maka apabila ia memperoleh kesehatan
berarti ia telah mendapat faidah. Dan jika tidak, maka ia dapat pahala pengguguran
dosa.
Dan ucapan beliau,Mudah-mudahan dapat mensucikanmu dari dosa,
berkedudukan sebagai khabar dari mubtada mahdzuf, yaitu sakit yang mensucikanmu
dari dosa-dosamu, yakni sebagai penyuci. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu hajar
Diantara faidah dari hadits ini, hendaklah orang yang sakit menerima doa
kebaikan dari orang lain untuknya. Jangan sampai ia menggerutu dengan doa mereka
untuk mensucikannya dari dosa-dosanya sebagaimana orang arab Badui yang
disebutkan dalam hadist diatas.
b. Mengucapkan
....

Ya Allah sembuhkanlah ...Fulan. Satu kali atau tiga kali.
Doa ini tercantum dalam hadits yang diriwayatkan dari Saad bin Waqqash ketika ia
sakit dan Rasulullah Saw., menjenguknya. Dalam hadits tersebut disebutkan,
Kemudian Nabi meletakkan tangannya diatas keningnya lalu mengusapkan
tangannya diatas wajah dan perutku, kemudian beliau berdoa, Ya Allah,
sembuhkanlah Saad...
Ibnu Jauzi berkata,Doa beliau, Ya Allah sembuhkanlah Saad merupakan
dalil disunnahkannya mendoakan kesehatan (kesembuhan) untuk orang yang sakit
c. Mengucapkan

Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung Penguasa Arsy yang agung
agar berkenan menyembuhkanmu. Diucapkan tujuh kali.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a dari Nabi saw., beliau bersabda,
Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang ajalnya belum tiba dan mengucapkan
di sisinya sebanyak tujuh kali,Asalullahal azhiim, Rabbal Arsyil azhim an
yasyfiyaka, niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut.
d. Mengucapkan :

Atau berjalan karena-Mu menuju jenazah (yang akan dikubur).


Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, ia berkata, Nabi Saw., bersabda Apabila
seseorang menjenguk orang sakit, hendaklah ia mengucapkan, Allahhumma isyfi
abdaka yankau laka adduwwan wa yamsyi laka ilash shalaah.

D. Hukum Menjenguk Orang Sakit


Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam. Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, Nabi menyuruh kita
tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan
jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang
teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin.
Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain
sutera, dibaj (sutera halus), qasiy (sutera kasar), dan istibraq (sutera tebal). (Bukhari
no.1239; Muslim no.2066)
Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit,
membuat Imam Bukhari membuat bab Wujubi Iyadatil-Maridh (Bab Kewajiban
Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.
Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan
kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya,
disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.
Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit
hukumnya bukan wajib, yakni fardu ain, (melainkan fardu kifayah).

F. Manfaat Menjenguk Orang Sakit


Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas,
menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
Menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya
bahwa ia diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera
sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si sakit.
Menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti
dari pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan
sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.
1) mencari tahu apa yang diperlukan si sakit.
2) mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.
3) mendoakan si sakit
4) melakukan ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syari.
5) Menjenguk tanpa Mempertimbangkan Penyakit dan Usianya
Anjuran menjenguk orang sakit sangatlah diutamakan. Hingga dalam keadaan
tertentu menjadi wajib tanpa melihat seberapa sakit yang dirasakan, apakah tergolong
parah atau ringan. Hal ini sudah mulai pudar di antara kita, bahkan seringkali
sebagian dari kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang
sakit; jika sudah masuk rumah sakit. Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit
yang menjenguknya. Terlebih jika sakit itu tergolong penyakit yang ringan. Padahal,
Nabi saw., menjenguk salah seorang sahabatnya yang hanya sakit mata. Sakit mata
biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, mengenai menjenguk orang yang sakit mata,
bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam,
dia menceritakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena
saya sakit mata.

G. Hikmah menjenguk Orang Sakit


Hikmah dalam hal menjenguk kerabat yang sedang sakit salah satunya ialah
menggapai doa 70.000 malaikat, Rasulullah bersabda, Tidaklah seorang muslim
menjenguk muslim yang lainnya pada pagi hari, kecuali 70.000 malaikat akan
bershalawat untuknya hingga sore hari. Jika dia menjenguknya di sore hari, maka
70.000 malaikat akan bershalawat untuknya hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan
kebun yang penuh berisi buah-buahan di surga kelak. (HR. At-Tirmizi)
Adapun maksud shalawat disini ialah didoakan oleh para malaikat.
"Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu
tubuh. Apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan
merasakan panas dan demam." (HR. Muslim)
ketika kita dalam sakit sebenarnya menjadi salah satu jalan untuk semakin
merenenungi kekuasaan Allah SWT. Menambah keimanan dan ketawakalan kepada-
Nya.
Apabila sakit tersebut diterima dengan sabar dan tawakal akan menjadi salah
satu penyebab diampuni dosa-dosa. Sebagaimana dalam salah satu hadits diceritakan
bahwa pada suatu waktu Rasulullah SAW. menjenguk Salman Al-Farisi RA. yang
tengah berbaring sakit di rumahnya. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda,
"Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu di kala sakit.
Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah SWT., doamu dikabulkan-Nya, dan
penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosa-mu."
Rasulullah saw. bersabda, Siapa saja menjenguk orang sakit atau
mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, Engkau adalah orang
yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapatkan suatu
posisi di surga (HR.Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a)

H. Hal - hal yang perlu dilakukan menghadapi orang yang akan meninggal
( sakaratul maut )

Kematian adalah suatu hal yang pasti akan di alami oleh setiap mahluk yang
bernyawa termasuk manusaia.Tak akan ada manusia yang dapat menghindar dari yang
namanya kematian. mau berlari sejauh apapun ataupun bersembunyi di manapun..
atau bahkan berlindung di balik benteng yang sangat kuat sekalipun... kematian akan
tetap datang menghampiri kita.

apakah kematian itu..? kematian adalah keluarnya Ruh dari jasad atau badan.Menurut
riwayat proses keluarnya ruh dari jasad rasanya sangat sakit sekali
seperi di tusuk 100 pedang. ada juga riwayat yang mengatakan rasanya seperti Domba
yang di kuliti hidup - hidup.
begitu sakit dan menderitanya orang yang sedang mengalami sakaratul maut... .oleh
karena itu sebagai muslim kita di ajarkan beberapa hal yang di lakukan dalam
menghadapi kerabat,saudara,bapak atau ibu kita atau siapa saja yang sakaratul maut,
di antaranya :

1.Membisik kan atau menalkin dengan kalimat tauhid ( la ilaha illallah )


kenapa kita perlu membisikkan atau menuntun orang yang mengalami sakaratul maut
dengan kalimat tauhid? supaya yang bersangkutan dapat meniru mengucapkan dan
menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat terahirnya.
dan mendapat kematian yang khusnul khotimah.,sesuai hadits nabi " Man akhiruhu
Lailaha illallah Dakholal jannah "yang artinya " barang siapa yang kalimat terahir
yang dia ucapkan la ilaha illah maka masuk surga"

seperti kita ketahui kematian itu ada 2 macam :

> Khusnul khotimah :


yaitu kematian yang bagus atau baik,yang di ridha i oleh Allah SWT dan insya Allah
akan di masukkan surganya Allah Subhanahu wataala.
Lalu apakah Tanda - tanda dari kematian khusnul khatimah itu..? yaitu kematian
yang datang saat seseorang melakukan kebaikan contoh : sedang sholat, sedang
mengaji, sedang berjuang di jalan Allah dll

> suul khatimah :


yaitu kematian yang buruk, yaitu kematian yang datang saat seseorang melakukan
keburukan, kejahatan atau dosa, contoh: sedang minum minuman keras, zina,
merampok dll

2.Membacakan Surat YASIN.


kenapa perlu di bacakan surah yasin..? saudaraku .. di atas sudah saya jelaskan betapa
sakit dan menderitanya orang yang sedang menghadapi kematian.ada yang proses nya
lama sekali seperti Ruh itu di tarik di masukkan lagi ( di tarik ulur)sampai berhari
-hari sampai2 kita yang melihatnya tidak tega ,dan ada yang prosesnya cepat.
fungsi Surat yasin adalah supaya di berikan kemudahan dan meringankan Rasa sakit
yang di alami oleh orang yang sedang sakaratul maut.sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW " irhamu mautakum bi tilawatil Qur'an " yang artinya" Kasihanilah
Orang yang sedang sakaratul maut dengan bacaan Al qur'an ".
3.Menutup matanya jika sudah meninggal dalam ke adaan mata terbuka.
Saudaraku.. Marilah kita senantiasa berdoa semoga kita di mudahkan dalam proses
sakaratul maut.. di hindarkan dari fitnah dunia,, dan dosa yang dapat menyeret kita
jatuh ke dalam murka dan siksa Allah SWT.. seperti doa yang sering di anjurkan oleh
Rasulullah
" Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut,.. wanajata minannar.. "

I. HAL-HAL YANG DIKERJAKAN SETELAH SESEORANG MENINGGAL DUNIA


1. Disunnahkan untuk menutup kedua matanya.
Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menutup kedua mata Abu
Salamah Radhiyallahu 'anhu ketika dia meninggal dunia. Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:

Sesungguhnya ruh apabila telah dicabut, akan diikuti oleh pandangan mata, maka
janganlah kalian berkata kecuali dengan perkataan yang baik, karena malaikat akan
mengamini dari apa yang kalian ucapkan.
[HR Muslim].

2. Disunnahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, setelah dilepaskan dari


pakaiannya yang semula. Hal ini supaya tidak terbuka auratnya. Dari
Aisyah Radhiyallahu a'nha, beliau berkata:



Dahulu ketika Rasulullah meninggal dunia ditutup tubuhnya dengan burdah habirah
(pakaian selimut yang bergaris).
[Muttafaqun 'alaih].

Kecuali bagi orang yang mati dalam keadaan ihram,maka tidak ditutup kepala dan
wajahnya.
3. Bersegera untuk mengurus jenazahnya.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Tidak pantas bagi mayat seorang muslim untuk ditahan di antara keluarganya.
[HR Abu Dawud].

Karena hal ini akan mencegah mayat tersebut dari adanya perubahan di dalam
tubuhnya. Imam Ahmadrahimahullah berkata: "Kehormatan seorang muslim adalah
untuk disegerakan jenazahnya." Dan tidak mengapa untuk menunggu diantara
kerabatnya yang dekat apabila tidak dikhawatirkan akan terjadi perubahan dari tubuh
mayit.

Hal ini dikecualikan apabila seseorang mati mendadak, maka diharuskan menunggu
terlebih dahulu, karena ada kemungkinan dia hanya pingsan (mati suri). Terlebih pada
zaman dahulu, ketika ilmu kedokteran belum maju seperti sekarang. Pengecualian ini,
sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. [Lihat Asy Syarhul Mumti' (5/330), Al
Mughni (3/367)].

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: "Jika ada orang yang bertanya,
bagaimana kita menjawab dari apa yang dikerjakan oleh para sahabat, mereka
mengubur Nabi pada hari Rabu, padahal Beliau meninggal pada hari Senin? Maka
jawabnya sebagai berikut: Hal ini disebabkan untuk menunjuk Khalifah setelah
Beliau. Karena Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemimpin
yang pertama telah meninggal dunia, maka kita tidak mengubur Beliau hingga ada
Khalifah sesudahnya. Hal ini yang mendorong mereka untuk menentukan Khalifah.
Dan ketika Abu Bakar dibaiat, mereka bersegera mengurus dan mengubur jenazah
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika seorang Khalifah
(Pemimpin) meninggal dunia dan belum ditunjuk orang yang menggantikannya, maka
tidak mengapa untuk diakhirkan pengurusan jenazahnya hingga ada Khalifah
sesudahnya. [Asy Syarhul Mumti' 5/333].

4. Diperbolehkan untuk menyampaikan kepada orang lain tentang berita


kematiannya.
Dengan tujuan untuk bersegera mengurusnya, menghadiri janazahnya dan untuk
menyalatkan serta mendoakannya. Akan tetapi, apabila diumumkan untuk
menghitung dan menyebut-nyebut kebaikannya, maka ini termasuk na'yu
(pemberitaan) yang dilarang.

5. Disunnahkan untuk segera menunaikan wasiatnya, karena untuk


menyegerakan pahala bagi mayit.
Wasiat lebih didahulukan daripada hutang, karena Allah mendahulukannya di dalam
Al Qur'an.

6. Diwajibkan untuk segera dilunasi hutang-hutangnya, baik hutang kepada


Allah berupa zakat, haji, nadzar, kaffarah dan lainnya.
Atau hutang kepada makhluk, seperti mengembalikan amanah, pinjaman atau yang
lainnya. RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:



Jiwa seorang mukmin terikat dengan hutangnya hingga dilunasi.
[HR Ahmad, At Tirmidzi, dan beliau menghasankannya].

Adapun orang yang tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi hutangnya,
sedangkan dia mati dalam keadaan bertekad untuk melunasi hutang tersebut, maka
Allah yang akan melunasinya.

7. Diperbolehkan untuk membuka dan mencium wajah


mayit. Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata:

Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Utsman bin Madh'un
Radhiyallahu 'anhu , saat dia telah meninggal, hingga aku melihat Beliau
mengalirkan air mata.
[HR Abu Dawud dan At Tirmidzi].
BAB III
KESIMPULAN

Menjenguk orang yang sakit adalah hal yang sangat urgen dalam kehidupan
sosial dimana sudah diterangkan Rasululullah dalam sabdanya bahwa selain hidup
sosial juga memiliki beberapa keutamaan yaitu rahmat akan meliputinya, bahkan
digambarkan seperti ada pada taman kurma surga. Dan apabila ia menjenguk di waktu
pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga sore. Dan apabila ia
menjenguk diwaktu sore maka tujuh puluh malaikat akan mendoakannya hingga pagi.
Adapun beberapa adab menjenguk orang sakit diantaranya saat menjenguk
orang sakit bukan hanya terhadap orang dewasa saja bahkan perlakukan seperti
menjenguk orang dewasa. Menjenguk orang sakit bukan hanya kepada orang yang
sadar saja sehingga dapat menyaksikan kehadiran kita, namun jenguklah pula orang
yang pingsan. Adapun menjenguk orang musyrik diperbolehkan bahkan Rasul
melakukannya hingga orang tersebut masuk Islam. Ringankan beban orang yang sakit
saat kita berkunjung maka hadirlah diwaktu yang tepat dan jangan duduk berlama-
lama karena akan mengganggu waktu istirahatnya kecuali jika kita diminta orang
yang sakit untuk berlama-lama disisinya. Duduklah disamping kepala orang yang
sakit karena akan mengandung beberapa faidah yaitu menunjukkan sikap ramah
terhadap orang yang sakit, dan dengan kemungkinan orang yang menjenguk akan
meletakkan tangannya ke tubuh orang yang sakit dan mendoakannya. Bertanyalah
tentang keadaannya dan berkata-katalah yang baik dan beri semangat padanya
sehingga akan memotivasi orang yang sakit tersebut untuk sembuh.
Hukum menjenguk orang yang sakit yaitu : Imam Ath Thabari menekankan
bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan
berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara
kondisinya, dan mubah bagi mereka.
Manfaat menjenguk orang sakit diantaranya yaitu dapat menumbuhkan
semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus
dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi
hebat untuk sembuh, mencari tahu apa yang diperlukan si sakit, mengambil pelajaran
dari penderitaan yang dialami si sakit., mendoakan, melakukan ruqyah (membaca
ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syari., Menjenguk tanpa Mempertimbangkan
Penyakit dan Usianya.
Adapun Hikmah menjenguk orang sakit diantaranya yaitu :
1. Di doakan oleh para Malaikat
2. Memberi pelajaran bagi kita bahwasanya begitu mahalnya sehat sehingganya kita
selalu menjaga kesehatan
3. Mengajari kita untuk ikhlas dan sabar
4. Tergolong langkah terbaik dan perbuatan baik
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ustadz H. Abdullah Shonhaji dkk., Terjemah Sunan Ibnu Majah, (Semarang : CV Asy-
Syifa, 1992), cet. 1
Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub, Fiqh Adab (Bogor : Griya Ilmu, 2007), cet.1
J.E. Prawitasari, Psikologi Klinis, (Yogyakarta : Erlangga, 2011)
Riyadus Shalihin II, (Semarang : CV. Toha Putra Semarang, 1981)
http://permaiss1.feb.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2014/03/Adab_Menjenguk_yan_Sedang_
Sakit.pdfata