Anda di halaman 1dari 11

Berpikir dan Berbuatlah Yang Terbaik

JUMAT, 27 MARET 2015

Penyakait Campak dan Cara Mencegah Munculnya Secondary Disaster


A. Pendahuluan

Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, baik bencana alam maupun
karena ulah manusia. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bencana ini adalah
kondisi geografis, iklim, geologis dan faktor-faktor lain seperti keragaman sosial budaya dan
politik. Secara geografis merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat
lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia dan benua Australia serta lempeng samudera
Hindia dan samudera Pasifik. Terdapat 130 gunung api aktif di Indonesia yang terbagi dalam
Tipe A, Tipe B, dan Tipe C. Gunung api yang pernah meletus sekurang-kurangnya satu kali
sesudah tahun 1600 dan masih aktif digolongkan sebagai gunung api tipe A, tipe B adalah
gunung api yang masih aktif tetapi belum pernah meletus dan tipe C adalah gunung api yang
masih di indikasikan sebagai gunung api aktif. Terdapat lebih dari 5.000 sungai besar dan kecil
yang 30% di antaranya melewati kawasan padat penduduk dan berpotensi terjadinya banjir,
banjir bandang dan tanah longsor pada saat musim penghujan(Depkes RI, 2007)

Indonesia terjadi beberapa kali bencana alam yang berskala besar. Gempa bumi dan
tsunami yang melanda provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pada tahun
2004 yang menelan korban 120.000 orang meninggal, 98.088 orang hilang dan lebih dari
4.000 orang luka-luka, lebih dari 100.000 orang mengungsi dan kehilangan tempat tinggal.
Pada bulan Mei 2006 gempa bumi di Jogjakarta yang mengakibatkan 5.778 orang meninggal,
151.208 orang luka-luka. Kemudian pada tahun yang sama tepatnya dibulan Juli terjadi gempa
bumi dan tsunami di daerah pantai selatan Jawa yang mengakibatkan 648 orang meninggal, 84
orang hilang dan 11.021 orang luka-luka. Di tahun yang sama pula meletus gunung api Merapi
di Jawa Tengah dan Jogjakarta yang menyebakan 4 orang meninggal dengan permasalahan
kesehatan (Depkes RI, 2007).
Selain itu juga terjadi beberapa bencana akibat ulah manusia seperti konflik horisontal.
Misalnya yang terjadi di Kalimantan, Maluku, Maluku Utara dan Poso yang berakibat pada
terjadinya korban jiwa dan pengungsian yang besar yang berakibat pada terganggunya sistim
kesehatan dan permasalahan kesehatan.
Dalam situasi darurat, telah tercatat hilangnya banyak nyawa akibat luka-luka dan
merebaknya berbagai penyakit. Bencana alam (gempa bumi, banjir, letusan gunung berapi dan
sebaginya ), peperangan dan konflik, serta bencana-bencana teknologi, cenderung
menimbulkan kenaikan tingkat kematian dan penyebaran penyakit yang menyebabkan
kenaikan tingkat kematian dan penyebaran penyakit. Depkes RI, 2007
Penyakit-penyakit yang menyebabkan kenaikan itu pulah telah dikenali, yakni campak,
diare (termasuk kolera dan disentri), infeksi saluran pernapasan akut, kekurangan gizi dan
penyakit menular lain. Tingginya kejadian penjakitan penyakit disebabkan oleh faktor-faktor
lingkungan yang dihadapi oleh penduduk korban, yakni kepadatan, kekurangan atau rendahnya
mutu air, sanitasi yang buruk, tempat hunian dan pasokan pangan yang tidak memadai.

B. Pengendalian Penyakit Menular


Meningkatnya angka kematian dan kesakitan karena penyakit menular lebih sering
terjadi dalam kaitannya dengan kedaruratan kompleks dibandingkan dengan bencana-
bencana lain. Dalam banyak kondisi keadaan darurat kompleks tersebut, terutama yang
terjadi di Negara-negara berkembang antara 60% - 90% kematian disebabkan oleh
satu dari empat penyakit menular utama, campak, diare, ISPA, dan malaria.
Kekurangan gizi akut sering dikaitkan dengan meningkatnya tingkat kematian karena
penyakit-penyakit tersebut, terutama diantara anak-anak kecil. Selama ini juga dikaitkan
dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular lainnya dalam kondisi-kondisi
tertentu, misalnya meningitis meningokokus, demam kuning (yellow Fever), virus
hepatitis dan thypus (Sphere, 2006)
Faktor resiko penullaran penyakit menular sesudah bencana yang terutama
berkaitan dengan jumlah/besarnya dan karateristik dari populasi yang berpindah,
secara khusus berkaitan dengan penyediaan air bersih yang cukup dan jamban yang
memadai, status nutrisi dari polupasi, tingkat kekebalan/imunitas terhadap penyakit
yang dapat di cegah dengan imunisasi (PD3I) misalnya campak, serta akses terhadap
unit pelayanan kesehatan. (Kemenkes, 2010). Berdasarkan analisis data bencana
yang pernah terjadi KLB kurang dilaporkan pada populasi bencana alam dibanding
terjadinya konflik yang terjadi pada populasi tersebut, dimana mungkin 2/3 dari
kematian akibat penyakit menular terutama yang berkaitan dengan endemisitas
penyakit dilokasi tersebut. (Dirjen P2PL, Kemenkes 2010)
Penyakit menular merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian besar,
mengingat potensi munculnya KLB/wabah penyakit menular sebagai akibat banyaknya
faktor resiko yang memungkinkan terjadinya penularan pada saat bencana baik di
pengungsian maupun pada masyarakat. Umumnya penyakit-penyakit menular tersebut
muncul 1 (satu) minggu setelah kejadian bencana.

KLB/wabah penyakit dapat menyebabkan korban jiwa, jumlah penderita yang


banyak dalam kurun waktu yang singkat, sehingga mengakibatkan lonjakan kebutuhan
dana dan tenaga dalam upaya pengendalian KLB/wabah. Untuk mencegah terjadinya
KLB/wabah penyakit, maka pada saat bencana terjadi perlu dilakukan upaya
pencegahan pengendalian penyakit menular. Upaya tersebut meliputi :
1. Mengidentifikasi penyakit menular potensial KLB berdasarkan jenis bencana
2. Mengidentifikasi factor resiko
3. Upaya pencegahan dan pengendallian/meminimalisir factor resikoa
4. Kalkulasi kebutuhan logistic untuk penatalaksanaankasus
5. Kalkulasi kebutuhan tenaga medis/perawat untuk penatalaksanaan kasus

C. Pencegahan dan penanggulangan penyakit campak


Campak yang disebut juga dengan measles atau rubeola merupakan suatu penyakit
infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh paramixovirus yang pada umumnya
menyerang anak-anak. Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang melalui percikan liur
(droplet) yang terhirup.
Penyebabnya adalah virus morbili yaitu Rubeola yang terdapat dalam sekret
nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-
bercak. Cara penularan dengan droplet infeksi.
Faktor resiko terkena morbili adalah
1. Daya tahan tubuh yang lemah
2. Belum pernah terkena campak
3. Belum pernah mendapat vaksinasi campak

Manifestasi klinik Penyakit Campak


Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan
kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :
1. Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa hingga
sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang akhir
stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih
kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa
bukalis berhadapan dengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur
mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada
bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut
muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium
prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang
dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
2. Stadium erupsi
Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum durum
dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan
menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk,
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan
primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah
bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit
splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini
adalah Black Measles yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung
dan traktus digestivus.
3. Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang
bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula
kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili.
Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang
tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada
komplikasi
Patofisiologi
Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan
berkembang biak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan
kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus
menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-
7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar
patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan
perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit
menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan
demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin
berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan
sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.Virus dapat berbiak
juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa
konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi
makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan
karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit.
Manusia merupakan satu- stunya inang alamiah untuk virus campak, walaupun
banyak spesies lain, termasuk kera, anjing, tikus, dapat terinfeksi secara percobaan.
Virus masuk ke dalam tubuh melalui system pernafasan, dimana mereka membelah diri
secara setempat; kemudian infeksi menyebar ke jaringan limfoid regional, dimana
terjadi pembelahan diri selanjutnya. Viremia primer menyebabkan virus, yang kemudian
bereplikasi dalam system retikuloendotelial. Akhirnya, viremia sekunder bersemai pada
permukaan epitel tubuh, termasuk kulit, saluran pernafasan, dan konjungtiva, dimana
terjadi replikaksi fokal. Campak dapat bereplikasi dalam limfosit tertentu, yang
membantu penyebarannya di seluruh tubuh. Sel datia berinti banyak dengan inklusi
intranuklir ditemukan dalam jaringan limfoid di seluruh tubuh (limfonodus, tonsil,
apendiks).
Peristiwa tersebut di atas terjadi selama masa inkubasi, yang secara khas
berlangsung 9- 11 hari tetapi dapat diperpanjang hingga 3 minggu pada orang yang
lebih tua. Mula timbul penyakit biasanya mendadak dan ditandai dengan koriza (pilek),
batuk, konjungtivitis, demam, dan bercak koplik dalam mulut. Bercak koplik-
patognomonik untuk campak- merupakan ulkus kecil, putih kebiruan pada mukosa
mulut, berlawanan dengan molar bawah. Bercak ini mengandung sel datia, antigen
virus, dan nukleokapsid virus yang dapat dikenali.
Selama fase prodromal, yang berlangsung 2- 14 hari, virus ditemukan dalam air
mata, sekresi hidung dan tenggorokan, urin, dan darah. Ruam makulopopuler yang
khas timbul setelah 14 hari tepat saat antibody yang beredar dapat dideteksi, viremia
hilang, dan demam turun. Ruam timbul sebagai hasil interaksi sel T imun dengan sel
terinfeksi virus dalam pembuluh darah kecil dan berlangsung sekitar seminggu. Pada
pasien dengan cacat imunitas berperantara sel, tidak timbul ruam.
Keterlibatan system saraf pusat lazim terjadi pada campak. Ensefalitis
simptomatik timbul pada sekitar 1:1000 kasus. Karena virus penular jarang ditemukan
di otak, maka diduga reaksi autoimun merupakan mekanisme yang menyebabkan
komplikasi ini.
Sebaliknya, ensefalitis menular yang progresif akut dapat timbul pada pasien
dengan cacat imunitas berperantara sel. Ditemukan virus yang bereplikasi secara katif
dalam otakdan hal ini biasanya bentuk fatal dari penyakit.
Komplikasi lanjut yang jarang dari campak adalah peneesefalitis sklerotikkans
subakut. Penyakit fatal ini timbul bertahun- tahun setelah infeksi campak awal dan
disebabkan oleh virus yang masih menetap dalam tubuh setelah infeksi campak akut.
Jumlah antigen campak yang besar ditemukan dalam badan inklusi pada sel otak yang
terinfeksi, tetapi paartikel virus tidak menjadi matang. Replikasi virus yang cacat adalah
akibat tidak adanya pembentukan satu atau lebih produk gen virus, sering kali protein
maatriks. Tidak diketahui mekanisme apa yang bertanggung jawab untuk pemilihan
virus patogenik cacat ini.
Adanya virus campak intraseluler laten dalam sel otak pasien dengan
panensefalitis sklerotikans subakut menunjukkan kegagalan system imun untuk
membasmi infeksi virus. Ekspresi antigen virus pasa permukaan sel dimodulasi oleh
penambahan antibosi campak terhadap sel yang terinfeksi dengan virus campak.
Dengan menngekspresikan lebih sedikit antigen virus pada permukaan, sel- sel dapat
menghindarkan diri agar tidak terbunuh oleh reaksi sitotoksik berperantara sel atau
berperantara antibody tetapi dapat tetap mempertahankan informasi genetic virus.
Anak- anak yang diimunisasi dengan vaksi campak yang diinaktivasi kemudian
dipaparkan dengan virus campak alamiah, dapat mengalami sindroma yang disebut
campak atipik. Prosedur inaktivasi yang digunakan dalam produksi vaksin akan
merusak imunogenisitas protein F virus; walaupun vaksin mengembangkan respon
antibody yang baik terhadap protein H, tanpa adanya infeksi antibody F dapat dimulai
dan virus dapat menyebar dari sel ke sel melalui penyatuan. Keadaan ini akan cocok
untuk reaksi patologik imun yang dapat memperantarai campak atipik. Vaksin virus
campak yang diinaktifkan tampak digunakan lagi.

1. Pencegahan Penyakit Campak


Campak merupakan salah satu virus yang paling menular yang diketahui dan
dapat dikaitkan dengan tingkat kematian yang tinggi. Pada dasarnya upaya
pencegahan penyakit campak adalah pemberian imunisasi pada usia yang tepat. Pada
saat terjadi bencana, kerawanan penyakit ini meningkat karena :
a. Memburuknya status kesehatan, terutama status gizi anak
b. Konsetrasi penduduk pada suatu tempat/ruang (pengungsi)
c. Mobilitas penduduk antar wilayah meningkat (kunjungan keluarga)
d. Cakupan imunisasi rendah yang akan meningkatkan kerawanan yang berat
Oleh karena itu pada saat bencana tindakan pencegahan terhadap penyakit
campak ini dilakukan dengan melaksanakan imunisasi dengan kriteria :
a. Jika cakupan imunisasi di desa yang mengalami bencana >80%, tidak dilaksanakan
imunisasi missal (Sweeping)
b. Jika cakupan imunisasi campak didesa bencana diragukan maka dilaksanakan
imunisasi tambahan missal (Crash Program) pada setiap anak usia kurang dari 5 tahun
(6-9bulan) tanpa memandang status imunisasi sebelumnya dengan target cakupan
95%.
c. Bila pada daerah tersebut belum melaksanakan imunisasi campak secara rutin pada
anak sekolah, imunisasi dasar juga diberikan pada kelompok usia sekolah dasar kelas
1 sampai
Seringkali karena suasana pada saat dan pasca-bencana tidak memungkinkan
dilakukan imunisasi massal, maka diambil langkah sebagai berikut:
1. Pengamatan ketat terhadap munculnya penderita campak.
2. Jika ditemukan satu penderita campak di daerah bencana, imunisasi massal harus
dilaksanakan pada kelompok pengungsi tersebut, dengan sasaran anak usia 559
bulan dan anak usia sekolah kelas 1 sampai 6 SD (bila belum melaksanakan BIAS
campak) sampai hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan penderita positif terkena
campak. Imunisasi tambahan massal yang lebih luas dilakukan sesuai dengan kriteria
imunisasi tersebut.
3. Jika diterima laporan adanya penderita campak di luar daerah bencana, tetapi terdapat
kemudahan hubungan (kemudahan penularan) dengan daerah bencana, penduduk di
desa tersebut dan daerah bencana harus diimunisasi massal (sweeping) sesuai kriteria
imunisasi.

2. Tata Laksana Penderita Campak


Berikut adalah sistem tatalaksana penderita campak.
a. Rujukan Penderita Campak dari Masyarakat Pos Kesehatan
Pada saat bencana, setiap keluarga, kepala ketua kelompok pengungsi, kepala desa
mendorong setiap anggota keluarganya yang menderita sakit panas untuk segera
berobat ke pos kesehatan terdekat (termasuk penderita campak). Petugas menetapkan
diagnosis dan tatalaksana penderita campak dengan benar dan segera melaporkan ke
petugas pengamatan penyakit.
b. Tatalaksana Kasus
Batasan Kasus Campak:
Menderita sakit panas (diraba atau diukur dengan termometer 39 derajat Celcius)
Bercak kemerahan
Dengan salah satu gejala tambahan: batuk, pilek, mata merah, diare. Komplikasi berat
campak: Bronchopneumonia, Radang telinga tengah, Diare
c. Langkah-Langkah Tatalaksana
a. Penetapan diagnosa berdasarkan batasan diagnosa dan komplikasi, yaitu : Panas
kurang dari 3 hari, atau panas tanpa bercak kemerahan dan tidak diketahui adanya
diagnosa lain, maka berikan: obat penurun panas (parasetamol) Anjuran: Makan dan
minum yang banyak Membersihkan badan
b. Jika timbul bercak kemerahan atau sakitnya semakin memberat/belum sembuh,
berobat kembali ke pos kesehatan. Panas dan bercak kemerahan dengan salah satu
gejala tambahan (panas 3 7 hari). Berikan: Penurun panas (parasetamol), Antibiotik
(ampisilin, kotrimoksa-sol), penatalaksaan dapat dilihat tatalaksana ISPA
c. Vitamin A
d. Oralit
Anjuran:
Makan dan banyak minum
Membersihkan badan
Jika timbul komplikasi: diare hebat, sesak napas atau radang telinga tengah (menangis,
rewel), segera kembali ke pos kesehatan.
Jika 3 hari pengobatan belum membaik, segera kembali ke pos kesehatan.

3. Penyelidikan dan Penanggulangan KLB Campak


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB
campak, antara lain:
1. Sumber informasi kasus campak
Pelaksanaan pengamatan penyakit.
Laporan petugas penanggulangan bencana.
Laporan masyarakat (kepala desa, ketua kelompok pengungsi atau anggota
masyarakat lain).
2. Kriteria KLB
Satu kasus di daerah bencana pada keadaan bencana adalah KLB (masa darurat,
masa rehabilitasi).
3. Langkah-Langkah Penyelidikan
a. Penetapan diagnosa.
b. Mencari kasus tambahan dengan pelacakan lapangan, informasi semua kepala desa,
ketua kelompok pengungsi dan keluarga di daerah bencana.
c. Membuat grafik penderita berdasarkan waktu kejadian kasus.
d. Membuat pemetaan kasus.
e. Menetapkan daerah dan kelompok yang banyak penderita.
f. Menetapkan daerah atau kelompok yang terancam penularan, karena alasan
kemudahan hubungan dan alasan rendahnya cakupan imunisasi.
g. Melaksanakan upaya pencegahan dan melaksanakan sistem tatalaksana penderita
campak.

Catatan: Pada saat imunisasi massal, pisahkan antara yang sakit dan yang sehat.
4. Melaksanakan pengamatan (surveilans) ketat selama KLB berlangsung, dengan
sasaran pengamatan:
Penderita: peningkatan kasus, wilayah penyebaran dan banyaknya komplikasi dan
kematian.
Cakupan imunisasi setelah imunisasi massal.
Kecukupan obat dan sarana pendukung penanggulangan KLB.
5. Penggerakkan kewaspadaan terhadap penderita campak dan pentingnya pencegahan:
a. Kepala Wilayah: pengarahan penggerakkan kewaspadaan.
b. Menyusun sistem tatalaksana penderita campak.
c. Dukungan upaya pencegahan (imunisasi massal).

++++SEMOGA BERMANFAAT+++

Sumber :
1. Pedoman Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana, Pusat Penanggulangan
Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, 2011 (edisi revisi)
2. Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum Dalam Respons Bencana, The Sphere
Project, Edisi 2006
3. Petunjuk Teknis Upaya Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkuungan Dalam
Penanggulangan Bencana,, Direktorat Jenderal PP dan PL Kementerian Kesehatan RI,
2010
4. Kapita selecta Kedokteran, Fakulats Kedokteran Universitas Indonesia, Jilid II, 2000
Diposkan oleh rosihan ismail di 00.34
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih BaruBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
MENGENAI SAYA

rosihan ismail
Lihat profil lengkapku

ARSIP BLOG

Template Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.