Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peranan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat sering dihadapkan pada kenyataan bahwa bantuan mereka juga
diperlukan oleh kalangan penegak hukum dalam memeriksa korban maupun
memberikan keterangan untuk kepentingan hukum dan peradilan. Diperlukan
bantuan dokter untuk memastikan sebab, cara, dan waktu kematian pada
peristiwa kematian tidak wajar karena pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan
atau kematian yang mencurigakan. Pada korban yang tidak dikenal
diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui identitasnya. Begitu pula pada
korban penganiayaan, pemerkosaan, pengguguran kandungan dan peracunan
diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi
secara medis. Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai
petunjuk atau pedoman dan alat bukti dalam menyidik, menuntut dan
mengadili perkara pidana maupun perdata. Pada tahap penyidikan
dipergunakan sebagai alat bukti dan petunjuk oleh para penyidik dan di
sidang pengadilan dipergunakan oleh jaksa, hakim dan p mbela sebagai alat
bukti yang sah.1
Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan
bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut
adalah Visum et Repertum, di mana di dalamnya terdapat penjabaran tentang
keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun mati yang diduga
karena tindak pidana.2
Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di
Pengadilan adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan
unsur-unsur yang di dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut.
Serta memberikan gambaran bagi hakim mengenai hubungan kausalitas
antara korban dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam visum

1
et repertum. Disamping itu, diperoleh hasil bahwa dalam setiap praktek
persidangan yang memerlukan keterangan dari kedokteran forensik, tidak
pernah menghadirkan ahli dalam bidang ini untuk diajukan di sidang
pengadilan sebagai alat bukti saksi. Implikasi teoritis persoalan ini adalah
bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan suatu perkara yang memerlukan
keterangan dokter forensik, hanya memerlukan keterangan yang berupa
visum et repertum tanpa perlu menghadirkan dokter yang bersangkutan di
sidang pengadilan. Sedangkan implikasi praktisnya bahwa hal ini dapat
dijadikan pertimbangan bagi hakim dalam menangani perkara yang
memerlukan peran dari kedokteran forensik.3

2
BAB II
PEMBAHASAN

I. Visum et Repertum

1. Pengertian Visum et Repertum

Secara harfiah kata Visum et Repertum berasal dari kata visual (melihat)

dan reperta (temukan), sehingga Visum et Repertum berarti laporan mengenai apa

yang dilihat dan ditemukan. Definisi Visum et Repertum menurut Kolegium

Kedokteran Forensik dan Medikolegal adalah : Laporan tertulis yang dibuat oleh

dokter atas permintaan tertulis dari pihak yang berwajib mengenai apa yang

dilihat dan ditemukan berdasarkan keilmuannya, dan untuk kepentingan

peradilan. Dari definisi di atas dapatlah ditarik beberapa unsur yang penting,

yaitu :1

1. LAPORAN TERTULIS, sebaiknya diketik dan pada akhir alinea ditutup

dengan garis.

2. DIBUAT OLEH DOKTER, semua jenis keahlian dokter dapat

membuatnya.

3. PERMINTAAN TERTULIS DARI PIHAK YANG BERWAJIB,

permintaan dari pihak-pihak lain tidak dapat dilayani (misalnya

permintaan keluarga).

4. APA YANG DILIHAT/DIPERIKSA BERDASARKAN KEILMUAN,

merupakan bagian yang obyektif.

5. BERDASARKAN SUMPAH, dicantumkan di bagian Penutup.

3
6. KEPENTINGAN PERADILAN, berarti bukan untuk kepentingan-

kepentingan lain seperti misalnya asuransi.

2. Bentuk dan susunan Visum et Repertum

Setiap visum et repertum mempunyai bentuk dan harus dibuat memenuhi

ketentuan-ketentuan umum sebagai berikut : 4

a. Ditulis di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.

b. Bernomor dan bertanggal.

c. Mencantumkan kata "Pro justitia" di bagian atas (kiri atau tengah)

d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

e. Tidak menggunakan singkatan - terutama pada waktu mendeskripsikan temuan

pemeriksaan

f. Tidak menggunakan istilah asing. Bila tak dapat dihindari maka berikan pula

penjelasannya dalam bahasa Indonesia.

f. Ditandatangani dan diberi nama jelas.

g. Berstempel instansi pemeriksa tersebut

Susunan Visum et Repertum adalah : 1,4

2.1. Bagian Projustitia

Yang menerangkan bahwa kertas yang berisi Visum Et Repertum itu

mempunyai kekuatan hukum dan digunakan untuk peradilan dan merupakan

pengganti materai.

2.2. Bagian Pendahuluan.

Bagian ini sebenarnya tidak diberi judul "Pendahuluan", melainkan langsung

merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa beserta instansi dokter

pemeriksa tersebut, instansi peminta visum et repertum berikut nomor dan

4
tanggal suratnya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas yang diperiksa

sesuai dengan yang tercantum di dalam surat permintaan visum et repertum

tersebut. Nomor registrasi korban di rumah sakit sebaiknya dicantumkan pula.

2.3. Bagian Hasil Pemeriksaan (Pemberitaan)

Bagian ini diberi judul "Hasil Pemeriksaan", memuat semua hasil pemeriksaan

terhadap "barang bukti" yang dituliskan secara sistematik, jelas dan dapat

dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran.

Untuk itu teknik penggambaran atau pendeskripsian temuan harus dibuat

panjang lebar, dengan memberikan uraian letak anatomis yang lengkap, tidak

melupakan kiri atau kanan bagian anatomis tersebut, serta bila perlu

menggunakan ukuran yang tepat. Pencatatan tentang perlukaan atau cedera

dilakukan dengan sistematis mulai dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang

tertinggal. Deskripsinya juga tertentu, yaitu mulai dari letak anatomisnya,

koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan,

ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang

terdekat), jenis luka/cedera, karakteristiknya serta ukurannya. Pada

pemeriksaan korban hidup, bagian ini terdiri dari hasil Pemeriksaan, yang

memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik anamnesis yang penting, pemeriksaan

fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada

5
korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan atau

cederanya serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status

lokalis). Korban hidup tidak harus diperiksa pakaiannya lapis demi lapis dan

dideskripsi bagian-bagian tubuhnya satu persatu. Namun demikian anamnesis

yang ketat atau pemeriksaan fisik umum yang lengkap tetap diperlukan untuk

menghindari terlewatkannya suatu kelainan atau perlukaan. Keadaan akhir

korban. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan

(termasuk indera) merupakan hal penting guna pembuatan kesimpulan,

sehingga harus diuraikan dengan jelas. Pemeriksaan korban kejahatan seksual

juga memuat hal-hal seperti pada korban perlukaan, namun dengan materi

pemeriksaan yang berbeda. 5

2.4. Bagian Kesimpulan.

Bagian ini diberi judul "Kesimpulan" dan memuat kesimpulan dokter

pemeriksa atas seluruh hasil pemeriksaan dengan berdasarkan keilmuan atau

keahliannya. Pada visum et repertum korban perlukaan, setidaknya disebutkan

jenis perlukaan / cedera, jenis kekerasan penyebabnya, dan kualifikasi luka

(derajat luka)nya. Kualifikasi luka diformulasikan dengan kata-kata yang

sesuai dengan bunyi ketentuan perundang- undangannya, misalnya : 5

- tidak menimbulkan sakit dan atau halangan dalam melakukan pekerjaannya.

- mengakibatkan sakit yang membutuhkan perawatan jalan selama beberapa

hari.

- mengakibatkan sakit dan halangan dalam melakukan pekerjaannya

selama .......hari (atau untuk sementara waktu).

- mengakibatkan ancaman bahaya maut baginya.

6
- mengakibatkan kehilangan panca indera.

2.5. Bagian Penutup.

Bagian ini merupakan kalimat penutup yang menyatakan bahwa visum et

repertum tersebut dibuat dengan sebenar-benarnya, berdasarkan keilmuan

yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah dan sesuai dengan ketentuan dalam

KUHAP. Visum et repertum diakhiri dengan tandatangan dokter pemeriksa

atau pembuat visum et repertum dan nama jelasnya. Jangan dilupakan

pembubuhan stempel instansi dokter pemeriksa tersebut dan nomor induk

pegawai atau nomor registrasi prajurit atau nomor surat penugasan. 7

3. Peranan dan Fungsi Visum et Repertum

Sesuai dengan definisinya, maka Visum et Repertum sangat bermanfaat

dalam pembuktian suatu perkara berdasarkan hukum acara. Di dalam upaya

pembuktian, biasanya barang-barang bukti akan diperlihatkan di sidang

pengadilan untuk memperjelas masalah. Tetapi pada prakteknya tidak semua

barang bukti dapat dibawa ke depan siding pengadilan, seperti misalnya, tubuh

manusia baik hidup maupun mati. 2

Pada perkara-perkara yang menyangkut kejahatan terhadap tubuh manusia,

maka antara lain akan dibuktikan penyebab luka dan/atau kematian.

7
Bahkan tidak jarang dapat dicari pembuktian tentang tempus delicti dan locus

delicti. Untuk itu tentu yang seharusnya diketengahkan di siding pengadilan

adalah luka/kelainan pada saat (atau paling tidak mendekati saat) peristiwa pidana

terjadi. Hal ini boleh dikatakan sangat sulit dikerjakan karena tubuh manusia

senantiasa mengalami perubahan, baik berupa penyembuhan luka (pada korban

hidup) atau proses pembusukan (pada korban mati), sehingga gambaran mengenai

benda bukti tersebut (luka, kelainan, jenazah) tidak sesuai lagi dengan yang

semula.2

Semua hal-hal yang terdapat pada tubuh manusia (benda bukti) harus

direkam atau diabadikan oleh seorang dokter dan dituangkan ke dalam sebuah

Visum et Repertum yang berfungsi sebagai pengganti barang bukti (tubuh

manusia). Kemudian guna memudahkan para paraktisi hukum dalam

memanfaatkan Visum et Repertum tersebut, perlu dibuat suatu kesimpulan dari

hasil pemeriksaan. Bagian kesimpulan ini akan menjembatani ilmu kedokteran

dengan ilmu hukum, sehingga para praktisi hukum dapat menerapkan norma-

norma hukum pada benda bukti tersebut. 7

4. Jenis Visum et Repertum

Ada beberapa jenis visum et repertum, yaitu visum et repertum orang

hidup dan visum et repertum orang mati. Visum et repertum orang hidup terdiri

dari visum perlukaan, visum et repertum keracunan, visum et repertum kejahatan

susila dan visum et repertum psikiatrik. Sedangkan visum et repertum orang mati

terdiri dari visum luar dan visum dalam. 7

Menurut waktu pemberiannya Visum et Repertum terdiri dari : 7

8
a. Visum Seketika

b. Visum Sementara

c. Visum Lanjutan

5. Prosedur Pembuatan Visum et Repertum

Seperti tercantum dalam KUHAP Pasal 133 ayat 1, dimana dalam hal

penyidik atau kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,

keracunan ataupun mati, yang diduga karena peristiwa tindak pidana, ia

berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli Kedokteran

Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya, adapun tata cara permintaannya

sabagai berikut : 8

a. Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter, Dokter ahli

Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau ahli lainnya, harus diajukan

secara tertulis dengan menggunakan formulir sesuai dengan kasusnya dan

ditanda tangani oleh penyidik yang berwenang.

b. Syarat kepangkatan Penyidik seperti ditentukan oleh Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1983, tentang pelaksanaan KUHAP

Pasal 2 yang berbunyi : Penyidik adalah Pejabat Polri yang sekurang-

kurang berpangkat Pelda Polisi, Penyidik Pembantu adalah Pejabat Polri

yang sekurang-kurangnya berpangkat Serda Polisi. Kapolsek yang

berpangkat Bintara dibawah Pelda Polisi karena jabatannya adalah

Penyidik.

9
Kapolsek yang dijabat oleh Bintara berpangkat Serda Polisi, sesuai dengan

ketentuan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1983 Pasal 2 ayat (2), maka

Kapolsek yang berpangkat Serda tersebut karena Jabatannya adalah

Penyidik.

c. Permintaan Visum et Repertum ini diajukan kepada Dokter ahli Kedokteran

Kehakiman atau Dokter dan atau ahli lainnya. Dokter ahli Kedokteran

Kehakiman biasanya hanya ada di Ibu Kota Propinsi yang terdapat

Fakultas Kedokterannya. Ditempat-tempat dimana tidak ada Dokter ahli

Kedokteran Kehakiman maka biasanya surat permintaan Visum et

Repertum ini ditujukan kepada Dokter.

d. Dokter yang telah mempunyai surat kompetensi yang dapat membuat

Visum et Repertum yang diminta oleh penyidik.

II. Infanticide

Infanticide atau pembunuhan anak adalah pembunuhan yang dilakukan

oleh seorang ibu dengan atau tanpa bantuan orang lain terhadap bayinya pada saat

dilahirkan atau beberapa saat sesudah dilahirkan, oleh karena takut diketahui

orang lain bahwa ia telah melahirkan anak. 8

1. UNDANG-UNDANG YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFANTICIDE

Undang-undang yang menyangkut pembunuhan anak terdapat pada KUHP

pasal 341, 342 dan 343.

10
1.1. Pasal 341 KUHP

Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat

anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa

anaknya, diancam karena membunuh anaknya sendiri, dengan pidana penjara

paling lama tujuh tahun.

2.2. Pasal 342 KUHP

Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut

akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat akan dilahirkan atau

tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan

pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama

sembilan tahun.

2.3. Pasal 343 KUHP

Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi

orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan

anak dengan rencana.

Dengan demikian, pada kasus pembunuhan anak terdapat tiga unsur yang

penting, yaitu Pelaku haruslah ibu kandung korban. Motif, motif atau alasan

pembunuhan adalah karena takut ketahuan telah melahirkan anak.Waktu

Pembunuhan dilakukan segera setelah anak dilahirkan atau tidak beberapa lama

kemudian, yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan.8

11
III. HAL-HAL YANG PERLU DITENTUKAN

Dalam kasus infanticide, hal-hal yang harus ditentukan atau yang perlu

dijelaskan dokter dalam pemeriksaannya adalah: 9

Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah cukup bulan untuk

dilahirkan.

Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat dilahirkan.

Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir.

Apakah bayi sudah pernah dirawat.

Apakah penyebab kematian bayi.

Untuk menjawab kelima hal di atas, diperlukan pemeriksaan yang

lengkap, yaitu pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam (autopsi) pada tubuh bayi

serta bila perlu melakukan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan

mikroskopis pada jaringan paru (patologi anatomi) dan pemeriksaan test apung

paru. 8,9

III. Alat Bukti Sah

Pembuktian merupakan tahap paling menentukan dalam proses

persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan

terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana

yang didakwakan penuntut umum. Oleh karena pembuktian merupakan bagian

dari proses peradilan pidana, maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada

Hukum Acara Pidana yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.

Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan: Hakim tidak

boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-

kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak

12
pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang melakukannya. Dari

bunyi pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 kiranya dapat dipahami

bahwa pemidanaan baru boleh dijatuhkan oleh hakim apabila : Terdapat

sedikitnya dua alat bukti yang sah.

Dua alat bukti tersebut menimbulkan keyakinan hakim tentang telah

terjadinya perbuatan pidana. Dan perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh

terdakwa. Alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat 1, Undang-Undang nomor 8

tahun 1981: Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Petunjuk, dan Keterangan

terdakwa.

a. Permintaan Sebagai Saksi Ahli1,11

Pasal 179 (1) KUHAP

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau

dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 224 KUHP

Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-

undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang

yang harus dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana dengan penjara paling

lama Sembilan Bulan.

b. Keterangan Ahli1,11

Pasal 1 Butir 28 KUHAP

13
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki

keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara

pidana guna kepentingan pemeriksaan. (pengertian keterangan ahli saecara umum)

Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, keterangan

ahli harus dikemas dalam betuk alat bukti sah.

c. Alat Bukti Sah1

Pasal 183 KUHAP

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu

tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah

melakukannya.

Pasal 184 KUHAP

Alat bukti yang sah adalah:

(a) keterangan saksi, (b) keterangan ahli, (c) Surat, (d) petunjuk, (e) keterangan

terdakwa.

d. Keterangan ahli diberikan secara lisan11

Pasal 186

Keterangan ahli adalah apa yang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 186

Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh

penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan

14
dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan

(BAP saksi ahli).

e. Keterangan ahli diberikan secara tertulis11

Pasal 187 KUHAP

Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah

jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: (c) surat keterangan dari seorang

ahli yang memuat pendapat bedasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau

suatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.

IV. Aborsi

Aborsi atau keguguran kandungan merupakan suatu isu yang

kontroversial. Pertimbangan pelaksanaan aborsi harus dilihat dari aspek etika dan

profesionalisme kedokteran, hukum yang berlaku, serta agama. Pelaksanaan

aborsi harus melalui pertimbangan berbagai pihak yang terlibat serta kompeten.

Aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi secara prematur dari

uterusembrio, atau fetus yang belum dapat hidup.12 Dengan kata lain, aborsi

adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang

mengakibatkan kematian janin.

Ada dua macam aborsi, yaitu aborsi spontan dimana aborsi terjadi secara

alami, tanpa intervensi tindakan medis (aborsi spontanea), dan aborsi yang

direncanakan melalui tindakan medis dengan obat-obatan, tindakan bedah, atau

tindakan lain yang menyebabkan pendarahan lewat vagina (aborsi provokatus).

15
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tertulis : Setiap dokter

senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Namun

dalam sumpah dokter, terdapat pernyataan: Saya akan menghormati setiap hidup

insani mulai dari saat pembuahan. Dalam pernyataan ini, yang dimaksud

makhluk insani masih belum dapat ditentukan dengan jelas dan pasti, mulai kapan

awal kehidupan ditentukan, sehingga menimbulkan pertentangan. Karena itu

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) masih mengadakan

perundingan tentang lafal sumpah dokter Indonesia melalui hasil referendum dari

anggota IDI untuk memilih apakah kata mulai dari saat pembuahan hendak

dihilangkan atau diubah. 1

Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai standar, melaksanakan

advokasi, menjamin keselamatan pasien, menghormati terhadap hak-hak pasien.

Kriteria perilaku profesional antara lain mencakup bertindak sesuai keahlian dan

didukung oleh keterampilan, bermoral tinggi, memegang teguh etika profesi, serta

menyadari ketentuan hukum yang membatasi gerak. 13

Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak.

Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua

golongan yakni:

1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan

menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.

Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapeticus, karena

alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk

menyelamatkan nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam

16
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang

Kesehatan:

PASAL 15

1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu

hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.

2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya

dapat dilakukan:

a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan

tersebut.

b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan

untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan

pertimbangan tim ahli.

c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau

keluarganya.

d. Pada sarana kesehatan tertentu.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai

berikut:

Ayat (1): Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan

alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama,

17
norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai

upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil

tindakan medis tertentu

Ayat (2)

Butir a: Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar

mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis

tertentu itu, ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut.

Butir b: Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu

adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu

seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit

kandungan.

Butir c: Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang

bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan

persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya.

Butir d: Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki

tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh

pemerintah.

Ayat (3): Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini

dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu

hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk

persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.

18
2. Abortus Provocatus Criminalis (Abortus buatan illegal) Yaitu pengguguran

kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau

menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta

tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-

undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus

provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal

atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

PASAL 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh

supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena

pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling

lama empat tahun atau denda paling banyak empat pulu ribu rupiah.

2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau

menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia

seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.

3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan

pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian.

PASAL 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan

kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana

penjara paling lama empat tahun.

19
PASAL 347

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan

kandungan seorang wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara

paling lama dua belas tahun.

2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan

pidana penjara paling lama lima belas tahun.

PASAL 348

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan

kandungan seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana

penjara paling lama lima tahun enam bulan.

2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut,

dikarenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

PASAL 349

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan

yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu

kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang

ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertiga dan dapat dicabut hak

untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.

PASAL 535

Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk

menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta

20
menawarkan, ataupun secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa

diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian

itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak

empat ribu lima ratus rupiah.

Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan:

Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh

orang lain, diancam hukuman empat tahun.

Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan

tanpa persetujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu

hamil itu mati diancam 15 tahun

Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun

penjara dan bila ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.

Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut

seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya

ditambah sepertiganya dan hak untuk praktik dapat dicabut.

Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang

memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik,

sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu, dalam praktiknya dokter yang

melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan

alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). Selain KUHP, abortus buatan yang

ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun

1992 tentang Kesehatan:

21
PASAL 80

Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap

ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15

ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun

dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

V. Pembunuhan

a. Pengertian Pembunuhan

Kejahatan terhadap nyawa (misdrijven het leven) adalah berupa penyerangan

terhadap nyawa orang lain. Kepentingan hukum yang dilindungi dan yang

merupakan obyek kejahatan ini adalah nyawa (leven) manusia. Menurut Leden

Marpaung, menghilangkan nyawa berarti menghilangkan kehidupan pada manusia

yang secara umum disebut Permbunuhan. Tindak pidana ini termasuk delik

materiil (materiale delict), artinya untuk kesempurnaan tindak pidana ini tidak

cukup dengan dilakukannya perbuatan, akan tetapi menjadi syarat juga adanya

akibat dari perbuatan itu. Timbulnya akibat yang berupa hilangnya nyawa orang

atau matinya orang dalam tindak pidana pembunuhan merupakan syarat mutlak.

Kejahatan terhadap nyawa dalam KUHP dapat dibedakan atau dikelompokkan

atas 3 (dua) dasar, yaitu14 :

1) Atas dasar unsur kesalahannya

2) Atas dasar obyeknya (nyawa)

22
Atas dasar unsur kesalahannya ada 2 (dua) kelompok kejahatan terhadap nyawa,

ialah 14

a. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (dolus misdrijven),

adalah kejahatan yang dimuat dalam Bab XIX KUHP, pasal 338 sampai dengan

350 KUHP.

b. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan tidak dengan sengaja (culpose

misdrijven), dimuat dalam Bab XXI (khusus pasal 359).

Sedangkan atas dasar obyeknya (kepentingan hukum yang dilindungi), maka

kejahatan terhadap nyawa dengan sengaja diobedakan dalam 3 (tiga) macam,

yakni 14

a. Kejahatan terhadap nyawa orang pada umumnya, dimuat dalam pasal 338,

339, 340, 344,345.

b. Kejahatan terhadap nyawa bayi pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan,

dimuat dalam pasal 341, 342 dan 343.

c. Kejahatan terhadap nyawa bayi yang masih ada dal am kandungan ibu (janin)

dimuat dalam pasal 347, 348 dan 349.

Jenis-Jenis Pembunuhan 15

1. Pembunuhan (Murder)

Hal ini diatur oleh pasal 338 KUHAP yang bunyinya sebagai berikut: Barang

siapa sedang sengaja menghilangkan nyawa orang dihukum karena bersalah

melakukan pembunuhan dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.

23
Unsur-unsur pembunuhan adalah:

a. Barang siapa: ada orang tertentu yang melakukannya

b. Dengan sengaja: dalam ilmu hukum pidana, dikenal 3 (tiga) jenis bentuk

sengaja (dolus) yakni:

- Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk )).

- kesengajaan sebagai kepastian ( opzet bij mogelijkheids bewustzijn )

Hal ini diatur pasal 339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut:

- kesengajaan sebagai kemungkinan ( opzet bij mogelijkheids bewustzijn atau

Dolus eventualis )

Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahuui oleh kejahatan dan yang

dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, atau jika tertangkap

tangan, untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau

supaya barang yang didapatinya dengan melawan hukum tetap ada dalam

tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup, atau penjara

sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

Rumusan pasal 339 KUHP diatas apabila diurai unsur-unsurnya adalah seperti di

bawah ini :

a. Unsur pembunuhan dalam pasal 338 KUHP baik unsur yang subyektif (dengan

sengaja) maupun obyektif (menghilangkan nyawa orang lain)

b. Unsur diikuti, disertai atau didahului oleh tindak pidana lain

c. Unsur dengan maksud.

24
1. untuk mempersiapkan tindak pidana lain

2. untuk mempermudah pelaksanaan tindak pidana lain, atau

3. dalam hal tertangkap tangan, ditujukan untuk :

a. menghindarkan diri atau peserta lain dari pidana, atau

b. memastikan penguasaan benda yang diperolehnya secara melawan hukum.

2. Pembunuhan dengan Pemberatan

Hal ini diatur Pasal 339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :

pembunuhan yang diikuti, disertai , atau didahului oleh kejahatan dan yang

dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, atau jika

tertangkap tangan, untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya daripada

hukuman , atau supaya barang yang didapatnya dengan melawan hukum

tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup

atau penjara sementara selama lamanya dua puluh tahun.

3. Pembunuhan Berencana

Hal ini diatur oleh pasal 340 KUHP yang beunyinya, sebagai berikut :

Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu menghilangkan

nyawa orang lain dihukum karena salahnya pembunuhan berencana, dengan

hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau penjara sementara selama-

lamanya dua puluh tahun.

Rumusan pada pasal 340 KUHP, diuraikan unsur-unsurnya akan nampak pada

unsur-unsur sebagai berikut :

25
1) Unsur obyektif : menghilangkan atau merampas nyawa pada orang lain:

2) Unsur obyektif

a. Unsur dengan sengaja

b. Unsur dengan rencana terlebih dahulu

Unsur kesengajaan dalam pasal 340 KUHP merupakan kesengajaan dalam arti

luas, yang meliputi :

a. Kesengajaan sebagai tujuan (opzetalsoogmerk)

b. Kesengajaan dengan tujuan yang pasti atau yang merupakan keharusan (opzet

bij zaker heid bewustzinj)

c. Kesengajaan dengan kesadaran akan kemungkinan atau sering disebut (opzet

bij mogelijkheids bewustzijn) atau dolus eventualis atau disebut juga woor

wardelijk opzet.

3. Pembunuhan Bayi oleh Bayinya

Hal ini diatur oleh pasal 341 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: Seorang ibu

yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau

tidak berapa lama sesudah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia sudah

melahirkan anak dihukum karena pembuhnan anak dengan hukuman penjara

selama-lamanya tujuh tahun.

4. Pembunuhan Bayi oleh Ibunya secara Berencana (Kinder Moord)

Hal ini diatur oleh pasal 342 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :

26
Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambil

sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak,

menghilangkan jiwa anaknya itu pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian

dari pada itu dihukum karena membunuh bayi secara berencana dengan hukuman

penjara selama-lamanya sembilan tahun.

5. Pembunuhan atas Permintaan Sendiri

Hal ini diatur pada pasal 3445 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Barang

siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang lain itu sendiri,yang

disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya

dua belas tahun.

Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah

Euthanasia atau mercykilling.

Unsur-unsur pasal 334 KUHP terdiri dari :

a. Unsur menghilangkan atau merampas nya orang lain.

b. Atas permintaan orang itu sendiri

c. Yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati.

6. Penganjuran Agar Bunuh Diri

Hal ini diatur pada pasal 345 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :

Barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya membunuh diri, atau

menolognya dalam perbuatan itu, atau memberi ikhtiar kepadanya, untuk itu,

27
dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun, kalau jadi orangnya

bunuh diri.

7. Pengguguran Kandungan

Kata pengguguran kandungan adalah terjemahan dari kata abortus provocatur

yang dalam kamus kedokteran diterjemahkan dengan: membuat keguguguran.

Pengguguran kandungan diatur dalam KUHP oleh pasal 346, 347, 348, dan 349.

VI. Perkawinan

A Pengertian Perkawinan

Menurut UU No. 1 tahun 1974 dalam pasal 1 mendefinisikan bahwa:

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang

wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah

tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sebagai ikatan lahir, perkawinan merupakan hubungan hukum antara

seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami

istri. ikatan lahir batin ini merupakan hubungan formil yang sifatnya nyata,

baik bagi yang mengikatkan dirinya maupun bagi orang laian atau

masyarakat. Ikatan lahir ini terjadi dengan adanya upacara perkawinan

yakni upacara akad nikah bagi yang Beragama islam.


Sebagai ikatan bathin, perkawinan merupakan pertalian jiwa yang terjalin

karena adanya kemauan yang sama dan ikhlas antara seorang pria dengan

seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri. dalam tahap

28
permulaan, ikatan batin ini diawali dan ditandai dengan adanya

persetujuan dari calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan.


Dalam rumusan perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974

itu tercantum tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga (rumah

tangga) yang bahagia dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan

dilangsungkan bukan untuk sementara atau untuk jangka waktu tertentu

yang direncanakan, akan tetapi untuk seumur hidup atau selama-lamanya,

dan tidak boleh diputus begitu saja. Karena itu, tidak diperkenankan

perkawinan yang hanya dilangsungkan untuk sementara waktu saja seperti

kawin kontrak. Pemutusan perkawinan dengan perceraian hanya

diperbolehkan dalam keadaan yang sangat terpaksa.


Selanjutnya, dalam pengertian perkawinan itu juga dinyatakan dengan

tegas bahwa pembentukan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan

kekal itu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, ini berarti bahwa

perkawinan harus didasarkan pada agama dan kepercayaan masing-

masing.

B Syarat-Syarat dan Momentum Sahnya Perkawinan

Syarat-syarat melangsungkan perkawinan diatur dalam Pasal 6 sampai

dengan Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974. Didalam ketentuan itu

ditentukan dua syarat untuk dapat melangsungkan perkawinan, yaitu

syarat intern dan syarat ekstern.


Syarat intern yaitu syarat yang menyangkut pihak yang akan

melaksanakan perkawinan. Syarat-syarat intern meliputi:


a) Persetujuan kedua belah pihak
b) Izin dari kedua orang tua apabila belum mencapai umur 21 tahun

29
c) Pria berumur 19 tahun dan wanita 16 tahun pengecualiannya yaitu ada

dispensasi dari pengadilan atau camat atau bupati


d) Kedua belah pihak tidak dalam keadaan kawin
e) Wanita yang kawin untuk kedua kalinya harus lewat masa tunggu

(iddah). Bagi wanita yang putus perkawinannya karena perceraian, masa

iddahnya 90 hari dan karena kematian 130 hari.


Syarat ekstern yaitu syarat yang berkaitan dengan formalitas-formalitas

dalam pelaksanaan perkawinan. Syarat-syarat itu meliputi:


a) Harus mengajukan laporan ke Pegawai Pencatat Nikah, Talak, dan

Rujuk
b) Pengumuman, yang ditandatangani oleh Pegawai Pencatat
Syarat Formil adalah syarat yang berkaitan dengan formalitas-formalitas

dalam pelaksanaan perkawinan. Syarat ini dibagi dalam dua tahapan.

Syarat-syarat yang dipenuhi sebelum perkawinan dilangsungkan adalah:


a) Pemberitahuan akan dilangsungkannya perkawinan oleh calon

mempelai baik secara lisan maupun tertulis kepada Pegawai Pencatat di

tempat perkawinan akan dilangsungkan,dalam jangka waktu sekurang-

kurangnya 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan (Pasal 3 dan 4

PP No. 9 Tahun 1975).


b) Pengumuman oleh pegawai pencatat dengan menempelkannya pada

tempat yang disediakan di Kantor Pencatatan Perkawinan. Maksud

pengumuman tersebut adalah untuk memberitahukan kepada siapa saja

yang berkepentingan untuk mencegah maksud dari perkawinan tersebut

jika ada Undang-Undang yang dilanggar atau alasan-alasan tertentu.

Pengumuman tersebut dilaksanakan setelah Pegawai Pencatat meneliti

syarat-syarat dan surat-surat kelengkapan yang harus dipenuhi calon

mempelai.

C Tujuan Perkawinan

30
Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan

kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu suami istri saling

membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan

kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan

materiil.
Dilihat dari tujuan perkawinan, maka perkawinan itu :
a) Berlangsung seumur hidup
b) Cerai diperlukan syarat-syarat yang ketat dan merupakan jalan terakhir
c) Suami-istri membantu untuk mengembangkan diri
Suatu keluarga dikatakan bahagia apabila terpenuhi kebutuhan pokok,

yaitu kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Yang termasuk kebutuhan

jasmaniah seperti papan, sandang, pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Sedangkan kebutuhan rohaniah contohnya adanya seorang anak yang

berasal dari darah daging mereka.

D Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan

Pencegahan perkawinan merupakan upaya untuk menghalangi suatu

perkawinan antara calon pasangan suami-istri yang tidak memenuhi syarat

untuk malangsungkan perkawinan.Tujuan pencegahan hukum perkawinan

adalah untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum islam

dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencegahan perkawinan

dapat dilakukan apabila calon suami istri yang akan melangsungkan

perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan

perkawinan menurut hukum islam dan peraturan perundang-undangan


Pencegahan perkawinan diatur dalam ketentuan berikut ini, yaitu:
Berdasarkan pasal 13 UU perkawinan No. 1 Tahun 1974 suatu perkawinan

dapat dicegah berlangsungnya apabila ada pihak yang tidak memenuhi

syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

31
Syarat-syarat perkawinan yang dapat dijadikan alasan untuk adanya

pencegahan perkawinan disebutkan dalam Pasal 20 UU Perkawinan No. 1

Tahun 1974, yaitu:


1) Pelanggaran terhadap Pasal 7 Ayat (1) yaitu menegani batasan umur

untuk dapat melangsungkan perkawinan


2) Melanggar Pasal 8 yaitu mengenai larangan perkawinan
Orang yang dapat melakukan pencegahan perkawinan adalah:
a) Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah
b) Saudara
c) Wali nikah
d) Wali pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak

yang bersangkutan
e) Ayah kandung
f) Suami atau istri yang masih terkait dalam perkawinan dengan salah

seorang calon istri atau calon suami yang akan melangsungkan perkawina
g) Pejabat yang ditunjuk untuk mengawasi perkawinan.

Tata cara pencegahan perkawinan dikemukakan berikut ini:


1) Orang yang berwenang untuk melakukan pencegahan itu harus

mengajukan permohonan pencegahan perkawinan ke pengadilan di

wilayah hukum tempat akan dilangsungkannya perkawinan (Pasal 17

Nomor 1 Tahun 1974).


2) Orang tersebut harus memberitahukan kepada pegawai pencatat nikah.

Pegawai pencatat nikah inilah yang akan memberitahukan adanya

permohonan pencegahan perkawinan tersebut.


3) Apabila hakim telah menerima permohonan itu, maka dalam waktu

yang tidak terlalu lama pengadilan memutuskan permohonan percegahan

tersebut. Putusan itu berisi menolak atau menerima permohonan

pencegahan tersebut.
4) Dengan adanya putusan ini, maka Pegawai Pencatat Nikah dapat

melangsungkan perkawinan tersebut.

32
Pembatalan perkawinan juga diatur dalam Pasal 70 sampai dengan Pasal

76 Inpres Nomor 1 Tahun 1991. Di dalam ketentuan itu disebutkan bahwa

pembatalan perkawinan dibedakan menjadi dua macam, yaitu : (1)

Perkawinan batal, dan (2) Perkawinan yang dapat dibatalkan. Perkawinan

batal adalah suatu perkawinan yang dari sejak semula dianggap tidak ada.

Perkawinan batal apabila:


1) Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad

nikah karena sudah mempunyai empat orang istri, sekalipun salah satu dari

keempat istrinya itu dalam iddah talak raji


2) Seseorang menikahi bekas istrinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak

olehnya, kecuali bekas istrinya tersebut pernak menikah dengan pria lain

yang kemudian bercerai lagi bada al dukhul dari pria tersebut dan telah

habis masa iddahnya


3) Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan

darah semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi

perkawina menurut Pasal 8 UU Nomor 1 Tahun 1974, yaitu


4) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke

atas
5) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara

saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang

dengan saudara nenek berhubungan semenda yaitu mertua, anak tiri,

menantu, dan ibu/bapak tiri


6) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara

susuan, dan bibi/paman susuan


7) Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri

atau istri-istrinya.
Perkawinan yang dapat dibatalkan adalah suatu perkawinan yang telah

berlangsung antara calon pasangan suami-istri, namun salah satu pihak

33
dapat meminta kepada pengadilan supaya perkawinan itu dibatalkan. Suatu

perkawinan dapat dibatalkan apabila:


a) Suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama
b) Perempuan yang masih dikawini ternyata kemudian diketahui masih

menjadi istri orang lain


c) Perempuan yang dikawini masih dalam iddah dari suami
d) Perkawinan melanggar batas umur perkawinan sebagaimana yang

ditatapkan dalam Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974


e) Perkawinan dilangsungkan tanpa walu atau dilaksanakan oleh wali yang

tidak berhak;
f) Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.
Permohonan pembatalan perkawinan diajukan ke pengadilan yang

meliputi wilayah tempat tinggal suami atau istri atau tempat perkawina

dilangsungkan. Batalnya suatu perkawinan dimulai sejak putusan

pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku sejak saat

berlangsungnya perkawinan. Batalnya perkawina tidak akan memutuskan

hunungan hukum antara anak denga orang tuanya.

E Larangan Perkawinan

Larangan untuk melangsungkan perkawinan diatur dalam Pasal 8 sampai

dengan Pasal 12 UU Nomor 1 Tahun 1974. Ada larangan perkawinan

antara laki dan wanita, yaitu:


1) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun

keatas
2) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping, yaitu antara

saudara, antara seseorang dengan saudara orang tua dan antara seorang

dengan saudara neneknya


3) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu, dan ibu/bapak

tiri

34
4) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara

susuan, dan bibi/paman sususan


5) Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan

dari istri, dalam hal seseorang suami beristri lebih dari seorang
6) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang

berlaku dilarang kawin


7) Masih terikat tali perkawinan dengan orang lain
8) Antara suami-istri yang telah cerai, kawin lagi satu dengan yang lain

dan bercerai untuk kedua kalinya, mereka tidak boleh melangsungkan

perkawinan lagi, sepanjang hukum masing-masing agamanya dan

kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.


Di dalam KUH Perdata juga diatur tentang larangan perkawinan antara

calon pasangan suami istri. Larangan untuk kawin diatur didalam Pasal 30

sampai dengan Pasal 33 KUH Perdata. Ada tiga larangan untuk

melangsungkan perkawinan, yaitu:


a) Larangan kawin dengan orang yang sangat dekat dalam kekeluargaan

sedarah dan karena perkawinan


b) Larangan kawin karena zina
c) Larangan kawin untuk memperbarui perkawinan setelah adanya

perceraian, jika belum lewat waktu satu tahun.

F Perjanjian Kawin

Perjanjian kawin diatur dalam pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974 dan pasal

139 sampai dengan pasal 154 KUH Perdata. Perjanjian kawin adalah

perjanjian yang dibuat oleh calon pasangan suami-istri sebelum atau pada

saat perkawinan dilangsungkan untuk mengatur akibat perkawinan

terhadap harta kekayaan mereka. Perjanjian kawin dilakukan sebelum atau

35
pada saat akan dilangsungkan perkawinan. Perjanjian kawin itu harus

dibuatkan dalam bentuk akta notaries. Tujuannya adalah:


a )Keabsahan perkawinan
b) Untuk mencegah perbuatan yang tergesa-gesa, oleh karena akibat dari

perkawina itu untuk seumur hidup


c) Demi kepastian hukum
d) Alat bukti yang sah
e) Mencegah adanya penyelundupan hukum

G Akibat Perkawinan

Di dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan

perkawinan, terdapat tiga akibat perkawinan, yaitu:


1) Adanya hubungan suami-istri
2) Hubungan orang tua dengan anak
3) Masalah harta kekayaan
Hubungan hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban antara suami-istri

sejak terjadi perkawinan. Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam pasal

30 sampai dengan pasal 34 UU Nomor 1 Tahun 1974. Hak dan kewajiban

suami-istri menurut UU Nomor 1 Tahun 1974, yaitu:


a) Suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah

tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat (pasal 30 UU

Nomor 1 Tahun 1974)


b) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan

suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup masyarakat

(pasal 31 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974)


c) Suami-istri berhak untuk melakukan perbuatan hukum (pasal 31 ayat (2)

UU Nomor 1 Tahun 1974)


d) Suami istri wajib mempunyai tempat kediaman yang tetap (Pasal 32

ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974)

36
e) Suami-istri wajib saling mencintai, hormat-menghormati, setia dan

member bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain (Pasal 33 UU

Nomor 1 Tahun 1974)


f) Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu

keperluan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya (Pasal 34 ayat (1)

UU Nomor 1 Tahun 1974)


g) Istri wajib mengatur utusan rumah tangga sebaik-baiknya (Pasal 34 ayat

(2) UU Nomor 1 Tahun 1974).


Hak dan kewajiban antara orang tua dengan anak diatur dalam Pasal 45

sampai dengan Pasal 49 UU Nomor 1 Tahun 1974. Hak dan kewajiban

orang tua dan anak adalah sebagai berikut:


a) Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-

baiknya. Kewajiban orang tua berlaku sampai anak itu kawin atau dapat

berdiri sensiri (Pasal 45 ayat (1) dan ayat (2) UU nomor 1 Tahun1974)
b) Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang

baik (Pasal 46 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974)


c) Anak wajib memelihara dan membantu orang tuanya, manakala sudah

tua (Pasal 46 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974)


d) Anak yang belum dewasa, belum pernah melangsungkan perkawinan

ada dibawah kuasa orang tua (Pasal 47 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974)
e) Orang tua mewakili anak dibawah umur dan belum pernah kawin

mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan (Pasal

47 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974)


f) Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan

barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berusia 18 tahun

atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali kepentingan si

anak menghendakinya (Pasal 48 UU Nomor 1 Tahun 1974).


Harta benda dalam perkawinan diatur dalam pasal 35 sampai dengan pasal

37 UU Nomor 1 Tahun 1974. Didalam ketentuan itu dibedakan antara

37
harta bersama dan harta bawaan. Harta bersama adalah harta yang

diperoleh selama perkawinan, sedangkan yang diartikan dengan harta

bawaan masing-masing suami-istri adalah harta yang diperoleh masing-

masing sebagai hadiah atau warisan.


Harta warisan itu berada di bawah penguasaan masing-masing pihak,

sepanjang para pihak tidak menentukan lain (Pasal 35 ayat (2) UU Nomor

1 Tahun 1974). Apabila perkawinan antara suami-istri putus karena

perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Harta

bersama itu dibagi sama rata antara suami-istri.

H Putusnya Perkawinan

Putusnya perkawinan adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina

oleh pasangan suami-istri, yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti

kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan.


Putusnya perkawinan karena kematian adalah berakhirnya perkawinan

yang disebabkan salah satu pihak baik suami maupun istri meninggal

dunia.
Perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau

tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan. Putusnya perkawinan karena

perceraian dapat terjadi karena dua hal, yaitu:


a) Talak, atau
b) Berdasarkan gugatan perceraian.
Talak adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi

salah satu sebab putusnya perkawinan. Gugatan perceraian adalah

perceraian yang disebabkan adanya gugatan lebih dahulu oleh salah satu

pihak, khususnya istri ke pengadilan.

38
Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah

pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan

kedua belah pihak (Pasal 39 Ayat 1). Maksud pasal ini adalah untuk

mempersulit perceraian, mengingat tujuan perkawinan adalah membentuk

keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan

yang Maha Esa.

I Akibat Putusnya Perkawinan

Bila perkawinan putus karena perceraian, bekas suami-istri yang

bersangkutan yang merupakan ayah dan ibu dari anak-anaknya, tetap

berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata untuk

kepentingan anaknya.
Bila terjadi perselisihan mengenai anak-anak tersebut, pengadilan

memberikan keputusan ikut bersama siapa anak-anak itu (Pasal 1 ayat 1).
Meskipun anak-anak itu ikut bersama ibunya, tetapi ayahnya bertanggung

jawab sepenuhnya atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak-

anaknya. Kecuali bilamana ayah dalam kenyataan tidak dapat memenuhi

kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul

biaya tersebut (Pasal 4 ayat 2).


Pengadilan dapat juga mewajibkan bekas suami untuk memberi biaya

penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istrinya

(Pasal 41 ayat 3).

Kemudian mengenai harta bersama akibat putusya perkawinan, sebagaimana telah

diterangkan, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 pada pasal 37 menyerahkan

39
pengaturannya kepada masing-masing yaitu hukum agama, hukum adat dan

hukum-hukum lainnya.

40
BAB III

PENUTUP

Peranan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat sering dihadapkan pada kenyataan bahwa bantuan mereka juga

diperlukan oleh kalangan penegak hukum dalam memeriksa korban maupun

memberikan keterangan untuk kepentingan hukum dan peradilan.

Pembuktian merupakan tahap paling menentukan dalam proses

persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan

terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana

yang didakwakan penuntut umum. Oleh karena pembuktian merupakan bagian

dari proses peradilan pidana, maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada

Hukum Acara Pidana yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.

Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan: Hakim tidak

boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-

kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak

pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang melakukannya. Dari

bunyi pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 kiranya dapat dipahami

bahwa pemidanaan baru boleh dijatuhkan oleh hakim apabila : Terdapat

sedikitnya dua alat bukti yang sah.

Dua alat bukti tersebut menimbulkan keyakinan hakim tentang telah

terjadinya perbuatan pidana. Dan perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh

terdakwa. Alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat 1, Undang-Undang nomor 8

41
tahun 1981 adalah : Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Petunjuk, dan

Keterangan terdakwa.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. Amir,Amri.2007.Ilmu Kedokteran Forensik.Medan:Bagian Ilmu

Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran USU


2. Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum Et Repertum. Badan Penerbit

Universitas Diponegoro. Semarang : 2003.


3. Aji,Jati Pulung.2008.Peranan Dokter Forensik dalam Praktek Peradilan

Perkara Pidana.Purworejo
4. Soekanto S, Herkutanto, Sampurna B. Visum et repertum teknik

penyusunan dan pemerian. Jakarta: IND-HILL-CO, 1997


5. Herkutanto. Peningkatan kualitas pembuatan visum et repertum (VeR)

kecederaan di rumah sakit melalui pelatihan dokter unit gawat darurat

(UGD). JPMK. 2005;8(3):163-9


6. Afandi D. Visum et repertum pada korban hidup. Jurnal Ilmu Kedokteran.

2009;3(2):79-84
7. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S. Ilmu Kedokteran Forensik.

Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia, 1997
8. Idries, AM, 2009. Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik Bagi

Praktisi Hukum Jakarta: Sagung Seto


9. Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan. 1995: 143 55


10. Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi

Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997: 256 69


11. Sampurna,Budi.2009.Malpraktek Kedokteran Pemahaman Dari Segi

Kedokteran dan Hukum.www.freewebs.com


12. Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Edisi 29. Jakarta : EGC
13. Wahyuningsih, H.P. Hera, A.Y. 2005. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta

: Fitrayama
14. M. Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum pIdana, Ide Dasar Double

Track Sistem Implementasinya, (Jakarta: Raja Grafika Persada, 2003)

43
15. Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2002)


16. Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh :

Pemberantasan dan Prevensinya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000)


17. Tongat, Hukum Pidana Materiil Tinjauan Atas Tindak Pidana Terhadap

Subyek Hukum Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta:

Djambatan, 2003).
18. Mertokusumo, sudikno. Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW) (Jakarta:

Sinar Grafika, 2002)


19. Komariah. Hukum Perdata (Malang: UPT Penerbitan Universitas

Muhammadiyah Malang, 2002.


20. Saleh, K. Wantjik. Hukum Perkawinan Indonesia (Jakarta: Ghalia

Indonesia, 1976)
21. Syahrani, Riduan. Seluk-Beluk Asas-asas Hukum Perdata (Banjarmasin:

PT. Alumni, 2006)

44