Anda di halaman 1dari 8

Akuntansi Partai Politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat

A.Akuntansi Partai Politik

1. Mengenal Partai Politik


Menurut guru besar hukum UI, Prof. Miriam Budiardjo, Partai Politik adalah suatu
kelompok yang terorganisir dimana para anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan
cita-cita yang sama. Tujuannya ialah memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan
politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan kebijakannya. Secara khusus
pengertian Partai Politik disebutkan dalam UU RI No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik,
yaitu Partai Politik adalah organisasi poliitik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara
Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk
memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan
umum.
2. Fungsi dan Tujuan Partai Politik
Tujuan adanya Partai Politik adalah untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan guna
melaksanakan dan mewujudkan program-program yang telah mereka susun sesuai dengan
ideologi tertentu secara konstitusional.Dalam negara demokrasi, Partai Politik
menyelanggarakan beberapa fungsi yang akan dijelaskan dibawah ini, yaitu: Partai Politik
sebagai Sarana Komunikasi Politik,Partai Politik sebagai Sarana Sosialisasi Politik, Partai
Politik sebagai Sarana Rekrutmen Politik,dan Partai Politik sebagai Sarana Pengatur Konflik.
3. Penyusunan Pelaporan Keuangan dalam Partai Politik
Penyusunan Laporan Keuangan Tahunan Partai Politik mengacu pada PSAK
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No. 45 tentang akuntansi untuk organisasi nirlaba,
yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan terdiri atas laporan berikut ini:
a. Laporan Posisi Keuangan.
b. Laporan Aktivitas.
c. Laporan Perubahan dalam Aktiva Neto/Ekuitas.
d. Laporan Arus Kas.
e. Catatan atas Laporan Keuangan.
Selain mengacu pada PSAK No. 45, penyusunan laporan keuangan Partai Politik juga
terikat pada ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam perundang-undangan RI mengenai
Partai Politik dan Pemilu, seperti UU No. 31 tahun 2002 tentang Partai Politik dan UU No.
12 tahun 2003 tentang Pemilu. Ketentuan teknis tentang pedoman penyusunan laporan
keuangan untuk Partai Politik terdapat dalam SK KPU No. 676 tahun 2003 tentang Tata
Administrasi Keuangan dan Sistem Akuntansi Keuangan Partai Politik, serta Pelaporan Dana
Kampanye Peserta Pemilihan Umum. Keputusan KPU No. 676 Tahun 2003 tentang Tata
Administrasi Keuangan dan Sistem Akuntansi Keuangan Partai Politik serta Pelaporan Dana
Kampanye Peserta Pemilu, dapat di unduh pada halaman Download kategori Standar dan
Peraturan.
4. Bentuk Pengawasan dari Pemerintah Terhadap Partai Politik
Pengawasan dari pemerintah terhadap partai politik sendiri dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a. Melakukan penelitian secara substantif dan administratif terhadap akta pendirian Partai
Politik.
b. Melakukan pengecekan terhadap kepengurusan Partai Politik yang tercantum dalam akta
pendirian Partai Politik dan kepengurusan.
c. Melakukan pengecekan terhadap nama, lambang, dan tanda gambar Partai Politik.
d. Menerima laporan perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, nama, lambang,
dan tanda gambar Partai Politik, pembubaran/ penggabungan Partai Politik.
Dan pengawasan atas Partai politik di Indonesia di lakukan oleh:
a. Departemen Kehakiman
b. Komisi Pemilihan Umum
c. Departemen Dalam Negeri
5. Akuntabilitas Organisasi Partai Politik
Pertanggungjawaban keuangan organisasi Partai Politik, sebagai suatu entitas yang
menggunakan dana publik yang besar, harus transparan sehingga pertanggungjawaban
keuangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi. Pertanggungjawaban keuangan
organisasi Partai Politik, sebagai suatu entitas yang menggunakan dana publik yang besar,
harus transparan sehingga pertanggungjawaban keuangan merupakan hal yang tidak dapat
ditawar lagi. Sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-undang Partai Politik dan UU
Pemilu, seluruh sumber daya keuangan yang digunakan harus dipertanggungjawabkan
kepada para konstituennya.
6. Bentuk Akuntabilitas Dana Kampanye
Akuntantabilitas yang tinggi dapat meminimalisir kecurigaan penyalahgunaan dana dan
mengantisipasi munculnya konflik. Kebutuhan untuk menciptakan good political party
governance dirasakan sangat mendesak, terutama bagi para partai politik peserta pemilihan
umum. Dalam setiap tahapan Pemilu, diselenggarakan kampanye. Untuk pemilu legislatif,
pelaporan dana kampanye dilakukan oleh Partai Politik yang menjadi peserta Pemilu tahun
2004. Pada Pemilu Presiden tahun 2004, pelaporan dana kampanye dilakukan tim sukses
masing-masing kandidat presiden dan wakil prediden. Sedangkan pelaporan dana kampanye
untuk PILKADA dilakukan oleh tim sukses kandidat kepala daerah di tiap daerah.
Beberapa peraturan perundang-undang dibawah ini yang mengatur mengenai Pelaporan Dana
Kampanye Partai Politik:
a. Peraturan KPU No 1 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Partai
Politik Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, serta
Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah Tahun 2009
b. Peraturan KPU No 22 Tahun 2009 tentang Pedoman Audit Laporan Penerimaan dan
Pengeluaran Dana Kampanye Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Serta Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah Tahun
2009
c. Peraturan KPU No 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Peserta
Pemilihan Umum dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden Tahun 2009
d. Peraturan KPU No 55 Tahun 2009 tentang Pedoman Audit Laporan Penerimaan dan
Penggunaan Dana Kampanye Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden serta Tim
Kampanye dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
e. Peraturan KPU No 6 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Peserta
Pemilihan Umum Dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah
f. Peraturan KPU No 7 Tahun 2010 tentang Pedoman Audit Laporan Dana Kampanye
Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Dalam Pemilihan Umum
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
7. Kemana dan Kapan Dana Kampanye Organisasi Partai Politik itu dilaporkan
Dalam pasal 79 UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu disebutkan bahwa seluruh
laporan dana kampanye peserta Pemilu, baik penerimaan maupun pengeluaran,, wajib
diserahkan ke akuntan publik terdaftar selambat-lambatnya 60 hari sesudah hari pemungutan
suara. Sementara itu, akuntan publik wajib menyelesaikan audit selambat-lambatnya 30 hari
kemudian dan hasilnya dilaporkan ke KPU selambatnya tujuh hari sesudah diaudit.
8. Audit Dana Kampanye Partai Politik
a. Program Audit Dana Kampanye Partai Politik
Sebagaimana diatur dalam Pasal 9 huruf (j) UU No. 31 tahun 2002, setiap Partai
Politik wajib memiliki rekening khusus dana kampanye, yang secara khusus menampung
dana kampanye Pemilu yang dipisahkan dari rekening untuk keperluan lain. Menurut SK
KPU No. 676 tahun 2003, setiap Partai Politik peserta pemilu wajib melaporkan rekening
khsus, seperti nomor rekening khusus dana kampanye Pemilu, nama, serta alamat bank.
Kemudian laporan besarnya saldo awal serta sumber penerimaan saldo awal tersebut
yang berasal dari partai, sumbangan perorangan, dan swasta dan masih banyak lagi.
Untuk donasi, wajib disebutkan bentuknya, identitas donatur, maupun penerimanya.
b. Prosedur Audit
Prosedur audit sesuai dengan prosedur yang disepakati atas Laporan Dana
Kampanye Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden ataupun tim kampanye untuk
periode sebelum ditetapkannya Calon Presiden dan Wakil Presiden sampai dengan dua
hari sebelum pemungutan suara adalah sebagai berikut:
1) Penerapan prosedur atas pembukaan rekening khusus dana kampanye.
2) Penerapan prosedur atas saldo awal penerimaan kas.
3) Penerapan prosedur atas sumbangan dari dana pasangan calon presiden dan wakil
presiden.
4) Penerapan prosedur atas penerimaan sumbangan Partai Politik dan/atau gabungan
Partai Politik.
5) Penerapan prosedur atas penerimaan sumbangan perorangan.
6) Penerapan prosedur atas sumbangan perusahaan atau badan usaha.
7) Penerapan prosedur atas penerimaan nonkas dari pasangan calon presiden dan wakil
presiden.
8) Penerapan prosedur atas penerimaan sumbangan nonkas dari perorangan.
9) Penerapan prosedur atas sumbangan nonkas dari perusahaan atau badan usaha.
10) Penerapan prosedur atas penerimaan nonkas dari penghasilan lain-lain.
11) Penerapan prosedur atas pengeluaran kas saldo awal.
12) Penerapan prosedur atas pengeluaran kas operasi.
13) Penerapan prosedur atas pengeluaran kas lain-lain.
14) Penerapan prosedur atas pengeluaran nonkas - saldo awal.
15) Penerapan prosedur atas pengeluaran nonkas operasi.
16) Penerapan prosedur atas pengeluaran nonkas modal (aktiva tetap).
17) Penerapan prosedur atas pengeluaran nonkas lain-lain.
18) Penerapan prosedur atas saldo dana kampanye.

B. Akuntansi Lembaga Swadaya Masyarakat

1. PSAK NO. 45 TENTANG STANDAR AKUNTANSI UNTUK ENTITAS NIRLABA


Dasar tuntutan akuntabilitas, yang dalam hal ini pertanggungjawaban keuangan
terhadap segala aktivitas pada semua organisasi LSM adalah PSAK No. 45 mengenai
pelaporan keuangan organisasi nirlaba. Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan
organisasi bisnis. Dimana perbedaan utama yang mendasar adalah cara organisasi itu
memperoleh sumber dana yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas
operasionalnya. Organisasi itu memperoleh sumber daya dari lembaga donor dan para
penyumbang lainnya. Jadi dalam organisasi nirlaba, transaksi yang jarang atau tidak akan
pernah terjadi dalam organisasi bisnis manapun akan muncul. Namun, dalam praktek
orgabisasi nirlaba, berbagai bentuk sulit dibedakan dengan organisasi bisnis pada umumnya.
Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba, dalam hal ini LSM, memiliki
kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan organisasi bisnis, yakni untuk menilai:
a) Jasa yang diberikan oleh LSM dan kemampuannya untuk terus memberikan jasa
tersebut.
b) Cara pengelolah pelaksaan dan pertanggungjawabannya.
c) Aspek kinerja pengelola.
a. Metode pencatatan akrual
Tujuan dari pelaporan keuangan LSM adalah menyediakan informasi yang berguna
untuk pengambilan keputusan, disamping untuk menunjukan akuntabilitas suatu organisasi
terhadap sumber daya terpecaya dengan:
1) Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya
keuangan.
2) Menyediakan informasi mengenai bagaimana organisasi LSM menadai aktivitasnya dan
memenuhi persyratan kasnya.
3) Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi kemampuan organisasi LSM
untuk menandai aktivitasnya dana untuk memenuhi kewajiban secara komitmennya.
4) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan suatu organisasi LSM dan
perubahan di dalamnya.
5) Menyediakan informasi menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja
organisasi LSM dari segi biaya jasa, efisiensi dan pencapaian tujuan.

b. Laporan keuangan yang dihasilkan


Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi
1) laporan posisi keuangan pada akhir periode laporan,
2) laporan aktivitas,
3) laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan.
c. Unsur-unsur laporan keuangan:
1) Posisi keuangan
2) Aktiva
3) Kewajiban
4) Ekuitas
5) Kinerja
6) Penghasilan
7) Beban
d. Karakteristik kualitasti laporan keuangan LSM :
1) Dapat dipahami
2) Relevan
3) Materialitas
4) Keandalan atau realibilitas
5) Penyajian judul
6) Substansi mengungguli bentuk
7) Netralitas
8) Pertimbangan sehat
9) Kelengkapan
10) Dapat dibandingkan
2. PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI BIAYA LSM
a. DEFINISI AKUNTANSI BIAYA LSM
Akuntansi mendefinidsikan biaya sebagai sumber daya yang dikorbankan
untuk mencapai tujuan tertentu. Pengorbanan ini biasanya di ukur sebagai jumlah
moneter yang harus di bayarkan untuk mendapatkan bararang dan jasa. Sedangkan
akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolonga, peringkasan, dan penyajian
biaya pembuatan produk atau jasa serta penjualannya dengan cara-cara dan penafsiran
terhadapnya. Proses akuntansi biaya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai
dalam organisasi LSM

b. SIKLUS AKUNTANSI BIAYA LSM


Siklus akuntansi biaya lsm sangat dipengaruhi oleh siklus kegiatan lsm tersebut.
Siklus kegiatan lsm dimulai dengan pemebelian barang atau peralatan dan jasa berdasarkan
kegiatan program yang telah ditentukan. Tujuan akuntansi biaya adalah untuk menyajikan
informasi biaya yang telah digunakan untuk membeli barang atau peralatan serta pelaksaan
program LSM tersebut.
1) KLASIFIKASI BIAYA LSM
Proses dan sistematika akuntansi biaya dapat dipecahkan melalui rincian tahap
sebagai berikut:
a) Pemahaman mengenai pengertian biaya,
b) Klasifikasi dan identifikasi biaya yang terhjadi di LSM ke dalam katagori tertentu
dengan pendekatan ABC sistem.
c) Pembuatan konsep perhitungan biaya baru yang akurat dan informative.
d) Pensimulasian aplikasi model perhitungan biaya
2) ANALISIS BIAYA LSM
a) ANGGARAN LSM
Anggaran dapat diinterpretasikan sebagai paket pernyataan perkiraan
penerimaan dan pengeluaran yang diharapkan akan terjadi selama satu atau beberapa
periode mendatang.
b) Prosedur rencana anggaran biaya (RAB)
Pertama buatlah daftar rincian biaya dengan akurat. Kemudian pisah-pisahkan
menjadi item-item yang berbeda, seperti: gaji, biaya sewa, material, transportasi,
komunikasi, peralatan, pelatihan, dan publikasi. Perhitungan lebih detail harus ada,
jika donaturnya memintanya, dan memasukan biaya operasional dalam proposal
proyek
c) Biaya standar
Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yaitu jumlah biaya yang
seharusnya dikeluarkan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan asumsi kondisi
ekonomi, efisiensi, dan factor-faktor lainnya.
d) Manfaat biaya standar
Biaya standar akan membantu penyusunan anggaran belanja program atau
kegiatan bagi lembaga yang bersangkutan ini berarti biaya standar sangat berpengaruh
terhadap proses pengambilan kebijakan, pengelolah lembaga, khususnya dalam proses
penganggaran.
e) Analisis biaya volume laba pada LSM
Sebagai lembaga non profit, LSM tidak mengenal istilah laba. Namun dalam hal ini
analisis biaya volume laba atau Cost Volume Profit analisis (CVP analysis)
digunakan untuk membantu LSM agar tidak mengalami masalah biaya dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan program.
c.LAPORAN BIAYA LSM
Dalam siklus pengendalian manajemen organisasi sector public, fase setelah
penganggaran adalah pelaksanaan dan penganggaran. Laporan buaya LSM dirancang
untuk melakukan apa yang sedang terjadi dengan biaya pelaksaan kegiatan LSM. Namun
beberapa laporan tidak selalu mengarah pada kegiatan. Informasi ini berisi laporan yang
berasal dari catatan akuntansi berupa penerimaan dan pembiayaan

3. SIKLUS AKUNTANSI KEUANGAN LSM


a. Pengertian siklus akuntansi
Siklus akuntansi adalah suatu proses penyedia laporan keuangan organisasi selama
suatu periode tertentu. Siklus akuntansi dapat dibagi menjadi pekerjaan yang dilakukan
selama periode tersebut, yaitu penjurnalan akuntansi dan pemindahbukuan kedalam buku
besar, serta penyiapan laporan keuangan pada akhir peride. Pekerjaan yang dilakukan pada
akhir periode adalah mempersiapkan akun untuk mencatat transaksi-transaksi pada periode
selanjutnya. Banyaknya langkah yang harus dilakukan pada akhir periode secara tidak
langsung menunjukan bahwa sebagian besar pekerjaan dilakukan pada bagian akhir.
Walaupun demikian, pencatatan dan pemindahbukuan selama periode tersebut membutuhkan
waktu lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaan di akhir periode.
Gambar Siklus Akuntansi

Laporan Keuangan

Perhitung
an
anggaran
Penutu
pan
Nota
perhitung
Transaksi Buku Kertas an Nerca
besar kerja anggaran saldo
pembantu setelah
kas penutupa
Bukti
Neraca n
Buku Neraca
besar saldo Pembalika
pembantu Surplu n
Jurnal Kertas s (optional)
ALUR PROSES SIKLUS AKUNTANSI kerja /devisit

Proses akuntansi Perubah


Penyesuai an
a. Pencatatan dan penggolongan (dalam jurnal)
an ekuitas
b. Peringkasan (dalam
Neraca Buku akun-akun buku besar)
c. Penyajian dalam bentuk laporan keuanga, yaitu laporan posisi keuanga/ neraca,
awal besar Eliminasi Laporan
laporan atus kas, dan laporan aktivitas LSM arus kas

Sumber:
Bastian, Indra, Akuntansi untuk LSM dan Partai Politik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2007
Standar Akuntansi Keuangan Khusus Partai Politik