Anda di halaman 1dari 37

Lembar Pengesahan

No Keterangan Nilai
1 Tujuan Praktikum
2 Tinjauan Pustaka
3 Flowchart
4 Listing Program
5 Hasil
6 Pembahasan
7 Kesimpulan
8 Daftar Pustaka

Semarang, 4 Desember 2016

Asisten Praktikan

Muhammad Iqbal Tias Kusuma Wardani


26020213130075 26020214120001

Mengetahui,
Koordinator Mata Kuliah
Pemodelan Oseanografi

Indra Budi P., S.Si, M.T


NIP.197910032003121002

I. TUJUAN

1. Memahami sifat-sifat penjalaran gelombang pasut di kanal sederhana.


2. Memahami penerapan parameter model dalam kaitannya dengan
stabilitas numerik persamaan tersebut dengan menggunakan metode
eksplisit.

II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Hidrodinamika
Dalam dunia ilmu pengetahuan terdapat tiga sumber acuan informasi
yaitu dari data hasil pengamatan instrument, hasil kajian teoritis dan data
hasil model (Aldrian, 2009). Model dapat dibuat dengan dimensi waktu
dan ruang. Kelebihan utama model adalah dapat memberikan solusi
secara komprehensif dan memberikan visualisasi yang lebih baik untuk
hubungan beberapa parameter yang ada. Kekurangan dari model
biasanya terletak pada resolusi temporal dan spasialnya.
Hidrodinamika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari gerak
fluida, khususnya zat cair yang tidak dapat ditekan yang dipengaruhi oleh
gaya eksternal dan internal. Pemodelan numerik hidrodinamik terdiri dari
data yang diperlukan, pengkonsepan model, metoda elemen hingga
perancangan model elemen hingga pembentukan node. Data yang
diperlukan dalam pemodelan adalah informasi yang memadai untuk
karakterisasi dari jenis aliran yang mungkin dalam sistem (Cahyana,
2005). Data harus tersedia untuk sejumlah area. Data yang diperlukan
terdiri dari data geografik, data aliran, kandungan zat dalam air, syarat
awal, dan untuk kalibrasi dan data untuk menentukan koefisien variable.
Data geografik menggambarkan bentuk sistem. Data aliran
mendefinisikan batas silang dari sistem.
II.2. Model Numerik
Pemodelan numerik hidrodinamik terdiri dari data yang diperlukan,
pengkonsepan model, metoda elemen hingga, perancangan model
elemen hingga dan pembentukan node (elemen). Data yang diperlukan
dalam pemodelan adalah informasi yang memadai untuk karakterisasi dari
jenis aliran yang mungkin dalam sistem. Data harus tersedia untuk
sejumlah area. Data yang diperlukan terdiri dari data geografik, data
aliran, kandungan zat dalam air, syarat awal, data untuk kalibrasi dan data
untuk menentukan koefisien variabel. Data geografik menggambarkan
bentuk sistem. Data aliran mendefinisikan batas silang dari sistem. Data
kandungan zat mendefinisikan masukan kualitas air (Cahyana, 2005).
Model aliran sangat komplek, sehingga perlu dilakukan
penyederhanaan sistem sebanyak mungkin dengan tetap dijaga agar
komponen utama tetap dapat direpresentasikan secara penuh.
Persamaan yang digunakan secara umum adalah waktu transient, tidak
linear dan sangat komplek jika aliran merupakan turbulensi. Persamaan
dapat menjadi lebih komplek karena densitas air dapat bervariasi. Pada
kasus yang paling umum, simulasi juga menyertakan solusi yang simultan
untuk parameter yang mempengaruhi kerapatan, yaitu salinitas dan
temperatur. Jika aliran dipengaruhi oleh densitas, maka aliran
digambarkan secara berlapis-lapis. Jika tidak dipengaruhi oleh densitas,
maka aliran digambarkan secara homogen (Cahyana, 2005).
Dalam pemodelan hidrodinamik, model tiga dimensi (3D) jauh lebih
baik dibanding model dua dimensi (2D), hal ini disebabkan aliran air tidak
konstan terhadap kedalaman. Untuk menentukan mekanisme konseptual
yang terjadi, model numerik dikembangkan untuk memberikan
representasi terbaik untuk kondisi tersebut. Pengembangan model
numerik menggunakan metoda elemen hingga untuk mensimulasikan
keadaan sebenarnya. Metoda elemen hingga menggunakan mata jala
dengan bentuk tak beraturan yang terdiri dari node (simpul) dan elemen
(unsur) (Cahyana, 2005).
II.3. Model Hidrodinamika 1D
Sirkulasi massa air laut dapat dijelaskan dengan model
hidrodinamika. Model hidrodinamika didasarkan pada Hukum Newton II.
Hukum ini menyatakan bila resultan gaya bekerja pada suatu massa fluida
maka fluida tersebut akan mengalami perubahan momentum atau
mengalami perubahan kecepatan (percepatan). Secara umum terdapat
empat jenis gaya yang bekerja pada massa air laut, yaitu gaya gradien
tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, dan gaya friksi per unit massa
(Ramming dan Kowalik, 1980; Pond dan Pickard, 1983; Stewart, 2002).
Hidrodinamika memiliki dua persamaan dasar, yaitu persamaan
kontinuitas dan persamaan momentum. Persamaan hidrodinamika
diturunkan dari Hukum Newton II yang disebut hukum kekekalan
momentum yang menyatakan bahwa perubahan momentum terhadap
waktu sama dengan total gaya yang bekerja. Hukum ini dijabarkan dalam
bentuk persamaan matematika sebagai berikut (Ramming dan Kowalik,
1980):
- komponen x

(1)
- komponen y

(2)
- komponen z

(3)
dimana
= Laplace operator 3 dimensi :

t = variabel waktu (det)

= unit vektor pada sumbu x, y dan z


A = koefisien viskositas Eddy lateral atau koefisien pertukaran
momentum pada arah horizontal
p = tekanan air (kg/m.det2)
g = percepatan gravitasi bumi (m/det2)
= densitas air laut (kg/m3)
k = koefisien viskositas Eddy vertikal atau koefisien pertukaran
momentum arah vertikal

f = parameter coriolis ( f =2 sin

(Budiman, 2013).

II.4. Model Hidrodinamika 1D Sederhana


II.4.1. Persamaan Pembangun
Persamaan hidrodinamika bila dinyatakan secara sederhana
dalam 1D memiliki bentuk:

(4)
Dengan asumsi bahwa gesekan angin dan gesekan dasar diabaikan
serta friksi horizontal dianggap kecil atau diabaikan sehingga suku-
suku ini dapat dihilangkan.
Persamaan kontinuitas 1D dinyatakan dengan

(5)
Dimana u adalah kecepatan sesaat (m/dt), elevasi (m), H=d+
kedalaman terukur (m) konstan terhadap ruang, dan g koefisien
gravitasi bumi (m/dt2) (Budiman, 2013).
II.4.2. Deskritisasi Model
Persamaan hidrodinamika 1 dimensi sederhana (4) dan (5)
dapat dideskritisasi secara eksplisit melalui metode beda hingga
menjadi:

(6)

(7)
dimana (8)
Deskritisasi numerik persamaan hidrodinamika 1 dimensi secara
eksplisit tersebut diatas harus memenuhi kriteria stabilitas Courant-
Freiderichs-Lewy (CFL) sebagai berikut:

(9)
(Budiman, 2013).

II.4.3. Solusi Analitik


Persamaan (1) dan (2) dapat diselesaikan secara analitik
dengan memberikan nilai elevasi secara sinusoidal sebagai berikut:

(10)
sehingga diperoleh solusi analitik kecepatan adalah:
(11)
Kedua solusi analitik tersebut digunakan sebagai nilai awal dan syarat
batas numeric (Budiman, 2013).
II.4.4. Metode Penentuan Nilai Awal dan Syarat Batas
Nilai awal
Pada saat awal di setiap grid secara numerik dapat dituliskan:
saat t=0 (12)

saat t=0 (13)


dimana A adalah amplitudo gelombang dan Co adalah kecepatan
gelombang di perairan dangkal.
Syarat batas
Syarat batas di hilir (di grid ke-0)diberikan elevasi sebagai berikut :

(14)
Sedangkan syarat batas di hulu (di grid ke-imax) diberikan kecepatan
sebagai berikut :

(15)
Kriteria kestabilan
Syarat kestabilan model hidrodinamika 1D sederhana adalah :

(16)
Dimana g = percepatan graviatasi dan H adalah Kedalaman
Maksimum.
(Budiman, 2013).
II.5. Model Hidrodinamika 1D Variasi Topografi
II.5.1. Persamaan Pembangun
Persamaan Hidrodinamika sederhana dalam 1D memiliki
bentuk:

(17)
Dengan asumsi bahwa gesekan angin dan gesekan dasar diabaikan
serta friksi horizontal dianggap kecil atau diabaikan sehingga suku-suku
ini dapat dihilangkan. Persamaan kontinuitas 1D dinyatakan dengan

(18)
dimana u adalah kecepatan sesaat (m/dt), elevasi (m), H=d+
kedalaman terukur (m) konstan terhadap ruang, dan g koefisien
gravitasi bumi (m/dt2 ) (Budiman, 2013).
II.5.2. Deskritisasi Model
Diskritisasi kedua persamaan pembangun (momentum dan
kontinuitas) hidrodinamika 1 dimensi sederhana dengan variasi
topografi melalui metode beda hingga menjadi :

(19)

(20)
dimana dan (8) (21)
Deskritisasi numerik persamaan hidrodinamika 1 dimensi secara
eksplisit tersebut diatas harus memenuhi kriteria stabilitas Courant-
Freiderichs-Lewy (CFL) sebagai berikut :

(22)
(Budiman, 2013).

II.5.3. Solusi Analitik


Persamaan (1) dan (2) dapat diselesaikan secara analitik
dengan memberikan nilai elevasi secara sinusoidal sebagai berikut:

(10)
sehingga diperoleh solusi analitik kecepatan adalah:

(11)
Kedua solusi analitik tersebut digunakan sebagai nilai awal dan syarat
batas numerik (Budiman, 2013).
II.5.4. Metode Penentuan Nilai Awal dan Syarat Batas
Nilai awal
Pada saat awal di setiap grid secara numerik dapat dituliskan:

saat t=0 (12)

saat t=0 (13)


dimana A adalah amplitudo gelombang dan Co adalah kecepatan
gelombang di perairan dangkal.
Syarat batas
Syarat batas di hilir (di grid ke-0)diberikan elevasi sebagai berikut :

(14)
Sedangkan syarat batas di hulu (di grid ke-imax) diberikan kecepatan
sebagai berikut :

(15)
Kriteria kestabilan
Syarat kestabilan model hidrodinamika 1D sederhana adalah :

(16)
Dimana g = percepatan graviatasi dan H adalah Kedalaman
Maksimum.
(Budiman, 2013).
III. FLOWCHART

III.1. Model Hidrodinamika 1D Sederhana


III.2. Model Hidrodinamika 1D Variasi Topografi
IV. LISTING
IV.1. Model Hidrodinamika 1D Sederhana
% Tias Kusuma Wardani_26020214120001_Oseanografi A
% Program Hidrodinamika 1 Dimensi Sederhana

clear all
clc;

g=9.8;
pi=3.14;

P=5000;
T=1800;
A=0.3;
D=10;
dt=2;
T0=150;
dx=100;

C=sqrt(g*D);
k=2*pi/(T0*C);
sigma=2*pi/T0;

L=C*T0;

mmax=P/dx;
nmax=T/dt;

for m=1:mmax
H=D;
Z0(m)=A*cos(k*m*dx);
u0(m)=(A*C/H)*cos(k*((m*dx)+(0.5*dx)));
end

for n=1:nmax
zB(1)=A*cos(sigma*n*dt);

uB(mmax)=(A*C/H)*cos(k*L-sigma*n*dt);

for m=2:mmax-1
uB(m)=u0(m)-(g*(dt/dx)*(Z0(m+1)-Z0(m)));
end

for m=1:mmax

ZB(m)=Z0(m)-(H*(dt/dx)*(uB(m)-u0(m)));

end

nilai_u(n,:)=uB;
nilai_z(n,:)=ZB;

for m=1:mmax
u0(m)=uB(m);
Z0(m)=ZB(m);
end
end

disp(nilai_u);
disp(nilai_z);

figure;
plot(nilai_u(:,2),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_u(:,11),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,21),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,31),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,41),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik U Terhadap Ruang Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','grid=2','grid=11','grid=21','grid=3
1','grid=41');

figure;
plot(nilai_z(:,2),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_z(:,11),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,21),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,31),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,41),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik Zeta Terhadap Ruang Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','grid=2','grid=11','grid=21','grid=3
1','grid=41');

figure;
plot(nilai_u(2,2:mmax-1),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_u(101,2:mmax-1),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(301,2:mmax-1),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(501,2:mmax-1),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_u(701,2:mmax-1),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Waktu');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik U Terhadap Waktu Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','waktu=2','waktu=101','waktu=301','w
aktu=501','waktu=701');

figure;
plot(nilai_z(2,2:mmax-1),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_z(101,2:mmax-1),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(301,2:mmax-1),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(501,2:mmax-1),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_z(701,2:mmax-1),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Waktu');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik Zeta Terhadap Waktu Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','waktu=2','waktu=101','waktu=301','w
aktu=501','waktu=701');

figure;
for n=1:nmax
colorbar
plot(nilai_u(n,2:mmax-1),'ro-','linewidth',2);
grid on
hold on
colorbar
plot(nilai_z(n,2:mmax-1),'bo-','linewidth',2);
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Pergerakan Polutan Hidrodinamika 1 Dimensi Sederhana');
O(m)=getframe(gcf);
grid on
hold off
end

IV.2. Model Hidrodinamika 1D Variasi Topografi


% Tias Kusuma Wardani_26020214120001_Oseanografi A
% Program Hidrodinamika 1 Variasi Topografi

clear all
clc;

g=9.8;
pi=3.14;

P=5000;
T=1800;
A=0.3;
D1=10;
D50=15;
dt=2;
T0=450;
dx=100;

mmax=P/dx;
nmax=T/dt;

for m=1:mmax
D(m)=((D50-D1)*((mmax-1)/(D50-D1)))+D1;
C(m)=sqrt(g*D(m));
k(m)=2*pi/(T0*C(m));
sigma(m)=2*pi/T0;
L(m)=C(m)*T0;
end

for m=1:mmax
H(m)=D(m);
Z0(m)=A*cos(k(m)*m*dx);
u0(m)=((A*C(m))/H(m))*cos(k(m)*((m*dx)+(0.5*dx)));
end

for n=1:nmax
zB(1)=A*cos(sigma(m)*n*dt);

uB(mmax)=(A*C(m)/H(m))*cos(k(m)*L(m)-sigma(m)*n*dt);

for m=2:mmax-1
uB(m)=u0(m)-(g*(dt/dx)*(Z0(m+1)-Z0(m)));
end

for m=1:mmax

ZB(m)=Z0(m)-(H(m)*(dt/dx)*(uB(m)-u0(m)));

end

nilai_u(n,:)=uB;
nilai_z(n,:)=ZB;

for m=1:mmax
u0(m)=uB(m);
Z0(m)=ZB(m);
end
end

disp(nilai_u);
disp(nilai_z);

figure;
plot(nilai_u(:,2),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_u(:,11),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,21),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,31),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_u(:,41),'color',[0 1 1],'linewidth',2);
grid on
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik U Terhadap Ruang Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','grid=2','grid=11','grid=21','grid=3
1','grid=41');

figure;
plot(nilai_z(:,2),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_z(:,11),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,21),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,31),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_z(:,41),'color',[0 1 1],'linewidth',2);
grid on
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik Zeta Terhadap Ruang Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','grid=2','grid=11','grid=21','grid=3
1','grid=41');

figure;
plot(nilai_u(2,2:mmax-1),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_u(101,2:mmax-1),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(301,2:mmax-1),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_u(501,2:mmax-1),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_u(701,2:mmax-1),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Waktu');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik U Terhadap Waktu Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','waktu=2','waktu=101','waktu=301','w
aktu=501','waktu=701');

figure;
plot(nilai_z(2,2:mmax-1),'color',[1 1 0],'linewidth',2);
hold on
plot(nilai_z(101,2:mmax-1),'color',[1 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(301,2:mmax-1),'color',[0 0 1],'linewidth',2);
plot(nilai_z(501,2:mmax-1),'color',[1 0 0],'linewidth',2);
plot(nilai_z(701,2:mmax-1),'color',[0 1 1],'linewidth',2);

grid on
xlabel('Waktu');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Grafik Zeta Terhadap Waktu Skenario 9');
hold off
legend('Location','northeast','waktu=2','waktu=101','waktu=301','w
aktu=501','waktu=701');

figure;
for n=1:nmax
colorbar
plot(nilai_u(n,2:mmax-1),'ro-','linewidth',2);
grid on
hold on
colorbar
plot(nilai_z(n,2:mmax-1),'bo-','linewidth',2);
xlabel('Grid');
ylabel('Konsentrasi Polutan');
title('Pergerakan Polutan Hidrodinamika 1 Dimensi Variasi
Topografi');
O(m)=getframe(gcf);
grid on
hold off
end

V. HASIL

V.1. Model Hidrodinamika 1D Sederhana


V.1.1. Skenario 1
V.1.2. Skenario 2

V.1.3. Skenario 3
V.1.4. Skenario 4

V.1.5. Skenario 5
V.1.6. Skenario 6

V.1.7. Skenario 7
V.1.8. Skenario 8

V.1.9. Skenario 9
V.2. Model Hidrodinamika 1D Variasi Topografi
V.2.1. Skenario 1

V.2.2. Skenario 2
V.2.3. Skenario 3

V.2.4. Skenario 4
V.2.5. Skenario 5

V.2.6. Skenario 6
V.2.7. Skenario 7

V.2.8. Skenario 8
V.2.9. Skenario 9

VI. PEMBAHASAN

VI.1. Model Hidrodinamika 1D Sederhana


VI.1.1. Skenario 1
Pada model hidrodinamika 1D sederhana untuk skenario 1
sampai skenario 9 menggunakan ruang 2, 11, 21, 31 dan 41,
sedangkan untuk waktu yaitu 2, 101, 301, 501 dan 701. Hasil yang
diperoleh berupa 4 buah grafik, yaitu grafik kecepatan terhadap ruang,
grafik elevasi terhadap ruang, grafik kecepatan terhadap waktu dan
grafik elevasi terhadap waktu.
Pada skenario 1 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap
ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar sebesar 3 m/s dan nilai minimum sebesar -4 m/s. Sedangkan
untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai
konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai
minimum sebesar -0.4 m/s Untuk grafik kecepatan dan elevasi
terhadap ruang terbentuk grafik yang semakib melebar, hal ini
diakibatkan karena besarnya nilai periode yang digunakan. Dan untuk
grafik kecepatan dan elevasi terhadap ruang dan waktu memiliki
bentuk grafik yang lebih rapat dan bervariasi, hal ini dikarenakan
pengaruh nilai kedalaman yang lumayan besar.
VI.1.2. Skenario 2
Pada skenario 2 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=12, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap
ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar sebesar 3 m/s dan nilai minimum sebesar -3 m/s. Sedangkan
untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai
konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar 0.4 m/s dan nilai
minimum sebesar -0.3 m/s. Bentuk grafik dari skenario 2 tidak berbeda
jauh dengan grafik pada skenario 1, hanya saja nilai dari konsentrasi
polutan yang sedikit berbeda, hal ini dikarenakan hanya perbedaan
nilai kedalaman yang lebih besar pada skenario 2. Untuk grafik
kecepatan dan elevasi terhadap ruang terbentuk grafik yang semakib
melebar, hal ini diakibatkan karena besarnya nilai periode yang
digunakan. Dan untuk grafik kecepatan dan elevasi terhadap ruang
dan waktu memiliki bentuk grafik yang kerapatan dan variasinya lebih
kecil dibandingkan pada skenario 1, hal ini dikarenakan pengaruh nilai
kedalaman yang lebih besar dibandingkan skenario 1.
VI.1.3. Skenario 3
Pada skenario 3 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=3, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap
ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar sebesar 10 m/s dan nilai minimum sebesar -8 m/s. Sedangkan
untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai
konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar 0.4 m/s dan nilai
minimum sebesar -0.3 m/s. Untuk grafik kecepatan dan elevasi
terhadap ruang terbentuk grafik yang semakib melebar, hal ini
diakibatkan karena besarnya nilai periode yang digunakan. Dan untuk
grafik kecepatan dan elevasi terhadap ruang dan waktu memiliki
bentuk grafik yang lebih rapat dan bervariasi dibandingkan dengan
skenario 1 dan 2, hal ini dikarenakan pengaruh nilai kedalaman yang
semakin kecil. Pada Skenario 3 ini dapat disimpulkan bahwa dengan
topografi yang sama nilai dari kecepatan dan elevasi cenderung
konstan dengan pertimbangan semakin kecil nilai d maka semakin
besar kemungkinan nilai kecepatan dan elevasi konstan.

VI.1.4. Skenario 4
Pada skenario 4 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=200 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 5 m/s dan nilai minimum sebesar -5 m/s.
Sedangkan untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar
0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4 m/s. Untuk grafik kecepatan
dan elevasi terhadap ruang terbentuk grafik yang semakib melebar,
hal ini diakibatkan karena besarnya nilai periode yang digunakan. Dan
untuk grafik kecepatan dan elevasi terhadap ruang dan waktu memiliki
bentuk grafik yang lebih rapat dan bervariasi, dikarenakan adanya
pengaruh dari nilai kedalaman. Pada Skenario 4 ini dapat disimpulkan
bahwa kecepatan dan elevasi akan cenderung konstan dengan
pertimbangan banyaknya grid yang terbentuk.
VI.1.5. Skenario 5
Pada skenario 5 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=50 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 2 m/s dan nilai minimum sebesar -2 m/s.
Sedangkan untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar
0.4 m/s dan nilai minimum sebesar -0.3 m/s. Untuk grafik pada
skenario 5 ini lebih bervariasi, namun konsentrasi polutannya lebih
kecil dibandingkan dengan skenario 4, hal ini karena nilai gridnya
yang semakin kecil. Sehingga pada Skenario 5 ini dapat disimpulan
bahwa banyaknya grid yang terbentuk akan mempengaruhi nilai
maksimum dan minimum baik elevasi maupun kecepatan karena nilai
tersebut belum mencapai titik kestabilannya kecuali untuk periode 450
yang sudah stabil.
VI.1.6. Skenario 6
Pada skenario 6 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=10, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 0.5 m/s dan nilai minimum sebesar -1.5
m/s. Sedangkan untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar
0.8 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4 m/s. Pada Skenario 6 ini
dapat disimpulan bahwa semakin besar selang waktu yang diberikan
akan membuat data semakin sedikit karena nilai lama simulasi yang
terbagi dengan nilai selang waktu (dt) akan semakin sedikit. Hal ini
mengakibatkan lebih sedikit data yang terbentuk tetapi tetapi
menghasilkan kurva seperti skenario sebelum sebelumnya, hal ini
dapat dilihat pada grafik kecepatan dan elevasi terhadap waktu.
VI.1.7. Skenario 7
Pada skenario 6 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=0.5, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar 5 m/s dan nilai minimum sebesar -8 m/s, dan untuk grafik
kecepatan terhadap waktu konsentrasi polutan maksimum sebesar
1.5 m/s dan nilai minimum sebesar -1.5 m/s. Sedangkan untuk grafik
elevasi terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi
polutan maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum
sebesar -0.4 m/s. Pada Skenario 7 ini dapat disimpulan bahwa
semakin kecil selang waktu yang diberikan akan membuat data
semakin banyak karena nilai lama simulasi yang terbagi dengan nilai
selang waktu (dt) akan semakin besar. Hal ini mengakibatkan data
lebih banyak dan kompleks sehingga nilai waktu yang terbentuk
sangat besar.
VI.1.8. Skenario 8
Pada skenario 6 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=900. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar 3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.5 m/s.
Sedangkan untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar
0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4 m/s. Pada Skenario 8 ini
dapat disimpulan bahwa semakin besar nilai periode yang diberikan
maka kurva yang terbentuk akan semakin melebar.
VI.1.9. Skenario 9
Pada skenario 9 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman (D)=10, selang
waktu (Dt)=2, lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=150. Dari hasil
grafik yang diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar 3 m/s dan nilai minimum sebesar -3 m/s.
Sedangkan untuk grafik elevasi terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar sebesar
0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4 m/s. Pada Skenario 9 ini
dapat disimpulan bahwa semakin kecil nilai periode yang diberikan
maka akan semakin sempit kurva yang terbentuk dan akan semakin
cepat mencapai nilai kestabilan dari suatu nilai.

VI.2. Model Hidrodinamika 1D Variasi Topografi


VI.2.1. Skenario 1
Pada model hidrodinamika 1D variasi topografi untuk skenario
1 sampai skenario 9 sama halnya dengan model hidrodinamika 1D
sederhana, yaitu menggunakan ruang 2, 11, 21, 31 dan 41, sedangkan
untuk waktu yaitu 2, 101, 301, 501 dan 701. Hasil yang diperoleh
berupa 4 buah grafik, yaitu grafik kecepatan terhadap ruang, grafik
elevasi terhadap ruang, grafik kecepatan terhadap waktu dan grafik
elevasi terhadap waktu.
Pada skenario 1 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.6 m/s
dan nilai minimum sebesar -0.2 m/s. Sedangkan untuk grafik elevasi
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4
m/s. Pada grafik kecepatan terhadap ruang dapat dilihat bahwa grafik
yang dihasilkan turun pada mula mula dan naik saat mencapai ruang
maksimum. Sedangkan pada grafik elevasi terhadap waktu nilainya
cenderung sama pada keseluruhan grid dimana keseluruhannya
mengalami nilai puncak dan lembah pada waktu yang hampir
bersamaan. Maka pada skenario 1 dapat disimpulkan bahwa
perbedaan nilai kedalaman sangat berpengaruh terhadap variasi yang
ditimbulkan baik terhadap kecepatan maupun elevasi.
VI.2.2. Skenario 2
Pada skenario 2 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=15, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.8 m/s
dan nilai minimum sebesar -0.1 m/s. Sedangkan untuk grafik elevasi
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4
m/s. Pada grafik kecepatan terhadap ruang dapat dilihat bahwa grafik
yang dihasilkan turun pada mula mula dan naik saat mencapai ruang
maksimum. Sedangkan pada grafik elevasi terhadap waktu nilainya
cenderung sama pada keseluruhan grid dimana keseluruhannya
mengalami nilai puncak dan lembah pada waktu yang hampir
bersamaan. Maka pada skenario 2 dapat disimpulkan bahwa
perbedaan nilai kedalaman sangat berpengaruh terhadap variasi yang
ditimbulkan baik terhadap kecepatan maupun elevasi.
VI.2.3. Skenario 3
Pada skenario 2 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=20, kedalaman maksimum (D50)=10, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang menunjukkan
nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.6 m/s dan nilai
minimum sebesar -0.1 m/s, dan untuk grafik kecepatan terhadap
waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0. 8
m/s dan nilai minimum sebesar -0.1 m/s. Sedangkan untuk grafik
elevasi terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi
polutan maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum
sebesar -0.4 m/s. Pada grafik kecepatan terhadap ruang dapat dilihat
bahwa grafik yang dihasilkan turun pada mula mula dan naik saat
mencapai ruang maksimum. Sedangkan pada grafik elevasi terhadap
waktu nilainya cenderung sama pada keseluruhan grid dimana
keseluruhannya mengalami nilai puncak dan lembah pada waktu yang
hampir bersamaan. Maka pada skenario 3 dapat disimpulkan bahwa
perbedaan nilai kedalaman sangat berpengaruh terhadap variasi yang
ditimbulkan baik terhadap kecepatan maupun elevasi.
VI.2.4. Skenario 4
Pada skenario 4 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=200 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 2 m/s dan
nilai minimum sebesar -0.5 m/s. Sedangkan untuk grafik elevasi
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4
m/s. Pada skenario 4 ini untuk grafik kecepatan dan elevasi terhadap
ruang hanya sampai mencapai grid 21, apabila dimasukkan semua
grid maka akan muncul nilai error, hal inilah yang membedakan
dengan skenario-skenario lainnya.
VI.2.5. Skenario 5
Pada skenario 5 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=50 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang menunjukkan
nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 3.10 72 m/s dan nilai
minimum sebesar -2 m/s, dan kecepatan terhadap waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 12.10 72 m/s
dan nilai minimum sebesar -2 m/s. Sedangkan untuk elevasi terhadap
ruang menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar
1.1073 m/s dan nilai minimum sebesar -1 m/s, dan elevasi terhadap
waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar
1.1072 m/s dan nilai minimum sebesar -5 m/s. Program pada skenario
5 ini tidak berjalan akibat kecilnya nilai lebar grid yang diberikan
sehingga memperbanyak jumlah grid yang dihasilkan hingga 100 grid
sehingga menimbulkan overflow pada program.

.
VI.2.6. Skenario 6
Pada skenario 6 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=10,
lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang
diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.5.10 168
m/s dan nilai minimum sebesar -2.5 m/s, dan kecepatan terhadap
waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar
8.1099 m/s dan nilai minimum sebesar -4 m/s. Sedangkan untuk
elevasi terhadap ruang menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar 16.10168 m/s dan nilai minimum sebesar -4 m/s,
dan elevasi terhadap waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar 4.10100 m/s dan nilai minimum sebesar -5 m/s.
Program pada skenario 5 ini tidak berjalan akibat kecilnya nilai lebar
grid yang diberikan sehingga memperbanyak jumlah grid yang
dihasilkan hingga 100 grid sehingga menimbulkan overflow pada
program.
VI.2.7. Skenario 7
Pada skenario 7 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=0.5,
lebar grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang
diperoleh dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 2.5 m/s dan
nilai minimum sebesar -0.5 m/s, dan kecepatan terhadap waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.7 m/s dan
nilai minimum sebesar -0.2 m/s. Sedangkan untuk elevasi terhadap
ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.4 m/s.

VI.2.8. Skenario 8
Pada skenario 8 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=100 dan periode (To)=900. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang menunjukkan
nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.45 m/s dan nilai
minimum sebesar -0.05 m/s, dan kecepatan terhadap waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.5 m/s dan
nilai minimum sebesar -0.2 m/s. Sedangkan untuk elevasi terhadap
ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum
sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.1 m/s. Pada Skenario 8
saya dapat menyimpulkan semakin besar Periode yang diberikan pada
suatu program,maka akan semakin lebar jarak antar fase puncak dan
lembah yang terbentuk.
VI.2.9. Skenario 9
Pada skenario 9 menggunakan nilai panjang kanal (P)=5000,
lama simulasi (T)=1800, amplitude (A)=0.3, kedalaman minimum
(D1)=10, kedalaman maksimum (D50)=20, selang waktu (Dt)=2, lebar
grid (Dx)=100 dan periode (To)=450. Dari hasil grafik yang diperoleh
dapat diketahui bahwa grafik kecepatan terhadap ruang dan waktu
menunjukkan nilai konsentrasi polutan maksimum sebesar 0.8 m/s
dan nilai minimum sebesar -0.6 m/s. Sedangkan untuk elevasi
terhadap ruang dan waktu menunjukkan nilai konsentrasi polutan
maksimum sebesar 0.3 m/s dan nilai minimum sebesar -0.5 m/s. Pada
skenario 9 ini saya dapat menyimpulkan bahwa semakin kecil periode
yang diberikan akan semakin banyak kurva terbentuk dan semakin
memperlihatkan nilai kecepatan dan elevasi dari suatu waktu atau
ruang.

VII. PENUTUP

1. Sifat-sifat penjalaran gelombang pasut di kanal sederhana yaitu


dipengaruhi oleh topografi dari lokasi, panjang kanal (P), lebar grid
(Dx),Periode (To) dan selang waktu (Dt).
2. Dalam model hidrodinamika 1D sederhana dan variasi topografi
menggunakan nilai kecepatan dan elevasi sehingga mencapai nilai
kestabilan saat grafik yang terbentuk mengalami fase diam
(konstan).
DAFTAR PUSTAKA

Aldrian, Edvin. 2009. Meteorologi Laut Indonesia. Gramedia, Jakarta.


Budiman, Asep Sandra. 2013. Model Hidrodinamika 1D Sederhana dan
Model Hidrodinamika 1D dengan Variasi Topografi. Intitut Pertanian
Bogor, Bogor.
Cahyana, Chevy. 2005. Model Hidrodinamika Laut. Buletin LIMBAH Vol.9
No.2.
Pond, S., G.L. Pickard. 1983. Introductory dynamical oceanography (2nd
Edition). Pergamon Press Ltd. Headington Hill Hall, Oxford(GB).
Ramming, H.G., Z. Kowalik. 1980. Numerical modelling of marine
hydrodynamics: Applications to dynamics physical processes.
Elsevier publishing for Oceanography Series 26, Amsterdam(NL).
Stewart, R. H. 2002. Introduction to Physical Oceanography. Department
of Oceanography. Texas A&M University.