Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

RETINOBLASTOMA
Departemen Keperawatan Anak
IRNA IV Ruang 7B RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Disusun oleh :
Ardean Wahyu Nengtyas
201410461011021

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014
RETINOBLASTOMA

I. DEFINISI
Retinoblastoma adalah suatu tumor ganas yang mengenai retina pada anak
yang terdiri atas sel neuroblastik yang tidak berdiferensiasi dan dapat menyerang pada
satu atau kedua mata.
Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel
kerucut dan sel batang) atau sel glia yang bersifat ganas. Retinoblastoma merupakan
tumor ganas intraokuler yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah
lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retina embrional, dapat terjadi unilateral (70%)
dan bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral bersifat herediter yang diwariskan
melalui kromosom.
Massa tumor di retina dapat tumbuh ke dalam vitreus (endofilik) dan tumbuh
menembus ke luar vitreus (eksofilik). Pada beberapa kasus terjadi penyembuhan secara
spontan. Sering terjadi perubahan degeneratif diikuti nekrosis dan kalsifikasi. Pasien
yang selamat memiliki kemungkinan 50% menurunkan anak dengan retinoblastoma.
Pewarisan ke saudara sebesar 4 7%.

II. INSIDEN
Kelainan ini umumnya bersifat kongenital, tetapi dapat pula dijumpai pada usia
lebih lanjut (40 tahun). Diturunkan secara dominan autosom (bila mengenai kedua
mata) dan bersifat mutasi somatik (bila mengenai satu mata). Ditemukan pada 1
diantara 30.000 kelahiran hidup. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan
insidennya sama dan tidak terdapat predileksi ras.

III. ETIOLOGI
Retinoblastoma terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu pasang
alel dominan protektif yang berada dalam pita kromosom 13g14. Retinoblastoma bisa
terjadi karena mutasi atau diturunkan. Mutasi terjadi akibat perubahan pada rangkaian
basa DNA. Peristiwa ini dapat timbul karena kesalahan replikasi, gerakan, atau
perbaikan sel. Mutasi dalam sebuah sel benih akan ditransmisikan kepada turunan sel,
sehingga tidak terdapat gen penekan tumor.
Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatik maupun kedua
mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom dominan. Kanker bisa
menyebar ke kantung mata dan ke otak melalui saraf penglihatan (Nervus Optikus).
Faktor yang berhubungan termasuk virus, zat kimia, sinar ultraviolet, dan radiasi
pengion, akan meningkatkan laju mutasi. Mutasi biasanya mengenai sel somatik dan
kemudian diteruskan kepada generasi sel berikutnya.

IV. KLASIFIKASI
Retinoblastoma dibagi dalam 2 klasifikasi, yaitu :
1. Retinoblastoma eksofilik, yaitu retinoblastoma yang tumbuh menembus keluar
retina.
2. Retinoblastoma endofilik, yaitu massa tumor di retina yang tumbuh hingga ke
dalam viterus.
Retinoblastoma dibagi dalam empat stadium, yaitu :
Stadium I : - Tumor masih terbatas pada retina (stadium tenang).
- Pupil terlihat lebar, di pupil tampak reflek kuning yang disebut
automatic cats eye.
- Tumor soliter / multipel kurang dari 4 diameter papil.
- Prognosis baik.
Stadium II : - Tumor terbatas pada bola mata (stadium glaucoma).
- Tekanan intraokuler tinggi.
- Satu atau beberapa tumor berukuran 4 10 diameter papil.
- Prognosis baik.
Stadium III : - Terdapat perluasan ekstraokuler regional, baik yang melampaui ujung
nervus optikus yang dipotong saat enuklasi (stadium ekstraokuler).
- Bola mata membesar dan dapat pevah ke depan sampai ke luar dari
rongga orbita disertai nekrosis di atasnya.
- Tumor soliter berukuran >10 diameter papil.
- Prognosis meragukan.
Stadium IV : - Ditemukan metastase jauh ke dalam otak.
- Prognosis buruk.
V. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari retinoblastoma adalah :
Terdapat mata kucing.
Leukokoria (timbulnya warna putih pada pupil, umumnya pupil berwarna hitam).
Mata juling (strabismus).
Mata merah.
Glaukoma (tekanan cairan pada bola mata terlalu tinggi).
Terdapat suatu massa yang menonjol dengan ukuran sedang akan memberikan gejala
hipopion (akumulasi sel darah putih) di dalam bilik mata depan, uveitis (peradangan
pada uvea), endoftalmitis (peradangan bagian dalam bola mata), atau panoftalmitis
(peradangan rongga mata, lapisan luar bola mata, dan jaringan bola mata).
Bola mata menjadi besar, bila tumor sudah menyebar luas di dalam bola mata.
Gejala pandangan berat sampai nekrosis tumor.
Tajam penglihatan sangat menurun.
Nyeri.
Tumor yang besar, mengisi seluruh rongga badan kaca sehingga badan kaca terlihat
benjolan berwarna putih kekuning-kuningan dengan pembuluh darah di atasnya.
VI. PATHWAY RETINOBLASTOMA

Endogen Eksogen

Kesalahan replikasi gerakan Lingkungan berpolusi,


atau perbaikan sel bahan kimia, sinar UV,
radiasi

Mutasi pada sel retina

Retinoblastoma

Endofilik Eksofilik

Tumor tumbuh ke Tumbuh keluar lapisan


dalam vitrenous retina / sub retina

Leukocaria Tumor mencapai Peningkatan massa Pembatasan


area macular aktivitas
Penurunan visus mata Strabismus Peningkatan TIO Proses sosialisasi
terganggu

Gangguan penglihatan Ketidakmampuan Mata menonjol Resiko perkembangan


untuk fiksasi terganggu

Perubahan persepsi Nyeri Akut


sensori penglihatan Mata mengalami
deviasi

Penurunan lapang
pandang

Gangguan persepsi
sensori penglihatan

Resiko Cedera

Metastase
Melalui aliran darah

Mata kiri Otak

Mata Strabismus Leukokoria


menonjol Gangguan pada Gangguan pada Nyeri kepala
serebelum Nervus Optikus

Gangguan Gangguan persepsi


ingatan sensori penglihatan

Kemoterapi Operasi

Pre Operasi Post Operasi

Mual / muntah Hiperpigmentasi


Alopesia Degradasi Resiko Perubahan
kulit
sumsum tulang Ansietas Defisiensi Infeksi fisik mata
Pengetahuan
Ketidakseimbangan Gangguan Produksi eritrosit Degradasi kulit Gangguan
Nutrisi : Kurang Citra Tubuh terganggu menurun Citra Tubuh
dari Kebutuhan
Tubuh
Destruksi sel
darah merah

Produksi sel darah


merah turun

Anemia

Viskositas darah
menurun

Resistensi aliran
darah perifer

Transport O2
jaringan turun

Intoleran
Hipoksia, pucat, lemah
Aktivitas

Ketidakefektifan Perfusi
Jaringan Perifer
VII. KOMPLIKASI
Komplikasi retinoblastoma adalah terdapat metastase ke :
1. Lamina kribosa, saraf optik yang infiltrasi ke vaginal scheat sampai ke
subarachnoid dan intrakranial menjadi tumor otak.
2. Jaringan koroid (metastase melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh).
3. Pembuluh emisari atau tumor menjalar ke posterior orbita.

VIII. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan penunjang yaitu dengan :
1. Ultrasonografi dan tomografi komputer dilakukan terutama untuk pasien dengan
metastase ke luar, misalnya dengan gejala proptosis bola mata.
2. Elektroretino-gram (ERG), menilai kerusakan luas pada retina.
3. Elektro-okulogram (EOG)
4. Visual Evoked Respons (VER),mengetahui perbedaan rangsangan yang sampai
ke korteks sehingga diketahui adanya gangguan rangsangan/penglihatan pada
seseorang.

IX. PENATALAKSANAAN
Bila tumor masih terbatas intraokuler, pengobatan dini mempunyai prognosis
yang baik, tergantung dari letak, besar, dan tebal.
Pada tumor yang masih intraokuler dapat dilakukan krioterapi, foto koagulasi
laser, atau kombinasi sitostatik dan foto koagulasi laser untuk mempertahankan
visus.
Pada tumor intraokuler yang sudah mencapai seluruh vitreous dan visus nol
harus dilakukan enuklasi.
Bila tumor telah keluar bulbus okuli, tapi masih terbatas di rongga orbita,
dilakukan kombinasi eksenterasi, radioterapi, dan kemoterapi.
Harus dilakukan evaluasi seumur hidup karena 20 90% pasien retinoblastoma
bilateral akan menderita tumor ganas primer : osteosarkoma.
X. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Peningkatan Massa pada Bola Mata.
2. Resiko Cedera dengan faktor resiko Gangguan Persepsi Sensori Penglihatan.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan
Mual Muntah
4. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan Terapi Penyakit (Kemoterapi).
5. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer berhubungan dengan Penurunan Kadar
Hb dalam Darah.
6. Intoleran Aktifitas berhubungan dengan Kelemahan Fisik.
7. Ansietas berhubungan dengan Status Kesehatan.
8. Resiko Infeksi dengan faktor resiko Prosedur Invasif Pasca Operasi.
9. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan Kurang Pajanan terhadap Informasi.

XI. RENCANA KEPERAWATAN


No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Nyeri Akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan kepe- Manajemen Nyeri
dengan Peningkatan rawatan selama 1x24 jam pasien 1. Lakukan pengkajian nyeri
Massa pada Bola Mata dapat mengontrol nyeri dengan secara komprehensif.
indikator : 2. Observasi reaksi noon verbal
1. Mengenali faktor penyebab (5) dari ketidaknyamanan.
2. Mengenali onset (lamanya 3. Gunakan tektik komunikasi
sakit) (5) terapeutik untuk mengetahui
3. Menggunakan metode pence- pengalaman nyeri pasien.
gahan (5) 4. Kaji kultur yang mempe-
4. Menggunakan metode non- ngaruhi respon nyeri.
analgetik untuk mengurangi 5. Evaluasi pengalaman nyeri
nyeri (5) masa lampau.
5. Menggunakan analgetik sesuai 6. Evaluasi bersama pasien dan
kebutuhan (5) tim kesehatan lain tentang
6. Mencari bantuan tenaga ketidakefektifan control nyeri
kesehatan (5) masa lampau.
7. Melaporkan gejala pada tenaga 7. Kontrol lingkungan yang
kesehatan (5) dapat mempengaruhi nyeri.
8. Menggunakan sumber-sumber 8. Kurangi faktor presipitasi.
yang tersedia (5) 9. Ajarkan teknik nonfarma-
9. Mengenali gejala-gejala nyeri kologi.
(5) 10. Berikan analgetik untuk
10. Mencatat pengalaman nyeri mengurangi nyeri.
sebelumnya (5) 11. Evaluasi keefektifan kontrol
11. Melaporkan nyeri sudah nyeri.
terkontrol (5) 12. Tingkatkan istirahat.
13. Kolaborasikan dengan dokter
jika keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil.
2 Gangguan Citra Tubuh Setelah dilakukan tindakan kepe- Peningkatan Gambaran Tubuh
berhubungan dengan rawatan selama 1x24 jam, 1. Tentukan dugaan gambaran
Terapi Penyakit gambaran tubuh pasien meningkat tubuh pasien terhadap
(Kemoterapi) dengan indikator : perkembangan penyakit.
1. Puas terhadap penampilan 2. Damping pasien untuk ber-
tubuh (5) diskusi terhadap perubahan
2. Sikap terhadap penggunaan dikarenakan prosedur
strategi untuk meningkatkan kemoterapi.
fungsi (5) 3. Bantu pasien menetapkan
3. Puas dengan fungsi tubuh (5) tingkat perubahan actual pada
4. Penyesuaian terhadap peruba- tubuh atau tingkat fungsi
han penampilan fisik (5) tubuh.
5. Penyesuaian terhadap peruba- 4. Dampingi pasien saat terlihat
han fungsi tubuh (5) menyendiri.
6. Penyesuaian terhadap peruba- 5. Anjurkan pasien untuk
han status kesehatan (5) menggunakan topi saat
beraktifitas.
6. Anjurkan pasien untuk
menggunakan kacamata saat
beraktifitas.

XII. DAFTAR PUSTAKA


Bare, B.G & Smeltzer, S.C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jarkarta: EGC.
Mansjoer, A., et. al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I Edisi III Cetakan IV.
Jakarta : Media Aekulapius. FK UI.
Ilyas, Sidarta. 2000. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FK UI.
Purnomo, Bambang, dkk. 2006. Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak. Jakarta : Badan
Penerbit IDAI.