Anda di halaman 1dari 6

Implementasi Kebijakan BOPTN dan UKT : Implikasinya Terhadap Universitas Indonesia

dan Perguruan Tinggi Negeri Lainnya

Oleh : 1Alldo Fellix Januardy


1 Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa Periode 2013

Tahun 2013 adalah tahun penuh dinamika untuk Universitas Indonesia (UI). Kekisruhan
status hukum UI, lamanya proses pengesahan Statuta UI, juga pemilihan Rektor UI yang tertunda
melengkapi dinamika UI yang saat ini sedang berada di dalam masa transisi. Di tengah dinamika
tersebut, terdapat berita lain terkait penerimaan mahasiswa baru 2013, yaitu Uang Pangkal UI
untuk program S-1 Reguler dibebaskan karena UI mendapatkan dana dari DIPA BOPTN.
Pembebasan UP untuk UI ini juga menimbulkan kekhawatiran. Apakah UP yang gratis akan
mengakibatkan kenaikan biaya kuliah?

Di tengah dinamika masa transisi UI, ramai juga dibicarakan di kampus lain, seperti UGM
dan Unpad terkait pemberlakuan UKT dan sikap penolakan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
masing-masing Universitas. Dinamika penolakan terhadap kebijakan UKT yang merupakan
implementasi dari UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dinilai mengakibatkan
biaya kuliah semakin mahal. Benarkah demikian?

Mari kita kembali pada pertanyaan mendasar: apa itu BOPTN dan UKT? Apa akibat dari
kedua kebijakan tersebut untuk PTN, khususnya UI? Tulisan ini akan mencoba memberikan
gambaran komprehensif terkait implementasi dua kebijakan yang saat ini ramai diperdebatkan di
berbagai Perguruan Tinggi Negeri juga implikasinya terhadap Universitas Indonesia.

Apa Itu BOPTN?

Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) diatur melalui Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2012 tentang Bantuan
Operasional Perguruan Tinggi yang Diselenggarakan oleh Pemerintah. Di dalam peraturan tersebut
dijelaskan bahwa BOPTN merupakan bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan pada
perguruan tinggi negeri untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat tidak
adanya kenaikan sumbangan pendidikan (SPP) di perguruan tinggi negeri. Selanjutnya, alokasi
BOPTN diatur dalam:

Pasal 2 Permendikbud Nomor 58 Tahun 2012 mengatur bahwa BOPTN


dipergunakan untuk:

a. pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat;


b. biaya pemeliharaan pengadaaan;
c. penambahan bahan praktikum/kuliah;
d. bahan pustaka;
e. penjaminan mutu;
f. pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan;

1
g. pembiayaan langganan daya dan jasa;
h. pelaksanaan kegiatan penunjang;
i. pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam
pembelajaran;
j. honor dosen non pegawai negeri sipil;
k. pengadaan dosen tamu; dan/atau
l. kegiatan lain yang merupakan prioritas dalam renstra perguruan
tinggi masing-masing.

Dan pasal 3 Permendikbud Nomor 58 Tahun 2012 mengatur bahwa


BOPTN tidak boleh dipergunakan untuk :

a. belanja modal dalam bentuk investasi fisik (gedung dan peralatan);


b. tambahan insentif mengajar untuk pegawai negeri sipil;
c. tambahan insentif dan honor untuk tenaga administrasi; dan
d. kebutuhan operasional untuk manajemen.

Alokasi BOPTN tersebut diberikan kepada 92 Universitas Negeri di seluruh


Indonesia1 yang penganggarannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
universitas dengan melaporkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Jumlah BOPTN yang diterima oleh 92 Universitas tersebut berbeda-
beda mempertimbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) per mahasiswa, proporsi
peserta bidikmisi terhadap jumlah mahasiswanya, akreditasi program studi, PNBP pihak ketiga dari
riset, pengembangan, dan pengabdian masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 15 / Kep / 2013 tentang Pengelolaan Bantuan
Operasional Perguruan Tinggi Untuk Penelitian tercantum bahwa BOPTN wajib dialokasikan paling
sedikit 30% untuk kegiatan penelitian perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.

BOPTN ditargetkan cair pada bulan Februari lalu. Namun, dikarenakan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan merupakan salah satu kementerian yang dibekukan sementara
pencairan anggarannya oleh Kementerian Keuangan, maka pencairan BOPTN menunggu batas
akhir pencairan APBN, yaitu pada bulan April 2013. Pencairan ini diperkirakan tidak mengganggu
kinerja anggaran Universitas Indonesia karena akan cair terlebih dahulu sebelum penerimaan
mahasiswa baru tahun akademik 2013.

Perlu diketahui bahwa terbitnya Permendikbud Nomor 58 Tahun 2012 bersamaan


dengan Surat Edaran Dirjen Dikti No 305 / E / T / 2012 yang mengamanatkan kepada 92
Universitas penerima DIPA BOPTN untuk tidak menaikkan tarif kuliah / SPP. Demikian tabel
draft alokasi BOPTN Universitas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia:

1 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lampiran Nomor 0394/E5.2/PL/2013: Daftar
Perguruan Tinggi Negeri Penerima Alokasi BOPTN 2013 Untuk Penelitian.

2
Tabel 1.1 Draft Alokasi BOPTN Universitas Tahun 20132

Apa Itu UKT?

Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT)? UKT merupakan
langkah awal pelaksanaan pasal 88 UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang
mengamanatkan pemerintah kelak harus dapat mengimplementasikan standar tertentu besaran
SPP sesuai dengan wilayah sebuah PTN berada. Sebelum melaksanakan standardisasi sistem
tersebut, pemerintah terlebih dahulu menerbitkan Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 488 E / T /
2012 dan Surat Edaran Dirjen DIkti Nomor 97 E / KU / 2013 yang keduanya mengatur tentang
pelaksanaan sistem Uang Kuliah Tunggal untuk PTN sekaligus menghapus pembayaran Uang
Pangkal bagi mahasiswa baru tahun akademik 2013 / 2014. Penerapan UKT ditujukan untuk
akuntabilitas pembayaran SPP agar semua pengeluaran dapat diakomodir di awal masa
pembayaran setiap periode akademik.

Penulis akan mencoba memberi gambaran bagaimana pelaksanaan UKT di Universitas.


Misalnya, Universitas X dengan Uang Pangkal sebesar 4 juta Rupiah, besaran SPP 1 juta Rupiah per
semester, kemudian selama masa studi dipungut Biaya Laboratorium, Biaya Praktikum, Uang
Fotokopi Materi Perkuliahan, dan sebagainya yang jika ditambahkan sejumlah total 500 ribu
Rupiah per semester dan bersifat tentatif (Red: suatu waktu dapat melampaui harga tersebut atau

2 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sosialiasi
Pelaksanaan DIPA Tahun Anggaran 2013.

3
dibawah harga tersebut tergantung jumlah SKS yang diambil atau mata kuliah praktek tertentu).
Maka total biaya yang dikeluarkan jika seorang mahasiswa lulus 8 semester adalah: Rp 4.000.000,-
(UP) + [8 x Rp 1.000.000,-] (SPP 8 Semester) + [8 x Rp 500.000,-] (Biaya Lain-lain 8 Semester) = Rp
16.000.000,-. Untuk mencegah pungutan yang berkali-kali dan sulit dilakukan pengawasan
terhadap pembayaran tersebut, maka melalui kebijakan UKT pemerintah membagi seluruh beban
kuliah normal selama 8 semester menjadi SPP per semester yang harus dibayarkan mahasiswa. Jika
total mahasiswa Universitas X hingga lulus harus membayar Rp 1.000.000,- per semester, maka
dengan sistem UKT ia dibebaskan Uang Pangkal-nya, namun harus membayar Rp 2.000.000,- per
semester. Angka Rp 2.000.000,- per semester didapatkan dari total biaya yang dikeluarkan selama
seorang mahasiswa berkuliah di Universitas X (Rp 16.000.000,-) dibagi 8 semester sehingga
menghasilkan angka Rp 2.000.000,-.

Perlu digarisbawahi bahwa prinsip UKT bukanlah penyamarataan tarif / implementasi


sistem pembayaran flat, namun pada titik akuntabilitasnya, yaitu satu kali pungutan per semester
agar mudah terukur besaran biaya yang harus dikeluarkan oleh calon peserta didik dan mudah
dipertanggungjawabkan oleh institusi penyelenggara pendidikan.

Implementasi Kebijakan BOPTN dan UKT dalam Konteks UI

Universitas Indonesia (UI) merupakan salah satu Universitas penerima BOPTN terbesar.3 Di
dalam penganggaran BOPTN, UI mengalokasikan dana tersebut terutama untuk pembebasan Uang
Pangkal, kemudian dana riset sesuai dengan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 15 / Kep / 2013. Dengan
pilihan alokasi oleh UI, maka Uang Pangkal tidak akan mempengaruhi pola pembayaran sistem UKT
sebagai faktor pertambahan nilai pada besaran SPP yang dibayarkan mahasiswa per semester.
Uang Pangkal mahasiswa baru tahun akademik 2013 program S-1 Reguler Universitas
Indonesia bebas dari pungutan apapun. Universitas Indonesia juga telah mengadakan
pengumpulan proposal dalam bentuk Hibah Riset, Action Research, dan Riset Berbasis Kolaborasi
yang telah meloloskan 221 dari 315 pengusul proposal untuk masuk ke tahap seleksi substantif
pada 26 Maret lalu.4

Pertanyaan berikut, apakah UI sudah menerapakan prinsip UKT? Jawabannya, sudah. UI


sudah menerapkan prinsip UKT sejak tahun 2008 yang terwujud dalam sistem pembayaran
BOP Berkeadilan. Kembali pada pembahasan sebelumnya di atas, prinsip UKT bukanlah
penyamarataan tarif, tapi pada akuntabilitas dan satu kali pungutan pada awal periode akademik.
Dengan sistem BOP B, mahasiswa UI hanya membayar biaya semester pada awal periode
akademik sekaligus Dana Kesejahteraan Fasilitas Mahasiswa (DKFM) sebesar 100 ribu Rupiah yang
dibarengi dengan pembayaran BOP, kemudian tidak lagi dipungut Biaya Lain-Lain. Dengan
demikian, UI adalah Universitas yang tidak terpengaruh kebijakan UKT karena telah terlebih
dahulu mengimplementasikannya sejak tahun 2008 melalui sistem pembayaran BOP B.

3 Di dalam Pra-RKAT UI 2013 tercantum jumlah Rp 233.258.494.000,- untuk DIPA Program S-1 Reguler Universitas Indonesia.
Tercantum Rp 163.000.000.000,- untuk DIPA BOPTN yang akan dialokasikan kepada kegiatan pengembangan, riset, dan pengabdian
masyarakat, juga kebutuhan lain sebagaimana diatur di dalam Permendikbud Nomor 58 Tahun 2012.
4
Universitas Indonesia. Pengumuman Nomor 1628/H2.R12/PPM.00.00/2013 tentang Daftar Proposal Lolos Hibah Riset UI 2013
(BOPTN)

4
Kombinasi dua kebijakan ini menguntungkan apabila hanya dilihat dari konteks
Universitas Indonesia pada tahun akademik 2013. Namun, untuk UI, ada beberapa hal yang
tetap harus dikawal di dalam proses implementasi kebijakan BOPTN untuk pembebasan uang
pangkal, yaitu :
a. Memastikan Universitas Indonesia tidak menaikkan tarif maksimal BOP-B S1 Reguler
sesuai dengan amanat Surat Edaran Dirjen Dikti No 305 / E / T / 2012;
b. Memastikan pencairan DIPA BOPTN tepat waktu agar tidak mengganggu kinerja
anggaran Universitas Indonesia dan pencairan dana kegiatan unit / fakultas / kegiatan
kemahasiswaan;
c. Memastikan rata-rata biaya BOP-B S1 Reguler UI dalam kisaran yang sama dgn tahun
lalu (3,3 juta Rupiah berdasarkan kajian Departemen Advokasi dan Kesejahteraan
Mahasiswa BEM UI 2012) atau mengalami penurunan, sebagai tanda meluasnya
aksesibilitas Universitas Indonesia bagi masyarakat yang berasal dari kalangan
ekonomi kurang mampu.
Semakin Mahal?

Perlu diingat bahwa ada beberapa BEM Universitas yang menolak implementasi kebijakan
UKT di kampusnya. Sehingga, perlu digarisbawahi bahwa implementasi kombinasi kebijakan
BOPTN dan UKT bukan tak memiliki kelemahan. Jika dalam pembahasan diatas dibahas terkait
biaya lain-lain per semester yang sifatnya sangat fluktuatif, belum lagi, jika ternyata PTN tertentu
menerapkan sistem subsidi silang pada uang pangkalnya saja, atau pada SPP-nya saja, maka dapat
mengakibatkan total persebaran UKT menjadi lebih mahal jika dirata-rata untuk satu kali pungutan
per periode akademik / per semester.

Kenaikan SPP per semester juga dapat terjadi secara drastis dan akan memberatkan
kemampuan seorang mahasiswa apabila tidak diberi keringanan melalui sistem berkeadilan atau
pemberian beasiswa, mengingat tidak semua Universitas penerima DIPA BOPTN
memprioritaskan alokasinya kepada pembebasan Uang Pangkal. Fenomena inilah yang
kemungkinan besar terjadi pada Universitas yang BEM-nya menunjukkan sikap resistensi terhadap
implementasi kebijakan UKT, selain karena UKT merupakan implementasi langkah kebijakan yang
diamatkan oleh UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang saat ini sedang berada
diambang Judicial Review oleh beragam BEM Universitas di seluruh Indonesia. Pihak pengelola /
pimpinan Universitas harus jeli mengalokasikan anggaran BOPTN, mengalokasikan lebih banyak
beasiswa, atau menerapkan sistem pembayaran berkeadilan agar mahasiswa tidak menjadi korban
dari kenaikan biaya kuliah yang sulit dibendung karena diimplementasikan secara belum matang di
tahun pertamanya.

Aksesibilitas yang Tertunda

Bagian ini merupakan catatan lain dari implementasi kebijakan BOPTN kepada 92
Universitas. Bila kita telusuri Permendikbud Tahun 58 Tahun 2012 maka dapat kita temukan
bahwa peraturan ini merupakan peraturan turunan dari UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Bila kita menelisik pasal demi pasal di dalam UU tersebut, terutama pada

5
pasal 5, pasal 11, dan pasal 12 yang mencantumkan upaya kemudahan aksesibilitas bagi seluruh
warga Negara dimanapun di seluruh pelosok Indonesia untuk mendapatkan pendidikan bermutu,
maka kebijakan strategis seperti alokasi BOPTN untuk pembebasan Uang Pangkal, bahkan
pembayaran SPP yang berkeadilan adalah sebuah kewajiban yang tidak dapat ditawar
pelaksanaannya seharusnya sejak Undang-Undang ini disahkan.

Penutup

Implementasi kebijakan BOPTN dan UKT memiliki landasan hukum yang berbeda.
Pelaksanaan BOPTN bersumber pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional terutama pada pasal 5, pasal 11, dan pasal 12 untuk memenuhi tantangan aksesibilitas
pendidikan bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Pelaksanaan UKT bersumber pada UU Nomor 12
Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi sebagai langkah awal pelaksanaan pasal 88 dari UU
Pendidikan Tinggi tentang standardisasi SPP yang kelak akan dilaksanakan pemerintah
berdasarkan kemahalan wilayah sesuai dengan amanat UU tersebut.

Dalam konteks UI, kebijakan BOPTN dan UKT menguntungkan untuk pelaksanaan
penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2013 karena UI tidak perlu mengubah dan
menyesuaikan prinsip atau sistem pembayaran yang baru. BOPTN juga tepat dialokasikan terutama
untuk membebaskan Uang Pangkal. Dalam konteks Universitas lain, perlu pengawalan yang sangat
ketat dari pelaksanaan UKT di tahun pertama agar tidak terjadi kenaikan biaya kuliah secara tidak
langsung dan penganggaran BOPTN agar sesuai dengan kebutuhan Universitas, terutama
mahasiswa sebagai stakeholder utama.

Bersama tulisan ini terlampir :


1. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;
3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2012 tentang Bantuan
Operasional Perguruan Tinggi Yang Diselenggarakan oleh Pemerintah;
4. Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 305 / E / T / 2012
5. Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 97 / E / KU / 2013
6. Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor 0394 /E5.2/PL/2013
7. Peraturan DIrjen Dikti Nomor 15 / Kep / 2013
8. Lampiran Surat Dirjen Dikti Nomor 0394/E5.2/PL/2013: Daftar Perguruan Tinggi Negeri
Penerima Alokasi BOPTN 2013 Untuk Penelitian.
9. Pengumuman Hibah Riset Universitas Indonesia bersumber dana BOPTN tahun 2013.

Anda mungkin juga menyukai