Anda di halaman 1dari 7

Market share adalah prosentase (share) yang dapat kita capai dari jumlah keseluruhan konsumen (market)

yang bisa memakai/atau membeli produk kita pada suatu wilayah tertentu.

Sebagai contoh studi kasusnya, saya jualan kerudung Tsunami di wilayah Jakarta Timur. Jumlah penduduk di Jakarta Timur misalnya (asumsi) 2
juta orang. Karena produk yang saya jual adalah kerudung, maka saya memutuskan target pasar saya adalah orang islam yang perempuan
(muslimah) dan berumur 15 tahun sampai dengan 60 tahun. Misalnya setelah dihitung muslimah di Wilayah Condet ada 700 ribu orang. Jika
diasumsikan harga kerudung adalah Rp 50.000. Target bidik hanya 5% dari total volume penjualan.
Diketahui:
Q = 700.000 orang
P = Rp 50.000
S/volume penjualan =.?
S=PxQ
S = 50.000 x 700.000
S = 35.000.000.000
Target volume penjualan tidak banyak karena baru membuka bisnis pertama disamping itu faktor banyaknya kompetitor yakni hanya 5%
Rp 35.000.000 x 5%
= 1.750.000.000 (dalam satu tahun)
= 1.750.000.000 : 12
= 145.000.000 (per bulan) Dan sekitar 4,7 juta per hari
Jika dihitung BEP-nya, sebenarnya tidak mencapai 4,7 juta misalnya saya beromzet Rp. 3 juta saja pun sudah akan BEP dalam waktu 2 tahun,
namun bukan itu targetnya. Targetnya adalah harus bisa mengambil MARKET SHARE (PANGSA PASAR) sebanyak 5%. Jika menginginkan
hasil yang lebih, kita tidak usah terlalu fokus untuk menaikkan target volume penjualan kita misalnya yang tadinya 5% menjadi 10%. Karena ada
yang lebih penting dari itu yakni dengan perluasan pangsa pasar atau yang dikenal dengan istilah Market Share kita harus berusaha untuk
memperbesar Potensi Market Share kita. Yaitu dengan cara menaikkan jumlah muslimah yang berkerudung yang tadinya 700 ribu orang menjadi
1 juta orang.Kegiatan suatu manajemen perusahaan adalah mempertahankan keberlangsungan
jangka panjang (market share) dan jangka pendek (volume penjualan).
Market Share adalah (Persentase pasar) penjualan perusahaan dibandingkan pasar keseluruhan.
Sedangkan volume penjualan memunyai pengertian keseluruhan penghasilan (total revenue)
tergantung pada jumlah (quantity) yang terjual dan harga per unit (price). Formula daripada
definisi tersebut diatas adalah sebagai berikut:

Revenue = Q X P
Pendapatan market share = revenue : total pasar
Market Potential, Market Demand &
Market Share
Organisasi memiliki berbagai pilihan strategi pemasaran, seperti market growth strategy,
Market Share Strategy, Customer revenue strategy, Cost Reduction Strategy,
Advertising Strategy dan Channel Strategy. Namun strategi apa pun yang dimiliki organisasi, tidak
aka nada artinya jika potensi pasar(market potential) tidak ada. Oleh karena itu, para pengambil
keputusan dalam organisasi perlu menganalisa dulu potensi pasar yang ada. Sebelumnya organisasi perlu
terlebih dahulu mendifinisikan pasar yang akan ditujunya, dengan mendefinisikan apakah organisasi tersebut
akan akan mendefinisikan pasar secara luas atau terbatas. Tanpa mendefinisikan pasar apa yang akan
dituju, akan sulit bagi perusahaan untuk mengukur market potential, market demand dan market
share.
Mendefiniskan pasar dengan melihat secara luas (broad market vision) menjadi penting karena
akan memperlihatkan berbagai peluang baru terhadap kebutuhan konsumen yang berbeda-beda. Selain itu
pengambil keputusan akan dapat mengenali produk-produk yang berpotensi menjadi substitusi.
Potensi pasar adalah nilai maksimum dari konsumen yang dapat ditarik dari pasar, tentunya dengan definisi
pasar yang jelas. Potensi pasar ini biasanya terdiri dari market demand yang ada ditambah pasar yang
masih belum tergarap (un-tapped market potential).
Jika organisasi melihat adanya un-tapped market potential maka organisasi tersebut dapat pula
memutuskan untuk menggunakan market growth strategy yang telah dibahas di tulisan sebelumnya.
Adanya pasar yang belum tergarap ini biasanya disebabkan oleh hal-hal seperti rendahnya awareness, baik
dari sisi product awareness maupun pengertian yang menyeluruh mengenai keuntungan produk yang ada.
Potensi pasar yang belum tergarap juga disebabkan oleh karena ketidaktersedianya produk di pasaran. Selain
itu kemampuan konsumen untuk menggunakan produk tersebut juga dapat membuat adanya potensi pasar
yang belum tergarap.
Pada tahun 1980an, Apple meluncurkan komputer Macintosh yang mudah dipakai karena melihat
adanya potensi pasar yang belum tergarap dari konsumen yang kesulitan dalam menggunakan Personal
Computer (PC) yang ada.PC yang ada kala itu sulit untuk dipergunakan oleh sebagian orang karena harus
mengguasai perintah-perintah yang cukup rumit. Selain itu, jika keuntungan (benefit) yang ditawarkan
produk yang ada di pasar tidak mencukupi serta harga yang terjangkau, menyebabkan juga terjadinya pasar
yang belum tergarap.Selain melihat potensi pasar, manajemen perlu juga memperhitungkan pertumbuhan
dari pasar tersebut. Potensi pasar merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan pasar. Selain
itu market penetration atau banyaknya konsumen yang telah tergarap serta rate of entry atau
banyaknya konsumen baru yang masuk ke industri tersebut turut menentukan tingkat pertumbuhan
pasar.
Pertumbuhan pasar dipengaruhi juga oleh dua hal yang saling berhubungan, yaitu customer
adoption process dan product adoption process. Proses adaptasi konsumen dimulai dari adanya
kebutuhan, makin kuat kebutuhan tersebut pertumbuhan pasar akan semakin cepat. Kebutuhan kemudian
diikuti dengan mempertimbangkan resiko yang ada, dimana makin besar resiko, pertumbuhan pasar akan
semakin lama.
Pengambilan keputusan untuk membeli jika melalui proses yang panjang akan menghambat pertumbuhan
pasar pula. Kemudahan untuk mengamati dan mencobA sebelum membeli akan mempercepat pertumbuhan
pasar. Product adoption process juga mempengarhui pertumbuhan pasar. Semakin tinggi keunggulan
produk, semakin terjangkau, semakin mudah dipergunakan, semakin baik kinerja produk tersebut dan
semakin mudah produk tersebut diperoleh akan mempercepat pertumbuhan pasar.
Permintaan pasar merupakan salah satu faktor penentu dalam pertumbuhan pasar. Permintaan pasar
ini dipengaruhi oleh product life cycle, dimana terdiri dari tahapan introduction, early growth,
growth, late growth, maturity dan decline. Dengan mengenali product lice cycle (PLC) ini dapat
memperkirakan permintaan pasar di mas depan dan membuat market development index untuk mengukur
pertumbuhannya. Selain itu, semakin life cycle bertumbuh, biaya untuk pemasaran dan produksi juga
berubah. Tentunya PLC juga mempengaruhi keuntungan dari organisasi. Setelah mengetahui market
demand dan market potential, organisasi perlu mendapatkanmarket share yang cukup agar dapat
berkelanjutan. Respons konsumen terhadap pemasaran menjadi faktor penentu besarnya market shareyang
dimiliki suatu organisasi. Oleh karena itu manajemen perlu mengetahui bagaimana proses dalam diri
konsumen sehingga dia merespons suatu produk.

ROI
ROI (singkatan bahasa Inggris: return on investment) atau ROR (singkatan bahasa Inggris: rate of return)
dalam bahasa Indonesia disebut laba atas investasi adalah rasiouang yang diperoleh atau hilang pada
suatu investasi, relatif terhadap jumlah uang yang diinvestasikan. Jumlah uang yang diperoleh atau hilang
tersebut dapat disebut bungaatau laba/rugi. Investasi uang dapat dirujuk sebagai aset, modal, pokok, basis
biaya investasi. ROI biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase dan bukan dalam nilai desimal.

ROI tidak memberikan indikasi berapa lamanya suatu investasi. Namun, ROI sering dinyatakan dalam satuan
tahunan atau disetahunkan dan sering juga dinyatakan untuk suatu tahun kalendar atau fiskal.

ROI digunakan untuk membandingkan laba atas investasi antara investasi-investasi yang sulit dibandingkan
dengan menggunakan nilai moneter. Sebagai contoh, suatu investasi senilai 1000 rupiah yang menghasilkan
bunga 50 rupiah jelas memberikan lebih banyak uang daripada investasi senilai 100 rupiah yang memberikan
bunga 20 rupiah. Tapi investasi 100 rupiah memberikan ROI yang lebih besar.

Pengertian Dan Rasio-rasio Financial Leverage


Arti leverage secara harfiah (literal) menurut Hanafi (2004:327) adalah pengungkit. Pengungkit biasanya digunakan untuk
membantu mengangkat beban yang berat. Dalam keuangan, leverage juga mempunyai maksud yang serupa. Lebih spesifik
lagi, leverage bisa digunakan untuk meningkatkan tingkat keuntungan yang diharapkan. Kemampuan perusahaan
untuk menggunakan aktiva atau dana untuk memperbesar tingkat penghasilan (return) bagi pemilik perusahaan dengan
memperbesar tingkat leverage maka hal ini akan berarti bahwa tingkat ketidakpastian (uncertainty) dari return yang akan
diperoleh akan semakin tinggi pula, tetapi pada saat yang sama hal tersebut akan memperbesar jumlah return yang akan
diperoleh. Tingkat leverage ini bisa saja berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya, atau dari
satu periode ke periode lainnya di dalam satu perusahaan, tetapi yang jelas, semakin tinggi tingkat leverage akan
semakin tinggi risiko yang dihadapi serta semakin besar return atau penghasilan yang diharapkan.

Leverage adalah suatu ukuran yang menunjukkan sampai sejauh mana hutang dan saham prefern digunakan dalam
struktur modal perusahaan. Leverage perusahaan akan mempengaruhi laba per lembar saham, tingkat risiko dan
harga saham. Nilai perusahaan yang tidak mempunyai hutang untuk pertama kali akan naik pada saat kebutuhan akan
tambahan modal dipenuhi oleh hutang dan nilai tersebut kemudian akan mencapai puncaknya dan akhirnya nilai itu akan
menurun setelah penggunaan hutang berlebihan.
Financial leverage adalah pengaruh perubahan modal terhadap pendapatan bersih operasi (net operating income = NOI)
atau terhadap profitabilitas perusahaan (EBIT). Sedangkan Sartono (2001:257) memberikan pengertian financial leverage
bahwa: Financial leverage adalah penggunaan assets dan sumber dana (Sources of Funds) oleh perusahaan memiliki
biaya tetap (beban tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa financial leverage merupakan usaha
memperbesar efek perubahan atas laba sebelum pajak dan bunga/earning before interests and taxes (EBIT) terhadap
earning per share (EPS) atau pendapatan per saham. Apabila dalam operating leverage, masalah fixed costs/aset tetap
yang memengaruhi laba perusahaan dalam financial leverage adalah biaya modal tetap (fixed financial cost). Biaya modal
tetap merupakan suatu bunga tetap (fixed interests) yang harus dibayar perusahaan sesuai dengan perjanjian kepada
pemberi pinjaman (debt holdres) atau dividen atas saham preferen (preferred stockholders) sebelum pembagian
pendapatan/dividen kepada para pemegang saham umum (common stockholders).

Degree of financial leverage mempunyai implikasi terhadap earning per share perusahaan . Untuk perusahaan yang
mempunyai DFL yang tinggi, perubahan EBIT (Earning Before Interest and Taxes) akan menyebabkan perubahan EPS yang
tinggi. Sama seperti degree of operating leverage (DOL). DFL seperti bermakna dua, jika EBIT meningkat, EPS akan
meningkat secara signifikan, sebaliknya jika EBIT turun, EPS juga akan turun secara signifikan.

Didalam manajemen keuangan umumnya dikenal dua macam leverage, yaitu leverage operasi (operating leverage)
dan leverage keuangan (financial leverage). Penggunaan kedua leverage ini dengan tujuan agar keuntungan yang
diperoleh lebih besar dari pada biaya asset dan sumber dananya. Dengan demikian, penggunaan leverage akan
meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham. Sebaliknya leverage juga dapat meningkatkan resiko kerugian. Jika
perusahaan mendapat keuntungan yang lebih rendah dibandingkan dengan biaya tetapnya maka penggunaan leverage
akan menurunkan keuntungan pemegang saham. Adapun jenis-jenis rasio financial leverage yaitu :

1. Time Interest Earned Ratio (TIER) adalah rasio antara laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga.
Laba operasi + pembayaran leasing
Time Interest Earned Ratio = ---------------------------------------------
Biaya bunga + pembayaran leasing

2. Fixed Charge Coverage Ratio adalah rasio penutupan beban tetap yang hampir sama dengan TIER, akan tetapi disini
dimasukkan beban lain dimana pada umumnya perusahaan menyewa aktiva (leasing) dan menanggung kewajiban jangka
panjang atas dasar kontrak lease.

Laba operasi + pembayaran leasing


Fixed change coverage ratio = ---------------------------------------------
Biaya bunga + pembayaran leasing
3. Debt ratio adalah rasio ini dikenal juga dengan sebutan Debt to Asset yang membandingkan total utang dengan total
aktiva. Para kreditur menginginkan debt ratio yang rendah karena semakin tinggi rasio ini semakin besar risiko para
kreditur.

Total Kewajiban
Debt Ratio = ------------------------
Total Aktiva

Rasio Untuk Menghitung Return on Investment

Return on Assets, ROA, Laba atas Aset


Laba atas Aset merupakan rasio keuangan yang merepresentasikan seberapa efektif aset perusahaan
digunakan untuk menghasilkan laba. Rasio ini memberikan informasi besarnya laba yang diperoleh dari total
asset yang dimiliki oleh perusahaan. Laba bersih adalah laba setelah bunga dan pajak, atau earning after
interest and tax. Total asset merupakan modal dari pinjaman dan modal sendiri. Jadi pada dasarnya rasio ini
menunjukkan laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri dan modal pinjaman. Formula untuk menghitung
rasio Return on Assets, ROA, adalah sebagai berikut:

ROA = Laba bersih / Total Assets

Dari formulanya diketahui bahwa Return on Assets, atau ROA menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang
diperoleh perusahaan dari seluruh asset yang dimilikinya. Nilai rasio 0,25 atau 25 persen menunjukkan bahwa
perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang nilainya 25 persen dari total asetnya.

Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar dana yang dapat dikembalikan dari total asset perusahan
menjadi laba. Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh perusahaan, semakin baik kinerja perusahaan
tersebut.

Return on Equity, ROE, Laba atas


Ekuitas
Laba atas ekuitas, atau Return on Equity, atau ROE merupakan rasio keuangan yang dapat menunjukkan
besarnya laba bersih yang diperoleh dari ekuitas yang dimiliki perusahaan. Sedangkan equity merupakan
modal yang dimiliki perusahaan sendiri, bukan dari pinjaman. Jadi pada dasarnya rasio ini menunjukkan
seberapa besar laba yang diperoleh dari modal sendiri. Formula untuk menghitung rasio Return on Equity,
ROE, adalah sebagai berikut:

ROE = Laba bersih / Ekuitas

Dari formulanya diketahui bahwa Return on Equity, atau ROE menunjukkan besarnya pendapatan bersih yang
diperoleh perusahaan dari equity yang dimilikinya. Nilai rasio 0,20 atau 20 persen menunjukkan bahwa
perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang nilainya 20 persen dari ekuitasnya.

Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar dana yang dapat dikembalikan dari ekuitas menjadi laba.
Artinya semakin besar laba bersih yang diperoleh dari modal sendiri. ROE tinggi akan menyebabkan posisi
pemilik modal perusahaan semakin kuat.
ASSET, LIABILITY, EQUITY
Laporan Keuangan biasanya dibagi menjadi tiga bagian:
1. Income Statement (Biasa juga disebut Profit/Loss Statement atau laporan
Rugi/Laba)
2. Balance Sheet (Neraca Keuangan)
3. Cashflow (Arus Kas)
Nah, yang kita bahas kali ini adalah Balance Sheet atau Neraca Keuangan. Apa itu neraca keuangan?
Neraca keuangan adalah jenis laporan keuangan yang menunjukkan harta yang dimiliki oleh suatu
perusahaan. Biasanya dibagi menjadi tiga bagian: Asset, Liability, dan Equity.

Apa itu Asset?


Asset itu adalah nilai dari sesuatu yang dimiliki oleh perusahaan. Yang dapat dimasukkan ke dalam
kolom asset salah satunya adalah gedung atau bangunan. Jadi kalau suatu perusahaan memiliki
gedung senilai satu miliar rupiah, maka asset yang dihitung adalah satu miliar rupiah itu. Selain
gedung, yang bisa dihitung sebagai asset bisa termasuk: merk dagang, paten teknologi, uang kas,
mobil, dll.

Apa itu Liability?


Liability adalah nilai dari hutang yang dimiliki oleh perusahaan, baik hutang jangka pendek maupun
jangka panjang. Salah satu contoh liability adalah jika perusahaan meminjam uang ke pihak Bank
atau ke partner bisnis.

Apa itu Equity?


Equity = Asset - Liability. Jadi Equity adalah selisih dari nilai Asset dikurangi dengan nilai
Liabilitynya.

Contoh paling sederhana penggunaan ketiganya adalah ketika perusahaan membeli gedung secara
kredit. Sama persis dengan perorangan membeli rumah secara KPR. Misal:

Nilai bangunan: Rp10.000.000.000,- (disingkat jadi 10M)


Uang Kas yang dimiliki: Rp4.000.000.000,- (disingkat jadi 4M)

Sebelum bangunan tersebut dibeli, maka neraca keuangannya adalah sbb:


Asset: 4M
Liability: nol
Equity: 4M

Perusahaan lalu meminjam uang kepada bank sebesar 6M, sehingga neracanya menjadi:
Asset: 10M (dalam bentuk uang cash)
Liability: 6M
Equity: 4M

Dengan uang yang dimiliki, perusahaan membeli gedung tersebut, sehingga neracanya menjadi:
Asset: 10M (dalam bentuk gedung)
Liability: 6M
Equity: 4M

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Okay, sekarang apa gunanya mengetahui hal ini dalam berinvestasi? Salah satunya adalah untuk
membandingkan kekayaan antar perusahaan yang sahamnya ingin dibeli. Contoh ada perusahaan A
dan B yang asset dan equitynya kurang-lebih sama, namun harga perusahaan A lebih tinggi
dibanding harga perusahaan B, mana yang lebih layak untuk dibeli? Untuk kondisi ini jelas B lebih
baik. Karena harga yang dibayarkan lebih rendah untuk harga kekayaan perusahaan yang sama saja.