Anda di halaman 1dari 16

SISTEM PROTEKSI PADA PEMBANGKIT-PEMBANGKIT DI INDONESIA

TUGAS
DISUSUN UNTUK MEMENUHI MATAKULIAH
Sistem Proteksi
yang dibina oleh Ibu Yuni Rahmawati, S.T., M.T.

Oleh

KELOMPOK 2
Ayil Qoimatul Laili 140534603527
Dhenok Larasati 140534603666
Dwi Anita 140534604139
Gilang Rafiqa Sari 140534603660
Miftachul Jannah 140534603999

S1 PTE 2014 OFFERING B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
Februari 2017
SISTEM PROTEKSI PADA PEMBANGKIT-PEMBANGKIT DI INDONESIA

I. SISTEM RELAY PROTEKSI GENERATOR

Gambar 1. Penempatan Peralatan Pengaman Elektris pada Generator

Relay proteksi utama yang digunakan pada generator yang ada di pembangkit, antara lain adalah :
a. Differential Relay
Differential Relay untuk melindungi generator dari gangguan akibat hubung singkat (short
circuit) antar fasa-fase atau fase ke tanah. Cara kerja relay differensial adalah dengan cara
membandingkan arus pada sisi primer dan sisi sekunder, Dalam kondisi normal jumlah arus yang
mengalir melalui peralatan listrik yang diproteksi bersirkulasi melalui loop pada kedua sisi di
daerah kerja. Jika terjadi gangguan didalam daerah kerja relay differensial, maka arus dari kedua
sisi akan saling menjumlah dan relay akan memberi perintah kepada PMT/CB untuk
memutuskan arus.

b. Stator Earth Fault Relay


Stator Earth Fault Relay untuk mendeteksi gangguan pentanahan atau grounding pada
generator. Ground fault dideteksi dengan mem-biased rangkaian medan dengan tegangan DC,
yang menyebabkan akan ada arus mengalir melalui relay jika terjadi gangguan tanah.

c. Rele Tegangan Lebih (Over voltage Relay)


Pada generator yang besar umumnya menggunakan sistem pentanahan netral melalui
transformator dengan tahanan di sisi sekunder. Sistem pentanahan ini dimaksudkan untuk
mendapatkan nilai impedansi yang tinggi sehingga dapat membatasi arus hubung singkat agar
tidak menimbulkan bahaya kerusakan pada belitan dan saat terjadi gangguan hubung singkat
stator ke tanah. Arus hubung singkat yang terjadi di sekitar titik netral relatif kecil sehinga sulit
untuk dideteksi oleh rele differensial. Dengan dipasang transformator tegangan, arus yang kecil
tersebut akan mengalir dan menginduksikan tegangan pada sisi sekunder transformator. Untuk
mengatasi hal tersebut digunakan rele pendeteksi tegangan lebih yang dipasang pada sisi
sekunder transformator tegangan. egangan yang muncul pada sisi sekunder transformator
tegangan akan membuat rele tegangan berada pada kondisi mendeteksi apabila perubahan
tegangan melebihi nilai settingnya dan generator akan trip. Rangkaian ini sangat baik karena
dapat membatasi aliran arus nol yang mengalir ke dalam generator ketika terjadi hubung singkat
fasa ke tanah di sisi tegangan tinggi transformator tegangan. Akan tetapi karena efek kapasitansi
pada kedua belitan transformator dapat menyebabkan adanya arus bocor urutan nol yang dapat
mengaktifkan rele tegangan lebih di sisi netral generator. Dengan demikian rele tegangan lebih
yang dipasang harus mempunyai waktu tunda yang dapat dikoordinasikan dengan rele di luar
generator. Adapun penyebab overvoltage adalah sebagai berikut:
- Kegagalan AVR.
- Kesalahan operasi sistem eksitasi.
- Pelepasan beban saaat eksitasi dikontrol secara manual.
- Pemisahan generator dari sistem saat islanding.

d. Rele Gangguan Rotor Hubung Tanah (Rotor Earth Fault Relay)


Hubung tanah dalam sirkuit rotor, yaitu hubung singkat antara konduktor rotor dengan badan
rotor dimana dapat menimbulkan distorsi medan magnet yang dihasilkan rotor dan selanjutnya
dapat menimbulakn getaran (vibrasi) berlebihan dalam generator. Oleh karena itu, hal ini harus
dihentikan oleh rele rotor hubung tanah. Karena sirkuit rotor adalah sirkuit arus searah, maka
rele rotor hubung tanah pada prinsipnya merupakan rele arus lebih untuk arus searah.
Adapun single line diagram rele gangguan rotor hubung tanah adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Single Line Diagram Rele Gangguan Rotor Hubung Tanah

Pada gambar di atas, ketika tidak ada gangguan maka arus simetri, {Ir = Ia+Ib+Ic =0}, namun
ketika terjadi gangguan hubung singkat ke tanah, maka arus menjadi tak simetri {Ir = Ia+Ib+Ic =
3Iao}, sehingga terdapat arus yang mengalir pada rele dan membuat rele mendeteksi gangguan.

e. Rele Kehilangan Medan Penguat Rotor (Lost of Rotor Excitation Relay)


Hilangnya medan penguat pada rotor akan mengakibatkan generator kehilangan sinkronisasi dan
berputar di luar kecepatan sinkronnya sehingga generator beroperasi sebagai generator asinkron.
Daya reaktif yang diambil dari sistem ini akan dapat melebihi rating generator sehingga
menimbulkan overload pada belitan stator dan menimbulkan overheat yang menimbulkan
penurunan tegangan generator. Hilangnya medan penguat rotor dapat dideteksi dengan kumparan
yang dipasang paralel dengan main exciter dan kumparan rotor generator. Pada kumparan ini
akan mengalir arus yang apabila nilainya kurang dari arus setting yang diinginkan, maka akan
membuat rele mengeluarkan sinyal alarm atau trip.
f. Rele Arus Lebih (Over current Relay)
Rele ini berfungsi mendeteksi arus lebih yang mengalir dalam kumparan stator generator. Arus
yang berlebihan dapat terjadi pada kumparan stator generator atau di dalam kumparan rotor. Arus
yang berlebihan pada kumparan stator dapat terjadi karena pembebanan berlebihan terhadap
generator. Adapun single line diagramrele arus lebih adalah sebagai berikut :

Gambar 3. Single Line Diagram Rele Arus Lebih

Keterangan :
CB = Circuit Breaker
TC = Trip Coil CB
I = Arus yang mengalir pada saluran yang diamankan
CT = Transformator Arus
Ir = Arus yang mengalir pada rele
C = Rele arus lebih
Ip = Arus pick-up dari rele

g. Rele Kehilangan Sinkronisasi (Out of Synchronism Relay)


Peristiwa lepasnya sinkronisasi pada generator yang sedang beroperasi disebabkan oleh
generator yang beroperasi melampaui batas stabilnya. Yang dimaksud dengan stabilitas adalah
kemampuan sistem untuk kembali bekerja normal setelah mengalami sesuatu seperti perubahan
beban, switching, dan gangguan lain. Gangguan tersebut akan berdampak pada tidak sinkron-nya
tegangan generator dan sistem. Untuk mengamankan generator yang berkapasitas beban besar
terhadap peristiwa ayunan beban dari kondisi tak sinkron digunakan rele lepas sinkron. Rele ini
mendeteksi besar impedansi (arus dan tegangan sistem). Apabila kondisi sistem akan memasuki
impedansi generator maka rele tersebut akan mengaktifkan rele untuk trip PMT generator. Rele
impedansi merupakan backupbagi rele ini.

h. Rele Daya Balik (Reverse Power Relay)


Rele daya balik berfungsi untuk mendeteksi aliran daya balik aktif yang masuk pada generator.
Berubahnya aliran daya aktif pada arah generator akan membuat generator menjadi motor,
dikenal sebagai peristiwa motoring. Pengaruh ini disebabkan oleh pengaruh rendahnya input
daya dari prime mover. Bila daya input ini tidak dapat mengatasi rugi-rugi daya yang ada maka
kekurangan daya dapat diperoleh dengan menyerap daya aktif dari jaringan. Selama penguatan
masih ada maka aliran daya aktif generator sama halnya dengan saat generator bekerja sebagai
motor, sehingga daya aktif masuk ke generator dan daya reaktif dapat masuk atau keluar dari
generator.Peristiwa motoring ini dapat juga menimbulkan kerusakan lebih parah pada turbin
ketika aliran uap berhenti. Temperatur sudu-sudu akan naik akibat rugi gesekan turbin dengan
udara. Untuk itu di dalam turbin gas dan uap dilengkapi sensor aliran dan temperatur yang dapat
memberikan pesan pada rele untuk trip. Akan tetapi pada generator juga dipasng rele daya balik
yang berfungsi sebagai cadangan bila pengaman di turbin gagal bekerja. Adapun single line
diagram rele daya balik adalah sebagai berikut :

Gambar 4. Single Line Diagram Rele Daya Balik

Pada gambar tersebut, apabila terjadi gangguan pada F1, maka rele akan men-trip CB2, apabila
gangguan terjadi pada F2, maka rele tidak akan men-trip CB2 karena arah aliran arus yang
terbalik dari kanan ke kiri.

i. Negative Phase Sequence Relay


Negative Phase Sequence Relay untuk melindungi generator dari arus lebih urutan fasa negative
yang disebabkan oleh beban yang tidak seimbang.

j. Out of Step Relay


Out of Step Relay untuk melindungi generator dari Power Swing akibat perubahan beban dari
sistem transmisi yang dapat menyebabkan operasi generator tidak sinkron.

k. Over excitationV/H z Relay


Over excitationV/H z Relay untuk melindungi generator dari kejenuhan inti yang dapat
menyebabkan kenaikan tegangan.

l. Rele Gangguan Frekuensi (Frequency Fault Relay)


Rele ini berfungsi untuk mendeteksi adanya perubahan frekuensi dalam nilai yang besar secara
tiba tiba. Kisaran frekuensi yang diijinkan adalah 3% sampai 7% dari nilai frekuensi
nominal. Penurunan frekuensi disebabkan oleh adanya kelebihan permintaan daya aktif di
jaringan atau kerusakan regulator frekuensi. Frekuensi yang turun menyebabkan naiknya arus
magnetisasi pada generator yang akan menaikkan temperatur. Pada turbin uap, hal tersebut akan
mereduksi umur blade pada rotor. Kenaikan frekuensi disebabkan oleh adanya penurunan
permintaan daya aktif pada jaringan atau kerusakan regulator frekuensi. Frekuensi yang naik
akan menyebabkan turunnya nilai arus magnetisasi pada generator yang akan menyebabkan
generator kekurangan medan penguat. Sensor rele frekuensi dipasang pada tiap fasa yang keluar
dari generator.

m. Reverse Power Relay


Reverse Power Relay untuk menditeksi adanya daya balik/aliran arus dari sistem jaringan yang
akan menyebabkan generator bekerja sebagai motor.

II. MACAM-MACAM RELAI PROTEKSI GENERATOR DAN FUNGSINYA


Tabel 1. Macam - Macam Relai Proteksi Generator dan Fungsinya
NO NAMA RELAI FUNGSI RELAI
1 Relai jarak (distance relay) Untuk mendeteksi gangguan 2 phasa/ 3 phasa di muka
generator sampai batas jangkauannya
2 Relai periksa sinkron Pengaman bantu generator untuk mendeteksi persyaratan
(synchron check relay) sinkronisasi atau paralel
3 Relai tegangan kurang Untuk mendeteksi turunnya tegangan sampai di bawah
(undervoltage relay) harga yang diijinkan
4 Relai daya balik (reverse Untuk mendeteksi daya balik sehingga mencegah
power relay) generator bekerja sebagai motor
5 Relai kehilangan medan Untuk mendeteksi kehilangan arus penguat pada rotor
penguat (loss of excita-tion
relay)
6 Relai phasa urutan negatif Untuk mendeteksi arus urutan negatif yang disebabkan
(negative phase sequence oleh beban tidak seimbang dari batas-batas yang diijinkan
relay)
7 Relai arus lebih seketika Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi batas yang
(instantaneous over cur-rent ditentukan dalam waktu seketika
relay)
8 Relai arus lebih dengan Untuk mendeteksi besaran arus yang melebihi batas
waktu tunda (time over dalam waktu yang ditentukan
current relay)
9 Relai penguat lebih (over Untuk mendeteksi penguat lebih pada generator
excitation relay)
10 Relai tegangan lebih (over1. Bila terpasang di titik netral generator atau trafo
voltage relay) tegangan yang dihubungkan segitiga, untuk mendeteksi
gangguan stator hubung tanah
2. Bila terpasang pada terminal generator : untuk
mendeteksi tegangan lebih
11 Relai keseimbangan te- Untuk mendeteksi hilangnya tegangan dari trafo tegangan
gangan (voltage balance ke pengatur tegangan otomatis (AVR) dan ke relay
relay)
12 Relai waktu Untuk memperlambat/mempercepat waktu
13 Relai stator gangguan Untuk mendeteksi gangguan hubung tanah pada stator
tanah(stator ground fault
relay)
14 Relai kehilangan sinkroni- Untuk mendeteksi kondisi asinkron pada generator yang
sasi (out of step relay) sudah paralel dengan sistem
15 Relai pengunci (lock out Untuk menerima signal trip dari relai-relai proteksi dan
relay) kemudian meneruskan signal trip ke PMT, alarm, dan
peralatan lain serta penguncinya
16 Relai frekuensi (frequen-cy Untuk mendeteksi besaran frekuensi rendah/lebih di luar
relay) harga yang ditentukan
17 Relai differensial (diffe- Untuk mendeteksi gangguan hubung singkat pada daerah
rential relay) yang diamankan

III. ANALISA RELAY YANG ADA DI PEMBANGKIT INDONESIA


a. Relay Pengaman Generator PLTG DI PT INDONESIA POWER UBP BALI UNIT
Pesanggaran
Unit Bisnis Pembangkitan Bali adalah salah satu unit pembangkit milik PT Indonesia
Power yang menyediakan tenaga listrik khusus untuk Pulau Bali. Pembangkit Listrik
Tenaga Gas di PT Indonesia Power UBP Bali Unit Pesanggaran memiliki total daya
terpasang sebesar 125.45 MW dan total daya mampu sebesar 107.5 MW. Terdapat 4 unit
PLTG di Pesanggaran yang memiliki kapasitas generator yang berbeda-beda. Salah satu
contoh gangguan yang pernah terjadi pada generator PLTG yaitu Salah satu contoh
gangguan yang pernah terjadi di Pesanggaran yaitu gangguan yang menyebabkan arus lebih
pada generator PLTG 3 terjadi trip (lepas).
Selain itu, bahaya yang mungkin terjadi akibat adanya gangguan adalah stabilitas sistem
terganggu dan isolasi kumparan stator generator akan rusak karena panas yang belebihan.
Gangguan fasa ke tanah adalah gangguan yang terjadi akibat kerusakan isolasi stator
maupun inti besi terlaminasi pada generator. Penelitian ini membahas tentang relay over
current relay (OCR) dan ground fault relay pengaman generator PLTG.

1. Over Current Relay (OCR)


Rele ini bekerja dengan membaca input berupa besaran arus kemudian membandingankan
dengan nilai setting, apabila nilai arus yang terbaca oleh rele melebihi nilai setting, maka
rele akan mengirim perintah trip (lepas) kepada Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit
Breaker (CB) setelah tunda waktu yang diterapkan pada setting.

Gambar 5. Pemasangan OCR

Rele arus lebih OCR memproteksi instalasi listrik terhadap gangguan antar fasa.
Sedangkan untuk memproteki terhadap gangguan fasa tanah digunakan rele Rele Arus
Gangguan tanah atau Ground Fault Relay (GFR). Prinsip kerja GFR sama dengan OCR,
yang membedakan hanyalah pda fungsi dan elemen sensor arus. OCR biasanya memiliki 2
atau 3 sensor arus (untuk 2 atau 3 fasa) sedangkan GFR ahnya memiliki satu sensor arus
(satu fasa ).
Waktu kerja rele OCr maupun GFR tergantung nilai setting dan karakteristik waktunya
(lihat posting saya mengenai hal ini disini). Elemen tunda waktu pada rele ini pada 2, yaitu
elemen low set dan elemen high set. elemen low set bekerja ketika terjadi gangguan
dengan arus hubungsingkat yang relatif kecil, sedangkan elemen high set bkerja ketika
terjadi gangguan dengan arus hubung singkat yang cukup besar.

Gambar 6. Grafik Karakteristik Waktu Tunda Rele OCR

Pada gambar diatas, elemen low set disetting dengan menggunakan karakteristik inverse.
Sedangkan elemen high set menggunakan karateristik definite. Pembantukan kurva waktu
tunda rele dimaksudkan agar ketika terjadi gangguan dengan arus hubung singkat yang
cukup besar (dalam grafik di atas ketika terjadi gangguan dengan arus > 2400A) maka rele
akan segera memerintahkan Pemutus tenaga (PMT) untuk trip.

Rele OCR dan GFR dipasang sebagai alat proteksi motor, trafo, penghantar transmisi,
dan penyulang. Posting kali ini menulsi tentang OCRdan GFR sebagai proteksi trafo dan
penyulang. Sebagai alat proteksi maka penggunaa rele harus memenuhi persyaratan
proteksi yaitu : cepat, selektif, serta handal. Rele harus disetting sedemikian rupa sehingga
dapat bekerja secepat mungkin dan meminimalkan bagian dari sistem yang harus padam.

Hal ini diterapkan dengan cara mengatur waktu kerja rele agar bekerja lambat ketika
terjadi arus gangguan kecil, dan bekerja semakin cepat apabila arus gangguan semakin
besar, hal ini disebut karakteristik inverse. Karakteristik inverse dibedakan menjadi 4
seperti yang saya tulis dalam posting saya terdahulu, yaitu SI-VI-EI-LTI.

Gambar 7. Koordinasi Waktu Kerja Rele

Pada gambar diatas, terlihat bahwa rele yang berada dipangkal berfungsi sebagai
pengaman cadangan bagi rele yang berada didepannya. semakin jauh letak gangguan dari
pangkal, maka arus gangguan akan semakin kecil, maka rele di pangkal akan bekerja lebih
lama dari pada rele yang di depannya ketika terjadi gangguan yang berada di ujung. Oleh
karena itu disusun aturan penyetalan rele OCR.

Tabel 2. Kaidah Setting OCR Trafo Dan Penyulang

Tabel 3. Kaidah Setting GFR Trafo Dan Penyulang

Cara menghitung setting OCR GFR adalah sebagai berikut:


1. hitung arus hubung singkat satu fasa dan tiga fasa pada pangkal segmen dan di ujung
segmen yang diproteksi
2. tentukan waktu kerja rele ketika terjadi gangguan di ujung segmen
3. tentukan setelan arus rele berdasarkan tabel di atas
4. tentukan karakteristik waktu (SI-VI-EI-LTI)
5. hitung td berdasarkan rumus yang sesuai dengan karakteristiknya.

Contoh :
arus gangguan di pangkal : 5000A (gangguan 3 fasa)
arus gangguan di ujung : 2000A (gangguan 3 fasa)
CCC (kemampuan hantar konduktor) : 645A
Arus nominal CT (trafo arus) : 500/5A -> primer 500A, sekunder 5A

1. arus hubung singkat sudah tersedia


2. waktu kerja rele ketika terjadi gangguan di ujung kita tentukan 1 detik
3. setelan arus dipakai 1.1 x 500A = 550A (karena In CT < CCC)
4. karakteristik SI
5. menghitung td
td = [(Ihs di ujung/Iset rele)^0.02 1] / o.14
td = [(3000/550)^0.02 1]/0.04
td = 0.246
6. cek waktu kerja rele ketika terjadi gangguan di pangkal
T = 0.14 x td / [(Ihs di pangkal/Iset rele)^0.02 1]
T = 0.14 x 0.246 / [(5000/550)^0.02 -1]
T = 0.76 detik

Terlihat bahwa waktu kerja rele ketika terjadi gangguan dipangkal lebih cepat daripada
ketika terjadi gangguan diujung. Apapbila waktu yang kita peroleh pada langkah 6 dirasa
masih terlalu lama, maka kita bisa mempercepat dengan cara mengaktifkan elemen high
set.

Misalkan contoh diatas merupakan penyulang 20 kV dari trafo daya 30 MVA dengan
impedansi Z = 12.5%
1. hitung arus nominal trafo
Ihs maks = MVAtrafo / (Vp-p x 1.732)
Ihs maks = 30MVA / (20 kV x 1.732)
Ihs maks = 0.866 kA = 866 A

2. hitung settting elemen high set


Iset high = 0.5 x (Ihs maks/Z)
Iset high = 0.5 x (866/0.125)
Iset high = 3464 A

3. tentukan setting waktu high set


t high = 0 detik
Dengan diaktifkanya elemen high set maka rele akan bekerja isntan (0 detik) ketika terjadi
gangguan di pangkal, karena arus hubung singkat gangguan dipangkal (5000A) lebih besar
dari Iset high (3464A).

2. Ground Fault Relay


Rele gangguan tanah (Ground Fault Relay) adalah pengaman terhadap gangguan tanah.
Arus atau tegangan nol (residu) merupakan penggerak rele ini. Sistem daya listrik pada
umumnya titik netralnya ditanahkan, baik pentanahan langsung (Solid Grounded) maupun
melalui impedansi, karena itu arus residu merupakan penggerak utama rele gangguan
tanah. Tegangan residu biasanya digunakan pada sistem yang tidak ditanahkan. Rele
gangguan tanah terarah (Directional Ground Fault Relay) mempergunakan arus dan
tegangan residu.

Prinsip Kerja Rele Gangguan Tanah


Suatu system tenaga listrik tiga fasa mengalami gangguan tanah. Gangguan tanah ini akan
mengakibatkan terjadinya aliran arus ke tanah. Besarnya gangguan tanah ini bervariasi,
mulai dari kecil sampai yang besar. Dengan menggunakan metode komponen simetris
dapat ditentukan besar arus gangguan tanah yang terjadi. Pada kondisi normal, nilai arus
sama besar, sehingga pada kawat netral tidak timbul arus dan GFR tidak dialiri arus. Bila
terjadi arus yang tidak seimbang atau terjadi gangguan hubung singkat ke tanah, maka
akan timbul arus urutan nol pada kawat netral, sehingga GFR akan bekerja.

b. Rele Overall Differentil Pada Generator Unit PLTA Ketenger PT Indonesia Power
UBP mrica
Relai diferensial digunakan pada peralatan yang secara fisik mempunyai batas daerah
proteksi relatif dekat disekitar peralatan tersebut. Jadi relay ini biasanya digunakan pada
peralatan seperti : transformator, rel dan generator. Biasanya digunakan untuk memproteksi
perlatan terhadap gangguan hubung singkat antar fase, maupun fase dengan tanah.

Relai diferensial digunakan untuk mengamankan generator dari kerusakan akibat adanya
gangguan internal pada kumparan stator. Dua unit transformator arus (CT) masing-masing
dipasang pada kedua sisi kumparan generator, Sekunder CT terhubung bintang yang ujung-
ujungnya dihubungkan melalui kawat-kawat pilot. Pada kondisi normal dan tidak ada
gangguan internal, besarnya arus kedua sisi kumparan sama, sehingga arus yang mengalir
pada sisi-sisi sekunder CT juga sama.

Hal ini menyebabkan tidak ada arus yang mengalir pada relai. Pada saat terjadi gangguan
pada kumparan generator, mungkin fase dengan fase atau fase dengan ground, maka arus
yang mengalir pada kedua sisi kumparan akan berbeda, sehingga ada arus yang mengalir
pada relai. Relai bekerja menarik kontak sehingga kumparan triping mendapat tenaga dari
catudaya searah yang selanjutnya akan menarik kontak pemutus tenaga untuk memutuskan
hubungan generator dengan sistem.

Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan kesimbangan
(balance), yang membandingkan arus-arus sekunder transformator arus (CT) terpasang pada
terminal-terminal peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Penggunaan relay
differensial sebagai relay pengaman, antara lain pada generator, transformator daya, bus bar,
dan saluran transmisi.

Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada


transformator daya yang berguna untuk mengamankan belitan transformator bila terjadi suatu
gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat. Prinsip Kerja Dari
Relay Differensial Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial adalah suatu alat
proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan
(balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui suatu
perantara yaitu trafo arus (CT).

Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan
(generator, transformator dan lain-lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu I 1
dan I2 bersikulasi melalui jalur IA. Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2,
maka dalam kondisi normal tidak akan ada arus yang mengalir melaluinya.
1. Prinsip Kerja Relai Diferensial
Relai diferensial adalah relai yang bekerja bilamana dua atau lebih besaran listrik yang
sama mempunyai hasil jumlah vektor yang lebih besar dari nilai setelan. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan pada penggunaan relai deferensial, adalah :
- Polaritas transformator arus harus sesuai, sedemikian hingga pada kondisi normal,
tidak akan ada arus yang mengalir pada operating coil.
- Perbandingan transformasi serta kapasitas transformator arus, harus sesuai.
- Penetapan relai dan pemilihan penghantar yang sesuai sehingga tidak akan terjadi
kondisi dimana salah satu transformator arus menjadi jenuh arus gangguan yang besar.

2. Jenis Relai Diferensial


Secara umum dikenal dua macam relai deferensial yaitu :
a) Relai Diferensial Longitudinal
Dengan transformator bahwa CT1 dan CT2 merupakan dua transformator arus dengan
perbandingan transformator dan kapasitas yang sesuai, maka untuk kondisi kondisi
berikut :
- Kondisi Normal
I1 dan I2 ditransformasikan oleh CT1 dan CT2 menjadi i1 dan i2 dengan harga yang
secara teoritis sama, sehingga berdasarkan gambar 21, diperoleh persamaan :
i = i1 i2 = 0 (1)
hal ini berarti i lebih kecil dari harga ip sehingga relai blocking.

- Kondisi gangguan F1
Seperti pada kondisi normal I1 dan I2 akan ditransformasikan menjadi i2 dan i2 yang
juga secara teoritis sama. Dari gambar 21. Diperoleh :
i = i1 i2 = 0 (1a)
dan, karena i sama dengan nol, maka relai tetap blocking.

- Kondisi gangguan F2
Arus gangguan I1 ditransformasikan menjadi i1 yang merupakan nilai sekunder arus
gangguan. Sedangkan I2 yang sama dengan nol (sumber disebelah kiri) akan
menyebabkan i2 juga menjadi nol.
I = i1 + i2 = i1 + 0 = i1 (1b)
dimana, i1 + merupakan nila sekunder arus gangguan yang nilainya cukup
jauhlebih besar dari Ip, sehingga relai akan Pick-up.

Namun, beberapa masalah praktis yang sering mempengaruhi keandalan sistem


proteksi ini, yaitu :
o Ketidakmudahan memperoleh transformator arus yang benar benar identik
o Pada umumnya peletakan transformator arus dan unit relai diderensial
sedemikian rupa. Sehingga biasanya burden dari transformator arus yang
digunakan menjadi berbeda.

Masalah masalah tersebut diatas mengaharuskan kita memasang nilai


setelah (ip) untuk relai ini yang lebih besar dari hasil jumlah vektor arus (i) pada
kondisi normal. Termasuk kedalam hal ini, kondisi bilamana terjadi thought fault
current (arus gangguan yang besar tetapi berinteraksi di luar daerah proteksi).

Penentuan nilai setelah dengan cara seperti ini, pada akhirnya akan berarti
mengurangi sensitivitas relai. Hal ini menjadi kelemahan dari relai deferensial
longitudinal.

Gambar 8. Prinsip Kerja Relai Diferensial Longitudinal


Keterangan :
CT1 dan CT2 : transformator arus 1 & 2
I1 dan I2 : arus primer CT1 & CT2
i1 dan i2 : arus sekunder CT1 & CT2

b) Relai Diferensial Persentase


Prinsip kerja relai deferensial presentase diperlihatkan pada Gambar 22. Persamaan
kopel pada relai deferensial presentase adalah :
Kopel Operasi.
To = K (i1 i2) No (2)
Kopel Lawan.
i 1+i2
( )
Tr = K 2 Nr + S (3)

Dimana :
K = Konstanta
S = Kopel lawan Mekanis
i1, i2 = arus sekunder CT1 dan CT2
Nr, No = jumlah lilitan restraining coil dan Operating Coil

Persamaan kopel untuk relai diferensial presentase, dengan mengabaikan kopel lawan
mekanis (S) dalam kondisi ambang (tepat akan Pick-up), adalah :

Gambar 9. Prinsip Kerja Relai Deferensial Presentase

Keterangan :
No = Jumlah Lilitan operating coil
Nr = Jumlah lilitan restraining coil

(i 1+i 2)
K (i1 i2) No = K 2 Nr (4)

Nr (i1+i 2)
=
No (i1+i 2) (5)
2

Nr
No = Ko (6)
i 1+ i2
(i2 = i2) = Ko 2 (7)

Selanjutnya dari persamaan (7) diperoleh karakteristik operasi seperti gambar 10.

Gambar 10. Karakteristik Operasi Relai Diferensial Persentase

Dengan mengasumsikan bhwa CT1 dan CT2 merupakan dua transformator dengan
perbandingan transformator arus dengan perbandingan transformasi dan kapasitas
yang sesuai, maka untuk kondisi kondisi berikut :
- Kondisi Normal
Arus I1 dan I2 ditransformasikan oleh CT1 dan CT2 menjadi i1 dan i2 dengan
harga secara otomatis sama. Akibatnya, kopel opreasi berharga nol (persamaan 2)
sedangkan kopel lawan (persamaan 3) berharga besar, sehingga relai blocking.

- Kondisi Gangguan F1
Arus I1 dan I2 ditransformasikan oleh CT1 dan CT2 menghasilkan arus i1 dan i2
yang juga secara otomatis sama. Akbibatnya kopel (persamaan 2) yang dihasilkan
sama dengan nol sedangkan kopel lawan (persamaan 3) berharga besar, sehingga
relai tetap blocking.

- Kondisi Gangguan F2
Arus I1 yang besar pula, sedangkan I2 sama dengan nol (sumber berada di kiri)
yang berarti i2 juga sama dengan nol. Selanjutnya menurut persamaan (2) dan (3).
Kopel operasi akan lebih besar dari kopel lawan sehingga relai akan pick-up.

Untuk mengatasi masalah magnelizing inrush current, digunakan metode


harmonic current restraint percentage differential relay (relai diferensial
persentase dengan penahan arus harmonis). Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan
munculnya komponen harmonis di samping harmonis dasar pada saat terjadi
magnetizing inrush current. Dimana pada kondisi hubung singkat hampir tidak ada
(dapat diabaikan).

3. Proteksi Transformator dengan Relai Diferensial


Seperti dalam saluran transmisi, jenis relai proteksi yang digunakan untuk
transformator daya tergantung pada besar daya, rating tegangan, dan sifat
penggunaannya. Proteksi utama dan transformator dengan daya yang lebih besar atau
sama dengan 10 MVA umunya menggunakan relai defernsial. Relai ini sangat selektif
dan dapat pack-up dengan kecepatan tinggi.

Prinsip kerja relai diferensial berdasarkan kesimbangan (balance), yang


membandingkan arus-arus sekunder transformator arus (CT) terpasang pada terminal-
terminal peralatan atau instalasi listrik yang diamankan. Penggunaan relay differensial
sebagai relay pengaman, antara lain pada generator, transformator daya, bus bar, dan
saluran transmisi.

Relay differensial digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada


transformator daya yang berguna untuk mengamankan belitan transformator bila terjadi
suatu gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat. Prinsip
Kerja Dari Relay Differensial Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial adalah
suatu alat proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan
keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo
daya melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT).

Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan
(generator, transformator dan lain-lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu
I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur IA. Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1
dan 2, maka dalam kondisi normal tidak akan ada arus yang mengalir melaluinya.

4. Proteksi Rel dengan Relai Diferensial


Meskipun kemungkinan terjadinya gangguan di rel tidak sesering di saluran,
namun apabila hal ini terjadi, maka dampaknya terhadap sistem akan luas. Untuk itu,
harus diusahakan sebuah sistem proteksi yang tepat untuk rel.

Relai diferensial merupakan metode yang paling sensitif dan dapat diandalkan
untuk memproteksi rel. Relai diferensial memiliki selektivitas yang baik, yaitu jumlah
vektor arus yang masuk dan keluar dari suatu rel adalah sama bila tidak gangguan
dalam rel yang bersangkutan.
Gambar 11. Proteksi Rel, Gangguan Di Dalam Rel

Keterangan : OC = Oprating coil


F1,F2 = Gangguan
IOC = Arus Operating coil

Gangguan di luar rel.


Apabila ada gangguan pada rel, maka jumlah vektor dari arus tersebut tidak nol
dan arus inilah yang akan menyebabkan relai pack-up. Secara sederhana digambarkan
pada gambar 24. Gambar 24a merupakan gangguan pada daerah proteksi sehingga relai
pick-up, sedangkan gambar 24b. Merupakan gangguan di luar daerah proteksi dan relai
blocking.