Anda di halaman 1dari 4

Tetap Tenang Menangani Kejang Demam

Pada Anak
Kejang demam adalah salah satu kondisi yang paling ditakuti orang tua bila
anaknya sedang demam. Situasi ini sering dihubung-hubungkan dengan
epilepsi dan risiko keterbelakangan mental sebagai efeknya. Benarkah
demikian?
Kejang demam adalah kondisi yang terjadi diduga oleh karena kenaikan drastis
pada temperatur tubuh yang umumnya disebabkan oleh infeksi dan merupakan
respons khusus dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi di hari pertama
demam.

Pada umumnya anak yang kejang demam mengalami kondisi sebagai berikut:

Hilang kesadaran dan berkeringat.

Tangan dan kakinya kejang.

Demam tinggi.

Terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah.


Matanya terkadang juga akan terbalik.

Setelah reda, dia akan terlihat mengantuk dan tertidur.


Gejala-gejala kejang demam pada anak dapat beragam, mulai dari yang ringan,
seperti menatap dengan melotot, hingga yang berat, seperti tubuh yang bergetar
parah atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Berdasarkan durasinya, kejang
demam dikategorikan sebagai berikut:
Kejang demam sederhana: paling umum terjadi, dengan durasi kejang
beberapa detik hingga kurang dari 15 menit. Kejang yang terjadi pada seluruh
bagian tubuh ini tidak akan terulang dalam periode 24 jam.
Kejang demam kompleks: terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian
tubuh dan dapat terulang dalam 24 jam.
Pada umumnya sebagian besar kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga
anak umur 5 tahun. Kejang demam jarang dimulai pada anak dibawah 6 bulan
ataupun setelah 3 tahun.
Penyebab kejang demam yang sebenarnya belum diketahui. Tapi pada sebagian
besar kasus, kejang demam berhubungan erat dengan demam tinggi akibat infeksi
virus flu, infeksi telinga, cacar air, atau tonsilitis (yang dikenal
sebagai radang amandel).
Selain itu, kejang demam pada anak juga relatif sering terjadi
pascaimunisasi, seperti DPT/PT (Diphteri-Pertussis-Tetanus/vaksin
ulangannya), MMR (Mumps-Measles-Rubella). Meski demikian, bukan
vaksinnya yang menjadi penyebab kejang demam, melainkan karena
demam yang dialami anak. Faktor genetik juga meningkatkan
kecenderungan terjadinya kejang demam. Satu dari empat anak yang
mengalami kejang demam kompleks memiliki riwayat anggota keluarga
yang pernah mengalami kondisi ini.
Setelah terjadi sekali, kejang demam bisa saja terulang, terutama jika:

Terdapat anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat kejang


demam.
Kejang demam terjadi pertama kali sebelum anak berusia 1 tahun.

Anak Anda mengalami kejang padahal suhu tubuhnya saat demam


tidak begitu tinggi.
Periode antara anak mulai demam dengan waktu kejangnya
tergolong singkat.
Kabar baiknya, hampir semua anak dapat pulih seperti semula setelah mengalami
kejang demam.
Bagaimana Cara Menanganinya?
Penting untuk tetap tenang saat menangani kejang demam pada anak. Pada
umumnya kejang terjadi di awal masa demam anak, sehingga memberikan obat
penurun panas kepadanya, seperti parasetamol atau ibuprofen, hanya bermanfaat
membuat anak lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi tidak
mencegah timbulnya kejang demam itu sendiri.
Hindari pemberian aspirin karena dapat berisiko memicu
terjadinya Reyes syndrome pada sebagian anak dan dapat berujung
kematian. Obat diazepam, lorazepam, dan clonazepam dapat diresepkan
oleh dokter anak Anda jika Anak mengalami kejang demam kompleks atau
kejang berulang.
Jika kejang demam pada anak terjadi untuk kedua kalinya saat Anda
belum berada di rumah sakit atau ke dokter:

Jangan tahan gerakan kejang anak Anda. Namun letakkan ia di


permukaan yang aman seperti pada karpet di lantai.
Untuk menghindari tersedak, segera keluarkan jika ada sesuatu di
dalam mulutnya saat ia kejang. Jangan taruh obat dalam bentuk apa pun
di dalam mulutnya saat anak sedang kejang.
Untuk mencegah agar ia tak menelan muntahnya sendiri (jika
terjadi), letakkan ia menyamping, bukan telentang, dengan salah satu
lengan berada di bawah kepala yang juga ditengokkan ke salah satu sisi.
Hitung durasi kejang demam. Panggil ambulans atau larikan ke
instalasi gawat darurat (IGD) jika kejang terjadi lebih dari 10 menit.
Tetaplah berada di dekatnya untuk menenangkannya.

Pindahkan benda tajam di sekitarnya.

Longgarkan pakaiannya.
Untuk mendiagnosis penyebab kejang demam, dokter biasanya akan melakukan
beberapa pemeriksaan berikut: tes urin, tes darah, atau pemeriksaan cairan tulang
belakang (lumbar puncture) untuk mengetahui apakah terjadi infeksi sistem saraf
pusat seperti meningitis.
Dokter bisa saja menyarankan electroencephalogram (EEG) jika anak
mengalami kejang demam kompleks. EEG adalah tes untuk mengukur
aktivitas otak. Selain itu, jika kejang hanya terjadi pada salah satu sisi
tubuh, maka kemungkinan dokter akan merekomendasikan pemeriksaan
MRI untuk memeriksa otak anak Anda. Jika kejang diiringi dengan infeksi
serius, apalagi sumber infeksi belum terdeteksi, maka si Kecil mungkin
akan diminta untuk beristirahat di rumah sakit untuk observasi lebih
lanjut.
Apakah Berbahaya?
Kejang demam kompleks sering dihubungkan dengan meningkatnya risiko epilepsi,
juga hubungannya dengan kematian mendadak yang tidak terjelaskan pada
anak(sudden unexplained death in childhood/SUDC). Tapi ini tidak terbukti.
Faktanya, sebagian besar kejang demam pada anak tidak mengalami peningkatan
risiko kematian di masa kanak-kanak ataupun dewasa.
Sebagian besar kasus kejang demam tidak memiliki dampak jangka
panjang. Kejang demam sederhana tidak akan menyebabkan kerusakan
otak, kesulitan belajar, ataupun gangguan mental. Selain itu, kejang
demam juga tidak menjadi indikasi penyakit epilepsi, yaitu
kecenderungan kejang berulang akibat sinyal elektrik abnormal dalam
otak.
Segera periksakan si Kecil ke dokter jika dia mengalami kejang demam,
meski jika hanya berlangsung beberapa detik. Bawa dirinya ke IGD
secepat mungkin jika kejangnya terjadi lebih dari 10 menit atau diiringi
gejala sesak napas, leher kaku, muntah, dan sangat mengantuk.

Kejang juga dapat menjadi tanda dari penyakit yang lebih serius,
seperti meningitis. Segera bawa anak Anda ke rumah sakit bila Anda
menduga ini bukan sekadar kejang demam.