Anda di halaman 1dari 11

Upaya-Upaya Manajemen Pajak Perusahaan

1. Pemilihan Bentuk Usaha

Menurut Zain (2007:99) Beberapa faktor pajak yang secara prinsip harus
dipertimbangkan dalam melakukan pemilihan bentuk usaha, adalah:

(1) Bagaimana hubungan antara tarif pajak penghasilan wajib pajak orang pribadi dan tarif
pajak penghasilan wajib pajak badan termasuk ketentuan khusus yang mengatur hal itu.

(2) Pengenaan pajak penghasilan berganda, baik atas laba bruto maupun penghasilan dari
pembagian keuntungan (deviden) kepada para pemegang saham.

(3) Kesempatan untuk dapat menunda pengenaan pajak pada tarif pajak penghasilan lebih
kecil/besar apabila dibandingkan dengan kesempatan yang terdapat pada tarif pajak
penghasilan dan akumulasi penghasilan perusahaan.

(4) Adanya ketentuan-ketentuan mengenai kerugian hasil usaha neto (kompensasi kerugian)
dan kredit investasi yang berlaku bagi bentuk usaha tertentu.

(5) Kemungkinan pengujian perlakuan khusus terhadap pajak atas akumulasi laba, pajak atas
penghasilan personal holding company dan seterusnya.

(6) Liberalisasi ketentuan-ketentuan yang mengatur fringe benefit dan/atau payment in kind

A. Jenis Bentuk Usaha

Pilihan bentuk badan usaha yang tersedia secara umum adalah berbentuk Perseroan

Terbatas (PT), Partnership/Perseroan Komanditer (CV) atau Perorangan (Pribadi).

Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan Terbatas (PT) menurut undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1995

tentang Perseroan Terbatas, bab 1 pasal 1 ayat 1 adalah badan hukum yang didirikan

berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya

terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini

serta peraturan pelaksanaannya. Masing-masing pemegang saham (Pesero) tidak bertanggung

jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama PT dan tidak bertanggung jawab

atas kerugian PT melebihi nilai saham yang telah diambilnya. Atas keuntungan PT dikenakan

pajak penghasilan badan dengan tarif pasal 17 undang-undang Pajak Penghasilan


Pembagian dividen kepada pemegang saham (pesero) tidak bisa dibebankan sebagai biaya

perusahaan, dikenakan pemotongan PPh pasal 23 sebesar 15% dan sebagai kredit pajak bagi

pihak yang dipotong (tidak final). Dengan demikian terdapat double taxation.

Perseroan Kommanditer (CV)

Perseroan Komanditer (CV) adalah suatu persekutuan dua orang/lebih sebagai persero

pengusaha (aktif) dan satu orang atau lebih sebagai peseroan komanditer (tidak aktif) untuk

menjalankan suatu perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh laba.

Anggota perseroan komanditer ada dua golongan :

A. Persero Pengusaha atau pesero aktif/bekerja.

Pesero ini selain menyerahkan modal ke dalam perseroan, jika perseroan jatuh pailit atau

bangkrut, pesero pengusaha bertanggungjawab penuh atas seluruh harta-harta pribadinya

terhadap hutang-hutang perusahaan.

B. Persero Komanditer atau pesero pasif/diam.

Pesero ini hanya menyerahkan modal ke dalam perseroan dan tidak bertanggung jawab

tentang jalannya perseroan. Jika perseroan jatuh pailit/bangkrut, pesero ini hanya

bertanggungjawab sebesar modal penyertaannya.

Atas keuntungan CV dikenakan pajak penghasilan badan dengan tarif pasal 17 undang-

undang Pajak Penghasilan (sama dengan PT). Pembagian keuntungan kepada pemegang

saham (pesero) tidak bisa dibebankan sebagai biaya CV, tidak dipotong PPh pasal 23 dan

bagi yang menerima bukan sebagai obyek pajak. Dengan kata lain, Pajak penghasilan hanya

dikenakan pada Perusahaan (Badan) saja dan tidak ada double taxation.

Perusahaan Perorangan (Pribadi)

Usaha Perorangan adalah perorangan (pribadi) yang menjalankan suatu usaha dengan tujuan

untuk memperoleh laba. Peorangan tersebut bertanggung jawab penuh atas jalannya usaha.

Jika usaha tersebut pailit atau bangkrut, perorang ini bertanggungjawab penuh atas seluruh

harta-harta pribadinya terhadap hutang-hutang usahanya. Ini adalah bentuk usaha yang paling

sederhana dan tidak perlu pembuatan akte pendirian.Dalam menghitung besarnya pajak

penghasilan, usaha perorangan wajib melakukan pembukuan atau hanya melakukan


pencatatan dengan Norma Penghitungan. Atas pendapatan (keuntungan) usaha perorang

tersebut, sesudah dikurangi penghasilan tidak kena pajak (PTKP), dikenakan pajak

penghasilan orang pribadi dengan tarif pasal 17 undang-undang Pajak Penghasilan.

B. Pengaruh Pemilihan Bentuk Usaha Untuk Alternatif Perpajakan

Dalam ketentuan umum perpajakan, Wajib Pajak dapat dibagi dua yaitu Wajib Pajak

perorangan dan Wajib Pajak badan. Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan kepada setiap Wajib

Pajak, baik Wajib Pajak perorangan maupun Wajib Pajak badan atas penghasilan yang

diterimanya dalam setahun. Perbedaan utama antara Wajib Pajak perorangan dan Wajib Pajak

badan dalam penghitungan PPh adalah besarnya tarif pajak. Lapisan terendah tarif pajak bagi

perorangan adalah 5% dan lapisan tertinggi bagi perorangan adalah 30% sedangkan bagi

Wajib Pajak Badan tarifnya 28%.

C. Keistimewaan Perlakuan Perpajakan bagi masing-masing Jenis Bentuk

Usaha

Menurut Santoso dan Rahayu (2013:89) dari beberapa perspektif corporate tax

management, ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku memberikan beberpa

keistimewaan perlakuan perpajakan untuk masing-masing jenis bentuk usaha.

Perseroan Terbatas (PT)

(1) PT wajib menyelenggarakan pembukuan

Hal tersebut tercantum dalam ketentuan Pasal 28 UU KUP. Konsekuensi pajak dari

ketentuan penyelenggaraan pembukuan adalah: perhitungan pajak dapat dilakukan secara

lebih akurat dan terperinci berdasarkan kondisi operasional aktual dari kegiatan usaha

perusahaan sehingga lebih adil penerapannya, apabila setelah dilakukan koreksi fiskal

hasil pembukuan PT masih menunjukkan jumlah kerugian maka PT tidak perlu

membayar PPh Badan terutang. Hal tersebut berbeda bagi badan usaha tertentu lainnya

yang menganut sistem pemajakan deemed taxable profit, jumlah kerugian fiskal di

suatu tahun pajak dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak

berikutnya secara berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun


(2) Pemegang saham dapat bertindak sebagai pengelola atau komisaris dan biaya

gajinya dapat dibebankan sebagai penanggung biaya pengurang

Baik dalam UU PT maupun UU perpajakan, tidak melarang sebagai pengelola PT, baik

sebagai direksi atau komisaris. Berbeda dengan partnership yang tidak memperkenankan

biaya gaji anggotanya menjadi pengurang perhitungan PPh Badan partnership, maka

biaya gaji komisaris dan/atau direktur yang juga merangkap sebagai pemegang saham

PT, diperkenankan untuk dijadikan sebagai pengurang PPh Badan sepanjang jumlahnya

wajar dan memenuhi kelaziman usaha.

(3) Fasilitas inter-corporate dividend tax free

Dalam ketentuan Pasal 4 ayat 3 huruf (f) UU Nomor 38 Tahun 2008 datur bahwa dividen

atau bgaian laba yang diterima atau diperoleh PT dari penyertaan modal badan usaha

yang didirikan dan bertempat di Indonesia dikecualikan sebgai objek PPh sepanjang

memenuhi syarat yang telah dijelaskan dalam pasal tersebut.

(4) Keistimewaan lainnya

Keistiewaan lainnya dari PT biasanya menyangkt diluar aspek perpajakan. Seperti: profil

usaha dan preferensi pihak pelanggan atau pemilik proyek karena dalam beberapa kasus

pihak pelanggan atau pemilik proyek lebih menginginkan mengikat kontrak pekerjaan

dengan kontraktor atau penyedia jasa yang berbentuk PT karena persoalan business

credential, beberapa fasilitas perpajakan mensyaratkan pendirian usaha dalam bentuk PT.

Partnership/Perseroan Komanditer (CV)

(1) Partnership masuk dalam kategori Wajib Pajak Badan

Hal tersebut tercantum dalam ketentuan Pasal 2 ayat 3 Undang-Undang Nomor 38 Tahun

2008. Konsekuensi partnership sebagai subjek pajak badan adalah berkewajiban

mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan/atau NPPKP jika dalam aktivitasnya

terdapat penyerahan BKP dan/atau JKP yang dikenakan PPN serta berkewajiban untuk

menyelenggarakan pembukuan.

(2) Pembagian laba kepada para sekutu tidak dikenakan PPh


Hal tersebut tercantum dalam Pasal 4 ayat 3 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008. Hal

tersebut didasari karena para sekutu atau anggota dalam partnership, persekutuan,

perkumpulan, firma, dll dikenakan pajak sebagai satu kesatuan yaitu pada tingkat badan.

Oleh sebab itu bagian laba yang diterima oleh para anggota badan tersebut bukan lagi

merupakan objek pajak.

(3) Gaji yang dibayarkan kepada sekutu tidak dapat menjadi biaya pengurang

Gaji yang dibayarkan kepada sekutu partnership merupakan bukan biaya fiskal ntuk

kepentingan perhitungan PPh Badan partnership sebagaimana yang telah disebutkan UU

Nomor 38 Tahun 2008 Pasal 9 ayat 1 huruf j. Hal tersebut didasari karena anggota dalam

partnership, persekutuan, perkumpulan, firma, dll dikenakan pajak sebagai satu kesatuan

yaitu pada tingkat badan.

(4) Dividen yang diterima atau diperoleh partnership dari investment income merupakan

objek pemotongan PPh

Dalam ketentuan Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008 menerapkan

bahwa dividen yang diterima atau diperoleh partnership dari distribusi laba ditahan anak

perusahaan dikenakan PPh normal. Pengecualian inter-corporate dividend tax free hanya

diperuntukkan bagi penanaman modal yang dilakukan oleh badan yang berbentuk

perseroan terbatas, koperasi, BUMN atau BUMD seperti yang disebutkan dalam Pasal 4

ayat 3 huruf f Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008.

Perseroan Perseorangan (Pribadi)

(1) Perusahaan Perseorangan sangat fleksibel

Dikarenakan Perusahaan Perseorangan dapat dilakuakn sendiri tanpa adanya partner pada

Partnership atau pemegang saham seperti pada Perseroan Terbatas seta mudah dalam

pembentukannya dan mudah pula ketika penutupannya.

(2) Perusahaan dapat memilih untuk tidak menyelenggarakan pembukuan jika omzet

perusahaan kurang dari RP4,8 M pertahun. Sebagai gantinya perusahaan dapat

melakukan

pencatatan.
Ketika perusahaan mnggunakan pencatatan, maka PPh terutang dihitung dengan

menggunakan norma perhitungan penghasilan neto.

Selanjutnya, menurut Santoso dan Rahayu (2013:112), dalam memilih bentuk usaha yang

tepat, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menentukan bentuk usaha apa

yang akan dipilih:

(1) Mengetahui aspek legal dari semua bentuk usaha yang ada
(2) Ketahui aspek pajak terkait dengan semua bentuk usaha tersebut
(3) Ketahui kondisi usaha kita dan kondisi pemodalan usaha kita
(4) Pilih bentuk usaha sesuai dengan kondisi kita

2. Pemilihan Struktur, Proses, dan Model Bisnis serta Pendekatan Usaha

Terdapat beberapa pilihan-pilihan dan implikasi perpajakan untuk masing-masing opsi


tersebut.

Struktur Holding-Terintegrasi vs Subsidiaries-Disintegraasi

Struktur Holding-Terintegrasi ialah struktur perusahaan yang memiliki banyak lini


usaha di bawah satu kepemilikan dan kontrol induk organisasi perusahaan yang sama di head
office (kantor pusat). Perusahaan dengan struktur holding memberikan keuntungan terutama
dalam efisiensi pelaporan pajak karena perusahaan cukup menyampaikan SPT Tahunan PPh
Badan satu saja d tingkat kantor pusat (Holding). Dalam hal pelaporan perpajakan, Indonesia
menganut pendekatan entitas berpisah (separate entity approach), oleh karena itu 1 kantor
pusat dengan 10 divisi atau cabang, cukup melaporkan 1 SPT Tahunan PPh Badan saja.
Struktur holdong-branch juga memungkinkan adanya pembebeanan biaya alokasi kantor
pusat bagi cabang yang berada di luar negeri sesuai dengan ketentuan perjanjian
penghindaran pajak berganda (doube tax treaty). Untuk di Indonesia, hal tersebut diatur
dalam ketentuan Pasal 5 ayat 3 huruf (a) UU Nomor 38 Tahun 2008 dan surat keputusan
Direktur Jendeal Pajak Nomor: KEP-62/PJ/1995 tanggal 27 Juli 1995. Di Indonesia, besarnya
biaya administrasi kantor pusat yang dapat dikurangkan dari penghasialan bruto setinggi-
tingginya adalah sebanding dengan besarnya peredaran usaha atau kegiatan BUT di Indonesia
terhadap seluruh peredaran usaha atau kegiatan perusahaan di seluruh dunia. Selanjutnya
cabang yang merupakan BUT di Indonesia, tidak diperkenankan beberapa biaya sebagai
beban pengurang untuk perhitungan PPh Badan dan PPh Pasal 26 ayat 4 atau Branch Profit
Tax. Kemudian tidak diperkenankan pembayaran kepada kantor pusat atau sebaliknya
sikarenakan perpajakan antara cabang dengan kantor pusat merupakan entitas tunggal (Single
Entity).

Untuk kepentingan PPN, struktur holding terintegrasi juga memiliki beberpa


probleatika perpajakan, antara lain:

(1) Penyerahan BKP dari pusatke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan
BKP antar cabang merupakan penyerahan BKP yang terutang PPN. Hal tersebut
mengakibatan struktur holding kurang efisien dari sisi PPN, karena setiapa ada
penyerahan perusahaan akan menerbitkan faktur pajak.
(2) Adanya ketentuan spesial pengkreditan PPN Masukan bagi perusahaan
terintegrasi yang terdiri dari unit atau kegiatan yang menghasilkan barang yang atas
penyerahannya terutang PPN.

Sementara itu untuk struktur subsidiary-disintegrasi meski mengharuskan melakukan


tax reporting sebanyak anak perusahaan sehingga cenderung memerlukan biaya tax
compliance yang cukup tinggi, tetapi memiliki beberapa keuntungan antara lain: melokalisisr
problematika perpajakn hanya pada satu anak perusahaan saja sehingga dampaknya tidak
meluas kepada induk perusahaan, memungkinkan penerapan insentif pengurangan tarif PPh
Badan sesuai dengan Pasal 31E sepanjang memenuhi syarat, memungkinkan diberlakukannya
insentif pajak berbentuk inter-corporated dividend tax free sepanjang memenuhi syarat untuk
induk dari anak peruahaan yang didirikan di Indonesia. Subsidiary company dapat melakukan
transaksi dengan induk perusahaan di luar negeri karena merupakan separate entity, namun
transaksi tersebut harus memenuhi persyaratan harga pasar wajar (arms length principal)
karena antara anak perusahaan dan induk perusahaan memiliki hubungan instimewa.

Pemilihan bentuk cabang perusahaan ataupun pendirian anak perusahaan oleh


perusahaan yang berkedudukan di luar negeri dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal
berikut:

(1) Apakah bisnis yang akan dijalankan perusahaan luar negeri tersebut termasuk
dalam daftar negative list yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) atau tidak
(2) Seberapa besar kepentingan perusahaan di luar negeri untuk melakukan
transaksi dengan perusahaan di Indonesia
(3) Insentif-insentif perpajakan diberikan kepada cabang perusahaan atau anak
perusahaan
(4) Faktor-faktor non pajak lainnya.
Pendekatan Bisnis Kontraktor Utama - Subkontraktor (Outsourching) vs

Join-Operation untuk Penanganan Suatu Projek

Dalam penanganan suatu projek, suatu entitas bisnis dpat melakuakn dengan
pendekatan kontraktor utama-subkontraktor, dimana meminta pihak lain untuk membantu
sebagian pekerjaan yang menjadi porsi tanggung jawabnya kepada pihak pemilik projek. Dari
segi perpajakan, arus transaksi, termasuk semua bukti pendukung pendekatan ini,
mengungkapkan bahwa pihak subkontraktor melakukan pekerjaan untuk kepentingan
kontraktor utama dan kontraktor utama berkewajiban menunaikan kewajibannya kepada
pemilik projek. Konsekuensi perpajakannya, apabila pekerjaan dilakukan oleh jasa yang
merupakan objek pemotongan PPh, maka akan terdapat dua kali pemotongan PPh, yang
pertama dari pihak pemilik projek kepada kontraktor utama dan yang kedua dari pihak
kotraktor utama ke pihak subkontraktor. Biaya sehubungan dengan outsourcing atau
pembayaran kepada pihak subkontraktor umumnya akan menjadi biaya pengurang untuk
kepentingan perhitungan PPh Badan bagi pihak kontraktor utama, kecuali telah dilakukan
pemotongan PPh yang bersifat final. Dari segi PPN, umumnya tagihan berikut PPN-nya dari
pihak subkontraktor untuk kepentingan pekerjaan kepada pemilik projek akan menjadi PPN
masukan bagi kontraktor utama yang akan menjadi kredit pajak atas PPN Keluaran yang
wajib dipungut kepada pihak pemilik projek. Kontraktor utama untuk projek ini memiliki
beberapa fasilitas perpajakan, sebagai berikut: PPh Badan dan PPh Pasal 26 ayat 4,
ditanggung pemerintah, PPN tidak dipungut, Bea masuk dan bea masuk tambahan
dibebaskan. Adapun kewajiban pemotongan PPh 21 atas penghasilan karyawan, PPh Pasal 4
ayat 2, PPh Pasal 15, PPh Pasal 23/26 tetap terutang dan harus dipotong sesuai ketentuan.

Untuk pendekatan Join Operation, perlakuan perpajakannya tergantung jenis Join


Operationnya apakah tipe administratif atau non-administratif. Tipe kerjasama administratif
memiliki perlakuan perpajakan yang khusus, meliputi: untuk kepentingan PPh Badan masing-
masing anggota Join Operation untuk melaporkan bagian laba yang diterima dari JO pada
SPTnya masing-masing, JO berkewajiban untuk menyiapkan laporan keuangan dan koreksi
fiskal yang kan dipakai. Untuk kepentingan PPN-nya, JO harus mendaftarkan dan
mengukuhkan diri sebagai PKP, PPN atas tagihan dan faktur yang diterbitkan kepada pemilik
projek sebagai pelanggan merupakan PPN Keluaran bagi JO, sedangkan PPN terkait dengan
tagihan dan faktur yang diterima dari supplier dan vendor yang berhubungan dengan kegiatan
operasional JO akan diakui sebagai PPN Masukan. Dalam konteks pemotongan PPh, JO
berkewajiban untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 21/26 atas pemberian remunerasi
dalam bentuk kas kepada karyawannya, memotong PPh Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15, PPh
Pasal 23/26 atas pembayaran transaksi-transaksi yang merupakan objek PPh pemotongan
pasal-pasal yang bersangkutan. JO tipe administratif ini berkewajiban atas pelaksanaan
pemotongan, pembayaran, dan pelaporan PPh Potong-Pungut karena statusnya sebagai agen
pemotong (withholding tax agent).

Tipe kerjasama non-administratif memiliki perlakuan perpajakan sedikit berbeda,


meliputi: untuk kepentingan PPh Badan masing-masing anggota Join Operation untuk
melaporkan bagian laba yang diterima dari JO pada SPTnya masing-masing, JO bukanlah
subjek PPh Badan, sehingga JO tidak berkewajiban untuk menyiapkan laporan keuangan dan
koreksi fiskal para anggotanya serta tidak melaporkan SPT Badannya sendiri, pihak
anggotanya dapat melakukan penagihan langsung kepada pemilik projek dan dealing
langsung kepada vendor sehingga semua pelaksanaan pencatatan, pembukuan, dan pelaporan
SPT PPh Badan dilakuakn langsung di level para anggota JO. Untuk kepentingan PPN-nya,
JO tidak harus mendaftarkan dan mengukuhkan diri sebagai PKP, PPN atas tagihan dan
faktur yang diterbitkan kepada pemilik projek sebagai pelanggan merupakan PPN Keluaran
bagi JO, sedangkan PPN terkait dengan tagihan dan faktur yang diterima dari supplier dan
vendor yang berhubungan dengan kegiatan operasional JO akan diakui sebagai PPN
Masukan. Dalam konteks pemotongan PPh, pihak anggota JO berkewajiban untuk melakukan
pemotongan PPh Pasal 21/26 atas pemberian remunerasi dalam bentuk kas kepada
karyawannya, memotong PPh Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15, PPh Pasal 23/26 atas pembayaran
transaksi-transaksi yang merupakan objek PPh pemotongan pasal-pasal yang bersangkutan.

Di dalam praktik, konsep umum Join Opertion kadang disetarakan dengan pengertian
tipe non-administratif walaupun pelaksanannya bersifat administratif.

3. Pembukuan dan Pemilihan Metode Akuntansi yang Menguntungkan

A. Pembukuan Akuntansi yang Menguntungkan

Pengertian pembukuan secara umum menurut UU KUP Pasal 1 angka 29 adalah suatu
proses yang pencatatannya dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi
keuangan berupa harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga
perolehan dan penyerahan berupa barang atau jasa yang ditutup dengan menyusun laporan
keuangan. Pembukuan harus dilaksanakan dengan sistem atau cara yang lazim dipakai di
Indonesia, seperti misalnya berdasarkan Standar Akuntasi Keuangan (SAK), keecuali
peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain. Beberapa pilihan dalam
menyelenggarakan pembukuan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perpajakan, meliputi
hal-hal yang menyangkut: akrual vs metode kas basis yang telah dimodifikasi; sistem
penilaian persediaan yang diperkenankan yaitu FIFO dan rata-rata tertimbang (Average) vs
LIFO dan COMWIL; metode perhitungan penyusutan penyusutan dan amortisasi dalam
metode garis lurus, metode saldo menurun, dan metode satuan produksi; metode perhitungan
penyusutan basis bulanan vs basis tahunan; perhitungan penyusutan open ended vs closed
ended dalam metode saldo menurun; pilihan bahasa dan mata uang yang digunakan dalam
penyelenggaraan pembukuan.

B. Metode Akuntansi yang Menguntungkan

Pada dasarnya ada dua metode akuntansi yang prinsip, yang disebut:

(1) Prinsip penerimaan dan pengeluaran kas (the cash receipt and disbursement
method) atau disebut metode cash basis modified

(2) Prinsip atau metode akrual (the actual modified method) atau disebut metode
acrual modified basis

Cara pembukuan dengan menggunakan metode cash modified basis adalah cara membukukan
penghasilan pada saat diterimanya penghasilan tersebut dan mengurangkan pengeluarannya
pada saat pengeluaran tersebut dibayar. Yang dimaksud dengan penghasilan disini adalah
semua penghasilan bruto yang diterima dalam tahun tersebut, baik yang kas maupun yang
setara kas, sedangkan pengeluaran yang boleh dikurangkan adalah semua pengeluaran dalam
tahun yang sama, baik kas maupun setara dengan kas sepanjang pengeluaran tersebut secara
fiskal dapat dikurangkan sebagai pengurangan. Sementara itu, yang dimaksud dengan setara
kas (cash equivalent), pada dasarnya merupakan konsep tentang transaksi non-cash asset
yang menghendaki agar non-cash asset pada saat terjadinya transaksi tersebut, atau dengan
perkataan lain, atas transaksi pertukaran jasa yang bersifat non-cash asset, pada saat transaksi
itu terjadi, sudah dianggap sebagai penerimaan yang telah direalisir. Dengan demikian,
komponen-komponen penghasilan dan pengeluaran yang merupakan elemen-elemen yang
menggambarkan penghasilan kena pajak, tidak berarti bahwa selalu dalam bentuk uang kas,
akan tetapi dalam menghitung penghasilan kena pajak menurut metode ini dapat
menggunakan tahun pajak yang sama dengan tahun takwim, yaitu tahun buku yang meliputi
12 bulan. Apabila pembukuan wajib pajak meliputi periode, yang kurang atau lebih dari 12
bulan, maka penghitungan pajak didasarkan pada tahun takwim yang bersangkutan dengan
memerhatikan bulan-bulan takwim dari tahun tersebut. Apabila wajib pajak menggunakan
tahun buku, maka hal ini harus diberitahukan pada waktu menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan kepada Direktur Jenderal Pajak.

Pada dasarnya metode pembukuan yang dianut harus harus taat asa yaitu harus
sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun perubahan metode pembukuan masih dapat
diungkinkan dengan catatan mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. Perubahan
metode pembukuan akan mengakibatkan perubahan dalam prinsip taat asasyang dapat
meliputi perubahan metode dari kas ke akrual basis dan sebaliknya atau perubahan perubahan
penggunaan metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya itu sendiri.