Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN BIOGRAFI TOKOH IDOLA

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran BK

Di susun oleh :

Niken Dwi Astari

XC / 24

A; Riwayat Singkat BJ. Habibie


Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau
dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi
Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia
selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie
merupakan blaster antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-
Pare [ayahnya].

Foto : BJ Habibie

Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat


tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam
bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan
dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule Jerman pada
1955. Dengan dibiayai oleh ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo,
Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga
S-3 di Aachen-Jerman.
Berbeda dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat
beasiswa di luar negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai
langsung oleh Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di
Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti
bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama
lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-
Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman
umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan
predikat summa cum laude.
Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman
SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962. Bersama dengan istrinya
tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya kuliah
sekaligus biaya rumah tangganya. Habibie mendalami bidang Desain dan
Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3
nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks
prestasi summa cum laude.

B; Profesi yang ditekuni


Profesi yang pernah dijalani BJ Habibie diantaranya:
1; Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan
Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-
1969.
2; Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan
Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-
1997
3; Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg
dan Munchen tahun 1973-1978
4; Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5; Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology
Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6; Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi
dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden
Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7; Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998
8; Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9; Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999

C; Perjalanannya Dalam Mendapatkan dan Mempertahankan Profesi Tersebut


BJ Habibie mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar
negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh
Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di Bandung setelah
ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain
dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun
studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur
atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman umumnya
disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat
summa cum laude.

Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman


SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962. Bersama dengan
istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya
kuliah sekaligus biaya rumah tangganya. Habibie mendalami bidang
Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie
menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur
(Doktor Teknik) dengan indeks prestasi cum laude.

Karir di Industri

Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai


bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus,
BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Blkow-Blohm atau MBB Hamburg
(1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis
Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode
dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di
MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia
dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB
periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk
Dewan Direktur MBB (1978 ). BJ Habibie menjadi satu-satunya orang
Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat
terbang Jerman ini.
Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat
cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang.
Habibie menjadi permata di negeri Jerman dan iapun mendapat
kedudukan terhormat, baik secara materi maupun intelektualitas oleh
orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang
berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan
teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika.
Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti
Habibie Factor, Habibie Theorem dan Habibie Method.
Pada tahun 1968, BJ Habibie telah mengundang sejumlah insinyur
untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Sekitar 40 insinyur
Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi Pak Habibie.
Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman (SDM)
insinyur Indonesia untuk suatu saat bisa kembali ke Indonesia dan
membuat produk industri dirgantara (dan kemudian maritim dan darat).
Dan ketika (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman
untuk menemui seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia, BJ
Habibie langsung bersedia dan melepaskan jabatan, posisi dan prestise
tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ Habibie demi memberi sumbangsih
ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ
Habibie pulang ke tanah air. Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah
(langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan
teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-
1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat
sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.
Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan
tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada 1978. Dan sejak itu,
dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset
dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga
diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan
lainnya.

Pesawat CN-235 karya IPTN milik AU Spanyol

Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya


yakni membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Ia
mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat
dari agraris langsung menuju negara industri maju. Visinya yang langsung
membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari
berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki
pembangunan secara bertahap yang dimulai dari fokus investasi di bidang
pertanian.
Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat
penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech
(teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa
harga 1 kg pesawat terbang adalah USD 30.000 dan 1 kg beras adalah 7
sen (USD 0,07). Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450
ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton,
maka akan diperoleh beras 4,5 juta ton beras.
Pola pikir Pak Habibie disambut dengan baik oleh Pak Harto.Pres.
Soeharto pun bersedia menggangarkan dana ekstra dari APBN untuk
pengembangan proyek teknologi Habibie. Dan pada tahun 1989, Suharto
memberikan kekuasan lebih pada Habibie dengan memberikan
kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti
Pindad, PAL, dan PT IPTN.

Profesi yang paling dikenal oleh penduduk Indonesia yaitu BJ


Habibie sebagai presiden. Sebelum menjabat sebagai Presiden (21 Mei
1998 20 Oktober 1999), B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret
1998 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden
Soeharto. Pada masa kepresidenannya Habibie mewarisi kondisi keadaan
negara kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto pada masa orde baru,
sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir
seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden
Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya
adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional
dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi.
Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada
kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan


landasan kukuh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli
atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling
penting adalah UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi
daerah inilah gejolak disintegrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru
berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di era presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia
akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Pengangkatan B.J. Habibie sebagai Presiden menimbulkan berbagai
macam kontroversi bagi masyarakat Indonesia. Pihak yang pro
menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional. Hal itu sesuai
dengan ketentuan pasal 8 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa "bila
Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya
dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis
waktunya". Sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa
pengangkatan B.J. Habibie dianggap tidak konstitusional. Hal ini
bertentangan dengan ketentuan pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan
bahwa "sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus
mengucapkan sumpah atau janji di depan MPR atau DPR".
Langkah-langkah yang dilakukan BJ Habibie di bidang politik
adalah:
1; Memberi kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya
sehingga banyak bermunculan partai-partai politik baru yakni
sebanyak 48 partai politik
2; Membebaskan narapidana politik (napol) seperti Sri Bintang
Pamungkas (mantan anggota DPR yang masuk penjara karena
mengkritik Presiden Soeharto) dan Muchtar Pakpahan (pemimpin
buruh yang dijatuhi hukuman karena dituduh memicu kerusuhan di
Medan tahun 1994)
3; Mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen
4; Membentuk tiga undang-undang yang demokratis yaitu :
a; UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik
b; UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu
c; UU No. 4 tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR
5; Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang
mencerminkan jawaban dari tuntutan reformasi yaitu :

a; Tap MPR No. VIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap No.


IV/MPR/1983 tentang Referendum
b; Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR
No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal
c; Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No.
V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandat dari MPR untuk
memiliki hak-hak dan Kebijakan di luar batas perundang-
undangan
d; Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan masa jabatan
Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.
Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap
dollar masih berkisar antara Rp 10.000 Rp 15.000. Namun pada akhir
pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR,
nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang
tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu,
ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih
fokus mengurusi perekonomian. Untuk menyelesaikan krisis moneter dan
perbaikan ekonomi Indonesia, BJ Habibie melakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
1; Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui
pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset Negara
2; Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah
3; Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp.
10.000,00
4; Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar
negeri
5; Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
6; Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat
7; Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Menurut pihak oposisi, salah satu kesalahan terbesar yang ia lakukan
saat menjabat sebagai Presiden ialah memperbolehkan diadakannya
referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Ia mengajukan
hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak
pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih
tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor
Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara
terpisah yang berdaulat pada tanggal 30 Agustus 1999.

D; Prestasi yang Didapat Dari Profesi BJ Habibie


Prestasi yang dikenal di Indonesia:
1; Pesawat N-250 Gatot Kaca.
2; VTOL (Vertical Take Off & Landing) Pesawat Angkut DO-31
3; Hansa Jet 320 (Pesawat Eksekutif)
4; Airbus A-300 (untuk 300 penumpang)
5; CN 235
6; N-250
7; Helikopter BO-105
8; Multi Role Combat Aircraft (MRCA)
9; Beberapa proyek rudal dan satelit
10; Detik-detik Yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju
Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)
11; Habibie dan Ainun, The Habibie Center Mandiri, 2009 (memori
tentang Ainun Habibie)

E; Nilai-Nilai yang Bisa Dicontoh Dari BJ Habibie


1; Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan
pribadi/golongan.
BJ Habibie adalah seorang ilmuwan di bidang penerbangan, beliau
yang membangun Industri Pesawat Terbang Nurtanio, kemudian
menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan sejak tahun
2000 menjadi PT. Dirgantara Indonesia, mulai dari nol sampai pada
akhirnya Indonesia bisa membuat pesawat terbang CN 235. Sungguh
sebuah prestasi yang membanggakan, walaupun ada sebagian orang
yang mencibir. Pada tahun 1998 saat Indonesia dilanda krisis
berkepanjangan, demo anti Soeharto yang begitu besar sampai
kemudian Presiden Soeharto harus 'lengser keprabon' alias turun dari
kursi kepresidenan dan digantikan oleh B.J. Habibie yang saat itu
menjabat sebagai Wakil Presiden. Di masa-masa sulit tersebut, di
tengah-tengah krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis moral, dimana
harga melambung, nilai tukar rupiah merosot tajam maka PT IPTN
mengalami restrukturisasi, karena dengan jumlah pegawai yang
mencapai 16.000 dianggap sebagai suatu peborosan dan akan lebih
baik pendanaan IPTN dialihkan untuk mengatasi krisis/pemulihan
ekonomi masyarakat. IPTN pun mati suri karena tiada dana yang
cukup untuk operasional perusahaan dan karyawan yang tinggal
4.000. Bahkan pada September 2007 PT. Di dipailitkan walaupun
kemudian dibatalkan. Nah, pada saat B.J. Habibie menjabat sebagai
Presiden pada tahun 1999, sebenarnya sangat memungkinkan bagi
beliau untuk mengambil kebijakan yang menguntungkan dengan
menggelontorkan dana untuk menghidupkan kembali IPTN. Namun
hal tersebut tidak dilaksanakannya, beliau tidak mengedepankan
egonya, cita-citanya yang tinggi untuk membangun industri
penerbangan di Indonesia, tidak mengedepankan kepentingan
pribadi/golongannya tetapi lebih mengutamakan kepentingan negara,
kepentingan seluruh rakyat Indonesia dengan tidak menggelontorkan
dana ke IPTN yang pastinya hanya dinikmati sebagian kecil dari
masyarakat Indonesia, tetapi digunakan untuk membiayai belanja
untuk program-program yang menyentuh rakyat banyak.

2; Rangkap jabatan bagi pejabat negara Pada saat menjabat Presiden,


dengan tegas beliau memerintahkan para pejabat negara untuk tidak
rangkap jabatan, untuk memilih apakah terus menjadi pejabat negara
atau memilih tetap sebagai petinggi/pengurus partai. Bahkan ketika
Akbar Tanjung keberatan dengan mengatakan bahwa 80% pengurus
Golkar adalah PNS, pak Habibie dengan tegas menjawab silahkan cari
pengurus baru yang penting tidak ada rangkap jabatan. Bagi beliau,
apalagi dengan kondisi sekarang ketika Presiden/Kepala Daerah
dipilih langsung oleh rakyat, ketika seseorang berkedudukan sebagai
pejabat negara maka seluruh tenaga, pikiran, jiwa dan raganya
seharusnya diabdikan untuk rakyat, tidak lagi untuk
partai/golongannya saja. Bandingkan dengan kondisi sekarang, karena
banyak pejabat negara yang sekaligus petinggi parpol, maka konflik
kepentingan tak terhindarkan. Tak jelas lagi para pejabat negara ini
bekerja untuk siapa, bahkan terkadang kepentingan parpol yang lebih
menonjol. Mudah-mudahan sikap Presiden RI ke-3 tersebut dapat
menjadi teladan bagi kita, utamanya bagi para pejabat negara yang
terhormat.

F; Alasan Menjadi Tokoh Idola


Alasan menjadikan BJ Habibie sebagai idola karena beliau sangat pintar,
tekun, terampil, mau mengorbankan kedudukan tingginya di Jerman demi
membangun Indonesia, seseorang yang pekerja keras, tidak mengenal
lelah, dapat membuat pesawat terbang pertama di Indonesia.